Fairy Tail © Hiro Mashima
A Fairy Tail Fanfiction
Between Us
By Yusa-kun
Warning : AU, Typo(s), OOC.
.
.
.
.
.
Pagi hari telah menjelang, Natsu keluar dari ruangan rawat Lucy sambil mengucek sesekali matanya. Ia agak terkejut saat ia membuka pintu dan mendapati Ayah Lucy tengah ingin membuka pintu.
"Ah, Jude-san. Ohayou" sapanya
"Ohayou, Natsu. Terimakasih ya sudah menjaga Lucy semalaman. Michelle berada di ruangan Ibunya sekarang" jelas Jude.
Natsu mengangguk. "Sebelum aku pulang, mungkin aku akan menjenguk Layla-san"
"Baiklah" jawab Jude
Natsu pun keluar dari ruangan dan Jude pun masuk kedalam ruang rawat Lucy.
XXX
Natsu membuka pintu ruangan dimana Layla sedang dirawat. Dari luar ia bisa mendengar suara tawa Michelle dan Layla.
"Ohayou" Sapa Natsu
Michelle dan Layla pun menoleh. "Ah Natsu-san"
"Natsu-kun"
Natsu tersenyum dan berjalan menghampiri mereka.
"Selamat datang kembali, Layla-san..bagaimana keadaanmu? Lebih baik?" Tanya Natsu.
Layla tersenyum dan mengangguk. "Arigatou sudah menjengukku, kau sendirian?" Tanya Layla.
Layla melihat kebelakang Natsu, seperti mencari seseorang. "Tidak bersama Lucy?" Lanjut Layla.
Natsu bertemu pandang dengan Michelle. Michelle menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku bersama Sting tadi. Sting ada diluar" jawab Natsu.
"Lucy kemana ya, biasanya dia yang menjagaku.." Gumam Layla.
Michelle dan Natsu bertemu pandang lagi dan tatapan mereka begitu sendu. "Ibu.." Michelle menggenggam tangan Layla.
"Ada apa, sayang?" Tanya Layla
"Soal Nee-chan..hmm Nee-chan.." Michelle tidak sanggup mengatakannya.
Seakan Natsu mengerti akan hal itu, Natsu melanjutkan kalimat Michelle,
"Lucy—Lucy sedang dirawat disini, dirumah sakit ini. Dan sudah tidak sadarkan diri lebih dari 3 minggu. Ia jatuh pingsan saat dirimu collapse, Layla-san" ungkap Natsu dengan berat hati.
Layla yang mendengar itu tertunduk sedih. Ia menangis. "Bolehkah aku menjenguknya?" Tanya Layla dengan suara bergetar. Ia memandang Natsu dan Michelle bergantian. Natsu dan Michelle pun mengangguk.
"Aku akan ambilkan kursi roda untukmu" ujar Natsu sambil berjalan keluar.
XXX
"Lucy.."
Layla memandangi putri sulungnya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan mata berkaca-kaca. Tangannya berusaha menggapai tubuh putrinya. Natsu yang mengerti, langsung mendekatkan kursi roda Layla pada ranjang Lucy.
Layla pun menangis. Natsu dan yang lainnya pun berinisiatif untuk keluar.
"Lucy.." Lirih Layla.
Lucy masih tidak menjawab.
"Bangun sayang.." Ucap Layla lagi.
Masih tak ada jawaban yang terdengar.
Layla menangis sambil menggenggam tangan Lucy. "Bangun sayang..tolong, lihat Ibu..Ibu disini..Ibu masih disini.." Gumam Layla didalam tangisnya.
Lucy masih tidak bergerak.
"Ibu mohon..buka matamu.." isak Layla.
Lucy mulai merespon. Jari-jari Lucy mulai bergerak. Layla pun yang menyadari respon Lucy pun terus melontarkan kalimat-kalimat yang terus menerus memotivasi putrinya untuk bangun.
Detik berikutnya, keajaiban itu pun datang, memang do'a seorang Ibu dapat membuat keajaiban untuk anaknya. Lucy pun kini mulai membuka matanya perlahan. Layla tersenyum dan menyeka sisa airmatanya.
"Lucy!"
Lucy menoleh kesana kemari dan akhirnya menyadari keberadaan Layla disampingnya.
"I-bu.." Ucapnya dengan lemah.
Layla menutup mulutnya dengan tangannya dan menangis.
"Syukurlah..syukurlaah..Ibu panggilkan dokter—" saat Ibunya ingin menyeret kursi rodanya menjauh, Lucy menahannya. Lucy menggeleng pelan menandakan bahwa Layla jangan pergi.
Layla tersenyum dan mendekat kembali.
"Sebentar saja..kau harus diperiksa oleh Dokter.." Ucap Layla. Akhirnya Lucy pun mengangguk dengan lemah.
Layla pun menyeret kursi rodanya keluar dan memberitahu pada seseorang yang berada diluar kalau Lucy telah sadar.
XXX
"Keadaannya stabil" ungkap Dokter
Lucy bangkit duduk dengan dibantu Michelle dan membuka selang oksigennya.
"Aku tidak apa-apa" ucap Lucy. Michelle mengangguk.
"Hanya saja, Lucy-san tidak boleh terlalu memforsir tenaga lagi. Kalau tidak kondisinya akan drop seperti kemarin. Mungkin bisa lebih parah lagi.." Terang sang Dokter.
Natsu, Sting, Michelle, Layla dan Jude hanya mengangguk mengerti.
"Lalu bagaimana dengan bahu putriku?" Tanya Jude.
"Hasil dari scan, Cedera bahunya sudah cukup parah, mungkin alasannya karena Lucy-san telah memaksakan keadaannya" jawab Dokter.
Lucy tertunduk.
"Cedera itu bisa disembuhkan kan Dok?" Sambar Sting.
"Mungkin tidak bisa sembuh total, tetapi mungkin dengan beberapa perawatan, cedera itu tidak lebih parah dari yang sebelumnya" terang sang Dokter.
"Jadi, sama saja ini tidak dapat pulih bukan?" Tanya Lucy dengan dingin.
Semua menoleh kearah Lucy. Lucy hanya memalingkan wajahnya.
"Kalau bahumu sudah terlalu parah, mungkin kita bisa menggunakan gips untuk tetap menjaga bahumu, tetapi seperti yang sudah saya jelaskan. Kegiatanmu akan terbatasi" jawab Dokter.
"Heeeh menyusahkan. Bagaimana kalau kau amputasi saja bagian cedera ini. Cedera ini sangat merepotkan" gumam Lucy.
Semua yang ada diruangan tersebut membulatkan matanya karena mendengar gumaman Lucy. Jude melangkah mendekat dan menatap putrinya yang memalingkan wajah darinya.
"Lucy, tatap aku" pinta Jude
Lucy tidak sedikitpun melirik Jude ataupun menjawab permintaan Jude. "Lucy!" bentaknya.
Lucy agak tersentak. "Sudahlah, jangan pedulikan aku" ucap gadis itu.
Sting mendekat dan menepuk pelan kepala Lucy. "Apa-apaan kau ini, semua orang disini sangat mengkhawatirkan dirimu. Jangan berbicara seperti itu, baka" ucap Sting. Lucy menoleh dan memandang Sting yang sedang tersenyum.
'Apa-apaan sih' batin Lucy.
Natsu yang melihatnya hanya mengangkat sebelah alisnya.
"Dok, apa dirumah sakit ini dapat melakukan perawatan pada pasien seperti Lucy?" Tanya Jude
"Tidak, saya sebagai Dokternya hanya bisa memantau keadaan bahunya dan memberinya obat saja. Tetapi disini tidak ada untuk perawatan yang khusus" terang dokter.
"Bagaimana dengan rumah sakit di Crocus?" Tanya Michelle.
"Kemungkinannya besar kalau disana, karena disana peralatannya jauh lebih baik dibanding di Magnolia ini" jawab Dokter.
Jude melangkah mendekat pada Lucy. Lucy masih memalingkan wajahnya, Michelle merangkul Ibunya yang duduk di kursi roda.
"Lucy..kau harus melakukan perawatan itu di Crocus, maukah kau—" sebelum Jude menyelesaikan kalimatnya, Lucy pun telah memotongnya.
"Tidak. Aku tidak mau. Sebentar lagi sekolah akan dimulai. Aku tidak bisa kesana hanya untuk hal sepele" jawab Lucy dengan datar.
"Hal sepele?! Apa yang kau maksud dengan hal sepele Lucy?!" Bentak ayahnya.
Lucy tersentak kaget, tangannya terkepal dan gemetar, Lucy memejamkan matanya.
"Jawab ayah!" Bentak ayahnya.
Natsu mendengarnya dan melihat reaksi Lucy. Natsu dengan cepat memegang bahu Jude dan menenangkannya. "Jude-san.." Panggil Natsu.
Jude mengambil nafas dan kembali menghembuskannya.
XXX
Beberapa hari kemudian, Lucy dan Layla sudah bisa pulang kerumahnya. Lucy pun mempersiapkan alat-alat untuk keperluan sekolah. Lucy sudah mengetahui nilai-nilai hasil ujiannya kemarin. Ia begitu kecewa. Nilai disetiap pelajaran menurun sangat drastis. Dan esok hari, para murid FT high school akan mulai bersekolah, begitu pula dengan Michelle. Michelle sudah resmi masuk kesekolah dimana Lucy dan teman-temannya bersekolah.
"Nee-chan..apa aku boleh masuk?" Michelle mengintip dari balik pintu kamar Lucy. Lucy mengangguk.
"Kau sedang bersiap-siap untuk besok masuk kesekolah ya?" tanya Michelle
"Ya, begitulah" jawab Lucy dengan singkat.
"Setiap hari kita akan bertemu terus loh, Nee-chan" Michelle mulai duduk di tepi tempat tidur Lucy. Lucy menoleh dan memandang adiknya.
"Lalu?"
"Kita akan makan siang bersama, berangkat bersama, pulang bersama, mengikuti kegiatan klub bersama~~ aaaaah asyiknya~~~" ujar Michelle dengan mata yang berbinar-binar. Lucy tersenyum tipis.
"Michelle, aku tidak mengikuti klub apapun disekolah" tukas Lucy.
"Benarkah? Kenapa memangnya?" tanya Michelle
"Mungkin karena aku gadis yang sangat sibuk?" jawab Lucy sambil mengangkat bahunya.
Terdengar gelak tawa Michelle saat Lucy menjawab pertanyaannya seperti itu. Lucy memandang Michelle dengan heran. "Hey! Kenapa kau tertawa?" tanya Lucy
"Jadi awal semester ini kau harus masuk salah satu klub disekolah, karena kau tidak bekerja lagi kan? Hihi" tanya Michelle
"Maksudmu dengan tidak bekerja lagi, apa Michelle?" Lucy memandang sinis Michelle. "Kau mau aku dan Ibu kelaparan? Jika aku tidak bekerja, mau makan apa kami?" omel Lucy sambil memasukkan beberapa buku kedalam tas sekolahnya.
"Eh? Ayah belum bilang ya? Kalau hidup Nee-chan dan Ibu plus diriku, akan dibiayai oleh Ayah. Mulai saat ini hehe" ungkap Michelle.
"Ap—apa maksudmu?" Lucy terlihat terkejut saat mendengar perkataan Michelle.
"Ya seperti yang aku bilang" jawab Michelle dengan santai.
"Aku akan tinggal disini bersamamu dan Ibu. Ayah menetap di Crocus. Kau tahu kan, kalau aku tidak mungkin pulang pergi saat kesekolah disini? Jarak Crocus dan Magnolia itu..hmm..cukup jauh.." jelas Michelle,
"Ya ya aku tahu, aku tidak keberatan dengan kau tinggal disini, tapi Ayah tidak harus—" belum selesai Lucy berbicara, Michelle sudah memotongnya.
"Tidak ada penolakan, 'kay?" ujar Michelle
Lucy memutar bola matanya, "Ha'i, Ha'i.."
Mereka pun tertawa.
XXX
Keesokkan harinya, Michelle dan Lucy berangkat pagi-pagi kesekolah, Michelle tidak mungkin terlambat bukan saat upacara penerimaan siswa baru dilaksanakan? Sesampainya disekolah, Lucy pun bertemu dengan teman-temannya dan bersama-sama, mereka melihat ke papan pengumuman dimana penempatan kelas diumumkan disana.
"Ah...ramai sekaliiii" rengek Levy.
"Bagaimana ini? Apa kita ikut-ikutan desak-desakan? Nanti model rambut Juvia enggak oke lagi~" timpal Juvia. Lucy tersenyum dan berjalan mendekati keramaian. Ia berdesak-desakkan dan akhirnya ia sampai didepan papan pengumuman.
Ia menelusuri namanya di berbagai kelas. Dan dapat. Ia membulatkan matanya.
2-B
Lucy mengepalkan tangannya. Baiklah, ia tidak lagi menjadi siswi unggulan dan kemungkinan sebentar lagi ia dipanggil oleh kepala sekolah. Lucy pun keluar dari keramaian dan berjalan menuju teman-temannya.
"Bagaimana, Lu-chan? Kau pasti masuk 2-A, ya kan?" tanya Levy dengan nada cerianya.
Lucy menggeleng, "Erza, Levy kau berdua dikelas 2-A. Dan aku bersama dengan Juvia di kelas 2-B" jelas Lucy.
"Ap-apa!"
"Yasudah, ayo Juvia, kita kekelas" ajak Lucy sambil berjalan menuju kelasnya.
Levy dan Erza saling memandang, "Bagaimana bisa?"
XXX
Dikelas, semua mata siswa dikelas Lucy pun tertuju ke Lucy. Mereka semua memandang heran Lucy. Dan Lucy menebak, Pasti mereka semua bertanya-tanya, kenapa Lucy bisa berada disini? Lucy tidak peduli dengan sebutan gadis terpintar seantero sekolah, ia sudah benar-benar muak. Tapi yang ia begitu sesalkan. Beasiswanya. Beasiswanya pasti dicabut.
Untuk kesekian kalinya, Lucy menghela nafas. Sekarang ia memilih duduk posisi paling belakang dan didekat jendela. Ia bisa melihat jendela kelasnya yang tertimbun oleh lebatnya salju yang turun.
Sreek
"Flame-head, kita beruntung sekali masuk disini..kita bukan lagi siswa dikelas terbodoh.. haha"
Lucy yang mendengar suara itu pun langsung tersentak kaget. Ia begitu mengenali suara itu dan nama panggilan itu. Flame-head? Pasti orang itu memanggil Natsu!
"Yayaya, berkat belajar sampai mati-matian! Yosh!"
Setelah mendengar suara itu, Lucy pun melirik kearah pintu kelas dan mendapati Natsu dan Gray. Natsu dan Lucy pun akhirnya bertemu pandang.
Deg..Deg..Deg...
Lucy pun memalingkan wajahnya. Jantungnya berdegup dengan cepat saat bertatapan mata dengan Natsu. Oh tidak, kau jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada Natsu, Lucy.
Natsu menghampiri Lucy. "Hey"
Lucy menoleh dan memandang datar Natsu. "Hey"
"Kita satu kelas loh" ucap Natsu
"Ya aku tahu" jawab Lucy, seadanya.
"Mohon bantuannya ya Luce.." Natsu memamerkan grins khasnya pada Lucy. Lucy yang memandangnya pun menjadi blushing.
Lucy mengangguk pelan dan memalingkan wajahnya untuk menutupi blushingnya. Natsu yang menyadari itu pun hanya tersenyum.
"Dasar tsundere" gumam Natsu sambil berlalu.
Lucy yang mendengar itu pun langsung menoleh dan mendapati Natsu yang sudah melangkah menjauh. Lucy pun memandang sinis Natsu.
'Baka' batin Lucy. Lucy pun tersenyum tipis.
XXX
Lucy melewati gedung olahraga yang kosong sepulang sekolah. Ia pun akhirnya masuk kedalam dan menoleh kesana-kemari dan tidak mendapati seorang pun disana. Ketika ia ingin keluar dari gedung olahraga, ia melihat sebuah bola basket didekat ring. Lucy tersenyum dan menghampiri bola tersebut.
Lucy berdiri dihadapan bola tersebut dan berjongkok sedikit untuk mengambil bola tersebut. Lucy memandangi bola itu.
Flashback on
"Luce...oper padaku!" Natsu berlari, keringat mengucur dari keningnya. Lucy berlari disampingnya sambil mendribble sebuah bola basket.
"Yup!" Lucy pun mengoper bola tersebut dan Natsu pun mencetak angka.
Saat ini, ia sedang berlatih untuk kejuaraan basket wanita tingkat sekolah menengah pertama. Lucy mengikuti kompetisi itu karena selain ia menyukai basket, ia pun pernah menjadi kapten tim basket disekolahnya.
Lucy dan Natsu ber-high five dan tertawa.
"Masih kurang, teknik mengoper bolamu itu..hmm" kritik Natsu
"Mou..jadi aku harus bagaimana? Masih untung aku mengoper kepadamu dan dapat ditangkap, jika aku mengoper ke wajahmu, wajahmu yang buruk itu bisa bertambah buruk nanti, hahaha" ledek Lucy.
Natsu menjitaknya. "Ittaaaiii!" keluh Lucy.
"Ah, aku ada ide, bagaimana kalau kita bertanding? Siapa yang mendapat poin terbanyak, kau bisa meminta apapun dari yang kalah. Bagaimana?" usul Natsu.
Lucy menyeringai. "Baiklah, siapa takut hihi"
"Okaaay!"
Mereka pun mulai bertanding, mereka saling merebut bola dengan cara apapun. Terkadang Lucy mengglitik Natsu, ataupun sebaliknya. Didalam permainan tersebut, mereka selalu saja tertawa.
Flashback off
Lucy mulai memantulkan bola basket yang ada di tangannya dan berjalan pelan menuju tepat didepan ring basket. Ia menoleh keatas dan berganti memandang bola basket yang memantul didepannya. Ia pun tersenyum.
"Apa aku masih sehebat dulu ya?" gumamnya.
Lucy mengangkat bola basket dengan kedua tangannya, ya tentunya seperti teknik untuk mencetak angka didalam teknik olahraga basket. Dan yak, dia melemparnya.
Hap!
Bola itu pun masuk kedalam ring. Lucy tersenyum dan berlari mengejar bola tersebut, dan saat itu pula ia menyadari keberadaan seseorang. Ia pun menoleh,
"Natsu.."
"Yo" Natsu berjalan menghampiri Lucy yang sedang mengambil bola.
"Kau sedang bermain?" tanya Natsu. Lucy menggeleng, "Aku hanya mencobanya"
"Oh, begitu.."
Mereka pun terdiam.
"Kau masih mau disini? Aku ingin pulang" ucap Lucy memecah keheningan.
"Baiklah, ayo kita pulang bersama" ajak Natsu sambil berjalan keluar dari gedung olahraga. Lucy memandang heran Natsu. Lucy pun berjalan dibelakangnya.
"Aku bisa pulang sendiri" ucap Lucy.
"Tapi aku ingin pulang denganmu" sahut Natsu.
"Tapi aku tidak ingin pulang denganmu" timpal Lucy.
"Lalu? Apa masalahnya?" tanya Natsu sambil menoleh kebelakang dengan wajah yang cool.
Lucy yang melihatnya pun, segera memalingkan wajahnya. "Ya—ya berarti kau tidak boleh pulang denganku" ucap Lucy dengan gugup.
Diam-diam Lucy merutuki dirinya sendiri, kenapa ia bisa begitu gugup didepan Natsu? Sial! Karena Natsu selalu bilang ia mencintainya, Lucy menjadi tidak karuan seperti ini. Lucy pun menggeleng-gelengkan kepalanya, ia menyingkirkan pikirannya yang menurutnya aneh.
"Kau kenapa? Mabuk?" tanya Natsu yang memandang heran Lucy.
"Ah, tidak. Hey! Apa maksudmu dengan mabuk? Aku tidak mabuk!" jawab Lucy dengan sinisnya.
"Habis, kau geleng-geleng sendiri" sahut Natsu sambil mempraktekkan Lucy saat menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa" Lucy pun berjalan melewati Natsu. Natsu pun segera menarik tangan Lucy sehingga membuat Lucy terhenti. Lucy pun menoleh.
"Ada apa?" tanya Lucy.
"Kalau kau tidak mabuk, apa mungkin, kau memikirkan hal-hal aneh tentangku? Memikirkan tentang ketampananku? Atau kau sudah mulai jatuh cinta padaku?" tanya Natsu sambil mendekatkan wajahnya setiap melontarkan ucapannya. Lucy pun memundurkan wajahnya.
Lucy memutar bola matanya dan meraup wajah Natsu dan menyingkirkannya.
"Ngarep!" ujar Lucy sambil berlari meninggalkan Natsu. Natsu pun tertawa dan mulai mengejar Lucy. Dan pada akhirnya mereka pun pulang bersama.
XXX
"Ibu sudah tidak apa-apa sudah bekerja seperti ini? Memasak seperti ini?" tanya Michelle sambil membantu Ibunya menyediakan makan malam.
"Tidak apa-apa. Kau lihat sendiri kan? Ibu baik-baik saja.." sahut Layla.
"Tadaima.."
Michelle melihat kakaknya yang sedang menutup pintu depan dan segera menyambutnya.
"Okaerinasai, Nee-chan. Wah..kok wajah Nee-chan agak berbeda ya..seperti sedang senang.." ledek Michelle.
"Urusai, Michelle" Lucy pun berjalan menuju kamarnya dan masuk kedalam.
Michelle pun terkikik.
XXX
Lucy, Michelle dan Layla sedang makan malam bersama. Michelle terlihat sangat lahap menyantap makanannya. Lucy pun memakan makanannya dengan perlahan. Layla memperhatikan tingkah laku kedua putrinya itu dan tersenyum.
"Bagaimana masakan Ibu? Apa ada yang tidak enak?" tanya Layla dengan lembut.
"Uenayyk kuook Byuu" jawab Michelle sambil mengunyah makanannya.
Lucy tersenyum tipis, "Habiskan dulu makananmu yang ada dimulut, baru bicara. Tidak bu, Masakan ibu sangat enak"
"Syukurlah..." Layla pun tersenyum mendengar pujian dari kedua putrinya.
"Ah iya, Ibu ingin mencetak foto saat kita bertiga mau pergi mengantar Michelle pulang dan Ibu ingin menghabiskan waktu dengan kalian berdua..hmm tapi sepertinya tidak bisa ya.." ujar Layla
Lucy meletakkan mangkuk dan sumpitnya. "Memangnya Ibu mau kemana? Taman bermain? Ingat umurmu, bu" ujar Lucy.
Layla pun tertawa.
"Mungkin kita bisa main ice-skating bersama?" usul Michelle
"Ah ide yang bagus... Michelle.." sahut Layla.
"Tidak" tukas Lucy
"Eeeehhh? Kenapa?" tana Layla dengan rengekan.
"Karena dingin, ini masih musim dingin, dan Ibu sedang sakit. Kondisimu tidak memungkinkan" jelas Lucy.
"Aku sudah tidak apa-apa, Lucy" rengek Layla
"Tidak"
"Nee-chan..ayolah..." rengek Michelle
"Lucy..." tambah Ibunya.
Lucy yang tidak tahan dengan rengekan-rengekan itu pun akhirnya menyerah. "Baiklah..baiklah...hari minggu kita ke tempat ice-skating" sahut Lucy
Michelle dan Ibunya pun tertawa riang dan ber-high five. Lucy yang melihatnya pun diam-diam senang dan ia pun tersenyum tipis.
'Syukurlah..' batinnya.
XXX
"Lucy!"
Lucy yang sedang berjalan dikoridor sekolah pun menoleh dan mendapati Sting dibelakangnya yang sedang melambaikan tangannya.
"Hey" sapa Lucy
"Ahhh aku tersiksa sekali sehari tidak melihatmu...hmm bagaimana keadaan dikelasmu? Apakah baik? Aku dengar kau sekelas dengan Natsu-san? Kau diganggu tidak olehnya?" tanya Sting.
Lucy memutar matanya, "Baik, iya aku sekelas dengannya, dan aku selalu diganggu olehnya, puas?"
"Lalu pelajaranmu?" tanya Sting.
"Ya aku mengikutinya dengan baik" jawab Lucy sambil berjalan dan diikuti oleh Sting.
"Hmm bagaimana kalau kita belajar bersama saat setelah pulang sekolah, ya kita bertukar ilmu..ya seperti itu..." usul Sting.
Lucy sejenak memikirkannya dan mengangguk. "Setuju" jawab Lucy
"Benarkah?!" terlihat Sting yang begitu antusias.
Lucy mengangguk.
"Yessss! Baiklah, kita belajar mulai besok saja, bagaimana?" tanya Sting
"Ya, boleh saja" jawab Lucy dengan datar.
"Okay..sampai jumpa, Lucy" Sting pun berlari meninggalkan Lucy. Lucy pun hanya melambaikan tangannya
"Jaa.."
Lucy pun masuk kedalam kelasnya.
XXX
Hari-hari pun berlalu, tiba hari dimana Lucy akan bermain ice-skating dengan Ibu dan Michelle.
Mereka bertiga sudah sampai di tempat ice-skating dan sudah siap untuk bermain. Michelle sudah menyiapkan sebuah kamera untuk mengabadikan setiap momen yang ada.
Mereka bermain, Michelle dan Lucy menuntun Layla yang tidak terlalu bisa bermain ice-skating. Saat Layla lelah, ia duduk di pinggir dan melihat kedua putrinya yang sedang bermain.
Lucy yang sejak kecil memang sudah mahir bermain ice-skating pun mengajarkan Michelle yang tidak semahir dirinya. Terkadang Lucy tertawa saat Michelle terjatuh, lalu Layla mengambil fotonya, lalu saat Michelle dan Lucy bergandengan tangan lalu berjalan dengan sepatu skatenya, senyuman terpampang diwajah mereka. Layla pun mengabadikan momen itu.
Diam-diam, Layla meneteskan airmata. Dengan segera ia menghapus airmatanya.
'Terimakasih tuhan, kau telah memberikan waktu lebih padaku..' batin Layla
"Ibu!" panggil Michelle sambil melambaikan tangannya.
Layla tersenyum dan membalas melambaikan tangannya.
"Ayo makan dulu" ujar Layla. Michelle dan Lucy pun mengangguk dan keluar dari arena untuk makan bersama dengan Ibunya.
Layla sengaja membawakan bekal untuk kedua putrinya, entah kenapa ia sangat ingin memasakkan kedua putrinya ini dan melihat senyuman diwajah kedua putrinya.
"Seperti biasanya, bu..Masakanmu enak sekali" puji Michelle diiringi anggukan Lucy. Layla pun tersenyum manis, "Arigatou.."
Setelah selesai makan, mereka pun bermain sebentar dan setelah puas mereka pun memutuskan untuk pulang kerumah.
XXX
Natsu sedang sibuk membuka laptopnya. Saat ia sedang sibuk membaca sebuah artikel, ia pun mendapatkan sebuah email. Natsu pun membukanya,
From : Lisanna_Sttrauuss
Subjek : Aku akan pindah ke Magnolia
Hey Natsu! Apa kabar? Kau masih mengingatku? Kalau tidak ingat, akan aku ingatkan lagi. Aku Lisanna, temanmu saat di SMP dulu. Dan saat kelas 3 aku memutuskan pindah ke edolas. Apa kau ingat? Jika kau ingat, aku hanya ingin memberitahukanmu, kalau aku akan kembali ke Magnolia beberapa minggu lagi dan mungkin bersekolah di FT High School. Jadi sampai jumpa, Natsu.. Jaa..
Natsu membaca email tersebut pun membulatkan matanya. Ia mengingat sosok gadis yang mengiriminya email ini. Lisanna Strauss. Teman yang selalu berada disamping Natsu saat Lucy tidak ada.
Natsu tersenyum. Dan mulai mengetik balasan untuk email Lisanna.
"Aku akan mengenalkannya pada Lucy.." gumam Natsu.
Setelah melihat notification bahwa email sudah terkirim, Natsu pun menutup laptopnya dan berjalan menghampiri tempat tidurnya. Ia membanting dirinya ke tempat tidurnya dan mulai terlelap.
XXX
Keesokkan harinya, Layla membuka matanya. Matanya mulai berkunang-kunang. Ia melihat disamping kanan dan kirinya. Ia melihat kedua putrinya yang masih terlelap. Semalam, ia secara khusus meminta putrinya untuk tidur bersamanya. Ia mulai memejamkan matanya kembali dan membuka kembali. Ia merasakan sakit lagi dibagian kepalanya. Ia mencoba untuk tenang, ia mencoba untuk tidak merintih, ia tidak ingin membangunkan kedua malaikat cantik yang ada disampingnya.
Perlahan, Layla mulai bangkit duduk dan bersandar. Ia meletakkan satu tangannya di kepala Michelle. Ia pun tersenyum.
"Michelle..kau sangat cantik..kau pintar..kalau aku tidak ada, aku titipkan kakakmu padamu ya, sayang.. aku sangat menyayangimu.." gumam Layla, setelah itu ia mengecup kening Michelle.
Layla pun menoleh kearah Lucy. Layla tersenyum dan mulai membelai poni dan wajah Lucy.
"Kau cantik sekali, sayang.."
"Maafkan ibu..maaf.."
"Lucy, aku sangat menyayangi mu..maaf untuk semuanya sayang..." gumam Layla. Layla pun mengecup kening Lucy sambil meneteskan airmata.
Setelah itu ia mulai bersandar kembali, menutup matanya dengan perlahan dan tersenyum. Airmatanya mengalir ke pipinya yang putih bagai porselen.
XXX
Lucy membuka matanya, ia melihat jam dan sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Lucy pun mulai panik. Ia sudah telat untuk kesekolah. Saat bangkit duduk, ia menyadari bahwa ibunya masih terlelap sambil bersandar ditempat tidur. Lucy tersenyum tipis.
"Ibu.." panggil Lucy dengan lembut.
Ibunya tidak menyahut.
"Bu.." panggil Lucy lagi.
Lucy pun memegang tangan Layla. Lucy tersentak.
'Dingin..' batin Lucy.
Lucy menggoyang-goyangkan bahu Ibunya sambil meneriakkan nama Ibunya. Ibunya tidak mau membuka mata. Michelle pun yang mendengar suara kakaknya pun terbangun.
"Ibu..Ibu bangun! Buka matamu!"
"Ada apa dengan ibu?" tanya Michelle
"Ibu..Ibu tidak mau membuka matanya..Ia bercanda kan?" ujar Lucy dengan suara bergetar.
Michelle dengan segera mengecek nadi yang berada ditangan Layla dan mendengar detak jantungnya. Michelle pun tercengang dan meneteskan airmata.
Lucy memandang Michelle dengan pandangan tidak percaya. Lucy menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak..jangan katakan..jangan katakan padaku, Michelle!" Lucy pun berlari keluar dari kamar.
Michelle memeluk Ibunya. Ia menangis terharu. Layla meninggal dunia. Meninggalkan dunia ini, meninggalkan Lucy, meninggalkan semua kenangan yang ada di ingatan semua orang yang mengenalnya dan menyayanginya.
Lucy keluar dari rumah dan berlari tanpa tujuan dan tanpa alas kaki. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menggumamkan kata "tidak" secara berkali-kali. Jantungnya berdegup dengan kencang. Ia benar-benar merasakan hawa dingin yang benar-benar menusuk sehingga membuat kakinya tidak merasakan perih. Lucy tahu apa yang terjadi dengan ibunya. Hanya saja ia tidak ingin—ia tidak mau melihatnya. Lucy berpikir ini adalah mimpi—sebuah mimpi buruk dimana Ibunya meninggalkannya.
—Lucy kini telah kehilangan arah. Kehilangan kompas hidupnya.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
Halohaaa~~~ bertemu lagi dengan author ngaco inihhh... Saya update cepet kan kali ini? cihuuuyy~~ nah, gimana dichapter kali ini? burukkah? pendekkah?
Ah, tinggalkan komen kalian ya di kotak review :D
Sekarang author mau bales review yang dari chapter kemaren
Nazu-kun : Hehe makasih loh XD
K. : Hehe terimakasih loh XD makin penasaran gak nih setelah baca chapter ini ? XD
desty Dragfilia : Apaaa?! kurang panjang? haha nanti kalo panjang-panjang readers malah bosen bacanya hoho XO Ini udah lanjut, bagaimana? puaskah dirimu? hohow. Ah ya tentang sequel three heart for one love, hmm mungkin akan kupikirkan setelah fanfic ini selesai hohow~~~
Annataillie : Hehe iya beneran. Aku ikut kakakku yang lomba disana hehe Banyak dong bulenya, tapi sayang bulenya ga ngerti sama bahasa yang aku pake, karena aku ngomongnya pake bahasa jawa hahaha XD enggak enggak, kalau buat komunikasi, mereka ngerti bahasa inggris kok, disana itu indah banget, keren dan hmm author jadi pengen tinggal disana aja kalo mikirin keindahannya XD tapi disana naik bus saja bisa sampe jutaan loh XC yaudah lah, author jadi curhat genee-_- ini sudah lanjut chapternya, gimana?
ft-fairytail : Nah! Lucy udah buka mata tuh XC
dsakura2 : Ini udah lanjut XD
KelvinKLR : Semangat membara banget loh ini! Hmm ampe berapa ya? mungkin galama lagi #upsss keceplosan! haha ditunggu saja yaw XD
Oke semua sudah terbalaskan bukan reviewnya~~~ nah sekarang waktunya promosi fanfic naluku bersama dengan kakakku, Suzuha Loreilene yang paling cantik sedunia yang judulnya Story of Our Love. Coba dibaca dan diresapi lalu komen dikotak review deh. Terimakasih banyak readers XD
Yasudah Author tidak akan berlama-lama, jadi author akan pamit undur diri. Sampai ketemu di chapter selanjutnya.
Salam manis, semanis-manisnya.
Yusa-kun XD
