Haaai para readerss semuanyaaaa~~~ author udeh update lagi niiiihhh. Author menepati janji kaaan yang bilang bakalan update 2 chapter sekaligus! YoHooo!

Yaudahlah ya, author gamau banyak-banyak berkomentar, langsung aja..Chapter 16!

Check this out!


Levy sedang berjalan dikoridor sekolah yang sudah sepi. Ia baru saja selesai membantu Laki-sensei untuk memberi nilai tugas-tugas sastra milik kelasnya dan kelas lainnya.

"Huaahhh capeknya..enak sekali jika bisa berbaring ditempat tidurku..huh" ucap Levy sambil mengurut tengkuknya yang merasa pegal.

Saat sampai didepan lokernya, ia membukanya dan mengganti sepatu sekolahnya dengan sepatu luarnya. Levy bersenandung dengan asyiknya dan tidak sadar kalau ada sosok yang berdiri dibelakangnya.

"Hoy, kecil"

Levy menutup lokernya dan membalikkan tubuhnya. "Gajeel?!" pekiknya.

Gajeel hanya mengangkat tangannya, "Lama sekali kau, aku menunggumu"

"Kenapa kau menungguku?" tanya Levy dengan heran.

Gajeel berdeham dan memalingkan wajahnya, "Hanya ingin" jawabnya.

"Souka. Yasudah, ayo kita pulang" ajak Levy. Gajeel mengangguk dan mereka pun pulang bersama.

Fairy Tail © Hiro Mashima

A Fairy Tail Fanfiction

Between Us

By Yusa-kun

Warning : AU, Typo(s), OOC.

.

.

.

.

.

"Kau pulang sendirian, Rogue?"

Rogue meletakkan helmnya dan menoleh kearah Metalicanna. "Begitulah"

"Lalu dimana kakakmu?" tanyanya.

"Entahlah, mungkin ia bersama teman-temannya yag suka membuat keonaran itu. Aku masuk kekamar dulu" ucapnya, sekalian pamit untuk masuk kedalam kamarnya.

Metalicanna menutup majalah yag sedang ia baca dan membuka kacamatanya, 'Apa aku salah ya memutuskan merawat Rogue tanpa persetujuan dari Gajeel?' pikirnya.

XXX

"Hey, maukah kau menemani aku, sebentar saja?" tanya Gajeel yang sekarang sudah duduk disebelah Levy. Mereka berada didalam bus yang tak begitu ramai.

Levy menoleh, "Kemana? Ya boleh saja. Asal tidak ketempat yang aneh-aneh"

Gajeel tertawa, "Tidaklah, mana mungkin aku berbuat aneh denganmu. Punya niatan saja tidak ada. Dasar udang"

Levy mulai mencibir dan menggerutu, "Sudah minta ditemani, malah ngeledek"

"Gomen..gomen.." ucap Gajeel sambil terkekeh.

Levy melihat ekspresi Gajeel dan memandangnya sejenak. 'Kenapa dia terlihat seperti ada beban berat ya?' pikir Levy.

Tiba-tiba Gajeel bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya, "Ayo, sebentar lagi kita akan turun"

Levy memandang uluran tangan Gajeel dan segera menyambutnya. Gajeel menekan tombol didekat pintu, tombol itu berguna untuk memberi tahu kalau ada penumpang yang akan berhenti dihalte selanjutnya.

Gajeel menggenggam tangan Levy dengan erat dan turun dari bus. Mereka berdiri berdampingan sampai bus itu pergi dan tak terlihat lagi.

"Ayo" ajak Gajeel.

Levy berjalan dibelakang Gajeel walaupun Gajeel masih menggenggam tangannya. Gajeel terlihat seperti menyeret Levy. "Kita mau kemana?" tanya Levy.

Gajeel tersenyum, "Nanti juga akan tahu. Sudah jangan bertanya terus ah"

Levy merengut kesal, "Begitu terus" gumamnya.

XXX

Erza dan Sting sudah duduk berhadapan. Erza sibuk memakan cake yang dipesannya dan Sting mengaduk ice-coffee miliknya. "Aku tidak menyangka kalau seseorang yang menyeramkan sepertimu menyukai cake yang manis seperti itu" ucap Sting

"Begini-begini aku kan juga seorang gadis, Sting" jawab Erza.

Sting tertawa, "Ah ya benar juga.." Sting pun menyesap ice-coffeenya.

"Lalu, untuk apa kau mengajakku ke cafe seperti ini?" tanya Erza sambil meletakkan sendok kecilnya. Lihat, dia sudah menghabiskan cake nya itu.

Raut wajah Sting menjadi serius saat Erza melontarkan pertanyaan itu. "Kau merasa tidak sih kalau ada yang aneh dengan anak baru itu?" tanya Sting.

"Ah, kau merasakan juga ya? Sasuga, Sting" jawabnya.

Sting memutar bola matanya dan memangku wajahnya. "Tadi Lisanna menawarkan ku sebuah kerja sama, kau tahu maksudnya apa?"

Erza memiringkan kepalanya, "Kerja sama?"

Sting mengangguk. Erza membulatkan matanya, "Jangan-jangan dia.."

Sting tersenyum dan menjentikkan jarinya, "Bingo!"

"Hah tepat sekali dengan dugaanku. Dia memang ada maksud jahat dibalik sikap manisnya pada Natsu" ucap Erza.

"Lalu kau jawab apa? Tawaran menarik itu?" tanya Erza sambil tersenyum sinis.

Sting pun menyandarkan bahunya dan tersenyum. "Jadi kau ini tahu ya perasaanku pada Lucy?"

Erza tertawa, "Baka, bagaimana aku tak tahu. Bahkan Levy dan Juvia pun menyadarinya. Kau terlalu frontal tahu"

Sting ikut tertawa, "Tetap saja, ia lebih memilih cinta pertamanya. Yaaahhh aku sudah tahu dari awal kalau aku akan kalah pada Natsu-san"

"Balik lagi kepertanyaanku tadi, apa jawabanmu?" tanya Erza dengan serius.

"Hmm aku menolak"

"Benarkah? Aku pikir kau akan melakukan hal seperti yang dilakukan Lisanna" giliran Erza yang memangku wajahnya dan memandang Sting.

"Oy..oy..aku tak sekejam dan sejahat itu" sahut Sting. Erza terkekeh, "Boleh tahu alasannya?"

"Hmm...aku tak punya penjelasan yang spesifik sih, tapi aku tidak akan berbuat hal itu, karena aku tahu, melakukan hal itu akan membuat Lucy sedih. Disisi lain, aku ingin Lucy bahagia, yaaah walaupun bukan bersama diriku.."

Erza terdiam dan memalingkan wajahnya melihat kearah lain. Ia terlihat berpikir keras. "Begitu ya..."

Menyadari hal itu, Sting pun tersenyum, "Lalu bagaimana kelanjutan kisahmu dengan Jellal-mu itu? Haha jangan dikira aku tak tahu ya, Erza~"

Erza tersentak dan menoleh. "Ap—apa maksudmu?! Aku—aku tak ada apa-apa dengannya"

Sting tertawa dan menunjuk kewajah Erza, "Baka, wajahmu memerah tuh"

"Kau mau aku bunuh ya, Sting?"

Sting hanya tertawa. Diseberang cafe tersebut, ada sosok yang melihat kebersamaan Erza dan Sting. Sosok itu mengigit bibir bawahnya, seperti menahan kekesalannya.

"Erza dan Sting?" gumamnya.

"Jellal..ayo kita pulang, Ibu sudah selesai berbelanja"

Sosok yang berdiri disana, memperhatikan kebersamaan Erza dan Sting didalam cafe itu tidak lain adalah Jellal.

Jellal menoleh, "Baik!"

Jellal pun masuk kedalam mobil diiringi Ibunya yang menyusul masuk kedalam mobil dan mobil itu pun pergi.

XXX

"Maaf aku membawamu kemari"

Levy menoleh dan tersenyum, "Tidak apa. Aku suka pemandangannya"

Gajeel duduk disebelah Levy dan memberikannya sekaleng minuman yang ia beli. "Aku hanya malas pulang hari ini..maaf merepotkanmu ya, Udang"

"Malas pulang? Kenapa?"

"Ada seseorang yang tak aku sukai, ia tinggal bersamaku dan Ayahku" jelas Gajeel.

Levy membuka minumannya dan menyesap sesekali, "Tak boleh begitu, pulanglah" ucap Levy.

"Rogue Cheney"

Levy menoleh, ia tahu nama itu. Rogue...Rogue...sosok pemuda yang gadis itu temui secara tidak sengaja saat ia ingin keruang guru.

"Pemuda yang tadi itu kan? Ah ya, dia itu mirip sekali denganmu, dan kenapa dia memanggilmu dengan sebutan Aniki?" serbu Levy. Levy yang sadar akan pertanyaannya itu, menutup mulutnya. "Gomen, aku banyak bertanya"

Gajeel meminum minumannya dan menghela nafas, "Dia itu adikku"

Levy membulatkan matanya, "Eh?!"

Dari situlah, Gajeel mulai menceritakan tentang keluarganya. Tentang perselingkuhan Ibunya dengan Ayah Rogue, lahirnya Rogue, dan saat Ibunya meninggal. Levy memasang wajah sedih saat Gajeel menceritakan hal itu, Gajeel menyadarinya. "Jangan memasang raut wajah seperti itu, aku tak ingin dikasihani tahu!" omelnya.

Levy tersenyum. "Kenapa kau menceritakan ini padaku? Aku kan bukan.."

"Entahlah, aku juga tak tahu kenapa aku menceritakannya padamu.." Gajeel menghembuskan nafasnya.

"Aku hanya tak ingin kau terluka" gumam Gajeel.

Levy memiringkan kepalanya, "Kenapa kau bilang begitu? Apa maksudmu?"

Gajeel terdiam. "Pokoknya, kau jangan dekat-dekat si Rogue alay itu! Mengerti?!" seru Gajeel, tiba-tiba.

"Hahh? Kenapa aku tak boleh dekat dengannya? Heeeee, lagi pula dia itu kan junior kita, aku tak mungkin bertemu dengannya dan tid—"

Gajeel tiba-tiba menggenggam tangan Levy. "Sekali ini, kau harus dengarkan aku. Oke, Levy?"

Mata Levy membulat sempurna saat mendengar Gajeel memanggil namanya. 'Dia menyebut namaku..' batin Levy.

Levy mengangguk. "Hnn, wakatta yo"

Gajeel melepas genggaman tangannya, "Arigatou.."

Setelah itu, mereka berdua, sore itu, bersama melihat matahari terbenam di pinggir pantai.

XXX

"Lis"

Lisanna menoleh dan mendapati sosok kakaknya. Mirajane. "Ada apa?"

"Kau terlihat berbeda setelah pindah dari Edolas" ucap Mira.

Lisanna tersenyum, "Benarkah? Apa yang berbeda? Apa kau bisa memberitahuku?"

"Sorot matamu..kau terlihat—"

Lisanna tertawa, "Aku tidak berubah, Mira-nee. Aku Lisanna yang dulu kok" potongnya. Mira tersenyum, "Baiklah kalau begitu..Hmm aku ingin bertanya.."

"Hmm? Tanya apa?" Lisanna menutup majalahnya dan memandang kakaknya yang duduk dihadapannya.

"Kenapa kau pindah kesini? Apa itu karena Nat—" tanya Mira.

"Kau jelas sudah tahu pasti bukan alasannya?" potong Lisanna. Gadis ini memang suka sekali memotong ucapan seseorang ya.

Mira memejamkan matanya, "Kau sangat mencintainya ya?"

Lisanna memejamkan matanya, kedua tangannya ditumpuk dan diletakkan didadanya, "Sangat..aku ingin bersamanya..sangat ingin..aku ingin seperti dulu...hanya aku dan dia..tak ada yang lain.." jelas Lisanna dengan lembut.

"Lisanna.."

Lisanna membuka matanya, "Tapi sekarang ada Lucy..Natsu bercerita Lucy..ini Lucy...itu Lucy..semua tentang Lucy..aku bosan..aku muak.." jelasnya dengan penuh amarah.

"Kau kan tahu kalau Natsu sejak awal memang menyukai Lucy, Lucy adalah cinta pertamanya, Lis" Mira mencoba memberi nasehat.

"Jadi aku salah memiliki perasaan seperti ini pada Natsu? Begitu maksudmu, Mira-nee?" desak Lisanna.

"Ti—tidak! Bukan seperti it—"

"Sudahlah, semuanya sama saja. Selalu saja aku yang salah, menyalahkan diriku..apa salahnya jika aku hanya mengambil hak yang seharusnya memang milikku. Sudahlah, aku ingin istirahat" Lisanna bangkit berdiri dan brjalan menuju kamarnya. Mira hanya memandang cemas adiknya itu.

'Lisanna...cinta itu membuatmu buta..itu yang kumaksud kau berubah' pikir Mira.

XXX

Keesokkan harinya, Lucy membuka kedua manik karamel miliknya dan sesekali menguceknya perlahan. Ia menatap langit-langit kamarnya dan menghela nafas. Ia segera bangun dan menyambar handuknya dan masuk kedalam kamar mandi. Ia harus bergegas bersiap-siap untuk pergi kesekolah.

Setelah mandi, Lucy pun memakai seragam sekolahnya, dan perlengkapan lainnya, seperti kaus kaki dan juga sepatunya. Ia memasukkan beberapa buku untuk jadwal hari ini, setelah selesai ia melirik ponselnya dan membukanya.

"Ah ada pesan" ucapnya.

From : Natsu

Subject : ohayou

Luce. Tunggu dirumah, aku akan menjemputmu. Oke?

Lucy tersenyum dan segera memasukkan ponselnya kedalam tasnya dan keluar dari kamarnya untuk mempersiapkan sarapan baginya dan juga Michelle.

XXX

"Dengar, Lis. Aku harus menjemput Lucy. Aku tidak harus selalu menjemputmu setiap pagi kan? Kau bisa berangkat bersama kakakmu kan?" ucap Natsu didalam telepon.

"Tapi kan.." terdengar suara Lisanna diseberang telepon.

Natsu menghela nafas, "Sorry Lis. Aku sedang dalam perjalanan kerumah Lucy. Sampai bertemu disekolah. Jaa.." Natsu pun menutup teleponnya dan menaruh ponselya disaku celananya.

Saat ini, Natsu sedang berada dimobilnya. Ia sedang dalam perjalanan untuk menjemput gadis-nya. Siapa lagi kalau bukan Lucy. Sudah dua hari ia tak pergi dan pulang bersama kekasihnya itu, karena siapa? Ya, Lisanna. Lisanna selalu mengikuti Natsu kemana pun Natsu pergi. Merengek minta ini, minta itu. Natsu sampai kewalahan menangani Lisanna.

Tidak lama kemudian, ponsel Natsu bordering kembali. Ia mengambilnya dengan susah payah dan segera mengangkatnya.

"Moshi-moshi.."

"Natsu..ayolah, kakakku ternyata sudah berangkat duluan. Aku kan tidak tahu harus naik kendaraan apa kesekolah" rengek Lisanna dalan telepon.

"Kau bisa menelepon kakakmu kan? Kenapa harus aku?"

"Ponselnya tak bisa dihubungi, maka dari itu aku meneleponmu" jawab Lisanna dengan rengekannya.

Natsu bingung harus berbuat apa, disatu sisi ia harus menjemput kekasihnya, yang kemungkinan sudah menunggunya. Lalu disisi lain, ia tidak dapat membiarkan Lisanna, sahabatnya itu baru saja pindah kekota ini.

"Baiklah..baiklah..berhenti merengek oke?" ucap Natsu.

"Jadi kau akan menjemputku?" tanya Lisanna yang terlihat senang dari nada bicaranya.

"Hnn. Tunggu saja"

"Okee.. Jaa.."

Telepon pun terputus. Natsu pun mencari kontak Sting dan segera meneleponnya.

"Halo, Natsu-san? Ada apa pagi-pagi menelepon? Sudah kangen pada ketampananku?" suara Sting terdengar disana, ya terdengar begitu ceria.

"Sting, aku tidak punya banyak waktu untuk meladenimu. Sekarang aku ingin meminta tolong padamu" ucap Natsu.

"Eh? Apa itu?"

"Jemput Lucy dirumahnya. Aku tak bisa menjemputnya, Lisanna meminta tolong padaku" jelas Natsu.

Terdengar helaan nafas dari Sting. "Seharusnya kau tidak berbuat begitu, Natsu-san. Dahulukan dulu kekasihmu" ujar Sting

"Aku tidak tega, Mira—maksudku Mira-sensei sudah berangkat lebih dulu darinya dan ia tidak tahu harus naik kendaraan apa kesekolah" jelas Natsu.

"Terserah saja. Yasudah, aku akan menjemput Lucy. Jaa.." setelah mengatakan hal itu, Sting menutup teleponnya.

Natsu melemparkan ponselnya ke jok mobil sebelahnya dan menghela nafas. "Gomenne, Luce.."

XXX

"Kenapa kau harus berbohong pada Natsu? Itu tak benar, Lisanna!" omel Mira.

Lisanna duduk sambil menyantap sarapannya. "Biarkan saja..lagipula Lucy kan sudah sering dijemputnya, jadi tak masalah kan sekali-sekali begini?"

"Lisanna! Kau tak boleh begitu!" bentak Mira.

Lisanna tersentak, "Kau membentakku, Mira-nee? Kau membela Lucy? Kau lebih memilihnya? Sama seperti Natsu? Begitu?" mata biru Lisanna sudah berkaca-kaca.

Sadar akan nada bicaranya, Mira duduk disebelah Lisanna dan memegang tangannya. "Tidak..bukan begitu..aku hanya mengatakan kalau yang kau lakukan itu salah, Lisanna.." jelas Mira.

Lisanna pun menangis, "Kenapa? Kalau kau menganggapku begitu..siapa yang akan mendukungku lagi? Siapa, Mira-nee?" isaknya

Mira yang tak tega melihat adiknya menangis pun segera memeluknya. "Aku hanya ingin kau bahagia, Lis. Jangan menangis..maaf..." ucapnya.

"Mira-nee, Aku bahagia jika aku bersama Natsu..aku hanya menginginkan dia disisiku, apa itu salah? Apa salah jika aku mencintainya? Salah? Hiks.." ucapnya dalam tangisnya.

Mira hanya mengusap rambut Lisanna dan memeluknya erat, "Lisanna.."

XXX

Lucy dan Michelle telah selesai sarapan. Mereka berdua membereskan peralatan makan mereka dan kemudian bersiap untuk berangkat kesekolah.

"Hari ini, kau akan dijemput oleh Yoshino?" tanya Lucy.

Michelle menggangguk pelan. "Aku sudah cantik belum, hari ini?" tanya Michelle sambil menyisir rambutnya yang panjang dengan jari-jari tangannya.

Lucy mengangguk dan tersenyum. "Kau selalu cantik, Michelle"

Michelle pun tersipu malu, "Arigatou, Nee-chan.."

Lucy dan Michelle sudah keluar dari gang rumahnya dan tiba di halte. "Nee..apa hari ini kau akan berangkat kesekolah sendiri?"

Lucy menggelengkan kepalanya, "Natsu ingin menjemputku"

Michelle tersenyum, "Benarkah? Syukurlah..aku pikir kalian sedang bertengkar"

Lucy hanya membalas dengan senyuman, ia tak ingin mengeluarkan komentar apa-apa.

Dari kejauhan, terlihat motor milik Yoshino, teman mesra Michelle melaju ke halte dimana Michelle dan Lucy berdiri. Yoshino berhenti dan membuka helmnya, "Ohayou, Michelle-san..Lucy-san" sapanya dengan ramah.

Lucy tersenyum. "Ohayou"

"Ohayou.." jawab Michelle.

Michelle menoleh kearah Lucy dan Lucy pun tersenyum, "Kalian duluan saja, mungkin sebentar lagi Natsu akan tiba" ucap Lucy.

"Hnn, wakatta. Sampai jumpa disekolah, Nee-chan" pamit Michelle.

"Lucy-san, kami duluan" pamit Yoshino sambil merundukkan kepalanya dengan ramah. Lucy hanya mengangguk dan melambaikan tangannya.

Dan tinggallah Lucy sendiri di halte tersebut. Lucy duduki disana dan mencoba menelepon Natsu. Karena tidak biasanya Natsu datang setelat ini.

"Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan area, silahkan hub—"

Lucy menutup teleponnya dan menghela nafas, "Kenapa ia juga tidak bisa dihubungi" gumam Lucy.

XXX

"Terimakasih kau sudah datang menjemputku, maaf ya merepotkanmu.." ucap Lisanna sambil tersenyum memandang Natsu yang sedang sibuk mengendarai mobilnya.

"Hnn, tidak apa-apa" jawab Natsu dengan nada datar.

Ya, mereka berdua telah berada diperjalanan ke sekolah. Selama diperjalanan Natsu diam, tak memulai percakapan apapun pada Lisanna.

Lisanna pun berdeham, "Apa Lucy tahu kalau kau menjemputku?"

"Tidak, tapi ia akan mengerti" jawab Natsu, singkat.

"Wah..pengertian sekali ya. Dia gadis yang sempurna buatmu, Natsu" ucap Lisanna sambil memalingkan wajahnya, melihat pemandangan luar jendela mobil. Ekspresi wajahnya terlihat sangat jengkel.

Natsu tersenyum. "Dia sempurna bukan? Aku bahagia sekali dapat bersama dengannya.." jawab Natsu dengan bersemangat.

"Hmm sou.."

Natsu melirik kearah Lisanna, "Oh ya, aku belum tahu alasanmu kenapa pindah kekota ini" ucap Natsu.

Lisanna menoleh dan tersenyum, "Aku pindah kekota ini untuk.."

Natsu menunggu kelanjutan ucapan dari Lisanna. Lisanna memalingkan wajahnya menghadap kejendela mobil dan tersenyum—tersenyum licik. "Untuk merebut milikku.." gumamnya.

"He? Apa yang akan kau rebut? Jangan-jangan sebuah rumah ya? Hmm.." tebak Natsu.

Lisanna menoleh dan mengerlingkan matanya. "Ra-ha-si-a!" jawabnya.

Natsu meliriknya dan tertawa, "Pada sahabatmu sendiri kau bisa main rahasia-rahasiaan ya..huh"

"Biar saja, wlee" Lisanna meledek Natsu dengan menjulurkan lidahnya. Dan kemudian mereka pun tertawa bersama.

XXX

"Dimana ya dia..kenapa belum datang juga.." gumam Lucy.

Lucy menunduk dan menggerakkan kakinya bergantian dengan gelisah, ia tidak mengerti kenapa Natsu bisa belum datang. Karena tidak biasanya ia belum datang pada jam segini.

"Lucy!"

Lucy mendongak dan mendapati sosok Sting yang duduk manis dimotornya. Gadis itu menatap heran kedatangan Sting. "Kenapa kau ada disini?" tanya Lucy yang sudah bangkit berdiri dan menghampiri Sting.

"Ayo naik" ajak Sting

"Eh?" Lucy bingung.

"Cepat, kita sudah telat ini" ujar Sting sambil memakai helmnya.

"Matte..aku akan dijemput oleh Natsu, jadi aku tidak bisa berangkat bersamamu, Sting" jelas Lucy.

Sting menghela nafas dan membuka helmnya kembali. "Dengar, Natsu-san tidak akan datang. Mau sampai kapan kau menunggunya disini? Sudah ayo naik!"

"Kenapa dia tak datang?" tanya Lucy.

"Ia lebih memilih menjemput Lisanna-san, daripada dirimu. Kekasih macam apa dia itu huh" jelas Sting sambil menggerutu.

"Menjemput Lisanna?" gumam Lucy.

Sadar kalau Lucy tak naik kemotornya, Sting meraih tangan Lucy. "Hey! Ayo naik!"

Lucy tersentak dan mengangguk. Ia segera naik ke motor Sting dan memakai helm yang sudah disediakan oleh Sting. Saat semua sudah siap, "Kau tak berpegangan? Kau bisa jatuh loh"

"Tidak mau!" tolak Lucy.

"Aku akan mengebut loh" ucap Sting.

Lucy menggigit bibir bawahnya, berpikir cemas. Kalau ia tidak berpegangan, ia bisa terpental dari motor yang dinaikinya itu. "Baiklah!" jawab Lucy segera memeluk pinggang Sting.

Dibalik helmnya, terlihat kalau Sting tersenyum. Di waktu yang singkat ini, pemuda itu merasa sangat senang bahkan dalam level 'Sangat senang sekali'.

"Okey! Kita berangkaaatttt!" ujar Sting. Setelah itu mereka pun melaju kedalam arus lalu lintas kota untuk menuju kesekolah mereka.

XXX

Lisanna turun dari mobil Natsu, disusul oleh Natsu. Dari lantai dua gedung sekolah, Erza dan Levy bisa melihat dari jendela kelasnya.

"Hey! Apa-apaan Natsu itu. Kenapa ia malah berangkat bersama dengan Lisanna?" protes Levy.

Erza mengangkat bahunya, "Entahlah. Levy? Apa kau merasa kalau Lisanna itu terlihat sangat ambisius?"

Levy menoleh dan memandang Erza yang tengah memandangi kebersamaan Natsu dan Lisanna. "Entahlah..kenapa kau bisa berbicara seperti itu, Er?"

Erza menoleh, "Karena memang ada niat jahat dibalik senyum manis Lisanna" jawab Erza.

"Benarkah?" tanya Levy dan Erza pun mengangguk. "Kau harus menceritakan ini padaku, Er!" desak Levy.

Erza terkekeh, "Baiklah, sepulang sekolah ya"

Levy mengangguk dan tersenyum ceria, "Oke!"

XXX

Natsu masuk kedalam ruang kelas bersama dengan Lisanna. Gray dan Juvia menoleh bersamaan saat itu. Kenapa Gray dan Juvia bisa bersama? Seperti biasanya, kegiatan sehari-hari Juvia yang tak boleh terlewatkan, 'Mengganggu-Gray-sama~'. Saat melihat itu, keduanya pun berbisik, "Kenapa Natsu-san bisa bersama dengan Lisanna-san?"

"Entahlah, nanti akan aku tanyakan pada si Flame-head" jawab Gray dengan bisik-bisik.

Sadar dengan posisinya, wajah Juvia pun memerah. "Ah~~~Gray-sama berbisik pada Juvia~~"

Gray pun menjauhkan dirinya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Sesaat setelah itu, bel masuk pun berbunyi dan para siswa pun duduk tenang ditempatnya.

Natsu melirik kebelakang, dimana itu adalah tempat duduk Lucy. Kosong.

Natsu mendecih, 'Gara-gara aku, Lucy jadi telat' pikir Natsu.

Pintu kelas pun terbuka, menampakkan sosok Lucy yang terengah-engah. Dibelakangnya ada Sting yang juga tak kalah terengah-engahnya.

"Sudah sana" terdengar suara Lucy yang seperti marah-marah.

"Iya-iya, aku akan kekelasku. Jaa nee, Lucy-chan~" setelah mengatakan itu, Sting pun berlari kekelasnya dan Lucy pun menutup pintu kelas dan berjalan ketempat duduknya.

"Ohayou, Luce.." sapa Natsu dengan antusias.

Lucy melirik Natsu, tak ada senyuman, tak ada keramahan dipagi hari. "Ohayou". Ya, itu jawaban yang dingin.

"Luce kau marah padaku ya?" tanya Natsu

Lucy mengeluarkan beberapa buku dari tasnya dan memandang Natsu. "Tidak"

"Lalu kenapa kau begitu dingin padaku?"

"Memangnya aku begitu? Gomen" jawab Lucy.

"Aku ingin menjela—"

"Sudah, aku sudah tahu dari Sting. Jadi jangan menjelaskan apa-apa lagi. Aku mengerti, Ok?" potong Lucy.

Natsu mengangguk dan meraih tangan Lucy. "Arigatou, Luce.."

Lucy akhirnya tersenyum dan mengangguk. "Hnn"

Dari tempat duduknya, terlihat Lisanna yang sedang memandang tidak suka pada kedua insan itu. Lisanna menggigit bibir bawahnya, 'Lihat saja, momen itu tak akan berlangsung lama..' batin Lisanna

XXX

Rogue duduk di atap sekolah sambil menyesap rokok yang ada dimulutnya. Ia memandang langit yang begitu biru yang dihadapkan padanya.

"Jadi namanya Levy ya...Levy Mcgarden.." gumam Rogue.

Rogue memejamkan matanya dan mengingat kejadian setelah ditarik pergi oleh kakak tirinya, Gajeel.

Flashback on

"Kenapa kau ganggu dia?!" bentak Gajeel.

Rogue tersenyum mengejek, "Aku tak sengaja menabraknya. Ah mungkin takdir mempertemukanku dengan dia"

Gajeel mendecih, "Takdir kepalamu!"

"Biasanya di film-film atau anime-anime jika bertabrakan seperti itu, biasanya gadis itu akan jatuh cinta loh" sahut Rogue.

"Mana mungkin dia akan jatuh cinta pada pemuda arogan sepertimu!" jawab Gajeel.

Rogue membelakangi Gajeel, "Jadi apa maumu? Menarikku keatap? Mau menghajarku, seperti dulu saat kita kecil?"

Tangan Gajeel mengepal, ia berusaha untuk menahan emosinya yang mengatakan kalau ia harus menghajar anak alay didepannya ini. "Mauku? Aku tak ingin kau menyentuh gadis itu, walaupun sehelai rambutnya!" sahut Gajeel.

Rogue menoleh, "Eh? Kenapa memangnya? Kelihatannya dia sangat berharga buatmu, Aniki?"

Gajeel mengigit bibir bawahnya, "Jangan memanggilku dengan sebutan itu. Kau bukan adikku, sampai kapanpun!"

Tawa Rogue pun meledak dan membuat Gajeel jengkel. "Bagaimana ya...hmm kalau aku bilang aku ingin menyentuhnya, bagaimana menurutmu?"

Gajeel menatap marah adik tirinya itu, "Aku akan membunuhmu" geramnya.

Rogue kembali tertawa, "Benarkah? Aku sangat menantikannya, Aniki"

Gajeel melangkah mendekati Rogue dan..

Buaaakkk!

Rogue tersungkur jatuh. Gajeel memukul wajahnya dengan keras. "Kalau kau sampai menyentuhnya, kau akan mendapatkan lebih dari ini, Rogue Cheney!"

Setelah memukul Rogue, Gajeel pun keluar dari atap meninggalkan Rogue yag masih duduk disana.

Flashback off

Rogue membuka matanya dan melemparkan rokoknya kesembarang arah. "Haha ini akan semakin menarik, ya kan Aniki?"

XXX

Hari-hari pun dengan cepat berlalu, sebentar lagi musim semi akan segera berakhi digantikan dengan musim panas. Dan Liburan musim panas pun tiba. Dan tak henti-hentinya usaha Lisanna untuk memisahkan Natsu dan Lucy. Semakin hari, semakin bertambah saja kelakuan Lisanna. Begitu pula dengan hari ini, Tiba-tiba saja ia telah mengenggam erat tangan Natsu, dan menyeret Natsu keluar dari kelas. Natsu mencoba melepas genggamannya itu, tapi terlalu erat. Memang benar, jika seorang gadis sedang tergila-gila, kekuatannya bisa melebihi kekuatan pria loh!

"Hey, Lisanna, dengarkan aku—"

"Tidak, aku ingin kekantin bersamamu" tukas Lisanna dengan segera. Ia tahu kalau Natsu akan protes karena sikapnya.

"Kau kan bisa kekantin bersama dengan yang lainnya, aku sudah dibuatkan bekal oleh Lucy" ucap Natsu.

Lisanna menggeleng, "Kau kan tahu kalau aku tidak mempunyai teman selain kau disekolah ini, Natsu" ucap Lisanna

"Kau saja yang tak mau bergaul dengan yang lainnya" sahut Natsu.

Lisanna tak membalasnya. Ia terus menarik Natsu hingga mencapai kantin. Ia tak peduli jika ia menjadi tontonan seluruh siswa. Rogue yang melihat hal itu, menatapnya dengan pandangan menjijikkan. "Apa itu, drama?" gumamnya.

Sting melihat Natsu dan Lisanna berjalan bersama dan bergandengan tangan. Sting memutar bola matanya dan berjalan menghampiri mereka. Saat semakin dekat, Sting pun berlari menabrak mereka dan akhirnya genggaman tangan Lisanna pun terlepas.

"Ah.." Lisanna bersumpah ia bisa melihat seringaian Sting. Karena kesal, Lisanna mengepalkan kedua tangannya, ia tahu Sting benar-benar sengaja menabraknya.

"Ah, Natsu-san? Lisanna-san? Gomenne sudah menabrak kalian, lagipula kenapa kalian berjalan kekantin sambil bergandengan tangan, kalian kan bukan anak kecil lagi ha-ha" sindir Sting sambil menatap Lisanna dengan pandangan sinis.

"Biarkan saja, bukan urusan—" Lisanna sudah dirangkul oleh Sting dan tidak menyelesaikan kalimatnya.

"Lisanna-san, ayo kita kekantin bersama" ajak Sting.

"Aku tidak—" belum selesai Lisanna berbicara, Natsu pun segera memotongnya. "Baiklah, Lisanna. Kau sekarang sudah ada temannya untuk kekantin kan? Aku akan kembali kekelas. Jaa" Natsu pun berlari meninggalkan Lisanna dan Sting.

Lisanna menyentakkan tangan Sting yang merangkulnya. Sting tertawa sinis. "Selama ada aku, kau tidak bisa mengganggu hubungan mereka, Lisanna-san. Jika kau berniat seperti itu, kau akan merasakan akibatnya dariku. Ingat itu" ancam Sting dengan sebuah bisikan.

Sting pun berjalan pergi meninggalkan Lisanna. Gray dan Gajeel melihat itu.

"Natsu itu terlalu bodoh untuk diperebutkan seperti itu, ya kan Gray?" tanya Gajeel.

"Seharusnya, Lisanna yang menyerah, padahal ia tahu kalau Natsu mencintai Lucy sejak dulu" sahut Gray.

"Ya, tapi lihat gadis itu terlihat sangat geram" Gajeel menunjuk kearah Lisanna yang mengepalkan tangannya.

'Dia agak gila ya' batin Gray.

XXX

"Benarkah kau lakukan itu, Sting? Waaahhh untung saja kau melihatnya. Kalau aku yang melihatnya, aku akan langsung menarik rambutnya itu! Uh" seru Levy

Gajeel yang duduk disebelahnya pun menatapnya sebal, "Kau ini! kau sangat menikmatinya ya?"

Levy hanya cengar-cengir, tak menjawab pertanyaan Gajeel dengan kata-kata.

"Ah, Lisanna-san sepertinya begitu mencintai Natsu-san ya" ucpa Juvia.

"Begitulah.." jawab Sting.

"Lalu, Sting, bagaimana ekspresi Lisanna saat kau melakukan itu?" tanya Levy dengan bersemangat.

"Dia terlihat sangat jengkel padaku, haha" jawab Sting disertai tawanya yang renyah.

"Aku dan Gajeel juga melihat gadis itu sangat geram ketika Sting berjalan meninggalkannya dan alasan yang paling utama pasti karena Sting menabraknya hingga genggaman tangannya dengan Natsu terlepas, ya kan, Gajeel?" timpal Gray. Gajeel mengangguk.

"Ah Lisanna-san, jahat sekali" ucap Juvia sambil tertunduk.

"Mungkin sebenarnya ia tidak jahat, hanya saja, perasaan sukanya pada Natsu yang memaksanya melakukan itu semua" terang Erza.

"Ya bisa jadi.." Tambah Jellal tiba-tiba.

Erza menoleh dan tersentak kaget. Wajahnya pun memerah. "Je—Jellal?!"

"Yoo, minna.." Sapanya.

"Boleh aku bergabung?" Tanya Jellal sambil tersenyum ramah.

"Ah, tidak biasanya orang sesibuk kau ingin bergabung dengan kami" sambar Gajeel. Yang lainnya mengangguk dan melirik kearah Erza.

"Aku tak sesibuk itu, sebenarnya aku ingin berbicara pada Erza, tapi sudahlah" jelasnya.

Yang lain pun segera melirik dan mengerlingkan mata mereka pada Erza. Rona merah tipis menghiasi pipi Erza.

"Hmm Jellal, kau duduk disamping Erza saja, tuh masih kosong" tawar Levy sambil menunjuk kursi kosong disamping Erza. Levy pun dipukul oleh Erza. "Aw! Itu sakit loh, Erza" keluh Levy.

"Erza, Jangan menganiayanya, dia sudah terlalu kecil untuk menjadi mangsamu!" Ujar Gajeel.

"Gajeeellll!" Ujar Levy dengan gregetan(?).

"Gee-hee"

"Tidak, aku disamping Sting saja. Jadi kalian sedang membicarakan apa? Kalau boleh aku tahu.." Ucap Jellal.

"Natsu, Lucy, Sting, dan Lisanna" jawab Gray.

"Heey! Kenapa namaku juga dibawa-bawa!" Tukas Sting. Yang lainnya pun tertawa.

"Semua orang tahu kalau kau menyukai Lucy, bocah pirang" tambah Gajeel.

"Be—benarkah? Waw..berarti aku memang terkenal ya haha" Sahut Sting sambil senyum-senyum sendiri.

"Memangnya ada apa dengan mereka? Bukannya Natsu dan Lucy sudah berpacaran? Lalu apa hubungannya dengan Sting dan Lisanna?" Tanya Jellal.

"Duh, Jellal. Lisanna menyukai Natsu, dan seperti kata Gajeel tadi, Sting itu menyukai Lucy. Itu rumit bukan?" Sahut Levy. Erza hanya dia tertunduk, mengetahui ada Jellal yang duduk didekat Sting.

"Hmm cinta segiempat ya? Tidak terlalu rumit. Kenapa Sting tidak mencoba menyukai Lisanna saja? Mungkin itu akan menjadi lebih mudah?" Jelas Jellal.

"Hey! Bagaimana bisa!" Sahut Sting

"Ah, pintar-pintar tetapi bodoh juga kalo soal ginian" timpal Gray.

Setelah mengatakan hal itu, sukses membuat Gray mendapatkan death glarenya Erza. Gray hanya tertawa kaku. "Bercanda..bercanda.." Ucapnya.

"Entahlah, Juvia merasa ini tidak baik untuk hubungan Natsu-san dan Lucy-san" ucap Juvia dengan prihatin.

"Aku juga berpendapat begitu" tambah Gray. "Aaaahhhh Gray-samaa sependapat dengan Juvia~ kita memang satu pikiran..Gray-samaaaa~~" ujar Juvia sambil meraih-raih tubuh Gray tetapi Gray berusaha menjauh.

"Aku ingin tahu, kapan gadis itu akan berhenti.." Gumam Sting. Yang lainnya hanya mengangguk.

XXX

Lucy menghela nafasnya sambil menutup pintu rumahnya. Ia memutuskan untuk pergi ke mini market untuk membeli beberapa sayuran untuk makan malam. Ia lupa untuk berbelanja sayuran kemarin padahal stock sayurannya sudah menipis. Ia berjalan pelan untuk keluar dari gang rumahnya.

"Ah, aku senang kau akhirnya keluar" terdengar suara seorang pemuda yang begitu familiar ditelinga Lucy. Lucy menoleh dan melihat Sting sedang berdiri bersandar disana, didepannya. Lucy hanya memperhatikan pemuda yang ada didepannya itu tanpa berkata apa-apa.

"Aku sedikit bosan." Ucap Sting.

"Kau mau keluar berjalan bersamaku?" Sting mengayunkan tangannya, menyuruh Lucy untuk menghampirinya. "Apa kau ingin mencuri sesuatu dariku?" tanya Lucy datar.

"Mencuri?" tanya Sting bingung, pemuda itu tetap tersenyum.

"Kenapa kau tersenyum seperti itu?" tanya Lucy. "Aku tidak memiliki sesuatu yang bisa dicuri, jadi jangan tersenyum." Lanjutnya.

Sting bingung. "Apakah jika orang ingin mencuri, ia akan tersenyum?" tanyanya. "Aku tidak pernah mendengar sesuatu yang melantur seperti itu dalam hidupku. Kau akan tersenyum jika ada sesuatu yang lucu atau menyenangkan atau menggembirakan atau bagus. Ada banyak alasan untuk tersenyum." Terangnya.

"Lalu untuk apa kau tersenyum saat ini?" tanya Lucy sambil memiringkan kepalanya dan meletakkan kedua tangannya yang tergenggam dibelakang. "Apakah ada yang lucu atau menyenangkan atau menggembirakan?"

"Apakah saat ini... aku tersenyum?" tanya Sting.

Lucy memutar kedua bola matanya dan berjalan pergi. Belum jauh ia berjalan, Lucy menoleh kembali ke arah Sting.

"Lalu mau apa kau didepan rumahku? Menjadi stalker?" tanya Lucy

Sting menoleh dan berjalan mendekati Lucy, setelah mereka berdiri sejajar, mereka pun berjalan beriringan.

"Yang seperti aku bilang tadi, aku sedikit bosan" jawab Sting.

.

.

.

.

.

To be continued


Okeee gimana chapter 16-nyaa?! merasa ganjil? aneh? bagus? menarik? Aahh~~ review aja deeeh.

EH! tapi tunggu dulu! masih ada chapter lanjutannya loh! ayo lanjut ke next chapter! Dan Ah! Buat review chapter 15, author bales di next chapter yaw XD

Yosshh XD mari kita cuss ke chapter berikutnya!