Lucy menoleh kebelakang. Ia masih shock mendengar pernyataan Natsu yang tiba-tiba.

"Aku mencintaimu, sejak dulu.." Tambah Natsu.

Fairy Tail © Hiro Mashima

A Fairy Tail Fanfiction

Between Us

By Yusa-kun

Warning : AU, Typo(s), OOC.

.

.

.

.

.

"Ap—Apa maksudmu?" tanya Lucy

Natsu mengeratkan pelukannya. "Aku mencintaimu"

"Lepaskan.." Lucy meronta-ronta dalam pelukan Natsu.

"Tidak"

"Lepaskan aku, Natsu.." ujar Lucy

Natsu akhirnya melepaskan Lucy. Lucy berbalik dan menghadapnya, memandangi seorang Natsu.

"Ada apa denganmu? Tiba-tiba berkata seperti itu? Kau mabuk?" tanya Lucy dengan nada yang tinggi.

Natsu menggeleng. "Maaf, aku baru menyadari saat kau tidak ada lagi disampingku saat dulu, aku menyadari kalau kau bukan hanya sekedar sahabat, rasa sayangku padamu melebihi dari seorang teman, dan tanpa aku sadari, aku—aku telah jatuh cinta padamu.." terang Natsu dengan nada melembut.

Lucy tertawa. "Lalu? Apa yang kau inginkan setelah kau mengatakan semua hal itu padaku? Kau berharap aku menerima cintamu?" Lucy kemudian menghadap kedepan, tidak lagi memandang Natsu.

Natsu terdiam. Ia juga tidak tahu kenapa ia bisa mengatakan hal itu, mungkin ia terbawa oleh suasana saat tadi. Natsu memandangi Lucy.

"Aku hanya ingin tahu, mungkin kau juga menyu—" Lucy pun memotong ucapan Natsu yang belum terselesaikan.

"Maaf Natsu..aku tidak ingin memikirkan hal itu. Kau tahu, banyak masalah dikehidupanku. Jadi..sudah cukup.. Jangan mengatakan apapun lagi..oyasumi" setelah mengucapkan itu, Lucy berjalan masuk kedalam penginapan.

"Kalau begitu, apa kau menyukai Sting?" tanya Natsu. Lucy berhenti sejenak, ia memejamkan matanya dan menghela nafas. Tanpa menjawab pertanyaan Natsu, Lucy pun langsung masuk kedalam penginapan.

XXX

Lucy dengan pelan membuka pintu kamarnya dan melihat bahwa teman sekamarnya sudah terlelap. Ia berjalan tanpa suara untuk menghampiri kasur miliknya dan berbaring melihat kelangit-langit kamar penginapan tersebut. Ia memegang dadanya dan merasakan detak jantungnya berdetak cepat.

'Tidak..tidak mungkin..' Pikir Lucy.

Lucy pun memejamkan matanya. Ia menarik selimutnya dan meringkuk didalamnya. 'Natsu pasti sudah tidak waras' batinnya.

XXX

Pagi harinya, semua siswa bersiap-siap untuk melakukan perjalanan lagi kebeberapa museum. Lucy sudah beberapa kali menguap.

"Lucy, kau sudah banyak menguap hari ini, kau kurang tidur?" Tanya Erza dengan cemas.

'Sial! Gara-gara memikirkan ucapan Natsu tadi malam, aku tidak bisa tertidur dengan pulas' rutuk Lucy.

Lucy mengangguk.

"Tidurlah saat dibus nanti" saran Erza. Lagi-lagi Lucy mengangguk. Sting hanya memperhatikannya dari belakang.

XXX

Saat di bus, Lucy pun tertidur. Sting berjalan kedepan menghampiri tempat duduk dimana Levy dan Lucy duduk.

"Levy-san" panggil Sting dengan pelan. Levy pun menoleh. "Sting? ada apa?"

"Apa aku boleh bertukar tempat duduk denganmu?" tanya Sting dengan berbisik. Levy tersenyum dan sekilas melihat wajah Lucy yang sedang terlelap. "Tentu saja!" jawab Levy sambil bangkit berdiri dan mempersilahkan Sting duduk ditempatnya.

Sting melihat Lucy yang terlelap, gadis itu menyandarkan kepalanya dijendela bus. Sting bertanya-tanya, apakah ia tidak pegal? Sting pun memiliki ide untuk menyandarkan kepala Lucy ke bahunya. Setidaknya bahu seseorang lebih empuk daripada jendela bus kan?

"Kau terlihat sangat lelah" gumam Sting.

Sting mengusap pelan poni Lucy dan menelusuri tiap inci wajah Lucy. Wajahnya yang cantik, begitu sempurnanya Lucy. Sting tersenyum.

"Kau begitu cantik. lebih cantik jika ada senyuman diwajahmu, Lucy.." gumam Sting lagi.

XXX

Dua hari dilalui dengan begitu cepat. Lucy beserta rombongan sekolahnya sudah berada diperjalanan pulang. Ia sudah membeli cinderamata untuk Ibunya.

"Yak! kita sudah sampai! Hati-hati melangkah, periksa barang kalian, jangan sampai ada yang tertinggal ya!" ujar Mira-Sensei.

"Ha'iiiiii!" jawab para siswa dengan semangat.

Lucy pun membawa ransel pink miliknya beserta paperbag berisi cinderamata untuk Ibunya. Saat ia keluar dari bus, ia merasakan kalau ponselnya yang berada disaku celananya bergetar. Ia mengambilnya dan melihat siapa yang menelepon.

'Rumah sakit?' batinnya

Dengan cepat ia menjawab telepon itu. "Moshi-moshi.."

"Lucy-san? Kau dimana? Ibumu..ibumu kritis.."

Lucy menjatuhkan ponselnya beserta paperbag yang ia bawa dan segera berlari tanpa mempedulikan panggilan dari teman-temannya.

Sting meraih ponsel Lucy dan mendengarkan suara.

"Halo..Lucy-san.."

"Halo, Lucy berlari terburu-buru. Ada apa?" Tanya Sting.

"Kondisi Ibunya..kritis.."

Sting mengeratkan genggamannya pada ponsel Lucy.

"Baiklah..terimakasih.." Sting pun menutup teleponnya dan memandang teman-teman yang ada dihadapannya. "Ada apa?" Tanya Levy.

"Layla-san..kritis.." Jawab Sting.

Natsu yang berdiri dibelakang Sting pun mendengarnya dan segera berlari. Untuk apa? Ia akan mengejar Lucy secepat yang ia bisa.

XXX

Natsu memberhentikan taksi dan segera masuk kedalam, disusul oleh Sting, Levy dan Erza. "Kami ikut!" Ucap Levy. Natsu mengangguk.

"Rumah sakit Magnolia pak!" ujar Natsu. Supir itupun mengangguk dan segera menjalankan taksinya.

XXX

Lucy masuk kedalam ruang ICU dan melihat Ibunya yang sedang terbaring, dimana tubuh Ibunya sudah dipasang beberapa peralatan Rumah Sakit.

"Lucy-san. Keadaan Layla-san sekarang sedang koma. Masa kritisnya belum sepenuhnya terlewatkan. Mungkin ini kesempatan terakhirmu, Lucy-san. Maafkan aku.." jelas sang Dokter.

Lucy terdiam. Ia hanya berdiri memandangi Ibunya yang tidak bergerak sama sekali.

"Ibu, kau bilang akan melihat oleh-oleh yang akan aku bawa. Kenapa kau jadi begini" gumam Lucy. Lucy mengepalkan tangannya dan berlari keluar dari ruangan.

Dan saat didepan pintu, Lucy berhenti karena dihadapannya sudah ada teman-temannya. Ya. Natsu, Sting, Erza, dan Levy.

"Minna.."

"Bagaimana keadaan Ibumu, Lu-chan?" tanya Levy dengan cemas.

"Tidak baik" jawab Lucy dengan datar.

Lucy berjalan meninggalkan teman-temannya tanpa mengatakan apapun. Hatinya hancur berkeping-keping, Ia menyalahkan dirinya, kenapa ia bisa meninggalkan Ibunya yang sedang sakit untuk pergi Study-Tour itu.

"Kau mau kemana?!" Tanya Natsu.

Lucy berhenti berjalan, tanpa menoleh dan tanpa mengatakan apapun, ia pun berlari meninggalkan teman-temannya.

"Luce!" panggil Natsu yang sudah bersiap mengejar Lucy tetapi ditahan oleh Sting. Ia menoleh pada Sting, Sting hanya menggeleng "Beri dia waktu sendiri, Natsu-san" ucapnya.

"Dia tidak menangis.." Gumam Levy. Erza mengangguk.

Natsu mengepalkan tangannya. 'Luce...'

XXX

"Tuhan..kenapa kau melakukan ini padaku? Tidakkah cobaan ini terlalu berat bagiku? Aku seorang gadis berumur 16 tahun. Aku sudah harus bekerja menghidupi diriku sendiri dan Ibuku. Keluarga kami terpecah belah, Ibuku sakit keras, dan sekarang kau ingin mengambilnya dariku? Tidakkah itu terlalu kejam?" Ucapnya.

Ya, Lucy sedang berada didalam gereja. Ia sedang duduk dan tertunduk.

"Aku mohon..sekali lagi..biarkan Ibu hidup..sebagai gantinya kau bisa mengambil diriku.. " Suara Lucy mulai bergetar.

"Aku lah yang menyebabkan semua ini—tidakkah bagus kalau aku hilang dari kehidupan ini?" lanjutnya.

Lucy mengepalkan kedua tangannya dan gemetar.

"Ibu berjanji akan melihatmu dan Michelle lulus dari sekolah..melihat putri-putri terhebat Ibu menjadi orang yang sukses, lalu Ibu akan melihat kalian menikah dengan pemuda yang kalian cintai, melihat kalian melahirkan dan memberikan cucu-cucu yang lucu untukku..pasti akan sangat bahagia, nee?"

Lucy memejamkan matanya saat mengingat perkataan Ibunya saat beberapa tahun lalu,

"Ibu—Tolong jangan tinggalkan aku—aku mohon.." Gumam Lucy.

XXX

Minggu demi minggu berlalu. Lucy menjalani harinya tanpa tersenyum lagi. Hubungannya dengan teman-temannya yang lain pun mulai merenggang. Setiap hari, Lucy harus pergi bekerja setelah pulang sekolah dan setelah itu ia kembali kerumah sakit untuk menemani Ibunya.

Musim gugur pun telah berganti ke musim dingin. Terlihat musim dingin ini akan sangat berat dilalui oleh Lucy.

"Lucy.." Lucy menoleh dan mendapati Natsu ada didepan pintu ruang rawat Ibunya.

"Hnn"

"Boleh masuk?" Tanya Natsu. Lucy mengangguk.

"Dua minggu lagi kita akan ujian kenaikan kelas" ucap Natsu.

"Ya aku tahu" jawab Lucy.

"Mau belajar bersama?" Tanya Natsu.

"Aku tidak akan sempat, Natsu" sahut Lucy.

"Oh souka.."

Natsu duduk disebelah Lucy dan memandangi Layla.

"Kira-kira, Ibumu sedang bermimpi apa? Apa kau tahu?" Tanya Natsu.

"Dia tidak sedang bermimpi. Dia sedang berjuang" jawab Lucy yang tidak melepaskan pandangannya pada Ibunya.

"Apa Michelle tahu keadaan Layla-san?" Tanya Natsu.

Lucy menggeleng. "Tidak. Bisa-bisa dia menangis. Kau tahu kan, dia orang yang sangat cengeng"

"Tapi kau harus memberitahunya" Tanya Natsu.

"Tidak perlu" jawab Lucy dengan tegas.

"Lucy.."

"Tidak bisa Natsu. Dia mau menghadapi ujian masuk kesekolah kita. Dia sudah bertekad. Aku tidak mau mengganggunya" jelas Lucy.

"Tapi—"

"Sudah cukup. Oke!" potong Lucy. Natsu terdiam. Mereka berdua terdiam. Natsu melihat wajah Lucy yang pucat dan terlihat lelah.

"Kalau kau capek, kau bisa bergantian denganku untuk menjaga Ibumu" tawar Natsu.

"Aku tidak capek" jawab Lucy.

"Jangan bohong" ujar Natsu.

"Tidak apa-apa, Natsu. Aku tidak capek" sahut Lucy. Lucy menggenggam kedua tangannya yang gemetar. Entahlah, semenjak Ibunya tidak sadarkan diri, tangan Lucy sering gemetar. Ia ketakutan Atau ini pengaruh dari musim dingin ini?

Natsu memperhatikan tangan Lucy yang sedang disembunyikan Lucy. Natsu menyambar tangan Lucy dan mengenggamnya. Lucy menoleh.

"Tidak apa-apa..tenanglah..tidak apa-apa.." ucap Natsu, ia berusaha menenangkan Lucy. Lucy memalingkan wajahnya dan memandang Ibunya kembali.

Natsu mengeratkan genggamannya karena tangan Lucy tidak henti untuk gemetar dan tangannya begitu dingin. Natsu berpikir, Lucy benar-benar ketakutan.

Natsu melepaskan genggamannya dan meraih syal kotak-kotaknya dan melingkarkan syal itu pada Lucy. Lucy membulatkan matanya.

"Luce..tenanglah.." ucap Natsu dengan lembut sambil memandang wajah Lucy. Lucy pun memandang Natsu.

"Aku sedang berusaha, Natsu. Tapi tangan ini..tangan ini tidak mau berhenti untuk gemetar..dada ini masih sakit dan sesak" jawabnya.

Natsu memandang Lucy dengan khawatir dan tatapan sedih. Ia benar-benar ingin memeluk gadis ini. Merengkuhnya. Menenangkannya. Jika perlu Ia ingin sekali membawanya ke planet yang lain untuk membuatnya tidak merasa sakit seperti ini. Tanpa pemuda itu sadari, tangannya sudah menarik Lucy untuk masuk kepelukkannya. Lucy tidak memberontak. Ia diam.

Dingin. Kata itulah yang terlontar dibatin Natsu. Tubuh gadis ini begitu dingin. Sebegitu dinginkah musim dingin ini? Inilah alasan kenapa Natsu sebal dengan musim dingin.

"Natsu, kenapa kau begitu hangat?" tanya Lucy yang masih berada dipelukan Natsu.

"Entahlah.." jawab Natsu

"Lalu, kenapa kau begitu baik padaku?" tanya Lucy lagi.

"Aku sudah mengatakannya bukan? Karena aku mencintaimu" jawab Natsu.

"Kalau kau tidak mencintaiku, kau akan berhenti bersikap baik padaku?" tanya Lucy. "Aku tidak mungkin begitu" sahut Natsu.

"Kalau begitu, kau harus begitu" ucap Lucy. Natsu mengendurkan pelukkannya agar ia bisa melihat wajah Lucy.

"Geezz, aku sudah bilang, aku tidak akan begitu. Dan tidak akan bisa.." ucap Natsu, kemudian ia memeluk Lucy kembali.

"Kau baik sekali..selalu baik.." gumam Lucy. "Tetapi selama ini aku selalu menjahatimu" lanjut Lucy dengan gumaman.

"Apa maksudmu?" tanya Natsu yang tidak mengerti arah pembicaraan ini.

"Kau tahu, kalau aku menyukaimu sejak kita kecil, aku selalu menyembunyikan perasaan itu, aku selalu menjahilimu, aku selalu mengejekmu, sampai aku meninggalkanmu tanpa mengatakan apapun..dan kau masih saja baik padaku" jelas Lucy. Natsu membulatkan matanya.

'Lucy menyukaiku—sejak dulu?' pikir Natsu.

"Kau menyukaiku? Kalau begitu, bagaimana kalau kita menjalin hubungan seperti dulu?—bukan maksudku hubungan yang lebih dari sekedar sahabat? Seperti berpacaran? Dengan begitu aku bisa melindungimu dan membuatmu terse—" ujar Natsu. Lucy menggeleng.

"Perasaan itu sudah lama menghilang.." gumam Lucy. Lucy memejamkan matanya. Lagi-lagi ia berbohong. Membohongi Natsu lagi. Perasaan itu tidak sepenuhnya menghilang. Tidak sekalipun.

"Apa? Coba kau katakan sekali lagi" ucap Natsu.

"Hilang. Rasa itu sudah menghilang" ulang Lucy.

Natsu melepaskan pelukannya dan tertawa. "Kalau begitu, aku akan membuatmu menyukaiku kembali bahkan sampai mencintaiku"

Lucy tercengang saat mendengar pernyataan Natsu. Ia berpikir, Natsu akan menyerah, tetapi—

"Aku sudah mengatakannya bukan? Kalau aku akan membuatmu merasakan kesedihan, kebahagiaan, kasih sayang, dan juga cinta? Aku bersungguh-sungguh, Luce.." terang Natsu.

Lucy terdiam. Ia tidak bisa mengatakan apapun lagi. Tidak ada. Dasar pemuda aneh.

XXX

Dua minggu berlalu, Ujian kenaikan kelas pun dimulai. Lucy memasuki ruang kelasnya yang sudah ramai dengan siswi kelasnya. Lucy berjalan menghampiri kursinya dan duduk disana. Tidak lama kemudian, Sting pun datang. Seperti biasanya, ia menyapa semua orang dengan ceria. Ia juga menyapa Lucy.

"Ohayou" sapanya

"Ohayou, Sting" jawab Lucy.

Sting memperhatikan wajah Lucy. Ada kantung hitam dibawah mata Lucy. Benar-benar terlihat kalau Lucy kurang istirahat dan terlihat begitu lelah.

"Kau kurang tidur ya?" tanya Sting dengan cemas. Lucy menggeleng.

"Benar?" tanya Sting lagi untuk memastikan.

"Iya" jawab Lucy. "Baiklah kalau begitu.." Sting pun berjalan menghampiri kursinya dan mendudukinya. Ia sempat melirik Lucy yang sedang menguap. Semakin hari, kondisi Lucy makin memprihatinkan. Terkadang ia suka tertidur dikelas, lupa mengerjakan pekerjaan rumahnya, dan nilai ulangan hariannya pun semakin menurun.

Bel pun berbunyi menandakan ujian segera dimulai. Lucy segera mengeluarkan alat tulisnya dari tasnya dan tiba-tiba..

Tess..

Tess..

Darah menetes tepat diatas mejanya. Lucy memandang heran dan mengelap hidungnya. Dan benar saja, darah segar keluar dari hidungnya. Lucy menoleh kesana-kesini dan tidak ada yang menyadarinya. Dengan cepat ia mengelap darah yang menetes dimejanya lalu berlari keluar kelas untuk ke toilet.

Sudah beberapa hari ini, ia sering sekali mimisan. Lucy tahu kalau tubuhnya sudah terlalu capek, tetapi ia tidak akan menyerah. Ia tidak akan menyerah. Ia masih sehat, sedangkan Ibunya? Yang terbaring dirumah sakit saja masih mau berjuang. Ya, dia tidak boleh menyerah.

Lucy membasuh wajahnya. Darah segar yang keluar dari hidungnya pun sudah mulai berhenti. Ia segera berlari keluar toilet dan menuju kelasnya untuk melaksanakan ujian.

XXX

Sore harinya, Lucy berjalan keluar dari rumahnya dan membawa tas ransel yang berisi beberapa pakaian. Ia terus-menerus menginap dirumah sakit semenjak Ibunya dalam keadaan koma. Salju terus turun di Magnolia, udara pun membuat tubuh Lucy menggigil.

'Hah dinginnya' batin Lucy.

"Hey.."

Lucy mendengar suara yang begitu familiar. Ia pun segera menoleh dan mendapati Sting sedang bersandar.

"Sting? Kenapa kau ada disini?" tanya Lucy.

"Aku ingin melihat keadaanmu dan Ibumu" jawabnya.

"Melihatku? Hey, kau kan bisa melihatku disekolah" tukas Lucy sambil berjalan. Sting pun mengejarnya dan akhirnya mereka berjalan beriringan.

"Melihat kondisimu yang sebenarnya, maksudku.." tambah Sting.

"Apa maksudmu?"

"Kau sedang tidak baik-baik saja. Jangan kau berpikir aku tidak melihatnya tadi. Kau mimisan kan?" tanya Sting dengan nada menginterogasi.

"Sudahlah, Sting. Jangan terlalu berlebihan. Itu hanya mimisan, aku sudah sering seperti itu" jawab Lucy.

"Sering? Berarti tadi itu bukan yang pertama?" tanya Sting lagi.

"Yap" jawab Lucy dengan santai.

"Astaga Lucy! Kau ini butuh istirahat! Tubuhmu sudah tidak bisa lagi menahannya!" omel Sting.

"Berisik, Sting. Aku tidak apa-apa. Walaupun aku mimisan beberapa kali, aku tetap masih bisa berjalan kan? Aku juga masih tetap hidup. Jadi diamlah" sahut Lucy.

Sting memutar kedua bola matanya. Ia lelah mendengar alasan Lucy.

"Aku bosan mendengar alasanmu" gerutu Sting.

"Kalau begitu diam, jangan banyak bertanya dan mengaturku" sahut Lucy dengan datar.

"Kau harus istirahat, Lucy" ucap Sting lagi.

Lucy memberhentikan langkahnya dan menoleh kearah Sting. "Aku akan istirahat jika Ibuku sudah membuka kedua matanya". Setelah mengatakan hal itu Lucy lanjut berjalan, Sting pun menghentikan langkahnya dan menghela nafas.

"Jika Ibumu tidak juga membuka matanya, apa yang akan kau lakukan? Kau akan terus seperti ini?!" ujar Sting. Lucy terkejut mendengar perkataan Sting dan segera menoleh.

Plak!

Sebuah tamparan dari Lucy mengenai pipi Sting. Akibatnya, pipi Sting memerah.

"Jangan berbicara seperti itu, Baka! Ibuku akan segera membuka matanya!" seru Lucy dan kemudian Lucy pun berlari meninggalkan Sting.

Sting hanya memandang kepergian Lucy dengan sedih.

"Kita harus mempersiapkan hal yang paling terpahit, Lucy" gumamnya.

XXX

Ujian kenaikan kelas pun telah lewat. Kini, para siswa diliburkan sampai dengan nilai mereka keluar. Ujian penerimaan murid baru pun dilaksanakan. Michelle datang bersama dengan Ayahnya. Ia terlihat begitu antusias dan bersemangat. Ia pun juga sudah mengabari Lucy bahwa hari ini adalah hari ujiannya. Tetapi Lucy tidak membalasnya.

Disisi lain, Lucy sedang mematung melihat Ibunya sedang ditolong oleh beberapa suster dan Dokter. Ibunya collapse kembali, walaupun koma, tiba-tiba saja kondisi Ibunya mulai drop.

"Ibu.."

Dada Lucy kembali sesak, Lucy mulai memukuli dadanya kembali. Ia memandang kedua tangannya yang gemetar, kakinya yang gemetar. Ia merasakan hawa dingin yang menusuk kedalam tubuhnya. Ya, dia merasa ketakutan yang begitu hebat. Ia tertunduk lagi berjongkok. Seluruh tubuhnya bergetar. Tiba-tiba Natsu dan Sting masuk kedalam. Mereka membelalakkan matanya dan segera menghampiri Lucy.

"Luce!"

"Lucy!"

Mereka segera memeluk Lucy dengan erat. Mereka berusaha menenangkan Lucy. Nafas Lucy mulai terengah-engah. Dadanya begitu sakit, darah segar kembali keluar dari hidungnya dan menetes pelan kelantai, tubuhnya masih bergetar.

"Tenanglah, Lucy!" ucap Sting

"Ibu...Ibu..." Lucy terus menggumamkan nama Ibunya. Natsu dan Sting semakin khawatir dengan kondisi Lucy. Tidak lama kemudian, Lucy pun jatuh pingsan.

"Lucy!"

Dokter yang sedang menolong pun menoleh dan memerintahkan seorang suster untuk mengurus Lucy.

XXX

Lucy terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Ditangan kirinya ada selang infus, lalu ada selang oksigen dihidungnya. Natsu dan Sting memandangnya dengan khawatir.

"Kapan ini akan berlalu, Luce.." gumam Natsu sambil membelai rambut Lucy yang terlihat kusam.

"Natsu-san, aku melihat ponsel milik Lucy. Ia mendapat pesan dari Michelle. Michelle sedang ada di kota ini" ungkap Sting sambil menunjukkan ponsel Lucy pada Natsu. Natsu berpikir sejenak dan segera menekan beberapa tombol untuk menelpon seseorang.

"Natsu-san, kau mau apa?!" tanya Sting

"Diam! Michelle dan Ayahnya harus tahu keadaannya. Aku tidak tahan lagi melihatnya sendirian, ketakutan" ujar Natsu sambil menempelkan ponsel Lucy ditelinganya.

"Moshi-moshi..." terdengar suara yang begitu dikenalnya, suara Michelle...

"Michelle, aku Natsu. Begini dengar baik-baik dan tenang ya" ujar Natsu. Sting hanya meneguk ludahnya, ia takut dengan apa yang akan dilontarkan oleh Natsu.

"Kakak dan Ibumu sedang berada dirumah sakit. Jadi kemarilah dan jenguk mereka. Kami sedang berada disini. Aku dan Sting." Jelas Natsu.

"Ap—apa?" terdengar kepanikan didalam suara Michelle.

"Aku akan menjelaskannya disini, jika kau sudah selesai ujian, datanglah kerumah sakit Magnolia" tambah Natsu.

"Ba—baiklah" suara Michelle mulai bergetar, mungkin dia sudah menangis.

Natsu memutuskan teleponnya dan meletakkan ponsel Lucy di meja.

"Maafkan aku, Luce..aku akan mengatakan pada Michelle dan Ayahmu.." gumam Natsu, kemudian dia berjalan keluar dari ruang rawat Lucy. Sting memandangnya iba.

"Benar Lucy, hidupmu begitu rumit. Tapi aku..aku tidak menyesal terlibat dalam hidupmu. Karena aku ingin melindungimu.." ucap Sting. Ia pun mengecup kening Lucy.

XXX

Michelle dan Ayahnya dengan langkah terburu-buru menyusuri koridor rumah sakit. Dan saat sampai itu pula mereka bertemu dengan Natsu.

"Natsu-san!" ujar Michelle. Airmatanya sudah mengalir kepipinya.

Michelle dan Jude pun akhirnya sampai dan bertemu sapa dengaan Natsu.

"Kenapa mereka ada disini, Natsu?" tanya Jude, wajahnya terlihat begitu cemas.

"Bagaimana kalau kita duduk dulu?" tanya Natsu. Mereka pun mengangguk.

Natsu mulai menceritakan tentang kehidupan Lucy dan tentang penyakit Layla. Michelle menangis tersedu mendengar berita itu. Jude hanya tertunduk sedih dan prihatin.

"Lalu sekarang dimana mereka?" tanya Jude.

"Lucy berada diruang 304, Layla-san ada diruang ICU" jawab Natsu.

Tanpa mengatakan apapun, Michelle berlari menuju ruangan kakaknya. Ia butuh penjelasan atas ini semua. Kenapa kakaknya bisa menyembunyikan hal penting seperti ini? Apa kakaknya tidak menganggapnya keluarga lagi? Ia begitu sakit. Hatinya begitu sedih dan sakit.

Michelle membuka pintu ruang rawat Lucy. Ia menemukan Sting sedang duduk menjaga Lucy.

"Michelle!"

"Bisakah kau keluar sebentar?" tanya Michelle. Sting mengangguk dan berjalan keluar.

Michelle mulai menangis. "Bangun, Nee-chan. Kau harus menjelaskan ini semua! Bangun!" ucap Michelle dalam tangisnya.

"Kenapa kau menyembunyikan hal ini...Kenapa...kenapa kau menanggung semua ini sendiri, Nee-chan? Kenapa kau.." Michelle tidak tahan untuk melanjutkan perkataannya, ia menangis tersedu-sedu. Ia teringat akan kenangannya bersama keluarganya. Keluarga utuhnya. Tawa canda mereka. Senyuman manis Lucy. Kehangatan keluarga.

XXX

Disisi lain, Jude sedang menjenguk Layla. Ia sedih melihat mantan istrinya yang sebenarnya masih ia cintai. Ia benar-benar menyesal, kenapa dulu ia menyetujui perceraian yang diajukan oleh Layla. Kalau tidak, kalau ia tidak menyetujuinya, keluarganya tidak seperti ini...benar-benar memprihatinkan..

"Bangunlah, Layla..Putri-putri kita menunggumu.." bisik Jude.

Tanpa disadari, airmata pun keluar dari mata Layla yang masih tertutup. Jude shock melihatnya. Dan dengan panik ia memanggil dokter untuk mengeceknya lagi.

"Sebuah keajaiban..itulah yang sedang terjadi" jelas Dokter. Jude hanya tersenyum dan memandang Layla.

"Ayo Layla, buka lah matamu..kami menunggumu.." bisik Jude lagi.

XXX

Lucy sudah tidak sadarkan dirinya selama satu minggu. Teman-teman dekat Lucy pun seperti Natsu, Sting, Levy, Erza, Gray, Juvia, dan Gajeel terus menerus datang menjenguknya. Michelle dan Jude bergantian menjaga Lucy dan Layla, terkadang Natsu dan kawan-kawan pun menawarkan untuk ikut menjaga.

"Michelle" panggil Sting

Michelle menoleh dan tersenyum, "Sting-san"

"Aku bawakan minuman hangat untukmu" ucap Sting dan duduk disebelah Michelle. Michelle dan Sting sedang menjaga Lucy hari ini.

"Bagaimana dengan ujian penerimaan? Susah tidak?" tanya Sting. Michelle tertawa pelan. "Sedikit".

Sting membelai rambut Michelle dengan penuh kasih sayang. "Kau pasti masuk kesekolahku. Kau kan sama pintarnya dengan kakakmu" ucap Sting sambil menunjuk Lucy.

Michelle tersenyum.

"Nee-chan tidak sadarkan diri karena dia takut padaku ya?" ucap Michelle. Sting tidak mengerti dengan perkataan Michelle.

"Dia takut untuk bercerita padaku yang sebenarnya. Makanya dia berpura-pura tertidur seperti itu" jelas Michelle. Sting tersenyum.

"Bisa jadi seperti itu.." timpal Sting. Mereka pun tertawa.

"Aku harap, Nee-chan bisa cepat membuka matanya" harap Michelle. Sting mengangguk.

XXX

Minggu demi minggu berlalu, Lucy masih saja tidak membuka matanya. Tanpa disadari oleh mereka, sekarang sudah masuk kedalam bulan januari. Salju masih turun dengan lebatnya.

Lucy masih memejamkan matanya. Layla pun masih memejamkan matanya. Apakah mereka sedang bermain bersama? Sehingga tidak dapat membuka mata mereka untuk menjalani kehidupan nyata mereka?

Layla POV

Tuhan..berikan aku sedikit waktu lagi untuk bertemu dengan putri-putriku yang aku sayangi. Beri aku sedikit waktu lagi untuk bertemu dengan teman-teman anakku, Aku ingin berpesan pada mereka untuk menjaga putriku. Berikan aku sedikit waktu untuk mengucapkan kata sayang pada putri-putriku. Berikan aku sedikit lagi waktu, Tuhan..aku mohon...

End of Layla POV

Jude yang sedang menjaga Layla pun tersentak kaget saat merasakan sentuhan ditangannya. Ia melihat tangan Layla bergerak perlahan. Ia tersenyum gembira.

"Layla.." panggilnya.

Layla pun membuka perlahan matanya. Ia mengedipkan matanya dan mendapati seorang Jude dihadapannya. Ia diam-diam tersenyum.

"Hey.." sapa Jude sambil membelai rambut Layla.

XXX

Natsu masuk kedalam ruang perawatan Lucy. Ia melihat Michelle yang sudah tertidur sambil menggenggam tangan kakaknya. Natsu tersenyum dan melangkah mendekat pada Michelle.

'Luce..ayo bangun..semua orang menunggumu..' batin Natsu.

Natsu menyentuh bahu Michelle, Michelle agak tersentak dan membuka matanya dan menoleh mendapatkan sosok Natsu berdiri dibelakangnya.

"Natsu-san?"

"Layla-san sudah sadar. Kau bisa menjenguknya" ungkap Natsu.

Wajah Michelle pun terlihat agak ceria. "Hontou desuka?"

Natsu mengangguk. "Jenguklah Layla-san. Aku akan menjaga Lucy"

"Yokatta..Baiklah, aku akan kesana" Michelle bangkit berdiri dan keluar dari ruangan, meninggalkan Lucy dan Natsu.

Natsu memandang Lucy dan menggenggam tangan Lucy dengan erat.

'Ayo Luce..Ibumu sudah sadar, ayo buka matamu' batin Natsu

.

.

.

.

.

.

To Be Continued


HALOOOOOO EPERIBADEEEHHH, IM COMING BAAAACCCKKK SETELAH 2 BULAN GAK UPDATE HAHA XD

hontouni gomenasai para reader! aku baru pulang dari Spain dan disana gak bisa konek internet, karena biaya wifi disana sangatlah HMMMM~~ hontouni gomenasai XC tetapi...

BAGAIMANA DENGAN CHAPTER KALI INI? BASI? KEBANYAKAN? OOC? LEBAY? DAN ALUR KECEPETAN?

Ya sudah, direview aja ah komennya~~~

Balas balas ripiuw~~

KelvinKLR : Hehe ini udah dilanjutin loh, makasih buat do'anya. Jadi cepet deh updatenya XD

Waifu Natsu : Waduh kejem bener liat Lucy menderita malah seneng XD Ini udah lanjut monggo~~

aichanr14 : Udah update, chapter ini bagaimana Nalunya? kurang? haha XD

kirigaya dragneel : Udah lanjut, tetapi tidak semudah itu cinta Natsu diterima HAHAHAHA XD

desty dragfilia : Ini udah lanjutttt, tetapi kayanya cinta Natsu belum diterima begitu saja oleh Lucy hihihi XD

Guest : Disini bukan hanya bakal ada Nalu doang kok, tapi Sticy juga, jadi jangan terombang ambing, nikmatin aja XD

ft-fairytail : Hmm akan ada waktunya Lucy akan membuka dirinya kok, ditunggu aja XD dan btw Love Affair kapan di update? jawabannya belum tahu, karena lagi seret inspirasi haha gomenasai XC

LRCN : Ok XD

Annataillie : Salam kenal! Hmm pertanyaannya udah kejawabkan ama cerita diatas? hhihi XD

dsakura2 : Hehe makasih! Ini udah lanjut, gomen kalo lama hehe XC

K. C. Dragfilia : Boleh kok haha hmm Nah, udah tau kan reaksi Lucy kaya gimana? wkwkwk XD

Pororo-chan : Uweeeeeee ini udah update, tapi bukan update kilat wkwk XD

Nah Udah kelar balesinnya dan sekarang tinggal informasi aja..

Hmm untuk update fanfic ku yang berjudul Love Affair, Hmm author belum bisa janji kapan akan diupdate, tetapi author bakal sekuat tenaga bakalan update dan selesain fanfic itu!

terus yang judul Tsubasa no Nai Tenshi lagi digarap kelanjutannya, jadi ditunggu aja yahhh~~~

Udah ah segitu dulu aja bacotan dari author, Bye byeee~~~

Salam manis,

Yusa-kun