Fairy Tail © Hiro Mashima

A Fairy Tail Fanfiction

Between Us

By Yusa-kun

Warning : AU, Typo(s), OOC.

.

.

.

.

.

Dipagi harinya, dan seperti pagi-pagi biasanya, Lucy berjalan dikoridor sekolahnya. Melewati beberapa siswa yang sudah datang lebih dulu darinya yang sekarang sedang sibuk membicarakan tentang dirinya. Lucy tidak terlalu ambil pusing dengan apa yang dikatakan oleh mereka. Lucy terus berjalan sampai ia tersentak kaget saat ia dirangkul seseorang. Lucy menoleh dan melihat Sting sudah cengar-cengir tidak jelas dihadapannya.

"Ohayooouuu" sapa Sting dengan semangat.

Lucy melepaskan rangkulan Sting dan kembali menatap kedepan. "Ohayou"

"Ah, kau tidak semangat sekali sih" protes Sting.

"Biasa saja" jawab Lucy seadanya.

"Tidak-tidaaaak! Kau harus lebih bersemangat menjawab sapaanku dipagi hari yang cerah ini" ucap Sting yang sekarang sudah berada didepan Lucy dan berjalan mundur.

"Lalu? Aku harus bagaimana? Melompat-lompat? Berguling-guling?" Tanya Lucy dengan datar.

Sting masih tetap berjalan mundur, ia tidak peduli dengan siswa yang membicarakannya.

"Ya tidak seperti itu juga sih, ah sudahlah percuma berbicara padamu" Sting pun merengut. Sesaat kemudian dia pun ceria kembali "Ah, tapi aku tetap menyukaimu kok, Lucy"

Siswa yang mendengarnya tercengang dan mulai berbisik.

"Pernyataan cinta dipagi hari?"

"Apa yang dipikirkan oleh Eucliffe-san sih"

"Ah aku patah hati, ternyata dia menyukai gadis jutek itu"

Lucy menoleh sana-sini dan menghela nafas.

"Maaf saja, Sting. Tapi aku tidak suka pemuda sepertimu yang berjalan mundur. Normal lah sedikit" ujar Lucy. Sting pun sadar kalau ia berjalan mundur dan berhenti sejenak. Lucy pun berjalan tanpa menghiraukannya.

"Kejamnya Lucyyyyyyy..." Teriak Sting sambil mengejar Lucy.

Lucy membuka pintu kelasnya dan disambut oleh kedua sahabatnya yaitu Levy dan Erza.

"Ohayou, Lucy, Sting" sapa Erza

"Ohayouuu Lu-chan~ Ah ada Sting-kun. Ohayouuu" sapa Levy.

Lucy meletakkan tasnya dan duduk ditempatnya. "Ohayou"

Sting juga duduk ditempatnya. Sting merengut kesal pada Lucy. Lucy menoleh sedikit dan sedetik kemudian membuang mukanya. Sting yang melihatnya hanya mengacak-acak rambutnya, frustasi.

Levy dan Erza tertawa.

"Ada apa denganmu dan Sting-kun, Lu-chan?" Tanya Levy sambil memandang Lucy dan Sting bergantian.

"Hmm tidak ada apa-apa" tukas Lucy.

"Lalu kenapa dia terlihat stress dan frustasi sekali?" Tanya Erza sambil melihat keadaan Sting yang semakin memburuk.

"Dia kan memang sudah stress dari pertama kali pindah kesini" sahut Lucy dengan spontan. Sadar akan ucapannya, Lucy pun menutup mulutnya dan melihat Erza dan Levy secara bergantian. Levy dan Erza melongo. Mereka berpikir nada suara Lucy mulai berubah. Tidak datar. Tidak dingin. Levy dan Erza terkikik.

"Kau lucu sekali, Lu-chan" ucap Levy

Erza mengangguk. "Iya benar kau lucu sekali"

Lucy mulai merengut. "Urusai" ucapnya dengan pelan.

Levy dan Erza tidak berhenti tertawa. Dan akhirnya Levy kembali mulai dengan percakapan.

"Lu-chan, pulang sekolah apa kau ada waktu? Hmm aku ingin meminta tolong padamu hehe" ucap Levy. Lucy menoleh. "Tolong apa?"

"Ada anak kelas lain yang memintaku untuk mengajarinya kimia. Hmm aku kan kurang di pelajaran itu. Bagaimana kalau kau ikut mengajarinya? Yayaya? Pleaseeee" Levy menepuk kedua telapak tangannya dan memasang wajah memelas pada Lucy. Lucy melongo dan berpikir sejenak.

"Aku bisa, tapi jangan sampai terlalu sore. Aku masih ada urusan yang harus dikerjakan" jawab Lucy.

Levy berjingkrak-jingkrak kegirangan saat Lucy menerima tawarannya.

"Arigatou, Lu-chaaaan..aaaah kau baik hati sekali~" puji Levy sambil memeluk Lucy.

"Ha'i ha'i" sahut Lucy.

"Memangnya siapa yang minta diajarin denganmu, Levy?" Tanya Erza penasaran.

"Hmm Juvia" jawab Levy.

"Ah dia. Aku ikut ya" pinta Erza. Levy mengangguk-angguk senang.

"Asiiiik kita bisa berkumpul~" ucapnya dengan riang. Erza hanya tersenyum. Lucy pun memandang Levy yang kegirangan hanya tersenyum tipis.

Tidak lama kemudian, bel masuk pun berbunyi. Levy dan Erza kembali ketempat duduk mereka dan salah satu guru pun memasuki kelas. Mereka semua mulai belajar.

XXX

Waktu tidak terasa berlalu dengan cepat. Lucy membereskan buku-bukunya kedalam tas dan menoleh kearah Levy dan Erza yang sudah menunggunya didepan kelas. Ia pun berjalan menghampiri mereka.

"Jadi kan?" Tanya Erza. Levy mengangguk disusul oleh Lucy yang mengangguk pelan.

"Ayoo, dia sudah menunggu di kafe dekat sekolah" ucap Levy.

Levy, Erza dan Lucy pun berjalan meninggalkan sekolah dan menuju cafe yang dimaksudkan.

XXX

Sekarang Lucy sedang sibuk memijat keningnya. Ia merasa pening dengan suasana yang ada dihadapannya. Dia berpikir, dia sudah salah mengambil keputusan.

Baiklah, author perjelas. Sekarang Lucy sudah sampai di dalam kafe yang dimaksud. Ia tidak menyangka kalau bukan hanya satu orang yang meminta tolong pada Levy. Tetapi...

"Luce..kau kenapa?" Tanya Natsu yang duduk dihadapannya.

"Bolehkah aku pulang Levy-chan?" Tanya Lucy yang tidak menghiraukan Natsu.

"Ah kejamnyaa~ Kau diacuhkan tuh hahaha" ledek Gajeel ditambah dengan ledakan tawa dari Gray. Natsu pun dengan cepat menjitak kedua pemuda yang meledeknya.

Lucy menghela nafas. Juvia melihat Lucy yang seperti itu pun, jadi merasa bersalah, dan mengingat kejadian saat dimana Natsu cs meminta ikut belajar dengan Lucy.

Flashback

"Graaaayyyy samaaaa~ ayo kita makan bekal bersamaaa~" ucap Juvia, seperti biasanya.

Gray yang sedang membereskan bukunya pun menoleh dan menghela nafas.

"Aku akan makan dikantin, Juvia" sahut Gray.

Natsu menghampiri Gray. "Kau jahat sekali, Ice-head. Menolak bekal dari seorang gadis itu dosa" ucap Natsu.

"Diam kau, Flame-head!" Tukas Gray.

"Benar Gray-sama~ kau tidak boleh menolak bekal buatanku..ayo kita mak—" belum selesai Juvia berbicara, ponsel Juvia pun berbunyi. Juvia pun mengangkatnya.

"Moshi-moshi? Ah Levy-san. Ya? Benarkah? Siapa? Bersama Erza dan err Lucy-san?" Ucap Juvia

Mendengar nama Lucy pun Natsu langsung mendekati Juvia dan mencuri-curi untuk mendengar.

"Ah baiklah, tidak apa-apa. Arigatou, Levy-san. Oke, Jaa nee" Juvia pun menutup teleponnya dan memandang aneh Natsu.

"Ada apa Natsu-san?" Tanya Juvia.

"Tadi kau menyebut nama Lucy? Ada apa? Kalian mau apa?" Tanya Natsu.

Gajeel pun mendekat. "Dan yang tadi menelponmu itu si kecil kan? Ada apa? Cepat beritahu aku" timpal Gajeel.

Juvia hanya memandang Natsu dan Gajeel bergantian dan tersenyum.

"Besok Juvia ada ulangan kimia, Juvia kan tidak terlalu pandai dalam pelajaran itu, jadi Juvia meminta tolong pada Levy-san, eh ternyata Levy-san pun kurang dalam pelajaran itu, dan akhirnya Lucy-san ikut untuk membantu" jelas Juvia. Mata Gajeel dan Natsu pun berkilauan.

"Aku ikut yaa!" Ujar mereka secara bersamaan.

Gray bersweatdrop melihat tingkah teman-temannya.

"Hey untuk apa kalian ikut, besok kita tidak ada pelajaran kimia, tahu" ucap Gray.

Gajeel dan Natsu pun menoleh, "URUUSAAII" geram mereka. Gray kembali bersweatdrop.

"Aku ikut ya Juvia, pleaseeeee" pinta Natsu sambil memasang wajah memelas. Gajeel pun tidak kalah memelasnya. Bayangkan saja, wajah preman tetapi sekarang ia lagi memohon-memohon dengan muka melas.

"Ada 1 syarat tapi.." Ucap Juvia.

"Apa itu?" Tanya Gajeel.

"Gray-sama harus ikuuut~" sahut Juvia sambil menoleh kearah Gray dan tersenyum.

Natsu dan Gajeel pun dengan cepat menyambar Gray.

"Ice-head! Kau harus ikut! Tidak mau tahuuu!" Desak Natsu sambil menarik tangan Gray yang sebelah kanan.

"Iya, Gray! Kau harus ikut, biar kami bisa ikut!" Timpal Gajeel yang sekarang menarik tangan kiri Gray.

"Aaaahhhh! Sakit! Bodoh..bodoh! Lepaaasss!" Gray menyentakkan tangannya dan menoleh secara bergantian kearah Natsu dan Gajeel.

"Yasudah aku ikut" jawabnya.

Gajeel dan Natsu pun menari-nari tidak jelas, kadang melompat-lompat, berguling-guling. Hey, itu sungguh berlebihan.

"Baiklah, kalian boleh ikut.."

Flashback off

"Maafkan Juvia ya, Lucy-san." ucap Juvia dengan takut-takut.

Lucy menoleh, "Untuk apa kau meminta maaf?"

"Untuk mereka" Juvia menjawab sambil menunjuk para pemuda yang sedang ribut-ribut. Lucy melirik dan kembali memandang Juvia. "Tidak apa-apa"

Erza pun berdeham membuat para pemuda itu terdiam ketakutan, sedangkan Levy dan Juvia hanya terkikik melihat kelakuan mereka. Lucy hanya melirik sekali dan menyesap minuman yang ada didepannya.

"Kalian kesini mau main atau belajar?! Haaahhh!" Geram Erza.

"Be—be—belajar, Buuu!" Jawab mereka.

Lagi-lagi ledakan tawa dari Levy dan Juvia terdengar.

Erza meletakkan tangannya didepan dadanya dan mulai menceramahi Natsu, Gajeel, dan Gray. Lucy melirik Natsu sesekali dan saat itu pula Natsu sadar kalau ia diperhatikan oleh Lucy. Lucy tersentak dan membuang mukanya. Natsu hanya tersenyum.

"Kenapa kau senyum-senyum?" Tanya Erza. Natsu menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Karena ada yang lucu? Hehe"

Bletak!

Benjolan besar pun tumbuh dikepala Natsu. Gray dan Gajeel menahan tawanya dan saat itu pula mereka mendapat jitakkan maut dari Erza.

Lucy melirik jam tangannya lalu memandang keluar jendela.

"Ayolah, jika kalian hanya ingin bermain, aku tidak punya waktu. Aku harus mengurusi urusanku" ujar Lucy tiba-tiba membuat semua orang menoleh.

"Ah ya, yasudah ayo kita mulai belajarnya" ucap Levy. Erza dan Juvia mengangguk, diikuti para pemuda.

"Dia menyeramkan" bisik Gray pada Natsu. Bisikan itu terdengar oleh Lucy, Lucy menoleh dan menatap Gray dengan sinis.

"Maaf saja kalau aku menyeramkan" ucap Lucy. Gray tersentak kaget dan tertawa kaku. Natsu pun tertawa begitu juga Gajeel.

"Ah tunggu-tunggu! Kita semua kan belum kenalan" ucap Erza. Lucy menghela nafas.

"Namaku—" ucapan Lucy terpotong oleh Natsu.

"Kau tidak perlu mengenalkan diri Luce. Semua orang mengenalmu" ucapnya.

"Hnn baiklah"

"Hmm ini pemuda yang ganteng sedunia ini adalah Gray-sama kuuu~" ucap Juvia sambil menunjuk kearah Gray.

"Ah, jadi dia kekasihmu?" Timpal Lucy dengan datar.

Gray melambai-lambaikan tangannya, bermaksud untuk bilang bukan. Tapi segera ditepis oleh Juvia yang berglendotan pada Gray. Lucy pun memutar kedua bola matanya.

"Nah, yang ini nih, namanya Gajeel-kun. Walaupun tampangnya seram, tapi dia baik hati kok" ucap Juvia sambil menunjuk kearah Gajeel.

"Apa-apaan dengan perkenalanmu, Juvia!" Protes Gajeel. Levy terkikik.

"Diam kau kecil!" Ujar Gajeel.

"Nah kau sendiri, namamu siapa?" Tanya Lucy sambil menunjuk Juvia.

Juvia tersenyum, "Juvia Locksar, dari kelas 1-C. Senang berkenalan denganmu Lucy-san. Mohon bantuannya" ucap Juvia sambil tersenyum.

"Kau manis sekali" puji Lucy dengan nada yang datar, pujian tersebut membuat Juvia blushing dan membuat semua orang menoleh kearah Lucy. Lucy menjadi bingung.

"Ada apa? Aku salah ngomong?" Tanya Lucy.

"Ah tidak-tidak, tidak ada yang salah" ucap Natsu.

"Masa cuma Juvia-chan doang yang dipuji, Lu-chan jahaaatttt" rengek Levy. Lucy tersenyum tipis.

"Baiklah..baiklah..ayo kita mulai" ajak Lucy.

XXX

Mereka pun mulai belajar diajari oleh Lucy, Levy dan Erza. Karena mereka bertiga dari kelas unggulan, yaitu 1-A. Sedangkan Juvia dari kelas 1-C dan Natsu, Gajeel, Gray dari kelas 1-D.

"Ah, Luce. Caranya begini bukan?" Tanya Natsu sambil maju sedikit dan memperlihatkan bukunya pada Lucy. Lucy pun melihat dan mencoret-coret buku tersebut.

"Jangan pakai cara yang ini, yang ini sulit, pakai yang ini saja..." Lucy mulai menuliskan rumus yang dianggapnya mudah.

"Tapi nanti hasilnya sama kan?" Tanya Natsu sambil menoleh kearah Lucy. Lucy menoleh dan tersentak kaget saat melihat wajah Natsu dekat dengannya. Semburat merah pun muncul dikedua pipi anak remaja tersebut.

"Sa-sama" jawab Lucy sambil berusaha menyembunyikan wajahnya.

'Astaga..tadi dekat sekali' batin Natsu

Natsu memandang Lucy yang sekarang sedang sibuk mengajari Gray. Natsu pun tersenyum.

"Hey Gray, jangan dekat-dekat!" Ujar Natsu. Lucy dan Gray menoleh.

"Memangnya kenapa? Apa salah aku minta ajari Lucy?" Tanya Gray.

"Ya tapi jangan dekat-dekat begitu. Tangannya pake sentuh-sentuhan segala, nanti Lucy bisa rabies" ujar Natsu. Gray menahan amarahnya dan melirik kearah Lucy, sedangkan Lucy menaikkan sebelah alisnya.

"Sini aku bisikan sesuatu" ucap Gray pada Lucy.

"Ha?"

"Sini.."

Lucy pun mendekat dan mendengar bisikan Gray. Matanya membelalak dan memandang Natsu.

"Aaah Gray-sama~ aku juga ingin dibisikin seperti love rival" ujar Juvia.

"Love rival?!"

"Lucy-san adalah love rivalnya Juvia" ucap Juvia.

Lucy bersweatdrop. "Maaf saja, aku tidak tertarik pada pemuda ini" sahut Lucy sambil menunjuk kearah Gray. Setelah mengatakan hal itu, Lucy mulai membereskan buku-bukunya dan berpamitan.

"Sudah waktunya aku pulang. Jaa" pamitnya.

Lucy keluar dari kafe dan berjalan dengan cepat untuk menjauhi kafe tersebut. Langkahnya mulai cepat dan ia pun berlari.

"Natsu itu sebenarnya menyukaimu, dari dulu"

Kata-kata yang dibisikkan Gray terus-menerus terngiang ditelinga Lucy. Entahlah ia harus percaya atau tidak dengan perkataan Gray.

"Aku tidak mungkin menyukainya"

Lucy pun teringat kata-kata yang diucapkan Natsu saat SMP dulu bahwa ia tidak akan menyukai Lucy.

Lucy berhenti berlari dan berjalan pelan. Ia berjalan sambil tertunduk sampai pada ia menabrak seseorang.

"Ah sumimasen, gomenasai" ucap Lucy sambil merundukkan kepalanya.

"Ah baju ku. Kau apakan bajuku?! Lihat, gara-gara kau menabrakku, bajuku kotor seperti ini!" omel sosok itu. Lucy menengadahkan wajahnya dan melihat sosok tinggi besar. Menyeramkan.

"Gomen. Aku akan membayar laundry untuk bajumu" ucap Lucy.

"Apaa! Enak saja! Aku ada rapat sekarang, mana sempat untuk laundry! Dasar gadis bodoh!" Sosok itu sudah mau memukul Lucy, Lucy pun sudah pasrah saat sampai pada..

"Maaf tuan, kau tidak boleh melakukan kekerasan pada gadis" Lucy tahu suara itu. Lucy familiar dengan suara itu. Lucy segera membuka matanya dan membelalakkan matanya.

"Sting.."

Sting berdiri didepannya sambil menahan tangan sosok menyeramkan itu. Sting tidak berpakaian seragam sekolah, ia sudah mengganti dengan T-shirt berwarna merah dan jeans hitam.

Sting menoleh kebelakang dan tangannya yang bebas menarik tangan Lucy. Ia melepaskan tangan sosok itu dan mulai kabur berlari dengan Lucy.

Lucy pun ikut berlari secepat ia bisa, Sting tertawa-tawa sambil menoleh kearah Lucy.

"Menyenangkan bukan?" Tanya Sting sambil terus berlari. Lucy tidak menjawabnya dan menoleh kebelakang.

"Orang itu mengejar kita" ucapnya.

Sting mendecih dan berlari diikuti Lucy. Lucy dan Sting mengeratkan genggaman tangan mereka sambil terus berlari. Sampai merasa sosok itu sudah tidak mengejar, Lucy dan Sting pun bersandar ditembok, dimana ada gang sempit diantara toko-toko.

"Hah..akhirnyah..hah..dia..tidak ..mengikuti kitahh..hah.." Ucap Lucy tersengal-sengal.

Sting berdiri dihadapannya. Lucy melihat kedua kaki Sting dan mengangkat wajahnya.

"Arigatou" ucap Lucy dengan pelan. Sting tersenyum dan menyelipkan rambut Lucy. Lucy pun blushing. Jujur saja, detak jantung Lucy mulai tidak normal.

"Nah, kan jadinya aku bisa melihat wajahmu" ujar Sting sambil tersenyum.

Lucy hanya memandangnya, tidak dipungkiri sekarang Lucy merasakan wajahnya memanas.

"Ak—aku pergi bekerja dulu" pamit Lucy tapi ditahan oleh Sting yang menarik tangannya sehingga Lucy jatuh kepelukan Sting.

"Kau bisa mendengar detak jantungku?" Tanya Sting. Lucy terdiam, memang benar Lucy bisa mendengar detak jantung Sting. Sangat cepat.

"Kau ini habis berlari, makanya detaknya seperti ini" ucap Lucy sambil meronta minta dilepaskan. Sting malah mengeratkan pelukannya.

"Tidak. Ini karena dirimu, Lucy" gumam Sting tapi terdengar oleh Lucy. Lucy mengangkat wajahnya dan memandang Sting.

"Aku..aku benar-benar menyukaimu..bagaimana ini.." Ucapnya. Lucy tidak percaya apa yang dilihatnya sekarang, Sting sangat berbeda. Ia blushing?

Lucy tidak tahu harus berbuat apa dan mengatakan apa. Ia membeku untuk beberapa detik.

"Padahal aku tahu..kau dan Natsu-san.." Sting tidak melanjutkan perkataannya dan melepaskan pelukannya.

Lucy bersandar di dinding dan memandang Sting. "Kenapa dengan aku dan Natsu?" Tanya Lucy.

"Dimasa lalu, kalian ini terhubung, benarkan? Ada masalah kalian yang belum diselesaikan bukan? Kalian saling menyukai kan?" Tanya Sting.

Lucy mendecih. "Jangan bertanya tentang kehidupan pribadiku, Sting"

"Beritahu aku..beritahu aku perasaanmu padanya sekarang..aku merasa bimbang..aku benar-benar menyukaimu, aku ingin melindungimu, membuatmu bahagia..aku..aku.." Sting berhenti sejenak.

"Aku ingin menjadi seseorang yang kau cintai, Lucy" tambahnya. Lucy tersentak kaget dan kemudian menundukkan kepalanya.

"Entahlah, aku tidak ingin memikirkan hal itu dulu. Aku pamit dulu. Jaa" Lucy berjalan meninggalkan Sting yang terdiam. Sting meninju dinding yang ada didepannya.

XXX

Lucy berjalan menuju ke halte bus. Ia berjalan dalam diam, pikirannya menerawang jauh. Ia selalu mengingat kejadian tadi bersama dengan Sting. Entah kenapa, ia merasakan detak jantungnya menjadi lebih cepat, jika mengingat hal yang tadi. Belum lagi, ia memikirkan kata-kata Gray yang mengatakan bahwa Natsu menyukainya dari dulu.

"Apa-apaan sih mereka.." Gumam Lucy.

Bus yang ditunggu oleh Lucy pun tiba, Lucy masuk kedalam dan duduk dibangku paling belakang. Lucy melihat keluar jendela bus. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali.

"Ibu..ya aku harus memikirkan Ibu.. Aku harus mencari pekerjaan lain untuk biaya rawat Ibu" Gumamnya.

XXX

Layla sedang membereskan rumah, ia memutuskan untuk kembali bekerja hari ini. Ya walaupun putrinya akan mengamuk dan berubah menjadi monster. Tapi ia tetap keukeh untuk bekerja.

Setelah selesai, Layla pun bersiap-siap. Pada saat sampai didepan pintu rumah, saat ia ingin membuka pintu, tiba-tiba Layla merasakan pusing dan pening dikepalanya. Tiba-tiba darah pun keluar dari hidungnya, menyadari hal itu, Layla pun berjalan dengan gontai sambil memegangi kepalanya.

"Tidak..aku..harus..ku—" belum menyelesaikan kalimatnya dan baru saja beberapa langkah, ia pun jatuh pingsan.

XXX

Lucy yang sedang membereskan barang ditoko pun tidak sengaja menjatuhkan barang yang akan di display.

Lucy merasakan perasaan yang aneh saat ini. Dadanya. Entah lah tapi ia segera menepis rasa itu dan mulai melanjutkan pekerjaannya.

XXX

"Sting-kun"

Sting menoleh dan tersenyum.

"Oyaji" ucapnya.

Terlihat sosok yang gagah dan terlihat bijaksana sedang berjalan mendekati Sting.

"Bagaimana sekolah barumu? Menyenangkan?" Tanyanya dengan suaranya yang berat.

Sting mengangguk.

"Sudah mendapatkan pacar?" Tanya Ayahnya sambil tertawa.

"Oyaji.."

"Oh ayolah Sting-kun. Kau ini sudah 16 tahun, kau sudah boleh berpacaran. Lalu apa yang membuatmu single sampai detik ini?" Tanya Ayahnya dengan nada meledek.

"Bukannya aku tidak laku atau apa. Aku ini anakmu, tidak mungkin aku tidak laku. Hanya saja..gadis yang aku sukai sedikit unik hehe" terang Sting.

Ayah Sting pun menaikkan sebelah alisnya. "Unik? Kenapa unik?"

"Kau tahu tidak, kalau dia itu salah satu karyawan dikantor kita, teruuuss dia itu siswi berprestasi dan memiliki wajah yang cantik..tapi..." Sting berhenti sejenak untuk mengambil nafas, dan itu membuat Ayahnya makin penasaran.

"Tapi apa?"

"Dia punya kehidupan yang keras sepertinya.." Tambah Sting.

"Tunggu dulu! Karyawan kantor kita? Siapa dia? Namanya?" Tanya Ayahnya dengan antusias.

"Hmm dia hanya karyawan kebersihan saja. Namanya Lucy. " sahut Sting.

"Ah aku kenal dia, gadis itu..yang memiliki rambut panjang pirang kan?" Tanya Ayahnya untuk meyakinkan.

Sting tersentak kaget. "Kau mengenalnya? Bagaimana bisa?"

"Dia waktu itu menolongku saat aku collapse. Dan saat aku cari tahu, dia itu seumuran denganmu" jelas Ayahnya.

Sting hanya ber-oh ria. Ayahnya menyeringai kepadanya dan menepuk bahu putranya.

"Bagus..baguss! Aku setuju jika kau pacaran dengan gadis itu! Kau harus mendapatkannya ya!" Ayah Sting memberikan semangat untuk putranya.

"Hehehe" Sting hanya cengar-cengir tidak jelas.

XXX

Lucy sedang bekerja membersihkan toilet kantor. Ia sesekali mengelap keringatnya dengan lengannya dan juga terkadang menghirup nafas.

Setelah beberapa lama, Lucy pun menyelesaikan pekerjaannya dan mencuci tangannya. Ia menatap dirinya didalam cermin.

"Yosh! Mulai besok aku harus cari pekerjaan lain" ucapnya.

Ia pun keluar dari toilet dan segera mengganti pakaiannya, kemudian dia pulang kerumahnya.

XXX

"Tadai—" belum menyelesaikan kalimatnya, Lucy yang berada didepan pintu rumahnya dan sedang memegang knop pintu pun membelalak kaget saat melihat Ibunya terbaring dihadapannya.

"Ibuuu!" Teriaknya.

Ia segera berjongkok dan melihat kondisi Ibunya. Tangannya bergetar, ia meletakkan jari telunjuknya di hidung Ibunya untuk memeriksa apakah Ibunya masih bernafas. Lucy bernafas lega saat merasakan hembusan nafas Ibunya.

Lucy memapah Ibunya dan keluar dari rumah. Ia berjalan dan mencari taksi. Setelah menunggu beberapa lama, ia pun mendapatkan taksi, supir itu pun membantu Lucy membopong Layla.

"Kerumah sakit ya pak" ucap Lucy.

Taksi pun melaju dengan cepat menuju rumah sakit. Tangan Lucy tidak berhenti untuk bergemetar, lagi-lagi giginya bergemeletuk. Didalam hatinya, ia memanjatkan doa-doa agar Ibunya dapat bertahan.

Setelah beberapa lama diperjalanan, Lucy pun sampai di rumah sakit dan dengan bantuan sang supir taksi, Layla di bawa kedalam dan dengan cepat ditangani oleh Dokter.

Lucy menunggu diluar sedangkan Layla dibawa keruang ICU. Lucy pun duduk diruang tunggu sambil menggoyang-goyangkan kakinya dengan gelisah, dan sesekali menggigit kuku-kukunya.

"Bagaimana ini..bagaimana ini.." Gumam Lucy dengan suara bergetar.

Tiba-tiba pintu ruang ICU pun terbuka dan menampakkan Dokter yang menangani Layla. Lucy pun bangkit berdiri dan menghampiri Dokter tersebut.

"Bagaimana Dok? Ibuku tidak apa-apa kan?" Tanya Lucy dengan panik.

"Tidak apa-apa. Kami telah menanganinya. Jadi bisakah kau ikut denganku ke ruanganku untuk penjelasan lebih lanjut?" Sahut Dokter dan diiringi anggukan oleh Lucy.

XXX

"Begini..seperti yang sebelumnya saya jelaskan. Sel kanker Ibumu sudah menyebar. Dan dilihat tanda-tandanya, ia memang harus dirawat disini" terang Dokter. Lucy menggenggam tangannya yang gemetar.

"Baiklah..rawat Ibuku, tolong Dok. Aku akan mencari biayanya" ucap Lucy.

"Baiklah.." Dokter mengangguk.

Lucy keluar dari ruang Dokter dan bersandar didinding dekatnya. Dadanya mulai sesak. Tangannya gemetar hebat. Lucy memejamkan matanya, sesaat kemudian ia berlari keluar dari rumah sakit.

Lucy POV.

Aku berlari..terus berlari..aku benar-benar lelah..aku ingin lari dari semua ini.. Kenapa tuhan memberiku ujian seperti ini? Tidakkah ia bisa melihat bahwa hidupku sudah hancur? Bagaimana bisa tuhan..bagaimana bisa..

Aku merasa sesak didadaku. Aku berteriak sekencang-kencangnya saat berlari tanpa mempedulikan suasana dijalan tersebut.

Aku terus berlari, aku tidak peduli dengan orang-orang yang memperhatikanku. Aku gila? Ya aku gila. Aku frustasi? Ya aku frustasi. Aku..putus asa? Iya..aku benar-benar putus asa.

Seberapa sering dadaku merasa sesak, tetapi aku tetap tidak bisa meneteskan airmataku. Apa airmataku kering? Apa ada yang salah dengan mataku? Aku benar-benar lelah menahan semua ini. Jika aku bisa mengulang waktu, aku akan berusaha untuk tidak membuat keluargaku berpisah, jika aku bisa kembali ke masa lalu, aku..aku ingin hidup bahagia bersama keluargaku..teman-temanku..

Aku pun merasa lelah berlari dan memutuskan untuk berhenti. Aku bernafas dengan tersengal-sengal, aku dapat merasakan keringatku mengalir dari keningku. Aku terdiam. Aku masih diam dalam keadaan seperti ini. Ada yang salah denganku, kenapa? Kenapa aku tidak bisa menangis? Kenapa tanganku dingin dan bergemetar hebat? Kenapa gigiku selalu gemeletuk disaat situasi seperti ini? Kenapa dadaku begitu sesak? Tidak bisakah aku menggantinya dengan sebuah tangisan keras? Tuhan.. Buatlah ini adil untukku..

Lucy POV end.

XXX

Keesokkan paginya, meja Lucy kosong. Sting meliriknya saat ia telah sampai dikelas dan memutuskan bertanya pada Erza atau Levy yang sudah datang terlebih dahulu.

"Yo. Lucy kemana?" Tanya Sting.

"Entahlah.." Jawab Levy.

"Apa dia sakit ya?" Ucap Erza.

'Sakit?' Batin Sting.

"Mungkin dia terlambat datang kesekolah. Sudahlah" timpal Sting dan berjalan meninggalkan Erza dan Levy.

'Kemana dia?' Batin Sting.

XXX

Lucy tertidur sambil menunggu Ibunya siuman. Lucy masih memakai seragam sekolahnya kemarin. Ia tidak sempat berganti baju karena kepanikkannya.

Sreeek

Lucy membuka matanya saat mendengar pintu kamar Layla terbuka dan menampakkan sosok suster yang sedang tersenyum padanya.

"Ohayou gozaimasu.. Maaf mengganggu. Saya ingin mengecek keadaan Layla-san" ucap suster itu dengan lembut. Lucy mengucek matanya beberapa kali dan mengangguk. Ia membiarkan suster tersebut memeriksa Ibunya.

"Kau tidak sekolah, Lucy-san?" Tanya sang suster. Lucy menoleh dan menggeleng.

"Aku ingin mencari kerja" jawab Lucy.

"Kerja?" Suster itupun menoleh.

Lucy mengangguk.

"Kerja ya..kalau tidak salah, di rumah sakit ini sedang dibutuhkan seorang pekerja kebersihan. Jika kau mau—" belum selesai suster itu berbicara, Lucy langsung memotongnya. "Aku mau!"

"Baiklah.." Ucap suster tersebut sambil tersenyum.

XXX

Sudah dua minggu Lucy tidak masuk sekolah. Membuat teman-temannya khawatir. Guru-guru pun selalu menanyakan alasan kenapa Lucy bisa tidak hadir kesekolah.

"Kemana dia.." Ucap Natsu

Sting berdiri dibelakangnya dan memandang bahu Natsu.

"Natsu-san" panggilnya. Natsu menoleh.

"Aku sudah mencarinya kerumahnya, setiap hari, setiap hari! Tapi selalu tidak ada orang! Dia kemana? Dia pergi lagi tanpa berbicara apapun denganku? Lagi-lagi ia seenaknya! Selalu saja tidak berpamitan..kemana dia.." Gerutu Natsu.

Sting tertunduk. "Kepala sekolah bilang padaku, untuk membawa Lucy kesekolah. Ia ingin bicara pada Lucy. Bagaimana ini?"

"Ayo kita cari dia sampai dapat! Oke!" Ucap Natsu. Sting pun mengangguk.

XXX

Lucy sedang menyuapi Ibunya. Ibunya sudah siuman beberapa hari yang lalu. Lucy terlihat lebih kurus, ia sedang memakai seragam sekolahnya. Ya, dia berbohong pada Ibunya, kalau ia tetap datang kesekolah.

"Bagaimana pelajaranmu disekolah?" Tanya Layla.

"Baik-baik saja" jawab Lucy.

"Kau kelihatan kurus, Lucy" ucap Layla sambil memandang Lucy.

"Hanya perasaanmu saja" sahut Lucy.

"Kau juga terlihat capek" ucap Layla lagi. Lucy memandang Ibunya.

"Sudah, aku tidak apa-apa. Aku hanya capek belajar. Sebentar lagi aku kan ujian" terang Lucy. Layla tersenyum.

"Baiklah.."

Lucy terus menyuapi Ibunya sampai makanan yang ada dipiring habis. Setelah selesai, Lucy pun menyodorkan obat milik Layla dan menyuruh Layla meminumnya. Setelah selesai semua, Lucy pun berpesan pada Layla untuk beristirahat dan berpamitan untuk pergi bekerja. Layla pun mengerti.

"Itterasai.." Ucap Layla.

Layla memejamkan matanya, "Dia berbohong"

XXX

Lucy berjalan gontai keluar dari rumah sakit. Ia merasakan sakit yang tidak terkira di bahunya.

"Aaaaahh lagi-lagi sakit ini datang lagi! Sial!" Rutuk Lucy sambil memegangi bahunya.

XXX

Lucy turun dari bus dan berjalan masuk kedalam gang rumahnya dengan gontai. Ia masih merasakan sakit di bahunya. Ia berpikir harus cepat sampai di rumahnya. Kalau tidak ia tidak bisa lagi menahan sakitnya. Lucy tercengang saat melihat dua sosok yang ia kenal berdiri dihadapan, didepan rumahnya. Kedua pemuda itu menoleh.

"Lucy!"

"Natsu..Sting.."

.

.

.

.

.

.

To be continued


HALLO SEMUA READERSSSS APA KABARNYA? SEMOGA KALIAN BAIK-BAIK SAJA. SETELAH SEKIAN LAMA AKHIRNYA AKU BISA BUKA WEBSITE INIII! Bagaimana dengan kalian?

baiklah mengenai jalan cerita, makin ga jelas deh kayanya hahaha gomenne-_-

baiklah silahkan direview saja yaaa~~

ini balesan buat review chapter kemarin :

ft-fairytail : Hehe baguslah kalau kau menyukainya! XD

Mercury Heartfilia : Ini udah lanjut, gimana ? XD

Randie : Ini udah update hehe

Fani Shuuya : Gomen kalo updatenya lama hehehe XC makasih yaaa! ini udah lanjut chapternya, bagaimana? silahkan baca yaaa XD

Karina-891 : Ini udah lanjut loh XD

Oke deh, udah semua dibales, jadi author ga banyak omong, gabanyak bacot. oiyaaa..maaf baru bisa mengucapkan selamat berpuasa bagi yang menjalankannya yaaa! author juga puasa loh XD

Baiklah, sampai ketemu lagi.

Jaa nee,

Yusa-Kun