"Nat—su"

Fairy Tail © Hiro Mashima

A Fairy Tail Fanfiction

Between Us

By Yusa-kun

Warning : AU, Typo(s), OOC.

.

.

.

.

.

Natsu menarik tangan Lucy yang bebas sehingga Lucy terbawa oleh Natsu. Lucy pun memberontak, "Lepaaasssiin!"

Natsu yang tidak mengindahkan permintaan Lucy pun tetap berjalan sambil menyeret Lucy. Hingga sampai di tempat parkir, Lucy menyentakkan tangannya hingga genggaman Natsu terlepas. Natsu pun menoleh.

"Apa yang kau lakukan!" ujar Lucy.

Natsu memandang dingin Lucy. Lucy pun menatap Natsu dengan pandangan tidak kalah dingin. Natsu menyadari perban yang ada ditangan Lucy.

"Kau terluka? Kenapa?" tanyanya

"Bukan urusanmu" sahut Lucy, memalingkan wajahnya.

Natsu menatap tajam kearah Lucy, Lucy pun tidak kalah pada Natsu, ia memandang dingin pada Natsu.

"Baiklah kalau begitu, Tadi aku mendengar kau bilang, kau tidak berhak untuk dicintai, dikagumi, disayangi? Begitu?" tanya Natsu.

"Sekarang kau jadi tukang nguping?" sahut Lucy, datar.

"Kalau kau berbicara seperti itu, kau benar-benar tidak mempunyai perasaan lagi, Luce! Kau tidak menghargai perasaan kedua orang tuamu, keluargamu yang sudah menyayangimu!" ujar Natsu.

Lucy tertawa membuat Natsu membeku. "Kau bisa berbicara seperti itu karena orang tuamu masih tetap bersama! Tidak sepertiku! Jadi jangan coba menceramahi diriku, Natsu Dragneel!" Bentak Lucy sambil berjalan meninggalkan Natsu.

Sting melihat pertengkaran mereka dari jauh. Dan ia begitu terkejut dengan kalimat yang terlontar dari mulut Lucy.

'Orang tua Lucy, berpisah?' pikir Sting.

"Kalau begitu, Lihat orang-orang yang berada disekitarmu, Lucy!" teriak Natsu membuat Lucy berhenti dan terdiam.

"Seperti Aku, Levy, Erza, Sting. Kami berada disekitarmu. Kami peduli padamu, kau tidak bisa merasakan perasaan kami?" ucap Natsu

"Hentikan Natsu!" ujar Lucy tanpa menoleh.

Natsu mengepalkan tangannya dan berjalan menghampiri Lucy, "Kenapa! Kenapa aku harus berhenti?! Katakan alasannya!" desak Natsu.

Lucy mengepalkan tangannya hingga gemetar. Ia tidak bisa menjawabnya.

Natsu berdiri dibelakang Lucy dan akhirnya membalikkan tubuh Lucy dengan paksa. "Katakan padaku, Lucy!" desak Natsu. Lucy tidak menjawabnya.

"Sekarang kau tidak mau menjawabnya?" tanya Natsu. "Atau memang kau tidak punya alasan untuk ini semua?!" tambah Natsu.

"Aku—aku punya alasan" sahut Lucy dengan suara yang pelan.

"Geez, brengsek! Apa kau sudah menutup pintu hatimu, Luce?" ucap Natsu dengan suara yang melembut dari yang sebelumnya.

Tiba-tiba Natsu berlutut didepan Lucy. Lucy membelalakkan matanya, Sting dari kejauhan pun melihatnya dengan terkejut.

"Aku mohon—aku mohon hentikan ini, Lucy..hentikan.." pinta Natsu.

Lucy mengalihkan pandangannya. Detik kemudian, Lucy pun menoleh kearah Natsu.

"Kau yang berhenti, Natsu. Aku mohon padamu.." ucap Lucy dengan datar.

"Tidak!"

"Tidak!—tidak akan aku biarkan kau hidup seperti ini. Aku tidak mau melihatmu seperti ini. Mana Lucy yang dulu? Mana Lucy yang ceria? Mana Lucy yang selalu bertengkar denganku? Mana Lucy yang selalu bersemangat dengan apapun yang dia kerjakan? Mana Lucy yang selalu tersenyum manis padaku? Dimana dia..dimana dia.." ujar Natsu, tanpa sadar Natsu sudah mengeluarkan airmatanya. Lucy terkejut melihatnya.

"Maaf, Natsu. Lucy yang dulu sudah tidak ada lagi..ia tidak dapat kembali.." Sahut Lucy. Kalimat itu tidak dapat membuat Natsu tenang. Natsu akhirnya bangkit berdiri dan memeluk Lucy dengan segera. Lucy tersentak kaget dan meronta-ronta.

"Masih ada..Lucy yang dulu masih ada. Aku yakin itu. Dia..dia masih ada di dalam dirimu yang sekarang. Ia belum hilang sepenuhnya. Belum!" sahut Natsu.

"Natsu. Kau tidak bisa hidup dimasa lalu terus" ujar Lucy

Natsu melepaskan pelukannya dan memandang Lucy.

"Kita tidak bermaksud untuk hidup dimasa lalu, Luce..tapi masa lalu adalah bagian dari masa depan kita. Tidak dapat kita tepis hal itu..benarkan?" Terang Natsu.

"Masa lalu yang pahit hanya pantas dibuang, bukan untuk diingat" ujar Lucy.

"Jadikan hal itu sebagai pelajaran, Lucy"

Lucy dan Natsu pun menoleh saat mendengar suara itu. Mereka mendapati Sting sedang berjalan menghampiri mereka.

"Sting!"

"Setiap keburukan yang ada dimasa lalumu, buatlah itu sebagai pelajaranmu dimasa depan. Agar kita bisa merubah cara kita bereaksi terhadap sesuatu hal. Agar kau tidak mengulanginya dan tidak merasakannya lagi—Kau bisa melupakan kepahitan masa lalumu dengan terus-menerus memasukkan dalam memorimu tentang kenangan yang indah.." Jelas Sting sambil tersenyum.

Lucy tertunduk, kedua tangannya mengepal.

"Kalian..kalian tidak tahu apa-apa! Tentangku, masa laluku, dan juga masa depanku! Kalian tidak tahu! Jadi jangan menceramahiku!" bentak Lucy.

Natsu tersenyum. "Kalau begitu, buat kami merasakannya, mengetahuinya betapa pahitnya masa lalumu, merencanakan masa depan kita bersama..berbagilah dengan kami—aku, Sting, Levy, Erza.."

Sting mengangguk. "Kami ada disini, disampingmu..Lucy.."

Lucy memandangi kedua pemuda yang tersenyum didepannya. Lucy meletakkan kedua tangannya didadanya.

'Ini aneh..' Batinnya.

'Bahkan jika mereka sekarang berkata bahwa bulan itu kotak, aku akan mempercayainya. Mungkin aku sekarang sedang dibawah pengaruh sihir' pikirnya.

"Dan jangan menganggap dirimu tidak berhak untuk dicintai, Lucy" tambah Sting.

"Benar! Kau pantas disayangi, dicintai, dikagumi, Luce..sangat pantas.." Ucap Natsu.

Lucy tertunduk. Ia merasakan dadanya begitu sesak..rasanya ada sesuatu yang ingin sekali meledak dan berhamburan disana-sini. Ia mengangkat wajahnya dan mendapati kedua pemuda dihadapannya telah mengulurkan tangan mereka dan tersenyum padanya.

"Kami—tidak! Kita masing-masing akan membuat hari-harimu lebih berwarna dari hari ini. Bukan hitam, bukan hanya putih, dan bukan abu-abu. Tapi berbagai macam warna, pasti akan mencerahkan hidupmu, percayalah!" Ujar Natsu dengan semangat ciri khasnya yang menggebu-gebu.

Sting mengangguk. "Kami akan melakukannya dengan cara kami sendiri. Kau bisa percaya pada kami, bukan?" Tambah Sting.

Lucy terdiam sejenak, dan tak lama kemudian, ia pun mengangguk dan tersenyum. "Hnn"

Lucy menerima uluran tangan dari Natsu dan Sting. Dari sinilah, kisah hidup Lucy mungkin bisa berubah dengan perlahan-lahan. Lucy sekarang memutuskan untuk percaya akan apa yang dibicarakan oleh kedua pemuda itu. Lucy merasa ia akan percaya sepenuhnya dengan apa yang mereka katakan. Dan Lucy begitu ingin tahu, bagaimana cara mereka untuk membuktikan perkataan mereka..

Erza dan Levy melihatnya dari atas. Mereka tersenyum.

"Syukurlah, Lu-chan.." ucap Levy

Erza mengangguk. "Ayo kita kembali kekelas dan bilang pada Sensei kalau Lucy sedang tidak enak badan"

Levy mengangguk dan mereka pun berjalan beriringan menuju kelas mereka.

XXX

"Tadaima.." Ucap Lucy

Michelle pun menyambut kedatangan Lucy dengan wajah yang ceria. "Okae—eeehhh? Natsu-san? Dan hmm itu siapa ya?" Ucapnya sambil menunjuk kearah Sting.

Lucy menoleh kebelakang dan menghembuskan nafasnya.

"Michelle suruh mereka duduk diam diruang tamu, aku ingin melihat keadaan Ibu dulu" ucap Lucy sambil berjalan meninggalkan Michelle, Natsu dan juga Sting.

Michelle mengangguk. "Natsu-san, dan Mister ganteng, ayo masuk"

Sting ber-sweatdrop saat dirinya dipanggil oleh Michelle dengan panggilan "Mister ganteng".

Natsu dan Sting pun masuk dan duduk diruang tamu. Mereka melihat kesekitarnya, dan terpaku pada figura yang ada foto Ibu Lucy dan Lucy saat kelulusan Lucy. Lucy dengan wajah datarnya sedang memegang piala dan sebuah piagam. Dan dilehernya terdapat sebuah medali. Dan Ibunya tersenyum sambil merangkul Lucy. Natsu pun tersenyum melihatnya.

"Hmm, Natsu-san? Bisakah kau mengenalkanku pada Mister ganteng ini?" Ucap Michelle sambil menunjuk kearah Sting.

"Ah, bocah pirang ini? Namanya Sting" sahut Natsu.

Sting tersenyum melihat Michelle, "Yoroshiku, Michelle-san"

"Kyaaaa...gantengnyaaa~" ujar Michelle sambil berfangirling. Natsu dan Sting pun bersweatdrop.

Lucy menuntun Ibunya keluar dari kamarnya.

"Aku sudah bilang, mereka bukan tamu penting" omel Lucy. Layla hanya tertawa.

"Temanmu itu adalah sesuatu yang penting, sayang" jawabnya.

Natsu dan Sting pun berdiri dan mulai menyapa Ibu Lucy.

"Layla-san!" Panggil Natsu.

Sting hanya merundukkan tubuhnya untuk memberi salam.

"Eh? Natsu-kun? Hisashiburi. Dan ini.." balas Layla sambil memandang bingung kearah Sting. Karena Layla baru pertama kali melihat pemuda ini.

"Hajimemashite, watashi namae wa Sting Eucliffe. Calon pacar Lucy" terang Sting. Lucy tersentak kaget saat mendengar pengakuan Sting, terlihat semburat merah dikedua pipi Lucy.

"Bu—bukan bu, jangan percaya!" Ujar Lucy setengah berteriak. Layla dan Michelle tertawa.

Natsu memandang sinis Sting dan menjitaknya. "Ittttaaaaiii!" Teriak Sting.

"Apa-apaan sih kau ini!" Omel Natsu.

Mereka pun mulai bertengkar.

Layla hanya tersenyum.

"Senangnya bisa mendengar canda tawa didalam rumah ini" ucapnya dengan pelan. Membuat Natsu dan Sting terdiam. Lucy pun menoleh.

"Baiklah..baiklah..ibu harus istirahat. Oke" ucap Lucy. Layla pun menggeleng. "Aku ingin berbincang-bincang sebentar dengan mereka, bolehkan? Natsu-kun? Sting-kun?"

Natsu dan Sting mengangguk. "Dengan senang hati, Ibu mertua" jawab Sting.

Lagi-lagi ia dijitak oleh Natsu.

Layla pun tertawa. Lucy memandang datar Sting dan Natsu.

"Kalian jangan berbuat yang aneh-aneh didepan Ibuku, aku akan buatkan minum dulu" ancam Lucy sambil melangkahkan kedua kakinya meninggalkan ruang tamu.

Michelle pun membantu Layla untuk duduk dihadapan Natsu dan Sting.

"Akhirnya, Lucy membawa temannya kesini" ucap Layla. Michelle pun menoleh dan tersenyum.

"Maksudmu apa, Layla-san?" Tanya Sting yang bingung arah pembicaraan ini.

"Lucy tidak pernah membawa temannya kerumah ini sejak ia pindah kesini. Maka dari itu, aku menjadi khawatir padanya.." Ucap Ibu Lucy, ia terdiam sejenak.

"Ia tidak pernah menceritakan kehidupan disekolahnya yang baru. Apakah ia memiliki teman atau tidak, ia juga tidak memiliki rencana untuk berbelanja bersama-sama dengan teman sebayanya. Itu tidak pernah" tambah Layla yang sekarang sudah tertunduk sedih. Michelle merangkulnya untuk menenangkannya.

"Tenang saja, mulai sekarang. Ia akan memiliki baaannnyyyaaaak teman" sahut Natsu dengan menggebu-gebu.

"Dirumah ini juga akan lebih terdengar canda tawa, seperti yang diinginkan Layla-san" tambah Sting dengan semangat yang tidak kalah dari Natsu.

Layla tersenyum. "Aku titip Lucy pada kalian ya. Natsu-kun, Sting-kun"

Sting dan Natsu mengangguk. "Serahkan saja pada kami!" Sahut mereka dengan bersamaan.

"—Apanya yang diserahkan pada kalian?" Tanya Lucy yang sekarang berjalan sambil membawa sebuah nampan berisikan minuman dan beberapa makanan ringan.

"Ibu menitipkanmu pada mereka, loh. Nee-chan" sahut Michelle sambil dengan nada meledek.

Lucy yang sedang meletakkan makanan dan minuman dimeja pun segera menoleh ke Ibunya.

"Ap-apa!"

Layla hanya tersenyum penuh arti.

"Ibu mau mempunyai menantu seperti Natsu-san dan Sting-san, Nee-chan" ledek Michelle sambil terkikik.

Wajah Lucy pun memerah. "Ap-apa! Michellee!" Teriak Lucy.

Natsu dan Sting melihat ekspresi Lucy yang tersipu malu pun ikut-ikutan blushing.

'Kawaaaiiiiii' batin mereka.

"Ah Ibu..Ibu lihat, Sting-san dan Natsu-san pipinya memerah juga hihi" ledek Michelle.

Mereka semua pun tertawa

'Yokatta-nee..Lucy..' Batin Ibunya.

XXX

Lucy mengantarkan Natsu dan Sting sampai ditempat dimana mobil pemuda-pemuda itu terparkir. Masing-masing dari mereka pun berdiri didepan mobil mereka, Lucy hanya memandangi mereka.

"Baiklah, sampai jumpa besok, Luce" pamit Natsu sambil membuka pintu mobilnya.

"Hnn, Jaa" ucap Lucy dengan datar.

Sting melambaikan tangannya, "Jaa nee"

Lucy pun melambaikan tangannya dan membalikkan tubuhnya.

Sting dan Natsu pun masuk kedalam mobil. Tanpa mereka ketahui, Lucy diam-diam tersenyum tipis. Dihati Lucy, ia akan mengingat hari ini, dimana ia mulai mempercayai bahwa ia dapat bahagia.

Natsu dan Sting yang berada didalam mobil hanya memperhatikan Lucy yang kian lama makin berjalan menjauh. Mereka berdua tersenyum dan menyalakan mobilnya dan melajukan mobil mereka untuk pulang kerumah mereka masing-masing.

XXX

Lucy masuk kedalam rumah dan merapikan dan mencuci gelas-gelas dan piring-piring yang digunakan tadi untuk menjamu Natsu dan Sting. Mendengar kepulangan kakaknya, Michelle pun memeluk Lucy dari belakang.

"Nee-chaaan" panggilnya.

Lucy tersentak kaget dan menoleh sedikit, "Ada apa? Jangan berglendotan seperti ini, kau sudah besar"

Michelle melepaskan pelukannya dan menghadap kakaknya.

"Besok aku akan pulang. Aku harus melaksanakan ujian sebentar lagi dan juga—" Michelle berhenti sejenak, membuat Lucy penasaran.

"Aku akan berusaha untuk masuk kedalam sekolah Nee-chan!" Lanjutnya dengan antusias.

Lucy tersenyum tipis, ia pun menghentikan aktivitas mencucinya dan menghadap Michelle. Ia meletakkan tangannya diatas kepala Michelle dan mengelusnya.

"Baiklah, aku tunggu kau. Ganbatte" ucap Lucy, masih dengan nada datarnya, tetapi Michelle bisa merasakan adanya rasa peduli didalam kalimat itu. Michelle tersenyum dan mengangguk.

"Baiklah, kau harus istirahat kalau memang besok kau pulang. Aku akan bolos besok, untuk mengantarmu ke stasiun" ucap Lucy sambil meneruskan pekerjaannya.

"Eeeehhh? Ti-tidak usah repot-repot Nee-chaaan. Sungguh, aku tidak apa-apa. Aku bisa sendiri" tukas Michelle.

Lucy menoleh, "Aku tidak menerima penolakan dari bocah sepertimu. Udah sana tidur"

Michelle menghela nafas dan tersenyum. "Baiklah..Oyasumi Nee-chan"

"Oyasumi" sahut Lucy.

Lucy mencuci tangannya dan mematikan kran air. Ia menatap keluar jendela yang ada didepannya. Ia tersenyum tipis. Ah—malam ini hanya diteramgi cahaya bulan. Tapi tidak ada bintang, Lucy berpikir, kenapa langit tidak bisa mempersatukan keduanya?—Maksudnya adalah bulan dan bintang. Mereka seperti saling menghindar. Setelah puas dengan lamunannya, Lucy menutup gordyn dan memeriksa pintu apakah sudah dikunci atau belum, setelah itu ia masuk kedalam kamar Ibunya untuk mengecek keadaannya.

"Ibu.." Panggil Lucy dengan pelan.

Lucy tersenyum, "Oyasumi"

Lucy pun menutup pintu kamar Ibunya dan masuk kedalam kamarnya.

Ia berjalan kearah meja belajarnya dan mulai membuka buku pelajaran, dan ia memulai rutinitas malamnya, yaitu belajar.

XXX

Keesokkan harinya, Lucy bangun dari tidurnya. Ia tersenyum.

"Sudah beberapa hari ini aku tidak bermimpi buruk" gumamnya.

Ia mengucek matanya sesekali dan bangkit dari tempat tidurnya. Ia berjalan mendekat kejendela kamarnya dan membuka gordynnya. Sejenak ia memandangi pemandangan diluar jendelanya.

'Ah ya, Michelle' batinnya.

Lucy segera menyambar handuknya dan masuk kedalam kamar mandinya.

Layla sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk putri-putrinya. Wajahnya masih terlihat pucat, tetapi Layla menyembunyikannya karena ia berencana untuk ikut mengantarkan Michelle ke stasiun.

"Ohayou.." sapa Michelle dengan ceria.

Layla menoleh dan tersenyum. "Ohayou. Kau sudah merapikan barang-barangmu?" tanya Layla. Michelle mengangguk.

"Nee-chan belum bangun?" tanya Michelle sambil membantu Ibunya menyiapkan sarapan.

"Mungkin sudah. Kau bisa mengeceknya" sahut Layla.

"Nanti saja deh, aku bantu Ibu dulu" jawab Michelle diselingi senyumannya yang manis.

XXX

"Ibu tidak perlu repot-repot ikut, keadaan Ibu kan juga masih belum membaik" ucap Michelle.

Ibunya yang tidak lain adalah Layla sudah bersiap untuk mengantarkan Michelle ke stasiun kereta bersama dengan Lucy.

"Benar kata Michelle. Ibu dirumah saja" timpal Lucy. Layla pun merengut kesal.

"Kalian ingin Ibu berjamur dirumah sendirian? Tidak, tidak! Ibu juga mau ikut" rengek Layla. Lucy menghela nafas. "Biasanya kan memang kau selalu sendiri, Bu" ucap Lucy dengan datar.

"Aaaah Lucy..Michelleee, Ibu ikut ya. Ibu sudah sehat kok" bujuk Layla sambil menggoyang-goyangkan tubuh Lucy. Lucy menghembuskan nafasnya dan mengangguk.

"Baiklah..baiklah..ayo kita berangkat sekarang" ajak Lucy. Michelle pun mengangkat koper bawaannya. Beberapa langkah Lucy keluar dari rumah, Layla menarik tangannya sehingga membuat Lucy menoleh.

"Ada apa?" tanyanya.

"Apa tidak mau kita berfoto dulu?" tanya Layla sambil memamerkan sebuah kamera digital. Lucy menghela nafasnya.

"Ibu, bisa-bisa Michelle telat naik ke kereta" ujar Lucy.

Michelle yang mendengarnya hanya tersenyum. "Ayo kita foto dulu" ucapnya dengan lembut. Lucy tidak dapat menolaknya dengan alasan apapun. Mereka pun segera masuk kedalam rumah. Lucy mempersiapkan self-timer di kamera tersebut, Michelle dan Layla pun bersiap-siap, Lucy pun menekan tombol dan self timer tersebut mulai berjalan..

"Ayo cepat kemarii!" teriak Layla sambil melambaikan tangannya, begitu juga dengan Michelle. Lucy setengah berlari dan berdiri disebelah Layla. Layla pun tersenyum, Michelle juga begitu, Lucy menoleh kearah mereka dan tersenyum tipis, kemudian ia menghadap kedepan dan tersenyum tipis.

Dan.. Klik!

"Ah sudah yaaa...coba kita lihat" ujar Michelle. Lucy melihat foto tersebut, begitu pula dengan Layla dan Michelle.

"Ah Nee-chan..senyumnya kurang lebaaaar" ujar Michelle.

"Iya ya..apa Ibu sudah cantik disitu? Sepertinya terlihat tua ya haha" timpal Layla.

Lucy dan Michelle memandang Ibunya dengan wajah yang khawatir dan cemas. Michelle akhirnya memeluk Ibunya.

"Ibu tetap Ibu yang paling cantiiiiiik seduniaaa" ucap Michelle dengan riang. Lucy meletakkan kamera digital yang ia pegang dan berdeham.

"Ayo kita berangkat sekarang" ucapnya diiringi anggukan dari Ibunya dan Michelle.

XXX

"LUCYYYYYY!" teriak Natsu tiba-tiba didalam kelas Lucy. Ia tidak menemukan Lucy dikelasnya, sehingga ia histeris seperti itu.

"Natsu! Kenapa kau berteriak-teriak seperti itu! Punya sopan santun dong kalo lagi dikelas lain!" ujar Jellal yang merasa terganggu karena teriakan dari Natsu.

"Jellal...Jellal...dimana Lucy? Kenapa dia gak masuk? Dia sakit? Atau kenapa? Cepat kasih tau akuuuu!" Natsu menggoyang-goyangkan tubuh Jellal dengan keras. Tiba-tiba saja..

Plaaak!

"Ahhh Ittaiii!" keluh Natsu. Natsu menoleh kebelakang dan merasakan aura menyeramkan yang ternyata dari Erza.

"Kau sedang apaaa? Heeeehhhh?!" geram Erza.

Natsu menarik tangan Erza dan menggoyangkan tubuhnya. "Erzaaa! Lucy kemanaaa?! Dia tidak masuk? Kenapa!" histeris nya.

Sting masuk kedalam kelas sambil memakan roti daging yang ada ditangannya yang ia beli dikantin sekolah. Ia mendengar suara Natsu dari luar kelasnya. Ia menoleh dan mendapati Natsu sedang histeris didepan Erza.

"Eh, Natsu-san? Kau sekarang bertambah gila?" tanya Sting dengan polos.

Natsu menoleh dan melepaskan tubuh Erza. Ia menghampiri pemuda tampan yang sedang asyik melongo.

"Dimana Lucy?" tanyanya.

Sting mengangkat bahunya. "Aku tidak tahu, dia tidak ada didalam saku kemejaku dan celanaku. Dan dia juga tidak ada didalam kolong mejaku" jawab Sting.

"Aku serius, baka!" ujar Natsu.

"Aku tidak tahu, aku berencana setelah pulang sekolah akan kerumahnya" jawab Sting.

Natsu berpikir sejenak dan tiba-tiba berlari keluar kelas. Sting memandangnya heran, begitu juga dengan Jellal dan Erza. Erza menghampiri Sting.

"Kau ingin kerumah Lucy setelah pulang sekolah?" tanyanya. Sting mengangguk.

"Kau mau ikut?" tanya Sting.

Erza menoleh kearah Levy. "Bolehkah? Aku dan Levy?"

"Okey" jawab Sting.

XXX

Lucy dan Layla sedang duduk di halte. Mereka tidak melakukan percakapan yang khusus seperti layaknya Ibu dan anak. Layla sesekali melirik Lucy yang sedang memandang kedepan. Lucy pun berdeham.

"Bisa tidak Ibu berhenti memandangiku seperti itu?" tanya Lucy. Layla hanya tertawa pelan. "Kau cantik, Lucy" ujar Layla. Lucy hanya memutar kedua bola mata karamelnya.

"Kita kerumah sakit dulu ya" ucap Lucy dengan datar.

"Untuk apa?" tanya Layla

"Kau harus check up bukan?" sahut Lucy

"Ah—aku tidak apa-apa..benar..sungguh.." ucap Layla. Lucy menggeleng, "Tidak menerima penolakan"

Layla menghembuskan nafasnya.

XXX

Layla menjalani CT-Scan untuk melihat sejauh mana kanker yang dideritanya menyebar. Lucy melihatnya dari ruang tunggu. Lucy menggenggam kedua tangannya yang gemetar. Ia diam-diam berdoa, ia ingin—setidaknya kanker Ibunya tidak menyebar lebih lagi.

Setelah 30 menit berlalu, Layla masih diperiksa dan Lucy pun berhadapan dengan Dokter yang menangani penyakit Layla.

"Lucy-san. Kanker Ibumu sudah separah ini, kenapa baru check-up sekarang? Beliau harus dirawat intensif—" belum selesai Dokter menjelaskan, Lucy sudah memotongnya. Tangan Lucy bergetar hebat. Ia menggenggam tangannya, mencoba untuk tenang.

"Seberapa parah keadaan Ibuku?" tanya Lucy dengan datar.

Dokter terdiam dan tertunduk. Lucy tahu jawabannya jika melihat dari ekspresi Dokter didepannya itu. Lucy menggigit bibir bawahnya, sekarang bukan hanya tangannya yang gemetar, tetapi seluruh tubuhnya, giginya pun bergemeletuk. Ia merasakan sesak didadanya. Ia ingin menangis. Ia ingin berteriak. Kenapa tuhan tidak adil padanya?

"Lalu bagaimana, Dok?" tanya Lucy dengan suara yang bergetar.

Dokter diam sejenak. "Beliau harus segera dirawat disini, disini ia dapat perawatan yang intensif" terang sang dokter.

Lucy tertunduk. "Dokter..apa—apa Ibuku benar-benar sudah tidak bisa diselamatkan lagi? Aku mohon, apapun caranya itu..buat dia—dia sembuh.." pinta Lucy dengan suara bergetar.

Dokter itu pun bangkit berdiri dan berjalan untuk menenangkan Lucy.

"Lucy-san..Maafkan aku..Aku sudah bisa melakukan sebisaku. Dan memang belum ada penelitian yang menyatakan kalau kanker otak stadium tinggi ini bisa disembuhkan..Maafkan aku.." ucapnya sambil menepuk bahu Lucy dengan pelan beberapa kali.

XXX

"Ah akhirnya sampai dirumaaaah" ucap Layla sambil merentangkan tangannya.

"Lucy, kau mau makan malam apa? Apa kita makan diluar saja ya?" tanya Ibunya. Lucy hanya memandang Ibunya dengan sendu.

"Ibu diam saja dirumah, aku yang belikan makanan. Memang mau makan apa?" tanya Lucy.

"Hmm apa ya...Apa saja deh hehe" jawabnya. Lucy mengangguk.

"Istirahat dikamar. Jangan melakukan apapun. Sampai aku kembali kau sedang melakukan sesuatu, awas saja" ancam Lucy sebelum menutup pintu rumahnya. Layla mengangguk dan melambaikan tangannya.

Layla masuk kedalam kamarnya. "Ibu tahu, kau mendengar berita buruk lagi kan hari ini?" gumamnya. Layla pun menangis.

XXX

Lucy berjalan untuk mencari pedagang makanan, saat ia menoleh dan mendapati Natsu, Sting, Erza, dan Levy sedang berjalan kearahnya. Lucy memakai hoddie jaketnya dan memasukkan tangannya kedalam saku jaket dan menunduk. Sebenarnya untuk apa Lucy melakukan itu, sedangkan ia juga akan bertemu mereka nanti dirumah.

Tiba saatnya Lucy berpapasan dengan mereka. Natsu menoleh kebelakang dan memandang seseorang yang lewat dengan pakaian yang aneh.

"Lucy?" panggil Natsu, sehingga membuat Erza, Levy, dan Sting menoleh.

Lucy pun mendecih dan mau tidak mau ia harus menoleh kebelakang.

"Ngapain kau berpakaian seperti itu?" tanya Natsu.

"Tidak apa-apa. Aku mau mencari makanan untukku dan Ibuku" jawab Lucy seadanya sambil membuka hoddienya.

"Ah kalau begitu, kami ikut ya, Lu-chan" ucap Levy. Lucy mengangguk. "Ayo"

XXX

"Tadaima.." Ucap Lucy. Teman-temannya pun yang ada dibelakangnya.

"Ayo masuk" Lucy masuk kedalam rumahnya, dan membuka pintu kamar Ibunya. Ia melihat Ibunya sudah terlelap tidur. Ia menutup pintunya kembali.

Lucy memandang teman-temannya yang masih berdiri.

"Kalian tidak ingin duduk? Duduk saja disana, akan aku buatkan minum" ucap Lucy sambil berjalan kedapur.

Levy, Erza, Sting, dan Natsu pun duduk. Levy dan Erza yang baru pertama kali kesana pun menoleh kesana kemari.

Natsu menyikut tangan Erza. "Kau seperti mau mencuri sesuatu dirumah ini" bisik Natsu. Alhasil, Natsu mendapat jitakkan maut. Levy dan Sting pun terkikik.

Lucy meletakkan minuman yang sudah dibuatnya dimeja ruang tamu.

"Silahkan" ucap Lucy.

Levy, Erza, Sting, dan Natsu segera meminumnya.

"Jadi untuk apa kalian kemari?" Tanya Lucy.

"Ibumu kemana?" Tanya Sting.

"Istirahat" jawab Lucy seadanya.

Levy meletakkan mug diatas meja dan tersenyum. "Kau tahu Lu-chan, Natsu dan Sting sangat khawatir denganmu yang tidak masuk kesekolah hari ini. Ya walaupun aku dan Erza juga khawatir. Tapi mereka berdua menjadi gila tidak ada kau" terang Levy.

"Bukannya mereka memang sudah gila? Jadi apa kegilaan yang telah mereka lakukan?" Tanya Lucy dengan datar.

"Lucy jahat!" Seru Sting.

Lucy meletakkan jari telunjuknya dibibirnya. "Jangan keras-keras, nanti ibuku bangun"

"Ups, sorry. Darling" ucap Sting.

"Jangan memanggilku seperti itu" tukas Lucy.

"Memangnya kenapa kau tidak masuk sekolah?" Tanya Erza.

"Loh? Dimana Michelle? Daritadi tidak kelihatan" ucap Natsu sambil celingak-celinguk.

"Itu dia. Hari ini aku mengantar Michelle ke stasiun karena ia akan pulang kerumahnya" jawab Lucy.

Natsu dan Sting mengangguk-angguk. Sedangkan Levy dan Erza tidak mengerti.

"Michelle? Siapa dia?" Tanya Erza. Lucy menoleh. "Dia adikku" jawab Lucy.

"Kau punya adik?" Tanya Levy dengan riang. Lucy mengangguk.

"Tapi..kenapa kau bilang tadi-" ucapan Erza dipotong oleh Lucy.

"Keluarga kami berpisah. Ia bersama dengan Ayahku, dan aku bersama dengan Ibuku. Sudah jangan dibahas lagi" ucap Lucy dengan datar.

Levy dan Erza mengangguk mengerti dan tersenyum, Mereka berpikir, Lucy sudah bisa terbuka dan mulai menceritakan tentang kehidupannya dengan mereka. Sebenarnya mereka juga prihatin dengan Lucy, setelah mengetahui keadaan dan kondisi keluarga Lucy.

Setelah itu pun, mereka pun menghabiskan waktu dengan mengobrol dan bersenda gurau. Canda tawa terdengar di seisi rumah Lucy.

Didalam kamar Layla, Layla sudah terduduk ditempat tidurnya dan bersandar. Ia sedang tersenyum. Ia turut senang Lucy telah mempunyai teman dan telah membuka hatinya kembali secara perlahan. Layla benar-benar merindukan keceriaan dari putri sulungnya itu.

.

.

.

.

.

.

To be continued

YOOSHHH! AKHIRNYA SELESAI JUGA CHAPTER INI! FYUUUH

YOYOYOYOWW KETEMU LAGI DENGAN AUTHOR CACAT YANG SUKA GAJELAS INI YUHUUUU~~~

Gomenne baru bisa update sekarang, karena author abis liburan bersama keluarga untuk merayakan kelulusan author yeaaayyy! dan disana juga author ga bawa laptop dan modem, lebih tepatnya gaboleh sama ortu author-_- jadi mohon dimaklumi yaaa atas keterlambatannya~~~

Nah, para readers! bagaimana dengan chapter kali ini? kurang maksimal? emang iya sih huuuhfftt gomenasaiii-_-v

Tolong direview aja yaaahh~~

Nah, sekarang author bakal bales review dari chapter kemaren, Okeeyy!

ft-fairytail : Hehehe makasih! nah udah update nih yang selanjutnya, Bagaimana? XD

zuryuteki : Hehe baguslah kalau chapter kemarin sudah bagus hehehe, nah nih chapter selanjutnya. Bagaimana?! XD

Fani Shuuya : Hehe makasih looh udah muji dan bersedia nunggu cerita ini update! :D

juanda_blepotan : Hmm mavis bukan tuhan, dia itu kan penyihir hahaha ,v

bean_d_thruston : Gomen baru bisa update, tapi makasih ya. Nah ini sekarang udah update, silahkan dibaca ya XD

Oke deh udah semua dibales.. jadi, masih penasaran sama cerita selanjutnya? ada kritik dan saran? masukin aja dikotak review ya dan tunggu kelanjutannya :D

Author gak ngomong banyak-banyak deh, segini aja dulu. Jika ada salah penggunaan kata, kalimat atau typo lainnya, harap dimaklumi dan dikoreksi aja, author akan lebih senang seperti itu :D makasih juga ya yang udah baca dan juga review.. hontouni arigatou~~

Author pamit undur diri dulu deh..

Jaa ne,

Yusa-kun