Michelle duduk bersama dengan Ayahnya didepan peti mati Layla. Michelle menangis tersedu-sedu, sedangkan Ayahnya merangkulnya dengan erat. Dengan pakaian serba hitam, tak sedikit kerabat yang berdatangan untuk datang kepemakaman Layla.

Lucy—ya Lucy. Gadis cantik itu hanya berdiri. Ia diam. Ia hanya memandangi foto mendiang Ibunya yang kini telah tiada dari kejauhan. Bisa dilihat foto itu masih menunjukkan senyum hangat Ibunya yang tidak bisa dipungkiri gadis itu tak bisa melihat hal itu. Tidak ada airmata yang menetes jatuh dari mata karamelnya, bukan karena ia kuat—tetapi ia terlihat begitu mengenaskan.

Sudah berulang kali, Lucy menggenggam tangannya yang gemetar. Berkali-kali juga ia menghirup nafas dalam-dalam. Dadanya begitu sakit, sesak. Hingga tidak bisa bernafas. Walaupun begitu, ia masih tak bisa mengeluarkan airmatanya.

Fairy Tail © Hiro Mashima

A Fairy Tail Fanfiction

Between Us

By Yusa-kun

Warning : AU, Typo(s), OOC.

.

.

.

.

.

Dari kejauhan, Natsu dan teman-teman yang memnyempatkan diri untuk datang kepemakaman Ibu Lucy pun, melihat Lucy dengan tatapan penuh iba.

"Ia tidak menangis" ucap Levy dengan suara yang bergetar dan akhirnya menangis.

Sting mengepalkan tangannya dan tertunduk. Natsu berjalan keluar dari ruangan. Ia keluar dan sesekali membenarkan syalnya. Ia menatap langit yang masih menurunkan saljunya. Entah apa yang dipikirkan pemuda itu, tanpa ia sadari airmatanya telah jatuh mengaliri pipinya.

XXX

Natsu POV

Aku berdiri ditempatku berada. Ya, aku sedang ada di acara pemakaman Layla-san. Kini, Layla-san sudah dikubur disana. Nisan yang kokoh berdiri disana bertuliskan nama Layla-san. Aku bisa melihat disana, dari kejauhan aku bisa merasakan duka yang mendalam dari keluarga Lucy. Michelle yang terduduk dan menangis tersedu-sedu, Jude-san merangkul Michelle untuk memberi kekuatan pada putrinya itu, lalu..aku melihat dirinya. Gadis itu berdiri terdiam, tak terlihat adanya airmata yang jatuh dari mata indahnya. Lucy.

Lucy hanya terdiam disana. Tak bergabung dengan Adiknya atau Ayahnya. Rasa khawatir dan cemas menjalari diriku setelah melihat keadaan Lucy. Aku berpikir, bagaimana keadaan Lucy selanjutnya tanpa Layla-san? Ia pernah berkata kalau ia hidup hanya untuk Layla-san, tetapi jika Layla-san sudah tiada, bagaimana keadaan Lucy selanjutnya? Pertanyaan itu selalu terngiang ditelingaku.

"Natsu, ayo kita kesana" ajak Erza.

Aku pun mengangguk.

Ya, Aku dan teman-temanku berjalan mendekati makam Layla-san. Aku berjalan dibelakang yang lainnya, teman-temanku membawa sebuah karangan bunga White Chrysanthemum. Ya, aku tahu apa arti dari bunga itu. Keabadian dan Berduka.

Kami meletakkan karangan bunga itu didepan batu nisan Layla dan kami menghantarkan beberapa do'a untuknya. Sesekali aku menoleh kearah Lucy. Lucy yang menggunakan coat hitam selututnya dengan boots hitamnya termangu didepan makam ibunya, rambutnya ia biarkan tergerai dan membiarkan angin dimusim dingin itu memainkan rambutnya. Aku melihat wajahnya, sangat pucat. Aku melihat sorot matanya, hanya kekosongan yang terlihat disana.

Aku berdiri disusul dengan yang lainnya. Sting menepuk pelan pundak Michelle, aku bertaruh ia melakukan itu karena rasa simpatinya.

"Jude-san, Michelle, dan Lucy kami pamit ya. Sekali lagi, kami turut berduka cita" ucap Erza sambil menundukkan kepalanya. Begitu dengan yang lainnya.

"Terimakasih kalian sudah mau datang. Hontou, Arigatou" ucap Jude-san sambil berdiri, begitu pula dengan Michelle. Airmatanya masih mengalir dan ia berusaha untuk tersenyum. "Arigatou, minna-san" ucapnya dengan suara yang bergetar.

Aku mengangguk, begitu pula dengan yang lainnya.

Yang lainnya pun menghampiri Lucy, Levy dan Erza memeluk Lucy dengan erat. Lucy tak membalasnya ataupun mengatakan apapun. Diam. Aku saling berpandangan dengan Sting.

"Ayo kita pulang" ucap Gray

"Ayo. Lucy kami pamit ya. Kau yang kuat ya" pamit Erza. Lucy lagi-lagi tak merespon.

Akhirnya, yang lainnya pergi meninggalkan pemakaman. Hanya ada Aku, Sting, Jude-san, Michelle dan Lucy.

"Sudah waktunya kita kembali, Michelle, Lucy. Ayo" ajak Jude.

Lucy tak menjawab. Michelle histeris ia berkata tak mau meninggalkan tempat itu karena ia masih merindukan sosok Ibunya. Jude pun akhirnya merangkul dan memaksa Michelle untuk kembali. Saat berjalan melewati Lucy, Jude berkata, "Ayo kita pulang, Lucy. Tak ada gunanya kau disini"

Aku dan Sting bisa mendengar jelas kalimat yang dilontarkan Jude-san pada putri sulungnya.

Sting tiba-tiba menyentuh bahuku dan menggumamkan sesuatu, "Ini tugasmu, Natsu-san" Setelah berbicara hal itu, Sting pun akhirnya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Meninggalkan Aku dan juga Lucy yang masih terdiam.

"Lucy.." panggilku. Lucy tak menjawab.

Aku berjalan perlahan mendekatinya dan memeluknya. Aku bisa merasakan tubuhnya yang dingin. Aku bertaruh kalau ia sebenarnya sangat menggigil. Lucy tak merespon, tak membalas pelukanku. Aku berharap, lagi-lagi aku berharap, hangat tubuhku bisa menghangatkan gadis ini.

"Kau kedinginan" ucapku. Lucy menggeleng.

Aku melepas pelukanku dan menyentuh kedua pipi Lucy. Dingin.

Entah ide darimana, aku melepaskan syal yang aku pakai dan melingkarkannya di leher Lucy. "Kalau begini, kau akan hangat" ucapku dengan spontan.

"Arigatou" gumamnya.

Akhirnya! ia berbicara! Aku segera mengangguk. "Kau selalu bisa mengandalkanku, Luce!" ucapku

Lucy tertunduk, "Aku tahu" jawabnya.

Aku menggenggam tangan Lucy, "Kau mau pulang?" tanyaku. Lucy mengangguk. Saat Lucy berbalik, Aku tak sengaja menarik tangannya dan menahannya. Ia pun menoleh dengan wajah yang mengatakan kenapa-kau-menahanku-untuk-pergi-dari-sini?

"Kau tidak mau mengucapkan sepatah katapun untuk Ibumu sebelum kau pergi?" tanyaku.

Lucy terdiam dan menggeleng. Lucy menarik tangan Natsu dan ia melangkahkan kakinya menjauhi makam Layla-san. Dan baru beberapa langkah kami berjalan, Lucy pun terhenti. Aku pun bingung, kenapa Lucy berhenti tiba-tiba. Aku melihat kearah pandangan Lucy, Aku melihat kedatangan sosok yang aku kenal. Kalau tak salah itu adalah Dokter yang menangani Layla-san kan?

"Lucy-san" panggil Dokter itu.

Lucy merundukkan tubuhnya, memberi hormat pada Dokter itu. "Arigatou gozaimasu telah merawat Ibuku selama ini.." ucapnya.

Dokter itu melangkah mendekat pada Lucy, "Aku turut berduka cita, Lucy-san" jawab Dokter itu. Lucy mengangguk.

Dokter itu merogoh saku celananya dan menyodorkan sepucuk surat kepada Lucy. "Ini..dari Layla-san untukmu"

Lucy memandang sepucuk surat itu dan menerimanya. "Terimakasih"

Setelah itu, Aku dan Lucy berjalan kembali untuk masuk kedalam mobil dan pulang kerumah.

Natsu POV end

XXX

Lucy yang sudah berada dimobil Natsu pun menimbang-nimbang surat yang ia pegang. Natsu hanya memperhatikannya. Ia tahu kalau Lucy sedang bimbang antara ia membuka surat itu atau tidak membuka surat itu.

"Luce"

Lucy menoleh. Natsu tersenyum dan menunjuk kearah surat yang digenggam Lucy, "Baca saja" ucap Natsu.

Lucy kelihatan ragu untuk membukanya, Lucy memandangi surat itu lalu pindah memandangi Natsu, seolah ia meminta segenggam keberanian untuk membuka hal itu. Natsu mengangguk dan tersenyum. "Bukalah"

Lucy membuka amplop itu dan mengambil lembar surat yag ada didalamnya. Ia membuka dengan perlahan lembar tersebut dan mulai membacanya..

Untuk Lucy, Putriku..

Mungkin saat kau membaca surat ini, Ibu sudah tidak ada disisimu, tidak ada lagi disampingmu. Ibu ingin meminta maaf padamu, sayang.. Ibu harus meninggalkanmu saat keadaan seperti ini... maaf...

Lucy, bukan suatu kesombongan kalau ibu menguntai sejuta kisah tentangmu dan bagaimana aku merawatmu sampai dirimu tahu apa itu hidup. Bukan juga mau menandaskan bahwa aku adalah ibu terbaik di seluruh jagad. Dan juga bukan mau berharap supaya kau membalas budiku….Bukan…bukan itu, nak..

Aku hanya mau menuturkan sejarah, menghadirkan memori indah, dan mengurai nostalgia berkesan dulu bahwa aku memeliharamu dengan penuh cinta, walau derita silih berganti menerpa keluarga kita...

Aku selalu berdialog dengan diriku sendiri, "Semoga anakku ini tumbuh dengan baik dan semoga anakku ini seperti anak-anak yang lain bisa mendapat apa yang pantas untuk ia terima, dan menerima apa yang pantas ia dambakan. Semoga anakku ini tidak minder bila melihat temannya mempunyai semuanya dan segalanya." Karena itulah aku tidak pernah berpikir dua kali tentang diriku, apa yang harus aku beli untuk diriku.

Lucy..Ibu hanya memintamu untuk berhenti salahkan dirimu..berhenti..cukup kau hidup menderita selama ini. Semua ini, kejadian, peristiwa dahulu bukanlah salahmu, mungkin memang ini takdir yang telah dituliskan untuk kita semua.

Lucy sayang...Ibu selalu menyukai senyumanmu. Senyuman manismu selalu menjadi penyemangat Ibu. Senyuman mu selalu membuat hati Ibu selalu menghangat saat Ibu sedang khawatir. Senyuman putri kecil ibu..Tetapi Ibu telah kehilangan senyuman putri Ibu beberapa tahun lalu...

Ibu ingin kau seperti dulu, Lucy yang menangis disaat sedih, Lucy yang tersenyum saat sedang senang, Lucy yang penuh dengan keceriaan yang dapat memberikan semangat bagi Ibu dan semua orang yang melihatnya, Lucy yang apa adanya, Lucy yang baik hati dan selalu memikirkan orang lain... bukan Lucy yang memiliki hati yang dingin..

Maafkan Ibu, Ibu ingat ibu pernah berkata kalau Ibu akan melihatmu dan Michelle sukses, menikah dan memiliki anak-anak yang lucu..maaf..lagi-lagi ibu mengingkarinya janji ibu..

Maafkan Ibu jika selama ini Ibu menyusahkanmu, Ibu memperlambatmu dalam bergerak..maaf...

Maafkan Ibu..gara-gara ibu kau harus melepaskan semua hobimu..Ibu yang bersalah atas cedera bahumu..maafkan Ibu..

Lucy, tahukah kamu dan Michelle adalah harta utama untukku? Aku sadar, kau adalah salah satu sumber kegembiraanku, Aku yakin kau adalah butir mutiara, butir indah yang bertaburan pernik bening yang bersinar. Suka cintaku rasanya akan lengkap jika kau bisa bahagia entah di mana, bersama siapa dan entah jauh dari pelupuk mataku..

Kau berhak bahagia, sayangku..kejar kebahagiaanmu..Aku tahu kau gadis yang kuat.. kau akan sanggup tanpa diriku. Ibu pergi untuk sekarang dan Ibu akan menunggumu..pada saatnya nanti, kita semua akan berkumpul bersama dan bahagia bersama..

Walaupun Ibu sudah tidak ada, Ibu masih akan tetap berada dihatimu..yakin kan itu, Lucy..Aku sangat menyayangimu..Lucy..

~Ibu.

Tangan Lucy gemetar, ia tak menyadari bahwa airmatanya telah mengalir di pipinya. Natsu membulatkan matanya saat meliaht Lucy menangis. Lucy menggenggam erat surat itu dan keluar dari mobil Natsu dengan tergesa-gesa. Natsu tersenyum dan didalam hatinya, ia begitu terharu.

XXX

Lucy berdiri didepan nisan Ibunya, ia jatuh terduduk disana. Menangis tersedu-sedu sambil mengucap maaf berulang kali dan menyebut nama Ibunya.

Sampai pada akhirnya Natsu sampai dimana Lucy berada, ia melangkahkan kakinya dengan pelan dan hati-hati.

"Luce.." panggilnya dengan pelan. Natsu berjongkok menyamakan posisi tubuhnya dengan Lucy yang terduduk disana. Detik kemudian, Natsu telah memeluknya dari belakang.

"Ibu...Ibu tak perlu meminta maaf...tidak..tidak sepantasnya..." isak Lucy dengan bergetar.

"Lihat buu...aku—aku menangis..Ibu tidak perlu meminta maaf...tidak.."

Natsu membelai rambut milik Lucy. "Aku tidak akan menghentikanmu..menangislah..Luce..ucap-kan apa yang ingin kau katakan.." bisik Natsu.

Lucy pun menangis dipelukan Natsu. Memporak-porandakan rasa yang terpendam, rasa yang membuat gadis ini begitu sesak dan sakit. Semua tumpah jadi satu. Jika menangis dapat membuat seseorang untuk menjadi lebih kuat, Lucy akan terus melakukannya jika memang harus.

XXX

Satu minggu pun berlalu setelah pemakaman Ibu Lucy, Lucy ditawarkan oleh Ayahnya untuk pindah ke Crocus bersama dengan Michelle. Tetapi Lucy bersikeras untuk tetap di Magnolia. Michelle pun mengikuti keputusan kakaknya. Lagipula Michelle telah diterima disekolah Lucy dan akan bersama-sama bersekolah ditempat yang sama. Ayahnya pun tidak dapat berbuat banyak, ia menyetujui hal itu tetapi dengan satu syarat yaitu Lucy harus memakai nama keluarganya kembali yaitu Heartfilia dan Lucy pun menyetujuinya. Jude juga melarang Lucy dan Michelle bekerja sampingan, mereka harus terus fokus pada sekolahnya. Jika ada keperluan, mereka berdua harus menghubungi Jude agar Jude yang memenuhinya. Semua biaya sekolah, keperluan mereka saat berada di Magnolia, dibiayai oleh Jude.

Perlahan-lahan tapi pasti, Lucy telah mulai membuka dirinya dan membuka hatinya. Ia mulai bersikap ramah pada semua orang, lalu ia juga sudah mulai bisa tertawa dan tersenyum.

XXX

"Ohayou.."

"Ohayou, Lucy-san..Michelle-san"

"Ah, ohayou.."

Lucy sedang berjalan dikoridor sekolahnya bersama dengan Michelle. Sudah sebulan berlalu. Perubahan Lucy selalu meningkat, wqalaupun terkadang ifat dinginnya kembali muncul sesaat dan sikap para siswa disekolah pun terhadap Lucy mulai berubah. Mereka menjadi lebih akrab dan ramah pada Lucy. Lebih-lebih dari sebelumnya.

"Nee-chan, aku kekelasku ya, sampai jumpa" pamit Michelle sambil berlari untuk menuju kelasnya.

Lucy pun berjalan pelan menuju kelasnya, sampai pada ia dikagetkan dengan Natsu yang tiba-tiba merangkulnya. "Ohayou, Luce!" Sapanya.

Lucy menyipitkan matanya, "Ohayou, Natsu" jawabnya sambil meraih tangan Natsu yang sibuk merangkulnya dan melepaskan rangkulan itu. Natsu merengut kesal.

"Kau tadi bersama dengan Michelle ya? Nanti kau ada kegiatan klub tidak? Aku ingin mengajakmu jalan-jalan" celoteh Natsu.

Mereka berdua telah sampai didepan kelas mereka, Lucy membuka pintu kelas dan disambut hangat oleh teman-temannya. Ia mengabaikan sejenak pertanyaan Natsu. Lucy segera duduk ditempatnya dan Natsu duduk didepannya. "Bagaimana?" Tanya Natsu lagi sambil menoleh kebelakang menatap Lucy yang sedang sibuk mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya.

Disekolah, Lucy mulai mengikuti klub sastra bersama dengan Levy. Walaupun hanya terdapat sedikit anggota, tetapi setidaknya, klub sastra itu memiliki referensi yang banyak. Dan Lucy pun menyukainya.

"Kalau dipikir-pikir, aku tidak ada kegiatan klub hari ini. Tapi aku harus ke Crocus melakukan treatment untuk bahuku" jelas Lucy sambil menunjuk bahunya lalu membuka sebuah buku yang ia dapatkan dari tasnya itu.

"Ah begitu..kalau begitu bagaimana kalau aku yang mengantar?" Tawar Natsu.

"Hmm boleh saja" jawab Lucy yang sudah mulai membaca buku yang ada ditangannya. Ya, itu adalah sebuah novel. Novel favoritenya.

Dan tiba-tiba saja novel miliknya direbut oleh Natsu, Lucy pun tersentak kaget. "Hey! Kembalikan!" Ujar Lucy sambil berusaha meraih novelnya dari tangan Natsu.

"Kau ini! Kau kan sedang diajak bicara. Setidaknya pandang aku" omel Natsu.

Lucy pun akhirnya memandangi Natsu dengan seksama. Natsu yang menyadari itu pun blushing. Sadar akan sikapnya, tidak lama kemudian, Lucy pun blushing.

Natsu akhirnya meletakkan novel Lucy di mejanya, "Nih, aku kembalikan"

Setelah itu pun, Natsu berjalan menghampiri tempat duduknya. Lucy memandang bahu milik Natsu dan tersenyum.

Lucy pun kembali membuka novelnya. Beberapa detik kemudian, Natsu menoleh dan memandang Lucy. Lucy menyadari itu dan segera menutupi wajahnya dengan novelnya.

Natsu pun tersenyum melihat kelakuan Lucy. "Dasar"

Dibalik novel Lucy, wajah Lucy sudah memerah. Entah kenapa bisa begitu, Lucy pun bingung.

XXX

Saat pulang sekolah, Lucy berjalan menuju ke perpustakaan. Ia telah berjanji, setiap pulang sekolah, ia akan belajar bersama dengan Sting. Karena Sting berada di kelas 2-A dan itu merupakan kelas unggulan, ya tidak ada salahnya untuk meminta belajar bersama dengannya.

Lucy pun membuka pintu dan menengok sana-sini. Dan yak, ketemu. Pemuda dengan rambut pirangnya, seperti nanas. Sangat mencolok.

Lucy berjalan menghampirinya dan menepuk bahunya pelan. "Hey" sapa Lucy dengan pelan.

Sting menoleh dan tersenyum. "Lama sekali"

"Hehe gomen" Lucy pun duduk dihadapan Sting. Sting mulai membuka buku kimia dan begitu juga dengan Lucy. Dan mereka mulai belajar dan berdiskusi tentang beberapa pertanyaan.

"Bukankah ini jadwalmu untuk ke rumah sakit?" Tanya Sting.

"Ya begitulah" jawab Lucy sambil mengerjakan soal.

"Lalu? Kenapa kau disini?" Tanya Sting.

"Memangnya salah jika aku ingin belajar denganmu?" Jawab Lucy dengan spontan.

Sting yang mendengar jawaban Lucy pun hanya mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Lucy yang sadar akan ucapannya pun menghentikan kegiatannya dan mulai mengklarifikasi atas kalimat yang ia ucapkan. "Begini..maksudku memangnya salah kalau ingin belajar? Huh" jelas Lucy.

"Ah, payah. Aku pikir kau telah jatuh hati padaku.." Ledek Sting.

Lucy memukul kepala Sting dengan pensil yang dipegangnya. "Enak saja"

Sting tertawa pelan, "Baiklah..baiklah..ayo kita lanjutkan.."

Lucy pun ikut tertawa dan mulai melanjutkan belajarnya.

XXX

"Hey" panggil Natsu.

Lucy yang duduk disebelahnya menoleh, "Hnn kenapa?"

"Kau setiap hari belajar dengan bocah pirang itu, apa tidak bosan?" Tanya Natsu dengan nada sedikit kesal.

"Tidak" jawab Lucy

Natsu tiba-tiba memberhentikan mobilnya dan mulai menatap Lucy.

"Kenapa berhenti?" Tanya Lucy sambil menoleh kearah Natsu. Natsu menghela nafas. "Kau kan bisa belajar bersamaku, Luce. Kenapa kau tiap hari selalu bersama Sting?"

Lucy memutar kedua bola matanya, "Kau kekanak-kanakan sekali, Natsu" tukas Lucy.

"Kenapa kau sebut aku begitu?" Tanya Natsu

"Ya memangnya kenapa kalau aku setiap hari belajar dengan Sting? Lagipula kalau belajar denganmu, yang ada tidak konsen" jawab Lucy dengan nada pelan.

Natsu menaikkan sebelah alisnya, "Tidak konsen? Apa maksudmu?"

"Ah aku tahu, karena aku tidak pintar kan? Aku hanya mengganggumu saat belajar kan? Yayaya aku tahu bocah pirang itu lebih pintar daripada aku, dan juga yaaaa lebih tampan. Yasudah, pergi saja sama Sting" gerutu Natsu sambil menjalankan mobilnya kembali.

"Terserah saja!" Sahut Lucy dengan nada tinggi. Lucy pun memalingkan wajahnya. "Baka" gumam Lucy dengan pelan.

XXX

"Tadaima.." Ujar Lucy

"Okaeri, Nee-chan" sahut Michelle.

Lucy masuk kedalam rumahnya dan disambut dengan senyuman Michelle.

"Bagaimana hasilnya? Bahumu itu.." Tanya Michelle.

"Ya sudah membaik, hmm kau sedang memasak?" Sahut Lucy. Michelle mengangguk.

Lucy pun menaikkan alisnya, "Memangnya bisa?"

"Hehehe"

Lucy pun menoleh kearah dapur, dan terlihat dapurnya yang berantakan. Lucy tertawa. "Kau membuat Nee-chan mu ini tidak bisa beristirahat ya" gerutu Lucy.

"Ahaha gomen" sahut Michelle.

Lucy meletakkan tasnya dan berjalan menuju dapur dan mulai membereskan dapur. Setelah itu, Lucy pun memasak dengan bantuan Michelle.

Setelah semua selesai, Lucy dan Michelle pun makan malam dengan masakan Lucy.

"Nee-chan, aku mau bertanya" ucap Michelle sambil meletakkan sendoknya, karena ia sudah menghabiskan santapan malamnya.

"Hmm?" Lucy memandang adiknya dan ia masih mengunyah beberapa makanan dimulutnya. "Nee-chan lebih suka Natsu-san atau Sting-san?" Tanya Michelle dengan santai.

Lucy yang mendengar pertanyaan adiknya pun akhirnya tersedak dan terbatuk-batuk.

"Nee-chan, daijobou?" Tanya Michelle sambil menyodorkan air mineral digelas. Lucy sibuk minum dan menepuk-nepuk dadanya pelan. "Kenapa kau bisa bertanya seperti itu?" Sahut Lucy

"Hmm hanya ingin tahu saja" jawab Michelle sambil membawa peralatan makan dirinya dan Lucy untuk dicuci.

Lucy terdiam.

"Jadi?" Tanya Michelle lagi.

"Natsu—maksudku kau tahu kan dia adalah pemuda pertama yang aku sukai. Aku tidak bisa menghindari kalau aku tidak menyukainya sekarang.." Ujar Lucy dan semburat merah terlihat jelas di kedua pipinya.

Michelle yang sudah selesai pun kembali duduk di meja makan dan mendengar perkataan kakaknya. "Kenapa kau tidak mengatakannya saja, aku lihat, Natsu-san juga menyukaimu.." Sahut Michelle.

"Dia sudah menyatakan bahwa dia mencintaiku beberapa bulan lalu.." Ungkap Lucy.

"Ah, benarkah?! Lalu apa yang kau tunggu, Nee-chan? Dia membalas perasaanmu!" Ujar Michelle dengan antusias.

"Entahlah itu kan sudah beberapa bulan yang lalu, mungkin perasaannya padaku telah berubah, ya kan? sudah..sudah..." Lucy pun bangkit berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Michelle hanya melihat kepergian Lucy sambil tersenyum.

"Mana mungkin perasaan Natsu-san berubah padamu, Nee-chan.." ucap Michelle sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

XXX

Lucy yang berada dikamarnya pun telah membaringkan tubuhnya dan memeluk sebuah boneka. Ia melihat langit-langit kamarnya dan mengingat kejadian dimana Natsu menyatakan perasaannya pada dirinya.

Ia menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin kan dia masih mempunyai perasaan itu..itu sudah.."

Lucy menghela nafas panjang, "Sudahlah..aku harus tidur, sudah malam" ucapnya sambil memejamkan matanya dan berusaha terlelap.

XXX

Keesokkan paginya, Lucy berjalan keluar dari gang rumahnya dan betapa terkejutnya melihat Natsu dan mobilnya sudah terparkir disana. Lucy pun menghampirinya.

"Ohayou" sapa Lucy

"Ah, ohayou.." Sahut Natsu sambil memamerkan cengiran khasnya.

"Ohayou, Natsu-san.." Sapa Michelle yang ternyata ada dibelakang Lucy.

"Ah Michelle, ohayou" jawab Natsu.

"Ayo berangkat sekarang" ajak Natsu sambil membuka pintu mobilnya.

"Ah, gomen, Natsu-san. Aku tidak bisa ikut berangkat kesekolah bersamamu.." Ucap Michelle

"Loh kenapa?" Tanya Natsu

"Kalau Michelle tidak ikut, aku juga tidak ikut, gomen Natsu" tambah Lucy

"Eh? Nee-chan bersama Natsu-san saja, aku ada yang menjemput hari ini hehe" jelas Michelle.

"Siapa yang menjemputmu?" Tanya Lucy dengan menyelidik.

Tiba-tiba sebuah motor terparkir didepan Michelle. Seseorang yang mengendarai motor tersebut membuka helmnya. Dan ternyata itu adalah seorang pemuda dengan seragam sekolah lain?

Lucy yang melihatnya hanya menaikkan sebelah alisnya.

"Michelle-san.. Ohayou.." Sapa pemuda itu.

Michelle tersenyum manis pada pemuda itu, Lucy makin curiga dan tersenyum tipis. "Kau tidak mengenalkan dia padaku, Michelle?" Tanya Lucy dengan nada meledek.

Michelle pun blushing. "Ah iya, Nee-chan..perkenalkan, ini Yoshino-san dan Yoshino-san Ini kakakku" jelas Michelle

Pemuda itu turun dari motor dan membungkuk hormat pada Lucy.

"Yoroshiku"

Lucy memandangi pemuda itu, ia melihat pemuda bersurai dark blue ini dan memiliki mata biru ini sangatlah menawan. Tidak heran kalau Michelle terlihat seperti menyukainya. "Kalian kenal dimana?" Tanya Lucy

"Saat di Crocus, kami satu sekolah saat SMP, dan dia pindah kesini bersama dengan orang tuanya" jawab Michelle.

"Oh souka..lalu benarkah kalian hanya berteman? Sepertinya ti—" tiba-tiba Natsu merangkul Lucy, Lucy pun menoleh.

"Sudah, interogasinya nanti lagi, kita semua bisa telat datang kesekolah.." Natsu menginterupsi.

Lucy menghembuskan nafasnya. "Baiklah. Hmm kau—maksudku Yoshino-san, Hati-hati mengendarai motornya, dan jangan pernah mengajak adikku untuk membolos, sampai aku tahu kau akan dapat akibatnya" ancam Lucy.

Pemuda itu hanya tertawa canggung dan mengangguk. Natsu dan Michelle pun terkikik.

Natsu mengajak Lucy masuk kedalam mobil, sedangkan Michelle sudah berangkat lebih dulu.

Saat didalam mobil, Lucy sedang sibuk memakai sabuk pengaman, sedangkan Natsu hanya memerhatikan Lucy sambil tersenyum. Lucy yang sadar akan hal itu pun, langsung menoleh kearah Natsu.

"Apa?!" Tanya Lucy dengan nada tinggi. Lebih tepatnya, membentak.

"Tidak apa-apa, kau ini! Kenapa jadi membentakku sih?" Sahut Natsu.

Natsu pun menyalakan mobilnya dan melajukan mobilnya.

"Aku tidak membentakmu" elak Lucy.

"Ah, kau khawatir dengan Michelle, benarkan?" Tanya Natsu

"Ti—tidak" jawab Lucy.

"Jangan berbohong, Luce~" ledek Natsu

Lucy memutar bola matanya, "Kau menyebalkan, Natsu" ujar Lucy

Natsu akhirnya tertawa dan disusul Lucy yang tertawa pelan. Didalam perjalanan mereka berbicara tentang berbagai topik, dan terkadang mereka saling mengejek dan akhirnya mereka tertawa.

XXX

"Lucy!"

Lucy menoleh dan mendapati Sting yang berdiri didepan pintu kelasnya. Lucy menaikkan sebelah alisnya, 'Kenapa ia datang kekelasku, mengganggu saja' batinnya.

Sting menghampirinya dan menarik tangannya. "Hey, kenapa kau menarikku?" Tanya Lucy.

"Hanya ingin" jawab Sting

Lucy pun memukul Sting dengan keras. "Kau sudah gila ya?!" Omel Lucy.

Sting pun tertawa, "Tidak..tidak.. Aku ingin mengajakmu keatap"

"Ngapain?" Tanya Lucy

"Latihan drama?" Jawab Sting.

"Drama? Drama apa? Jangan gila!" Sahut Lucy.

Semua orang yang berada dikelas pun memperhatikan mereka. "Ayolah..aku perlu bantuanmu" rengek Sting

"Ya buat apa? Kau sekarang berlakon? Yang benar saja, Sting" sahut Lucy.

"Aku sebenarnya juga tidak mau, tapi ini tugas dari Laki-sensei!" Timpal Sting.

Lucy menghela nafas dan akhirnya mengangguk. Sting tersenyum dan menyeret Lucy untuk keatap. Tidak lama setelah mereka keluar, Natsu dan Gray masuk kedalam kelas. Natsu melihat Lucy tidak berada ditempatnya.

"Dimana dia?" gumam Natsu.

XXX

"Jadi? Kau akan memerankan Hades?" Tanya Lucy sambil bertolak pinggang.

"Hmm ya begitulah" jawab Sting sambil menggaruk tengkuknya.

"Lalu? Aku harus membantumu apa?" Tanya Lucy. Sting menyodorkan naskah drama yang ia bawa pada Lucy, Lucy pun menerimanya dan mulai membaca.

"Pokoknya kau harus menjadi lawan mainku untuk saat ini. Saat ada percakapan denganku, itulah peranmu sekarang" jelas Sting.

"Huh merepotkan saja, kenapa harus aku? Aku bertaruh, dikelas, banyak yang ingin membantumu berlatih, jika kau memintanya" jawab Lucy sambil membaca naskahnya.

"Jadi kau tidak ikhlas membantuku, heh?" tanya Sting.

"Heh..Aku minta nanti kau belikan aku vanilla milkshake kesukaanku! Tidak mau tahu!" ucap Lucy.

"Dasar pamrih. Kalau kau terus-menerus minum itu, badanmu bisa melebar tahu" gerutu Sting.

"Terserah saja, kalau tidak mau yaaaa, aku akan turun kebawah dan kembali kekelas" sahut Lucy

"Haaahhh! Iya iya!" jawab Sting, akhirnya Sting menyerah. Lucy tersenyum.

"Jadi, kita mulai dari adegan 3 ya" ucap Sting.

Lucy membalik setiap lembar naskah untuk mencari dialog adegan 3. Dan setelah ketemu, Lucy mulai membacanya.

"Baiklah, ayo kita lakukan" Lucy menggengam naskah drama dan menatap Sting dengan seksama. Tanpa naskah drama tersebut, Lucy sudah dapat membantu Sting, dengan kata lain, Lucy sudah menghafal dialognya. Begitu pun dengan Sting.

"Hades..Aku benar-benar ingin kembali kepada keluargaku, hanya sebentar saja..aku mohon.." ucap Lucy mencoba menghayati perannya.

Sting menghampiri Lucy dan menggenggam tangan Lucy. Manik biru milik Sting bertemu dengan manik karamel milik Lucy.

"Tidak Persefone, kau tidak bisa kembali, kau harus tetap bersama ku. Kau sekarang sudah menjadi Istriku.." ucap Sting dengan serius. Ia begitu mendalami perannya.

Lucy tertunduk sedih, "Hanya sekali saja, aku—aku merindukan keluargaku.."

Sting memeluk Lucy, "Maaf..Maafkan aku..Aku sungguh-sungguh mencintaimu..aku tidak bisa..Aku tidak mau kehilanganmu. Aku tidak akan melepaskanmu..Tidak.." ucapnya

"Aku pun juga mencintaimu..tapi—" belum menyelesaikan kalimatnya, Lucy tersentak kaget saat tiba-tiba Natsu telah melepaskan pelukan Sting secara paksa. Lucy pun menoleh.

"Nat—su"

Natsu memandang Lucy dengan pandangan serius dan tersirat kemarahan disana.

"Natsu-san.."

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued


Hallo readers, author kembali lagi dengan mengapdet chapter baruuu yuhuuu XD

Bagaimana? kalian puaskah? atau masih kurang greget? kecepetan? huwaaaaa tinggalkan semuanya di kotak review ya :)

Ohiya, aku ingin menjelaskan tentang karangan bunga yang dibawa oleh teman-teman Lucy. White Chrysanthemum, dijepang bunga itu melambangkan kedukaan. Lalu tentang drama Sting yang jadi Hades dan Lucy menjadi Persefone itu, hmm aku melihat cerita tentang Hades yang jatuh cinta pada seorang gadis yang bernama Persefone itu. Karena Hades adalah pangeran dunia bawah, Persefone adalah putri dari dunia atas, maka Persefone itu diculik oleh Hades dan dijadikan Istri. Lama-kelamaan Persefone juga jatuh cinta pada Hades dan tak dapat dipungkiri, ia merindukan keluarganya. Ya gitu deh singkat ceritanya.

Yaudah banyak banget penjelasan, sekarang waktunya bales review!

Guest : Thanks! Oke tunggu terus kelanjutannya ya~

z : Thanks.

desty dragfilia : Hehe makasih loh! Hmm pokoknya selesai fic ini itu masih lama hehe~~ Iya harus nunggu fic ini habis dulu, karena banyak banget ide-ide yang keluar dan jadi gafokus deh hufffttt XC Ditunggu aja ya sequelnya, atau mau coba kamu yang bikin sequelnya? XD

Kina21 : Iya Layla-san mati XC Hmm gimana? momen nalunya ada gak dichapter ini? dan sesuai harapan enggak? hehe XD

K.C. Dragfilia : Lisanna muncul karena akan meramaikan fic ini yuhuuu~~~ XD Iya! ini udah lanjut hehe

Annataillie : Kan sakitnya udah bertahun-tahun ceritanya, jadi matinya sekarang deh XC Chapternya? Iya masih banyak hehe makanya tunggu terus lanjutannya XD

virgo24 : Iya, ini udah update loh XD

ft-fairytail : Menderita diawal pasti indah diakhir bukan? hehe XD

Nazu-kun : Ini udah panjang loh, gimana? XD

LRCN : Wew(?)

Okeee waktunya pojok spoiler! Fic ini mungkin akan sampai 20 chapter keatas, karena author ingin membuat cerita yang akan mengombang-ambingkan perasaan kalian atas hubungan Natsu-Lucy, Lucy-Sting, Lisanna-Natsu hihihihi *devil* dan mungkin author juga akan menuliskan cerita yang tidak akan terduga oleh kalian huehehehehe XD Dengan konflik yang lebih rumit karena adanya penambahan karakter, yaitu Lisanna. Jadi terus tunggu kelanjutannya ya! Author akan berusaha cepat buat updatenya!

Baiklah, sekian omong-omongan dari author ini. Jangan lupa tinggalkan sesuatu dikotak review ya :)

Jaa nee,

Yusa-kun XD