"Lucy!"
"Natsu..Sting.."
Fairy Tail © Hiro Mashima
A Fairy Tail Fanfiction
Between Us
By Yusa-kun
Warning : AU, Typo(s), OOC.
.
.
.
.
.
Lucy berjalan menghampiri mereka. "Kenapa kalian kemari?" Tanya Lucy, datar.
"Hey! Tunggu dulu! Kenapa kau terlihat kurus seperti ini! Dan kenapa kau memakai seragam? Kau kan sudah tidak sekolah selama 2 minggu?! Kemana saja kau?!" Ujar Natsu.
Lucy memutar bola matanya dan menyuruh kedua pemuda itu minggir. Lucy membuka pintu dan mempersilahkan pemuda-pemuda itu masuk.
"Duduklah, akan aku buatkan minum" ucap Lucy.
"Tidak usah!" Ujar Sting. Lucy menoleh.
"Baiklah kalau begitu. Aku mau mandi dulu" ucap Lucy sambil melangkah pergi tapi ditahan oleh Sting, karena tangan kiri Lucy sudah digenggam oleh Sting.
"Lucy, kenapa kau tidak masuk sekolah beberapa minggu ini? Dan benar kata Natsu-san, Kau kelihatan kurus sekali" Tanya Sting.
Lucy menoleh dan memandang tajam ke Sting. Sting makin mengeratkan genggamannya.
"Lepas" ucap Lucy. Sting diam.
"Lepas. Ini sakit, Sting!" Lucy mulai berseru dan akhirnya Sting melepasnya.
Lucy pun duduk diruang tamu diikuti oleh Natsu dan Sting. "Ada apa kalian kemari? Apa kalian mau mengintrogasiku karena keabsenanku?" Ucap Lucy.
"Kepala sekolah menyuruhmu untuk masuk sekolah" ucap Natsu.
Lucy mengangguk. "Aku juga berencana untuk masuk sekolah besok"
Sting berpindah duduk dan memegang bahu Lucy dengan keras. Lucy pun menahan sakitnya. Natsu menyadari ekspresi kesakitan Lucy.
'Dia..sakit lagi?' Batin Natsu.
"Iya teman-teman merindukanmu.." Ucap Sting.
"Hmm, begitu. Baiklah. Kalau sudah selesai kalian boleh pulang" sahut Lucy.
Sting menurunkan tangannya dan memandang Lucy. "Kau belum menjawab pertanyaanku dan Natsu-san, Lucy"
"Apa aku harus memberitahu semua yang aku lakukan pada kalian? Kalian konyol sekali, jika kalian berpikir dapat mengetahui apapun yang aku lakukan" ucap Lucy dengan lantang.
"Konyol? apa perhatian kami, kepedulian kami kau anggap sebuah kekonyolan?" Sahut Natsu.
"Sudahlah, aku capek. Aku tidak mau berdebat. Jadi kalau kalian sudah selesai berbicara, silahkan keluar dan pulanglah" ucap Lucy.
Sting dan Natsu bangkit berdiri dan berjalan keluar dari rumah Lucy. Sting sudah berjalan keluar lebih dulu, sedangkan Natsu masih memperhatikan Lucy.
"Kau sakit?" Tanya Natsu hingga membuat Lucy tersentak kaget.
"Tidak" tukas Lucy, datar.
'Kau bohong' pikir Natsu.
"Baiklah, sampai jumpa besok" pamit Natsu. Setelah semuanya keluar dari rumah, Lucy pun menutup pintu dan menguncinya.
"Gomen.." Gumamnya.
XXX
Pagi harinya, Lucy berangkat sekolah dari rumah sakit. Ia sudah berpamitan dengan Ibunya untuk pergi kesekolah. Ia sadar kalau ia telah absen selama dua minggu, dan kebetulan hari ini pun, ia diberikan libur oleh rumah sakit.
Lucy memasuki kelasnya, dan semua orang melihatnya, memperhatikannya. Seperti biasanya, Lucy hanya diam dan pura-pura untuk tidak mendengarnya.
"Bisakah kalian diam?!" bentak Erza tiba-tiba. Lucy menoleh kearah Erza.
"Kalian tidak henti-hentinya membicarakan hal negatif tentang Lucy. Apa kalian sudah merasa menjadi manusia yang sempurna? Kalian sudah lebih baik? Hmm? Jawab aku!" tambah Erza dengan geram. Lucy menghela nafas dan bangkit berdiri.
"Cukup Erza" ucap Lucy. Erza pun menoleh.
"Kenapa? Aku sudah tidak tahan Lucy. Mereka setiap hari memfitnahmu, membicarakan hal negatif tentangmu. Aku sebagai sahabatmu, aku merasa tidak terima!" sahut Erza.
"Ak—aku juga" timpal Levy yang baru saja tiba dikelas.
"Mereka selalu menghinamu, Lu-chan. Kenapa kau bisa tahan? Kenapa?" ucap Levy dengan suara yang bergetar.
"Hentikan, Erza, Levy-chan. Aku tidak apa-apa" ucap Lucy dengan datar.
"Tidak! Kau ini tidak apa-apa! Tolong sudahi dramamu ini, Lu-chan! Lihat dirimu! Kau seperti mayat hidup! Kau terlihat kurus, matamu berkantung, rambutmu tidak seindah biasanya! Jangan bilang kau tidak apa-apa, jangan!" seru Levy.
Semua anak-anak dikelas pun terdiam, sampai pada akhirnya Sting datang.
"Ada apa?" tanya Sting dengan polos.
Lucy tertawa. "Aku seperti mayat hidup? Benarkah? Setidaknya aku tidak memakanmu kan Levy-chan?" ucap Lucy. Levy memandang Lucy dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku tidak ingin bercanda, Lu-chan" sahut Levy.
Lucy pun berdeham dan memasang wajah yang serius. "Dengar..untuk semuanya..aku benar-benar tidak peduli lagi dengan kata-kata kalian yang menghina, memfitnahku, atau kalian mau mengerjaiku juga aku tidak peduli" ucap Lucy dengan lantang.
Erza melangkah menghampiri Lucy dan..
Plak!
Erza menampar Lucy. Lucy membeku sambil memegang pipinya yang memerah. Jellal yang melihatnya segera menjauhkan Erza dari Lucy. sedangkan Sting berdiri dibelakang Lucy.
"Tenanglah Erza" ujar Jellal
"Kau..kau benar-benar tidak punya perasaan. Kau seharusnya peduli pada semua yang ada disekitarmu, setidaknya..setidaknya sakit hatilah pada mereka yang telah mengatakan hal-hal yang tidak pantas tentangmu! Sadarlah Lucy!" bentak Erza tanpa memerdulikan Jellal yang mencoba menenangkannya.
Lucy menyeringai. "Tuhan yang membuatku seperti ini" gumamnya.
Lucy kembali duduk dan meraih earphonenya dan memasangkannya ke telinganya.
Erza mencabut paksa earphone Lucy dan membuangnya kesembarang arah. Erza menarik kerah kemeja Lucy sehingga membuat Lucy berdiri. Jellal dan Sting berusaha melerai.
"Aku akan menamparmu sampai kau merasa sakit, Lucy" geram Erza. Matanya sudah berkaca-kaca.
Lucy memejamkan matanya. "Kalau begitu, silahkan" jawab Lucy.
Erza sudah mengangkat sebelah tangannya untuk menampar pipi Lucy dan sebelum tangan Erza mencapai wajah Lucy, Jellal telah menahan tangan Erza lebih dulu.
'Lu-chan..' batin Levy. Levy sudah menangis tersedu-sedu. Sedangkan anak-anak dikelas hanya menatap peristiwa itu dalam diam. Tidak ada yang berani melerainya. Jellal memandang nanar Erza.
"Erza sudah cukup!" geram Jellal. Erza menoleh.
"Sudah cukup" ulang Jellal. Erza mengepalkan tangannya dan melepaskan genggaman tangannya pada kerah kemeja Lucy.
"Lucy.." Sting memegang tangan Lucy tapi Lucy menepisnya.
"Jangan sentuh..aku.." ucap Lucy dengan dingin.
Lucy tertunduk, wajahnya tak terlihat karena tertutup oleh sebagian poninya. Tanpa menghiraukan siapapun, ia pun berjalan keluar kelas. Sebelum sampai dipintu, Lucy menoleh kedalam kelasnya.
"Benar. Seharusnya aku tidak disini. Tidak ada dikelas ini, dan tidak ada disekolah ini..dan tidak dikehidupan ini.." ucapnya semakin pelan. Lucy pun berlari keluar kelas. Sting melemparkan tasnya ke sembarang arah dan berlari menyusul Lucy.
Erza tertunduk dan diam-diam menangis. Levy pun memeluknya dari belakang.
"Dia menderita..dia benar-benar menderita..Levy..aku..aku..sial! Aku makin khawatir dengannya..." ucap Erza dalam tangisnya.
Bel masuk pun berbunyi. Semua murid pun kembali ketempat duduk dan menunggu guru datang kekelas.
XXX
Lucy berlari keluar dari sekolahnya, Ia mulai merasakan perih akibat dari tamparan Erza, tetapi perih yang ia rasakan ini masih bisa ditahan, tidak seperti perih yang ada dihatinya. Perih yang membuat lubang yang begitu dalam. Lucy pun berhenti dan mulai berjalan didepan pertokoan.
'Hah aku membolos lagi' pikirnya
Tiba-tiba tangannya ditarik dari belakang dan terlihat Natsu yang sedang bernafas dengan terengah-engah. Lucy memandangnya dengan dingin.
"Kenapa kau bisa disini?" tanya Lucy sambil membalikkan tubuhnya.
"Aku ingin mengobati lukamu itu. Lihat hidungmu mengeluarkan darah" Natsu menunjuk kearah hidung Lucy. Lucy mengelapnya dan memandangi darahnya.
"Aku tidak apa-apa" ucap Lucy.
"Tidak ada penolakan. Ayo kita obati dulu lukamu" desak Natsu. Lucy mengangguk.
XXX
Lucy dan Natsu sudah berada didalam lingkungan sekolah lagi. Mereka sedang berada didalam ruang kesehatan. Natsu pun sedang sibuk mengopres pipi Lucy.
"Gila si monster merah itu. Menamparmu tidak mengira-ngira gini" gerutu Natsu
"Berisik" ucap Lucy.
"Sudah selesai, sekarang sini aku lihat bahumu" ucap Natsu. Lucy tersentak kaget dan memandang Natsu.
"Kenapa? Kau bingung kenapa aku tahu bahumu sakit lagi?" tanya Natsu. Lucy tidak menjawabnya.
"Kau harus memeriksakan bahumu, Luce" nasehat Natsu. Lucy menggeleng, "Aku tidak apa-apa"
"Kau mau seluruh tubuhmu rusak secara perlahan-lahan? Apa sih yang ada dipikiranmu sampai seperti ini? Kau sudah terlihat lebih kurus dari sebelumnya, lihat rambutmu..kusut.." terang Natsu sambil menyentuh rambut Lucy.
"Aku sedang diet" bohong Lucy.
Natsu tertawa, "Kau bohong, Luce"
Lucy memutar bola matanya. Ia tersentak kaget saat Natsu menggenggam kedua tangannya. "Kau berubah lagi, Luce.." ucap Natsu dengan lembut.
"Aku masih tetap Lucy" tukas Lucy. Natsu menghela nafas.
"Ekspresi mautmu itu kembali lagi" ucap Natsu sambil menunjuk kearah wajah Lucy.
"Ekspresi apa katamu? Maut?" tanya Lucy. Natsu mengangguk.
"Dua minggu sebelumnya, kau seperti sudah mulai membuka kembali hatimu, kau berusaha untuk melucu, kau mulai memperhatikan keadaan sekitarmu, kau mulai banyak tersenyum..tapi sekarang, hari ini dan kemarin, aku melihatmu seperti Lucy yang kehilangan arah.." terang Natsu.
Lucy tertawa mengejek, "Kalau aku kehilangan arah, tinggal melihat kompas kan?"
"Masalahnya ada dikompasmu. Kau menyembunyikan sesuatu dariku kan?" tanya Natsu.
"Sudahlah Natsu, apa maksudmu dengan kompas? Dan apa yang aku sembunyikan? Sudah keluar sana, aku ingin istirahat sebentar" sahut Lucy sambil mencoba mengusir Natsu.
"Lihat kan? Kau mencoba lari dari pertanyaanku. Baiklah, jika kau tidak mau mengaku. Aku akan menyelidikinya sendiri. Detektif Natsu akan beraksi. Aku pamit dulu" Natsu pun berjalan keluar meninggalkan Lucy. Lucy mulai berbaring di ranjang ruang perawatan dan memejamkan matanya.
XXX
Natsu melangkah pergi dari ruang perawatan. Ia teringat dengan kejadian tadi saat ia dipanggil oleh Sting.
Flashback.
Sting tiba-tiba membuka pintu kelas Natsu dengan kencang dan memanggil Natsu.
"Natsuuu-san!" teriaknya.
Natsu menoleh dan berjalan menghampirinya. "Ada apa?"
Sting mulai menceritakan seluk-beluk cerita dimana terjadi keributan dikelas 1-A yang melibatkan Lucy.
"Intinya, Lucy sekarang pergi entah kemana" ucap Sting.
Tanpa aba-aba, Natsu segera berlari kencang untuk mencari Lucy. Sting memandang bahu Natsu yang semakin lama semakin menjauh.
Flashback off
Natsu membuka pintu kelasnya, dan melihat murid kelasnya benar-benar hening. Saat ia melihat guru, ternyata Laxus-sensei. Guru terkiller.
"Natsu? Kau darimana?" tanya Laxus dengan suaranya yang cetar membahana.
"Hmm toilet?"
Yak dengan jawaban bodohnya, Natsu berhasil mendapatkan jitakkan dan hukuman berdiri didepan kelas selama pelajaran Laxus-sensei.
XXX
Lucy mengetuk pintu ruang kepala sekolah dan masuk kedalamnya. Kepala sekolah yang tidak lain adalah Makarov Dreyar, Ia melihat penampilan Lucy dari atas sampai bawah. Ia berpikir, Lucy terlihat kacau.
"Kenapa kau tidak masuk selama 2 minggu berturut-turut?" tanya nya.
"Aku harus mengurusi Ibuku yang masuk rumah sakit. Gomenasai." Sahut Lucy berusaha sesopan mungkin.
"Kau tahu, bisa-bisa beasiswamu dicabut dari pihak sekolah kalau kau terus membolos seperti kemarin" jelas Makarov.
"Tapi..aku tidak membolos, aku hanya merawat Ibuku yang sakit" ucap Lucy.
"Tapi kau tidak memberikan keterangan apapun pada pihak sekolah" timpal Makarov. Lucy menundukkan kepalanya.
"Gomenasai. Aku tidak akan mengulanginya lagi" ucap Lucy dengan pelan. Makarov mengangguk mengerti.
"Baiklah kalau begitu. Salam untuk Ibumu. Semoga ia cepat sembuh.." ucap Makarov.
Lucy merundukkan badannya untuk memberi hormat Makarov dan menggumamkan sesuatu.
"Ia tidak akan pernah bisa sembuh.." gumamnya.
Makarov hanya memandang prihatin pada siswinya itu.
"Dia murid berprestasi. Tetapi kelihatannya hidupnya memprihatinkan.." ucap Makarov.
XXX
Lucy berjalan menuju kelasnya untuk mengambil tasnya, saat ia membuka pintu ia melihat Erza dan Levy sedang duduk. Lucy diam dan hanya mengambil tasnya. Lucy tidak ingin mengatakan apapun. Benar-benar tidak ada yang harus dikatakan.
Erza dan Levy menatap kepergian Lucy.
"Lu-chan.." gumam Levy
'Lucy..' batin Erza
XXX
Lucy melangkahkan kakinya memasuki rumah sakit dan sampai didepan kamar Ibunya. Ia menghela nafas dan akhirnya ia membuka pintunya.
Layla menoleh dan tersenyum. Senyumannya menghilang saat melihat pipi Lucy.
"Astaga Lucy..kenapa dengan pipimu? Siapa yang melakukan itu?" Tanya Layla dengan panik. Lucy berjalan menghampirinya.
"Aku bawakan buah" ucap Lucy tidak menghiraukan pertanyaan dari Ibunya.
"Jawab Ibu, Lucy!"
Lucy menoleh. "Tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa bu"
"Bagaimana bisa kau bilang tidak apa-apa sedangkan wajahmu seperti itu!" tukas Ibunya.
"Ini tidak sakit. Benar tidak sakit" ucap Lucy sambil merapikan buah-buah yang telah ia beli.
"Lucy.." Panggil Ibunya dengan suaranya yang lembut.
"Ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sakitmu, Bu. Jadi tolong jangan bertanya lagi" ucap Lucy.
Lucy sibuk mengupas apel untuk Ibunya. Layla yang mendengar itupun meneteskan airmata.
"Kau..Lucy..kau masih menyalahkan dirimu?" Tanya Ibunya. Lucy diam.
"Sudah berapa kali Ibu bilang, ini semua bukan salahmu..bukan sayang.." Tambah Ibunya. Kemudian Ibunya menangis tersedu. Lucy hanya diam. Ia tidak menoleh, tidak mencoba menenangkan Ibunya.
"Ibu..bolehkah aku bertanya sesuatu?"
Layla menoleh kearah Lucy. Lucy masih sibuk mengupas apel.
"Kenapa aku tidak bisa menangis?"
Mendengar pertanyaan putrinya, Layla semakin sedih dan prihatin.
"Kenapa dadaku selalu saja sesak?"
"Apa ada yang salah dengan mataku?" Tanya Lucy lagi.
Layla semakin menangis.
"Aku ingin sepertimu, aku ingin menangis sepertimu. Tapi aku tidak bisa. Katakan bu, kenapa? Kenapa mereka tidak mau keluar?" Lucy menoleh kearah Layla dan menyodorkan sebuah apel untuk Layla.
"Makanlah ini" ucap Lucy. Layla memandang Lucy dan menepis apel tersebut dan menarik putrinya kedalam pelukannya.
"Ibu.."
"Lucy..kenapa kau jadi seperti ini..jangan salahkan dirimu lagi sayang..aku mohon, jangan siksa dirimu lagi..." Ucap Layla didalam tangisnya. Pandangan Lucy melembut dan membalas pelukan Ibunya. Ia tidak menjawab satu kata pun. Ia hanya diam.
XXX
Lucy kembali bekerja dikantor milik Sting. Ia bekerja membersihkan setiap ruangan. Ia tidak merasakan lelah sedikitpun, ia bertekad untuk terus bekerja agar Ibunya bisa bertahan.
"Lucy?" Lucy menoleh dan mendapati Sting yang sedang memperhatikan Lucy. Ia sedang bersama dengan Direktur Utama. Ya itu adalah Ayah dari Sting.
"Konbanwa" sapa Lucy dengan sopan.
Ayah Sting menghampiri Lucy dan menatapnya khawatir. Lucy memalingkan wajahnya.
"Kau sedang sakit? Kenapa wajahmu?" Tanya Ayah Sting.
"Oyaji!" Panggil Sting.
"Saya tidak apa-apa, Tuan. Hanya mengalami kecelakaan sedikit" jawab Lucy.
"Hahaha jangan panggil aku begitu. Panggil saja aku Ojii-san. Aku ayah dari Sting. Kau juga adalah teman Sting kan? Jadi bersikap biasalah padaku, ya?" Ucapnya dengan ramah.
Lucy mengangguk mengerti. Ayah Sting pun menempatkan tangannya diatas kepala Lucy dan membelainya.
"Anak pintar.." Gumam ayah Sting.
Lucy membelalakkan matanya, ia teringat saat Ayahnya melakukan hal yang sama padanya. Dadanya kembali sesak. Tidak sadar kalau Lucy meletakkan tangannya didadanya. Sting dan Ayahnya menjadi khawatir.
"Ada apa?" Tanya Ayah Sting.
Lucy pun kembali sadar dari lamunannya dan menatap Direktur Utama tersebut dan Sting secara bergantian.
"Ti-tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa" jawab Lucy.
"Baiklah, kalau kau tidak apa-apa. Kami pamit pulang ya." Pamit sang direktur utama. Lucy merundukkan tubuhnya dan memberi hormat.
"Hati-hati dijalan" ucap Lucy.
Setelah Sting dan Ayahnya tidak terlihat, Lucy kembali mengerjakan pekerjaannya.
XXX
"Sting, wajah Lucy kenapa bisa seperti itu?" Tanya ayahnya dengan nada menyelidik.
"Hmm begini..bagaimana ya ceritanya..hmm.." Sting berpikir, apakah bagus jika ia menceritakan pada ayahnya. Sting berpikir tidak ada salahnya.
Sting mulai menceritakan Lucy dari pertama dan permasalahan yang ia tahu.
"Jadi begitu ya..dia hidup bersama dengan Ibunya? Kedua orang tuanya bercerai?" Tanya Ayahnya untuk meyakinkan. Sting mengangguk.
"Mungkin karena itu dia bersikap dingin" tambah Ayahnya. Sting mengangguk lagi.
"Kawaisou.." Gumam Ayah Sting.
XXX
Lucy pulang kerumahnya untuk mengganti pakaiannya. Setelah beberapa langkah, ia pun ambruk. Ia merasa tidak mempunyai tenaga lagi untuk berjalan dan mencapai kamarnya.
Lucy memukul lantai sekeras-kerasnya. Ia berteriak, ia memaki dirinya sendiri.
"Tidak berguna! Bodooh! Lucy baka!" Lucy masih terus memukul lantai dengan keras sampai ia terbaring dilantai dan terdiam.
"Lucy no baka.." Ucapnya, setelah itu ia memejamkan matanya.
XXX
Esok paginya, Lucy tidak bangun juga dari tidurnya. Wajahnya sudah pucat lebih dari biasanya. Ia pun masih terbaring dilantai rumahnya.
Sampai pada akhirnya...
"Lucy..Lucy..."
Tok tok tok
Suara Natsu terdengar dari luar rumah Lucy. Natsu menjadi bimbang saat tidak ada jawaban dari dalam rumah Lucy. Natsu mencoba memutar knop pintu, dan terbuka..
"Itsureshimasuu" ucap Natsu sambil celingak-celinguk dan matanya terbelalak saat melihat Lucy yang tergeletak di lantai. Ia segera berlari menghampiri.
"Lucy! Lucy! Bangun! Astaga kau kenapa! Lucy!" Ujar Natsu.
Tanpa pikir panjang, Natsu segera membawa Lucy kedalam mobilnya untuk kerumah sakit. Natsu menyalakan mesin mobilnya dan meraih ponselnya dan menghubungi Gray.
"Ice-head!" seru Natsu
"Apa?" jawab Gray diseberang telepon.
"Kau sudah disekolah?"
"Sudah, kenapa? Kenapa suaramu seperti panik begitu?"
"Aku sedang membawa Lucy kerumah sakit, aku kerumahnya dan menemukannya pingsan didalam rumahnya. Tolong beritahu Sting dan yang lainnya.."
"Apa?! Dia pingsan? Wakatta!"
Natsu pun menutup teleponnya dan melirik kearah Lucy. Lucy yang pucat.
"Lucy.." Gumamnya.
XXX
"Sting!" Gray tiba-tiba masuk kedalam kelas 1-A. Sting menoleh dan menghampiri Gray.
"Ada apa? Kenapa wajahmu panik begitu?" Tanya Sting.
"Lucy..Lucy.." Ucap Gray dengan terengah-engah.
"Ada apa dengan Lucy?" Tanya Sting. Gray terdiam. "Cepat katakan!" Bentak Sting.
"Dia pingsan. Sekarang ia sedang dibawa oleh Natsu kerumah sakit" ungkap Gray.
Sting terdiam. Ia mengingat kejadian semalam, wajah Lucy benar-benar pucat. Sting berlari keluar kelas. Erza dan Levy pun menghampiri Gray.
"Ada apa dengannya?"
"Lucy pingsan, sekarang dibawa kerumah sakit" ungkap Gray.
"Ap-apa?!"
Levy dan Erza saling berpandangan, dan bel masuk pun berbunyi.
"Pulang sekolah kita harus menjenguknya" ucap Erza. Gray dan Levy mengangguk.
XXX
Natsu telah sampai dirumah sakit, Lucy pun telah mendapat perawatan oleh dokter. Natsu menungguinya dengan gelisah. Saat dokter keluar dari ruangan, Natsu segera menghampirinya.
"Dok, bagaimana keadaannya?" Tanya Natsu.
"Lucy-san. Hmm maksudku..dia adalah pasien Dokter Yamada. Dia penderita cedera tulang bahu kan? Dan kau ini siapanya?" Tanya Dokter tersebut.
"Aku temannya" jawab Natsu.
Tiba-tiba seorang suster menghampiri Dokter tersebut.
"Dok, kita harus mengecek keadaan Layla-san" ucap suster itu dan terdengar oleh Natsu.
"Tunggu dulu. Hmm Layla-san yang kalian maksud itu, Ibu-Ibu dengan rambut pirang panjang dan mempunyai mata cokelat bukan?" Tanya Natsu.
Suster dan Dokter saling berpandangan dan mengangguk.
"Gadis yang didalam, hmm maksudku Lucy-san adalah anaknya kan?" Ucap Dokter tersebut. Bagai disambar petir, Natsu benar-benar kaget mendengar berita ini. Layla-san dirawat dirumah sakit? Kenapa?
"Lucy-san juga bekerja disini sebagai cleaning service tanpa sepengetahuan Ibunya yang dirawat" tambah suster tersebut. Natsu pun makin terkejut ketika ia mendengar Lucy bekerja sebagai cleaning service dirumah sakit ini.
"Bisakah aku menemui Layla-san?" Tanya Natsu.
Dokter pun mengangguk.
XXX
Natsu berdiri didepan pintu kamar Layla. Ia tertunduk dan wajahnya menyiratkan kesedihan.
"Layla-san adalah pasien tetap dirumah sakit ini. Mereka selalu check up kesini"
Kalimat itulah yang selalu terngiang diotak Natsu.
'Layla-san sakit?' Batin Natsu.
Natsu membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauhi kamar Layla. Ia memutuskan untuk kembali ke ruang rawat Lucy.
XXX
Lucy membuka matanya. Silau. Itulah kata yang pertama kali Lucy pikirkan. Pandangannya buram, ia mengedipkan matanya dan semuanya menjadi jelas. Ia menoleh dan mendapati dirinya berada dirumah sakit. Ia bisa melihat selang infus yang ada ditangan kirinya.
Dia ingat, ia jatuh pingsan dirumahnya sendiri.
"Konyol sekali. Bahkan aku tidak ada waktu untuk ini.." Gumam Lucy sambil memejamkan matanya.
"Harus ada waktu"
Lucy mendengar suara yang familiar ditelinganya, ia segera menoleh dan mendapati Natsu sedang berdiri melihatnya. Lucy memalingkan wajahnya. "Kenapa kau ada disini?" Tanya Lucy.
"Hey..hey aku yang menolongmu dan membawamu kesini" ungkap Natsu. Lucy terdiam.
"Kau sudah 2 hari tidak sadarkan diri. Syukurlah akhirnya kau bangun. Seharusnya kau cukup istirahat. Jangan memaksakan melakukan kegiatan apapun" terang Natsu sambil berjalan menghampiri Lucy. Lucy pun bangkit duduk dan memandang Natsu.
"Aku hanya belajar sampai pagi" bohong Lucy.
"Kau masih bohong juga?" Lucy tersentak saat mendengar pertanyaan dari Natsu.
"Bohong apa? Aku tidak bohong" sangkal Lucy.
"Lalu..kenapa Layla-san ada dirumah sakit ini? Dan kenapa kau bekerja sebagai cleaning service di rumah sakit ini?" Tanya Natsu dengan suara yang cukup keras.
"Bukan urusanmu" jawab Lucy, pelan.
"Lucy!" Bentak Natsu. Lucy menoleh dan memandang dingin Natsu.
"Jangan mencoba untuk mengerti, Natsu. Karena kau tidak akan mengerti kehidupanku. Jangan terlibat lebih jauh dengan kehidupanku. Karena hidupmu akan berantakan sepertiku" ujar Lucy dengan dingin. Lucy memalingkan wajahnya, "Aku tidak mau itu terjadi" gumamnya.
"Lalu kau memutuskan memendam penderitaanmu sendirian? Begitu?" Tanya Natsu.
"Sudah cukup Natsu, aku tidak apa-apa" sahut Lucy.
"Tidak apa-apa apanya? Lihat! Kau sudah terbaring, tidak membuka matamu selama 2 hari, bahumu yang cedera sakit lagi, Ibumu sakit dan dirawat disini, kau tampak kelelahan dan kurus! Itukah yang kau bilang tidak apa-apa?!" Ujar Natsu dengan geram.
Lucy terdiam. Detik kemudian Lucy mulai membuka mulutnya, "Aku benar-benar tidak apa-apa"
"Sekali lagi kau bilang tidak apa-apa, aku tidak akan mempedulikanmu lagi" ancam Natsu. Lucy menoleh dan menyeringai.
"Baguslah kalau begitu, jangan pedulikan aku" ucap Lucy.
"Lucy.."
"Jangan pedulikan aku Natsu! Aku tidak apa-apa. Aku masih bisa berdiri diatas kakiku sendiri. Aku tidak apa-apa.." Ucap Lucy.
Natsu pun memeluk Lucy. Lucy masih tetap bergumam bahwa ia tidak apa-apa. Natsu mengeratkan pelukannya.
"Aku mohon Lucy..hentikan.." Bisik Natsu.
"Tuhan..Tuhan tidak adil Natsu.." Ucap Lucy dengan suara bergetar. Natsu melepaskan pelukannya dan memandang Lucy. Ia pikir Lucy menangis dan saat dilihat, Lucy tidak meneteskan setitik airmata. Suaranya hanya bergetar.
"Apa maksudmu? Kau tidak boleh berbicara seperti itu tentang Tuhan" ucap Natsu.
"Kenapa tidak boleh? Dia yang membuatku seperti ini, Natsu. Takdir yang dituliskannya untukku sudah begini. Ibuku sakit keras setelah tidak lama mereka bercerai, dan..dan..mereka bercerai karena diriku..aku yang menghancurkan keluargaku..aku yang membuat penderitaan Ibu, aku yang membuat Michelle selalu menangis, aku..aku.." Lucy terdiam dan memegangi dadanya dan memukulinya. Natsu menahan tangannya agar tidak memukuli dadanya lagi.
"Natsu..kenapa aku tidak bisa menangis? Kenapa dadaku terasa sesak sekali? Kenapa? Kau tahu jawabannya kan? Kau tahu kan?" Lanjut Lucy.
Natsu memandangnya dengan cemas.
"Kalau aku tidak bekerja, Ibuku tidak dapat bertahan! Jika begitu.. Ia akan pergi meninggalkanku. Aku akan sendirian" ucap Lucy masih dengan suara yang bergetar.
Natsu segera memeluk Lucy dengan erat.
"Bagaimana ini Natsu? Aku takut dia meninggalkanku sendiri. Aku takut kalau aku tidak bisa melanjutkan hidupku lagi. Karena aku hidup hanya untuk Ibu..untuknya, Natsu.."
"Ingat Luce..Kau masih mempunyai Michelle, Ayahmu, Aku, Sting, Erza, Levy, Juvia, Gray, Gajeel dan teman-teman yang lain. Mereka dan aku masih mau menemanimu..kau tidak sendirian.." Ucap Natsu untuk menenangkan Lucy.
Natsu tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Yang terpikirkan hanya itu. Ia berharap dengan kalimat itu, ia bisa menenangkan seorang Lucy. Natsu merasakan sakit saat mendengar suara Lucy yang bergetar. Ia merasakan sakit saat mendengar kata "tidak apa-apa" dari mulut sang gadis, karena yang sebenarnya dia tidak pernah "tidak apa-apa".
"Maafkan aku" Bisik Natsu.
"Aku..tidak apa-apa.. Jangan meminta maaf.." Sahut Lucy dengan pelan.
Natsu hanya berharap, sekarang ini, kehangatan tubuhnya dapat menjalar ketubuh Lucy yang dingin, Bukan hanya tubuh, tapi ke hati yang paling dalam milik Lucy dan dapat memberikan cahaya untuk ia dapat kembali.
—Lucy sedang kehilangan arah.
Natsu harus menuntunnya kembali. Diam-diam Natsu berdoa pada Tuhan,
'Tuhan, jangan ambil Layla-san dari tangan Lucy. Aku mohon..Kalau tidak, ia benar-benar akan tersesat..'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
Haiii Minnaaaa-saaan! Aku kembali lagi dengan chapter baru~~~ Bagaimana menurut kalian kali ini? kkurang klimaks? kurang apanya ya? banyak typop gak? hmm XD Bolehkan aku meminta review kalian? Onegai~
Nah, sekarang langsung aja deh bales review chapter sebelumnya...
kyouryuusuke1 : Hehe Arigatou XD gomenasai baru sempet update soalnya sibuk ngurusin sekolah hehe XD
K. C. Dragfilia : Pair Nalu dooong pastinyaaaa! XD ini udah lanjut loh, silahkan dibaca~
Pororo-chan : Hayoo maunya Lucy sama siapa? Sting atau Natsu? XD
ft-fairytail : Hehe Gomen ya jika terlalu kejam kehidupan Lucy disini haha XD dan Gomenne baru bisa update. nah sekarang udah update, silahkan dibaca yaaaa ~
Arigatou gozaimasu yang udah sempetin untuk baca dan review fanfic ini, seneng banget author jadinya hehe XD
Tapi utk chapter ini, harus review lagi yaa, biar author tahu bagaimana pikiran kalian, sang readers XP
Ohiya, dan jangan lupa, Read and Review fanfic kakakku, Suzuha Loreilenne Yaitu Sweet Melody for Our Love. (Tuh kak, udah aku promosiin fanficmu!). Yaudah Author gamau banyak omong deh. Author pamit dolo yaa XD
Jaa Nee...
Yusa-kun XD
