Fairy Tail © Hiro Mashima
A Fairy Tail Fanfiction
Between Us
By Yusa-kun
Warning : AU, Typo(s), OOC.
.
.
.
.
.
Lucy sedang membaca novel dikamarnya. Ia mempunyai waktu luang karena ia hari ini memutuskan untuk tidak bekerja sepulang sekolah. Perasaannya masih bercampur aduk hari ini. Mulai dari pagi hari yang dikejutkan dengan kedatangan Michelle yang tiba-tiba dan berbicara ingin pindah sekolah dekat dengannya, lalu berita Natsu yang sudah mendengar cerita dari Michelle, dan juga..pernyataan Natsu tentang ia akan membuat Lucy merasakan kembali rasa-rasa yang hilang sejak saat itu.
Beberapa kali ia menghela nafas jika ia mengingat perkataan Natsu. Entahlah, ia berpikir kalau Natsu benar-benar baik. Terlalu baik untuk seorang Lucy yang dijuluki gadis emotionless. Lucy akui, saat melihat Natsu, ia begitu senang. Tapi entah sejak kapan, ia benar-benar sudah menyerah akan perasaannya pada Natsu. Lucy membuka matanya, ia menyadari kalau Natsu hanya menganggapnya sahabat, tak lebih.
Tok tok!
"Lucy-Neee..."
Lucy menutup novelnya dan menghembuskan nafasnya. Ia tahu ini akan terjadi, sejak kedatangan Michelle dan pertemuannya dengan Natsu. Hidup Lucy akan berubah. Ya berubah.
Lucy mulai melangkahkan kakinya untuk membuka pintu kamarnya dan menyambut adiknya. Saat membuka pintu, ia melihat Michelle yang sudah tersenyum manis padanya. Dan lagi-lagi, Lucy hanya memasang wajah tanpa ekspresi. Datar.
"Ada apa?" tanya Lucy, terlintas nada dingin didalamnya.
"Apa aku boleh masuk?" ucap Michelle. Lucy berpikir sejenak dan mengangguk. "Silahkan.."
Michelle masuk dan mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, Lucy menutup pintunya dan berjalan menuju tempat tidurnya dan duduk disana.
"Jadi?" tanya Lucy membuat Michelle menoleh.
"Ah, aku hanya ingin mengobrol denganmu, Nee-chan. Wajahmu tidak usah seserius itu hehe" ucap Michelle sambil menarik kursi untuk duduk.
Lucy memutar bola matanya. 'Konyol' pikirnya.
Lucy memandang adiknya yang sedang bersenandung pelan, tidak dipungkiri ia senang bisa melihat adik kecilnya yang lucu, sekarang sudah tumbuh remaja dan ia sangat cantik dengan rambut panjangnya yang ikal dan mata birunya yang indah.
"Kemarin, kau bertemu dengan Natsu?" tanya Lucy memecah keheningan. Michelle langsung menoleh dan mengangguk. "Apa Natsu-san menceritakannya?"
Lucy mengangguk. "Kau menceritakan semua padanya kan?" tanya Lucy dengan dingin. Michelle berubah menjadi pucat dan tertunduk sedih. Ia tidak menjawabnya.
"Aku tidak suka kau mengumbar-umbar rahasia keluarga kita, dan menceritakan cedera yang aku alami pada orang lain, seperti Natsu. Apa kau ingin aku dikasihani oleh Natsu?" ucap Lucy dengan suara yang datar, tidak meninggi dan juga merendah.
"Bu—bukan begitu, aku pikir Natsu-san bukanlah orang lain" jawab Michelle dengan suara yang pelan dan lembut.
"Kalau dia bukan orang lain, lalu dia siapa? Temanmu? Temanku? Keluarga ku? Atau keluargamu?" Lucy bersandar ditempat tidurnya dan menatap Michelle dengan dingin.
"Nee-chan. Natsu-san itu adalah teman kita, sahabat kita. Dan kenapa kau berbicara tentang 'keluargaku' dan 'keluargamu'? kita masih satu keluarga bukan?" jawab Michelle yang sudah bangkit berdiri dan menghampiri Lucy.
"Itu dulu, bukan?" Lucy memandang keluar jendela.
Michelle mengepalkan tangannya. Ia berpikir, kakaknya benar-benar sudah keterlaluan. Michelle tidaklah kesal pada Lucy, tapi ia makin sedih melihat kondisi kakaknya yang sepertinya tidak memiliki perasaan. Ia begitu dingin.
"Aku tidak akan mengatakan apapun lagi padamu. Aku pikir kau akan bertanya aku disini untuk apa. Tapi kenyataannya tidak.." Michelle mengambil jeda sebentar lalu melanjutkan kalimatnya kembali.
"Aku kesini karena aku merindukan kalian. Dan Ayah juga khawatir dengan kondisimu setelah 'kejadian' itu. Ayah menyarankan, jika bahumu semakin sakit, kau bisa melakukan perawatan yang intensif. dan ayah yang membiayainya" lanjut Michelle. Lucy menoleh.
"Bahuku sudah tidak apa-apa. Bilang pada ayahmu, bukan—pada ayah kita. Aku baik-baik saja tanpa dia. Kalau pun aku harus mengikuti perawatan, Aku bisa membiayai perawatan bahuku dengan jerih payahku sendiri" jawab Lucy.
Michelle mengangguk dan tersenyum. "Satu yang tidak berubah darimu, Nee-chan. Kau masih tetap saja keras kepala. Aku senang walaupun terkadang sifat keras kepalamu membuatku jengkel haha"
Lucy menghela nafas, "Urusaiii" ucapnya dengan pelan.
Michelle hanya tersenyum. "Baiklah, aku kembali kekamarku ya. Oyasumi, Nee-chan"
"Oyasumi" jawab Lucy.
Michelle pun keluar dari kamar Lucy.
Lucy mengambil bantal dan menutupi wajahnya. Ia sedikit menyesal telah berbicara kasar dengan adiknya yang manis itu. Lucy memeluk bantalnya dan memikirkan apakah ia harus berubah? Apakah dengan dia berubah semua keadaan berubah? Akankah dia bisa merasakan kebahagiaan yang dulu? Apakah ia bisa membuat keluarganya utuh kembali? Jawabannya adalah tidak. Lucy sudah men-cap dirinya tidak bisa berubah lagi. Ia benar-benar stuck disini. Ia berpikir, kenapa seorang seperti Natsu bisa berpikir bisa merubah Lucy kembali? Apa ia sudah gila? Diluar itu semua, disisi lain Lucy telah men-cap dirinya yang tidak bisa berubah, disisi satunya, ia sedikit percaya pada kepercayaan diri yang dimiliki Natsu. Lucy memejamkan matanya, ia berusaha untuk terlelap. Tetapi ia tidak bisa.
'Sial, aku terjebak dalam pikiranku sendiri' pikirnya.
XXX
Sting sedang bermain game dengan sepupunya yaitu Loki. Mereka tertawa sambil bersorak jika mereka menang ataupun kalah.
"Kau tidak kekantor?" tanya Sting pada Loki yang masih sibuk dengan gamenya.
"Tidak, ayahmu tidak menyuruhku. Lagipula untuk apa aku kesana tiap hari, yang punya lirikkan kan kau, bukan aku" ledek Loki sontak membuat Sting blushing.
"Ap—apa maksudmu, baka!" ujar Sting dengan gugup dan mem-pause gamenya. Loki menghela nafas dan menoleh.
"Lu-cy. Dia itu lirikkanmu kan? Hahaha" ledek Loki sambil tertawa keras. Sting menatapnya sinis.
"Urusaiii!" ujar Sting.
"Aku bisa menanyakannya pada Aries loh tentang biodatanya Lucy" ungkap Loki. Membuat Sting terdiam dan berpikir sejenak.
"Benarkah?" tanya Sting yang berusaha menutupi keinginannya untuk mengetahui biodata Lucy. Aries adalah tunangan Loki yang bekerja di perusahaan milik ayah Sting. Ia bekerja dibagian personalia.
Loki pun menyikut lengan Sting dan terus meledeknya. "Tak usah kau tutup-tutupin keinginanmu itu, Sting. Mau apa tidak nih? Kalau tidak mah ya gapapa sih"
"Baiklah...baiklah..." jawab Sting yang mulai menyerah karena ledekan sepupunya itu. Loki hanya tertawa melihat Sting.
XXX
Lucy bangun dari tidurnya karena tirai kamarnya telah dibuka. Ia melihat silaunya matahari dan juga ia menyadari kalau dikamarnya bukan hanya ada dirinya, tetapi ada..
"Ohayouuu, Nee-chan" ujar Michelle dengan riang.
Baiklah, sekarang ada Michelle. Lucy berpikir, oh tuhan, bisakah Michelle dikembalikan saja ketempat Ayahnya? Dia terlalu merepotkan disini.
Lucy bangkit duduk dan membalas sapaan adiknya, "Ohayou"
Lucy meraih jam wekernya dan betapa terkejutnya ia, sudah pukul setengah tujuh pagi? Apa-apaan ini? Kenapa Lucy bisa terlambat seperti itu?
Lucy melemparkan jam wekernya dan mengacuhkan perkataan Michelle tentang tawaran sarapan. Ia segera menyambar handuk dan masuk kedalam kamar mandi. Michelle hanya tertawa.
"Wahhh Nee-chan, sudah semangat pagi-pagi" ucapnya.
Michelle? Kakakmu bukannya semangat, tetapi ia sudah telat untuk kesekolah. Oke baiklah, kembali kecerita. Michelle pun keluar kamar Lucy untuk membantu ibunya menyiapkan sarapan.
"Lucy sudah bangun?" tanya ibunya. Michelle mengangguk, "Ia begitu semangat pagi ini"
Ibunya segera menoleh kearah jam dinding dan ber-sweatdrop. "Michelle, kakakmu sepertinya akan telat. Buatkan saja susu dan roti ya" ucap ibunya dengan lembut.
"Baaaiiikkk!" jawab Michelle dengan semangat.
XXX
Lucy dengan terburu-buru keluar dari kamarnya menuju ruang makan, ia segera menyambar roti yang dibuat oleh Michelle dan juga meminum susunya.
"Ibu, Michelle. Aku berangkat!" ujar Lucy. Belum sempat menjawabnya, Lucy sudah kabur keluar dari rumah. Michelle dan ibunya tertawa.
XXX
Lucy berdiri dengan gelisah dihalte. Ia melirik jam tangannya yang sengaja ia pakai untuk tahu pukul berapa. Ia menghentakkan kakinya. Ia benar-benar gelisah karena bus tidak juga kunjung datang. Lucy merasa berdosa kali ini, ia benar-benar merutuki dirinya yang terlalu banyak memikirikan sesuatu semalaman penuh. Lucy akhirnya berlari untuk menuju sekolahnya. Ia benar-benar kehabisan waktu jika menunggu bus datang.
Saat ia berlari, ia kaget saat ia menoleh kesamping melihat Natsu yang ikut berlari disebelahnya.
"Ngapain kau?" tanya Lucy yang masih terus berlari.
"Lari?" jawab Natsu
Lucy memutar bola matanya. Ia melirik jam tangannya lagi. Natsu menoleh dan tersenyum, ia sadar jam tangan yang dipakai oleh Lucy adalah jam tangan yang dulu. Jam tangan yang sama dengan miliknya.
"Kenapa kau bisa telat?" tanya Natsu
"Haruskah aku memberitahumu?" ucap Lucy yang sudah mulai terengah-engah. Lucy memelankan larinya. Natsu juga memelankan agar mereka dapat berlari sama-sama.
"Kau capek?" tanya Natsu. Oke itu pertanyaan yang bodoh.
'Jelas saja! Baka!' batin Lucy.
Lucy kembali lari dan tidak sadar kalau ada mobil yang melintas disampingnya.
"Lucy-chaaaan!"
Lucy menoleh dan menegaskan pandangannya. Lucy berhenti berlari dan mulai mengingat-ingat. Siapakah pemuda ini?
"Ah.." Lucy ingat, ini pemuda aneh yang menanyakan tentang namanya. Oke Lucy tidak tahu namanya. Natsu hanya menaikkan sebelah alisnya. Dan bertanya-tanya. Siapa dia? Fans Lucy? Stalker? Benarkah? Wajahnya terlihat mesum.
Pemuda itu keluar dari mobil dan memperlihatkan dirinya yang memakai seragam yang sama dengan Lucy dan Natsu. Lucy menaikkan sebelah alisnya.
"Kau bersekolah disini juga?" ucap Lucy. Sting merundukkan badannya.
"Perkenalkan namaku, Sting Eucliffe. Aku anak baru yang akan masuk disekolah yang sama denganmu" ungkap Sting.
Natsu berjalan mendekati Lucy dan merangkulnya. "Ah baiklah, sudah ya perkenalannya. Kita telat. Ayo Luce" ajak Natsu. Lucy menoleh dan menatapnya dingin.
"Tidak usah sok akrab" ucap Lucy yang kembali lari.
Sting membuka mulutnya dan berkata "Owww". Natsu menoleh dan memandang sinis Sting.
Sting hanya menyeringai dan kembali masuk kedalam mobil. "Aku duluan yaa, Jaa~"
Natsu menatapnya kesal dan mengepalkan tangannya. "Siapa sih dia? Tingkahnya benar-benar menyebalkan, dan dia kenapa bisa kenal dengan Lucy? Jangan-jangan...Arggggh tidak tidakk!" Natsu mulai stress sendiri dan beberapa menit kemudian dia sadar kalau dia sudah telat kesekolah. Ia pun berlari dengan sekuat tenaga.
XXX
Lucy terengah-engah sampai didalam kelasnya. Murid-murid melihatnya dengan heran. Mereka berpikir tidak biasanya Lucy sampai telat begini. Lucy duduk dan meletakkan tasnya. Ia mengikat rambutnya dengan gaya ponytail. Ia benar-benar merasa lelah.
"Lu-chan, tumben sekali datangnya telat" sapa Levy.
"Aku kesiangan, dan dijalan diganggu oleh pemuda-pemuda aneh" jawab Lucy seadanya sambil mengeluarkan beberapa buku dari tasnya. Levy hanya tertawa pelan.
Sreeek
Pintu kelas terbuka dan menampakkan Laxus yang sebagai wali kelas Lucy ini.
"Baiklah, hari ini, kita kedatangan murid baru dari sekolah yang jauh dari kota Crocus. Yah silahkan masuk"
Terdengar langkah kakinya yang memasuki kelas, Lucy tidak begitu peduli karena ia tahu kalau yang masuk adalah..
"Hajimemashite, Namaku Sting Eucliffe. Aku pindahan dari Sabertooth High School. Yoroshiku" ucapnya. Pandangannya menelusuri setiap anak dikelas dan ia berhenti saat melihat gadis yang membuatnya pindah sekolah ini. Ia tersenyum.
"Ohayou, Lucy-chaaaan" sapanya. Lucy tersentak dan menoleh. Ia menatap sinis Sting. Lucy merasa diperhatikan oleh seluruh murid dan juga Laxus. Lucy memutar bola matanya dan tidak menghiraukan sapaan pemuda itu.
"Lu-chaaan, kau kenal dengannya?" bisik Levy.
Lucy mengangkat bahunya.
Levy dan Erza saling memandang. Mereka berdua berpikir, kehidupan Lucy akan benar-benar berbeda setelah kedatangan orang-orang tak terduga.
XXX
Waktu istirahat makan siang pun tiba, Lucy kembali dari kantin menuju kelasnya. Ia mengingat pelajaran setelah istirahat ini.
"Renang ya? Huh" gumamnya.
"Kenapa memangnya dengan renang? Kau tidak bisa renang? Sini biar aku yang ajarkan" terdengar suara dari belakang Lucy. Lucy menoleh dan melihat pemuda aneh berambut pirang—lagi.
Lucy menghela nafas, "Kau tidak capek ya menggangguku?" tanya Lucy
"Aku tidak mengganggumu. Aku hanya mengajakmu ngobrol, tahu" jawab Sting yang sekarang sudah berjalan beriringan dengan Lucy.
"Sama saja" ucap Lucy dengan pelan.
Sting tersenyum. "Lalu kenapa dengan renang?" tanya Sting lagi.
"Aku tidak boleh renang" jawab Lucy
Sting berhenti dan menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa?"
Lucy berhenti dan menoleh kebelakang. "Karena jika aku berenang, aku akan berubah menjadi putri duyung" Lucy menjawabnya dengan wajah yang tanpa ekspresi. Sting menganga lebar. Ia takjub dengan jawaban Lucy.
"Benarkah! Kau se—seorang pu—pu—putri duyung?" tanya Sting dengan antusias. Lucy bersweatdrop.
Lucy mengangkat bahunya, "Ya kalau kau percaya itu, ya sudah percaya saja" jawab Lucy dan ia berjalan kembali. Dari kejauhan Natsu melihat Lucy dan Sting dengan tidak suka.
"Hey Natsu, ada apa?" tanya Gray
"Itu dia anak baru, sok deket ama Lucy. Aku tidak suka" jawab Natsu
"Cemburu nih?" sambar Gajeel.
"Diam kau, Metal-head!" jawab Natsu.
Gajeel dan Gray pun tertawa melihat kelakuan Natsu. Mereka berpikir, oh begini ya jadinya kalau Natsu jatuh cinta.
XXX
Lucy berada dikantor guru, ia sedang berbicara dengan guru olahraga kalau ia tidak bisa ikut renang. Karena bahunya yang cedera. Guru itu pun memaklumi dan menyuruh Lucy untuk menjadi asistennya saat pengambilan nilai. Diam-diam, dari kejauhan ada beberapa gadis yang mendengarnya dan menyeringai. Ternyata gadis-gadis itu adalah gadis-gadis yang ribut dengan Lucy beberapa waktu yang lalu.
"Kita akan mengerjainya" ucap salah satu gadis-gadis itu. Yang lainnya hanya mengangguk.
Levy dan Erza sudah mengganti pakaiannya menjadi pakaian renang. Mereka heran dengan Lucy kenapa ia tidak mengganti bajunya.
"Lucy, kau tidak ikut renang?" tanya Erza
Lucy menggeleng.
"Kenapa? Kau sakit?" tanya Levy dengan khawatir.
"Tidak, dia akan berubah menjadi putri duyung kalau kena air" sambar Sting yang berada dibelakang Erza dan Levy. Lucy menatapnya sinis.
Lucy melepaskan jam tangannya dan meletakkannya disaku kemejanya.
"Aku kekelas dulu" pamit Lucy.
Lucy berjalan kekelas untuk meletakkan jam tangannya. Ia benar-benar menyayangi jam tangan itu. Jam tangan dari ayahnya dan juga sama dengan Natsu. Ia meletakkan jam tangan itu dikolong mejanya dan segera berlari keluar kelas.
XXX
Selesai pelajaran renang, Lucy kembali kekelasnya. Ia benar-benar lupa akan jam tangan yang ia taruh dikolong mejanya. Ia mengikuti pelajaran hingga kelas bubar. Setelah selesai, Lucy ingin keluar kelas dan mengingat bahwa jam tangan miliknya ada dikolong mejanya. Ia segera melihat dan..
"Tidak ada!" gumamnya.
Dengan segera ia melihat kekolong meja teman-temannya. Dan tetap tidak ada. Ia menelusuri sekolahnya. Tapi ia berpikir, ia benar-benar meletakkannya di kolong mejanya. Tidak mungkin sampai jatuh. Lucy kembali kekelas dan memeriksa kolong mejanya kembali. Dan melihat sebuah memo.
Jam tangan berhargamu ada di tangan kami, jadi kemarilah. Kami ada di kolam renang sekolah. Kami menunggumu, Lucy.
Lucy menghembuskan nafasnya. Ia akan memberi pelajaran orang-orang ini yang sudah mengerjainya. Ia berjalan atau mungkin setengah berlari menuju kolam renang sekolah. Setelah sampai, ia melihat tidak ada seorang pun disana.
"Hey!" Lucy menoleh kebelakang dan melihat gadis-gadis yang ribut dengannya beberapa waktu lalu. Lucy menghela nafas dan mengulurkan tangannya untuk meminta jam tangannya.
Gadis itu memperlihatkan jam tangan milik Lucy.
"Ini milikmu? Bagaimana kalau jam tangan ini—" belum selesai kalimat yang dilontarkan gadis itu, gadis itu sudah membuang jam tangan Lucy kedalam kolam renang. Lucy membelalakkan matanya, ia tidak percaya. Gadis-gadis itu tertawa.
"Ayo ambil jam tanganmu itu, cepat" ucap gadis itu seakan ia meledek Lucy. Lucy mengepalkan tangannya. Ia mengingat perkataan dokternya. Lucy menggeleng dan segera menjatuhkan dirinya kekolam renang tanpa pikir panjang.
Byuuurrrr
Lucy mencari jam tangannya.
'Dimana..' batinnya.
'Sial' batinnya lagi.
Ia menelusuri kolam renang sampai pada akhirnya...
Lucy merasakan sakit dibahunya. Benar-benar nyeri. Nyeri itu kembali lagi. Lucy menahannya. Ia masih terus mencari jam tangan itu.
'Sial, tahan sebentar lagi' batin Lucy
Lucy akhirnya melihat jam tangan itu dan segera kesana. Saat meraih jam tangan itu, giliran kakinya yang keram. Bahunya yang sakit dan juga kakinya yang keram membuat dirinya tidak bisa muncul kepermukaan. Gadis-gadis itu yang melihatnya hanya bisa panik.
"Bagaimana ini? Sepertinya dia tenggelam" ucap salah satu gadis.
"Ayo kita pergi dari sini"
"Apa kita tidak menolongnya dulu?"
"Tidak usah, ayo pergi"
Gadis-gadis itu pun pergi tanpa menolong Lucy yang tenggelam.
'Tolong...aku...' batin Lucy. Lucy mulai tidak bisa bernafas dan ia mulai menutup matanya.
XXX
Natsu membuka pintu kelas Lucy. Ia tidak melihat Lucy ada dikelas itu. Ia masuk dan melihat sebuah notes yang jatuh ia pun membacanya. Ia membelalakkan matanya dan segera berlari menuju kolam renang.
'Jangan bilang dia...' batin Natsu.
Natsu pun terjun langsung kedalam kolam renang untuk menyelamatkan Lucy. Dengan segera Natsu membopong Lucy keatas.
"Lucyyy! Lucee! Banguuun!" ujar Natsu sambil menepuk pelan pipi Lucy dan juga menggoyangkan tubuh Lucy.
Natsu segera membaringkan tubuh Lucy dan memberikan nafas buatan.
Lucy akhirnya sadar. Ia pun terbatuk-batuk mengeluarkan air dan membuka matanya dan melihat..
"Nat—su.." panggilnya dengan lirih. Natsu segera memeluk Lucy.
"Bodooooh! Kau tahu kau tidak boleh berenang, bukan. Kau tahu kalau kondisimu tidak memungkinkan...bodoh! kau masih tetap saja.." omel Natsu.
Lucy mengangkat tangannya dan melihat jam tangan yang ia selamatkan. Lucy tersenyum tipis.
Natsu melepaskan pelukannya dan Lucy pun kembali pingsan. Natsu menyadari kalau Lucy menggenggam sebuah jam tangan. Natsu tersenyum.
'Kau menyelamatkan ini? Dasar bodoh' batin Natsu.
Natsu mengantongi jam tangan Lucy, dan menggendong Lucy ala bridal untuk keruang kesehatan. Natsu memandang wajah Lucy yang terlelap dan tersenyum. Natsu mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Lucy.
Sting dari kejauhan melihat adegan itu. Ia mengepalkan tangannya.
"Jadi dia sainganku?" Sting menyeringai. "Baiklah.."
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
Yooshhh! akhirnya chapter 5 selesai jugaaa! bagaimana, bagaimana menurut kalian semua para readersssssss XD tolong review ya jika ada typo yuhuu XD
Okeee, buat yang udah review chapter kemarin, udah aku bales lewat PM yaaaa~~
Baiklah segitu aja dulu bacotannya author, pokoknya tunggu kelanjutannya dan jangan lupa direview yaaa
Arigatou gozaimasuuuu~~~
Jaa nee,
Yusa-kun XD
