Lucy berjalan dikoridor kelasnya untuk menuju keperpustakaan. Ditangannya sudah memeluk beberapa buku pelajaran yang ingin ia kembalikan ke perpustakaan. "Lucy~~"

Lucy berhenti dan menoleh, dan kalian pasti tahu siapa yang memanggilnya.

"Ah, Sting. Ohayou" sapa Lucy. Sting berdiri sejajar dengan Lucy dan memamerkan cengiran khasnya, "Ohayou, cantikku~~"

Lucy menggelengkan kepalanya dan berjalan meninggalkan Sting. "Dasar stress" gumamnya.

"Ah, Lucy~ jangan tinggalkan aku~"

Sting pun kembali berjalan berdampingan dengan Lucy, "Kau mau keperpustakaan ya?"

Lucy mengangguk, "Begitulah. Lalu, untuk apa kau mengikutiku? Kau harusnya masuk kedalam kelasmu bukan?" Lucy melirik sinis Sting.

Sting tertawa, "Ya memang, tapi entah kenapa aku terpikat dengan kecantikanmu hari ini" goda Sting. Lucy menoleh dan tersenyum, "Ah, benarkah?"

Sting mengangguk dengan senang. "Benar..benar..kau cantik"

Lucy berhenti dan menoleh kearah Sting, "Jadi apa maumu? Memujiku dipagi hari ini? Pasti ada yang kau inginkan kan dariku?"

Sting pun tertawa, "Hahaha bagaimana kau bisa tahu, Lucy? Kau seorang esper ya?"

"Kalau kau tidak memberitahuku, aku akan meninggalkanmu lagi dan berjalan menuju perpustakaan" tukas Lucy.

Sting merengut kesal, "Baiklah..baiklah...nee nee..kau tahu kan kalau ditaman kota ada bazaar untuk akhir musim semi ini? Bagaimana kalau kita kesana? Hehe"

Fairy Tail © Hiro Mashima

A Fairy Tail Fanfiction

Between Us

By Yusa-kun

Warning : AU, Typo(s), OOC.

.

.

.

.

.

"Kita? Siapa saja?" tanya Lucy dengan curiga.

"Aku dan kau, mungkin?"

Lucy mengangkat sebelah alisnya dan memandang sinis Sting. Sting menghela nafas dan tertunduk, "Baiklah, baiklah..maksudku kau, aku, dan Natsu-san.." ungkap Sting

Lucy tersenyum, "Baiklah, memang rencananya aku ingin mengajak kalian, eh kau sudah mengajakku lebih dulu.."

Sting mengerjapkan matanya, "Kau—kau ingin mengajakku? Ah~~Lucy-chan~~"

Lucy menggeleng-gelengkan kepala, "Sting, tolonglah, kau normal sedikit"

Sting merengut, "Aku normal tahu!"

Lucy terkekeh lalu tersenyum, "Nanti akan aku ajak Natsu, jadi sekarang kau kekelas saja, aku tak mau diganggu olehmu saat memilih buku diperpustakaan. Oke?"

Sting mengangguk, "OKEEE!"

Sting pun berbalik arah dan berjalan kekelasnya, sedangkan Lucy mengulum senyum melihat tingkah laku Sting. "Dasar"

Lucy pun melanjutkan perjalanannya keperpustakaan.

Dilain tempat, ada Lisanna yang sudah mendengar percakapan antara Lucy dan Sting. Lisanna tersenyum tipis.

'Ini dia kesempatan yang ku tunggu-tunggu..' batin Lisanna.

XXX

"Nee, Luce.."

Lucy menoleh kearah kekasihnya, "Ada apa?"

"Hari minggu ini, aku tak bisa berkencan denganmu. Aku..Aku ada acara keluarga, tak apa kan?" Lucy tersenyum, "Ah, benarkah? hmm memangnya ada acara apa? Tumben sekali.."

Natsu dan Lucy sedang berada didalam mobil, mereka sedang diperjalanan pulang sekolah. "Ah..acara hmm—entahlah..haha Ayahku memang selalu tidak jelas..haha" jawab NAtsu dengan gugup.

Lucy memiringkan kepalanya, dia merasa ada yang aneh dengan Natsu. Tetapi apa itu? Lucy menggelengkan kepalanya. "Souka..baiklah.."

Lucy merogoh tasnya dan meraih ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan singkat.

To : Sting

Subject : rencana ke taman kota

Natsu tak bisa pergi hari minggu, dia ada acara keluarga.

Send.

Lucy menutup ponselnya yang flip dan melihat keluar jendela. "Sudah mau berakhir ya musim semi ini..cepatnya.." gumam Lucy.

Natsu menoleh dan tersenyum, "Hmm aku mencium kalau sebentar lagi ada yang berulang tahun" ucapnya. Lucy menoleh dan tersenyum. "Kau ingin hadiah apa dariku?" tanya Natsu tanpa menoleh kearah kekasihnya, ia harus terus fokus saat mengendarai kendaraannya kan agar tak celaka?

"Hmm apa ya...Cinta, mungkin?" jawab Lucy dengan pertanyaan.

Natsu yang mendengarnya pun menoleh dan tertawa, "Jawaban apa itu..tak ada cinta yang dijual dikota ini, Luce.."

Lucy merengut kesal, "Memang tidak ada, baka!"

Natsu tertawa, "Bercanda-bercanda..Kalau kau mau cintaku, kau tak perlu memintanya saat kau berulang tahun, Luce. Karena cintaku terus—teruuuussss kuberikan setiap harinya untukmu tak pernah henti..hihi"

Lucy memukul bahu Natsu dan tertawa, "Kau sedang menggombaliku ya, Natsu..mouu dasar"

"Tidak! Aku serius tahu!" tukas Natsu. "Ha'i...Ha'i..." sahut Lucy kemudian ia tersenyum.

Ponsel Lucy pun berbunyi dan segera Lucy membukanya. 'Ah, Sting.'

From : Sting

Subject : re: rencana ke taman kota

Benarkah? Aah sayang sekali..tapi aku senang, jadinya aku punya waktu berduaan denganmu, Lucy-chan..

Kyaaa! Aku sudah tidak sabar menunggu hari minggu ini~ ,~

Lucy terkekeh membaca pesan balasan Sting. Lucy pun dengan cepat mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan Sting dan setelah selesai ia mengirimnya.

"Siapa sih?" tanya Natsu

Lucy memasukkan ponselnya kedalam tasnya, karena ia merasa kalau sebentar lagi ia akan sampai dirumahnya.

"Sting" jawab Lucy.

Natsu menoleh sebentar lalu menghadap kedepan kembali, "Hah? Untuk apa dia mengirimimu pesan? Dan kau membalasnya? Haaahhh ada apa denganmu, Luceeeee"

"He? Memangnya salah?" tanya Lucy.

"Salah!"

"Kenapa salah?" tanya Lucy

"Karena itu Sting" jawab Natsu dengan jawaban yang simple. Lucy mengangkat sebelah alisnya, "Kau aneh, Natsu. Ah! Jangan-jangan kau cemburu ya? Haha"

Natsu memberhentikan mobilnya dan menoleh kearah Lucy, wajahnya serius memandang Lucy, "Natsu?"

"Ya, aku cemburu Luce..aku takut kau berpaling dariku, aku takut kau hilang dari pandangan mataku..hilang dari sampingku..hilang dari si—"

Cup!

Lucy kembali mundur setelah memberikan kecupan singkat dibibir Natsu. Lucy tersenyum, terlihat sangat jelas semburat merah di pipi Lucy "Tentu tidak! Aku tidak akan hilang, baka"

Natsu tersenyum dan meraih wajah gadisnya dan mengusapnya. "Aku beruntung memilikimu, Luce.."

Lucy tersenyum, "Begitu juga diriku, Natsu"

Mereka pun menghapus jarak wajah mereka dan dengan perlahan bibir mereka bertemu. Waktu pun serasa berhenti bagi mereka. Ciuman yang hangat dan lembut, tak ada nafsu disana, hanya kasih sayang dan kehangatan yang dapat dirasakan dari ciuman itu.

Setelah itu, Natsu pun mendekatkan keningnya kekening Lucy, "Aku mencintaimu, Lucy"

Lucy tertawa pelan, "Aku juga, Natsu"

XXX

Hari minggu pun tiba, Lucy dan Sting sudah berada di Taman Kota. Hari ini, Taman ini sangatlah ramai pengunjung, bukan hanya itu, banyak sekali pedagang-pedagang yang menjual berbagai macam barang, dari makanan, pakaian, tanaman, minuman, dan masih banyak lagi. Dan yang lebih indah lagi, bunga-bunga sakura yang bermekaran menjadi latar belakang yang sangat indah.

"Waaaah ramai sekali.." ucap Lucy smabil memandang kesana-kemari dengan takjub.

Sting mengulurkan tangannya, "Ayo!" ajaknya

Lucy memandang tangan Sting yang terulur, menunggu sambutan darinya. Sting menghela nafasnya dan meraih tangan Lucy, lalu mengenggamnya erat, "Aku tahu kau tak suka berpegang tangan denganku, tapi kita bisa terpisah disini dan aku tidak mau itu terjadi, oke?"

Lucy mengangguk. Sting tersenyum, "Yoshh! Ayo kita berkeliling dan membeli makanan-makanan itu..yohooo!" serunya dengan riang.

Lucy tertawa dan mengangguk, "Oke!"

Sting dan Lucy pun menyusuri keramaian, membelah keramaian di taman kota itu dengan bergandengan tangan.

Ditempat lainnya dan masih didalam Taman Kota, Natsu sedang bersandar dipohon besar untuk menunggu kedatangan Lisanna.

"Natsu! Maaf membuatmu menunggu" Ujar Lisanna yang baru saja datang.

Natsu pun berdiri dengan tegap dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya, "Tidak apa-apa. Ayo kita masuk"

Lisanna mengangguk, "Yuk!"

Lisanna pun setengah berlari dan disusul oleh Natsu. "Lis, jangan jauh-jauh, kita bisa terpisah disini!" ujar Natsu.

Lisanna berlari sambil menoleh sana-sini, seperti sedang mencari seseorang. 'Dimana mereka..' Pikir Lisanna.

"Lisanna! Hey" Panggil Natsu yang berada dibelakangnya.

XXX

Kembali pada Sting dan Lucy. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan, mereka melihat barang-barang yang unik yang dijual di bazaar tersebut. Sesekali mereka tertawa.

"Kau tak mau dilukis bersamaku, Lucy?" tanya Sting saat berada didekat pelukis jalanan yang menawarkan jasanya untuk melukis pengunjung yang memintanya. Tentu saja itu tak gratis.

"Tidak! Untuk apa, aku tak mau! Huh" tukas Lucy.

"Kalian pasangan yang cocok, mari saya lukis" ucap sang pelukis

"Ah, dengarkan Lucy-chan~~ kita cocok loh~" goda Sting.

Lucy memicingkan matanya dan memandang sinis Sting, setelah puas ia pun menoleh kearah sang pelukis dan tersenyum, "Maaf, tapi kami bukan sepasang kekasih"

"Ah, gomenasai..saya pikir kalian adalah sepasang kekasih, karena kalian terlihat begitu cocok" sahut sang pelukis.

Lucy hanya tertawa dan Sting pun hanya menatap kelangit biru, 'Aku juga berharap begitu..berharap menjadi kekasih Lucy..' batin Sting.

Sting menggenggam tangan Lucy, "Ayo kita jalan lagi!" ajaknya. Lucy mengangguk.

Saat membalikkan badannya, tak sengaja Lucy melihat Natsu dari kejauhan. "Nat—su.."

Saat mendengar nama yang disebut Lucy, Sting pun menoleh kearah dimana Lucy memandang. "Ah ya benar itu Natsu-san!" ucap Sting

"Kok dia ada disini, apa acara keluarganya itu di—"

Saat Lucy ingin menghampiri Natsu, Lucy membulatkan matanya melihat sosok yang berada disamping kekasihnya.

'Lisanna?' pikir Lucy.

Lucy pun tertunduk sedih, Sting yang menyadari hal itupun menggenggam erat tangan Lucy. Lucy pun mengangkat wajahnya dan menoleh. Pemuda itu dengan reflek menarik Lucy kedalam pelukannya. Sekilas, ia bisa melihat mata karamel yang begitu ia sukai itu berkaca-kaca.

"Aku bersamamu, Lucy" bisik Sting.

Lucy pun mengangguk.

Bagaikan keramaian tahu dengan peristiwa itu, keramaian itu membelah menjadi dua dan dari tempat Natsu berdiri, ia bisa melihat Lucy dan Sting sedang berpelukan. Ia tak salah lihat, ia tahu benar itu adalah gadisnya. Natsu mengepalkan tangannya, wajahnya menunjukkan kemarahan.

"Loh, itukan, Lucy dan Sting? Kenapa mereka berpelukan? Jahatnya.." ucap Lisanna.

Seolah tak mendengar ucapan Lisanna, Natsu pun mulai menghampiri Lucy dan Sting tetapi dengan cepat ditahan oleh Lisanna. Lisanna menggeleng. "Kau sudah janji akan bersamaku kan hari ini? Jadi jangan kesana"

"Tapi—"

"Kau bisa bertanya pada Lucy setelah hari ini bukan?" usul Lisanna

Natsu tak menjawab, ia hanya memandangi Lucy dan Sting dengan pandangan kesal.

'Lucy...' batinnya

Diam-diam, Lisanna pun tersenyum. 'Berhasil!' pikirnya.

XXX

Setelah melihat Natsu dan Lisanna di Taman Kota, Lucy pun meminta pulang pada Sting, Sting pun mengerti dan mengiyakan permintaan Lucy.

Didalam mobil, lebih tepatnya saat diperjalanan pulang, Lucy hanya diam. Tak mengatakan apapun, dan itu membuat Sting cemas dan khawatir. Gadis itu hanya menatap keluar jendela mobil dengan sorot mata yang sedih.

"Lucy.."

Lucy pun menoleh dan mencoba untuk tersenyum, "Hmm?"

"Kau tidak apa-apa?" Tanya Sting.

Sting memaki dirinya sendiri, kenapa ia begitu bodoh, kenapa ia malah bertanya seperti itu. Sudah jelas bukan? Lucy itu pasti akan kenapa-kenapa!

'Sting baka!' pikir Sting.

Lucy tersenyum dan mengangguk. "Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku Sting"

"Kau bohong, Lucy-chan~" sahut Sting tanpa menoleh kearah Lucy.

Lucy menghela nafas, "Haha, ketahuan ya?"

"Sudah jelas bukan? Bagaimana mungkin kau tidak apa-apa, tadi saja matamu sudah berkaca-kaca" ujar Sting

"Ah ya, dan juga, senyummu itu, terlihat palsu sekali, terlalu dibuat-buat. Tidak cantik. Ugh" lanjut Sting.

"Ah begitu ya..kau perhatian sekali" sahut Lucy.

Sting tak menjawabnya. Pikirannya menerawang, mengingat kejadian tadi. Ia kesal, sangat kesal pada Natsu, bagaimana mungkin ia bisa membohongi Lucy untuk jalan dengan Lisanna? Sungguh keterlaluan. Karena kekesalannya, tanpa ia sadari, ia memegang erat kemudi mobilnya.

"Dia berbohong padaku. Dia bilang—"

"Ya aku tahu! Dia bilang ada acara keluarga bukan? Acara keluarga apanya? Malah jalan bersama gadis beruban itu, Haaaaaah pasti itu akal-akalan Lisanna saja, percaya padaku, tidak mungkin Natsu-san berbohong kalau tak ada pemicunya.." Sting mencoba untuk menenangkan Lucy.

Lucy menoleh, "Kau tak boleh menuduh sembarangan Sting, mungkin mereka ingin menghabiskan waktu bersama.." ucapnya dengan pelan.

"Aku tak menuduh, menghabiskan waktu apanya, itu tak wajar Lucy, Natsu-san pasti akan berkata jujur jika hanya begitu, lagipula, Natsu-san sangat mencintaimu bukan? Dia tidak akan mengkhianatimu" jelas Sting.

"Semua ini pasti ada alasannya, Natsu-san juga pasti memiliki alasannya sendiri" lanjut Sting

"Ya aku tahu, sudah Sting, jangan membahasnya lagi" Lucy menoleh kearah jendela lagi.

"Tapi.. Terima kasih ya sudah berusaha menenangkanku" lanjut Lucy.

Sting menoleh, "Hnn"

Sting menoleh kedepan lagi dan fokus mengendarai mobilnya. 'Lisanna-san..kau begitu licik..' pikir Sting.

XXX

Lucy menutup pintu mobil Sting, Sting pun keluar dari mobilnya. "Sampai besok, Lucy"

Lucy tersenyum dan mengangguk, "Hnn, Hati-hati dijalan, nee?"

Sting tersenyum, "Oke. Masuklah.."

Lucy mengangguk dan berjalan masuk kedalam gang rumahnya meninggalkan Sting yang masih melihatnya berjalan masuk.

Saat Lucy tak terlihat lagi, Sting masuk kedalam mobilnya dan berjalan pulang kerumahnya.

"Besok, aku akan beri pelajaran untuk Lisanna-san dan juga Natsu-san. Mereka telah membuat sedih Lucy!" geramnya.

XXX

"Nee-chan? Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat murung? Ke taman kotanya tidak seru ya berjalan dengan Sting-san?" tanya Michelle pada Lucy.

Lucy duduk ditepi tempat tidurnya dan menggeleng pelan, "Tidak, aku hanya lelah. Hmm Michelle? Bisakah kau keluar? Aku ingin istirahat, tak apa kan?"

Michelle pun mengerti kalau kakaknya itu murung karena lelah, tetapi karena hal lain. Tetapi jika dirinya mendesak Lucy untuk menjawab pertanyaannya, mungkin Lucy akan marah padanya.

"Baiklah, aku akan keluar. Oyasumi, Nee-chan" pamit Michelle. Setelah itu Michelle pun keluar dari kamar Lucy.

Lucy membaringkan dirinya dikasurnya dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

"Ya, aku cemburu Luce..aku takut kau berpaling dariku, aku takut kau hilang dari pandangan mataku..hilang dari sampingku.."

"Aku mencintaimu, Lucy"

Kalimat-kalimat itu selalu terngiang ditelinga Lucy. Airmata Lucy mengalir begitu saja dari manic karamel miliknya yang indah itu.

"Natsu..kenapa—kenapa..ini begitu sakit.." isaknya.

XXX

Keesokkan harinya, Lucy masuk kedalam kelasnya dan berjalan menuju tempat duduknya. Hari ini ia tidak berangkat kesekolah bersama dengan Natsu. Entah kenapa Natsu tak mengabarinya, tak mengirimi Lucy pesan ataupun meneleponnya.

Lucy meletakkan tas ranselnya.

"Ohayou, Lucy-san" sapa Juvia. Lucy menoleh dan tersenyum, "Ohayou, Juvia"

"Loh, Lucy-san? Tidak berangkat bersama dengan Natsu-san? Kenapa?" tanya Juvia.

Lucy menoleh kearah tempat duduk milik Natsu yang berada didepannya. Tempat itu masih kosong, menandakan kalau Natsu belum datang. Lisanna yang baru masuk kekelas pun tersenyum licik dan menghampiri Lucy dan Juvia yang sedang mengobrol.

"Lucy. Ah ohayou, Lucy, Juvia" panggilnya.

Lucy dan Juvia menoleh. "Ohayou"

"Aku ingin bicara denganmu Lucy, ada waktu?" Tanya Lisanna pada Lucy

"Hmm Juvia akan kembali ketempat duduk Juvia" pamit Juvia.

"Maaf. Aku tidak ada waktu" Lucy pun bangkit berdiri, berjalan menuju pintu kelas dan saat ingin membuka pintu kelas, Natsu pun membuka pintu kelas.

'Natsu?!' Pikir Lucy.

Natsu berjalan melewati Lucy tanpa mengucapkan apa-apa, Lucy hanya membulatkan matanya dan menoleh, mengikuti arah Natsu berjalan. Juvia dan Gray yang melihat itu pun saling pandang dan mengangkat bahu mereka.

'Ada apa dengan mereka?' pikir Gray

"Ohayou Lisanna" sapa Natsu

Lucy membulatkan matanya. Ia tidak percaya, ia tidak disapa oleh Natsu. Natsu begitu dingin padanya. Lisanna pun menghampiri Natsu. "Ohayou, Natsu~" sahut Lisanna.

Lucy menggelengkan kepalanya dan berlari keluar dari kelas. Lisanna yang menyadari hal itu pun tersenyum licik.

'Akhirnya..' Batinnya.

XXX

Lucy berlari dikoridor sekolah tanpa melihat kedepan. Ia hanya menunduk sampai pada akhirnya ia menabrak seseorang. "Ah, Gomennasai..Gomen..." ucap Lucy sambil merundukkan badannya tanpa tahu siapa yang ia tabrak.

"Lucy?"

Lucy mengangkat wajahnya dan mendapati Erza yang ada dihadapannya. Erza membulatkan matanya saat melihat mata Lucy berkaca-kaca.

"Ada apa, Lucy?" tanya Erza dengan khawatir.

"Ha? Tidak apa-apa haha, maaf ya aku menabrakmu" jawab Lucy sambil tersenyum.

"Kau kenapa? Matamu berkaca-kaca tadi" ucap Erza.

"Tidak mungkin, kau salah lihat, Er" elak Lucy.

"Tidak, kau pasti ada masalah kan? Kenapa? Cerita saja padaku" desak Erza. Lucy tertunduk dan berpikir apakah ia harus bercerita pada Erza? Apa perlu? Lucy pun mengangkat wajahnya kembali. "Kau ingin membolos pelajaran sampai istirahat?" tanya Lucy.

Erza pun tertawa pelan, "Baiklah"

Lucy dan Erza pun melangkah kakinya untuk naik ke atap sekolah.

XXX

Didalam kelas, Levy menoleh kearah tempat duduk Erza. Ia bingung, kemanakah gadis itu pergi hingga pergantian mata pelajaran kedua pun ia tak berada dikelas.

Selain Levy, ada Jellal yang diam-diam melirik tempat duduk Erza yang kosong.

'Kemana dia? Bukan dia sekali kalau dia membolos' batin Jellal

XXX

"Gray-sama..Gray-sama.." panggil Juvia dengan pelan karena takut ketahuan oleh Sensei yang sedang menjelaskan pelajaran didepan kelas. Gray menoleh kearah belakang dimana Juvia memanggilnya. "Ada apa?"

"Lucy-san kemana ya? Aku khawatir" ucap Juvia dengan berbisik

Gray mengangkat bahunya. "Entahlah.."

Pemuda berambut raven itu melemparkan pandangannya pada Natsu yang sedang sibuk mendengarkan guru menjelaskan.

'Pasti Lucy membolos karena perbuatan Natsu tadi pagi' pikir Gray.

XXX

"Ah leganya sudah bercerita padamu, Er. Arigatou.." ucap Lucy

Lucy dan Erza sekarang sedang berada di atap sekolah, duduk lesehan, menikmati semilir angin musim semi yang akan berakhir dalam beberapa hari terakhir ini.

Erza tersenyum dan mengangguk. "Tapi kau yakin saja, Natsu mungkin ada alasan dibalik kebohongannya itu. Kau percaya padanya kan?"

Lucy mengangguk, "Aku selalu mempercayainya. Selalu.."

Erza tersenyum melihat Lucy tak Nampak sedih lagi, dan ia pun memasang wajah serius kembali.

'Pasti ini perbuatan Lisanna. Tak salah lagi..pasti..' pikir Erza

"Maaf ya sudah membuatmu membolos" ucap Lucy. Erza terkekeh, "Tak apa, sesekali aku juga ingin membolos"

Lucy tertawa, "Berarti ini adalah yang pertama dan yang terakhir untukmu ya, Er"

Erza pun ikut tertawa, "Ya, dan untukmu juga, Lucy"

Lucy mengangguk, "Ha'i!"

XXX

Setelah pulang sekolah, Gray, Gajeel dan Natsu berkumpul di atap sekolah. Mereka bertiga sedang membicarakan hal yang begitu serius. "Apa-apaan sikapmu dengan Lucy tadi pagi? Kau hanya menyapa Lisanna? Kau sudah gila?! KAu idak sadar kalau Lucy membolos tadi?!" omel Gray.

"Aku melihatnya jalan bersama dengan Sting kemarin, mereka berpelukan" ungkap Natsu.

Gajeel tertawa. "Lalu apa bedanya denganmu? Kalau dipikir-pikir, kau lebih menyakiti Lucy, kawan"

Gajeel dan Gray sudah diceritakan oleh Natsu mengenai kejadian kemarin. Ia berbohong demi jalan bersama dengan Lisanna. Dimana-mana, dibohongi itu sangat sakit. "Ya memang benar, tapi aku tidak melakukan yang aneh-aneh bersama Lisanna" elak Natsu.

Gray menghela nafas, "Tapi kau membohongi Lucy, Natsu. Bagaimana jika Lucy tahu? Kau akan bicara apa dengannya? Kau akan mengelak atau akan berkata jujur?" tanya Gray.

Natsu terdiam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Gray.

Tiba-tiba pintu atap terbuka dan menampakkan Sting yang kelihatannya begitu kesal. Sting menghampiri mereka bertiga dan berdiri dihadapan Natsu.

"Aku sudah bilang, jangan buat dia sedih, Natsu-san!" Sting melayangkan pukulan kerasnya kearah wajah Natsu. Natsu pun terhempas.

"Hey—" Gajeel yang ingin melerai Sting dan Natsu pun ditahan oleh Gray.

"Natsu memang pantas mendapatkan itu" ucap Gray.

Natsu memegangi pipinya yang memerah akibat terkena pukulan Sting. Sting menghampiri Natsu lagi dan mencengkram kerah kemeja Natsu.

"Mana janjimu?!" geram Sting.

Buuuukk!

Natsu kembali mendapatkan serangan dari Sting. "Kau membohonginya dan berjalan bersama dengan gadis itu? Gadis itu jelas-jelas ingin hubunganmu berakhir, Natsu-san!" geram Sting kemudian memukul Natsu lagi.

Natsu menyeka darah yang keluar dari mulutnya dan bangkit berdiri. "Bagaimana denganmu? Kau memeluk kekasihku? Kau mengajaknya jalan bersamamu, kau memeluknya, Sting Eucliffe!" Natsu melayangkan pukukannya kearah Sting tetapi meleset. Sting mengenggam erat tangan Natsu yang siap untuk memukul dirinya.

"Begitukah anggapanmu? Dengar, Lucy itu melihatmu jalan bersama Lisanna! Dan kenapa aku memeluknya? Dia..dia hampir menangis! Ia merasa dibohongi, Natsu-san! Kau, kau orang yang begitu ia cintai, yang berjanji akan melindunginya, tidak membuatnya menangis, dan berjanji akan membuatnya bahagia, membohongi dirinya? Kejamnya!" jelas Sting sambil melemparkan tangan Natsu yang ingin menghajarnya dan memukul Natsu kembali.

"Kenapa aku bisa berjalan dengan Lucy? Karena kau bilang hari minggu kau ada acara keluarga, dan pada dasarnya Lucy ingin mengajakmu pergi bersamanya dan diriku!" jelas Sting dengan bentakan.

"Kau pun tidak peduli padanya pagi ini, iya kan? Kau malah menyapa Lisanna? Hah, apa-apaan dengan sikapmu itu! Aku tidak percaya pernah mempercayakan Lucy padamu!" geram Sting. Ia masih mengepalkan tangannya.

"Bagaimana ia bisa tahu?" bisik Gajeel.

"Bagaimana aku bisa tahu? Aku mendengar saat Lucy bercerita pada Erza tadi. Ia membolos berdua, dan mereka berada diatap sampai istirahat." lanjut Sting, secara tidak langsung ia menjawab pertanyaan Gajeel.

Sting pun menarik kerah kemeja Natsu dan memandang Natsu dengan penuh amarah. "Sekali lagi—sekali lagi kau membuatnya seperti ini, kau menyakitinya, aku akan benar-benar membuatmu menyesal! Benar-benar menyesal!" geram Sting sambil menghempaskan tubuh Natsu.

Natsu terduduk dilantai, ia hanya bisa tercengang. Sting sudah pergi meninggalkan atap sekolah. Gray dan Gajeel hanya bisa terdiam.

Natsu pun terbaring lemah disana sambil menutupi wajahnya yang lebam dengan lengannya. Gajeel dan Gray berjalan mendekati Natsu, "Kau lihat? Pada akhirnya kau yang salah, Flame-head" ucap Gray.

"Ya..aku yang salah..gomenne, Luce.." gumamnya.

XXX

"Michelle, aku ingin ke mini market, kau ingin menitip apa?" tanya Lucy dari luar kamar Michelle.

Michelle pun membuka pintu kamarnya, "Belikan aku beberapa cemilan saja hehe"

"Haaah, badanmu bisa melar kalau memakan cemilan terus. Aku pergi sekarang ya" pamit Lucy sambil menutup pintu rumahnya.

Ia berjalan pelan untuk keluar dari gang rumahnya, ia membulatkan matanya saat ia melihat sosok Natsu. Sosok Natsu berdiri didepannya dengan wajah penuh dengan luka lebam.

Lucy segera menghampiri Natsu, Lucy tampak khawatir dengan keadaan Natsu. "Natsu? Kau kenapa? Kenapa bisa penuh luka seperti ini? Kau habis berkelahi?" Tanya Lucy sambil mencoba untuk menyentuh luka yang ada diwajah Natsu.

Natsu meraih tangan Lucy dan menariknya kepelukannya. "Maaf..maafkan aku..."

Lucy hanya diam, ia tidak membalas pelukan Natsu atau mengatakan sesuatu.

"Maafkan aku, Luce..aku—aku tidak bermaksud untuk membohongimu" jelas Natsu.

Lucy memejamkan matanya dan membalas pelukan Natsu. "Aku mengerti, aku tidak apa-apa.." sahut Lucy dengan suaranya yang lembut.

Natsu melepaskan pelukannya dan meraih wajah Lucy. Ia memandangi kekasihnya, Natsu pun tersenyum. Natsu mendekatkan wajahnya ke Lucy. Mereka menghapus setiap jarak yang ada, desahan nafas hangat pun menerpa diwajah keduanya dan tanpa sadar, bibir mereka pun saling bersentuhan. Natsu pun bergeser dengan perlahan dan menjadikannya ciuman penuh. Berselang beberapa menit, mereka pun melepaskan ciuman mereka.

Natsu meletakkan keningnya di kening Lucy. Mereka berdua tersenyum, "Aku tidak akan mengulanginya, Luce..Aku janji.."

Lucy mengangguk dan meraih tangan Natsu, kemudian menggenggamnya erat.

XXX

Seminggu berlalu, hubungan Natsu dan Lucy sudah kembali seperti semula. Mereka berangkat kesekolah bersama, makan siang bersama, pulang bersama. Lisanna yang melihat itupun hanya bisa menggeram marah. Dan ia pun tak bisa lagi mendekati Natsu karena janjinya pada Natsu terakhir kalinya.

"Lucy"

Lucy menoleh dan mendapati sosok Lisanna yang tersenyum padanya. "Ya? Ada apa?"

"Bisakah kita bicara sebentar?" tanya Lisanna

"Eh? Sepulang sekolah saja, bagaimana? Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi bukan?" sahut Lucy.

"Oh ya, benar. Baiklah kalau begitu" jawab Lisanna sambil berjalan meninggalkan Lucy dan masuk kedalam kelas.

Lucy hanya memandang heran kepergian Lisanna. "Mau bicara apa ya kira-kira.."

XXX

Bel pulang pun berbunyi, Lucy memasukkan buku-bukunya kedalam tas.

'Ah ya, aku harus berbicara pada Lisanna ya' pikir Lucy.

"Luce! Ayo kita pulang!" ajak Natsu dengan semangat.

"Gomeeennn! Aku hari ini harus belajar dengan Sting. Sting memintaku untuk mengajarinya pelajaran astronomi. Bisakah kau menungguku lagi?" pintanya.

Natsu merengut kesal, "Huh, Ya sudah kalau begitu. Aku akan tunggu kau diruang klub saja. Hubungi aku jika kau sudah selesai, hmm?"

Lucy mengangguk, "Ok!"

Natsu pun meraih tasnya dan keluar dari kelas, disusul oleh Lucy dibelakangnya. Lisanna melihat kepergian mereka berdua dan mengigit bibir bawahnya.

XXX

"Luceeeeyyy, kau harus menolongku! Aku tak mengerti tentang astronomi perbintangan! Aaarrrgghh itu sulit!" keluh Sting yang baru saja tiba diperpustakaan.

Lucy menoleh, "Hmm baiklah"

Sting duduk dihadapan Lucy, melepaskan ranselnya dan mengambil buku yang diperlukan.

"Jadi? Apa yang tak kau mengerti? Kelasku sedang membicarakan tentang struktur bintang" jelas Lucy.

Sting sibuk membuka buku catatannya, "Tunggu dulu—Ah! Ini dia..hmm aku tak mengerti..semuanya, Lucy"

"HAAA?!"

Sting memamerkan sederet giginya kepada Lucy dan memasang wajah tanpa dosanya, "Onegai~"

Lucy memegang keningnya dan menggeleng pelan, "Jadi selama ini kau dikelas astronomi tak mengerti apapun, heh?"

"Hehehe, harus bagaimana lagi? Perbintangan itu sulit..sulit sekali!" ucapnya.

Lucy membuka buku cetak pelajaran astronomi dan membacanya sejenak, "Ha'i..ha'i..aku akan menjelaskan dari sub bab terbentuknya sebuah bintang ya? Itu akan menjadi bahan ujian akhir kita loh"

Sting mengangguk, "Baik!"

"Sebuah Bintang terbentuk di dalam awan molekul, yaitu sebuah daerah medium antarbintang yang luas dengan kerapatan yang tinggi—"

"Matte! Daerah medium antar bintang itu apa?" potong Sting

"Daerah medium antar bintang itu adalah materi dan kandungan energi yang terdapat di antara bintang-bintang atau di sekitar lingkungan bintang dalam sebuah galaksi. Mengerti?" jelas Lucy sambil menatap Sting yang sedang sibuk menulis.

"Ah! Kandungannya itu berupa atom, molekul, debu, radiasi elektromagnetis, sinar kosmik, dan medan magnet, bukan? Aku mencatatnya" sahut Sting sambil menatap Lucy. Lucy mengangguk, "Benar"

Sting pun tersenyum, "Yosh! Lanjutttt"

Lucy tersenyum dan mengangkat pulpen yang digenggamnya. "Nah, tadi aku bilang kalau bintang itu terbentuk didalam awan molekul, bukan?"

Sting mengangguk, "Lalu?"

"Aku ingin bertanya, kandungan apa saja yang ada diawan itu? Sensei menjelaskannya padamu kan?" tanya Lucy.

Sting membuka-buka lembar per lembar catatannya dan tak menemukan jawaban pertanyaan Lucy. "Haaahh, tidak ada"

Lucy memangku wajahnya dengan tangannya dan menatap Sting, "Pikir pakai otakmu saja, Sting. Kalau memang jawabannya tak ada di catatanmu itu"

Sting mengangkat wajahnya dan berpikir, "Hmm kandungannya ya..." gumamnya.

"Mungkin..oksigen dan sinar kosmik?" jawab Sting dengan ragu.

Lucy memicingkan matanya dan memukul kepala Sting dengan pulpennya. "Baka. Jawaban macam apa itu. Jawaban yang benar itu hidrogen dimana kandungannya sekitar 23-28% helium daaann ada elemen berat lainnya. Catat itu! Itu sangat penting tahu!" jelas Lucy

Sting mengangguk dan membuka lembar baru buku catatannya. "Lucy?"

Lucy menoleh, "Apa?"

Sting pun nyengir dengan bodohnya, "Hehe bisakah kau mengulangi apa yang kau jelaskan tadi?"

Lucy memutar bola matanya dan menghela nafas, "Baka. Baiklah"

Lucy pun mulai menjelaskan lagi materi yang sudah ia jelaskan tadi dan Sting sibuk menulis kata-kata yang di dikte oleh Lucy. Lucy menjelaskan hal-hal yang tak dimengerti oleh Sting secara mendetail. Saat Sting tak bisa menjawab, Lucy memukul kepala pemuda itu dengan pelan dengan pulpennya, lalu mereka saling mengejek dan berdebat dalam materi itu. Mereka tidak sadar, mereka telah menghabiskan waktu selama satu jam diperpustakaan.

"Haaahhhh...aku mengerti sekarang. Jadi ada 6 tahapan dalam pembentukkan bintang ya? Hmm..hmm.." ucap Sting sambil menganggukkan kepalanya dan matanya tak lepas dari buku catatannya.

"Kau mengerti sekarang? Coba sebutkan tahapan-tahapannya apa saja" tanya Lucy. Sting mengangguk.

"Medium antarbintang, Awan molekul, Nebula gelap, Protobintang, Bintang T Tauri, dan Nebula Matahari. Benarkan?" jawab Sting

Lucy tersenyum, "Benar. Tapi kau juga harus mengerti tentang penjelasan masing-masing tahapan itu"

Sting mengangguk, "Aku mengerti..aku mengerti..lagipula yang mengajariku juga gadis yang sangat ahli perbintangan, jadi mana mungkin aku tak mengerti~~"

Lucy terkekeh, "Aku tak se-ahli itu, Sting"

"Ah ya, aku lupa, pertemuan besok pelajaran astronomi akan membicarakan tentang bintang yang terdekat dengan matahari. Ahhhh..aku benci pelajaran ini~" gerutu Sting. Lucy membereskan buku-bukunya dan memasukkan kedalam tas, "Kau tak boleh begitu, jika kau membenci pelajaran ini, materi-materi yang diajarkan sensei dan aku tak akan pernah bisa masuk keotakmu itu tahu"

Sting menutup buku catatannya dan memandang Lucy yang sibuk memasukkan buku-bukunya kedalam tas. "Iya sih, tapi pelajarannya susah"

Lucy menutup resleting tasnya dan menatap Sting, "Kau pasti bisa, Sting. Kalau kau tak mengerti, aku bisa mengajarimu lagi kok!"

Mata Sting pun berbinar-binar, "Aaaahhh benarkah Lucy-chan? Baik sekali dirimu~~~"

Lucy tertawa pelan, "Imbalannya kau harus mengajariku matematika, bagaimana?"

Sting pun bergaya memberi hormat pada Lucy, "Siap, Lucy-sama!"

Lucy pun tertawa, melihat gadis didepannya tertawa, Sting pun ikut tertawa.

"Nee..jika kau ada waktu, maukah kau bersamaku ke—ke planetarium? Kau bisa menjelaskan tentang perbintangan disana" ucap Sting sambil menoleh kearah lain, terlihat semburat merah tipis di pipinya.

Lucy tersenyum, "Baiklah, akan aku temani. Tapi dengan satu syarat"

Sting menoleh, "Apa itu?"

"Kau harus mentraktirku makan saat aku menemanimu ke planetarium. Bagaimana?"

Sting memangku wajahnya, "Hmm bagaimana ya~~"

Lucy memangku wajahnya dan tersenyum tipis, "Jika tidak, kau bermimpi saja berjalan denganku diplanetarium"

Terdengar tawa renyah Sting, "Kalaupun itu mimpi, itu mimpi yang indah..indah sekali~" godanya. "Ya sudah, mimpi terus saja. jangan bangun-bangun, nee?" timpal Lucy.

Sting merengut kesal, "Mouuu, kata-katamu kejam, Lucy-chan~ Nah..nah..baiklah aku akan mentraktirmu! Puas?"

Lucy mengangkat wajahnya dan tersenyum, "Puas sekali!"

Lucy menoleh untuk melihat jam dinding yang berada diperpustakaan, sudah menunjukkan pukul empat sore.

'Gawat, aku kan ada janji dengan Lisanna!' pikir Lucy.

Lucy mengambil tasnya dan bangkit berdiri, "Sting, aku pulang lebih dulu ya. Ah ya, jangan lupa janjimu yang tadi, oke?"

Sting mengangguk, "Oke..Hati-hati dijalan~"

Lucy pun berjalan keluar perpustakaan meninggalkan Sting yang masih duduk diam disana. Diam-diam Sting tersenyum. "Boleh kan sedikit saja?" gumamnya.

XXX

Lucy berjalan dikoridor sekolah setelah meninggalkan perpustakaan beberapa saat lalu, ia menoleh dan menengok ke beberapa kelas, mencari seseorang. Koridor sekolah sudah sepi, tak ada siswa yang berlalu-lalang disana. Normal saja, ini sudah lewat dua jam setelah bel pulang sekolah.

"Dimana ya Lisanna..Duh! pake acara lupa segala. Lucy no ba—" saat sedang menggerutu, ponsel Lucy yang berada didalam tasnya berbunyi. Lucy tetap berjalan pelan sambil membuka tasnya dan berusaha merogoh tasnya untuk mendapatkan ponselnya. Saat ia dapat ponselnya, ia segera membuka ponselnya.

"Ah, Natsu menelepon" ucapnya sambil menekan tombol hijau untuk menerima panggilan telepon Lucy.

Lucy menghentikan langkahnya dan berdiri dipinggiran tangga. Tangannya yang satu menggenggam ponsel dan yang satunya lagi mengetuk railing tangga.

"Moshi-moshi? Natsu?" ucapnya

"Kau sudah selesai belum? Lama sekali~~ aku lapar~" terdengar suara Natsu yang sudah merengek.

Lucy pun tertawa, "Iya..iya..sebentar lagi aku akan selesai. Memangnya di klub tidak ada makanan? Makan saja sama Gajeel atau Gray"

"Mouu..aku ingin makan masakanmu tauu!" Natsu merengek lagi.

Lucy yang sibuk berbincang-bincang ditelepon, ia tak menyadari kalau dibelakang tubuhnya ada sosok yang menatapnya dengan pandangan benci. Sosok itu mengulurkan tangannya dengan perlahan mendekati tubuh Lucy..

"Baik, aku akan memasakkan makanan kesukaanmu, tapi tunggu—"

Sosok yang berada dibelakang Lucy itu pun mendorong keras tubuh Lucy, Lucy akhirnya menyadari kalau ada seseorang dibelakangnya , Ponsel Lucy terjatuh dan saat ia menoleh, ia membulatkan matanya mengetahui siapa sosok yang mendorongnya.

"Li..sanna.." gumamnya

Dan tubuh gadis itu kehilangan keseimbangan, dan jatuh terguling pada anak tangga dan akhirnya terbanting dilantai. Darah pun mengalir dari kepala Lucy.

Sosok yang mendorongnya itu pun tersenyum picik menyaksikan tubuh gadis yang didorongnya itu terkulai dilantai bawah. Ia melangkah turun menyusuri anak tangga. Seraya menatap Lucy yang terkulai dibawahnya. Lagi-lagi..senyuman jahat terlihat diwajahnya—wajah Lisanna.

Lisanna melangkahkan kakinya berjalan santai meninggalkan Lucy yang tergeletak begitu saja.

'Sayonara..Lucy..' batinnya.

"Moshi..moshi..Luce? heeey...hey...Luce!"

Natsu yang berada diruang klubnya pun segera bangkit berdiri dan menutup teleponnya. Ia berlari keluar ruangannya untuk mencari gadisnya.

'Luce..kau kenapa..Lucy..' batin Natsu.

.

.

.

.

.

.

To be Continued


Gimana chapter ini? menggugah rasa penasaran kalian? hoho XD yaudah lanjut ke chapter berikutnya deh yuk cuuussss XD