"Aku sahabat kecilnya, puas?"

Fairy Tail © Hiro Mashima

A Fairy Tail Fanfiction

Between Us

By Yusa-kun

Warning : AU, Typo(s), OOC.

.

.

.

.

.

Levy dan Erza membelalakkan matanya. "EEEEHHHHHHH?!"

"Baiklah, cukup untuk shock-nya. Jadi apa kalian bisa menjawab pertanyaanku?" Ucap Natsu

Levy dan Erza memasang wajah yang serius kembali sambil memandang pemuda yang ada dihadapan mereka. Levy mulai buka suara.

"Ah ya. Saat kami kenal, dia memang sudah bersikap dingin seperti itu"

"Kami mengenalnya saat masuk kesekolah ini" tambah Erza.

"Hmm souka.." Sahut Natsu

"Lalu kenapa kau bilang Lucy itu berubah?" Tanya Levy.

"Lucy yang kukenal itu, dia tidak sedingin itu. Lucy selalu saja ceria. Senyum manis selalu terpampang diwajahnya" jelas Natsu.

"Benarkah? Waaah aku ingin lihat Lu-chan yang tersenyum" ucap Levy dengan antusias.

Natsu membenarkan cara duduknya dan memandang Levy dan Erza dengan penuh keseriusan.

"Aku ingin Lucy berubah seperti dulu, apa kalian bisa membantuku?" Tanya Natsu. Lagi-lagi Levy dan Erza memandang dan mengangguk.

"Kami akan bantu. Demi Lu-chan" ucap Levy

"Iya demi Lucy" tambah Erza.

XXX

Lucy memegangi bahunya yang terasa nyeri. Sekarang ini ia sedang bekerja sebagai cleaning service disebuah perusahaan besar ditengah kota Magnolia.

"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Huh.." Ucapnya sambil melanjutkan pekerjaannya.

Tiba-tiba..

Dug!

"Ah ittaiiii.." Ucap Lucy yang sekarang tengah jatuh terduduk.

"Ah gomen..gomen.." Terdengar suara berat dari hadapan Lucy. Lucy mengangkat wajahnya dan melihat sosok yang sedang mengulurkan tangan pada dirinya. Lucy menerima uluran tangannya dan memandang sosok pemuda yang berdiri dihadapannya.

Pemuda dengan rambut oranye, spike, dan juga ia memakai kacamata.

"Ah gomenasai, kau tidak terluka kan?" ucap pemuda itu.

Lucy mengangguk. "Tidak apa-apa, aku tidak terluka" jawab Lucy.

"Hmm aku ingin bertanya, dimana ruangan Direktur Utama? Aku ingin menemuinya" tanya pemuda itu.

"Ah, ruangan Direktur Utama berada dilantai 4. Bukan disini. Apa mau saya antar?" Tanya Lucy.

"Hmm tidak. Tidak usah repot-repot. Aku akan pergi kesana sendiri" jawab pemuda itu sambil melambaikan tangannya.

"Jaa nee.." Pamitnya.

Lucy merundukkan tubuhnya untuk memberi hormat pada pemuda itu.

"Ah.." Lucy kembali merasakan nyeri di bagian bahunya.

'Jangan sekarang..kami-sama..' Batin Lucy.

XXX

Pagi hari pun tiba. Lucy masih terbaring ditempat tidurnya. Ia merintih kesakitan sambil memegangi sebelah bahunya. Ibunya yang berada diluar kamarnya dapat mendengar rintihan putrinya, segera berlari masuk kedalam kamar.

"Kau kenapa, Lucy?" Tanya ibunya sambil duduk disamping Lucy.

Lucy tersenyum dan menggeleng. "Hanya salah posisi tidur, bu. Tenang saja" ucap Lucy. Lucy benar-benar menahan rasa sakitnya yang semakin menjadi-jadi dibagian bahunya.

"Benarkah? Wajahmu pucat sayang" ucap ibunya sambil mengecek suhu badan putrinya.

"Aku tidak apa-apa, bu. Aku akan berangkat kesekolah seperti biasanya. Oke" Lucy bangkit berdiri dan berjalan kedalam kamar mandinya.

Lucy bersandar dibalik pintu, dengan menggigit bibir bawahnya agar rasa sakitnya dapat tertahankan.

XXX

Natsu berjalan gontai kedalam kelasnya. Matanya benar-benar tidak dapat ditolerir. Ia benar-benar mengantuk kali ini.

"Ohayou" sapanya pada semua orang yang sudah berada dikelasnya.

"Ah ohayou.."

"Ohayou, Natsu"

"Yo, ohayou"

Itulah sahutan dari teman-temannya. Natsu berjalan dengan lemasnya menuju ketempat duduknya. Ia duduk dan merebahkan kepalanya dimeja.

"Hoy, Flamehead. Kau benar-benar terlihat kacau hari ini" ucap Gray.

"Kau lebih kacau daripadaku, Ice-head. Lihat! Kau tidak pakai baju seragammu" sahut Natsu sambil menunjuk kearah Gray. Gray membelalakkan matanya. "Aaaah sejak kapan!"

XXX

Lucy berjalan menuju toilet. Ia izin keluar kelas karena ia merasa tidak enak badan. Bahunya masih terasa nyeri. Benar-benar tidak terampuni. Lucy masuk kedalam toilet yang tidak ada seorang pun disana. Ia menatap pantulan wajahnya dicermin.

'Benar, wajahku pucat' batin Lucy.

Lucy segera mencuci mukanya dan kembali melihat wajahnya yang dicermin.

"Yosssh! Semoga ini bisa menyegarkan" ucap Lucy.

Sementara Natsu, Natsu sedang berjalan dikoridor untuk pergi ketoilet. Ia diusir oleh gurunya karena tertidur dikelas.

"Ah merepotkan" gerutunya.

Saat ingin sampai toilet, dari kejauhan ia bisa melihat Lucy keluar dari toilet sambil memegangi bahunya. Wajahnya tertunduk.

'Kenapa dia' batin Natsu.

Saat Lucy sudah melewati Natsu, Natsu sadar kalau wajah Lucy begitu pucat. Natsu membalikkan tubuhnya dan mengejar Lucy.

Saat terkejar, Natsu memegang bahu Lucy, Lucy tersentak kaget dan menoleh kebelakang.

"Kau kenapa?" Tanya Natsu dengan khawatir.

"Bukan urusanmu" jawab Lucy sambil melangkah pergi.

Natsu pun mencengkram bahu Lucy yang sakit.

"Aaarrrggghh!" Keluh Lucy.

Lucy jatuh terduduk, badannya bergetar hebat. Ia memegangi bahunya.

"Kau kenapa, Luce? Luce.." Natsu berjongkok untuk menyamakan posisi Lucy dengannya.

"Su-dah kubilang jangan panggil aku seperti i-" belum sampai menyelesaikan kalimatnya, Lucy pun jatuh pingsan.

"Lucy!"

Natsu segera membopongnya menuju keruang kesehatan. Setelah sampai, ia segera membaringkan tubuh Lucy, ia mengelap keringat yang ada diwajah Lucy.

"Ada apa sebenarnya.." Gumam Natsu.

XXX

"Ayah" panggil seseorang gadis yang memiliki rambut panjang dark brown kepada seseorang yang duduk dihadapannya.

"Ada apa?" Jawab ayahnya.

"Aku ingin menemui Nee-chan dan ibu" ungkap gadis itu.

Sosok orang yang disebut ayah itu pun memandang dirinya.

"Memangnya, kau tahu dimana mereka berada, Michelle?" Tanya ayahnya.

Ternyata ayahnya itu tidak lain adalah Jude Heartfilia. Dan gadis yang memanggilnya adalah Michelle Heartfilia.

"Mereka tinggal di Magnolia, Ayah" jawab Michelle.

"Temuilah mereka, terutama lihat keadaan Lucy. Apakah dia baik-baik saja" ucap ayahnya.

Michelle mengangguk dan segera berjalan menuju kamarnya untuk merapihkan barang-barangnya.

XXX

Lucy akhirnya membuka matanya. Dan ia melihat kesekitarnya. Ia sadar kalau ia berada diruang kesehatan.

Lucy pun bangkit duduk dan saat ia menoleh, ia melihat Natsu yang tertidur disampingnya.

'Jadi dia yang membawaku kemari..' Pikir Lucy.

Lucy memandangi wajah Natsu. Lucy teringat bagaimana dulu wajah Natsu yang sedang tertidur. Ia tersenyum.

'Dia tidak berubah..' Pikir Lucy.

Lucy pun bangkit turun dari ranjang dan mencari secarik kertas. Dan ia menuliskan sesuatu dikertas itu, lalu ia meletakkannya di ranjang disamping Natsu.

Lucy pun keluar dari ruang kesehatan menuju kekelasnya.

XXX

Natsu akhirnya membuka matanya. Ia menguap sesekali dan mengucek matanya. Ia merasa masih ngantuk sampai ia sadar kalau Lucy sudah tidak lagi diranjangnya.

"Kemana dia?" Gumam Natsu

Natsu sadar kalau ada secarik kertas diranjang itu. Ia pun membacanya.

Arigatou dan Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi.

Natsu yang membaca tulisan itu pun tersenyum. "Dasar" gumamnya.

XXX

Lucy kembali bekerja pada malam harinya menjadi cleaning service. Ia merasa bahunya sudah tidak terlalu sakit seperti tadi pagi. Ia bekerja dengan semangat sampai pada akhirnya ia sadar kalau ia sedang diperhatikan oleh seseorang.

"Kau ini rajin ya" ucap sosok pemuda yang Lucy temui kemarin.

Lucy tidak menjawab ucapan sosok itu. Lucy tetap melanjutkan pekerjaannya.

"Hoy, Loki. Kau ini bisanya menggoda seorang gadis saja" ucap seseorang yang berdiri dibelakangnya. Lucy tidak peduli dengan pemuda-pemuda itu. Ia hanya perlu menyelesaikan pekerjaaannya dengan cepat dan pulang kerumahnya.

Karena terlalu semangat atau entah kenapa, Lucy tergelincir saat ingin menaiki tangga.

"Awas!"

Dan hap!

Lucy tidak merasakan sakit sama sekali. Saat ia membuka matanya, ia melihat sosok pemuda yang menangkapnya. Sosok pemuda yang memiliki mata biru yang indah, warna rambutnya yang sama seperti Lucy. Pirang.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya pemuda itu.

"Iya, aku tidak apa-apa. A-arigatou.." Jawab Lucy.

Lucy sudah berdiri dengan posisi berhadapan dengan pemuda itu. "Lainkali hati-hati. Kau terlalu bersemangat bekerja" ucap pemuda itu.

Lucy mengangguk. "Sekali lagi terimakasih"

Lucy merundukkan tubuhnya untuk memberi hormat pada pemuda yang ada dihadapannya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

"Ayo, Sting. Kita pulang. Ayahmu sudah meneleponku" ucap pemuda yang memakai kacamata.

Sting berjalan meninggalkan Lucy yang masih sibuk dengan pekerjaannya.

"Kau mengenalnya?" Tanya pemuda yang dipanggil Sting.

"Tidak haha" jawab pemuda dengan kacamata yang dipanggil Loki itu.

Kedua pemuda itu sedang menunggu lift datang kelantai itu. Sting tidak berhenti memikirkan gadis yang ia tolong. Ia berpikir, gadis itu sangat menawan dan cantik. Dan rambutnya yang berkilauan seperti emas.

"Kau duluan saja, aku masih ada urusan" ucap Sting sambil berlari meninggalkan Loki.

"Haaah kalau sudah melihat wanita pirang, dia selalu saja bersemangat" gerutu Loki.

Dan lift pun tiba, Loki pun masuk kedalam.

XXX

"Hey" sapa Sting.

Lucy menoleh dan memandang pemuda yang ada dihadapannya dengan heran.

"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Lucy.

"Namamu. Aku ingin tahu namamu" ucap Sting.

"Untuk apa?" Tanya Lucy memandang pemuda dihadapannya dengan heran.

"Hanya ingin tahu" jawab Sting sambil tersenyum.

"Lucy" ucap Lucy.

"Hanya Lucy?" Tanya Sting untuk meyakinkan.

"Iya. Hanya Lucy." Jawab Lucy memandang pemuda dihadapannya dengan dingin.

Sting tersenyum. "Kau tidak ingin tahu namaku siapa?"

"Untuk apa?" Tanya Lucy dengan polos dan melanjutkan pekerjaannya.

Sting menaikkan satu alisnya. Sting berpikir, gadis yang dihadapannya ini sangatlah unik.

"Kita sedang berkenalan bukan?" Tanya Sting.

Lucy yang mendengar perkataan Sting pun menghentikan kesibukaannya dan menoleh kearah Sting.

"Bukannya hanya kau yang ingin tahu namaku?" Ucap Lucy sambil membereskan peralatan kebersihan.

"Hee? Baiklah..baiklah..aku menyerah" ujar Sting sambil tertawa pelan.

Lucy memandangnya dengan penuh tanda tanya.

"Baiklah, aku pamit pergi. Sampai ketemu lagi, Lucy.." Ucap Sting sambil melambaikan tangannya.

Lucy memandang kepergian Sting. Ia menatap punggung pemuda itu.

'Pemuda aneh..' Batin Lucy

XXX

Keesokkan paginya, Lucy sedang menunggu bus datang. Ia duduk dihalte dengan menggunakan earphonenya. Ia tidak menyadari sosok yang duduk disebelahnya. Lucy yang akhirnya merasa diperhatikan pun segera menoleh dan mendapati Natsu yang sedang duduk disebelahnya.

"Ohayouuuu" ujar Natsu

Lucy menatapnya sinis, dan beberapa detik kemudian, Lucy telah memalingkan wajahnya.

Natsu mencopot earphone yang dipakai oleh Lucy. Lucy sontak kaget dengan apa yang telah dilakukan Natsu. "Apa-apaan sih" ucap Lucy

"Kau sudah sembuh?" Tanya Natsu sambil memandang Lucy.

Lucy menoleh dan menatap sejenak wajah Natsu. Rasanya Lucy ingin tertawa melihat wajah Natsu yang sekarang.

"Aku tidak pernah sakit" jawab Lucy. Lucy akhirnya bangkit berdiri dan mulai berjalan. Natsu yang melihatnya segera menyusul Lucy dan berjalan sejajar dengannya.

"Tapi kenapa kau kemarin pingsan?" Tanya Natsu kembali.

"Natsu" panggil Lucy

"Ya?"

"Kau benar-benar berisik" ucap Lucy

Natsu menghentikan langkahnya dan wajahnya telah tertunduk.

"Kenapa kau bisa berubah begini, Luce?" Tanya Natsu. Lucy yang mendengar pertanyaan itu pun segera menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.

"Waktu akan membuat semua orang berubah. Bukan?" Ucap Lucy. Setelah mengatakan hal itu, Lucy pun kembali berjalan meninggalkan Natsu yang terdiam. Setelah mendengar pernyataan Lucy, Natsu pun tersenyum dan berjalan mengikuti Lucy.

"Kalau begitu, aku akan berusaha menghentikan waktu" ucap Natsu dengan asal.

Lucy hanya menghela nafasnya lalu menghembuskan kembali. "Baka"

"Atau haruskah aku berusaha mengembalikan dirimu seperti dulu?" Ucapan Natsu tersebut membuat Lucy menghentikan langkahnya dan menoleh. Lucy memandang Natsu dengan sinis.

"Walaupun kau berusaha, itu juga akan sia-sia. Karena kau..tidak tahu..apapun" ucap Lucy. Lucy membalikkan tubuhnya dan melanjutkan langkahnya kembali. Natsu terdiam. "Aku tidak tahu, karena kau tidak pernah memberitahuku apa-apa, Luce"

Lucy tersentak mendengar pernyataan Natsu. Lucy memutuskan untuk mengacuhkan ucapan Natsu dan terus berjalan. Natsu hanya memandang kepergian Lucy.

"Lucy.."

XXX

"Ohayou, Lucy" sapa Erza setelah melihat kedatangan Lucy.

"Ohayou" jawab Lucy seadanya. Lucy meletakkan tasnya dan duduk disebelah Levy yang sedang sibuk membaca novel.

"Ohayou, Levy-chan" sapa Lucy

Levy menoleh dan tersenyum, "Ah kau sudah datang. Ohayou, Lu-chan" jawabnya dengan riang.

Tiba-tiba pintu kelas terbuka dengan keras dan membuat seisi kelas menoleh.

"Levy! Kau dicariin sama pemuda dengan banyak tindikan!" Ucap salah seorang siswa dari kelas yang sama dengan Levy.

"Banyak tindikan?" Ucap Erza dan Lucy berbarengan.

Levy menutup novelnya dan membuka kacamatanya.

"Maksudmu Gajeel?" Tanya Levy dengan nada yang tenang.

Siswa itu mengangguk. "Dia benar-benar menyeramkan" siswa itu mengucapkan kalimat itu sambil bergidik. Levy hanya tertawa.

"Baiklah, dia sekarang ada dimana?" Tanya Levy

"Didepan ke-"

"Udang! Kau lama sekali keluarnya!" Tiba-tiba pemuda dengan rambut panjang hitamnya, matanya yang merah, dan juga—beberapa tindikan disana terlihat sudah berdiri didepan pintu kelas Levy sambil bertolak pinggang.

Apa reaksi Levy? Ia hanya menghela nafas. Lucy dan Erza saling memandang.

Levy pun berjalan keluar dari kelas untuk menghampiri pemuda yang bernama Gajeel itu. Setelah keluar, Levy pun menutup pintu kelasnya.

"Kenapa Levy bisa berhubungan dengan pemuda yang seperti berandalan itu" ucap Erza. Lucy hanya mengangkat bahunya dan mengambil earphonenya dan memasangkannya ke kedua telinganya. Erza memandangnya dan akhirnya menghela nafas. Erza berpikir ia diacuhkan lagi oleh Lucy—untuk kesekian kalinya.

XXX

Lucy sedang bekerja disebuah toko. Ia sedang melabelkan harga pada produk-produk yang ada di toko tersebut dengan posisi berada di bawah meja kasir, sampai pada akhirnya ada seseorang yang datang ke toko itu.

"Selamat datang, silahkan berbelanja" ucap Lucy seramah mungkin dan bangkit berdiri. Terlihat wajah terkejut dari seseorang yang datang tersebut.

"Kau!" Ujar sosok itu.

"Selamat datang" ucap Lucy kembali.

"Kau bekerja disini juga? Waaah kau semangat sekali untuk mencari uang" ucap sosok itu yang ternyata tidak lain adalah Loki.

"Kalau tidak ada uang, kita semua tidak bisa hidup, bukan?" Sahut Lucy dengan memandang sinis pemuda yang dihadapannya. Loki hanya tertawa garing.

Tiba-tiba pintu toko terbuka dan menampakkan sosok Sting yang berjalan masuk.

"Selamat datang, selamat berbelanja" ucap Lucy.

Sting menoleh saat mendengar suara itu dan terkejut.

"Ah! Lucy?! Kau Lucy kaaan?!" Ujarnya dengan antusias.

Loki menyikut lengannya, "Kau tahu namanya? Waah aku keduluan" godanya.

"Urusai!" Sahut Sting.

Sting berjalan mendekati Lucy, Lucy menatapnya dengan heran. Lucy bertanya-tanya, kenapa kedua pemuda ini bisa seheboh ini saat hanya melihat dirinya? Seorang penjaga kasir toko kecil-kecilan yang juteknya tak terampuni? Yang benar saja. Lucy akhirnya mengacuhkan kedua pemuda didepannya dan melanjutkan pekerjaannya. Sting dan Loki yang sadar kalau mereka akhirnya dicuekin, mereka pun segera mengambil beberapa barang yang mereka beli.

Saat setelah selesai mengambil, Loki dan Sting pun meletakkannya dimeja kasir. Lucy pun bertugas.

Sting mengeluarkan dompetnya dan membayarnya. Lucy memberikan uang kembalian pada Sting. Loki keluar dari toko terlebih dahulu.

"Hmm anoo..kau juga bekerja disini?" Tanya Sting hanya untuk basa-basi pada Lucy.

Lucy mengangguk.

"Nanti kau juga bekerja ditempat Ayahku?" Tanya Sting lagi.

"Tidak, hari ini aku libur" jawab Lucy seadanya.

"Oh..souka, baiklah sampai jumpa lagi, Lucy-chan" pamit Sting sambil berjalan keluar.

Lucy memutar kedua bola matanya. "Jangan memanggilku dengan embel-embel seperti itu. Baka" gumam Lucy. Lucy pun akhirnya melanjutkan pekerjaannya kembali.

XXX

"Kenapa kau bisa tahu namanya, Sting?" Tanya Loki yang berada didalam mobil yang sama dengan Sting.

"Ah, aku bertanya padanya beberapa waktu lalu" jawab Sting. Sting tidak mengalihkan pandangannya karena ia sedang menyetir.

"Kelihatannya kau tertarik dengannya" ujar Loki dengan nada meledek. Terdengarlah ledakan tawa Sting.

"Bukankah kau juga tertarik dengannya, Loki?" Ujar Sting. Loki pun tertawa pelan.

"Aku sudah ada Aries, Sting. Untukmu saja. Lagi pula kau kan suka dengan gadis berambut pirang panjang seperti gadis tadi" jawab Loki. Terlihat semburat merah dikedua pipi Sting.

"Alasannya bukan itu saja, aku melihat gadis itu sangat unik..makanya aku ingin mengenalnya" terang Sting. Loki hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.

"Aku hanya ingin bilang 'Gan-ba-tte-nee'" ucap Loki setelah itu diiringi tawanya. Sting ikut tertawa mendengarnya.

XXX

Natsu berjalan dengan santai di tengah kota. Ia memandang kesana kemari. Melihat keramaian kota. Dan tiba-tiba ia membelalakkan matanya. Ia melihat sosok yang sepertinya ia kenal.

"Michelle?" Gumamnya. Setelah itu ia berlari mengejar sosok yang terlihat seperti Michelle, adik dari Lucy. Natsu terus berlari sampai akhirnya ia dapat mencapai bahu gadis itu dan membuat gadis itu menoleh.

Dan ternyata benar, gadis itu adalah Michelle.

"Natsu-san?"

"Michelle?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued


Okeee chapter ketiga pun selesai. Bagaimana menurut para readers? membosankan? hmm sepertinya begitu sih. Dan apakah banyak typo dichapter ini? Gomenasaaaiii-_- Mungkin chapter depan akan lebih seru dan lebih baik dari ini. Mohon saran dan kritiknya yaa XD

Ohiya apa para readers udah baca manganya FT chapter 382? ITU BUAT AUTHORR MAKIN PENASARAN! KENAPA LUCY BISA LOLOS DARI ALEGRIA? KALIAN PENASARAN JUGA GAK SEPERTI AUTHOR? AAAAAAKKKK XO

Yaudah deeeeh gitu aja, Please give me some review for this chapter. Ya ya ya? XD

Dan ini balasan untuk review yang kemarin~

zuryuteki : Hehe Arigatouuuu, syukurlah kalau bagus :D kenapa dengan Lucy? mungkin pertanyaannya Yu-chan bakal kejawab dichapter depan. jadi tolong ditunggu yaaa~~

TheZarkMon : Ini termasuk update kilat gak? hahaha XD

ft-fairytail : Masih penasaran gak ama kelanjutan chapter ini? menurutmu bagaimana chapter ini? makasih udah review XD

Fi-chan nalupi : Bingung ya sama Lucy, author juga bingung ama Lucynya (?) Hmm jawaban pertanyaannya ditunda sampai chapter depan update yaa hehehe XD

juanda_blepotan : Okelah kalau begitu. Terimakasih untuk reviewnya XD

RyuuKazekawa : Bisa jadi sih. Nah tebakannya bisa diliat bener apa gak dichapter depan..yuhuu XD Makasih udah review, ini sudah update loh, bagaimana? XD

cianifelicia_muliani : Ini udah lanjuttt, masih penasaran? XD

Wu : Iya dong udah update XD

Oke deh, Author pamit undur diri yaaa, jangan lupa buat reviewnya ya~~~

Arigatou Gozaimasuuuuu XD

Jaa nee

Yusa-kun