Gadis dengan rambut pirang ke emasannya itu sedang asyik membaca novelnya yang dibawanya. Ya, sekarang ia berada didalam kelasnya, duduk manis, sanat konsentrasi dengan apa yang dibacanya. Natsu yang notabenenya adalah kekasihnya tengah sibuk menjahili Gray yang sedang mencoba terlelap didalam kelas. Begitu pula dengan anak-anak yang lain, sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Tiba-tiba, pintu kelas pun terbuka dan menampakkan sosok guru dengan tubuh tegap dan rambut cokelat dan disisir kebelakang dengan rapi. Gildarts-Sensei.
"Ohayou, Minna.." Sapa Gildarts-sensei sambil melambaikan tangannya dengan santai.
"Ohayouuuuu!"
Gildarts-sensei meletakkan buku yang dibawanya itu di meja guru dan menatap ke murid-murid yang ada dihadapannya. Dengan wajah santainya, ia berkata "Baiklah, hari ini sekolah kita atau lebih tepatnya kelas ini telah kedatangan siswa baru"
Murid-murid pun berbisik, dan pintu kelas pun terbuka, menampakkan sosok yang tidak terduga.
Fairy Tail © Hiro Mashima
A Fairy Tail Fanfiction
Between Us
By Yusa-kun
Warning : AU, Typo(s), OOC.
.
.
.
.
.
Suara langkah itu pun terdengar, dibalik pintu kelas itu, saat terbuka menampakkan sosok Lisanna yang tengah berjalan masuk kedalam kelas. Natsu tidak begitu terkejut dengan kedatangan Lisanna, begitu juga Lucy.
"Nah ini dia. Coba kau perkenalkan dirimu terlebih dahulu" ucap Gildarts. Lisanna mengangguk.
"Hajimemashite, watashi namae wa Lisanna Strauss. Aku pindah dari Edolas. Yoroshiku onegaishimasu~" terang Lisanna sambil tersenyum.
Murid-murid pun terus berbisik.
"Diamlah kalian! Jangan berbisik-bisik begitu! Kalau ada yag mau ditanyakan, silahkan tanya" ujar Gildarts.
Salah satu murid pun mengangkat tangannya, "Nee, Strauss-san? Apa kau bersaudara dengan Mira-sensei? Kau sangat mirip dengannya. Dan namamu itu.."
Lisanna mengangguk dan tersenyum, "Hnn, aku adiknya Mira-sensei"
"Hooooo" ujar murid yang lainnya.
Lucy mengalihkan pandangannya kearah jendela disampingnya. Wajahnya terlihat bosan. 'Ah, pantas saja dia terlihat begitu familiar..' batin Lucy.
"Baiklah, sudah tidak ada yang ingin kalian tanyakan pada anak ini? Kalau gitu, kau bisa duduk disana Strauss-san" Gildarts-sensei menunjuk kearah tempat duduk dibagian tengah. Lisanna mengangguk. Ia segera berjalan menghampiri dan duduk ditempatnya.
Lucy memperhatikan Lisanna yang sedang menoleh kebelakang dan melambai pada Natsu. Lucy memandang secara bergantian antara Natsu dan Lisanna. Natsu melambaikan tangannya dengan senyum diwajahnya begitu pula dengan Lisanna.
Lucy mengangkat bahunya dan kembali membuka buku, 'Sudahlah..' pikirnya.
Lisanna yang sadar ada seseorang yang memperhatikannya pun menoleh kesana kemari dan terpaku pada Lucy yang sedang sibuk membaca dan memperhatikan Gildarts-sensei yang sudah mulai menjelaskan. 'Aku akan merebut Natsu darinya' pikir Lisanna.
Lisanna pun menghadap kembali kedepan dan mulai mendengar penjelasan senseinya.
XXX
Murid-murid berlarian keluar kelas karena mendengar bel istirahat berbunyi. Tetapi tidak dengan Lucy, gadis itu sedang sibuk bergelut dengan novel yang ia baca saat pagi sebelum masuk sambil mendengarkan lagu yang disajikan Ipod miliknya itu. Ia tidak menyadari kalau Natsu sudah berdiri didekatnya. Natsu memasang wajah jengkelnya dan mencopot paksa earphone yang menempel ditelinga Lucy.
"Lucee!" serunya.
Lucy menoleh dn memasang wajah kesal, "Kenapa kau berteriak padaku? Kau menggangguku, Natsu" ucap Lucy sambil mencopot earphonenya yang satu lagi, yang masih menempel ditelinganya.
"Habisnya~~ Eh ya, ayo kita kekan—" Saat baru saja ingin mengajak Lucy kekantin, Lisanna menyambar lengannya dan memeluk erat lengan Natsu. "Natsu!" Ujar Lisanna.
Natsu menoleh, "Lis—Lisanna, ap-apa-apaan kau" Natsu menjadi panik saat dipeluk tiba-tiba oleh Lisanna.
"Ayo kita kekantin bersama" ajak Lisanna tanpa memperdulikan Lucy yang menatapnya.
"Yaa, tapi tidak usah begini" Natsu meronta-ronta.
Lisanna pun menoleh kearah Lucy dan tersenyum. "Kau tidak ingin diganggu oleh Natsu kan, Lucy? Aku bawa Natsu ya kekantin, kau tidak keberatankan?" ucap Lisanna.
Lucy menutup novelnya dan tersenyum. "Silahkan" ucapnya.
"Luce...!"
Lucy menatap Natsu dan tersenyum, "Kekantinlah bersama Lisanna, aku dikelas saja, aku sedang mencapai bagian yang paling seru, hmm?"
Natsu meringis, "Jadi kau lebih memilih novel itu daripada aku, heh?"
Lucy tertawa, "Begitulah..sudah sana ah"
Merasa tidak tahan melihat pemandangan didepannya, Lisanna segera menarik Natsu untuk keluar dari kelasnya. Natsu yang ditarik paksa oleh Lisanna pun hanya memanggil-manggil nama Lucy, Lucy hanya tersenyum dan melambaikan tangannya. "Jaa nee"
XXX
"Lucy?"
Lucy menoleh dan mendapati Sting berdiri dibelakangnya. Mereka berdua sedang berada di atap sekolah. Setelah kejadian dikelas, Lucy membawa novelnya dan berjalan menuju atap sekolah. Entah lah, perasaannya bercampur aduk. Ia mungkin cemburu karena kekasihnya dipeluk oleh gadis lain.
"Hey" sapa Lucy lalu menolehkan wajahnya kembali kedepan, melihat pemandangan sekolahnya yang luas. Lucy meletakkan dagunya dengan beralaskan kedua tangannya. Rambutnya melambai pelan.
Sting pun berjalan mendekati Lucy dan berdiri disampingnya.
"Ada masalah?" Tanya Sting. Lucy menggeleng.
"Kenapa kau terlihat murung?" Tanya Sting.
Lucy menoleh dan tersenyum. "Aku tidak murung kan?" Setelah itu Lucy menoleh kedepan lagi dan senyumannya hilang. Sting memutar bola matanya dan mulai merangkulnya. "Kemarin kau dan Natsu, kenapa tiba-tiba pulang?" Tanya Sting.
Lucy pun tersentak kaget dan menoleh kearah Sting. "Hmm itu..etto..hmm.."
"Ayolah, cerita saja, kenapa kau terlihat ragu begitu sih, dasar" ucap Sting sambil menggaruk tengkuknya.
Lucy tertunduk, dan Sting bisa melihat kalau rona merah tipis menghiasi wajah cantik Lucy.
"Natsu—Natsu menyatakan perasaannya padaku..dan.." Lucy mengambil jeda untuk melanjutkan perkataannya.
"Dan?" Sting penasaran. Didalam hatinya ia berharap, kalau Natsu terlalu bodoh untuk mengajak Lucy berpacaran.
"Ia memintaku untuk menjadi kekasihnya, Sting" ungkap Lucy.
Sting membulatkan matanya. Seperti tertusuk besi panas, ia merasakan sakit didadanya mendengar ucapan yang dikatakan oleh Lucy. Sadar akan kekagetannya, pemuda itu segera menyembunyikan ekspresi kecewanya dan tersenyum.
"Lalu? Apa jawabanmu?" Tanya Sting. Sting berpikir ia begitu bodoh. Kenapa ia bertanya begitu padahal didalam hatinya ia tahu kalau Lucy akan..
"Aku menerimanya, Sting"
Sting mengepalkan satu tangannya. 'Sudah kuduga..' batin Sting.
"Ah, berarti kau ini sudah berpacaran? Aaahhh selamat ya, Lucy-chan~~" ucap Sting sambil menyembunyikan rasa kecewanya dan sedihnya.
Lucy hanya tersenyum manis dan mengangguk. Rambutnya yang tergerai menari indah seiiring tiupan angin yang menerpanya.
Sting meraih rambut Lucy itu, "Rambutmu indah, Lucy.." pujinya.
"Eh?" semburat merah tipis terlihat dipipi kedua insan itu. Sting tertawa, "Sudah..sudah...lalu, kenapa tadi kau terlihat murung? Ada masalah dengan Natsu?" Tanya Sting.
Lucy menggeleng. "Hmm aku tidak tahu"
"Eh?" Sting bingung dengan jawaban yang diucapkan oleh Lucy.
Lucy tersenyum. "Tidak. Aku tidak ada masalah! Jangan khawatir, nee?"
Sting membalas senyuman Lucy dan meraih kedua bahu Lucy. "Jika ada masalah, kau bisa mengandalkanku kok, Lucy! aku siap mendengarnya dan memberimu sedikit nasihat" ucap Sting dengan cengirannya yang begitu manis.
Lucy tercengang dan kemudian tertawa. "Kau..kau benar-benar mirip Natsu, Sting..hahaha" ucap Lucy.
"Mirip? Haaahhhh?! Jangan samakan aku dengan idiot yang satu itu!" omel Sting
Lucy terkikik, "Kau kan juga idiot" ledeknya.
Sting menrengut kesal, "Enak saja! Pacarmu itu tuh yang idiot huh"
Lucy berhenti tertawa dan melihat kelangit, "Memang ia idiot, tapi ada sesuatu yang membuatnya sangat spesial.." gumam Lucy.
Sting memandangi Lucy. Sekarang ia merasa benar-benar jauh walaupun gadis ini ada didepannya, tapi pemuda itu merasa kalau tangannya tak lagi dapat menggapai gadis itu.
Lucy berjalan melewati Sting sambil memeluk novelnya. "Ayo kita kembali kekelas" ajaknya.
Sting tersenyum. "Kau duluan saja, aku akan disini dulu sebentar" jawab Sting.
"Oke..jaa.." pamit Lucy.
"Jaa nee.." sahut Sting sambil melihat bahu gadis yang ia cintai pergi menjauh dan menjauh.
Sting berjongkok dan menyembunyikan wajahnya. "Haaahhh...sepertinya ini akhirnya.." gumamnya.
XXX
"Michelle-san!"
Michelle yang sedang berjalan bersama dengan Lucy beserta dengan para gadis pun menoleh. Dan mendapati Yoshino sedang menunggunya didepan gerbang sekolah.
Michelle menoleh kearah Lucy dengan pandangan memelas dan sesaat Lucy menghela nafas dan menggangguk. "Kalau kau mau pulang bersamanya, tidak apa-apa. Aku akan pulang bersama dengan yang lain" ucap Lucy sambil menunjuk Erza, Juvia, dan Levy.
Michelle tersenyum ceria, "Arigatou, Nee-chan!"
Michelle pun berlari menghampiri Yoshino. Dari kejauhan, Lucy bisa melihat bahwa adiknya tertawa bahagia bersama dengan pemuda itu.
"Lu-chan, itu pacarnya Michelle?" Tanya Levy
"Mungkin" sahut Lucy sambil mengangkat bahunya dan berjalan lebih dahulu dibanding temannya.
Levy, Erza, dan Juvia pun menyusul Lucy dan mereka pun berjalan bersama keluar dari sekolah.
"Nee..Lu-chan..Kau tidak pulang bersama dengan Natsu?" Tanya Levy
Lucy menggeleng. "Kalau aku pulang bersamanya, aku tidak mungkin ada ditengah-tengah kalian, bukan?" jawabnya.
"Hehehe iya juga ya" sahut Levy.
"Lalu, kenapa Lucy-san tidak pulang bersama dengan Natsu-san? Ah ya, Aku tadi mendengar Gray-sama bergosip dengan Gajeel-kun, kalau Natsu-san dan Lucy-san sudah berpacaran. Apa benar begitu?" Tanya Juvia.
Lucy berhenti dan menoleh kearah teman-temannya yang sudah berfangirling.
"Ahhhh...benarkah, Lu-chan? Kau jadian dengan Natsu? Benarkah..benarkah?" Tanya Levy, matanya sudah berbinar-binar.
"Benarkah itu Lucy? Akhirnya kau memilih salah satu dari fans mu ya" goda Erza.
Wajah Lucy pun memerah dan kembali berjalan meninggalkan teman-temannya tanpa komentar apa-apa.
"Nee..Lu-chan/Lucy/Lucy-san..matteee~~~"
Erza, Juvia dan Levy pun mengejar Lucy yang sudah berjalan didepan mereka.
XXX
Sesampainya di halte, Lucy duduk disamping Erza. Erza pun memandang Lucy. Lucy yang menyadari dirinya diperhatikan oleh Erza pun menoleh. "Apa?" Tanya Lucy.
"Eh? Hmm tidak..kau tidak apa-apa? Sepertinya ada yang sedang kau pikirkan" Tanya Erza.
Lucy memiringkan kepalanya dan heran dengan Erza. "Tidak. Huh kenapa hari ini semua menanyakan keadaanku? Aku baik-baik saja, oke?" jawab Lucy
Erza menaikkan satu alisnya, "Siapa yang menanyakanmu?" Tanya Erza dengan menyelidik. "Ah? Ah, Sting" jawab Lucy.
Erza menoleh pada Levy dan Juvia. "Nee..Lu-chan..apa Sting tahu kalau kau sudah berpacaran dengan Natsu?" Tanya Levy.
Lucy menoleh dan menggangguk. "Tentu. Aku bercerita padanya"
Erza dan yang lainnya hanya melongo saat mendengar jawaban Lucy yang polos itu. "Ap—apa? Lucy-san sangat jahat..kau kan tahu kalau Sting-san menyukaimu, yakan?" ujar Juvia diiringi anggukan dua lainnya.
"Eh? Kalian tahu, ia hanya bercanda saat ia mengatakan bahwa ia menyukaiku. Sebenarnya ia hanya senang menggodaku" jawab Lucy.
'Hah..kasian Sting..' pikir Levy dan Erza.
"Hmm seandainya Sting serius dengan ucapannya, bagaimana anggapanmu?" Tanya Erza tiba-tiba.
"Eh? Sepertinya itu tidak mungkin" jawab Lucy dengan datar.
"Didunia ini tidak ada yang tidak mungkin, Lu-chan" sambar Levy.
Lucy tersenyum pada teman-temannya, "Tenang saja, Sting itu hanya menganggapku sahabatnya saja. Tidak lebih. Hmm?"
Erza dan yang lainnya pun menyerah dengan kepekaan seorang Lucy.
'Dia benar-benar buruk soal kepekaan!' pikir mereka bertiga.
Saat mereka sedang berbincang-bincang sambil menunggu kedatangan bus mereka, tiba-tiba saja mobil Natsu melewati halte dimana Lucy dan kawan-kawan berada. Dengan mata kepalanya sendiri, Lucy melihat didalam mobil Natsu ada sosok yang begitu ia kenal.
"Lihat itu kan Natsu!" Ujar Levy sambil menunjuk kearah mobil yang sudah berjalan jauh.
"Dia bersama Lisanna-san" tambah Juvia.
"Seharusnya kan dia pulang bersamamu, Lucy" omel Erza
Lucy pun tersenyum, menyembunyikan perasaan yang ia rasakan tadi. Cemas. Ya, dia merasa cemas. "Mereka berdua kan teman baik sejak dulu, sudahlah.." ujar Lucy.
"Kau tak cemburu, Lu-chan?" Tanya Levy.
"Hmm tidak juga" jawab Lucy.
Bus mereka pun datang, dan Lucy pun bersyukur untuk itu. "Ah busnya sudah datang. Ayo masuk" ajaknya sambil bangkit berdiri dan masuk kedalam bus dan yang lainnya hanya mengikuti Lucy.
XXX
Lucy membuka pintu rumahnya dan mendapati Michelle yang sedang berbincang-bincang dengan Yoshino.
"Ah, Okaeri Nee-chan" sambut Michelle.
Lucy tersenyum. "Tadaima. Aku masuk kekamar dulu ya. Kalian lanjutkan saja perbincangan kalian"
Lucy pun melangkah menuju kamarnya dan saat didepan pintu, ia menoleh kebelakang, "Ah ya, Yoshino-san. Jangan berbuat maca-macam pada adikku, ya?"
Yoshino tersenyum mengangguk. "Ha'i!" jawabnya. Lucy tersenyum dan membuka pintu kamarnya dan masuk kedalam.
Lucy meletakkan tasnya dimeja belajarnya dan segera menghampiri tempat tidurnya. Ia membaringkan dirinya dan memeluk sebuah boneka. Ia menjadi teringat saat melihat Natsu dan Lisanna berada didalam perjalanan pulang bersama.
"Ah menyebalkan." Gumam Lucy sambil meletakkan satu tangannya kedadanya.
Tiba-tiba ponsel Lucy berbunyi, menandakan kalau ada sebuah pesan masuk. Lucy menghela nafas dan bangkit duduk dan meraih tasnya yang ada diatas meja belajarnya, ia merogoh dalamnya untuk mendapat ponselnya, kemudian ia membuka ponselnya.
From : Natsu
Subject : Gomen
Luce? Kau ada dimana? Apa kau sudah dirumah? Maaf seharian ini aku tidak bersamamu..
Lisanna selalu membayangiku terus, huh xc
Lucy membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh Natsu. Lucy menggenggam ponselnya erat dan menutupnya. Ia tidak berniat untuk membalasnya.
"Aku mengerti" gumam Lucy. Kemudian untuk sejenak, Lucy memejamkan matanya dan mulai terlelap.
XXX
Dilain tempat, lebih tepatnya dirumah Gajeel. Gajeel sedang sibuk bergelut dengan gamenya—sendiri. Sampai pada saat ia mendengar pintu rumah terbuka dan menutp kembali. Pemuda itu bertaruh kalau itu adalah Ayahnya. Gajeel segera mem-pause gamenya dan menoleh.
"Oh, Ayah, kau su—" belum menyelesaikan kalimatnya, Gajeel sudah membulatkan bola mata merahnya saat melihat sosok yang berdiri dibelakang Ayahnya.
Gajeel bangkit berdiri, "Ro—Rogue?!"
"Mulai hari ini, adikmu ini akan tinggal disini, bersama kita. Dan ia akan pindah kesekolahmu" ucap Ayah Gajeel, Metalicanna.
"Ap—apa maksud ayah? Tinggal disini? Dan apa maksudmu dengan adik? Aku tak punya adik!" bentak Gajeel.
"Cukup, Gajeel. Walaupun kalian berbeda Ayah, Rogue itu tetap adikmu, kau harus berusaha menyayanginya!" sahut Metalicanna.
Gajeel mendecih, "Ya, seharusnya juga Ibu memikirkan hal ini sebelum melahirkan anak itu! Dan seharusnya anak itu adalah tanggung jawab selingkuhan Ibu! Kenapa kita perlu repot-repot mengurusi anak itu!" bentak Gajeel sambil menunjuk kearah Rogue.
"Ayahnya sudah tiada, Ibumu juga telah tiada. Ayah juga sudah memaafkan peristiwa itu dan memutuskan untuk merawatnya seperti aku merawatmu, Gajeel" jelas Ayahnya.
Gajeel mendengus. "Begitukah? Terserah saja. Sampai kapanpun, aku tetap tidak akan menerima anak itu!" bentak Gajeel. Setelah berbicara seperti itu, Gajeel melangkah masuk kedalam kamarnya.
Diam-diam, sosok Rogue hanya bisa tersenyum. Senyuman itu tak dapat diartikan sebagai senyuman bahagia, tetapi—senyum itu berubah menjadi seringaian ngeri.
XXX
Keesokkan harinya, Lucy pergi kesekolah dengan menggunakan bus. Michelle diantar oleh Yoshino, teman mesranya. Natsu juga tidak menjemputnya. Lucy tahu pasti karena Lisanna.
Lucy berada didalam bus dan duduk dipojok sambil memandang keluar jendela, ia melihat kendaraan yang berlalu-lalang dijalan itu dan ia tersentak saat ia melihat mobil Natsu melintas disebelah busnya. Sekilas ia bisa melihat Natsu dan Lisanna sedang tertawa bersama. Mungkin mereka sedang bersenda gurau.
"Tidak apa-apa. Aku percaya pada Natsu.." gumam Lucy. Diam-diam, Lucy telah cemburu pada Lisanna.
XXX
"Ohayou, Lucy-chan!"
Lucy menoleh kebelakang dan tersentak kaget saat mendapati Sting ada dibelakangnya.
"Bisa tidak kalau kau tidak mengagetkanku saat pagi-pagi seperti ini?! Dan jangan pernah menggunakan embel-embel itu saat memanggil namaku!" Omel Lucy sambil memakai sepatunya.
Sting pun tertawa dan mengacungkan tangannya yang berbentuk peace.
"Dasar.." Lucy memukul Sting dan pun berjalan bersama menuju kelas mereka masing-masing.
Dibelakang mereka, terlihat Natsu dan Lisanna yang berdiri. Natsu memperhatikan Lucy yang tertawa senang bersama Sting. Natsu mengepalkan tangannya. Lisanna menyadari itu.
"Natsu?"
Natsu pun tidak menoleh.
"Natsu!" Lisanna kembali memanggil dengan suara yang agak tinggi.
Natsu pun menoleh, "Bisa tidak kau tidak berteriak!" omel Natsu dan segera berjalan meninggalkan Lisanna dan mengejar Lucy.
Lisanna pun memandang kepergian Natsu dengan sedih. 'Apa kita tidak bisa dekat seperti dulu, Natsu?' batin Lisanna
XXX
Di gerbang sekolah, Levy dan Gajeel sedang bertengkar. Tidak—Seperti biasa, mereka bertengkar karena masalah sepele. Ledekan. Ya, hanya itu alasannya.
"Udang, kalau kau tidak sarapan dengan makanan yang sehat dan berserat, kau bisa-bisa akan menderita gizi buruk. Lihat saja dirimu sekarang" ledek Gajeel sambil menunjuk ketubuh Levy.
"Sangaaaaat kecil" lanjut Gajeel.
"Mou, Gajeel udah ah. Meledekku terus, tidak bosan apa! Huh. Biarkan saja kalau aku kecil. Aku ini imut tau!" Levy merengut kesal.
Ya, mereka berjalan beriringan untuk menuju kelas mereka, pagi ini secara kebetulan, Gajeel dan Levy bertemu digerbang sekolah dan ya, pada akhirnya mereka seperti itu.
"Imut seperti semut. Diinjak langsung modar haha" ledek Gajeel sambil tertawa.
Levy pun memukul bahu Gajeel, "Bodo! Lihat saja nanti, akan ada seseorang yang suka padaku, ya seseorang seperti diriku, yang kecil ini. Ugh" gerutu gadis bertubuh mungil itu.
Gajeel menoleh dan menatap Levy, Levy yang sadar bahwa Gajeel menatapnya pun merasa wajahnya memanas. Dan gadis itu bertaruh kalau wajahnya sudah memerah.
"Benarkah? Haaahhh siapa orang yang akan suka sama udang seperti kau Geehee" ucap Gajeel
"Gajeeelllllll!" geram Levy
Gajeel meletakkan tangannya kekepala Levy dan mengacak-acak rambut Levy. Levy bertambah kesal dan memukul bahu Gajeel dimana pukulan itu tak berarti apa-apa baginya. Diam-diam Gajeel tersenyum melihat ekspresi kekesalan Levy.
'Ya, itu aku..aku yang menyukaimu, udang..' batin Gajeel.
Dari kejauhan, Rogue melihat pemandangan itu sambil menyeringai. "Hmm..sepertinya gadis itu sangat spesial buatmu ya, Gajeel.." gumamnya.
Setelah bergumam seperti itu, Rogue pun melangkah masuk, melewati gerbang sekolah yang sama dengan Gajeel.
XXX
Dikelas, Lucy duduk manis ditempatnya dan sibuk mengobrol dengan Juvia. Dan saat itu pula, Natsu menghampirinya. "Luce..maaf ya soal kemarin" ucap Natsu dengan wajah yang memelas.
Juvia dan Lucy menoleh. Seakan mengerti keadaan, Juvia pun pamit pergi dan mengganggu Gray yang baru saja tiba dikelas.
Natsu duduk dan menghadap kearah Lucy. "Maaf" ucapnya.
Lucy tersenyum. "Tidak apa-apa, aku mengerti"
"Huuuhhh, kenapa kau baik sekali sih, kau tidak takut kalau aku selingkuh dengan Lisanna?" Tanya Natsu sambil memajukan bibirnya.
Lucy tertawa pelan dan menyentil dahi Natsu, "Baka..aku percaya padamu kalau kau tidak akan berbuat begitu, ya kan?"
Natsu tersenyum, "Tentu saja!"
"Kalau kau selingkuh, yaaa tidak apa-apa. Lagipula masih banyak pemuda yang menyukaiku" ucap Lucy.
"Lucee! Ugh" protes Natsu dengan kesal.
Lucy pun tertawa melihat ekspresi Natsu, dan orang yang ditertawakan hanya bisa merengut kesal dan menggerutu tak jelas. Dan dari kejauhan, Gray dan Juvia melihat mereka.
"Ah..senangnya melihat mereka bersatu" ucap Gray. Juvia mengangguk.
"Lalu, kapan ya kita akan bersatu, Gray-sama?"
Gray menoleh dan mengangkat bahunya. "Entahlah"
"Mouuuu~~~ Gray-sama~~" rengek Juvia.
Disisi lain, Lisanna hanya bisa mengepalkan kedua tangannya saat melihat keakraban Lucy dan Natsu.'Tidak akan aku biarkan..tidak..' pikir Lisanna.
XXX
"Mcgarden-san. Bisakah aku minta tolong padamu?" tanya Laki-sensei.
Levy yang tengah membereskan buku-bukunya yang berantakan dimejanya pun segera menoleh. "Ada apa, Laki-sensei?" tanyanya.
"Tolong bawakan tugas-tugas ini ke ruang guru ya? Ah ya, sebelum itu tolong dihitung dulu tugasnya. Apakah semuanya sudah mengumpulkan. Oke?" pinta Laki-sensei dengan lembut.
Levy menghampirinya dan mengangguk. "Baik!"
Laki-sensei keluar lebih dahulu sambil membawa buku beserta laptopnya. Sedangkan Levy sedang menghitung satu per satu tugas yang dikumpulkan. "28 orang yang mengumpulkan, yang tidak masuk 2 orang ya..baiklah.." ucapnya pada dirinya sendiri.
Erza pun menghampirinya, "Mau ku bantu?" tawarnya.
Levy tersenyum dan menggeleng. "Tidak, terimakasih, Er. Hmm daripada membantuku, kau bisa membantu Jellal bukan? Hihi" Levy melirik kearah Jellal yang sedang sibuk mengisi buku kegiatan kelas hari ini. Erza pun menoleh kearah Jellal. "Hey, dia tidak perlu bantuan untuk mengisi buku itu tahu!"
Levy pun tertawa, "Lalu? Kau tidak ingin mengajaknya makan bersama dikantin?"
"Levy!"
Levy tertawa pelan sambil mengangkat tugas-tugas ditangannya. "Sudah-sudah, aku keruang guru dulu ya, Er." Pamitnya.
Levy pun berjalan keluar kelas dan sebelum keluar dari pintu Levy pun menoleh dan mngerlingkan matanya pada Erza. "Ganbatte, nee? Hihi?" ucapnya.
Blush..
Wajah Erza memerah, ya semerah warna rambutnya yang indah itu. "Levyyyy!"
Levy pun keluar sambil senyum-senyum sendiri. "Dasar Erza. Tsundere banget" ucapnya.
Gadis itu melangkah dengan jelas ke ruang guru yang berada dilantai satu. Saat ia ingin berbelok, ia pun ditabrak oleh seseorang. Dan tugas-tugas yang ia bawa pun berhamburan.
"Ah..jadi berantakan..kalau jalan lihat-lihat dong..duh.." gerutu Levy sambil berjongkok memunguti kertas-kertas yang berjatuhan.
"Gomen..gomenne.."
Levy akhirnya mengangkat wajahnya saat mendengar suara—suara yang sangat maskulin itu. Ya, itu adalah seorang pemuda. Beberapa detik, Levy dan sosok itu saling memandang—berkontak mata.
"Ah..ya.." sela Levy.
Levy memiringkan kepalanya dan memandang sosok didepannya dengan heran. "Kau ini anak baru ya?" tanya Levy dengan spontan.
Sudah selayaknya sih kalau Levy bertanya seperti itu pada sosok yang baru dilihatnya disekolah ini. Sosok itu mengangguk dan menyodorkan beberapa kertas yang ia pungut—bermaksud membantu Levy.
"Ah souka.." Levy menerima lembar-lembaran itu dan menjadi satukan dengan lembaran yang ia punguti.
Setelah selesai, sosok itu pun berdiri dan berjalan membelakangi Levy. Levy menoleh dan melihat kepergian sosok itu.
"Chotto matte!" panggil Levy. Sosok itu berhenti dan menoleh.
"Ada apa?" jawab sosok itu.
"Hmm tidak—tidak apa-apa. Maaf, tapi kau terlihat mirip seseorang" sahut Levy
Pemuda itu berjalan mendekati Levy lagi dan tersenyum. Wajahnya sangat dekat dengan Levy hingga Levy merasakan wajahnya memanas. "Benarkah? Siapa itu?"
Dari kejauhan, Gajeel yang baru keluar kelas pun melihat kejadian itu dan mengepalkan tangannya kesal. "Brengsek! Mau apa dia dengan si udang!" geram Gajeel.
Kembali kesituasi Levy dan sosok pemuda yang baru ia temui, pemuda itu membelai pipi Levy dan memainkan sejumput rambut Levy. "Panggil saja aku Rogue"
"Eh?" Levy memandang jauh kedalam matanya. Ia sangat mengenali bola mata itu. Merah.
'Merah? Dia memiliki mata seperti Gajeel..' pikir Levy.
"Kenapa kau memandang dia seperti itu, udang?"
Levy tersentak, begitu juga dengan sosok yang bernama Rogue itu. Mereka pun menoleh, mendapati sosok Gajeel disana.
"Gajeel!"
"Aniki!"
Levy menoleh kearah Rogue dan menatapnya bingung "A-Aniki?!"
Gajeel mendecih dan menarik tangan Rogue. Tanpa segan-segan, Gajeel menyeret Rogue untuk menjauh dari Levy. Dan gadis itu hanya memandang kepergian dua pemuda itu dengan banyak pertanyaan dibenaknya.
"Hah? Kenapa dia manggil Gajeel seperti itu? Jangan-jangan.." gumam Levy sambil memikirkan kejadian tadi.
'Gajeel..' pikir Levy.
XXX
Dilain tempat, Sting sedang merasa malas untuk makan dikantin dan ia memutuskan untuk ke perpustakaan. Mungkin diperpustakaan, saat ia melihat buku-buku yang bertumpuk-tumpuk itu, ia akan merasa bersemangat untuk makan dikantin. Pemuda itu masuk kedalam perpustakaan, mengisi buku kunjungan dan saat mengedarkan pandangannya, ia menangkap sosok yang ia kenali, Ya, Lucy. Gadis itu terlihat sedang sibuk membaca novel disana. Ia tersenyum dan menghampiri Lucy untuk mengganggu kegiatan gadis itu.
"Lucy, kau ini benar-benar penggila novel ya?" Tanya Sting yang tiba-tiba duduk dihadapannya Lucy.
Lucy agak tersentak dan menutup novelnya. "Sting, kalau kau kesini hanya ingin menggangguku, mending pergi aja deh" usir Lucy.
"Kejamnya~~" rengek Sting, Sting memangku wajahnya dan memperhatikan Lucy. Lucy pun menjadi salah tingkah. "Tenang saja, aku tidak akan mengganggumu, aku hanya ingin melihatmu saja kok~"
"Itu sama saja menggangguku, baka" jawab Lucy
"Loh?"
"Iya, kau menganggu, aku tidak bisa konsen jika kau memperhatikanku seperti itu, baka!"
Sting tertawa, "Ow, sebegitu hebatnya pesonaku hingga membuatmu tidak konsen membaca" ledek Sting. Lucy memukul kepala Sting dengan novelnya. "Ah ittaiiii" rintih Sting sambil mengelus kepalanya yang dipukul oleh Lucy.
"Dasar stres!"
"Hmm lalu, kenapa kau sendirian disini? Mana Natsu-san? Kau seperti seorang jomblo tau gak" ucap Sting.
"Natsu? Mungkin dia sedang bersama Lisanna. Kau tahu, Lisanna mungkin sangat rindu pada anak itu, jadi Lisanna mengikuti Natsu terus dari kemarin hihi" jelas Lucy sambil tertawa pelan.
Sting pun teringat dengan perasaan tidak enak pada saat ia melihat Lisanna. Ia menyatukan hal itu dan..Bingo! Sting tahu maksud Lisanna mendekati Natsu.
Lucy bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan Sting. Sting bangkit berdiri. "Lucy, kau mau kemanaaaa?" Tanya Sting
Lucy menoleh, "Ke toilet, kenapa kau mau ikut?" Sahut Lucy dengan datar.
Wajah Sting pun memerah mendengar tawaran Lucy. "Dasar mesum" gumam Lucy sambil terkikik. Lucy pun keluar dari perpustakaan, sedangkan Sting tetap berada di perpustakaan.
"Sepertinya, gadis itu ingin merusak hubungan Natsu-san dan Lucy" gumam Sting.
'Aku tidak akan membiarkannya..' pikir Sting.
XXX
Natsu sedang mengobrol dengan Gray dikelas. Sebenarnya ia tidak bermaksud untuk mengobrol dan kelihatan akrab dengan Gray, tapi ia sedari tadi sudah mencari-cari Lucy dan ia tidak menemukan gadisnya itu.
"Kira-kira, Lucy itu kemana ya?" tanya Natsu.
"Mungkin diperpustakaan, dia kan kutu buku" jawab Gray dengan malas.
"Aku sudah mencarinya, tapi tak ada"
"Mungkin diatap" sahut Gray
"Tidak ada"
"Toilet?"
"Tidak ada juga" jawab Natsu dengan wajah yang datar.
"Hmm begitu ya..eh tunggu dulu, kenapa kau bisa tahu kalau Lucy tak ada di toilet? Kau masuk ketoilet anak perempuan ya?" ledak Gray. Matanya membulat.
Natsu tertawa mengejek, "Tidak..tidak aku hanya bercanda. Mana mungkin aku masuk ketoilet anak perempuan tanpa dirimu, Gray"
"Ha? Apa maksudmu?"
"Kau kan mesum, jadi kalau mau melakukan itu, aku harus mengajakmu, agar hasrat mesummu itu terpenuhi hahaha" ejek Natsu.
Gray mencengkram kerah baju Natsu, "AP—APA KAU BILANG, OTAK APIIII?!" geram Gray.
"Mesum. Kau itu me-sum. Haha"
"Kurang ajar kau, flame-head" Gray sudah kesal karena diejek seperti itu oleh Natsu.
Tiba-tiba pintu kelas terbuka dan menampakkan dua sosok yang mengerikan. Lucy dan Erza. Eh—Lucy tak termasuk loh.
"Radarku mengatakan kalau disini ada perkelahian, Lucy" ucap Erza dengan nada tegasnya. Nada itu sangat membuat merinding Natsu dan Gray.
Lucy menunjuk kearah Gray yang mencengkram Natsu dan Natsu yang sudah memasang kuda-kuda ingin berkelahi. "Itu disana, Er"
Erza menoleh dan melihat Gray dan Natsu sekarang sedang berpura-pura akrab. "Aku akan rapihkan kemejamu, Natsu. Kau harusnya pakai dasimu" ucap Gray dengan keringat dingin yang mengucur.
"Ah ya, terimakasih Gray, kau memang teman terbaik!" sahut Natsu.
"Jangan alas an terus begitu, Natsu, Gray. Kalian pasti akan bertengkar kan kalau aku tak ada disini, haaahhhh?!" ucap Erza.
Lucy pun masuk kedalam kelas dan duduk ditempatnya. Dari temopat duduknya, ia bisa mendengar kalau Natsu dan Gray sedang habis-habisan di ceramahi oleh Erza. Diam-diam Lucy tersenyum.
Tidak lama kemudian, Natsu pun menghampirinya, "Luceee~~~Erza jahat padaku~~"
Lucy menoleh dan tertawa, "Lagi kerjaanmu berkelahi terus sama Gray. Yang anteng aja kenapa sih"
"Hehe, habis aku mencarimu kemana-mana, aku tidak bisa menemukanmu" jelas Natsu.
"Benarkah? Kau tidak serius saat mencariku, mungkin. Jadi tidak ketemu deh" sahut Lucy.
"Lucy!"
Lucy pun tertawa. "Iya..iya.."
Mereka pun akhirnya berbincang-bincang dan bersenda gurau untuk menghabiskan waktu istirahatnya.
XXX
Diatap sekolah sudah berada dua insan yang sedang berdiri berhadapan. Lisanna dan Sting. Entah bagaimana, mereka bisa bertemu di atap sekolah. Sting tersenyum, "Konnichiwa" sapanya.
Lisanna tertawa pelan, "Sopan sekali..tetapi kesopananmu itu tidak akan bisa mendapatkan Lucy..Eucliffe-san" ucap Lisanna disela tawanya.
"Panggil saja Sting" jawab Sting.
Lisanna pun tersenyum. "Jadi, Sting. Kau menyukai Lucy bukan?"
Sting tertawa meledek, "Memang apa urusanmu?"
"Kalau kau menyukai gadis itu, aku ingin menawarkan kerjasama padamu.." ucap Lisanna sambil tersenyum licik.
Sting menaikkan satu alisnya. "Kerja-sama?"
"Kerja sama untuk menghancurkan hubungan mereka. Aku bisa bersama Natsu, dan kau bisa bersama dengan Lucy. Bagaimana?"
Sting tersenyum. "Menarik..."
"Iya kan? Jadi kau setuju?" Tanya Lisanna untuk meyakinkan lagi.
Sting membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Lisanna. "Maaf saja, itu memang tawaran yang menarik. Tapi aku..tidak tertarik.."
"Tung—tunggu dulu! Kau bodoh ya?! Itu satu-satunya cara agar kita bisa bersama dengan seseorang yang kita sukai!" ucap Lisanna.
Sting berhenti dan menatap langit, "Selama aku masih bisa berdiri disampingnya, walaupun sebagai teman atau sahabatnya. Aku masih bersyukur, daripada aku harus berbuat jahat..memaksakan perasaan seseorang itu..sangat kejam, Lisanna-san" jelas Sting.
Lisanna mengepalkan tangannya. Ia kesal. "Kau! Bodoh!" umpat Lisanna.
Sting menoleh dan tersenyum mengejek. "Hatimu juga tahu itu, bukan?"
Lisanna terdiam.
"Kalau begitu, sampai jumpa~" pamit Sting. Setelah itu, Sting keluar dari atap dan kembali kekelasnya. Sedangkan Lisanna masih bergelut dengan pikiran-pikirannya.
'Tidak. Walaupun tanpamu, aku bisa menjalankannya sendiri..aku bisa memisahkan mereka berdua..akan aku buktikan' batin Lisanna.
.
.
.
.
.
.
To be Continued
Naaaaahhh! bagaimana dua chapter kali ini? Natsu dan Lucy udah menjadi sepasang kekasih, Lisanna udah muncul dan ada Rogue yang OOC juga yang menjadi adik Gajeel. penasaran gaaakkkk gimana kelanjutannya?!
Mulai hari ini, author akan update dua chapter sekaligus untuk kalian pembaca setia fanfic ini. Senang tidak kalian?~~~
Oke, sekarang aku ingin membalas review yang masuk di chapter 13..(untuk para guest..)
desty dragfilia : Hehehe sankyu na Desty-chan~~ *boleh kan aku memanggilmu seperti itu? ,* Iya, 20 chapter lebih~ mungkin para readers bakalan bosen bacanya, tapi author usahain biar ada gregetnya setiap chapter! hehe XD dan untuk skuel yang diminta sama desty-chan..belum ada inspirasi utk membuatnya huhuhu gomenasaiiii XC
Fani Shuuya (Chpter 12) : Hehehe biar kalian merasakan kesedihan yang dialami Lucy juga~~ XC
Fani Shuuya (chpter 13) : Drastis ya? hahaha habis mau gimana lagi. dia berubah karena tuntutan kehidupan yang keras *azzeeekk* Nah, di chapter ini udah ada Lisanna loh pluuuusss ada Rogue juga hehe walaupun Roguenya agak OOC XD
Guest : Hehehe Thanks! Ini udah dilanjutin. update langsung, dua chapter loh...hoho XD
Baiklaaahhh! udah kelar semuanya.
Minna-san! ditunggu kelanjutannya ya dan jangan lupa beri review untuk author agar dapat menulis lebih baik lagi dari sebelumnya XD
Terima Kasih atas perhatiannya. Sampai jumpa lagi dichapter selanjutnya~~~
Jaa nee,
Yusa kun XD
