Michelle yang sudah pulang sekolah lebih dahulu sedang berada dikamarnya—lebih tepatnya ia sedang membereskan lemari pakaiannya. Tiba-tiba saja, tanpa ada angin ataupun apapun, frame foto yang berada dimeja belajarnya terjatuh tiba-tiba.
Michelle terlonjak kaget dan segera menghampirinya untuk mendirikan kembali frame tersebut. Frame itu berisi foto dirinya bersama dengan Lucy, kakaknya. "Kenapa foto ini bisa jatuh sih..mengagetkan—"
Entah kenapa Michelle merasakan perasaan yang tidak enak. Michelle memegang dadanya dan menatap keluar jendela kamarnya, "Ada apa ya, kenapa aku merasa perasaan yang tidak enak begini.." ucapnya.
Ia menoleh dan memandang foto yang terpajang di frame itu, "Nee-chan.."
Fairy Tail © Hiro Mashima
A Fairy Tail Fanfiction
Between Us
By Yusa-kun
Warning : AU, Typo(s), OOC.
.
.
.
.
.
Sting menutup pintu perpustakaan dan berjalan pelan dikoridor. Ia menghela nafas beberapa kali jika mengingat pelajaran astronomi yang tak pernah ia mengerti.
"Kenapa Lucy bisa pintar pelajaran laknat itu ya. Sama sekali tidak ada menariknya, ugh" gerutunya.
Ia dengan pelan menuruni anak tangga, satu tangannya dimasukkan kedalam saku celananya dan yang satu lagi menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal. Ia menguap sesekali, dan membuka matanya dan saat itulah, ia melihat pemandangan yang tak ingin dilihatnya.
Sting membulatkan mata birunya yang indah itu saat melihat Lucy—gadis yang baru saja mengajarinya tentang astronomi, gadis yang disayanginya tergeletak tak bergerak disana.
"Lu—Lucyyy!"
Sting segera menuruni anak tangga dengan cepat dan menghampiri tubuh Lucy yang tergeletak disana. Sting melemparkan tasnya kesembarang arah dan merengkuh pelan tubuh gadis bersurai pirang keemasan itu—gadis yang dicintainya itu.
"Lucy..bangun Lucy..hey.." Sting memegang bagian belakang kepala Lucy dan menggoyang-goyangkannya. Ia berharap Lucy sedang bergurau.
"Lucy.." panggilnya tetapi gadis itu tak menjawab. Matanya pun tertutup.
Sting mengangkat tangannya dan melihat darah disana. Ia memegang bagian belakang kepala Lucy dan ternyata darah yang ada ditangan Sting adalah darah Lucy.
"Lu—Luuuccccyyyyy!"
Sting segera membopong tubuh Lucy, saat ia ingin melangkahkan kakinya, Natsu sudah berada dihadapannya—menatap horror kekasihnya yang tak bergerak.
"Sting? Lu—Lucy ke..kenapa?" Tanya Natsu dengan gemetar.
"Aku tak tahu, tak ada waktu untuk menjelaskan, ayo bawa Lucy kerumah sakit!" jawab Sting.
Natsu mengangguk. "Ayo!"
Guru-guru yang masih berada disekolah dan staff sekolah pun keluar dari ruangan dan beberapa dari mereka menghampiri Natsu dan Sting yang berjalan terburu-buru.
"Hey ada apa ini?!" Tanya Gildarts-sensei.
Natsu menoleh, "Gildarts-sensei!"
Sting berhenti dan menoleh kebelakang, "Natsu-san, aku akan membawa Lucy kerumah sakit, kau urusi masalah ini dan jelaskan pada guru-guru!"
Setelah berbicara begitu, Sting pun segera memasukkan Lucy kedalam mobilnya dan ia pun masuk kedalam, kemudian mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju kerumah sakit.
"Jelaskan ini! Ada apa, Natsu?!" desak Gildarts-sensei.
Mira-sensei pun keluar dari ruangan. "Ada apa ini ribut-ribut?" tanyanya.
"Aku tak tahu. Yang jelas, Lucy tergeletak disana, sensei. Dan aku tak tahu penyebabnya apa. Apa salah satu dari kalian ada yang melihat peristiwa ini?" Jelas Natsu yang berakhir dnegan pertanyaan.
Semua menggeleng. Kecuali Laki-sensei.
"Saat aku membuka pintu ruang guru ini, aku mendengar suara seperti ada sesuatu yang jatuh, tetapi aku pikir itu adalah petugas kebersihan yang sedang bersih-bersih membanting tong sampah, jadi..aku tak menoleh.." jelas guru yang memiliki rambut violet itu.
"Natsu, kau susul si Eucliffe itu, aku akan menjelaskannya pada kepala sekolah" sambar Gildarts-sensei.
Natsu menoleh kearah tangga, dimana tubuh Lucy ditemukan. Isi tas Lucy berhamburan, ponsel Lucy pun tergeletak disana dengan posisi terbuka.
'Apa ini karena salahku yang meneleponnya?' batin Natsu
Natsu menggeleng. Ia menoleh kembali, "Aku akan berangkat ke rumah sakit. Mohon bantuannya, Gildarts-sensei"
"Ya, serahkan padaku!" jawab Gildarts-sensei.
Natsu segera berlari keluar dari sekolahnya menuju dimana ia memarkirkan mobilnya. Ia membuka pintu mobilnya dan masuk kedalam kemudian menutup pintunya kembali. Ia meraih ponselnya yang berada didalam sakunya dan menelepon seseorang.
"Moshi-moshi?" terdengar suara Michelle diseberang telepon.
"Michelle? Aku ingin memberitahumu kalau..kalau.." Natsu ragu-ragu memberitahukan keadaan Lucy pada adiknya itu.
"Ada apa Natsu-san? Kenapa kau terlihat ragu-ragu?"
"Lucy…Lucy ada dirumah sakit" ungkap Natsu sambil menutup kedua matanya.
"Ap—apa?! Ba—bagaimana bisa, Natsu-san? Kenapa?" terdengar kepanikan dari suara Michelle.
"Kerumah sakit lah dulu, nanti kita akan berbicara disana, hmm?"
"Baiklah" telepon pun terputus.
Diletakkannya ponsel miliknya di dasbor. Kemudian ia memutar kunci kontak dan menelusuri jalan raya untuk menuju Rumah Sakit dengan kecepatan sangat cepat.
'Lucy..tunggu aku..' batin Natsu
XXX
Setelah berada di ruang UGD, Sting langsung membaringkan Lucy di ranjang yang sudah disiapkan oleh suster, "Maaf, anda bisa keluar dari ruangan ini, kami akan melakukan yang terbaik untuk gadis ini" ucap suster itu.
Sting mengangguk dan berjalan keluar dari ruang UGD. Suster tersebut lalu menutup pintu UGD tersebut.
Sting duduk di ruang tunggu dengan gelisah dan memegang ponselnya. Terlihat ditangannya masih ada bekas darah Lucy yang mongering disana. Sting mengigit bibir bawahnya kuat-kuat dan menggenggam ponselnya dengan erat menahan kesal.
'Kenapa? Kenapa ini bisa terjadi?' pikir Sting.
"Stiiinggg-sannn!"
Sting menoleh dan mendapati Michelle yang sudah berlari disepanjang koridor rumah sakit untuk menghampirinya.
"Michelle.."
Michelle berdiri dihadapan Sting yang sudah bangkit dari duduknya, dengan terengah-engah ia pun memegang lengan Sting.
"Ke—kenapa dengan kakakku? Kenapa ia bisa masuk kerumah sakit?!" Tanya Michelle dengan nada yang panik.
"Aku tak tahu kejadiannya seperti apa. Tapi aku menemukan Lucy tergeletak di dekat tangga sekolah. Dan..dan.." Sting memandangi tangannya yang masih ada bekas darah Lucy.
Michelle duduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bahu gadis itu naik turun menandakan ia menangis. Sting mendekat dan berjongkok menyamai tingginya.
"Tenanglah..pasti Lucy baik-baik saja. dia tidak selemah itu kan? Kau percaya kan?" Sting berusaha menenangkan Michelle.
Michelle membuka tangannya dan memperlihatkan wajahnya yang memerah, airmatanya yang deras keluar dari matanya. Ia mengangguk pelan.
Sting pun memeluknya. "Sudah..sudah…"
'Ya. Lucy pasti tidak apa-apa. Aku yakin itu..' pikir Sting.
XXX
Lisanna sedang berjalan mondar-mandir dikamarnya. Ia terlihat begitu gelisah hingga ia mengigiti kuku jarinya.
'Bagaimana kalau tadi ada yang melihat kejadian itu?'
'Bagaimana kalau Lucy membuka matanya dan mengatakan kalau aku yang mendorongnya?'
Itu lah yang ada dipikiran dan dibenak Lisanna sekarang. Tak bisa tenang, ia pun keluar dari kamar untuk menyeduh sebuah teh herbal yang dapat menenangkan pikirannya. Ia mengaduk teh yang sudah ia seduh dengan pelan, ia agak terlonjak kaget mendengar pintu rumahnya tertutup.
"Tadaima"
Gadis itu mengenali suara itu. Suara sang kakak yang baru pung bekerja.
"Okaeri" jawabnya sambil berlari pelan menuju dimana tempat kakaknya berada.
Mira melangkahkan kakinya masuk kedalam dan duduk diruang tengah. Ia menghela nafas dan menyandarkan bahunya ke sofa. Lisanna berdiri disebelahnya dan mengangkat sebelah alisnya.
"Kenapa kau terlihat lelah sekali, Mira-nee?" Tanya Lisanna yang sekarang sudah duduk disamping Mira.
Mira menutup matanya, "Disekolah ada kejadian yang tidak terduga saat pulang sekolah, Lis"
Lisanna membulatkan matanya dan jantungnya tiba-tiba berdegup dengan kencang. "Ap—Kejadian apa itu?" tanyanya dengan gugup.
Mira membuka matanya dan menoleh, memandang Adiknya. "Lucy ditemukan dibawah tangga sekolah. Ia tak sadarkan diri. Mungkinkah ia tak berhati-hati dan jatuh? Apa ada seseorang yang sengaja melakukan itu? Huh..kasian sekali.." jelas Mira sambil bangkit berdiri.
"Ja—jatuh? Ah..begitu ya..iya kasihan sekali dia.." ucap Lisanna sambil tertunduk. Entah kenapa ia merasa bersalah, tetapi disatu sisi ia ingin Lucy tak pernah membuka matanya lagi.
"Kalau begitu, aku akan mandi dulu baru aku siapkan makan malam" pamit Mira.
Lisanna menoleh dan memandang kepergian kakaknya. Lisanna menyandarkan bahunya dan menghembuskan nafasnya. "Tenang saja..tidak ada yang melihatnya..tidak.." gumamnya.
XXX
"Michelle"
Michelle mengangkat wajahnya dan mendapati sosok Natsu yang menyodorkan minuman hangat padanya. "Minum dulu"
Michelle pun menerima minuman itu dan menggenggamnya. Ia menoleh, ia mendapati Sting disampingnya yang sedang menyesap minuman yang sama dengan minuman yang dipegangnya. Ia menoleh lagi untuk melihat Natsu, tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Sting. Kedua pemuda itu terlihat cemas dan khawatir. Sungguh terlihat jelas diwajah mereka.
Michelle tertunduk, "Terima kasih ya, kalian sudah perhatian pada kakakku" ucapnya dengan pelan.
Sting dan Natsu menoleh kearah Michelle yang sedang meminum minumannya.
"Michelle..tak usah berterima kasih pada kami" jawab Natsu. Sting mengangguk, "Benar, jangan berbicara seperti itu. Itu benar-benar canggung" tambah Sting.
Michelle menatap minumannya dan tersenyum, "Hnn"
Sting dan Natsu pun ikut tersenyum. Tiba-tiba pintu ruang UGD pun terbuka, menampakkan sosok Dokter dengan pakaian jasnya yang putih.
"Dimana keluarga Lucy-san?" Tanya Dokter itu.
Sting, Natsu, dan Michelle bangkit berdiri bersamaan dan menghampiri Dokter itu. "Kami—Kami keluarga Lucy!"
Dokter itu menghadap kepada tiga anak muda tersebut, "Begini, mengenai keadaan Lucy-san, bisakah kita membicarakannya di ruangan saya?" Tanya sang dokter.
Ketiga anak muda itu pun saling berpandangan dan mengangguk. "Baiklah!"
XXX
"Jadi bagaimana keadaan kakak saya, Dok?" Tanya Michelle. Wajahnya terlihat khawatir. Bagaimana tidak khawatir, pagi ini kakaknya sehat-sehat saja dan tak ada yang aneh dengan dirinya. Tetapi saat pulang sekolah kenapa terjadi seperti ini?
Dokter itu berdeham, "Lucy-san ada riwayat pernah dirawat disini bukan?" tanyanya.
Semuanya mengangguk. "Lalu?"
"Di riwayatnya ini mengatakan kalau ia mempunyai cedera pada bahunya, benar?"
"Benar, Dok. Tetapi sekarang dia melakukan perawatan atas cederanya di Rumah Sakit Crocus. Dan bulan besok baru akan melakukannya lagi" jelas Michelle.
"Hmm..baiklah.." Dokter itu menutup file yang sepertinya itu adalah data-data Lucy.
Michelle dan Natsu duduk dihadapan Dokter, sedangkan Sting berdiri dibelakang Natsu. "Jadi bagaimana keadaan Lucy? Dia baik-baik saja kan?" Tanya Sting.
"Dia mengalami gegar otak berat, dimana hal itu menyebabkan penurunan akan kesadarannya" jelas sang Dokter sambil memasang hasil CT scan milik Lucy.
"Tapi itu tak berarti apa-apa kan? Dia baik-baik saja kan?" Tanya Natsu dengan panik.
"Dia tidak akan baik-baik saja jika dua jam setelah ini ia tidak sadarkan diri" jawab Dokter dengan tegas.
Dokter itu menunjuk ke CT-Scan milik Lucy, "Pendarahannya cukup hebat disini, entah bagaimana ia bisa mendapatkan ini, tetapi kemungkinan ia terbentur dengan keras"
Michelle pun menangis karena tak tahan mendengar penjelasan Dokter. Sting memegang bahu Michelle, memberikan kekuatan agar kuat.
"Tetapi jika Lucy sadar, apa dampak dari gegar otak ini?" Tanya Sting.
"Kemungkinan yang akan terjadi, mungkin ia akan sering kehilangan kesadaran atau pingsan, lalu ia bisa merasakan sakit dikepalanya yang sangat hebat sehingga ia mual dan akhirnya muntah. Selain itu, kemungkinan yang lebih parahnya adalah, dia akan mengalami kelumpuhan" jelas Dokter.
Natsu membulatkan matanya mendengar penjelasan dokter itu, Michelle menutup wajahnya dan menangis sendu, Sting hanya bisa mendecih dan merasa kesal.
"Dia akan sadar! Dia akan sadar dan bangun! Aku yakin itu!" ucap Natsu sambil bangkit berdiri dan keluar dari ruangan.
Michelle membuka tangannya dan memandang Dokter dengan mata berkaca-kaca, "Jika itu terjadi, itu bisa sembuh kan, Dok?" tanyanya dengan terisak.
Dokter itu mengangguk. "Semua gegar otak bisa disembuhkan dengan baik. Saya sebagai dokter yang menanganinya, akan terus memantaunya"
Michelle tersenyum, "Arigatou, Dok"
"Arigatou" timpal Sting.
Michelle bangun dari duduknya dan pamit keluar dari ruangan bersama dengan Sting. Mereka berdua tahu keberadaan Natsu sekarang. Ruang rawat Lucy—itu sudah pasti. "Michelle..aku akan menyelidiki masalah ini dengan Natsu-san. Aku yakin..ada orang yang sengaja melakukan ini" ucap Sting sambil berjalan beriringan dengan Michelle menuju keruang rawat Lucy.
Michelle mengangguk. "Hnn, aku mengandalkan kalian ya, Sting-san..Natsu-san.."
Sting dan Michelle pun sampai didepan ruang rawat Lucy, Sting membukakan pintu dan terlihat Natsu yang duduk disamping ranjang Lucy sambil memegang tangan Lucy.
Michelle masuk lebih dahulu, lalu Sting menyusul dan menutup pintunya.
"Natsu-san" panggil Sting.
"Hm?"
"Kita masih memiliki pekerjaan bukan? Menyelidiki kenapa Lucy bisa jadi begini" jawab Sting.
Natsu menoleh dan melepaskan genggaman tangan Lucy. "Hnn, kau benar. Aku juga penasaran kenapa ada orang yang berbuat begini pada Lucy"
Michelle berjalan mendekati kakaknya yang terbaring lemah disana. Tabung oksigen ada di belakang ranjang kakaknya dan selang oksigen terpasang dihidungnya, ditangan kirinya sudah terpasang pula infus. Kepalanya dibalut dengan perban, matanya tertutup rapat.
"Nee-chan..bangunlah.."
Natsu memandang kekasihnya yang tertidur dihadapannya, "Lucy..bangunlah.."
Sting mengepalkan tangannya, 'Lucy, seharusnya aku tidak meninggalkanmu sendiri saat kau pergi meninggalkan perpustakaan. Ini salahku..aku akan mencari tahu..zettai!' pikir Sting.
XXX
Pagi harinya, sekolah sudah gempar dengan adanya berita tentang kejadian yang menimpa Lucy. Semua siswa membicarakannya, tak terkecuali sahabat-sahabat Lucy.
"Nee, Erza, Juvia..kita harus jenguk Lu-chan setelah pulang sekolah..aku khawatir" ucap Levy
Erza mengangguk "Iya, ajak juga yang lainnya"
"Natsu-san juga tidak masuk hari ini, mungkinkah ia di Rumah sakit?" sambar Juvia.
"Sting juga" tambah Levy.
Ketiganya pun tertunduk dan terlihat sedih. Gajeel dan Gray melihat mereka yang sedang mengobrol dikoridor sekolah pun menghampiri mereka.
"Hey, kalian sudah dengar berita tentang Lucy?" Tanya Gray
Para gadis pun mengangguk. "Kita berencana untuk menjenguknya sepulang sekolah, apa kalian ikut?" Tanya Erza.
Gajeel dan Gray berpandangan. Detik kemudian mereka mengangguk. "Tentu saja!"
Lisanna yang berada didalam kelas pun menjadi merasa frustasi. Dimana-mana, setiap sudut sekolah pasti membicarakan peristiwa Lucy, Lucy, dan Lucy. Lisanna muak mendengarnya. Belum lagi, hari ini Natsu tidak masuk kesekolah, membuatnya semakin tidak mood.
'Aku harap kau tak pernah bangun lagi, Lucy!' batin Lisanna
XXX
Dirumah sakit, Michelle membawa bunga dan meletakkannya di sebuah vas yang disediakan rumah sakit. Ia menoleh dan melihat Lucy masih menutup matanya.
"Nee-chan..ayo bangun..onegai.." pinta Michelle.
Pada akhirnya, Lucy mengalami koma setelah 2 jam yang ditetapkan oleh Dokter. Detak jantungnya terlihat normal, tetapi tak ada tanda-tanda kesadaran dari Lucy. Lucy yang terbaring dirumah sakit untuk kedua kalinya, membuat semua orang yang menyayanginya menjadi sedih.
Natsu membuka pintu ruang rawat Lucy dan membawakan sebuah makanan yang dibelinya untuk Michelle.
"Michelle, ini makan siangmu"
Michelle menerimanya dan meletakkannya dimeja terdekat. "Arigatou, Natsu-san"
Natsu mengangguk. "Kau sudah menghubungi Ayahmu dan memberitahukan keadaan kakakmu?"
Michelle mengangguk, "Sudah, tetapi ia sedang berada diluar kota Crocus. Seperti biasa, mengurusi pekerjaannya"
"Souka.."
"Tetapi ia akan kesini secepatnya. Ia berkata seperti itu" tambah Michelle.
Natsu mengangguk. Pintu ruang rawat pun terbuka menampakkan sosok Sting. "Yo"
"Yo"
"Sting-san"
Sting menutup pintu dan berjalan menghampiri Lucy. "Yo, Lucy. Bangunlah..kau sudah membuatku membolos hari ini. Membolos pelajaran astronomi juga. Kau berjanji akan ke planetarium bersama kan? Mengajarkan ku tentang bintang yang terdekat dengan matahari. Cepat bangun" sapanya. Sapaan yang begitu panjang.
Natsu terkekeh, "Heee? Kau dan Lucy berjanji akan berjalan ke planetarium? Berdua? Mana mungkin aku akan mengizinkannya"
Sting melirik sebal Natsu, "Kalau kau tak mengizinkan, aku akan bawa kabur gadismu ini, Natsu-san. Ah ya, dan juga tak pernah akan ku kembalikan"
"Kkka—Kau!"
Michelle tertawa melihat pertengkaran kecil Natsu dan Sting yang memperebutkan kakaknya. Ia menoleh kearah kakaknya.
'Nee-chan..pemuda-pemuda ini menunggumu sadar..ayo..bangunlah..' batin Michelle.
XXX
Levy melangkahkan kakinya untuk keluar dari gedung sekolahnya untuk menghampiri teman-temannya yang sudah menunggunya di gerbang depan sekolah, tetapi tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang.
"Kyy—" belum sempat Levy berteriak, Levy membulatkan matanya saat tahu siapa yang menarik tangannya sehingga ia hampir saja terjatuh. "Ro—Rogue?"
Rogue yang memegang lengan Levy pun tersenyum. "Konnichiwa, Levy-san. Kau sepertinya buru-buru"
Levy mengangguk, "Aku harus menjenguk salah satu temanku di rumah sakit" jawabnya sambil menampakkan ekspresi yang begitu sedih.
"Ah, aku mendengar berita itu. Lucy Heartfilia kan temanmu? Hmm kasihan.." sahut Rogue. Levy mengangguk dan tertunduk.
Rogue yang sadar bahwa Levy terlihat sedih pun tersenyum dan melepaskan genggamannya. Rogue meraih wajah Levy dan mengangkat wajah gadis mungil itu agar menatap matanya.
"Ro—Rogue.."
"Kau terlihat lebih cantik dan manis jika tersenyum, Levy-san. Jangan sedih, hmm?" ucap Rogue
Dengan sikap dan perkataan Rogue yang seperti itu, wajah Levy pun memanas dan memerah. "Ro—"
"Hoy!"
Levy tersentak dan menoleh kesumber suara, ia membulatkan matanya. "Ga—Gajeel?!"
Rogue melepaskan tangannya dari wajah Levy dan menoleh pada Gajeel. "Yo, Aniki.." sapanya dengan santai. "Kau menganggu acara pendekatanku dengan Levy-san, tahu!" tambah Rogue.
Gajeel mendecih dan berjalan menghampiri Levy, menarik tangan Levy agar berada disisinya. "Aku sudah bilang bukan, jangan ganggu udang kecil ini!" bentak Gajeel.
"Gajeel.."
Rogue tertawa, "Hahaha, kau memanggilnya apa? Udang kecil? Ah..Levy-san tak pantas dipanggil dengan panggilan seperti itu. Lihat..dia itu manis. Masa dipanggil udang.."
Gajeel mengeratkan genggaman tangannya pada Levy, "Ayo kita jalan sekarang!"
Gajeel membalikkan tubuhnya dan berjalan menyeret Levy dibelakangnya. Rogue hanya tersenyum melihat reaksi Gajeel seperti itu.
"Jika kau bereaksi seperti itu, Levy-san akan mengetahui kalau kau menyukainya loh, Aniki..haha" ucapnya pada diri sendiri.
Rogue pun berjalan berlainan arah dengan Gajeel dan Levy. "Sudahlah.."
XXX
Gray, Gajeel, Jellal, Erza, Juvia, dan Levy sudah sampai didepan ruang rawat dimana Lucy berada. Kenapa bisa ada Jellal? Ya, itu berkat Levy yang mengajaknya, Erza tak punya nyali untuk mengajak Jellal.
Levy mengulurkan tangannya untuk membuka pintu dan tanpa disengaja, Gajeel pun mengulurkan tangannya pula. Akhirnya, tangan mereka bersentuhan. Gajeel dan Levy saling berpandangan. Beberapa detik, mereka pun saling memalingkan wajahnya.
"Ada apa sih dengan kalian, bukannya pintunya dibuka ugh" protes Erza sambil membuka pintu ruang rawat Lucy.
"Konnichiwa.." sapa mereka semua.
Michelle, Natsu dan Sting yang berada didalam pun bangkit berdiri menyambut kedatangan mereka. "Ah kalian..ayo masuk"
Semua yang ada didepan pintu pun masuk kedalam dan melihat keadaan Lucy yang masih juga terbaring tanpa membuka matanya.
"Wuooohhh! Kalian membawa buah.." seru Natsu
Juvia menyerahkannya sekeranjang buah segar ke Michelle. "Habis kami tak tahu harus membawa apa..mungkin buah-buahan ini bisa membantu Lucy-san" jawab Juvia.
Michelle tersenyum, "Arigatou, Minna-san.."
Erza melangkah mendekat dengan Sting, "Bagaimana keadaan Lucy? Dia masih belum sadar?" tanyanya.
"Belum, seperti yang kalian lihat. Keadaannya stabil, tetapi tak ada tanda-tanda kalau ia akan sadar" jawab Natsu.
"Kau sudah coba untuk menciumnya belum? Ya seperti kisah putri tidur..mungkin saja, Bunny-Girl akan bangun" goda Gajeel
Levy memukul bahunya, "Gajeel, ini bukan buat bahan lelucon tau!"
"Iya iya..huh" jawab Gajeel.
"Baka, kalau segampang itu membangunkan Lucy, aku akan berjuta-juta kali menciumnya muka besi!" sahut Natsu.
Sting bergidik, "Kau sangat mesum, Natsu-san"
Erza mengangguk, "Betul. Mesum sekali"
Yang lainnya pun ikut mengangguk.
"Bu—bukan begitu! Aarrrrgghh!" ujar Natsu yang sekarang menjadi frustasi.
Erza dan Sting sibuk dengan pembicaraan mereka. Begitu dengan yang lainnya, Jellal memperhatikan kedekatan Sting dan Erza dengan pandangan yang bisa diartikan—tidak suka.
"Jellal? Oooyyyy~" panggil Gray. Jellal pun sadar dan menoleh, "Ada apa?"
"Kau melamun? Apa sedang memperhatikan—" sadar dengan arah pandangan Jellal, Gray pun tersenyum. "Cemburu ya ngeliat Erza sama Sting? Kiw..kiw…" ledek Gray.
"Ap—apa?! Cemburu apanya! Tidak mungkin" jawab Jellal dengan gagap.
"Nani..nani? Jellal cemburu dengan siapa?" Levy pun menyambar.
"Jellal cemburu melihat kedekatan Erza dan Sting~" jawab Gray
"Tidaak!" tukas Jellal dengan segera. Levy tersenyum dan tertawa, "Benarkah? Jellal cemburu dengan Sting?!" seru Levy. Seruannya itu membuat semuanya menoleh padanya. Termasuk dengan Erza dan Sting.
Mendengar hal itu, wajah Erza memerah, dan wajah Jellal pun tak kalah memerah dari Erza. "Diamlah.." ucapnya.
"Nee nee Sting! Jangan dekat-dekat dengan Erza~~ Jellal cemburu~" ucap Gray
"Owaaahh…gomen..gomen..aku tak tahu. Kami keasyikan mengobrol. Baiklah..aku tak akan dekat-dekat dengan Erza-san lagi hehe" Sting pun bergeser dari tempatnya untuk memberi jarak antara dirinya dan Erza.
"Ke—kkkkenapa kalian menjadi menggangguku sih!" omel Erza. Wajahnya benar-benar memerah sekarang.
Sting pun merundukkan tubuhnya, "Gomen, Erza-san. Mulai sekarang, jangan dekat-dekat denganku lagi ya. Aku tak mau menjadi sasaran kecemburuan Jellal-san hoho"
"Stiiiingggg!"
"Sepertinya nanti sepulang dari sini, ada yang akan menjadi sepasang kekasih, kiw kiwww" ledek Gajeel.
Levy dan yang lainnya mengangguk setuju. "Cieeee~~~"
Mereka semua pun tertawa, sedangkan Erza dan Jellal yang menjadi bahan ledekan mereka pun hanya diam menahan malu mereka. Wajah mereka benar-benar memerah. Lucunya..
"Mou sud—" tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan menampakkan seorang suster.
"Maaf ini kan rumah sakit, jadi kalian tidak boleh berisik ya. Tolong, banyak orang sakit disini" ucap Suster itu dengan ramah.
"Ha'i..Gomenasai.." ucap Natsu dan yang lainnya. Suster itu pun hanya menggelengkan kepalanya dan menutup pintunya kembali.
"Huh, kalian sih. Makanya jangan berisik" ucap Erza
"Habis asyik sih menggodamu, Erza~" sahut Levy.
"Leeevvvyyyyy"
Levy pun tertawa, "Iya..iya"
Erza menoleh dan menghampiri Lucy. Ia mengusap kepala Lucy dengan pelan. "Lucy. Ayo bangun, rasanya tak lengkap jika tak ada kau disini"
Levy pun mendekati Lucy dan memegang tangan Lucy, "Lu-chan, kau membuat sedih kalau seperti ini—bukan hanya aku, mereka, semuanya yang menyayangimu menjadi sedih jika kau menutup matamu seperti ini. Bangunlah.."
"Arigatou, kalian sudah memberikan motivasi untuk kakakku..hontou ni..Arigatou.." ucap Michelle.
Semuanya pun tersenyum. Michelle pun menoleh melihat kearah kakaknya. "Nee-chan..lihat..kau punya teman-teman yang sangaaaat baik..ayo cepat bangun.." ucap Michelle.
"Dan juga…musim panas pun akan tiba.." tambah Natsu
Semuanya menoleh pada Natsu, "Benar, musim panas ya..libur pun tiba" sahut Sting.
Natsu tersenyum dan memandang keluar jendela. 'Ulang tahunmu, sebentar lagi akan tiba kan, Luce? Ayo bangun..' batin Natsu.
XXX
Liburan musim panas pun tiba. Sekarang sudah memasuki minggu terakhir bulan Juni. Dimana semua siswa libur sekolah dan menikmati liburan musim panasnya bersama dengan orang-orang yang disayangi. Tetapi beda dengan gadis ini, gadis berambut pirang ini masih menutup matanya—menutup rapat sehingga tak ada orang yang dapat melihat indahnya manik karamel miliknya yang begitu meneduhkan.
Michelle dan Jude sedang duduk didekat Lucy yang masih terbaring disana. Alat pendeteksi detak jantung pun masih bergema diseluruh ruangan. Nafasnya yang begitu stabil terdengar begitu indah.
"Apa Dokter sudah memeriksa Lucy hari ini?" Tanya Jude sambil melipat koran yang telah dibacanya.
Michelle menoleh, "Belum, mungkin sebentar lagi"
"Begitu ya.." Jude melirik jam tangan yang ia pakai dan segera bangkit berdiri.
"Michelle, malam ini, Ayah akan kembali ke Crocus. Karena besok ada klien yang ingin bertemu dengan Ayah, dan yahh tak bisa dihindari. Kau tak apa kan jika sendirian menjaga kakakmu?" jelas Jude yang diakhiri dengan pertanyaan.
Michelle tersenyum dan mengangguk, "Tak apa. Ayah pulang saja"
Jude menghampiri Michelle dan membelai kepala Michelle dengan lembut. "Jika begini, kakakmu kelihatan sangat lemah kan"
Michelle menoleh dan memandangi Lucy, "Hnn"
Jude memandangi Lucy, "Lucy..kapan kau akan membuka matamu..aku rindu padamu, Nak.." ucapnya
Michelle memandang wajah Ayahnya, "Ayah.."
XXX
"Natsu..aku merindukanmu. Bolehkah aku kerumahmu?"
"Tidak bisa, Lis. Aku ingin kerumah sakit untuk menjaga Lucy. Lagipula kau tak ingat dengan janjimu beberapa bulan yang lalu? Kau akan menjauhiku setelah aku bersedia menemanimu ke taman kota kan?" sahut Natsu
"Tapi kan..perasaanku—perasaanku tak dapat dihapuskan. Perasaanku padamu semakin kuat, Natsu" ucap Lisanna diseberang telepon.
"Lis, tolong aku. Jangan merengek-rengek begitu, oke?"
"Natsu, kenapa kau—" belum mendengar perkataan Lisanna sampai habis, Natsu sudah menutup teleponnya. Ia menghela nafas, "Merepotkan"
Natsu pun melemparkan ponselnya ke ranjangnya.
"Pasti Lisanna, ya kan?" Tanya Gray yang sedang bermain video game bersama dengan Gajeel.
Natsu melirik Gray, "Hnn, begitulah. Dia masih saja menggangguku, masih sering meneleponku beberapa hari ini. Bukan hanya itu saja, ia juga mengirimiku beberapa pesan. Aku sempat merinding, aku seperti diteror olehnya" ucap Natsu sambil bergidik.
"Memangnya sedekat apa sih kau dulu dengannya? Jangan-jangan kau pernah berbuat macam-macam sampai dia tidak mau melepaskanmu? Heh?" desak Gray sambil mempause gamenya dan menatap serius Natsu.
Natsu melemparkan bantal kecil kearah Gray dengan sekuat tenanganya. "Enak saja! Aku bukan laki-laki seperti itu, tau!" sahut Natsu
"Aku bingung, kenapa gadis-gadis suka sekali denganmu, lihat saja, seperti Lucy. Lucy cantik, tubuhnya yang...ehm—ya begitulah, lalu dia juga pintar. Lalu ada Lisanna, dia juga tidak kalah cantik, Cuma dia agak kejam, lebih kejam dari Lucy yang dulu..bayangkan saja.." terang Gray.
"Entahlah, mungkin karena aku tampan?" sahut Natsu sambil mengusap-usap bagian belakang kepalanya sambil tersenyum konyol.
"Tampan bodongmu!" Gray melemparkan bantal kecil kembali kearah Natsu.
"Memang iya, kalau aku tidak tampan, aku tidak mungkin diperebutkan seperti ini" ujar Natsu sambil meminum colanya. "Ahhh..segar.."
"Berarti kau benar-benar senang dengan situasi yang seperti ini ya, Salamander?" tanya Gajeel
"Ya tidak juga! Dengar, kalian harus percaya kalau aku hanya mencintai Lucy. Aku benar-benar tidak ingin mengakhiri hubungan ini. Aku benar-benar serius. Dan aku juga sudah memutuskan, setelah kami lulus dari sekolah, aku ingin melamarnya!" ujar Natsu.
Gajeel dan Gray menaikkan sebelah alisnya. "Memangnya gadis pintar seperti Lucy mau langsung menikah setelah lulus sekolah? Yang benar saja..tidak mungkin..." ujar Gray diikuti anggukan Gajeel.
"Bodo amat! Bilang aja lo pada sirik! Ugh" seru Natsu.
"Lalu keadaan Bunny-girl gimana? Dia belum sadar loh" Tanya Gajeel
"Yaa..kalau tidak salah, sudah satu bulan bukan?" tambah Gray.
Natsu mengangguk. "Aku berharap dan selalu berdoa, agar ia cepat membuka matanya"
"Ah, mungkin saja, ia tak mau membuka matanya karena ia tahu kalau ia akan dilamar olehmu, Flame-head!" seru Gray
"Bangke lo!" Natsu melemparkan buku tebal yang ada dimeja kecilnya kearah Gray. Gray pun menghindari serangan itu. "Loh? Bisa saja kan? Ya kan, Gajeel?"
Gajeel mengangkat bahunya, "Entahlah"
"Eh liburan musim panas kali ini, kalian ada rencana mau kemana?" tanya Natsu. "Hmm dirumah saja, aku tidak terlalu menyukai musim panas, dan aku juga tidak menyukaimu, Flame-head!" jawab Gray.
"Sialan kau, Ice-Princess! Kalau kau Gajeel?" tanya Natsu sambil menoleh kearah Gajeel. "Hmm tidak kemana-kemana. Mungkin" jawab Gajeel sambil mengunyah cemilan yang ada ditangannya.
Natsu pun membaringkan dirinya diranjangnya. "Sebulan telah lewat, ah ya..sekolah kita itu memiliki CCTV tidak sih?"
Gray menoleh, "Kau tak tahu ya? Sekolah kita itu udah canggih, ada CCTV dikoridor sekolah, dan juga ada CCTV di setiap sudut tang—Matte..matte! kita bisa tahu kalau kita melihat rekaman CCTV itu!" jelas Gray
Gajeel pun ikut menoleh, "Benar! Kenapa kita begitu bodoh!"
Natsu bangkit duduk, "CCTV ya? Yosshh! Aku akan kesekolah, sekarang!"
"Woy..woy..matte yooo! Pengawas sekolah dan para staff libur saat musim panas begini, baka" ucap Gray. "Mana mungkin semua pada libur, setidaknya ada security bukan? Aku bisa meminta rekaman itu padanya" tukas Natsu.
"Benar juga, kadang-kadang kau pintar juga, otak api!" sahut Gray sambil mengacungkan jempolnya.
"Ya sudah, aku pergi dulu" pamit Natsu yang segera berlari keluar kamar.
"Woy, perlu ditemenin gak?" Tanya Gray.
Natsu masuk kembali dalam kamarnya, "Belajar pakai bajumu dengan benar, Ice-head. Baru ikut denganku!"
Gray pun melihat ke tubuhnya, ia sudah tak memakai apa-apa lagi. "Tidaakkkk! Dimana bajukuuuuuu!"
Gajeel hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan memakan cemilannya.
XXX
"Lisanna"
Mira membuka pintu kamarnya dan mendapati kamar Adiknya tersebut berantakan. Sangat berantakan.
"Lisanna? Kenapa kamarmu berantakan sekali" ucap Mira sambil mengambil beberapa barang-barang Lisanna yang berceceran dilantai kamarnya.
"Pergilah, Mira-nee. Aku tak butuh dirimu" ucap Lisanna
"Lis.."
"Pergiii! Aku hanya butuh Natsu!" bentak Lisanna.
Mira membulatkan matanya saat mendengar bentakan Lisanna. Mira berjalan menghampiri Lisanna dan berdiri didepan Lisanna. "Lagi-lagi Natsu..Natsu..Natsu! Natsuuu lagi! Harus berapa kali aku bilang padamu Lis, perasaanmu tak kan terbalas, karena Natsu hanya mencintai Lucy!" bentak Mira.
Lisanna mengangkat wajahnya dan menatap marah kakaknya. "Mira-nee tak tahu bagaimana perasaanku padanya! Aku..Aku mencintainya! Aku tulus mencintainya! Aku ingin bersamanya, Mira-nee!"
Mira pun memeluk Lisanna dengan erat, Lisanna memberontak "Lepas!"
"Perasaan seseorang tak bisa dipaksakan, Lisanna. Walaupun kau mencintainya, kau harus bisa merelakannya..merelakannya demi kebahagiaannya.." bisik Mira.
Lisanna menggeleng, "Tidak! Natsu akan bahagia bersamaku! Bukan dengan Lucy!"
Mira mengigit bibir bawahnya dan melepaskan pelukannya. Mira menyentuh kedua bahu Lisanna dan menatap dalam mata Lisanna. "Dengarlah Lis! Sadarlah! Natsu bukan satu-satunya pemuda didunia ini!"
Lisanna menyentakkan tangan kakaknya, "Tidak. Natsu adalah satu-satunya pemuda yang ada diduniaku"
Lisanna berjalan mendekati jendela kamarnya dan menatap keluar jendela. "Tapi kenapa..kenapa.."
"Kenapa Natsu! Kenapa kau memilih gadis yang begitu lemah! Walaupun aku sudah mencelakainya, kau masih juga memilihnya! Kenapa! Kenapa!"
Mira membulatkan matanya saat mendengar ucapan yang dilontarkan dari mulut adiknya sendiri. Mira menyentuh bahu adiknya dan membalikkan tubuh Lisanna. "Coba kau ulangi yang tadi kau katakan! Kau apa? Kau sudah mencelakai? Celakai siapa?!"
Lisanna pun tersenyum penuh dengan kepedihan dan menatap kakaknya dengan sorot mata yang kosong, "Ya..aku yang mencelakai Lucy. Aku yang mendorongnya sampai ia mengalami koma selama ini"
"Ap—apa?"
XXX
Disekolah, Natsu memarkirkan mobilnya tepat didepan gerbang sekolahnya. Ia menutup pintu mobilnya dan menghampiri pos security yang menjaga sekolahnya selama liburan musim panas ini.
"Maaf pak mengganggu, saya Natsu Dragneel. Siswa di sekolah ini, ingin meminta tolong padamu.." ucap Natsu dengan sopan.
"Ada apa, Nak?"
"Bisakah aku melihat rekaman CCTV sekolah ini saat bulan kemarin? Keka—hmm maksudku temanku mengalami kecelakaan disekolah, dan aku harus melihat kejadian yang sebenarnya" jelas Natsu.
Security itu pun tersenyum, "Maaf, Nak. Pengawas CCTV hari ini tak masuk. Aku takut jika memberikanmu rekaman pada hari kejadian itu tanpa izinnya, aku akan dipecat oleh pihak atasan"
Natsu tertunduk dan merundukkan tubuhnya. "Aku mohon, Pak. Aku yang akan bertanggung jawab jika ada yang terjadi dengan bapak" pintanya dengan sopan.
Security itu terlihat ragu, tetapi pada akhirnya ia mengangguk. "Baiklah, ayo"
Mereka pun masuk kedalam ruang pengawas, dimana banyak sekali monitor-monitor yang menampilkan bagian-bagian sekolah.
"Tanggal berapa kira-kira itu terjadi?"
"Hmm..23 Mei" jawab Natsu
Security itu mencari rekaman pada saat tanggal yang disebutkan oleh Natsu. "Nah ini dia"
Rekaman itu pun terputar. "Maaf pak, langsung saja pada saat jam sepulang sekolah"
"Baiklah"
Rekaman itu pun di forward, "Ya, sudah sampai disitu saja"
Natsu bisa melihat direkaman itu kalau Lucy sedang berjalan sendiri dikoridor. 'Pasti dia dari perpustakaan' pikir Natsu.
Natsu menjadi tegang ketika melihat Lucy yang berdiri dipinggir tangga sambil menerima telepon. 'Itu pasti saat aku meneleponnya' pikirnya lagi.
Beberapa detik kemudian, Natsu membulatkan matanya. "I—Itu kan..Lisanna?"
Terlihat direkaman itu, bahwa Lisanna berdiri dibelakang Lucy dan mendorongnya. Natsu menggigit bibir bawahnya, mengepalkan tangannya dengan erat, menahan emosinya yang kini kian menggebu.
"Terima kasih atas bantuanmu, pak. Itu sangat membantu. Aku minta tolong rekaman itu disimpan baik-baik. Sekali lagi terima kasih. Aku pamit dulu" ucap Natsu dan setelah itu keluar dari ruangan.
Ia berjalan menuju mobilnya dengan mengepalkan tangannya. "Lisannaaaaa!" geramnya.
.
.
.
.
.
To be Continued
Yohoo! Gimana chapter lanjutannya? alurnya kecepetan ya? haha emang! Nah, Lisanna udah ketahuan ama Natsu dan ngaku juga sama Mira! gimana ya kelanjutannya?! kalian penasaran gak?
Nah, author minta reviewnya yaa~~~
Sekarang author mau bales review yang udah masuk yuhuuu XD
LRCN : Nah, udah liat lanjutannye kan.. XD
dsakura2 : Ini udeh lanjut! Hehe thanks! XD
Wotakuchan : Yaaa diliat perkembangannya aja deh nanti Natsu ama siapa pas akhir hehe XD Bisaa, ini termasuk update kilat gak ya? hehe XD
YD : Author mohon maaf kalo fanfic ini ga sesuai harapan kamu ataupun para readers yang lain, Tetapi setiap author disini boleh berkreasi bukan? termasuk saya sendiri. Terima kasih atas reviewnya :)
K. : Iya dong dua chapter~ biar pada puas bacanya XD Hayooo, Lisanna udeh ngejalanin rencananya tuh..dan jahat banget lohh! hoho XC
Nazu-kun : Jangan dong, kalo Lisanna ketabrak sekarang udah beda ceritanya haha XD Sting bantuin Nalu? menurut kamu gimana sejauh ini hihihi XD
desty dragfilia : Wow, luar binasa? berarti levelnya lebih tinggi dari luar biasa ya! haha XD Desty-chan pikirannya jahat betuul ngarep Lisanna mati huhu XC Yaah emot itu udah menjadi ciri khas author soalnya hehe XP Pasti dilanjutin dooong, ini dia buktinya..gimana gimana buat dua chapter ini?
Oke deh, udah semua reviewnya dibalesin. Para readers yang terhormat, tungguin dua chapter lanjutannya di minggu depan ya! dan jangan lupa buat tinggalin review kalian, okey? XD Author pamit dulu, sampai bertemu minggu depan~~~
Jaa nee,
Yusa-kun XD
