"Natsu-san?"
"Michelle?"
Michelle tersenyum dan merundukkan tubuhnya. "Hisashiburi, Natsu-san" ucapnya dengan suaranya yang lembut.
Fairy Tail © Hiro Mashima
A Fairy Tail Fanfiction
Between Us
By Yusa-kun
Warning : AU, Typo(s), OOC.
.
.
.
.
.
"Yo" sapa Natsu. Natsu memandang heran koper yang dibawa oleh Michelle.
Natsu memperhatikan gadis yang ada dihadapannya ini. Adik dari Lucy yang sudah tumbuh remaja. Cantik. Warna rambutnya masih tetap sama. Dark-blonde. Dan saat memperhatikan, Natsu merasa janggal, kenapa Michelle bisa-bisanya membawa koper sebesar itu?
"Loh? Kau mau kemana? Pake segala bawa-bawa koper besar itu" tanya Natsu sambil menunjuk koper besar berwarna peach.
Michelle tertawa. "Ah ceritanya panjang.."
Natsu berpikir ia akan bisa tahu tentang apa yang terjadi dengan Lucy. Dan alasan kenapa Lucy bisa sangat berubah.
"Kalau begitu, kenapa kita tidak mampir dulu di kafe yang ada disana?" Ajak Natsu sambil menunjuk kederetan kafe diseberang jalan. Untuk sejenak Michelle berpikir dan sedetik kemudian, Michelle pun mengangguk.
XXX
"Jadi kau mau kemana?" Tanya Natsu setelah menyesap minuman yang ada didepannya.
Michelle tersenyum. "Aku ingin bertemu dengan Nee-chan dan ibu" jawabnya.
Natsu memiringkan kepalanya. "Bukannya kalian tinggal bersama?" Tanya Natsu memandang heran gadis yang duduk dihadapannya.
Michelle segera menutup mulutnya dan terdengar ucapan "Ups" dari bibirnya.
"Ada apa?" Tanya Natsu kembali.
"Ti—tidak apa-apa hehe" jawab Michelle yang kelihatannya panik.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Michelle" ucap Natsu dengan nada yang serius.
Michelle menghembuskan nafasnya dan menatap dalam Natsu.
"Sepertinya kau sudah bertemu dengan Nee-chan ya, Natsu-san?" Tanya Michelle. Natsu mengangguk. "Tetapi dia berubah.." Ungkap Natsu.
Michelle menundukkan wajahnya.
"Aku sudah tidak tinggal bersama dengan ibu dan Lucy-neechan" ungkap Michelle tiba-tiba membuat Natsu terkejut.
"Ap-apa maksudmu?!" Tanya Natsu
"Ibu dan ayahku bercerai tiga tahun lalu, Natsu-san" ungkap Michelle.
XXX
Lucy masuk kedalam rumahnya dan meletakkan sepatunya kedalam rak yang ada didepan pintu.
"Tadaima.." Ucapnya.
"Okaeri.." Jawab ibunya yang berada diruang tengah yang sedang menonton televisi. Lucy berjalan menuju kamarnya sampai terdengar suara ibunya.
"Kau sudah pulang ternyata. Sudah makan malam? Kalau belum ibu akan buatkan sekarang" ucap ibunya yang tidak lain adalah Layla.
"Aku sudah makan tadi" sahutnya.
Lucy segera masuk kedalam kamar. Ia menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Ia bersandar di pintu sejenak dan menghembuskan nafasnya. Setelah begitu, ia melemparkan tas ranselnya dan membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya. Ia memejamkan kedua matanya, lalu membukanya kembali. Pikirannya menerawang. Banyak hal yang ia pikirkan hingga membuat matanya terasa berat untuk tetap terbuka.
Lucy bangkit duduk dan berjalan kekamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum dirinya terlelap.
XXX
Natsu dan Michelle masih berada didalam Cafe. Mereka duduk berhadapan. Dan sekarang, Natsu sedang terkejut akan kenyataan yang diucapkan oleh Michelle.
"Ap-apa maksudmu?!" Tanya Natsu
"Ibu dan ayahku bercerai tiga tahun lalu, Natsu-san" ucap Michelle lagi.
"Ke—kenapa itu..bisa terjadi—hmm maksudku—" ucapan Natsu terpotong karena Michelle telah memotongnya.
"Aku pun tidak tahu alasannya. Tapi..tapi.." Michelle tidak melanjutkan kalimatnya.
"Jadi itu yang membuat Lucy berubah?" Tanya Natsu.
Michelle terdiam.
"Mungkin" sahut Michelle sambil menoleh keluar jendela dan mengingat kejadian tiga tahun lalu.
"Aku akan menceritakan padamu, berhubung kau adalah teman dekat Nee-chan" terang Michelle.
"Apa tidak apa-apa? Itu adalah rahasia keluarga besarmu bukan?" ucap Natsu. Michelle menggeleng, "Tidak apa-apa".
"Baiklah kalau begitu.." ujar Natsu.
Natsu membenarkan duduknya dan menyimak apa yang diceritakan oleh Michelle.
Flashback on.
"Ibu, aku sudah tidak melihat ayah beberapa hari ini, kemana dia?" Tanya Lucy sambil melahap makanan yang ada didepannya.
"Ah itu..." Belum sempat Layla menyelesaikan kalimatnya ia sudah mendengar pintu depan terbuka dan menampakkan suaminya yang tidak lain adalah Jude Heartfilia.
"Ayah" ujar Lucy dan Michelle bersamaan.
Michelle berlari dan memeluk ayahnya. Michelle memang terlihat dekat dengan ayahnya. Tetapi bagaimana reaksi ayahnya ketika dipeluk oleh Michelle?
"Michelle, minggir lah. Aku benar-benar lelah" ucap sang ayah, membuat putri kecilnya tercengang, begitu pula dengan Layla dan Lucy.
"Sini, Michelle sama Nee-chan saja" panggil Lucy. Michelle berlari menghampiri Lucy dan menangis. Layla melihat putrinya menangis pun tidak tega, Layla memandang Lucy dan menyuruhnya masuk kedalam kamar. Lucy mengangguk.
Lucy dan Michelle sudah berada dikamar. Ia bisa mendengar keributan yang ada diluar kamarnya. Terdengar pula sebuah pukulan dan hantaman yang begitu keras. Michelle menangis. Lucy pun menjadi cemas akan keadaan kedua orang tuanya.
"Michelle, diam disini. Aku ingin melihat Ibu dan Ayah dibawah. Kau mengerti" ucap Lucy setelah itu keluar dari kamarnya tanpa menunggu jawaban adiknya.
Dengan memberanikan diri, Lucy keluar dari kamar dan turun kebawah untuk melihat keadaan.
"Kau tahu! Aku sudah tidak tahan lagi hidup denganmu!" Terdengar suara yang mengglegar dari Jude.
"Aku pun begitu!" Lucy melihat Ibunya sudah terjatuh dengan posisi duduk didekat meja makan. Suara ibunya terdengar bergetar. Lucy pun menutup mulutnya dengan satu tangannya, dan tangan lainnya ia kepalkan. Ia mengumpulkan beberapa keberanian untuk melerai orangtuanya.
Diam-diam, Michelle keluar dari kamar dan turun untuk melihat keadaan. Ia khawatir dengan semuanya terutama dengan Lucy, yang tidak kembali kekamarnya.
"Dasar wanita tidak tahu diri!" Ujar ayahnya dengan suara yang besar. Jude meraih kursi makan dan mengangkatnya untuk dilemparkan ke Layla. Lucy dan Michelle melihat itu pun terkejut.
"Ibu, awasssss!" Lucy berlari menghampiri ibunya, ia berniat melindungi ibunya. Dan tepat sekali, saat kursi itu dilayangkan, Lucy telah berada didepan ibunya dan terkena kursi itu..
Michelle pun menangis. "Neee-chaaaannnn!"
Lucy sempat tersenyum sebelum ia kehilangan kesadaran. Ia jatuh pingsan dipangkuan ibunya.
"Lu—cy?" Gumam ayahnya. Dengan segera ia berjongkok dan melihat keadaan putrinya.
"Lucy? Lucy? Lucy bangun Lucy..aku mohon..Lucy.." Panggil Layla dengan suara bergetar dan ia pun telah mengeluarkan airmatanya. Begitupun dengan Michelle.
"Ayo kita bawa dia kerumah sakit" ujar Jude sambil menggendong Lucy.
Layla merangkul Michelle dan mengikuti Jude masuk kedalam mobil.
Flash back off.
"Ja-jadi? Lucy.."
Michelle mengangguk. "Bahunya, mengalami cedera yang begitu parah sehingga membuat aktivitasnya terbatasi" ungkap Michelle.
Natsu masih shock dengan apa yang diceritakan oleh Michelle dan juga apa yang terjadi dengan Lucy.
"Dia pun berhenti untuk menari dan bermain basket sejak kejadian itu. Dan sejak itu, Ibu meminta cerai dari Ayah" tambah Michelle.
"Jadi Lucy tinggal bersama Layla-san, dan kau tinggal bersama dengan Jude-san?" Tanya Natsu diiringi anggukan oleh Michelle.
Natsu menyatukan kepingan-kepingan yang telah terkumpul. Kini ia tahu alasan kenapa Lucy berubah.
"Sejak itu, saat aku bertemu dengan Nee-chan, Ia tidak lagi seceria dulu, wajahnya tidak menampilkan ekspresi apapun, ia begitu dingin sekarang, Natsu-san" ucap Michelle.
Natsu tertunduk. "Aku tahu.."
"Ah ya, aku ingat!" Ucap Michelle dengan tiba-tiba membuat Natsu tersentak kaget. Michelle sibuk mencari sesuatu dari dalam tas kecilnya. Dan setelah ketemu, ia menunjukkannya pada Natsu.
"Jam tangan?" Ucap Natsu.
"Loh Natsu-san, tidak ingat? Ini jam tangan yang dibelikan ayahku, jam milikmu dan Nee-chan itu sama" terang Michelle.
Natsu meraih jam tangan itu dan mengamatinya. Dan ia teringat.
Flashback on
"Nah, ayah membawakan oleh-oleh buat kalian. Begitu juga buat Natsu" ujar Jude sambil membuka bagpack yang ia bawa.
Jude mengeluarkan sebuah topi untuk Michelle. Michelle begitu senang mendapatkannya. Lalu ia mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam.
"Apa itu, ayah?" Tanya Lucy.
Jude menyodorkan kotak itu kepada Lucy. "Itu untukmu dan Natsu"
Natsu dan Lucy berpandangan dan membuka kotak itu. Dan ternyata didalamnya adalah sebuah jam tangan dengan model yang sama.
"Uwaaaaaah.." Ujar Natsu.
"Nah, jam yang ukuran agak besar itu untukmu, Natsu. Sedangkan jam yang ukuran lebih kecil itu untuk Lucy" terang Jude.
Lucy dan Natsu masing-masing mengambil jam tangannya dan segera memakainya.
"Ne nee, bagaimana? Bagus tidak?" Tanya Lucy dengan antusias dambil memamerkan jam tangannya pada ibunya, adiknya dan juga ayahnya. Natsu pun tidak kalah antusias. Mereka pun berterimakasih pada Jude.
Lucy memandang jam tangannya dan menoleh pada Natsu. Ia melihat Natsu yang terlihat sangat gembira mendapatkan jam tangan itu. Lucy tersenyum.
Flashback off
Natsu tersentak. "Aku ingat, jam tangan ini kan milikku. Kenapa ada—"
"Waktu itu kau meletakkannya disembarang tempat saat berada dirumahku, Jadi Nee-chan yang menyimpannya." jawab Michelle.
Natsu memandang jam tangan itu dan tersenyum. "Lucy menyimpannya?"
Michelle mengangguk. "Sebenarnya ia ingin mengembalikan padamu, tetapi entah kenapa ia tidak mengembalikannya dan meninggalkannya di rumah lama kami" jelas Michelle.
"Aku boleh memiliki ini kembali, bukan?" Tanya Natsu. Michelle pun mengangguk. "Tentu saja!"
"Nee-chan juga masih menyimpan miliknya" ungkap Michelle.
"Be—benarkah?" Tanya Natsu. Michelle mengangguk kembali, "Ia juga masih sering memakainya beberapa tahun yang lalu" tambah Michelle.
"Oh, souka..." Gumam Natsu. Natsu memakai jam tangan itu dan tersenyum.
XXX
Pagi hari pun menjelang. Lucy membuka kedua matanya dan menguceknya beberapa kali. Ia bangkit duduk dan meregangkan otot-otot tubuhnya. Setelah melakukan itu, Lucy segera meraih handuk dan masuk kedalam kamar mandi. Ia harus segera bersiap-siap untuk berangkat kesekolah.
Setelah selesai mandi, Lucy memakai seragamnya dan mengeringkan rambutnya yang basah.
"Lucy, sarapan sudah siap" ujar ibunya dari luar kamarnya.
Lucy mengikat rambutnya dengan model twintail dengan sebuah pita berwarna merah. Setelah selesai, ia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju meja makan.
"Ibu aku makan roti sa—" betapa terkejutnya Lucy saat melihat sosok yang sedang duduk dimeja makan dan tersenyum kepadanya.
Lucy menutup mulutnya dengan satu tangannya. Matanya terbelalak.
"Michelle.."
Michelle hanya tersenyum. "Hisashiburi nee, Lucy-neechan"
Lucy benar-benar terkejut melihat adiknya ada dihadapannya. Dengan segera ia menutupi keterkejutannya dan duduk didapan Michelle.
"Ada apa kau kesini? Kau tidak sekolah?" Tanya Lucy sambil mengambil selembar roti dan mengoleskan selai strawberry diroti itu.
"Aku ingin menjenguk kau dan ibu. Sekolah ya? Hmm aku niat untuk pindah sekolah" jawab Michelle sambil menyuap makanan yang ada dihadapannya.
"Apa maksudmu dengan pindah? Bukankah sebentar lagi kau akan melaksanakan ujian?" Tanya Lucy sambil melahap roti yang ia pegang.
"Aku ingin bersekolah didekat sekolahmu" jawab Michelle dengan santai.
"Terserah saja" sahut Lucy sambil meminum susunya lalu meraih tasnya.
"Ittekimasu" pamit Lucy.
"Ah ya, itterasaii" jawab ibunya. Michelle hanya tertunduk. "Itterasai" gumamnya.
XXX
Lucy sedang berjalan dikoridor sekolahnya menuju kelasnya dari arah kantin. Ia bisa mendengar bisikan-bisikan dari murid-murid yang ada didepan kelas mereka.
"Itu Lucy kan? Yang jutek itu?
"Sombong sekali, mentang-mentang ia siswa paling pintar disini"
"Iya, dia benar-benar tidak bisa bersosialisasi"
Lucy menghela nafas dan memasangkan earphonenya. Ia tidak mau mendengar apapun dan memang Lucy tidak terlalu peduli akan hal itu. Lucy berjalan sambil tertunduk dan saat itu pula...
Bruuk!
"Ah bajuku" Lucy menoleh dan mendapati seorang gadis didepannya dan kedua temannya disebelahnya menatap horror ke pakaian gadis yang berada ditengah-tengah.
"Gomen" ucap Lucy.
Lucy kembali melanjutkan perjalanan tanpa mempedulikan gadis yang ketumpahan saus dipakaiannya. Lucy berpikir, itu bukan salahnya. Saus itu berasal dari makanan yang gadis itu pegang.
"Heeey!" ujar gadis yang dibelakang.
Lucy masih tidak menoleh, ia tetap berjalan seperti biasa.
Beberapa detik kemudian, tangan Lucy ditarik dari belakang sehingga membuat Lucy menghadap kebelakang dan berhadapan dengan gadis yang tertabrak olehnya.
Lucy menatapnya dengan dingin, "Ada apa?"
"Kau! Kau harusnya bertanggung jawab. Kau lihat! Pakaianku kotor seperti ini karena mu!" omel gadis itu.
Lucy tersenyum sinis dan mencopot earphonenya. "Dengar ya, Ojou-chan. Aku tadi sudah meminta maaf padamu karena telah menabrakmu, tapi pakaianmu kotor itu bukan gara-gara diriku, tapi karena roti isi daging yang kau pegang tadi" terang Lucy sambil menunjuk kearah pakaian gadis itu.
Gadis itu terdiam dan mengepalkan tangannya.
"Benarkan? Apa yang aku katakan ada yang salah?" tambah Lucy sambil tersenyum meremehkan.
Ketiga gadis itu makin geram pada Lucy. Salah satu gadis itu berusaha untuk menampar Lucy, tetapi tertahan.
"Hahaha kenapa? Kau mau memukulku?" tantang Lucy.
"Kauuu! Dasar wanita jalang! Kurang ajar!" ujar gadis yang pakaiannya kotor sambil mendorong Lucy kebelakang. Lucy hanya mundur selangkah.
Natsu, Gray, dan Gajeel yang berjalan kembali dari kantin pun heran melihat kerumunan didepannya.
"Hey, ada rame-rame apa ini" ucapnya.
Gray hanya mengangkat bahu. Natsu pun berjalan untuk melihatnya. Dan matanya membelalak saat melihat Lucy..
"Kita bisa diskors kalau melakukan keributan disini, baka onna" ucap Lucy dengan dingin. Terdengar seruan dari para siswa lainnya. Kerah kemeja Lucy pun sudah digenggam oleh gadis yang ada dihadapannya.
"Aku tidak takut, justru seharusnya kau yang takut, karena kau ini kan siswa kebanggaan sekolah ini, ya kan?" ucap gadis itu.
Lucy tertawa keras hingga membuat heran para siswa yang lainnya, termasuk Natsu.
"Kalaupun karena masalah ini aku dikeluarkan dari sekolah ini, aku tidak takut" jawab Lucy.
Natsu mengepalkan tangannya dan berjalan menghampiri sumber keributan, berniat untuk melerainya. "Sudah cukup" ucapnya.
Lucy dan para gadis-gadis itu pun menoleh kearah Natsu.
"Natsu-san" ucap gadis itu sambil menurunkan tangannya yang mencengkram kerah kemeja Lucy. Lucy membereskan seragamnya dan berjalan meninggalkan tempat kejadian tanpa berbicara apapun.
Natsu memandang kepergian Lucy.
"Cih, dasar wanita jalang!" rutuk gadis itu. Natsu pun menoleh dan mencolek gadis itu.
"Jangan sebut Lucy seperti itu, kalau kau tidak mau berurusan denganku. Oke" ancam Natsu, kemudian meninggalkan tempat untuk menyusul Lucy.
Gray dan Gajeel saling memandang.
"Ada apa dengannya? Tumben sekali ia bisa seseram itu pada seorang gadis" ucap Gajeel
"Entahlah, pasti ada sesuatu.." jawab Gray.
"Sesuatu banget" tambah Gajeel
XXX
Lucy duduk bosan dikelasnya. Ia berpikir kapan bel masuk akan berbunyi. Ia benar-benar ingin pulang dari sekolah.
Sreeek
"Luce" Lucy menoleh dan mendapati Natsu yang berjalan kearahnya. Lucy menghela nafas dan bangkit berdiri. Lucy mulai berjalan untuk meninggalkan kelas, tetapi ditahan oleh Natsu. Erza dan Levy memperhatikannya.
"Kau mau kemana?" tanya Natsu
"Haruskah aku beritahu dirimu?" jawab Lucy sambil memandang dingin Lucy.
"Oh demi Mavis, Aku sudah kesini dan kau ingin keluar? Keterlaluan, Luce. Dan mana ucapan terima kasihmu karena aku telah menolongmu dari keributan disana tadi?" terang Natsu
Mendengar kalau Lucy terlibat dalam keributan pun Erza bangkit berdiri dan menghampirinya.
"Kau ribut dengan siapa, Lucy? Ada yang macam-macam denganmu?" tanya Erza
Lucy menoleh, "Hanya cewek-cewek yang merepotkan" jawabnya sambil berjalan meninggalkan Erza dan Natsu. Setelah beberapa langkah, tangan Lucy digenggam Natsu.
"Ucapkan terima kasih padaku!" desak Natsu
"Aku tidak meminta bantuanmu tadi, untuk apa aku ucapkan terima kasih padamu" jawab Lucy, datar. Cengkraman Natsu makin kencang, Lucy masih diam dan memandangi Natsu dengan dingin, tangannya pun sudah mulai memerah.
"Aku bertemu Michelle kemarin" ucap Natsu dengan tiba-tiba. Lucy terkejut.
Lucy segera menutupi keterkejutannya, "Benarkah? Lalu?"
"Dia sudah menceritakan semuanya" jawab Natsu. Lagi-lagi Lucy terkejut, ia mengepalkan tangannya dan menyeret Natsu keluar dari kelas menuju keatap sekolah. Sesampainya diatap sekolah, mereka berdiri berhadapan.
"Sampai mana?" tanya Lucy
"Sampai mana apanya?" jawab Natsu dengan memandang Lucy heran.
"Cerita Michelle"
"Orang tuamu bercerai, kau berhenti menari dan juga bermain basket, dan bahumu cedera parah" jawab Natsu dengan santai.
"Ap-Apa!" teriak Lucy
Natsu hanya senyam-senyum sendiri. Lucy kembali mengontrol dirinya dan bersandar di dinding. "Lalu kau mau apa setelah mengetahui itu semua?" tanya Lucy
Natsu ikut bersandar disamping Lucy.
"Itukah alasan kau bisa berubah seperti ini, Luce?" tanya Natsu dengan lembut. Lucy menoleh dan kembali memandang kedepan. "Entahlah.."
Natsu menoleh dan memandang Lucy. "Kau merasa sedih?" tanya Natsu. Natsu merutuki dirinya sendiri yang sudah bertanya pertanyaan konyol seperti itu.
"Entahlah" jawab Lucy kembali. Natsu mengangkat sebelah alisnya, ia heran dengan Lucy.
Angin berhembus pelan membuat rambut Lucy yang diikat bergaya twintail itu melambai indah, Natsu memandang gadis disebelahnya dengan prihatin dan juga khawatir. Lucy mulai berjalan meninggalkan Natsu tanpa mengatakan apapun.
"Aku akan membuatmu merasakannya lagi" ujar Natsu tiba-tiba. Lucy pun berhenti melangkah, ia tidak menoleh sedikit pun kebelakang, dimana ada Natsu disana.
Natsu melangkah pelan menghampiri Lucy, "Aku janji akan membuat mu merasakan kebahagiaan"
"Kesedihan" tambah Natsu yang masih terus melangkah pelan.
"Kekecewaan" Natsu mulai mendekat pada Lucy. Lucy masih terdiam dengan tangan terkepal.
"Kemarahan" Natsu masih tetap berbicara saat melangkahkan kakinya untuk mendekati Lucy.
"Kehangatan"
"Kasih sayang"
"Dan juga cinta.." Natsu berdiri tepat dibelakang Lucy, saat itu juga angin berhembus pelan. Lucy menoleh dan sontak kaget saat melihat Natsu sudah berada dihadapannya. Natsu sudah tersenyum padanya, Natsu berdiri dengan memasukkan kedua tangannya ke saku celananya. Lucy hanya memandangnya tanpa ekspresi, diam-diam ia menelusuri dan mencari sebuah kebohongan diwajah dan ekspresi Natsu. Tapi.. ia tidak menemukannya. Yang ia temukan hanyalah.. kepercayaan diri Natsu.
Lucy membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Natsu dibelakang yang terdiam. Natsu hanya tersenyum.
"Kau percaya padaku, kan Luce?" gumam Natsu.
Natsu menatap langit yang cerah dan luas. Dan masih dengan senyum terpampang diwajahnya.
Lucy berdiri dibelakang pintu atap sekolah, senyum tipis terukir diwajah cantiknya. Ia bertanya-tanya, apakah hari-harinya akan berubah setelah hari ini, setelah bertemu dengan Natsu lagi?
'Baiklah, buktikan padaku, Natsu' batin Lucy.
Sekali lagi—sekali lagi ia ingin sekali percaya pada perkataan dan janji sahabatnya sekaligus cinta pertamanya, Natsu Dragneel.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
Akhirnya selesai juga chapter 4, haha gomenne author baru bisa update minggu ini, karena minggu kemarin sibuk pake banget hufffffftttt XD ya maklum saja author masih SMP haha XD
So, bagaimana dengan chapter ini? bagaimana ya usaha Natsuu biar ngebuat Lucy jadi baik lagi? hoho XD kalian penasaran gak ? Tolong direview ya para readers yang baik hati~ XD
Ohiya aku mau jelasin tentang cedera yang dialamin Lucy. Jadi begini, Gara-gara "peristiwa" yang melibatkan ayah dan ibu Lucy, dan akhirnya Lucy membela ibunya dan terkena "akibatnya", bahu Lucy jadi cedera. dan Michelle bilang kalo aktivitas Lucy jadi dibatasi? nah dicerita ini Lucy itu suka nari dan main basket dulu, setelah mengalami cedera, aktivitas itu dilarang buat dilakuin. dan selengkap cerita Lucy menari dan bermain basket mungkin akan dijelaskan dichapter-chapter nantinya~~~
Hmm cedera yang dialami Lucy didalam ceritaku ini sebenernya pernah dialamin ama kakak author sendiri. Karena sebuah kecelakaan, bahu kakak author sampai sekarang masih cedera dan selalu check-up kedokter untuk melihat perkembangannya. Jadi intinya sih author ngambil cedera yang Lucy alamin itu dari cedera kakak author sendiri, heheh XD Tapi tenang aja, kehidupan dan sikap mereka bener-bener beda kok, kalo kakak author mah, mau cedera kek kagak kek tetep aja ceria, dia kan gilak XD *digampar bolak-balik ama kakak*
Baiklah, udah dulu ah curhatnya. jadi langsung aja deh.. ini balesan buat review chapter sebelumnya~
zuryuteki : Hehe makasi Yucchan! XD AAAAAKKKK udah baca manga FT yang 384 kaaaan? dan itu ngenes bgt! Aquariusnyaaaa, kuncinya ancurrrr! dan bakalan seru banget nih untuk chapter depan. Spirit king vs Hades...hmm WAAAWWW! *lebay* #plak dan berharap-harap cemas semoga Aquariusnya gak beneran ngilang gara-gara kuncinya hancur :"( ah baiklah kenapa jadi curhat gini-_- gomen... oke Yucchan tunggu kelanjutan chapter selanjtnya yaa! XD
kanzo kusuri : Hehe gomen baru bisa update XD makasih banget loh udah nungguin, jadi tersanjung XD Nah, ini udah update loh, bagaimana? XD
LRCN : Masih penasaran gak? kalo iya, terus baca yaaa dan jangan lupa reviewnya hehehe XD
Cheddy : Hehehe makasih! Hmm berapa chapter ya...belum tahu sih, mungkin lebih dari sepuluh chapter, tapi gak tau juga hahaha ini udah lanjut loh, silahkan dibaca yaaa~~~ XD
TheZarkMon : Nah pertanyaannya udah kejawab kan dari ceritanya Michelle diatas hoho XD dan buat Sting dan Natsu, hmm bisa jadi mereka memperebutkan Lucy lagi. Tapi bakalan ada kejutan ditengah-tengahnya. Jadi tunggu aja ya~~~~ XD
Fi-chan nalupi : Gomen baru sempet update XC Hahaha Sting lagi...Sting lagi... author juga bingung nih nyari saingan Natsu buat memperebutkan Lucy, tadinya mau Gray, tapi entah kenapa gak tega sama Juvia-chan~~~ dan berhubung Sting ganteng, yaudah deh Sting aje deh XD Betullll bangeeeetttt nyesek liatnya! tapi dichapter 384 kemarin, Lucy udah melancarkan serangan tuh buat nyelamatin semua orang yuhuuuu~~~ XD ini udah lanjut looh, silahkaaan~ bagaimana menurutmu chapter ini? XD
RyuuKazekawa : Hahaha biar rame tambahin Sting aje didalem cerita wakakakak XD Nah pertanyaannya udah kejawab dooong, yakan yakaaaannnn? XD
Mercury Heartfilia : Hihi ini udah lanjut looooh XD masih penasaran gak? pertanyaannya udah kejawab tuh~~ XD
monkey D nico : Sting? antagonis? Hmm kayanya sih enggak hehehe XD
ft-fairytail : Hehe makasih udah suka ama cerita ini ;D
Nah, bocoran buat kalian nih, karena author udah molor seminggu buat update~~
Jadi kan kemaren ada Sting nongol tuh, Sting itu bukanlah tokoh antagonis dicerita ini. kan kalo di cerita ku yang sebelumnya dengan judul Three Heart for One Love, Sting kerjaannya cemburu mulu, marah-marah mulu, ya bisa disebut antagonis juga gitu ya~~ nah bedanya disini, Sting BUKAN ANTAGONIS! dan nanti setelah ada beberapa chapter yang update, aku bakalan masukin kejutan buat kalian semua tentang percintaan Natsu, Lucy, Sting, dan juga ada tokoh baru yang masuk dalam cerita ini, syalalala XD
tapi mungkin bukan kejutan banget sih haha, yauds deh ya gitu aja, author banyak banget bacot daritadi hahaha XD
Author pamit undur diri dulu ya~~ jangan lupa ditunggu kelanjutannya dan jangan lupa direview
Jaa nee~
Yusa-kun XD
