Fairy Tail © Hiro Mashima

A Fairy Tail Fanfiction

Between Us

By Yusa-kun

Warning : AU, Typo(s), OOC.

.

.

.

.

.

Lucy perlahan membuka matanya. Ia bisa merasakan hawa dingin diseluruh tubuhnya. Ia kembali mengingat kejadian yang lalu. Ah ya, dia mencari jam tangan miliknya dan tanpa berpikir lagi, ia langsung masuk kedalam kolam renang. Bodohnya.

Lucy menolehkan kepalanya dan mendapati Natsu yang tertidur. Ia bisa merasakan kalau Natsu menggenggam sebelah tangannya. Lucy mengulurkan tangannya untuk membelai rambut Natsu, tetapi tertahan. Ia berpikir, untuk apa dia membelai rambut Natsu? Tidak—kau harus berterima kasih bukan? Tapi..

Lucy menggeleng-gelengkan kepalanya, mengusir pikiran-pikiran yang mengganggunya.

Tiba-tiba..

Sreeeek

Lucy menoleh dan mendapati pemuda dengan rambut pirang sedang bersandar didaun pintu. Natsu yang mendengar pintu terbuka pun akhirnya terbangun.

"Ah Luce..kau sudah sadar" ucapnya.

Lucy bangkit duduk dan mengangguk pelan.

"Kau tidak berubah jadi putri duyung, kau membohongiku, Lucy-chan" ujar Sting yang sedang melangkahkan kakinya mendekat pada Lucy. Natsu memandangnya dengan sinis.

Lucy memandangnya tidak kalah sinis. "Kau mau meledekku? dan jangan memanggilku seperti itu" Tanya Lucy, datar.

Sting berdiri didepan Lucy dan tertawa pelan. "Tidak..tidak..hmm aku kesini ingin melihat keadaanmu. Lucy" jawab Sting. Natsu mengepalkan tangannya.

"Baiklah, cukup! Lucy, aku akan antar dirimu pulang. Oke" ucap Natsu.

Sting tertawa, "Kau mau mengantarnya dengan apa? Kau tidak membawa kendaraan kan?" Tanya Sting. Natsu mendecih.

Sting melangkah untuk mendekati Lucy. Lucy tetap memandangnya dingin. Tiba-tiba..

Greeeb

"Ayo kita pulaaaang~" Sting sudah menggendong Lucy ala bridal dan berjalan keluar dari ruang kesehatan. Lucy menepuk-nepuk dada Sting untuk minta diturunkan.

"Hey! Turunkan!" Ujar Lucy.

Sting tersenyum. "Tidak mau"

"Turunkan atau aku—" belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Sting sudah mendekatkan wajahnya pada Lucy. Dengan refleks Lucy memundurkan wajahnya dan memandang sinis pemuda yang menurutnya tidak tahu malu itu.

"Atau apa? Kau akan menciumku? Ataukah yang lain?" Goda Sting. Lucy benar-benar—bukan, mungkin sekarang rasa ilfeel pada Sting kian bertambah. Astaga bisa-bisanya pemuda ini begitu percaya diri. Ampuni dosanya, Kami-Sama!

Lucy menangkap wajah Sting dan mendorongnya untuk menjauh.

"Jangan dekat-dekat, dasar mesum" ucap Lucy dengan datar. Sting tertawa.

Natsu mengejar mereka dan menghadapnya.

"Kau siapa sih? Kau itu sok deket sama Lucy! Turunkan dia!" teriak Natsu.

"Aku? Aku calon pacarnya. Iya kan Lucy?" Jawab Sting. Jawaban Sting itu membuat amarah Natsu makin naik.

"Bermimpi saja" jawab Lucy dengan singkat dan akhirnya Lucy pun memukul wajah Sting sekeras mungkin, dan dengan refleks Sting melepaskan Lucy.

"Ouch!" rintih Sting

Setelah turun dari gendongan Sting, Lucy tidak peduli dengan dua pemuda yang berada dibelakangnya. Ia berjalan pelan meninggalkan Natsu dan Sting yang menurutnya benar-benar mengganggu.

"Luce"

"Lucy"

Lucy menoleh dan mengeluarkan aura yang menyeramkan. "Jangan ganggu aku!" Ucapnya, lalu ia melanjutkan langkahnya kembali. Sting dan Natsu bergidik.

"Astaga dia benar-benar menyeramkan" gerutu Natsu.

Sting mengangguk.

Dan mereka pun sadar akhirnya hanya merekalah yang ada disana. Mereka saling memandang. Sting menyeringai dan Natsu mengepalkan tangannya.

"Kau menyukai dia kan?" Tanya Sting dengan tiba-tiba, Natsu tersentak dan menjadi gugup.

"Ti—tidak juga..hmm" jawabnya.

"Kalau begitu, berarti kau akan membiarkan aku mendekati dia bukan?" Tanya Sting lagi sambil menyandarkan tubuhnya didinding dan menatap tajam Natsu.

Natsu tertawa pelan, "Bagaimana ya hmm.."

Sting menyeringai, "Baiklah, mulai hari ini kita akan bersaing" tantang Sting.

Natsu tersenyum dan berjalan meninggalkan Sting dibelakang. Beberapa langkah Natsu berjalan, ia pun berhenti dan menoleh.

"Maaf saja, aku kurang tertarik dengan tantanganmu. Jjika ada seseorang yang bisa membuatnya bahagia dan membuatnya tersenyum kembali..aku akan turut bahagia.." jelas Natsu sambil melambaikan tangannya dan melanjutkan kembali langkahnya yang terhenti.

Sting termangu mendengar kalimat yang dilontarkan Natsu. Jelas sekali, Sting bisa melihat ketulusan dan keikhlasan dari mata seorang pemuda yang sudah meninggalkannya itu. Sting mengepalkan tangannya. Bukan merasa kesal karena ia dinasehati seperti itu ataupun tantangannya ditolak, tetapi entah kenapa Sting merasa pemuda bersurai pink itu benar-benar mengenal Lucy. Benar-benar mengenal Lucy lebih jauh. Dan bukan tandingan untuk dirinya.

XXX

Lucy masuk kedalam rumahnya dan disambut oleh adiknya, Michelle. Dan betapa terkejutnya Michelle melihat kondisi kakaknya yang sudah basah kuyup.

"Nee-chan! Nee-chan kenapa? Kok bisa basah kuyup gini? Abis kecebur?" Tanya Michelle.

Lucy berjalan melewati Michelle yang masih terus-menerus berbicara tanpa henti.

"Jangan berisik, Michelle. Aku pusing" ucap Lucy sambil memijit keningnya. Ia berjalan gontai menuju kamarnya. Lagi-lagi Michelle berceloteh.

"Ah astagaaaa, Nee-chaaaan kau pusing?! Aduuuh bagaimana ini? Obat yaaaa obat! Mana yaaa hmm.. Nee-chan obat-obat dimanaaaa!" Michelle menjadi panik sendiri. Lucy geram dan akhirnya menutup mulut Michelle.

"Oh demi Mavis. Michelle. Diamlah. Kau benar-benar berisik kaya Natsu. Biarkan aku istirahat. Oke" ucap Lucy. Michelle mengangguk. Setelah itu Lucy melepaskan tangannya dan masuk kedalam kamar dan mengunci kamar.

Lucy bersandar dipintu kamarnya dan merosot kebawah. Ia memijat keningnya yang merasa pening.

"Tidak disekolah, tidak dirumah, kenapa jadi ribet gini. Arghh" gerutunya.

Akhirnya ia sadar, ia memandangi kedua telapak tangannya

'Aku sedang marah dan menggerutu?' Batin Lucy. Lucy pun tersenyum.

XXX

"Hei, kenapa kau diam saja?" Terlihat Natsu kecil sedang menyapa gadis seumurannya yang memiliki surai pirang. Gadis itu menoleh dan menggeleng. "Tidak apa-apa"

"Kau tidak mencari seseorang untuk kelompok membuat tugas mengarang?" Tanya Natsu kecil.

Lagi-lagi gadis kecil itu menggeleng.

Natsu kecil kemudian menggenggam tangan gadis itu membuat tersentak gadis itu. "Bagaimana kalau denganku saja? Perkenalkan, namaku Natsu. Natsu Dragneel. Dan kau?"

Gadis itu hanya melongo melihat pemuda yang begitu atraktif ini. Gadis itu tersenyum dan mengangguk. "Ehm. Lucy. Aku Lucy Heartfilia"

"Hmm okelah Luigi, kita satu kelompok yaaa!" Ujar Natsu kecil dengan penuh semangat. Gadis yang bernama Lucy itu pun merengut kesal.

"Lu-cy, bukan Luigi. Natsu" ucap Lucy kecil.

Natsu tertawa. "Okelah, Luce."

Lucy kecil memiringkan kepalanya dan memandang heran Natsu. "Luce?"

Natsu mengangguk. "Bagus tidak? Itu nama panggilan dariku. Jadi tidak ada orang lain lagi yang memanggilmu dengan sebutan itu selain diriku" jelas Natsu kecil sambil menampilkan grinsnya yang khas. Lucy yang melihatnya hanya blushing, lalu tersenyum manis dan mengangguk.

Natsu membuka matanya. Ia sadar kalau ini sudah pagi. Ia mengucek matanya dengan perlahan dan menguap sesekali. Ia bangkit duduk dan tersenyum.

"Senyumnya, manis sekali.." Gumamnya.

"Aku ingin melihat senyumanmu, Luce..seperti dulu" tambahnya.

XXX

Layla sedang berjalan menuju kedapurnya dan mendadak ia oleng dan ingin terjatuh. Ia memegang kepalanya yang merasa pening tiba-tiba.

"Ibu?"

Layla menoleh dan mendapati Lucy keluar dari kamarnya. Lucy berjalan mendekati Layla, tersirat kekhawatiran diwajah Lucy.

"Ibu kenapa? Pusing lagi? Udah minum obat?" Tanya Lucy.

Layla tersenyum dan meletakkan tangannya dibahu putrinya itu. "Ibu tidak apa-apa, sayang."

Layla pun segera melanjutkan langkahnya masuk kedalam dapur dan membuatkan sarapan. Lucy diam-diam masuk kedalam kamar ibunya dan mencari obat milik ibunya.

"Ternyata obatnya habis..akan aku belikan nanti" gumamnya sambil meletakkan botol obatnya ketempatnya dan keluar kamar.

XXX

"Ibumu mengidap sakit kanker otak"

Lucy membulatkan matanya dan menatap nanar ibunya yang terbaring dirumah sakit. Ia mengepalkan tangannya.

"Apa tidak bisa sembuh? Dengan operasi misalnya?" Tanya Lucy.

Dokter menggeleng. "Kankernya sudah menyebar. Pusing yang ia rasakan mungkin bisa teratasi dengan obat, tapi sel kankernya..maaf..tidak dapat hilang begitu saja" terang Dokter.

Lucy menunduk, tangannya bergetar hebat. Ia benar-benar ingin menangis, tapi entah mengapa tidak ada airmata yang keluar dari matanya.

'Kenapa..kenapa..' Batinnya, lirih.

Lucy sadar dari lamunannya karena merasa sentuhan di bahunya. Ia menoleh dan mendapati Sting yang duduk disampingnya.

"Ada apa?" Tanya Lucy.

"Kau memikirkan apa?" Tanya Sting.

"Sesuatu" jawab Lucy.

"Hmm..mungkin sesuatunya itu adalah aku?" Tanya Sting dengan polos.

Lucy memutar bola matanya. "Maaf saja, aku harus merusak impianmu. Tapi yang aku pikirkan bukan dirimu, dan tidak akan pernah memikirkan dirimu" jawab Lucy dengan ketusnya.

Sting tertawa. "Padahal aku menyukaimu, loh"

Lucy tersentak dan menoleh. Didalam pikiran Lucy yang terlintas sekarang, Pemuda disampingnya ini benar-benar gila. Penyakit kejiwaannya tidak dapat tertolong lagi. Oke, Lucy merasa harus menjauhkan dirinya dari orang seperti ini. Ia tidak ingin terlibat jauh dengan pemuda gila satu ini.

"Lalu?" Lucy berusaha menutupi keterkejutannya. Ya bukan terkejut karena pemuda itu menyatakan perasaannya secara tiba-tiba, tetapi terkejut akan bualan pemuda ini. Astagaaaaa!

"Ya aku tertarik, aku suka, dan aku ingin kau dan aku berpacaran hehe" ucapnya dengan enteng.

Lucy menatapnya dengan dingin. "Mana ada orang mengajak pacaran seorang gadis sepertimu. Cengengesan, kau ini tidak berkharisma. Benar-benar sakit jiwa, Sting."

Sting pun termangu dan akhirnya menampakkan wajahnya yang sumringah. Dengan reflek, ia menggenggam tangan Lucy.

"Astaga Lucyyyy! Coba kau ulangi? Kau panggil aku apa?! Apaaa?! Sting? Kau panggil diriku dengan namaku? Ya tuhaaaan!" Histerisnya. Lucy bersweatdrop.

'Oke, sekarang gua makin ilfeel ama Sting' batin Lucy yang gaul(?).

Semua murid yang ada dikelas pun akhirnya memperhatikan Lucy dan Sting. Erza dan Levy yang baru saja datang pun tertawa pelan.

"Seperti benar-benar meriah ya sekarang hidupnya Lu-chan" bisik Levy. Erza mengangguk. "Aku senang untuknya"

Kembali pada Lucy dan Sting.

"Berisik" Ucap Lucy dengan datar.

"Bodo amat" Jawab Sting dengan mata berbinar-binar dan sekarang Sting sudah berjingkrak-jingkrak tidak jelas.

Lucy tersenyum tipis melihat kelakuan Sting. Sejenak ia melihat tingkah laku Sting mengingatkannya pada Natsu saat dulu. Konyolnya, lucunya, annoying-nya, benar-benar satu tipe. Sting, Erza, dan Levy, melongo melihat senyuman Lucy. Walaupun hanya senyuman tipis, tapi Levy dan Erza bisa melihat senyuman itu tulus. Dari lubuk hati Lucy. Erza dan Levy turut senang.

XXX

Natsu membuka pintu kelas Lucy secara tiba-tiba membuat seluruh siswa dikelas itu menoleh kearahnya. Termasuk juga Erza.

"Bisa tidak kau membuka pintu pelan-pelan, Natsu?!" Geram Erza. Natsu melangkah dan melemparkan tangannya ke depan wajah Erza untuk berhenti berbicara.

"Luce..Luceeeee" Lucy yang sedang mengobrol dengan Levy pun menoleh.

"Ah Natsuuuu" sapa Levy.

"Yo, Levy" balasnya.

Natsu menarik tangan Lucy tiba-tiba. Lucy tersentak dan memandang Natsu. "Kenapa kau menarik tanganku?" Tanya Lucy sambil memandang sinis Natsu.

"Ikut aku! Ayoo!" Ucap Natsu. Lucy memiringkan kepalanya, memandang heran Natsu.

"Ayoooo!" Ulang Natsu. Lucy akhirnya mengikuti Natsu yang mengajaknya entah kemana. Lucy berpikir, daripada pemuda pink ini membuat ribut dikelasnya, lebih baik ia ikut kata Natsu. Genggaman tangan Natsu sengaja tidak dilepas. Terpampang jelas diwajah Natsu kegembiraan.

"Kita mau kemana, Natsu?" Tanya Lucy.

"Ke atap. Aku bawa bekal loh ayo makan disana" jawab Natsu sambil menoleh kearah Lucy dan tersenyum.

"Lalu?"

"Kau harus makan" jawab Natsu

"Aku tidak bawa makanan" sahut Lucy.

Natsu memberhentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap Lucy.

"Lucy, aku membawa bekal lebih untukmu. Jadi kita makan diatap sekarang, bareng-bareng. Ngerti?" Jelas Natsu.

Lucy melongo, kemudian mengalihkan pandangannya.

"Kau—kau tidak perlu repot-repot aku kan ti—" belum selesai menyelesaikan ucapannya, Natsu sudah menarik tangan Lucy.

"Sudahlah, ayo cepat!" ujar Natsu.

Akhirnya mereka pun sampai di atap sekolah. Dan betapa terkejutnya mereka melihat sosok yang tidak ingin mereka lihat.

"Sting?" Ucap Lucy dengan datar.

"Kkkkkaaaauu!" Ujar Natsu.

Sting hanya melambaikan tangannya. "Yo, Lucy, Natsu-san"

Natsu segera menghampiri dia dan memulai keributan. Lucy bersweatdrop dan memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari atap. Tapi tertahan karena panggilan dari Natsu.

"Lucee! Jangan pergi. Duh" ucapnya.

Lucy memejamkan matanya dan menoleh. "Untuk apa aku makan dan melihat keributan diantara kalian. Aku sudah kenyang. Jaa"

Natsu dan Sting berpandangan. Jadi jika mereka tidak bertengkar, Lucy akan duduk bersama mereka dan makan bersama? Benarkah? Aaaaaaa!

"Kami janji tidak akan ribuuut!" Ujar Sting dan Natsu bersamaaan. Lucy mengulum senyumnya untuk menahan tawa.

"Baiklah kalau begitu" Lucy pun membalikkan tubuhnya dan melangkah mendekat Sting dan Natsu. Dan duduk bersama mereka.

"Jadi yang mana bekal ku?" Tanya Lucy pada Natsu.

Natsu membukakan kotak bekal milik Lucy dan menyodorkannya. Lucy terkejut melihat isinya. Dan teringat sesuatu.

"Ini dari ibuku, untukmu" terlihat Natsu kecil sedang menyodorkan kotak bekal untuk Lucy kecil.

Lucy tersenyum tipis. "Itadakimasu"

Natsu mengedipkan matanya beberapa kali, apa ia tidak salah lihat? Tadi Lucy senyum bukan? Natsu tersenyum.

'Sedikit lagi..ayo sedikit lagi..' Pikir Natsu.

"Ayo kita makaaaannnn!" Ujar Sting dengan semangat. Natsu pun ikut-ikutan. Lucy hanya menatap kedua pemuda itu. Mereka terlihat sama. Tingkahnya. Lucy benar-benar ingin tertawa melihat kekonyolan mereka. Lucy menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kenapa kau?" Tanya Sting.

"Tidak apa-apa" jawab Lucy sambil menyuap bekalnya.

"Apa nanti kau bekerja dikantorku?" Tanya Sting. Pertanyaan Sting membuat Lucy dan Natsu membeku.

Didalam hatinya, Lucy merutuki Sting yang menanyakan tentang pekerjaannya disekolah. Sting tahu ada yang berubah, ia pun tertawa garing. Ia merasa, ia telah salah berbicara.

"Jadi? Kau bekerja?" Tanya Natsu.

Lucy meletakkan kotak bekalnya dan mengangguk.

"Aku bukan hidup dikeluarga kaya lagi seperti dulu, seperti kalian berdua. Aku harus mencari uang untuk melanjutkan hidup." Jelas Lucy, datar.

"Kau kerja jadi apa?" Tanya Natsu. Membuat Lucy sedikit tersentak.

"Menjadi sekretarisku" jawab Sting tiba-tiba. Lucy menoleh begitupun juga Natsu.

"Memangnya jabatanmu apa disana?" Tanya Natsu meremehkan.

"Aku? Hmm apa ya? Hahahaha" Lucy pun bersweatdrop dan akhirnya bangkit berdiri.

"Natsu, arigatou. Seperti biasanya, bekal buatan ibumu enak. Jaa" ucap Lucy. Lucy pun membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi sampai pada akhirnya Natsu menahan kepergian Lucy dengan menggenggam tangannya. Lucy pun menoleh.

"Kau tidak bekerja yang menguras tenaga banyak bukan? Aku mohon jawab tidak, Luce" ucap Natsu. Lucy menyentakkan tangannya. "Bukan urusanmu, Natsu"

Lucy pun melanjutkan langkahnya untuk keluar dari atap. Sting menatap Lucy dan Natsu secara bergantian. Ada rasa penasaran yang menghinggapi dirinya.

"Memangnya kenapa kalau Lucy bekerja yang berat-berat?" Tanya Sting.

Natsu menoleh. "Mau tau banget?"

"Iyalah!" Ujar Sting.

"Kasih tahu dulu, apa benar Lucy menjadi sekretarismu?" Tanya Natsu.

Sting berpikir pasti ada sesuatu yang disembunyikan. Jadi ia memutuskan untuk berbohong kembali.

"Iya dia jadi sekretaris. Tapi bukan diriku, sepupuku. Loki namanya" jawab Sting.

Natsu mengangguk. "Hmm baiklah"

Sting menggeram kesal, "Kau belom jawab pertanyaanku, baka!"

Natsu menoleh lagi, "Tidak ada apa-apa" jawab Natsu.

Sting menaikkan sebelah alisnya dan memandang heran Natsu. Natsu sedang tersenyum sambil melihat kehamparan langit luas.

"Boleh aku bertanya sesuatu padamu, Natsu-san?" tanya Sting. Natsu menoleh. "Apa?"

"Kau menyukai Lucy kan?" tanya Sting. Natsu pun tersentak kaget dengan pertanyaan Sting yang tiba-tiba.

"Kau menanyakan itu lagi? Kau tidak bosan?" jawab Natsu sambil membereskan kotak bekal miliknya.

"Pertama, kau ini bukan teman sekelas Lucy tapi kenapa kau begitu peduli padanya, lalu kedua, kau memanggilnya dengan sebutan 'Luce'. Ketiga, entah kenapa aku bisa melihat ada rahasia diantara kalian. Bisakah kau jujur padaku? Jujur saja, ini menggangguku" jelas Sting.

Natsu tertawa, "Kau beralih profesi dari pelajar menjadi detektif?" ledek Natsu. Sting merengut kesal, "Jawab saja, baka!"

"Ah. Untuk apa aku menjawabnya. Lagipula dari tampangmu yang kelihatannya playboy, kau tidak akan serius dengan Lucy" jawab Natsu.

Sting mendecih, "Aku tahu kalau aku tampan, tapi jujur saja aku belum pernah pacaran sekalipun!"

Natsu pun speechless. Lalu ia tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan sedikit airmata. Sting pun yang kelepasan bicara pun blushing.

"Memangnya kau sudah pernah berpacaran!" ujar Sting.

Natsu berhenti tertawa dan memandang ke hamparan langit. "Belum. Tapi aku pernah mencintai seseorang, hmm bukan—maksudku aku masih mencintai seseorang sampai sekarang" jawab Natsu dengan suara yang pelan.

"Benarkan, aku tidak akan bisa mengalahkanmu, Natsu-san" ucap Sting membuat Natsu menoleh.

"Apa maksudmu?"

"Seseorang yang masih kau cintai itu adalah Lucy, kan? Jangan memungkirinya lagi. Atau kau akan aku hajar" jawab Sting.

"Jadi kau sudah menyerah? Berarti benar, kalau kau cuma ingin main-main dengan Lucy" ujar Natsu sambil bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan Sting. Sting tertawa.

"Aku menyukainya, Natsu-san. Sangat menyukainya" teriak Sting hingga membuat Natsu berhenti. Sejenak Natsu terdiam, lalu detik kemudian ia melanjutkan langkahnya.

Sting melihat bahu Natsu yang kian menjauh. Sting tahu, kalau Natsu menjadi cemas.

'Yang seharusnya tidak menyerah itu, kau. Bukan aku' pikir Sting.

XXX

Natsu berjalan keluar dari gedung olahraga. Ia selesai latihan basket bersama dengan teman-temannya. Ia berjalan menuju parkiran dimana mobilnya sudah terparkir disana. Tetapi pandangannya terhenti saat ia melihat Lucy yang duduk didekat pohon besar. Natsu berlari untuk menghampirinya.

Natsu memandang wajah Lucy yang matanya sekarang sudah terpejam. Natsu mendekat dengan perlahan dan duduk didepan Lucy. Natsu tersenyum dan tangannya terulur untuk menyentuh lembutnya rambut Lucy, tetapi tertahan. Wajah Natsu bersembunyi dibalik poninya.

'Bisakah aku merelakanmu untuk orang lain? Seperti yang aku bilang pada Sting? Bisakah aku?' pikir Natsu.

Natsu dengan cepat bangkit berdiri tetapi tertahan karena tiba-tiba tangannya digenggam oleh Lucy. Ia pun terkejut.

"Kenapa kau memperhatikanku?" tanya Lucy yang akhirnya membuka matanya.

"Kau sendiri yang aneh, kenapa sendirian disini? Tertidur pula. Kau ini memang aneh, Luce" ucap Natsu.

"Bukan urusanmu" jawab Lucy sambil bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan Natsu.

Natsu tertawa sambil bangkit berdiri. "Lagi-lagi aku ditinggal.." ucapnya.

Lucy berhenti sejenak, lalu melanjutkan langkahnya kembali.

"Bagaimana bisa aku melepasmu, jika kau masih seperti ini" ucap Natsu dengan suara yang pelan tetapi masih bisa didengar oleh Lucy. Saat itulah, Lucy menoleh.

"Jika kau melepaskanku sekarang , itu akan lebih mudah bagiku. Karena kehadiran dirimu, membuat masa laluku kembali lagi" jawab Lucy, setelah itu Lucy pun melangkah pergi. Natsu membeku setelah mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Lucy.

'Sebeku itukah hati Lucy?' batin Natsu.

XXX

"Ibu..apa karena diriku..karena peristiwa itu kita—keluarga kita menjadi terpecah belah seperti ini? Iya kan, ini salahku kan?" ucap Lucy pada ibunya yang sedang membereskan pakaian dari dalam tas kopernya.

Layla menoleh dan menghampiri putrinya. "Tidak sayang, jangan menyalahkan dirimu. Sungguh." Ibu Lucy akhirnya memeluk Lucy.

Lucy pun menangis dalam pelukan ibunya. Ia merasa, walaupun ibunya sudah berbicara seperti itu, ia tetap beranggapan bahwa ialah penyebab keluarganya terpecah belah.

"Sekarang..kita hidup berdua saja, Lucy. Mohon bantuannya ya, sayang" ucap Layla dengan lembut. Lucy yang masih menangis dipelukan ibunya hanya bisa mengangguk.

"Aku—aku berjanji..aku akan buat Ibu bahagia bersamaku. Aku akan buat Ibu tidak menyesal hidup bersamaku" ujar Lucy dalam tangisnya. Ibunya mengangguk. "Arigatou.."

Lucy membuka matanya. Sekarang ia sedang berada di dalam ruangan istirahat untuk para karyawan bersih. Ia berbaring disebuah kursi panjang, ia mengistirahatkan tubuhnya setelah membersihkan beberapa ruangan dikantor tersebut. Ia menghembuskan nafasnya.

'Benar. Jika Natsu melepaskanku, meninggalkanku. Itu akan membuatku lebih mudah menjalani hidupku yang seperti ini' pikir Lucy.

"Kalau dia terlibat lebih dalam di kehidupanku. Maka ia akan terbebani oleh hidupku yang berat" gumam Lucy sambil memejamkan matanya.

Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan menampakkan seorang ibu-ibu yang bekerja dengan Lucy.

"Lucy-chan. Kau sudah selesai istirahatnya? Ruangan direktur utama belum sempat aku bersihkan. Jadi tolong ya" ucapnya sambil tersenyum pada Lucy. Lucy mengangguk kemudian berjalan keluar.

Ia berjalan menyusuri koridor sambil mengikat rambut panjangnya dengan ikat rambut yang ada dipergelangan tangannya. Dan siap untuk bekerja lagi.

XXX

Dirumah Lucy, Michelle sedang membantu Ibunya untuk menyiapkan makan malam. Michelle pun bersenandung dengan merdunya. Ibunya hanya melihatnya dan tersenyum. Tiba-tiba, saat itu pula Layla merasakan sakit dikepalanya. Michelle menyadari tingkah Ibunya yang berbeda, segera menghampirinya.

"Ibu kenapa?" tanyanya.

Layla menoleh dan tersenyum. "Tidak apa-apa" keringat dingin sudah mengucur dari keningnya. Michelle akhirnya mengecek suhu tubuh ibunya.

"Ibu demam?" tanyanya.

Layla tetap tersenyum. "Ibu tidak apa-apa, sayang"

Michelle akhirnya merangkul Ibunya dan menuntunnya masuk kedalam kamar. "Tidak! Ibu sedang sakit! Jangan bohong!"

Layla tertawa pelan, wajahnya sudah terlihat pucat. "Ibu hanya kurang istirahat, sayang"

"Kalau begitu, ibu harus istirahat!" ujar Michelle sambil membantu Ibunya membaringkan tubuhnya. Layla hanya mengangguk, "Maaf merepotkanmu, Michelle"

Michelle menggeleng, "Tidak, bu. Ibu istirahat ya. Aku yang akan melanjutkan pekerjaan Ibu"

Layla mengangguk dan memejamkan matanya. Michelle menatap Ibunya dengan khawatir, lalu keluar dari kamar.

Layla membuka matanya kembali. Rasa sakit dikepalanya makin menjadi dan ia tahu kalau obatnya yang seharusnya diminum sudah habis. Ia pun sudah pasrah dan menahan sakitnya agar tidak berteriak. Cukup Lucy yang mendengar rintihannya. Itupun sudah menyakitkan bagi seorang Ibu.

XXX

"Tadaima" ucap Lucy.

Michelle segera menyambut kakaknya yang baru saja pulang. Lucy memandang heran adiknya, Michelle memasang wajah sedih.

"Ada apa?" tanya Lucy.

"Ibu..Ibu jatuh sakit" jawab Michelle. Sontak membuat Lucy melempar tasnya dan berlari kekamar ibunya. Michelle hanya memandang bingung reaksi kakaknya.

Lucy membuka pintu kamar Layla dan mendapati pintu kamar terkunci. Lucy mendecih.

"Ada apa, Nee-chan?" tanya Michelle.

"Pintunya—pintunya terkunci" jawab Lucy. Tampak wajahnya yang panik.

Lucy masih terus mengetuk pintu kamar Ibunya dan memanggil nama ibunya.

"Ibu! Aku mohon buka! Aku bawakan obat untukmu. Bu! Buu!" ujar Lucy.

Tidak ada respon. Lucy mengepalkan tangannya dan berlari keluar rumah. Michelle pun menyusulnya. Lucy mengetuk jendela kamar Ibunya.

'Tidak ada cara lain' pikir Lucy.

Lucy mengepalkan tangannya dan bersiap memecahkan kaca jendela dengan bogemannya. Dan..

Praaanggggg!

Tangan Lucy sudah mengeluarkan banyak darah, Michelle pun berteriak.

Lucy memasukkan tangannya tanpa mempedulikan lukanya untuk membuka kunci jendelanya dan ia memanjat masuk. Michelle pun berlari masuk kedalam rumah.

Lucy tercengang saat melihat keadaan ibunya yang sudah terbaring di lantai.

"Ibuuuuu!" Lucy segera menghampiri Ibunya dan memeluk ibunya. Jantungnya berdegup dengan kencang. Ia sekarang benar-benar ingin berteriak. Terdengar panggilan dari Michelle yang kelihatannya juga khawatir. Lucy menggendong ibunya ketempat tidur dan membuka kunci pintu kamarnya. Michelle pun masuk. Ia melihat ibunya sudah terbaring dengan wajah yang pucat.

"I—bu?"

Lucy menoleh, "Ambilkan air hangat, untuk mengompres Ibu. Dan juga ambilkan tasku" ujar Lucy. Michelle mengangguk dan segera berlari keluar untuk mengambil yang diminta Lucy.

Darah Lucy masih mengalir dari tangannya yang terkena pecahan kaca. Ia benar-benar tidak merasakan sakit diluka itu. Lucy duduk disebelah ibunya.

"Gomen. Aku terlalu mengabaikanmu, Ibu..gomen" gumam Lucy sambil mengusap kening Ibunya.

Michelle pun datang membawa kompresan dan tas milik Lucy. Lucy mulai meletakkan kompresterseut dikening Ibunya. Michelle melihat luka ditangan Lucy.

"Tanganmu terluka" ucapnya. Lucy melihat tangannya yang masih mengeluarkan darah. "Tidak apa-apa"

Lucy membuka tasnya dan mengambil sebuah botol kecil yang berisi obat. Michelle melihatnya, "Itu obat milik Ibu? Ibu sakit apa, Nee-chan?" tanyanya.

Lucy berpiikir sejenak untuk menjawab pertanyaan Michelle. Apakah ia harus memberitahukan penyakit Ibunya? atau membohongi Adiknya sendiri?

"Ibu hanya demam" jawab Lucy.

Michelle mengangguk "Aku akan mengobati lukamu". Lucy menggeleng dan bangkit berdiri, "Tidak usah, aku akan obati sendiri. Kau istirahat saja. Jaga Ibu" tukas Lucy diiringi anggukan Michelle. Lucy pun keluar dari kamar Ibunya.

Lucy melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan lukanya. Ia mulai mencabuti satu per satu pecahan kaca yang menempel di kulitnya. Ia meringis, darahnya menetes kedalam wastafel kamar mandinya. Setelah selesai, ia mencuci kembali tangannya dan membalut lukanya dengan perban yang ada.

Lucy berjalan keluar dan duduk di pinggir tempat tidurnya. Ia berpikir dua kali untuk mulai berubah. Ia tidak bisa merasakan kebahagiaan seperti dulu, karena hidupnya telah berbeda. Berbeda dengan yang dulu.

XXX

Lucy sudah datang kesekolah, ia sedang duduk di tempatnya dengan tenang dan sibuk mendengarkan musik dari Ipod miliknya. Sting yang baru datang pun langsung menampakkan wajahnya yang sumringah, tetapi wajahnya menatap heran saat menangkap sebuah perban membalut tangan Lucy dan berwarna merah. Karena ia merasa khawatir dan juga penasaran, ia pun melangkah masuk kelas dan menghampiri Lucy.

"Ohayou" sapanya.

Lucy menoleh, "Ohayou"

"Tanganmu kenapa?" tanya Sting sambil menunjuk kearah tangan Lucy yang terluka.

"Tidak apa-apa" jawab Lucy dengan dingin.

"Jangan bohong. Itu perih kan?" tanyanya lagi, sekarang Sting sudah duduk disebelahnya.

Lucy menoleh, "Tidak"

Sting meraih tangan Lucy, Lucy pun dengan reflek meringis kesakitan.

"Tuhkan, sakit" ujar Sting sambil memandangi luka Lucy. Lucy menarik tangannya dan mengalihkan pandangannya.

Sting bangkit berdiri dan menarik tangan Lucy. Lucy tersentak kaget. "Mau apa kau?"

"Ke ruang kesehatan. Perbanmu itu tidak benar" ucap Sting.

"Tidak usah"

Sting menarik tangan Lucy hingga Lucy bangkit berdiri. Akhirnya Lucy ikut Sting untuk pergi keruangan kesehatan.

XXX

Diruang kesehatan, Sting membuka perban Lucy dan melihat luka Lucy yang masih mengeluarkan darah.

"Kau ini habis ngapain sih? Lukamu begitu parah begini" gerutu Sting sambil membersihkan luka Lucy. Lucy meringis kesakitan.

"Bukan urusanmu" jawab Lucy sambil memalingkan wajahnya.

"Memang bukan urusanku. Tapi aku menjadi khawatir" sahut Sting sambil memandang wajah Lucy yang tidak menghadap padanya. Sting tersenyum.

"Kau sedang sedih?" tanya Sting. Lucy menoleh, "Tidak"

Sting menghela nafas dan mulai membalut luka Lucy dengan perban baru. Entah kenapa, sekarang ia bisa melihat kesedihan dimata Lucy, setekah beberapa hari mencoba mendekati Lucy. Sting semakin mengagumi gadis dihadapannya ini. Memang benar, Sting tidak tahu apapun yang terjadi tentang Lucy. Tapi ia tahu, gadis ini—gadis cantik yang ada dihadapannya ini benar-benar kuat dan tegar.

Sting tersenyum, "Sudah selesai"

Lucy menarik tangannya dan memperhatikan perbannya. "Arigatou".

Sting mengangguk dan menarik tangan Lucy hingga membuat Lucy jatuh kedalam pelukannya.

"Lucy, kau tahu..semakin lama, aku semakin mengagumimu, tahu. Kau percaya?" ucap Sting.

Lucy tidak menjawabnya dan tidak membalas pelukan Sting. Detik kemudian, Lucy membuka mulutnya dan berkata, "Jangan".

Sting tersentak kaget dan melepaskan pelukannya. Ia memandang Lucy yang menatap kearah lain.

"Jangan mengagumi diriku, apalagi menyukaiku. Dan paling parahnya jangan sampai kau mencintaiku" ulang Lucy.

"Kenapa kau berkata seperti itu? Setiap manusia, berhak mendapatkan cinta, mencintai, dan dicintai" sanggah Sting.

Lucy menggeleng pelan. "Tapi aku tidak berhak. Jadi jangan pernah menaruh perasaanmu padaku"

Lucy bangkit berdiri dan meninggalkan Sting yang membeku. Di luar ruangan itu, ada Natsu yang diam-diam mendengarkan percakapan keduanya. Natsu mengepalkan tangannya.

Lucy membuka pintu ruang kesehatan dan betapa terkejutnya melihat Natsu didepannya.

"Nat—su"

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued


Yooosssh apa kabar minna? ketemu lagi dengan author yang paling kece yuhuuu XD

Akhirnya aku bisa menyelesaikan chapter ini, penuh rintangan banget buat nyelesaiinnya. pertama, laptop tiba-tiba mati dan ga bisa dinyalain, terus koneksi internet juga ngendet-ngendet, dan yang paling parah...KEHABISAN IDEEE! hmm tapi untungnya bisa selesai juga hufff XC

Baiklaaahhh! minnaaa...semuanya...yang udah baca...bagaimana menurut kalian untuk chapter ini? kepanjangan? iya sih, soalnya bingung mau dipotong bagian mana, eh jadinya gini... terus Lucy nya makin OOC? AAAAKKK GOMENASAIII JIKA ADA YANG GASUKA! XC banyak typo? GOMENASAIIIII!

Baiklah author banyak bacot banget nih, yossshh minna-san~~ please direview yaaa XD

Nah ini balesan buat review-review yang kemarin atau chapter sebelumnya~~~

monkey D nico : Ini udah lanjut~ bagaimana?!

ft-fairytail : Hehe arigatou! Ini udah lanjut, masih penasaran? XD

Ganba-chanEgao SM : Saingan sih, tapi hmm akur wkwkwk XD

zuryuteki : Hehe gapapa deh kalo gitu wkwk Iya dong, Lucy otu disini judes-judes hatinya masih baik wihiiiiiw XD hmm bagaimana dnegan chapter ini? apakah alurnya juga kecepetan? hehe gomennasai kalo alurnya kecepetan. wah kalo permintaan Yucchan yang Natsu cemburu sama blushing-blushingnya Sting dan Natsu saat melihat Lucy ketawa lepas, hmm bakalan ada koook, tapi nanti..makanya tunggu aja ya~~~

kanzo kuzuri : Hehe arigatou! Hmm ayo siapa-siapa~~Sting-kah? Natsu-kah? Nah chapter ini udah panjang belum? wohohoho XD

runZrundhee : Hehe makasih atas pujiannya! ini udah lanjut wehehehe silahkan dibaca XD

Fani Shuuya : Hehe makasih :D Ini udah lanjut, ayo dibaca yaaa XD

Guest : Hehe makasih~ Iya iya, ini udah lanjut loh. gamungkin author lupa update XD

Rerina Kokuzoya : Waduh, kalo 2 chapter belum bisa janji wekekekek XD tapi ini udah update, jadi...silahkan dibaca yaa~~ XD

Nah, udeh semua kan dibales. oke deh, hmm author bakalan kasih tau kalian, kalo fanfic ini bakalan lebih dari 15 chapter, Jadi author harap kalian tidak bosan menunggunya ya hehehe XD

Author sebelumnya mau ngucapin terimakasih buat kalian yang sudah meninggalkan review, mem-fav dan memfollow author dan ff ini, apalagi yang selalu menunggu ff ini update..Arigatou Gozaimasssuuuu~~

Udah deh, segitu dulu aja bacotannya author..

Jangan lupa untuk terus tunggu kelanjutannya ya! dan yaa onegai..reviewnya hehehe XD

Author kece pamit undur diri dulu..Jaa nee...

Yusa-kun