Fairy Tail © Hiro Mashima

A Fairy Tail Fanfiction

Between Us

By Yusa-kun

Warning : AU, Typo(s), OOC.

.

.

.

.

.

Seorang gadis berparas cantik dengan surai pirang panjangnya sedang berjalan perlahan untuk masuk kedalam sekolahnya. Sesampainya ia disekolah, ia membuka loker sepatunya dan menukar sepatunya dengan sepatu sekolahnya. Setelah selesai, gadis itu pun berjalan disepanjang koridor untuk menuju kekelasnya.

"Lu-chan, ohayou" sapa seorang gadis imut dengan rambut pendek birunya.

Lucy menoleh kebelakang dan mendapati teman sekelasnya.

"Ah, Levy-chan. Ohayou" jawab Lucy sambil melanjutkan langkahnya yang terhenti.

"Ohayou, Lucy, Levy" sapa seorang gadis dengan surai merah panjang yang sedang berdiri disamping gadis yang bernama Levy.

Lucy menghela nafas dan menoleh kebelakang. "Ohayou" jawabnya.

"Ah ohayou, Erza. Kau sudah datang. Kau datang bersama Jellal ya? Hihi" ledek Levy kepada gadis berambut merah yang diketahui bernama Erza.

"Ti-tidak! Ak-aku datang sendiri. Ayo kita kekelas" jawab Erza dengan gugup dan terlihat semburat merah di pipinya.

Erza berjalan melewati Lucy yang masih diam, sedangkan Lucy menatap kepergian Erza dengan tanpa ekspresi.

"Ayo, kita kekelas" ucap Levy dengan ceria sambil menggenggam tangan Lucy. Lucy pun akhirnya melanjutkan berjalan kekelas bersama dengan Levy.

"Kau sudah mengerjakan pekerjaan rumahmu?" Tanya Levy saat setelah meletakkan tasnya.

Lucy menoleh dan mengangguk pelan. "Kalau kau?"

"Sudaaaah" jawab Levy dengan ceria.

Setelah berbasa-basi, Levy dan Lucy berbincang tentang banyak hal. Mereka membicarakan novel-novel yang mereka punya dan berencana untuk saling bertukar. Tanpa terasa bel masuk pun berbunyi dan guru pun masuk kedalam kelas. Pelajaran pun dimulai.

XXX

Lucy sibuk menulis dibukunya. Sesekali ia memandang dan memperhatikan penjelasan senseinya. Ia benar-benar serius dalam pelajaran. Tidak heran kalau ia sekarang masuk kedalam kelas yang notabene nya terdiri dari anak-anak yang memiliki otak yang cerdas.

Lucy akhirnya merasa pada batasnya. Ia meletakkan pulpennya di sela bukunya dan menoleh kearah jendela. Sejenak, ia memandang keluar dan merasakan udara yang berhembus kearah dirinya.

'Tiga tahun, heh..' Batinnya.

XXX

Bel istirahat pun berbunyi, Lucy segera bangkit dari duduknya dan berjalan keluar. Beberapa langkah ia berjalan, terdengar suara Levy yang memanggilnya.

"Lu-chan, kau ingin kekantin?" Tanyanya. Lucy menoleh dan mengangguk.

"Aku tunggu dikelas ya, kita makan bersama" ucap Levy sambil tersenyum manis.

"Oke" sahut Lucy.

Lucy pun akhirnya keluar dari kelas dan berjalan menuju kantin untuk membeli makanan dan minuman. Saat diperjalanan, Lucy tersadar bahwa ada panggilan masuk di ponselnya. Ia melihat nama yang tertera disana dan terlihat.

Ibu.

Lucy tidak berpikir panjang dan segera menerima panggilan itu.

"Ibu, ada apa? Ucap Lucy sambil tetap melangkah.

"Kau sedang disekolah?" Terdengar suara yang lembut diseberang telepon.

"Iya." Jawab Lucy dengan singkat.

"Kau lupa membawa bekal makan siangmu"

"Iya, aku sudah membeli makanan dikantin."

"Baiklah, nanti pulangnya hati-hati ya"

"Iya. Jaa" ucap Lucy sambil menekan tombol untuk mematikan panggilan dan menaruh ponselnya disakunya.

Ia berjalan dengan pelan dan terkadang tertunduk seperti memikirkan sesuatu sampai ia tidak menyadari keadaan disekitarnya. Sampai ia mendengar suara yang membuat jantungnya berdegup dengan kencang.

"Natsu, kau benar-benar rakus" ucap pemuda berambut raven yang berjalan melewati Lucy.

"Aku butuh asupan yang cukup untuk ulangan matematikanya Laxus, Gray! Harusnya kau juga begitu, dasar mata sayu!" ucap pemuda dengan surai merah jambunya. Pemuda yang bernama Natsu itu telah melahap habis roti-roti yang telah ia beli.

Saat Natsu melewati Lucy, Lucy berkata sesuatu tanpa menoleh.

"Mengganggu" gumam Lucy

Saat Natsu mendengar suara itu, sontak ia menghentikan aktivitas makannya dan menoleh kebelakang. Matanya menangkap sosok yang begitu ia kenal. Lucy yang masih berjalan, berusaha menenangkan jantungnya yang sekarang tengah berdegup dengan kencang.

Natsu segera membuang roti yang ia pegang dan mengejar gadis yang begitu ia kenal. Lucy bisa mendengar langkah kaki, atau mendengar langkah setengah berlari dari arah belakang.

Lucy merasa tangannya digenggam oleh seseorang yang berada dibelakangnya hingga membuat dirinya menoleh kebelakang dan menghentikan langkahnya. Mata mereka bertemu. Mata indah karamel milik Lucy dan mata onyx hitam milik Natsu. Natsu membelalakkan matanya.

"Lu—cy.." gumamnya

'Ya tuhan..Natsu..' Batin Lucy

Lucy memutuskan untuk menyembunyikan perasaannya. Ia memandang Natsu dengan dingin. Lucy menyentakkan tangannya hingga genggaman Natsu terlepas.

'Tidak ada yang harus dibicarakan, bukan?' batin Lucy.

Tanpa mengatakan apapun, Lucy memutuskan berjalan meninggalkan Natsu.

'Tapi..'

Lucy menoleh kebelakang dan melihat Natsu yang membeku disana dengan tatapan..sinisnya. Setelah puas, Lucy pun melangkah pergi.

XXX

"Hoy, Natsu!" Panggil Gray.

Natsu sedang duduk ditempatnya dan pandangannya menerawang. Ia benar-benar tidak memperhatikan keadaan disekitarnya sampai pada akhirnya ia merasakan nyeri dibagian kepalanya. Natsu pun tersadar dan menatap sinis kepada teman sebangkunya.

"Apa yang kau lakukan, Ice Princess!" Omelnya

"Kau yang budek, Flame-head. Aku sudah memanggilmu beberapa kali!" Jawab Gray dengan tidak kalah serunya.

Natsu menghela nafas dan menoleh kearah jendela kembali. "Aku sedang tidak mood bertengkar denganmu" ucapnya.

Gray bingung dengan perubahan sikap teman sebangkunya itu.

'Kenapa dengan dia' batin Gray.

"Gray-sama~" panggil seorang gadis dengan rambut ikal panjang berwarna biru.

"Crap! Dia lagi, dia lagi.." Gumam Gray sambil menutup wajahnya dengan satu tangannya.

Greb!

"Gray-sama~ Juvia dataaaaang~" ucap gadis itu yang bernama Juvia.

"Juvia, bisa tidak kalau kau bersikap biasa saja?" Ucap Gray

"Aaaah..Gray-sama kakoiiiii" Juvia sudah berfangirling.

Gray hanya menghela nafas. Natsu tidak mempedulikannya. Ia mengacuhkan semua yang ada disekitarnya. Ia hanya memikirkan satu hal.

'Dia Lucy kan? Tapi..tapi..' Batin Natsu

Natsu bangkit berdiri dan berlari keluar dari kelas. Gray melihatnya dengan tatapan yang bingung. Natsu berlari menyusuri koridor sekolahnya. Ia melongok ke setiap kelas. Ia mencari sosok yang ia temui tadi. Sosok yang ia pikir hanya imajinasinya.

Sampai pada akhirnya ia menemukan satu kelas yang belum dilihatnya.

1-A

"Hanya kelas ini yang belum ku lihat. Ah aku benci kelas ini, tapi..tidak ada cara lain" ucap Natsu.

Natsu pun membuka pintu kelas. Beberapa anak dikelas itu memandangnya dengan heran dan berbisik tentang Natsu. Natsu tidak mempedulikannya. Yang ia pedulikan adalah dimana sosok gadis itu? Mata Natsu menelusuri tiap kelas, dan akhirnya ia menemukannya.

"Luce.." Gumamnya.

Natsu ingin melangkah masuk tetapi saat itulah bahunya merasa di pegang oleh seseorang. Ia pun menoleh kebelakang.

"Eh, Natsu-san. Ada perlu apa datang kekelas kami?" Tanya seorang siswi yang merupakan salah satu siswi yang ada dikelas itu.

"Aku mencari dia" jawab Natsu sambil menunjuk Lucy.

Siswi itu memperhatikan Lucy dengan tatapan tidak suka.

'Ada apa dengannya?' Batin Natsu

"Ada perlu apa memangnya dengan perempuan jutek itu?" Ucap siswi itu.

Natsu mengangkat alisnya. "Jutek?"

Siswi itu mengangguk. "Kau mencari Lucy-san kan? Memangkan Natsu-san tidak tahu kalau dia terkenal dengan kejutekkannya dan keacuhannya?"

Natsu menggeleng. "Apa benar ia begitu?" Tanya Natsu lagi untuk meyakinkan. Siswi itu mengangguk.

"Ya walaupun ia peringkat pertama dikelas dan juga disekolah ini, ia juga dikenal sebagai gadis yang dingin. Hmm Emotionless." jelas siswi tersebut.

Natsu pun mengingat kejadian saat bertemu dengan Lucy. Ia melihat tidak ada ekspresi diwajah Lucy saat memandangnya. Lucy begitu dingin. Ada apa sebenarnya?

"Kalau pun ada ekspresi, pasti ia akan menatap sinis kita" lanjut siswi tersebut.

Natsu juga mengingat tatapan sinis Lucy padanya.

"Dia..dia Lucy Heartfilia kan?" Tanya Natsu.

"Lucy siapa? Hert apa?" Tanya siswi itu.

"Lucy Heartfilia"

"Ah, hanya Lucy. Namanya hanya Lucy" jawab siswi itu.

Natsu terkejut mendengarnya. Berbagai pertanyaan berkecamuk di otaknya. Kenapa nama Lucy hanya 'Lucy'? Kenapa sikap Lucy bisa berubah drastis seperti ini? Lucy ini..bukanlah Lucy yang ia kenal..

"Ah baiklah, terimakasih ya" ucap Natsu sambil melangkah pergi.

Lucy sadar akan kedatangan Natsu. Saat Natsu pergi, Lucy hanya menoleh dan tertunduk.

'Lebih baik seperti ini..' Batin Lucy.

XXX

"Tadaima.." Ucap Lucy sambil menutup pintu rumahnya.

"Okaeri.." Terdengar suara seorang wanita dewasa nan lembut dari dalam rumah.

Lucy masuk kedalam dan meletakkan sepatunya di rak.

"Ibu, kau sudah pulang? Tumben sekali" ucap Lucy

Ia melihat ibunya sedang sibuk memasak didapur. Lucy hanya bersandar didaun pintu dan memandang ibunya.

"Pekerjaanku sudah selesai, jadi Ibu pulang cepat hehe" jawabnya.

Ya, dialah Layla. Ibu Lucy. Ia tidak banyak berubah. Hanya kerutan-kerutan tipis yang terlihat diwajahnya, walaupun begitu ia masih tetap cantik.

"Hmm souka..aku mandi dulu. Aku akan pergi kerja setelah itu.." Ucap Lucy sambil meninggalkan ibunya.

Ibunya hanya menatap kepergian putrinya dan tertunduk sedih.

"Maafkan Ibu, Lucy.." Gumamnya.

XXX

Lucy meletakkan tasnya dibawah meja belajarnya. Dimeja belajarnya itu terlihat ada beberapa figura yang berdiri disana.

Lucy melepaskan dasi yang ia pakai, lalu melemparkannya ketempat tidurnya. Ia berjalan menghampiri jendela kamarnya dan membukanya. Ia bisa menikmati semilir angin yang berhembus. Ia memejamkan matanya dan teringat wajah Natsu saat mereka bertemu pandang disekolah.

"Hisashiburi nee..Natsu.." Gumamnya

Lucy menutup kembali jendelanya dan melangkah masuk kedalam kamar mandinya.

XXX

Natsu merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya. Ia menatap langit-langit kamarnya dan memikirkan kejadian-kejadian hari ini yang telah terjadi.

"Lucy..berubah?" Gumamnya

Natsu menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berpikir, mulai hari ini akan terus mendekati Lucy. Ia akan berusaha mengembalikan Lucy seperti dulu lagi. Ya, itu adalah tekadnya sekarang.

XXX

Lucy bekerja sebagai kasir di toko serba ada yang berada di dekat rumahnya. Dalam sehari, ia bisa bekerja di dua tempat. Setelah menjadi kasir, ia akan menjadi cleaning service disebuah gedung perkantoran. Dan setiap harinya, ia akan pulang larut malam. Belum lagi, ia harus belajar dan mengerjakan pekerjaan rumahnya yang telah diberikan sensei disekolah. Paling tidak, ia baru dapat tidur sekitar pukul tiga pagi. Dan pagi harinya, ia harus beraktivitas kembali.

"Lucy, kau tidak boleh terlalu capek. Ingat!"

Kalimat itu selalu terngiang ditelinganya. Nasehat ibunya selalu diingatnya. Tetapi Lucy berpikir, selama tubuhnya masih bisa bergerak, ia akan terus bekerja. Ia sudah bertekad, ia akan hidup mandiri bersama dengan Ibunya.

XXX

"Kau tahu! Aku sudah tidak tahan lagi hidup denganmu!"

"Aku pun begitu!"

"Dasar wanita tidak tahu diri!"

"Ibu, awasssss!"

Lucy terbangun dengan nafas yang terengah-engah. Ia bangkit duduk dan memegang kepalanya.

'Mimpi..itu lagi..' Batinnya.

Airmata keluar dari kedua matanya. Ia terdiam, mimpi buruk selalu datang tiap malam, membuat Lucy tidak bisa melupakan masa lalu. Lucy mendecih dan segera bangkit, menyambar handuk dan masuk kedalam kamar mandi. Ia harus bersiap kesekolah.

XXX

"Ohayou.."

"Ohayooou"

Lucy berjalan dikoridor sekolah untuk menuju kelasnya. Ia bisa mendengar bisik-bisik siswa-siswa yang sudah datang terlebih dahulu dari dirinya. Entah kenapa, ia bisa tahu bahwa ialah yang menjadi topik bisik-bisik tetangga itu. Untuk beberapa kalinya ia menghela nafas dan memasangkan earphonenya ke kedua telinganya. Tidak ada lagu yang terdengar disana. Sampai pada Lucy tersentak kaget saat ada seseorang yang mencabut earphonenya. Ia menoleh dan mendapati sosok yang tidak ia duga.

Sosok itu langsung merangkul dirinya dan berjalan santai, mau tidak mau Lucy pun mengikutinya berjalan.

"Diamlah dan berjalan seperti biasa" bisik sosok itu.

Lucy melepaskan rangkulan sosok itu dan berhenti melangkah. Sosok itu pun menghentikan langkahnya dan memandang Lucy.

"Jangan sok akrab denganku" ucap Lucy dengan dingin. Sosok itu memandangnya sejenak dan tersenyum.

"Luce..kau yang sekarang benar-benar menyeramkan" ucap sosok itu yang ternyata tak lain adalah Natsu. Setelah mengucapkan hal itu Natsu pun melanjutkan langkahnya. Kini, Lucy yang membeku.

'Ap-apa?! Aku..aku menyeramkan?!' Batin Lucy.

Lucy melepaskan salah satu sepatu dan melemparkannya kearah Natsu. Dan tepat sasaran mengenai kepala Natsu.

"Kkkkaaaauuuu!" Ujar Natsu

"Jangan seenaknya mengejek orang seperti itu. Kau tidak punya kaca? Kau merasa dirimu lebih hebat dariku? Hmm?" Omel Lucy tapi dengan wajah yang tanpa ekspresi. Lucy melangkahkan kakinya untuk mengambil sepatunya yang telah ia lemparkan kepada Natsu. Tetapi Natsu lebih cepat untuk mengambil sepatu Lucy dan membawanya pergi.

"Heeeey! Kau mau bawa kemana sepatuku" Teriak Lucy

"Kembalikan! Heyyy!"

Natsu tidak mempedulikan teriakan dan makian Lucy. Ia diam-diam tertawa. Natsu pun menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.

"Aku akan mengambilnya sebagai bayaran karena kau telah mengenai kepalaku dengan sepatumu ini!" Ucapnya sambil mengiming-imingkan sepatu Lucy.

Natsu pun kemudian melangkah pergi. Lucy mengepalkan tangannya karena kesal dan mengacak-acak rambutnya.

"Aaaarrrrggghhh sial sial siaalll!" Teriak Lucy.

Lucy tidak sadar kalau ia sudah ditonton oleh para siswa yang berada dikoridor. Setelah sadar akan keadaan itu, Lucy membenarkan rambutnya yang acak-acakan itu dan melangkah masuk kekelasnya. Dan perlu diingat, ia hanya memakai satu sepatu.

Erza dan Levy melihatnya dari jauh hanya tertawa.

"Eeeehhh? Lu-chan bisa berekspresi seperti itu ya hihi lucunya" ucap Levy

Erza mengangguk. "Sepertinya kuncinya ada di pemuda pinky itu" ucapnya.

"Namanya Natsu, Erza" timpal Levy

"Terserahlah namanya siapa" respon Erza. Levy hanya tersenyum.

XXX

'Aaaaah menyebalkan' batin Lucy

Lucy memandang kakinya yang kini hanya memakai sepatu sebelah. Ia tidak sempat menggantinya dengan sepatu yang ada diloker.

"Lucy-san. Bisakah kau mengerjakan soal didepan?" Tanya sensei yang berdiri didepan.

Lucy pun tersentak kaget.

'Bagaimana ini..' Batin Lucy

Tiba-tiba Levy mencoleknya dan menunjuk kebawah.

"Pakailah" bisiknya

Lucy tercengang. Levy telah menyodorkan sepatunya kepada Lucy. "Lucy-san." Panggil senseinya sekali lagi.

"Cepat pakai" bisik Levy

Lucy mengangguk, "Arigatou"

Dan tidak lama kemudian ia telah memakai sepatu Levy dan maju kedepan untuk mengerjakan soal yang diberikan oleh sensei. Levy tersenyum dan menoleh ke Erza. Erza hanya mengacungkan jempolnya dan Levy hanya menganggukkan kepalanya.

XXX

"Flamehead, itu sepatu siapa yang ada dikolong mejamu?" Tanya Gray yang sekarang sedang duduk disampingnya sambil melahap bekal makan siangnya.

"Sepatu seseorang" jawab Natsu dengan singkat.

"Kau menjahili anak perempuan? Tumben sekali" Gray berusaha untuk mengambil sepatu yang ada dikolong meja Natsu.

Plak!

"Awww! Apa-apaan sih kau ini!" Omel Gray karena tiba-tiba tangannya di pukul oleh Natsu.

"Jangan sentuh-sentuh! Mata sayu!" Ujar Natsu.

"Apaaaa! Dasar otak api! Kau ngajak ribut ya!" Balas Gray

"Diamlah! Aku menunggu kedatangan seseorang!" Ucap Natsu

"Eh?"

Pintu kelas pun terbuka dan menampakkan Juvia yang terlihat fangirling.

"Gray samaaaaa~ mari kita makan bekal bersama~" ucap Juvia sambil berlari menghampiri Gray.

Gray menghela nafas. "Aku sudah bilang kau tidak perlu kesini!" Omelnya.

"Tapi Juvia ingin bertemu Gray-samaaa~" jawab Juvia sambil memonyongkan bibirnya.

"Juvia" panggil Natsu tiba-tiba.

Juvia menoleh. "Ada apa, Natsu-san?"

"Apa kau kenal Lucy dari kelas 1-A?" Tanya Natsu dengan serius. Gray hanya memandang secara bergantian antara Juvia dan Natsu.

Juvia meletakkan kotak bekalnya dan menggeret kursi mendekati Gray dan duduk disebelahnya.

"Hmm bagaimana ya. Aku kenal sih, tapi tidak pernah bertegur sapa" jawab Juvia sambil menggandeng tangan Gray.

"Hey!" Gerutu Gray sambil mencoba melepaskan gandengan tangan Juvia.

"Hmm souka.." Ucap Natsu.

Natsu menatap pintu kelasnya. Ia benar-benar menunggu kedatangan Lucy untuk mengambil sepatunya, tapi gadis yang ditunggunya tidak kunjung datang.

"Memangnya ada apa Natsu-san?" Tanya Juvia

"Apa dia memang seperti itu?" Tanya Natsu. "Hmm maksudku, dia benar-benar pendiam seperti itu?" Lanjut Natsu.

"Mungkin. Tapi entahlah. Buktinya Levy-san dan Erza-san sering mengobrol dengannya" jawab Juvia sambil memakan bekal makanannya.

"Hey..hey..siapa itu Lucy?" Tanya Gray yang mulai kepo(?).

"Siswi kelas 1-A" jawab seorang yang tiba-tiba bergabung dengan Natsu, Gray, dan Juvia.

"Jellal!" Ucap Gray dan Natsu bersamaan.

"Konnichiwa, Jellal-san" sapa Juvia.

"Yo, konnichiwa" jawab seorang pemuda dengan rambut birunya dan tato yang ada didekat mata kanannya, ia bernama Jellal. Jellal Fernandez.

"Ngapain kau disini?" Tanya Gray

"Mau minta bekal makanan kalian" jawab Jellal dengan tampang polosnya.

Semuanya bersweatdrop.

"Memangnya tidak ada anak yang membawa bekal di kelasmu?!" Omel Gray.

"Ahhh Gray-samaaa kakoiiii~" ujar Juvia yang sekarang terlihat berfangirling(lagi).

"Aku dengar dari salah satu siswi, hmm bukan, dari kebiasaan bisik-bisik tetangga anak-anak dikelasku. Kemarin, kau datang kekelasku mencari Lucy? Benarkah?" Tanya Jellal sambil memandang Natsu.

Natsu mengangguk.

"Kenapa?" Tanya Jellal

"Hanya memastikan dia orang yang aku kenal, dulu.." Jawab Natsu sambil mengalihkan pandangannya kearah jendela.

"Dulu?" Ucap Juvia, Gray dan Jellal bersama-sama.

Natsu menoleh dan pada akhirnya ia menceritakan kepada teman-temannya itu.

"Ah souka.."

"Mungkin dia bersikap seperti itu karena kau bilang tidak menyukainya, Flamehead" ucap Gray.

"Benarkah? Bisa jadi sih" jawab Natsu.

Juvia menggeleng pelan. "Tidak mungkin kalau seperti itu, pasti hanya Natsu-san yang diacuhkan. Bukan semua orang. Dan belum lagi.."

"Belum lagi, wajahnya yang sering sekali tanpa ekspresi..benarkan?" Lanjut Jellal

Juvia mengangguk.

"Kenapa kau tidak mencoba bertanya pada Levy atau Erza?" Tanya Jellal.

"Levy..dan Erza ya..heh ide yang bagus!" Natsu tiba-tiba bangkit berdiri dan meninggalkan teman-temannya. Ia berlari keluar kelas.

"Loh aku baru sadar, Gajeel-kun kemana?" Tanya Juvia.

"Entahlah, mungkin dia sedang mengorek-ngorek sejumlah besi digudang sekolah" jawab Gray dengan spontan.

"Kejamnya" sahut Jellal sambil mengambil beberapa lauk bekal milik Gray.

"Aku kembali kekelasku dulu" ucap Jellal

"Hoy! Jangan main ambil makanan orang! Dasar!" Gerutu Gray.

Sekarang tinggal Juvia dan Gray. Gray melahap bekalnya yang tinggal setengah itu mau tidak mau.

"Gray-sama~ kalau masih kurang makanannya, Juvia bisa menyuapi bekal milik Juvia untukmu~" ucap Juvia.

"Terimakasih. Tapi..tidak"

Mulai lah keributan antara Gray dan Juvia.

XXX

Natsu berlari kekelas 1-A. Ia menggebrak pintu kelas itu.

"Aku mencari Erza dan Levy. Mana orangnya?" Ujar Natsu

Erza dan Levy yang sedang mengobrol hanya menoleh dan memandang Natsu dengan pandangan heran.

Erza bangkit berdiri dan berjalan kearah Natsu.

"Apa kau tidak tahu cara yang sopan untuk masuk kekelas orang lain? Hmm?" Tanya Erza dengan auranya yang benar-benar menyeramkan membuat para siswa yang berada dikelasnya bergidik. Begitupun dengan Natsu.

"Ah hahaha gomen gomen. Mengenai pintu itu..hmm gimana ya hahaha" ucap Natsu sambil tertawa konyol untuk menutupi ketakutannya pada gadis yang berdiri dihadapannya.

"Bagaimana yaa..hmm" ucap Erza sambil mengepalkan tangannya.

Natsu mundur selangkah. Ia berpikir bisa gawat kena hajar dari seorang gadis yang terlihat seperti monster ini.

"Erzaaaa.. Dia itu ada perlu ama kita loh" ucap Levy yang sekarang sudah berdiri dibelakang Erza.

"Konnichiwa, hmm Natsu?" Sapa Levy.

"Iya panggil saja Natsu. Hmm begini, apa kalian ada waktu pulang sekolah ini? Itu..aku ingin membicarakan sesuatu" terang Natsu.

Erza dan Levy saling memandang dan mengangguk.

"Baiklah, kami ada waktu kok" jawab Erza.

"Yosssh. Nanti tunggu didepan gerbang sekolah saja ya. Terimakasih sudah meluangkan waktu kalian. Jaa nee" pamit Natsu.

Saat Natsu ingin membuka pintu kelas, ternyata sudah terlebih dahulu ada yang membukanya. Natsu memandang sosok itu dan ia membelalakkan matanya.

"Luce.." Gumamnya.

Lucy hanya memandang Natsu dengan kesal. Natsu memandang kearah kaki Lucy, ternyata Lucy sudah memakai sepatu dengan sedia kala. Sepatu yang berbeda dari yang sebelumnya.

"Apa lihat-lihat?" Tanya Lucy dengan sinis.

Natsu tersenyum dan menggeleng. Dan berjalan keluar kelas Lucy. Lucy pun masuk kedalam kelas. Sebelum itu, Lucy menoleh dan memanggil nama Natsu.

"Natsu"

Natsu pun menoleh. Ia tidak menyangka kalau Lucy akan memanggilnya dengan namanya.

"Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi" ucap Lucy. Setelah mengucapkan hal itu, Lucy menutup pintu kelasnya dan berjalan ketempat duduknya.

Levy dan Erza memandang Lucy dan segera menghampirinya.

"Lu-chan kau sudah ganti sepatu lagi? Hah baguslah.." Ucap Levy

"Memangnya sepatumu kemana? Kau dijahili?" Tanya Erza

"Levy-chan, Erza, aku butuh waktu sendiri. Bisakah kalian-" ucapan Lucy belum selesai, Erza sudah mengucapkan sesuatu.

"Baiklah kalau begitu, kalau kau membutuhkan kami, kami selalu ada waktu. Lucy" ucap Erza. Setelah itu Erza berjalan menuju tempat duduknya.

Lucy meletakkan kepalanya di mejanya dan menyembunyikan wajahnya dibalik tangannya. Ia memejamkan matanya untuk sejenak. Ia merasa akan benar-benar capek kali ini.

XXX

Natsu sedang duduk berhadapan dengan Erza dan juga Levy disebuah kafe dekat sekolah mereka. Mereka saling tatap dengan tatapan yang sangat serius, sampai pada akhirnya Erza berdeham dan memecah keheningan.

"Jadi? Ada apa, Natsu?" Tanya Erza

Natsu menyesap minuman yang telah ia pesan. Levy dan Erza memandangnya dengan serius.

"Hahaha tidak usah seserius itu" ucap Natsu

"Ini tentang Lu-chan kan?" Tanya Levy. Pertanyaan Levy tepat pada sasaran.

Natsu akhirnya memasang wajah serius.

"Kalian dekat dengan Lucy?" Tanya Natsu.

Levy dan Erza mengangguk.

"Bisa dibilang kalian sahabatnya?" Tanya Natsu kembali.

"Entahlah.." Jawab Levy

"Entah lah? Kok?" Tanya Natsu

"Kami selalu menganggap Lucy itu sahabat kami. Tapi mungkin Lucy tidak berpikir seperti itu.." Jawab Erza diikuti oleh anggukan Levy.

"Sejak kapan Lucy begitu?" Tanya Natsu

Levy dan Erza saling memandang kemudian kembali memandang Natsu.

"Apa maksudmu?" Tanya Erza

"Ya sejak kapan sikapnya berubah seperti itu?" Tanya Natsu kembali.

"Sikapnya berubah?" Ulang Levy.

"Tunggu..tunggu dulu..kenapa jadi kau seperti yang menginterogasi kami. Kami juga ingin bertanya padamu sebelum kami menjawabnya" ucap Erza.

"Mau nanya apa?"

"Apa hubunganmu dengan Lucy?" Tanya Erza

Natsu tersenyum dan menatap kedua gadis yang duduk dihadapannya. "Aku sahabat kecilnya, puas?"

"EEEEHHHHHH?!"

.

.

.

.

.

.

.

To be Continued


Halooooo minna, akhirnya chapter 2 selesai jugaaa, bagaimana? banyak banget yang OOC nih, kaya si Jellal. astaga bukan dia banget tuuuuh wkwkwk XD oke deeeeh, Readeeeerrrsss tolong direview yaa. onegai XD

Yasudahlah tanpa banyak bacot, saya akan membalas review-review yang sudah masuk. Cuussss...

: or=atau (?) wkwkwk XD

: Okee, ini sudah lanjut hohoho walapun tidak menjawab rasa penasaranmu hehehe XD

Wu : Ini udah lanjutttt XD

Harumi Yoshir0 : Hehe makasih, oke deh ini udah lanjut XD

Hantu : Oke makasih! ini udah lanjut XD

TheZarkMon : Sengaja biar jahat, sekali-kali gituuuu XD ini udah lanjut, ayo dibaca, bagaimana? X

RyuuKazekawa : Hmm mungkin Lucy lelah digangguin Natsu mulu (?) eh salah, haha oke deh, ini udah update hehe XD

winha heartfilia : Sereman juga hantu hihihi XD Hmm pertanyaannya kayanya bakal kejawab chapter depan deh hehe jadi tunggu yaaahhh XD

LRCN : Oke deeeh XD

kanzo kusuri : Ini udah lanjut loh, bagaimana? XD

Fi-chan nalupi : Hehe ini udah update, ini termasuk update kilat gak ya? hehehe XD

Day-chan Arusuki : Hehe baiklah terimakasih atas sarannya, kita lihat aja ya tebakannya bener apa gak di chapter depan hihihi XD

Oke deeeeh, udah semua udah dibales, sekarang waktunya author pamit undur diri.

Jangan lupa ditunggu kelanjutannya dan sekarang jangan lupa untuk direview ya, para reader yang baik hatii~~~

Aku mau berterimakasih pada semua reader yang udah mereview dan apalagi juga udah mem-favoritekan dan mem-follow fanfic ini... kalian memang baiiiik :* X'D

Arigatouuuuu~~~~~

Jaa neeee

Yusa-kun XD