Sting menutup pintu mobilnya dan mengunci pintunya dengan remot yang ia pegang. Setelah itu, Sting berjalan mendekati sebuah gang. Ia bersandar didinding, dengan kedua tangannnya dimasukkan kedalam saku celananya dan pandangan matanya sedang memandangi rumah yang begitu sederhana didalam gang itu.

Cklek.

Sting mendengar pintu tertutup, ia melirik dan tersenyum. Ia melihat gadis berambut pirang keemasan itu sedang berjalan keluar dari rumahnya.

"Ah, aku senang kau akhirnya keluar" ucap Sting.

Gadis yang disapanya itu menoleh dan tak menjawabnya.

"Aku sedikit bosan." Lanjut Sting. "Kau mau keluar berjalan bersamaku?" Sting mengayunkan tangannya, menyuruh Lucy untuk menghampirinya.

"Apa kau ingin mencuri sesuatu dariku?" tanya Lucy datar.

"Mencuri?" tanya Sting bingung, pemuda itu tetap tersenyum.

"Kenapa kau tersenyum seperti itu?" tanya Lucy. "Aku tidak memiliki sesuatu yang bisa dicuri, jadi jangan tersenyum seperti itu" Lanjutnya.
Sting bingung. "Apakah jika orang ingin mencuri, ia akan tersenyum?" tanyanya. "Aku tidak pernah mendengar sesuatu yang melantur seperti itu dalam hidupku. Kau akan tersenyum jika ada sesuatu yang lucu atau menyenangkan atau menggembirakan atau bagus. Ada banyak alasan untuk tersenyum." Terangnya.

"Lalu untuk apa kau tersenyum saat ini?" tanya Lucy sambil memiringkan kepalanya dan meletakkan kedua tangannya yang tergenggam dibelakang. "Apakah ada yang lucu atau menyenangkan atau menggembirakan?"

"Apakah saat ini... aku tersenyum?" tanya Sting.

Lucy memutar kedua bola matanya dan berjalan pergi. Belum jauh ia berjalan, Lucy menoleh kembali ke arah Sting.

"Lalu mau apa kau didepan rumahku? Menjadi stalker?" tanya Lucy

Sting menoleh dan berjalan mendekati Lucy, setelah mereka berdiri sejajar, mereka pun berjalan beriringan. "Yang seperti aku bilang tadi, aku sedikit bosan"

Fairy Tail © Hiro Mashima

A Fairy Tail Fanfiction

Between Us

By Yusa-kun

Warning : AU, Typo(s), OOC.

.

.

.

.

.

"Jadi kau ingin ke mini market? Aku ikut ya" oceh Sting selama diperjalanan. Ocehannya membuat Lucy beberapa kali menghembuskan nafasnya. Ia lelah mendengarnya.

"Terserah saja" jawab Lucy dengan singkat.

"Kau tahu, aku sangat bosan. Aku bosan sekali, Lucy..hmm" lagi-lagi Sting mengeluh dengan melontarkan ocehannya itu—ocehan yang membuat Lucy jengkel.

"Iya-iya, kau kan tadi sudah bilang seperti itu—berkali-kali" jawab Lucy dengan jengkel.

Sting menoleh dan memamerkan cengirannya. "Jadi kau mau beli apa ke mini market?"

Lucy menoleh, "Sayuran" jawabnya.

"Ah, untuk makan malam ya? Hmm bagus..bagus.." sahut Sting sambil menganggukkan kepalanya dengan pelan.

Lucy pun membuka pintu mini market dan Sting pun yang dibelakang Lucy pun mengekor.

"Selamat datang.."

Lucy mengambil sebuah keranjang dan berjalan mendahului Sting menuju bagian sayur-sayuran. Sedangkan Sting berhenti didepan kulkas yang menyajikan minuman-minuman. Pemuda itu melihat-lihat minuman yang disusun rapi didalam kulkas. Ia tersenyum dan mengambil sebuah minuman kotak dengan gambar strawberry disana. Setelah itu, ia mengambil satu minuman kopi kaleng dan segera berjalan menuju kasir.

Lucy membayar sayuran yang ia beli dikasir. Ia mencari-cari keberadaan Sting, tapi ia tidak menemukannya. Ia pun mengangkat bahunya dan berjalan keluar dari mini market. Saat ia menoleh, ia mendapati Sting sedang duduk didepan mini market sambil meminum minuman yang ia pegang. Lucy menghampirinya. "Hey" sapanya.

Sting menoleh dan menyodorkan sebuah minuman kotak. Lucy memandang heran minuman kotak yang disodorkan oleh Sting.

Sting mengoyangkan minuman yang disodorkannya kepada Lucy. "Ini, kau tidak mau?"

Lucy menerimanya dan membukanya. Ia duduk disamping Sting. Keduanya terdiam, menatap bintang-bintang yang hadir dimalam itu.

"Bagaimana kau bisa tahu aku mau minum minuman ini?" tanya Lucy.

"Hanya menebak" jawabnya.

Lucy menoleh dan mengangkat sebelah alisnya, lebih tepatnya menatap Sting dengan tatapan sebal. Sting pun tertawa, "Hmm benar, aku hanya menebak saja. Habisnya aroma rambutmu, seperti strawberry. Aku hanya menduga-duga mungkin selain vanilla kau juga menyukai strawberry" jawab Sting sambil meminum minumannya.

"Eh? Dasar mesum!"

"Ap—kenapa kau mengejekku, Lucy?!" ujar Sting.

"Kau mesum, Sting. Kau bisa tahu dengan spesifik dan menjelaskan hal itu dengan jelas—oh astaga kau benar-benar.." sahut Lucy sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Enak saja! Tanpa dekat-dekat denganmu saja, aroma rambutmu itu sudah tercium tahu!" elak Sting. Lucy pun tersenyum tipis. "Mengelak saja bisanya"

"Ugh. Benar, aku tidak mengelak tahu!" ucapnya dengan merengut kesal.

Lucy terkekeh, "Iya..iya.."

Mereka berdua pun terdiam lagi. Sting pun berdeham dan bangkit berdiri. "Ayo kita pulang, kau harus memasak makan malam untuk Michelle, kan?" Tanya Sting.

Lucy mendongakkan wajahnya dan mengangguk, "Hnn"

Sting mengulurkan tangannya, "Ayo, aku antar" tawarnya.

Lucy tersenyum dan menyambut tangan Sting. Lucy bangkit berdiri dan menepuk pelan celananya yang tak terlalu kotor.

"Ayo" ajak Sting. Lucy mengangguk. Sting pun melepaskan genggaman tangannya dan berjalan lebih dahulu. Lucy mengikutinya dari belakang.

XXX

"Natsu"

Natsu menoleh dan tersentak kaget saat melihat sosok yang membuka pintu kamarnya. "Lisanna? Kenapa kau bisa ada disini?"

Lisanna tersenyum manis, "Boleh aku masuk?"

Natsu bangkit dari kursinya, "Bo—boleh, silahkan"

Lisanna masuk dan menutup pintu kamar Natsu kembali. Lisanna tersenyum dan mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan Natsu.

"Kenapa kau kesini?" Tanya Natsu

"Tidak apa-apa, aku hanya ingin main saja" jawab Lisanna.

Natsu mengangkat sebelah alisnya, "Main?"

Lisanna menoleh dan mengangguk, "Seperti saat kita SMP, aku selalu kerumahmu kan? Bermain dikamarmu juga hehe"

Natsu menghela nafas, "Duduklah disana, aku akan buatkan minum untukmu" setelah mengatakan itu, Natsu melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamarnya, bermaksud mengambilkan minum untuk Lisanna, tetapi baru beberapa langkah tiba-tiba Lisanna memeluk Natsu dari belakang. Dan itu membuat Natsu cukup terkejut.

"Lisanna"

Lisanna makin mengeratkan pelukannya. "Kau tahu kalau aku rindu padamu, Natsu. Apa kau tak sadar akan hal itu?"

"Apa-apaan kau ini, Lis…" ujar Natsu. Lisanna memejamkan matanya dan meletakkan kepalanya dibahu Natsu, "Sebentar saja, Natsu..sebentar saja biarkan kita seperti ini.."

Natsu terdiam, ia tak bisa menolak permintaan Lisanna. "Ada apa?"

Setelah puas, Lisanna pun melepaskan pelukannya. "Tidak ada apa-apa, hanya ingin memelukmu saja"

Natsu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Lain kali jangan seperti itu, jika Lucy lihat atau orang tuaku melihat akan terjadi kesalahpahaman. Hmm?"

Lisanna tersenyum dan mengangguk, "Gomen..gomen.."

"Lalu apa yang membuatmu kerumahku?" Tanya Natsu.

Lisanna duduk ditepi tempat tidur Natsu dan tersenyum, "Sudah aku bilang bukan kalau aku rindu padamu?"

"Eh? Aku pikir kau tak serius berbicara seperti itu haha" sahut Natsu diiringi tawa renyahnya. Lisanna yang melihat tawa Natsu pun tersenyum tipis, "Aku menyukaimu, Natsu" ungkapnya.

Natsu yang tertawa pun segera berhenti saat mendengar kata-kata yang diucapkan Lisanna, "Apa? Kau bilang apa tadi, Lis?"

"Aku menyukaimu, sangat menyukaimu!" ulang gadis berambut silver itu. Natsu terkekeh, "Aku juga, aku menyukaimu. Kau begitu baik, lembut, manis..kau memang sahabat terbaik. Kalau aku tak menyukaimu, aku tak mungkin mau berteman apalagi bersahabat denganmu, Lis"

Lisanna melipat kakinya dan meletakkan tangannya yang sedang memangku wajahnya, "Aku menyukaimu bukan sebagai sahabat, Natsu. Aku pikir kau tak terlalu bodoh untuk mengerti kata-kataku itu.."

"Eh?" mata Natsu membulat sempurna saat menyadari arti dari perkataan Lisanna padanya itu. Lisanna tersenyum pada Natsu—Ya senyum penuh arti.

"Haha jangan bercanda, Lis!" ucap Natsu sambil tertawa.

Lisanna terkekeh, "Aku tak bercanda, Natsu!"

Natsu pun memandang Lisanna yang masih tersenyum padanya. Tawanya mulai hilang diganti dengan ekspresi penuh Tanya yang terlihat diwajahnya. "Tapi bagaimana bisa? Sejak kapan?" Tanya Natsu

"Entahlah, perasaan ini mengalir begitu saja. Dan tak ada alasan yang spesifik untuk bisa menjelaskan perasaanku ini padamu, Natsu.." ungkap Lisanna.

"Bahkan perasaanku ini lebih besar daripada perasaan yang dimiliki Lucy padamu, Natsu.." lanjut Lisanna.

"Oy..oy, Lis..jadi selama ini—"

Lisanna pun bangkit berdiri, "Itu saja yang ingin aku bicarakan padamu, aku pamit ya"

Lisanna melangkah mendekati Natsu, "Aku mencintaimu, Natsu..Aku ingin kau bersamaku"

Cup!

Manik hitam Natsu membulat sempurna saat merasakan kecupan bibir yang diberikan oleh Lisanna pada dirinya. Setelah itu, Lisanna melangkah pergi untuk keluar dari kamar Natsu.

"Sampai jumpa besok, Natsu.." Lisanna pun menutup pintu kamar Natsu.

Natsu mengigit bibir bawahnya, "Apa-apaan Lisanna tadi.." gumamnya.

XXX

Musim semi pun akan segera berakhir, sebelum itu akan diadakan acara bazaar besar-besaran di taman kota. Semua orang ingin melihat dan datang berkunjung.

"Nee.. nee.. Lu-chan, apa kau akan ketaman kota hari minggu nanti? Ada akan bazaar yang besar loh disana!" seru Levy.

Levy, Erza dan Lucy sedang berada dikantin. Jam istirahat sudah tiba dan waktunya bagi mereka menyantap makanan di kantin sekolahnya.

"Benarkah? Hmm kita bisa kesana, kalau kau mau" sahut Lucy. Levy merengut kesal, "Kalau hari minggu aku tak bisa, aku harus membantu Ibuku membereskan rumah. Padahal aku sangat ingin kesana!"

"Kalau kau Erza?" Tanya Lucy pada gadis yang sedang sibuk menulis. Entah ia menulis apa pada saat jam istirahat ini dan dikantin seperti ini?—mungkinkah itu sebuah pr?

"Hmm hari minggu ya? Sepertinya aku tak bisa. Aku ada latihan" jawabnya.

"Ah kendo kah?" Tanya Levy. Erza mengangguk. "Kenapa kau tak mengajak Natsu saja? Atau Sting gitu, Lu-chan?" usul Levy.

"Levy, kalau kau mengajak mereka, mereka pasti tak kan menolak" sambar Erza.

"Mereka pasti menolak kalau mereka sudah punya acara sendiri tahu!" timpal Lucy dan merengut kesal.

"Hey hey, Lu-chan itu tuh bisa jadi tempat kencanmu yang pertama dengan Natsu. Sudah ajak Natsu! Ayooo!" seru Levy.

Lucy ber-sweatdrop. "Kenapa kau bersemangat sekali sih"

Levy hanya tertawa dan diikuti Erza beserta Lucy. Dari kejauhan, Lisanna mendengar pembicaraan Lucy bersama dengan kawan-kawannya dan tersenyum licik.

XXX

Natsu, Gray, Gajeel sedang berada diatap. Gajeel sedang berbaring dengan pose putri duyung, lalu Gray sedang bermain kartu dengan Natsu.

"Tumben sekali si muka besi tak ikut bermain" ucap Natsu sambil melirik ke Gajeel yang sedang asyik melamun.

"Sepertinya ia sedang ada yang dipikirkan" timpal Gray.

"Haaaa?! Mikir? Mikirin apa dia? Emang manusia kaya dia punya otak?!" seru Natsu. Mendengar seruan Natsu, Gajeel pun bangkit duduk dan menatap marah Natsu, "Apa yang kau bilang, Salamanderr?! Coba kau ulangi?!"

"Memangnya kau punya otak? Sampai-sampai kau berpikir seperti itu" sahut Natsu.

Buaakk!

Alhasil, karena ledekannya, Natsu berhasil mendapat bogeman keras dari Gajeel. Gray hanya bisa tertawa terbahak-bahak. "Ancur deh tuh muka! Haha" ucapnya diselingi dengan tawanya.

"Diam kau, Ice-head!" ucap Natsu sambil mengelus-ngelus pipinya yang ngilu.

Gajeel menyandarkan bahunya ke dinding dan menatap ke langit. "Aku ingin keluar dari rumah, bagaimana menurut kalian?"

Gray dan Natsu saling bertatapan dan menatap Gajeel, "Memangnya ada apa? Kau ada masalah dengan keluargamu, Muka besi?" Tanya Natsu

"Hmm semacam itulah" jawab Gajeel.

"Jawaban macam apa itu. Kalau mau curhat, ya curhat aja" timpal Gray.

"Tidak. Aku tak ingin menceritakan apa-apa. Aku hanya bertanya saja pendapat kalian kalau aku keluar dari rumah bagaimana? Apakah kalian akan bersedia menampungku atau tidak hahaha" jawab Gajeel sambil tertawa.

"Tidak!" jawab Gray dan Natsu bersamaan.

Gajeel pun mendecih dan menatap sinis kedua temannya itu, "Teman macam apa kalian itu!"

"Lagipula, kami tak tahu apa-apa. Kau tak mau menceritakan detailnya pada kami, tapi kami harus menampungmu, begitu? Sorry saja, mungkin Natsu mau tuh" oceh Gray sambil menunjuk Natsu dengan jempolnya.

"Ap—apa! Aku juga tak mau jadi tempat pelarian seorang Gajeel. Lagipula benar kata si Ice-head ini. Seharusnya kau menjelaskan dulu masalahnya baru minta tolong kami" jelas Natsu.

Gajeel mendecih, "Rogue Cheney. Siswa baru yang pindah dari Crocus kesini. Dia junior kita, dia adalah manusia yang boleh disebut sebagai Adikku" ungkapnya.

Gray dan Natsu tanpa sadar sudah membuka lebar-lebar mulut mereka, "HAAA?!"

"—Adik satu Ibu" lanjut Gajeel.

"Eh?"

"Apa maksudmu?" Tanya Natsu.

Gajeel pun akhirnya menceritakan detail tentang hubungannya dengan Rogue dan juga masalah ketidaknyamanannya berada dirumah.

"Hmm menurutku kau lebih baik jangan keluar dari rumahmu. Bocah itu akan senang. Bayangkan, dia akan menguasai rumahmu, bahkan Ayahmu! Itu sangat buruk. Seperti di film-film!" ujar Natsu sambil menampakkan ekspresi horrornya dan bergidik ngeri.

Gray menjitak kepala Natsu, "Baka! Kalau ngasih saran yang serius dong! Ini masalahnya rumit"

Natsu membalas jitakan Gray, "Aku sudah serius. Coba lihat, mana saranmu? Tidak ada kan?"

Gajeel pun bangkit berdiri, "Sudahlah, percuma aku cerita pada kalian, kalian tak bisa diandalkan. Aku kembali kekelas dulu"

"Tunggu!"

Gajeel menoleh kebelakang, "Benar kata Natsu. Jangan pergi dari rumahmu, Gajeel. Dan satu lagi..tentang Levy.."

Gajeel menghela nafas, "Aku akan membiarkan anak itu menyentuh ayahku, barang-barangku dirumah, atau apapun. Tapi jangan gadis itu..Levy—udang"

Gray dan Natsu tiba-tiba tertawa, "Hahahaha, jangan memasang wajah seperti itu, baka! Tidak cocok dengan wajah sangarmu itu hahaha" ledek Gray.

"Benar..benar…hahaha" timpal Natsu.

Gajeel memandang sinis teman-temannya. "Terus saja kau ledek aku! Teruss!"

Natsu dan Gray pun berhenti tertawa, "Tenang saja muka besi, kalau kau butuh bantuan, kami akan membantumu, ya kan Ice-princess?" ucap Natsu. Gray mengangguk. "Makasetogee!"

Gajeel pun tersenyum, "Duo baka"

Natsu dan Gray bangkit berdiri setelah membereskan kartu-kartu yang berserakan, "Ayo kita kembali kekelas"

Mereka pun bertiga berjalan meninggalkan atap untuk kembali kekelas mereka.

XXX

Waktu pun berlalu, bel pulang pun berbunyi. Semua siswa pun segera membereskan buku-bukunya beserta alat tulisnya dan keluar dari kelas mereka masing-masing. Begitu juga dengan Natsu dan Lucy.

"Luce, apa kau hari ini akan belajar dengan Sting?" Tanya Natsu.

Lucy mengangguk. "Kau mau ikut?" Tanya Lucy

Natsu menggeleng. "Ya sudah, aku tunggu saja sambil bermain basket. Oke?"

Lucy tersenyum dan mengangguk. Setelah selesai, Lucy membawa tasnya dan bangkit berdiri, "Aku keperpustakaan ya Natsu, sampai bertemu nanti"

Lucy pun keluar dari kelas. Lisanna melihat kepergian Lucy dan bangkit berdiri. Saat ia ingin melangkahkan kakinya ke tempat Natsu, Gray sudah menghampiri Natsu lebih dahulu. Gadis itupun mendecih dan segera keluar dari kelas.

XXX

Lucy membuka buku matematikanya dan membuka buku catatannya. Ia dengan serius melihat soal-soal yang ada dibukunya itu.

'Coba saja, matematika ini tidak ada. Matematika merepotkan' batinnya

"Hai, manis~~"

Lucy tahu siapa yang menyapanya dengan panggilan itu, dengan suara yang begitu familiar, siapa lagi kalau bukan Sting Eucliffe! "Hmm.." sahut Lucy dengan enggan.

"Belajar apa kita hari ini?" Tanya Sting sambil mengeluarkan buku catatannya.

"Matematika, bagaimana?" Lucy menatap Sting yang cengar-cengir tidak jelas didepannya itu.

"Okey!"

Mereka pun mulai belajar, dari bertukar catatan, saling mengajari dan mengerjakan soal. Mereka menghabiskan waktu selama satu jam untuk acara belajar bersama mereka.

"Ah..sekarang aku mengerti. Thanks, Sting!" ucap Lucy sambil menutup buku catatannya.

"Tidak masalah hehe"

"Ah ya, benar juga. Bahumu, sudah tak sakit lagi kan?" Tanya Sting sambil menunjuk kearah bahu Lucy. Lucy menggeleng, "Tidak. Bulan depan aku akan kerumah sakit pusat di kota Crocus. Ayahku memaksaku mengikuti perawatan yang rutin"

"Bulan depan ya? Ah, saat liburan musim panas maksudmu?" Tanya Sting. Lucy mengangguk.

Sting memangku wajahnya dan memandang Lucy dengan manja. "Ahhh padahal liburan musim panas tahun ini aku ingin menghabiskannya bersamamu, Lucy~~"

Lucy pun menghela nafasnya, "Dalam mimpimu aja sana"

Sting pun tertawa. "Eh ya, hanya ingin tahu saja. Kapan kau ulang tahun? Hmm tanggal berapa? Biar aku siapkan kado yang spesial untuk gadis manis sepertimu~~"

Lucy membereskan bukunya dan memasukkannya ke tasnya, "Tak usah repot-repot, aku tak menginginkan hadiah apapun darimu"

"Ah, Lucy. Aku serius bertanya padamu, kenapa kau jawabnya seperti itu. Kejamnya" protes Sting.

Lucy membawa tasnya dan bangkit berdiri, "Tebak saja sendiri" lalu Lucy pun melangkah pergi.

"Hey! Bagaimana aku bisa menebak jika kau tak memberikanku clue! Hoyyy!" seru Sting.

"Maaf, tolong jangan berisik. Ini diperpustakaan!" omel penjaga perpustakaan.

Sting menundukkan kepalanya pada sang penjaga, bermaksud untuk meminta maaf. Begitu pula dengan para pengunjung perpus yang lainnya. "Gomen..hehe..Gomen.."

XXX

Saat Lucy berjalan dikoridor sekolah, tanpa ia sadari, ia berpapasan dengan Lisanna. Lucy yang sedang sibuk memasukkan ponselnya kedalam tas pun lewat begitu saja. Lisanna yang menyadarinya, melirik Lucy dengan pandangan tidak senang.

"Cih,"

Lucy yang mendengar seseorang mendecih pun berhenti berjalan dan menoleh, ia melihat Lisanna yang sedang berjalan membelakanginya. "Ah tadi Lisanna, aku tak sadar" gumam Lucy.

Lucy pun segera berlari menuju tempat dimana Natsu menunggunya.

XXX

Natsu berdiri sambil bersandar di pintu mobilnya yang terparkir rapi disana. "Lucy, lama sekali selesai—" saat sedang menggerutu, dari kejauhan ia bisa melihat Lucy yang berlari dengan terengah-engah menghampirinya. Natsu pun tersenyum.

'Lucu sekali melihat dia lari-lari begitu' batin Natsu.

"Lama sekali belajarnya Luceeee" protes Natsu.

"Eh? Lama apanya? Hanya satu jam saja kan, biasanya juga lebih dari ini. Sudah ah jangan protes" sahut Lucy.

Natsu tersenyum dan mengangguk. "Ayo kita pulang!"

"Okee!" jawab Lucy

Natsu membukakan pintu mobil untuk Lucy, setelah Lucy masuk, Natsu kembali menutup pintu mobil dan segera masuk kedalam mobil.

Dari kejauhan, lebih tepatnya dari jendela lantai 2. Lisanna diam-diam melihat Natsu dan Lucy. Ia mengepalkan tangannya karena ia begitu kesal.

"Eh, Lisanna-san? Kau belum pulang?"

Lisanna tersentak dan menoleh, mendapati sosok Sting dibelakangnya. Sosok pemuda itu berdiri dengan kedua tangan dimasukkan kedalam sakunya dan tersenyum, Ya tersenyum mengejek.

"Ah ya, belum" jawab Lisanna.

Sting melirik kearah dimana pandangan Lisanna tertuju sebelumnya. Pemuda itu tersenyum saat sadar apa yang dilihat Lisanna sampai membuatnya kesal.

"Cemburu ya?" ledek Sting.

Lisanna memalingkan wajahnya dengan sebal. "Bukan urusanmu"

Tawa renyah Sting pun membahana dikoridor sekolah yang telah sepi membuat Lisanna bertambah kesal, "Masih memikirkan cara untuk memisahkan mereka?" Tanya Sting disela tawanya.

"Itu juga bukan urusanmu!"

"Hmm kalau begitu bagaimana kalau begini? Aku akan menghentikanmu, apapun caramu memisahkan mereka..aku akan menghentikannya dan tak kan berdiam diri jika itu menyakiti Lucy" ucap Sting sambil tersenyum.

Lisanna tertawa mengejek, "Ah? Benarkah?"

"Jangan salahkan aku jika rencana-rencana matangmu akan gagal dijalankan. Aku sudah mengingatkan loh..Jaa nee, Lisanna-san." Setelah mengatakan itu, Sting pun melangkah pergi dari hadapan Lisanna. Sedangkan Lisanna yang mendengar ucapan—ancaman Sting itu pun semakin kesal.

'Sial!' pikir Lisanna

XXX

Levy sedang duduk dihalte bus, sendirian. Ia bersenandung pelan sambil menunggu kedatangan bus yang mengantarkan dirinya pulang kerumahnya. Ia menghentakkan kakinya dengan pelan, bukan ia gelisah, tetapi ia hanya ingin saja, hentakkannya itu mengikuti senandung yang ia lantunkan.

"Hey"

Levy tersentak saat melihat sosok dengan jaket hitam, helm hitam dan naik motor besar berwarna hitam. Sosok itu terlihat asing bagi Levy. Bagaimana tidak? Semua yang dipakai sosok itu hitam-hitam, seperti penganut aliran sesat saja. Tapi tunggu, Levy menyadari kalau sosok itu memakai celana yang sama dengan seragam sekolahnya.

"Siapa kau?" Tanya Levy sambil bangkit berdiri. Dia harus tetap waspada bukan?

Sosok itu pun segera membuka helmnya, dan mata Levy membulat sempurna melihat siapa sebenarnya sosok itu. "Che—Cheney-san?!"

Sosok yang dipanggil Levy itu pun tersenyum, "Yo!"

Levy berjalan menghampiri, "Kenapa kau disini?"

"Aku ingin pulang kerumah, dan saat jalan aku melihatmu disini sendiri, menunggu bus datang ya?" jawab Rogue.

Levy mengangguk.

"Bagaimana kalau aku memberimu tumpangan sampai kerumahmu?" tawar Rogue dengan ramah.

"Ah? Ti—tidak terimakasih, Cheney-san" tolak Levy sambil tersenyum canggung. Didalam pikirannya, ia mengingat kata-kata Gajeel yang menyuruhnya untuk tak dekat-dekat dengan Rogue. Tapi didalam hatinya, Levy masih heran. Kenapa Gajeel memperingatkannya seperti itu? Tanpa sadar, Levy telah melamun dan mengangkat bahunya sendiri.

"Levy-san? Halloo"

Levy tersentak kaget dan akhirnya sadar dari lamunannya. "Eh ya haha maaf maaf"

"Bagaimana? Ayo aku antar"

"Tidak usah, Chen—"

"Rogue. Panggil aku Rogue saja, Levy-san" potong Rogue.

"Ba—baiklah, Rogue. Hmm tidak usah repot-repot, mungkin seben—" belum menyelesaikan kalimatnya, Rogue sudah meraih tangan Levy. "Tidak repot, sudah ayo!"

Tanpa gadis mungil itu sadari, semburat merah tipis terlihat dikedua pipinya. "Ba—baiklah!"

Levy pun naik keatas motor Rogue, Rogue pun memakai kembali helmnya. "Sudah siap?"

"Hnn"

Menyadari kalau Levy tak berpegangan, Rogue pun menoleh, "Levy-san, jika kau tidak pegangan, kau akan jatuh" ucap Rogue.

"Eh? Ba—baiklah" Levy memegang ujung jaket yang dipakai Rogue dengan erat. Tetapi, tiba-tiba Rogue menarik tangan Levy, "Kalau kau pegangan begitu, tidak akan berpengaruh, tahu"

"Eh?"

Rogue menarik satu tangan Levy lagi, "Peluk saja. aku akan ngebut loh!"

"Eh? Ehhhhhh?!"

Rogue pun segera menarik gasnya dan melajukan motornya dengan kecepatan yang dibilang sangat-sangat cepat. Levy mengeratkan pegangannya, dan batinnya hanya berdoa agar ia bisa selamat sampai dirumahnya.

XXX

Gajeel sedang berjalan di pinggir kota. Ia menyusuri pertokoan yang ramai dan akhirnya sampai dipersimpangan jalan. Ia menunggu lampu penyebrangan menjadi hijau, ia memasukkan satu tangannya ke saku celananya.

Pandangan bola mata merah itu lurus kedepan mengamati jalan didepannya. Banyak kendaraan yang lalu lalang didepannya. Seperti waktu melambat, Gajeel membulatkan matanya saat melihat sesuatu yang membuatnya terkejut.

'Udang? Dan..Rogue' pikir Gajeel.

Gajeel melihat dengan sangat jelas, motor hitam yang begitu ia kenali, milik Rogue itu melintas didepan matanya dengan membawa seseorang yang ia kenal—begitu kenal. Levy.

Gajeel tanpa sadar mengepalkan tangannya dan mendecih, kepalanya sudah tertunduk, "Sudah aku bilang bukan..jauhi gadis itu.." gumamnya.

Gajeel mengangkat wajahnya dan terlihat kemarahan dimatanya, "Rogueeee" geramnya.

XXX

"Levy-san? Kita sudah sampai" ucap Rogue.

Levy membuka matanya dan melihat jelas rumahnya. Ia menghembuskan nafasnya, lega. Do'anya terkabul, ia bisa selamat sampai dirumahnya. Levy segera melepas pelukannya pada Rogue dan turun dari motor Rogue.

"Arigatou, Rogue. Maaf merepotkanmu" ucap Levy sambil tersenyum.

Rogue melepaskan helmnya, "Tidak repot kok. Aku senang bisa mengantarkanmu, Levy-san"

"Eh?"

Rogue meraih tangan Levy, Levy pun tersentak dan melihat genggaman tangannya dan melihat kearah wajah Rogue yang tersenyum padanya. "Besok, bisakah aku menjemputmu, Levy-san? Agar kita bisa berangkat bersama kesekolah"

'Eh? Ehhhhhh?! Apa-apaan dia ini..bagaimana ini..' pikir Levy.

"Bagaimana, Levy-san?" Tanya Rogue.

"Aa—anno..bagaimana ya.." jawab Levy dengan ragu. Yang ada dipikiran Levy adalah janjinya dengan Gajeel yang tidak akan dekat-dekat dengan Rogue, tetapi disisi lain, ia tidak enak untuk menolak permintaan Rogue yang sudah baik padanya.

'Sudahlah, lagipula Rogue kelihatannya baik..Gomenne..Gajeel..' batin Levy.

Levy tersenyum dan mengangguk. "Baiklah.."

Rogue mempererat genggaman tangannya dan tersenyum, "Arigatou, Levy-san. Besok aku akan jemput disini, ya."

Levy mengangguk. Semburat merah tipis terlihat diwajahnya.

Rogue melepaskan genggaman tangannya, "Baiklah, aku pamit dulu ya, Levy-san. Sampai jumpa besok"

Levy mengangguk, "Jaa nee"

Rogue memakai helmnya kembali dan melambaikan tangannya sebelum mengendarai motornya. Levy pun membalas lambaian tangan Rogue, dimana motor Rogue sudah jauh tak terlihat oleh matanya.

"Aku tidak mengerti dengan Gajeel, kenapa aku harus menjauhi anak yang sopan seperti itu..huh Rogue sangat berbeda dengan Gajeel" gumamnya.

Levy pun membalikkan badannya dan masuk kedalam rumahnya.

XXX

"Aku mencintaimu, Natsu..Aku ingin kau bersamaku"

Cup!

Natsu menggelengkan kepalanya saat mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, saat Lisanna kerumahnya. "Aku harus tegas! Aku harus berbicara pada Lisanna, mengklarifikasinya!" ucapnya pada dirinya sendiri dengan penuh tekad.

'Ya, hanya cara ini..aku akan menolak Lisanna..' batin Natsu.

Natsu meraih ponselnya yang ada di meja nakasnya dan menekan beberapa tombol, setelah itu mendekatkan ponselnya ditelinganya.

"Moshi..moshi? Natsu? Aaaahh senangnya kau meneleponku..ada apa?" terdengar suara Lisanna diseberang telepon yang terdengar begitu senang.

"Aku ingin berbicara denganmu, apa kau ada waktu?" Tanya Natsu

"Bicara? Tidak bisa ditelepon saja ya?"

"Tidak. Bagaimana?" Tanya Natsu lagi.

"Hmm..Ah! bagaimana kalau kita berbicara di kafe dekat rumahmu? Aku ada waktu kok malam ini"

"Baiklah, Jam 7, kita bertemu disana, hm?"

"Okey! Jaa nee, Natsu~"

Tanpa menjawab apa-apa, Natsu menutup telepon Lisanna dan menghela nafasnya. Ia meraih jaketnya dan memasukkan ponselnya disaku celananya.

"Yosh!"

Natsu pun keluar dari kamarnya.

XXX

Lisanna dan Natsu sudah duduk berhadapan, ya mereka sudah berada didalam kafe. Dimeja mereka hanya terdapat dua gelas minuman. Satu milik Lisanna dan satu milik Natsu.

"Jadi? Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Lisanna sambil mengaduk jusnya dengan sedotannya.

"Kau mengatakan kalau kau suka dan mencintaiku bukan? Dan juga..ingin bersamaku?"

Lisanna menyedot pelan jusnya dan tersenyum, "Iya, lalu?"

"Maaf, aku tak bisa. Aku menyukai dan menyayangimu hanya sebatas sahabat, Lis. Tak lebih dari itu. Gadis yang aku cintai hanyalah Lucy. Hanya dia. Mohon kau mengerti itu. Jadi hentikan semuanya, berhenti menggangguku" jelas Natsu.

Senyuman Lisanna hilang setelah mendengar penjelasan Natsu. Ia ditolak? Bagaimana bisa? Bahkan ia tak meminta jawaban Natsu untuk perasaannya.

Lisanna menyembunyikan wajahnya sebagian dengan poninya. "Jadi kau lebih memilihnya dan meninggalkanku sendiri? Begitukah, Natsu?"

"Bukan seperti itu, kita masih bersaha—"

"Tidak! Aku tidak ingin bersahabat, aku tidak ingin. Aku ingin menjadi kekasihmu, aku ingin menjadi seseorang yang kau sayangi dan cintai, sebagaimana halnya Lucy!" Ujar Lisanna sambil memukul meja. Semua pengunjung melihat kearahnya dan Natsu.

"Apa? Pertengkaran sepasang kekasih ya?"

"Bukan..sepertinya gadis itu ditolak.."

"Wah..teganya.."

Natsu mendecih saat mendengar komentar para pengunjung saat mendengar bentakkan Lisanna.

"Lis, aku mohon mengertilah.." Pinta Natsu sambil meraih tangan Lisanna yang gemetar.

Lisanna menggeleng. "Tidak! Kalau kau tetap memaksa, aku akan bunuh diri" ancam Lisanna.

Natsu membulatkan matanya mendengar ancaman Lisanna. Apa-apaan gadis ini. Mengancamnya seperti ini? Konyol sekali.

"Jangan konyol, Lis. Ini hanya hal sepele kenapa kau harus bunuh diri!" Ujar Natsu.

Lisanna menyentakkan tangannya dan bangkit berdiri, "Tidak. Ini bukan hal sepele. Aku mencintaimu, Natsu. Mengertilah. Aku sangat sangat mencintaimu, mungkin lebih dari cinta yang dimiliki Lucy untukmu" tukas Lisanna.

"Aku tidak akan percaya kau akan berani melakukan itu" Natsu bangkit berdiri dan mulai berjalan meninggalkan Lisanna untuk keluar dari kafe. Ekspektasinya terlalu tinggi, ternyata Lisanna tak dapat diajak berbicara secara baik-baik.

Lisanna menggigit bibir bawahnya, "Baik! Kau akan melihatku terkapar dijalanan sebentar lagi!" Lisanna berlari keluar dari kafe, melewati Natsu yang sudah membuka pintu kafe.

"Lisanna! Jangan gila kau!" Teriak Natsu yang segera mengejar Lisanna.

Lisanna sudah berada ditengah jalan raya. Ia merentangkan tangannya dan memejamkan matanya, pasrah.

"Lisanna! Hoy!"

Natsu mendecih dan akhirnya ia turun kejalan raya untuk menarik kembali Lisanna. Natsu pun memeluk Lisanna. Banyak warga yang melihat kejadian ini dan mulai berbisik. Natsu risih akan hal itu.

"Natsu.."

"Baka! Kau benar-benar mau mati ya! Kau ini kenapa sih, Lis? Aku bukanlah satu-satunya pemuda didunia ini, bahkan dikota besar ini! Kau bisa mencari yang lain, mungkin yang lebih baik daripada aku!" omel Natsu

Lisanna yang berada dipelukan Natsu pun menggeleng, "Tidak, aku hanya mau dirimu, Natsu..hanya Natsu.."

"Lisanna..please.." pinta Natsu sekali lagi.

Lisanna mengigit bibir bawahnya, tetapi sesaat kemudian ia teringat dengan apa yang didengar saat Lucy dan kawan-kawannya sedang mengobrol.

'Bazaar ditaman kota ya..' batin Lisanna

Lisanna tersenyum tipis dan melepaskan pelukan Natsu dan menatap wajah Natsu.

"Baiklah..tetapi aku memiliki satu permintaan..bisakah hari minggu nanti kita berjalan bersama ke taman kota?" pinta Lisanna dengan suara yang lirih.

"Taman kota? Tapi—"

"Permintaan terakhirku, Natsu dan aku tak akan menganggumu lagi setelah itu.. nee? Maukan? Itu permintaan sederhana bukan?" potong Lisanna.

"Baiklah, tetapi aku akan mengajak Lucy kesana" ucap Natsu sambil merogoh saku celananya untuk mengeluarkan ponselnya dari sakunya dan menghubungi Lucy, tetapi Lisanna segera menahan Natsu untuk mengeluarkan ponselnya. Natsu menoleh dan melihat Lisanna menggeleng,

"Hanya kita, Natsu. Kau dan aku" ucap Lisanna

Natsu menatap Lisanna, pikiran Natsu pun menerawang.

'Tidak apa-apa..toh ini untuk yang terakhir..' pikir Natsu.

"Baiklah" jawab Natsu.

Lisanna tersenyum dan memeluk Natsu, "Arigatou, Natsu…Arigatou…"

Diam-diam, Lisanna tersenyum licik.

'Natsu..aku akan membuatmu menjadi milikku' batinnya

.

.

.

.

.

To be continued


Yeww! bagaimanaa lanjutannya? penasaran gak? apa ya yang bakal dilakuin Lisanna ya? hmm~~ XD

Nah sekarang, author mau bales review-review yang udah masuk XD

yang pertama LRCN : Ok, Urwel XD

Nazu-kun : Kenapa ada Lisanna? karena biar seru ceritanya hihihi XD Hmm pairing Lisanna sama Sting? belum kepikiran kesitu sih haha XD

desty dragfilia : Hehe makasih! tuh kan, ga boleh benci-benci ama Sting. Dia baik hati, tidak sombong dan rajin menabung(?) loh haha XD nah, gimana nih dua chapter kali ini menurut desty-chan? XD

wotakuchan : Lisanna dan Sting? ga melakukan apa-apa tuh wehehe XP NaLu bakalan bertahan gak yaaaaa~~ Lisanna dan Sting jadi pasangan? Hmm belum kepikiran kesitu sih hehe XD dan Happy new year juga yaaw XD dan yang terakhir, Author tidak tentu untuk mengupdatenya, jadi ditunggu saja yaw XD

Guest : Iya dooong langsung 2 chapter lagi nih minggu ini XD hehe sankyu naa~

namaku ndak penting yang penting ripiunya v : Hayooo setengah pertanyaanmu udah kejawab tuh didalem cerita 2 chapter yang diupdate hihi XD

Annataillie : Hehe XD Roguenya OOC? IYAAA EMAAANGGG, entah kenapa author pegen Rogue yang kaya gitu hihihi XP Rogue jadi penghalang GaLe? Hmm bingo! itu benaar yuhuu XD

K. : Hehe, aku suka Lisanna yang jahat. Jadi bikin cerita makin seru hihi XD Rogue jahat? Mungkin iya, Mungkin juga tidak haha XP Hehe arigatou~ kasian juga liat Sting selalu dibikin jadi karakter yang jahaatnya pake banget bangeeeettt! XD

Oke deh, semua udah kelar. update 2 chapter udah, bales review juga udah yuhuuu~~ Ah! Minna-san! Tunggu kelanjutannya ya! dan jangan lupa untuk memberi review agar author dapat menulis lebih baik lagi dari sebelumnya XD

Terima Kasih atas perhatiannya. Sampai jumpa lagi di 2 chapter selanjutnya~~~

Jaa nee,

Yusa kun XD