Hai nama saya mella, cukup panggil mella-chan #plak. Ini ff pertama saya yang saya publish hahaha,pairing yang saya ambil ini dramione .

Hemm ini ceritanya tahun ketujuh sebelum perang harpot dkk di hogwarts, Dumbledore belum mati dan dramione jadi kepala murid. Setengah AU setengah canon (?)

Disclaimer : Harry Potter punya tante JK Rowling ,saya cuma pinjem karakter nya

Warning : cerita gaje,EYD ancur ,dont like dont read,ooc, summary gak mutu, kata-kata kasar, disini masih rate T XD

Summary : Hermione dan Draco menjadi ketua murid, bagaimana kehidupan mereka,apakah mereka bisa saling menghargai kehadiran masing-masing?


Sadness of love

Draco, teriakan, ide gila, ciuman, Nott, Zabini dan Madam Pomprey. Semua kata-kata itu terus berputar di kepala Hermione.

"Arghh"

Hermione mengerang frustasi, sebenarnya apa sih yang dipikirkannya. Demi celana dalam Merlin, Membungkam Draco dengan bibirnya adalah hal yang paling tidak rasional dalam hidupnya.

"Hei Granger"

'Tidak jangan bicara' Hermione berdoa dalam hati agar entah itu Nott ataupun Zabini tidak membuka mulutnya untuk bicara.

Merasa diacuhkan oleh Hermione, Blaise memilih untuk melanjutkan perkataannya, sayangkan jika momen ini dilewatkan lagipula gadis muggle itu pasti mendengarnya, Blaise menyeringai membayangkannya.

"Hei Granger, kau tahu tadi kau dan Draco berciuman dengan hebat, aku sampai shock melihatnya, iya kan Theo?"

Theo menyeringai ke arah Blaise, dia tahu apa yang dimaksud bocah itu. 'Hiburan' pikir Theo.

"Kurasa itu ciuman paling memukau di Hogwarts, aku tersanjung bisa melihatnya"

Ucap Theo, dan Blaise tersenyum penuh kemenangan, sedangkan Hermione memilih untuk diam.

"Tadi kau dan Drake berciuman seakan tidak ada hari esok, benar-benar panas"

Pipi Hermione bersemu merah mendengar ucapan Blaise, 'benarkah apa yang dikatakan Blaise?' .

Hermione langsung menggelengkan kepalanya frustasi 'tidak itu tidak benar, jangan perdulikan ucapan mereka Hermione' batinnya.

"Ah aku setuju dengan Blaise, kalian benar-benar panas, lihat saja bibirmu sampai terluka seperti itu, ngomong-ngomong bagaimana rasanya berciuman dengan Draco?"

Blusssshhhh

Wajah Hermione memerah hebat mendengar ucapan Theo. Demi para leluhur Hagrid, haruskah dia memberitahu rasanya ciuman Draco?. Ciuman mereka tadi sangat sulit diungkapkan, banyak emosi yang tersirat disana, rasa khawatir Hermione, rasa sakit Draco dan entah apalagi, Hermione tidak mengerti.

"Tutup mulut kalian atau aku akan memotong point slytherin, dan jangan membicarakan hal tadi dengan siapapun, kalian dengar? dengan siapa pun"

Wajah Hermione memerah menahan malu sekaligus malu.

ini benar-benar gila.

"Ah kami tidak janji Granger"

Blaise menyeringai berhasil mengerjai miss-know-it-all sekali lagi.

'Shit, para ular memang tidak bisa dipercaya' rutuk Hermione dalam hati. Rasanya ingin sekali untuk mengutuk dua slytherin di hadapannya ini.

"Jika kalian berani membocorkan hal ini, kalian akan menyesal"

Hermione melontarkan ancamanya dengan aura menakutkan, terlebih tatapan yang menyiratkan kalian-bocorkan-kalian- mati. Membuat Theo dan Blaise harus berpikir dua kali untuk mengerjai Hermione.

Seusai berkata seperti itu tanpa tedeng aling-aling Hermione bergegas pergi meninggalkan Blaise dan Theo yang menyeringai puas bisa mengerjainya.

"Hei Blaise" panggil Theo setelah Hermione benar-benar jauh

"Ya..?"

"Apa kau berpikir seperti yang aku pikirkan?"

Blaise tersenyum lebar mendengar pertanyaan Theo, tentu saja dia tahu maksud dari pertanyaan tersirat dari sahabatnya yang satu itu. Kekompakan Slytherin dalam berpikir licik sudah tidak ragukan lagi bukan?

"Tentu mate, kurasa ini akan menarik"

"Ya aku berpendapat sama, kalau begitu kita buat lebih menarik lagi hahaha mari kita highfive untuk rencana kita"

"Yeahhhh"

Tossss…

Entah apa yang direncanakan mereka, tapi sepertinya hal itu benar-benar membuat mereka bersemangat.

Sinar matahari menerobos masuk ke dalam kamar gadis berambut coklat mengembang, membuat dengan sinar mentari.

"Hahhhhhhhhhhh" Hermione mendesah panjang, hari ini dia benar-benar tidak bersemangat, kejadian kemarin membuat moodnya buruk , bahkan dia baru bisa memejamkan matanya pukul dua pagi, karena kejadian itu selalu terbayang dengan tidak elite nya setiap ia ingin memejamkan matanya. Hermione bergegas mandi untuk merilekskan tubuhnya 'berendam dengan lavender sepertinya menyenangkan' pikirnya , saat melewati sofa di ruang rekreasi entah kenapa kaki Hermione berhenti melangkah, sudah berapa lama Draco tidak duduk disitu? biasanya Draco duduk disana meminum coklat paginya sambil membaca koran dan menaikkan kakinya diatas meja dengan tidak elitenya . Hermione tersenyum melihat sekilas bayangan itu, namun logikanya segera kembali ke otaknya "Untuk apa aku memikirkan dia" , Hermione menggelengkan kepalanya mengusir bayangan itu dan segera berendam untuk menyegarkan diri.

Pelajaran Herbology berjalan sangat menyebalkan bagi Hermione , bagaimana tidak tadi dengan bodohnya Nevile mencabut batang mandrake dengan cara yang salah dan alhasil batang mandrake itu berteriak dengan suara sangat tidak manusiawi, yang dapat memecahkan gendang telinga siapapun yang mendengarnya. Ah dan satu lagi, Hermione mendapatkan kelompok bersama dua orang gadis Hufflepuff yang selalu membicarakan Draco.

"Kau tahu kabarnya Draco terluka parah akibat terjatuh kemarin"

"Kudengar juga seperti itu, aku takut sekali dia kenapa-kenapa, bahkan katanya Malfoy belum sadar juga"

"Aku sangat ingin menjenguknya tapi sepertinya itu tidak mungkin"

"HEI KALIAN BISA TIDAK MEMBANTUKU? DAN JANGAN BICARAKAN MALFOY LAGI"

Hermione berteriak membuat seisi kelas menengok kearahnya. Cukup sudah kesabaran Hermione, ayolah dia sedang berusaha melupakan nama Malfoy dan bagaimana dia bisa melupakan Malfoy jika disekelilingnya selalu menyebut nama Ferret brengsek itu.


Kelopak mata itu terbuka perlahan membuka iris kelabu yang indah sekaligus kelam di dalamnya. Berputar setidaknya itu yang dirasakan pemilik mata itu saat pertama kali membuka matanya, ia merasa benda disekelilingnya berputar dan ia sangat yakin ini adalah efek dari rasa pusing yang ia rasakan saat ini.

"Ughhhh" Draco mengerang saat memaksa tubuhnya untuk duduk, semua tubuhnya seperti ingin patah, 'sepertinya lukaku parah' batinnya.

Krietttttt….

Tak lama pintu hospital terbuka dan masuklah Madam Pomprey membawakan senampan obat-obatan yang Draco yakini itu ditujukan untuknya.

"Ah Mr. Malfoy ternyata kau sudah sadar rupanya"

"Sudah berapa hari aku tidak sadarkan diri dan bagian apa saja yg rusak dariku?"

Madam Pomprey sedikit terkejut mendengar pertanyaan dari Draco , sepertinya dirinya sudah menyadari kondisinya cukup parah, tapi bisakah itu sedikit berbasa-basi padanya? 'Dasar anak muda' batinnya dalam hati.

"Ya seperti yang kau rasakan Mr. Malfoy keadaanmu bisa dikatakan cukup parah, kau mengalami patah tulang di beberapa bagian, kejang otot dan demam tinggi, tapi kurasa masalahmu kini hanyalah patah tulang di bagian bahu dan kakimu, jadi untuk beberapa hari kedepan mau tidak mau kau harus memakai gips dibagian itu, ah dan kau sudah tidak sadarkan diri selama dua hari"

Draco menghela nafas panjang mendengar penjelasan dari Madam Pomprey, segitu rusaknya kah dirinya sampai harus pakai gips seperti itu? ,memakai gips artinya dia tidak akan bisa bergerak bebas dan itu akan sangat membosankan.

"Lalu kapan aku bisa keluar dari sini?"

"Mungkin jika kau terus membaik kau bisa keluar besok atau lusa, oleh itu kau harus meminum obat yang tadi aku bawakan sesuai dengan yang aku tuliskan di kertas itu"

Madam Pomprey memberi penekanan pada kata 'meminum obat' karena ia tahu betul bagaimana susahnya Malfoy junior ini untuk meminum obatnya, sedangkan Draco hanya mendengus tidak suka memandang empat botol obat yang harus ia minum setiap hari.

"Baiklah aku masih ada urusan dan jangan lupa untuk berterima kasih pada Mr Nott dan Zabini dan "

Seusai berkata seperti itu Madam Pomprey langsung pergi meninggalkan Draco yang masih mencerna perkataannya bersamaan dengan datangnya Theo dan Blaise.

"Oh hai mate kau sudah sadar dari hibernasi ternyata"

Ucap Blaise saat melihat Draco akhirnya sudah sadar , sedangkan Draco hanya mendengus mendengar perkataan Blaise.

"Untuk apa kalian kesini, dan hilangkan seringaian kalian, aku ingin muntah melihatnya"

Theo dan Blaise tertawa mendengar ucapan sinis dari Draco , sepertinya Draco belum sadar tentang kejadian itu.

"Oh ayolah mate, kami hanya ingin menjengukmu saja dan menceritakan sesuatu yang telah terjadi pasca kau terjatuh"

Draco mengerinyitkan dahinya mendengar ucapan Theo , memangnya apa yang terjadi saat ia tidak sadarkan bukan Malfoy namanya jika mau mengurusi hal tidak penting seperti ini, paling-paling hanya hal sepele.

"Cih tidak perlu"

"Kau yakin Drake? Kau akan menyesal, apa kau tidak penasaran dengan perkataan Madam Pomprey kau harus berterima kasih pada kami dan mudblood itu"

Seringai di wajah Blaise semakin tercetak saat akhirnya Draco menoleh sambil melemparkan deathglare andalannya ku-bunuh-kau padanya, ia sangat yakin sebenarnya Draco penasaran tentang yang dikatakannya.

"Baik kalian Menang"

Mendengar itu Blaise dan Theo langsung highfive atas keberhasilan mereka untuk membujuk Draco sedangkan Draco hanya memasang wajah bosan melihat tingkah kedua sahabatnya itu.

"Hemm baiklah kami akan ceritakan padamu" ucap Theo

"Sebelumnya apa yang kau ingat saat kau jatuh?"

"Aku hanya ingat aku terjatuh dari sapuku lalu tubuhku melayang seperti daun dan menghantam

tanah dengan keras selanjutnya aku tidak ingat, apakah kita menang?"

"Ah tentu saja mate kita menang, kau tahu kau berhasil mendapatkan snitch, ravenclaw kalah telak dari kita dan…."

"EHEMMM"

Perkataan Blaise terpotong oleh dehaman keras dari Theo yang sekan member isyarat kepada Blaise bukan-itu-yang-mau-kita-ceritakan.

"Uh sorry, baik kau lanjutkan saja mate" Ucap Blaise sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Setelah kau tidak sadarkan diri kami berdua membawa mu kesini, dan Madam Pomprey bilang kau akan berontak saat diobati, dan benar saja kau berontak seperti orang kesurupan , sampai kami tidak bisa memegangimu mate, tapi untungnya kami mendapat bantuan yg luar biasa dari seseorang"

"Benarkah? Siapa?"

"Ayolah mate kau ingat-ingat dulu apa yang rasakan waktu itu"

Ucap Blaise sambil menyeringai membuat Draco semakin waspada sebenarnya apa yang sudah terjadi, apakah ini ada kaitannya dengan Granger? tadi Madam Pomprey mengatakan bahwa ia harus berterimakasih pada Granger. Kalaupun iya memang apa yang sudah Granger lakukan untuknya? dia tidak ingat apapun, yang dia rasakan hanyalah dia bermimpi dicium seseorang saat dirinya menjerit, dan Draco yakin itu hanyalah mimpi biasa efek dari ramuan Madam Pomprey.

"Aku tidak ingat apapun, yang kuingat hanya mimpiku yang aneh dan itu pasti efek dari ramuan Madam Pomprey"

"Memangnya kau mimpi apa mate? Ah dan kurasa itu bukan efek ramuan mate, karena kau tidak diberikan ramuan apapun"

Ucap Blaise lengkap dengan seringaiannya, dia sangat ingin tertawa melihat Draco masih belum sadar juga yang dia alami kemarin.

"Aku mimpi aku dicium seseorang….. tunggu jika itu bukan mimpi berarti itu… oh shit katakan apa yang sebenarnya terjadi!"

Seketika Draco sadar atas pekataan Blaise jika itu bukan efek ramuan, jadi kemungkinan itu adalah kenyataan, dan jika itu kenyataan, siapa yang menciumnya? mungkinkah Granger? Madam Pomprey bilang dia harus berterimakasih bukan pada Granger, apakah maksud dari ucapan Madam Pomprey adalah ini, seketika jantung Draco memacu dengan cepat memikirkan Granger yang menciumnya.

"Baiklah aku akan memberitahumu Drake, kemarin saat kau berontak kami sudah tidak bisa menanganimu lagi, Blaise mengusulkan untuk memberimu bius tapi ternyata hal itu malah bisa membuatmu keracunan, dan tiba-tiba Granger menawarkan bantuan kepada kami, awalnya dia ragu untuk melakukannya tapi setelah kami desak akhirnya dia mau juga melakkukannya. Dan kau tahu apa yang terjadi? Dia membungkam teriakan mu dengan mulutnya, astagaaa kalian berciuman panas sekali, aku dan Blaise sampai shock melihatnya, dan yang paling mengejutkan adalah kau berhasil diam dalam ciumannnya, jadi mimpi mu itu bukan mimpi itu kenyataan Drake"

DEGGGGG…

Jantung Draco berpacu dengan cepat mendengar penjelasan panjang dari Theo, benarkah itu? Granger menciumnya? Bernarkah segitu panasnya ciuman mereka? Perntanyaan-pertanyaan itu berputar di otaknya, itu berarti dia sudah berciuman empat kali dengan Granger.

"Hei Draco kau baik-baik saja"

Blaise mengibaskan tangannya di wajah Draco yang masih diam dalam pikirannya sendiri, sepertinya perkataan mereka tadi berhasil membuat Draco bungkam. Blaise melirik Theo dan melemparkan seringaian kita-berhasil dan disambut dengan cengiran lebar dari Theo.

"Kalian keluar saja, aku ingin sendiri"

"Kau yakin mate? Tak ingin kami ceritakan secara detail ciuman kalian?"

Godaan dari Blaise berhasil mendapatkan deathglare sekaligus tatapan pergi-kalian-ke-neraka

dari Draco, yang berhasil membuat Blaise dan Theo meneguk ludahnya sendiri sekaligus ingin tertawa diasaat yang bersamaan.

"Oke mate kami akan pergi , tidak perlu memberi tatapan mengerikan itu pada kami,ah dan satu lagi kami masih menerima kata terimakasih darimu jika kau ingin mengucapkan itu pada kami"

"PERGI SANA!" hardik draco sambil mengacungkan tongkat ke arah Theo dan Blaise.

Detik itu juga Blaise dan Theo segera berlari keluar sebelum Draco benar-benar mengutuk mereka berdua.

"Arrrrgggghhhhhhh" Draco berteriak frustasi setelah memastikan Blaise dan Theo sudan benar-benar jauh darinya, Draco memegang jantungnya , entah kenapa jantungnya belum berdetak secara normal setelah mengetahui semuanya. 'Sebenarnya apasih yang dipikirkan Granger sehingga menciumku' batin Draco , Draco memejamkan matanya mencoba untuk mengingat apa yang sebenarnya terjadi, secara reflex draco menyentuh bibirnya, disana masih terasa bagaimana bibir Hermione membungkam teriakannya, dia masih merasakan dirinya membagi kesakitan

dalam ciuman itu dan Hermione menenangkannya dalam ciuman.

"Oh shit apa yang baru saja aku pikirkan arghhh"

Draco menjambak rambutnya frustasi , sebaiknya dia tidur agar bisa merilekskan pikirannya dan agar dia bisa kembali ke asramanya, bau obat diruangan ini membuatnya muak.


Hermione membuka matanya perlahan mencoba menyesuaikan sinar matahari yang masuk dari celah kamarnya, tapi tunggu ini bukan kamarnya ada yang berbeda dari kamarnya.

"Ah kau sudah bangun Mione"

"Ginny"

Ah Hermione ingat ini asrama Gryfindor , semalam dirinya memutuskan menginap disini, di asrama ketua murid terlalu sunyi membuat dirinya merasa kesepian.

"Hei Mione sebenarnya aku ingin bertanya padamu semalam, tapi kau sudah tidur"

"Kau ingin bertanya apa?"

"Kau tumben sekali tadi malam menginap disini, ada apa? kesepian tidak ada si musang albino itu ya?"

SKAKMAT !

Pertanyaan Ginny benar-benar membuat Hermione bungkam, permasalahannya adalah apa yang dikatakan Ginny itu seratus persen benar dan Hermione tidak mungkin menjawab ya , mau ditaruh dimana muka dan harga dirinya jika iya mengaku kesepian tidak ada si ferret albino itu.

"Tentu saja tidak, aku hanya merindukan asrama ini, memangnya tidak boleh aku menginap disini?" Hermione memasang wajah sebal untuk menutupi kebohongannya pada Ginny.

"Ya ya baiklah aku percaya denganmu, ah iya kau diminta Prof. Mc Gonnagal untuk ke hospital wings"

"Untuk apa dia menyuruhku kesana?"

"Entahlah, mungkin kau disuruh untuk menjenguk pangeranmu" Ginny menjawab dengan nada menggoda, dan sukses mendapatkan lemparan bantal besar di mukanya dari Hermione yang kesal padanya tapi itu tidak membuat Giiny berhenti tertawa

"Enyahlah kau Ginny"

Kenapa Professor memanggilku? Setidaknya itulah yang ada di otak Hermione kini hingga ia tidak sadar dirinya sudah berada di depan pintu hospital wings, Hermione menarik nafas panjang semoga saja ini tidak ada hubungannya dengan Malfoy dan ini tidak akan membuatnya susah. Hermione membuka pintu hospital wings dan dia sedikit terkejut saat mengetahui ada Professor Snape juga disana.

"Ah akhirnya kau datang juga"

Professor Mc Gonnagal menyambutnya ramah, jangan tanya dengan Professor Snape dia sama sekali tidak menyambutnya , sebenarnya Hermione juga tidak ingin disambut oleh Professor tetapi setidaknya dia .. ah entahlah sekarang itu tidak penting yang penting adalah apa alasan mereka memanggilnya, entah mengapa firasat Hermione mengatakan hal yang tidak enak akan menimpanya semoga itu hanya firasatnya saja.

Hermione hanya tersenyum kikuk saat Professor Mc Gonnagal menyapanya, Hermione memelirik Draco yang juga ada disana dari ekor matanya , dan dia mendengus saat Draco menatapnya dengan acuh dan menyebalkan.

"Ada apa anda memanggilku kemari Professor"

Professor Mc Gonnagal tersenyum mendengar pertanyaan Hermione,sedangkan Professor Snape hanya diam tanpa kata lengkap dengan wajah angkuh dan menyebalkan yang tidak pernah hilang dari wajahnya.

"Sebenarnya aku ingin kau membantu kita ini untuk menjalani hukumannya karena sudah empat hari membolos tanpa sebab dan meninggalkan semua tugas-tugasnya juga membantunya untuk mengejar ketinggalannya dalam mata pelajaran tela'ah muggle"

"APPPAAAA?"

Draco dan Hermione berteriak bersamaan saat mendengar ucapan Professor Mc Gonnagal yang tidak masuk akal itu.

"Aku tidak mau, apa-apaan ini!"

Draco menolak dengan tegas ide gila ini, yang benar saja dia harus menjalani itu semua dengan Granger berang-berang itu, kenapa hidupnya sekarang penuh dengan Granger sih.

"Kau pikir aku mau? Aku tidak sudi membantumu, aku menolak ide ini Professor"

Mimik wajah Professor Mc Gonnagal berubah menjadi kesal saat Draco dan Hermione menolak apa yang dia perintahkan, 'Dasar tidak sopan' batinnya.

"Kami tidak menerima penolakan dari kalian, saat liburan natal nanti kau Draco harus menjalani hukumanmu dengan menghabiskan masa liburanmu untuk mempelajari kehidupan muggle di dunia muggle bersama tanpa sihir sedikitpun, dan sekali lagi kalian tidak dapat menolak karena ini perintah langsung dari Dumbledore"

Kali ini Professor Snape yang angkat bicara, apa yang dikatakannya membuat pasangan ketua murid ini lemas, yang benar saja harus menghabiskan liburan natal dengan orang yang paling ingin kau hindari,satu kata yang menggambarkan situsi ini MENYEBALKAN.

"Kalian bisa pergi dua hari lagi dan tadi Madam Pomprey menitipkan pesan padaku kau sudah bisa keluar dari sini besok, jadi kuharap kalian bisa bersiap-siap. Baik selamat siang anak-anak"

Seusai berkata seperti itu Professor Mc Gonnagal pergi diikuti Professor Snape meninggalkan mereka berdua di hospital wings, keduanya saling diam mungkin mereka masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Ini benar-benar mimpi buruk bagi keduanya, semoga saja keduanya bisa menjalani nya dengan tabah , kita tidak akan pernah tahu apa yang akan tejadi semoga beruntung Draco dan Hermione.


Author's Note : Huaaaaa maaf lama banget updatenya, aku terkena WB yang berkepanjangan , udah gitu laptopku rusak jadi bikin tambah males update nih ff, maaf ya, selamat membaca chap 9 semoga bisa menghibur, jangan lupa review ya ^^

Balasan Review :

diya1013 , Minri , uulill , reinaaa , , kira : huaaaa maaf ya telat, ini ada lanjutannya kok, ff ini entah kapan tamat hehehe, terimakasih sudah menunggu ff ini, selamat membaca jangan lupa review lagi ya :*

Ochan malfoy : makasih buat semangat nya ochannnn {} , iya itu cara mione buat bantuin mereka , haha itu juga tadinya Mione gak yakin, tapi dipaksa Theo akhirnya jadi kayak gitu deh hehe, review lagi yah :*

Shizyldrew : hahaha iya, tadinya saya yang mau nyosor tapi Draconya gak mau #plak, di kepala Mione tiba2 terlintas ide itu jadi yaaa dicoba aja deh sama dia wkwkwkwk

lucyheart : Saking paniknya liat Draco kesakitan , akhirnya Mione tanpa piker panjang ngelakuin ide gila itu heheehe, review lagi yah

Lulu Lovegood : Hai lulu salam kenal {} , entah tiba2 ide itu ada di kepala Mione yang lagi panik banget ngeliat kondisi Draco wkwkwk

the black rose : Belum kok belum tamat entah kapan tamatnya, semoga cepet amminnnnn, wah makasih udah suka cerita ff ku, semoga kamu tetep suka sampai chap terakhir yah ;)