"Kenapa Natsu! Kenapa kau memilih gadis yang begitu lemah! Walaupun aku sudah mencelakainya, kau masih juga memilihnya! Kenapa! Kenapa!"
Mira membulatkan matanya saat mendengar ucapan yang dilontarkan dari mulut adiknya sendiri. Mira menyentuh bahu adiknya dan membalikkan tubuh Lisanna. "Coba kau ulangi yang tadi kau katakan! Kau apa? Kau sudah mencelakai? Celakai siapa?!"
Lisanna pun tersenyum penuh dengan kepedihan dan menatap kakaknya dengan sorot mata yang kosong, "Ya..aku yang mencelakai Lucy. Aku yang mendorongnya sampai ia mengalami koma selama ini"
"Ap—apa?"
Fairy Tail © Hiro Mashima
A Fairy Tail Fanfiction
Between Us
By Yusa-kun
Warning : AU, Typo(s), OOC.
.
.
.
.
.
Plak!
Lisanna membulatkan matanya saat menerima tamparan keras dari kakaknya—Mirajane.
"Kau..Kau tega melakukan itu pada Lucy? Hanya demi pemuda—hanya demi Natsu?! Kau keterlaluan, Lis. Sangat keterlaluan!" bentak Mira.
"Kenapa? Aku hanya ingin merebut apa yang harus menjadi milikku!" jawab Lisanna sambil memegang pipinya yang memerah.
"Apanya yang milikmu?! Hah?! Natsu bukan lah milikmu, Lisanna! Didalam hatimu pun juga tahu hal itu!" Mira menunjuk kearah dada Lisanna.
"Mira-nee, kau tak tahu bagaima—"
"Aku memang tak tahu bagaimana rasanya, tapi aku tak akan pernah melakukan atau berpikir mencelakai seseorang demi seorang pemuda! Aku tak seperti kau. Dan kau..kau bukanlah Lisanna yang aku kenal lagi!" potong Mira.
"Mira-nee.." Lisanna berusaha meraih tangan Mira, tetapi Mira menyentakkannya. "Jangan sentuh aku!"
Mira pun berjalan meninggalkan Lisanna yang kini sudah menangis. "Ap—apa aku salah?" tanyanya.
Mira membuka pintu kamar Lisanna, sebelum keluar Mira menoleh dan menatap adiknya. "Kau masih bertanya apakah yang kau lakukan itu salah? Kau..kau sudah berubah, Lis. Kau bukan Lisanna-ku yang dulu.." ucap Mira, setelah itu Mira pun keluar dari kamar dan menutup pintunya.
Lisanna pun jatuh duduk dan menangis tersedu. "Aku..Aku.."
XXX
"Konnichiwa"
Michelle menoleh kebelakang dan mendapati Levy dan Erza yang berdiri didepan pintu ruangan sambil tersenyum.
"Konnichiwa, Levy-san, Erza-san. Silahkan masuk" ucap Michelle yang sudah berdiri menyambut kedatangan Levy dan Erza.
Levy masuk kedalam dan disusul oleh Erza setelah ia menutup pintu ruangan.
"Kalian hanya berdua? Dimana yang lainnya—Ah arigatou" Michelle menerima sekantong buah-buahan yang dibawa oleh Levy.
Levy dan Erza pun berdiri disamping ranjang Lucy. "Kami datang Lucy" sapa Erza
"Iya, yang lainnya sedang sibuk. Juvia tidak mau keluar dari rumahnya saat musim panas ini. Dia bilang, tubuhnya bisa meleleh menjadi air" jawab Levy.
Michelle tersenyum. "Begitu kah?"
Levy mengusap kepala Lucy, "Konnichiwa, Lu-chan" sapanya
"Dimana Natsu dan Ayahmu?" Tanya Erza.
Michelle yang sedang membereskan buah-buahan yang dibawakan oleh Levy dan Erza pun menoleh dan tersenyum, "Aku menyuruh Natsu-san untuk pulang, dia belum kembali lagi kesini, lalu Ayahku harus pulang karena ada urusan yang harus diselesaikan" jelas Michelle.
Michelle pun berjalan kearah pintu ruangan dan membukanya, "Hmm Levy-san, Erza-san, aku akan membelikan minuman untuk kalian. Tunggu sebentar ya"
Levy dan Erza menoleh, "Kau tak usah repot-repot, Michelle" jawab Erza.
Michelle menggeleng, "Tidak..tidak..tunggu ya" setelah itu, Michelle pun keluar dari ruangan.
Levy menggenggam tangan Lucy, "Lu-chan, aku rindu padamu! Hmm kau harus cepat membuka matamu..aku ingin curhat padamu~~ huaaaa! Dan kau tahuuuuuu..Erza dan Jellal sudah menjadi sepasang kekasih loh! Kau senang kan?"
"Levyyyy"
Levy hanya tertawa pelan, "Biarkan Lu-chan tahu, Er"
Erza tersenyum dan semburat tipis terlihat dipipinya. Saat sedang mengobrol, ponsel milik Erza yang berada di tas kecilnya pun berbunyi, menandakan sebuah panggilan masuk.
Erza mengambil ponselnya yang ada ditas kecilnya dan melihat ke layar ponselnya. 'Jellal?' pikirnya.
"Hallo?" sapa Erza, berusaha tak gugup.
"Erza? Kau ada dimana sekarang?" terdengar suara Jellal yang tegas diseberang telepon.
"Ah, Jellal. Aku di Rumah sakit bersama dengan Levy. Ada apa?" jawab Erza.
Levy pun menoleh dan tersenyum. "Ciee Jellal~"
"Ini gawat! Natsu..—Gray meneleponku dan..dan.."
"Ada apa?!" Tanya Erza yang tadinya ia sedang duduk, ia segera bangkit berdiri karena cemas.
Levy yang memandangnya pun ikut merasa cemas, "Ada apa?"
Erza membulatkan matanya, "Ap—apa?! Hmm baik..baik..Kau hati-hati..aku mengandalkan kalian bertiga ya! Hmm..sore jaa"
Erza pun menutup teleponnya dan memandang kearah Levy, lalu memandang kearah Lucy.
"Ada apa, Er? Kenapa kau terlihat sangat cemas?" Tanya Levy
Erza memandang Levy dengan tatapan yang cemas, "Natsu sudah tahu—ia sudah tahu siapa yang melakukan ini pada Lucy"
"Eh?"
XXX
"Kita harus cepat sampai di rumah Lisanna!" ucap Gray yang duduk disebelah Jellal yang sedang mengemudikan mobil miliknya.
Gray, Jellal dan Gajeel sedang berada didalam perjalanan menuju rumah Lisanna. Kenapa mereka kerumah Lisanna? Karena Natsu sedang berada diperjalanan Lisanna.
Flash back On
Gray yang masih asyik bermain video game bersama Gajeel pun merasa risih dengan bunyi ponsel miliknya. Gray segera mem-pause dan mengangkat panggilan masuknya itu.
"Hallo!"
"Ice-cube. Aku sudah melihat rekamannya" terdengar suara Natsu disana.
"Ah, lalu? Bagaimana?" Tanya Gray sambil menekan tombol 'Loudspeaker' agar Gajeel bisa mendengarnya.
"Lisanna. Lisanna yang mendorong Lucy! Brengsek!" terdengar geraman marah disuara Natsu.
"Be—benarkah?!" ucap Gray dan Gajeel bersamaan. Ya, mereka shock.
"Aku sedang dalam perjalanan kerumah Lisanna. Jangan ganggu aku" setelah mengucapkan itu, Natsu menutup teleponnya tanpa mendengarkan pendapat teman-temannya.
Gray dan Gajeel saling menatap, "Gawat"
Flashback off
"Seharusnya kita biarkan saja anak itu memberikan pelajaran pada Lisanna" timpal Gajeel.
Gray melirik Gajeel yang duduk dikursi belakang, "Kalau tidak dihentikan, Natsu bisa membunuh Lisanna. Kau seperti tak tahu tabiatnya itu!"
"Hah..tabiat yang buruk" ucap Jellal.
"Eh, Gray. Kau tidak menghubungi bocah pirang—ah maksudku Sting? Dia seharusnya ambil andil dalam hal ini bukan?" Tanya Gajeel.
Jellal bergidik, "Jangan menambah masalah dengan menghubungi anak itu. Ia terlihat sama seperti Natsu"
Gray mengangguk, "Benar..benar.."
Tak butuh waktu yang lama untuk sampai di rumah Lisanna, mereka pun akhirnya sampai. Dan didepannya sudah ada mobil Natsu yang terparkir disana.
"Gawat, Natsu sudah datang lebih dulu dari kita" ucap Jellal sambil memutar kuncinya untuk mematikan mesin mobilnya.
"Jelaslah, mungkin sudah terjadi peperangan" jawab Gajeel dengan memasang wajah bosan.
Gray membuka pintu mobil, "Sudah ayo cepat!"
Gray keluar dari mobil diikuti oleh Gajeel dan Jellal. Mereka pun melangkah masuk kedalam rumah Lisanna. Berharap teman mereka—Natsu tak membuat kekacauan.
XXX
"Natsu, duduk lah" ucap Mira pada Natsu yang masih berdiri didepan pintu rumah yang sudah tertutup.
Natsu menatap marah Mira, "Dimana dia? Lisanna" ucap Natsu
Mira terlonjak kaget mendengar pertanyaan Natsu yang menanyakan keberadaan Adiknya. 'Jangan-jangan ia tahu yang telah dilakukan Lisanna pada Lucy..' pikir Mira.
"Mira" panggil Natsu
Mira pun mengedipkan matanya dan sadar dari lamunannya. "Li—Lisanna tak ada dirumah, dia sedang pergi" ucapnya, bohong.
Natsu mengepalkan tangannya, menahan emosinya. Tetapi tiba-tiba bel rumah Mira berbunyi, menandakan kedatangannya tamu.
"Yaa..tunggu ya Natsu.." Mira pun membukakan pintu dan terlihat murid-muridnya yang tak lain adalah Jellal, Gray dan Gajeel.
"Ka—kalian..kenapa ada disini?" Tanya Mira dengan heran.
Natsu pun membalikkan tubuhnya dan melihat bahwa teman-temannya menyusulnya. "Untuk apa kalian kemari?" Tanya Natsu.
"Mira-sensei, apa kami boleh masuk? Kami menjemput anak bodoh yang ada disana" ucap Gray sambil menunjuk kearah Natsu.
"Ap—apa?! Kau bilang aku apa? Anak bodoh?!" seru Natsu
"Sudah..sudah..Natsu..kau sudah dijemput teman-temanmu tuh" ucap Mira sambil tersenyum canggung.
'Baguslah..jangan sampai Natsu bertemu dengan Lisanna' batin Mira
Gajeel dan Jellal masuk kedalam dan masing-masing meraih lengan Natsu. "Ayo kita pulang~" ucap Gajeel
"Hnn" jawab Jellal sambil mempererat pegangannya ke lengan Natsu.
Natsu pun memberontak. "Tidak! Aku ingin bertemu Lisanna! Dia—dia ada dirumah kan?! Jangan berbohong padaku, Mira!"
"Oy, Natsu. Kau tidak sopan memanggil guru kita seperti itu" sambar Gray.
"Lisanna! Lisannaa! Keluar!" teriak Natsu
"Salamander" panggil Gajeel.
Jantung Mira berdegup dengan cepat dan berdoa semoga Lisanna tak mendengar suara Natsu yang berteriak memanggil namanya. 'Kami-sama..' batinnya.
"Natsu tenanglah.." bisik Jellal
Natsu menoleh, ekspresi kemarahan terlihat jelas diwajahnya. "Jellal, bagaimana aku bisa tenang. Apa kau bisa tenang jika Erza dicelakai seperti itu? Itu tak manusiawi!" bentak Natsu sambil menyentakkan kedua lengannya dengan sekuat tenaga. Dan terlepas.
Natsu melangkah masuk dan membuka pintu satu per satu. "Dimana kau Lisanna! Keluar!" ucapnya bercampur dengan geraman.
Natsu memutar knop pintu dan membuka pintunya. Dan terlihat ruangan yang begitu berantakan dan disudut ruangan ada sosok yang begitu ingin ia temui.
"Lisanna!"
Lisanna menoleh dan terlihat bahwa ia habis menangis. Gadis itu melihat sosok Natsu, sosok yang ia cintai—begitu ia cintai dan ia tersenyum. "Natsu!"
Lisanna bangkit berdiri dan melangkah mendekati Natsu. Saat gadis itu ingin memeluk Natsu, Natsu mundur selangkah dan menatap marah Lisanna.
"Kau..Kau..apa yang ingin kau coba lakukan pada Lucy?! Kau puas dengan apa yang kau lakukan? Hah?!" bentak Natsu
Lisanna agak tersentak saat Natsu mulai membentaknya. Mira, Gajeel, Jellal, dan Gray pun melihat kejadian itu dari luar kamar Lisanna.
"Nat—Natsu..aku tak bermaksud—"
Natsu meraih lengan Lisanna dan menggenggamnya dengan kuat-kuat. Lisanna meringis, "Sa—sakit, Natsu" rintihnya.
"Ini tak ada apa-apanya dengan apa yang dirasakan Lucy sekarang! Kau tahu tidak sih apa yang kau lakukan?! Itu tindak kriminal!" bentak Natsu lagi.
Lisanna yang masih meringis kesakitan pun berusaha menatap Natsu, "Tapi..aku—aku melakukan itu agar aku bisa bersamamu..agar kau bisa mencintaiku"
Natsu membulatkan manik hitamnya saat mendengar jawaban Lisanna yang menurutnya tak masuk akal itu. Satu tangannya yang bebas pun siap memberikan tamparan pada wajah Lisanna, tetapi saat itu pula Gray menahannya. Natsu menoleh, "Jangan menahanku, Gray" geramnya.
Gray menggeleng. "Jangan lakukan itu"
Natsu akhirnya menyerah dan melepaskan tangannya yang menggenggam lengan Lisanna. "Aku tak habis pikir kau bisa melakukan ini, Lis" ucap Natsu
Lisanna tertunduk, bahunya dan badannya gemetar. Ia menangis. Mira hanya memalingkan wajahnya, didalam hatinya, ia begitu ingin membela adiknya—adiknya yang begitu ia sayangi. Tapi apa daya, Lisanna memang salah.
'Gomen, Lisanna..' batin Mira.
"Kau tahu..aku begitu mencintaimu, Natsu..aku selalu berada disampingmu dulu..aku..apa aku salah? Apa aku salah mencintaimu?!" ucap Lisanna didalam tangisnya.
Natsu membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari kamar Lisanna. "Ayo kita pulang. Tak ada gunanya disini" ucap Natsu.
Gray, Jellal dan Gajeel pun mengangguk.
"Natsu!" panggil Lisanna.
Natsu berhenti, "Tak ada gunanya disini, berbicara pada seseorang yang tak punya hati" lanjutnya.
Lisanna tersentak dan menangis kembali. Menangis tersedu. Natsu menoleh kebelakang dan memandang Lisanna yang kini tertunduk dan menangis, "Lis, aku tak bisa mengenalimu lagi..kau bukan Lisanna yang aku kenal.." ucap Natsu
Setelah itu Natsu pun berjalan meninggalkan Lisanna dan Mira yang masih terdiam disana.
"Lisanna.." Mira mendekati Lisanna dan memeluk Adiknya. Lisanna pun menangis dipelukan kakaknya.
XXX
"Ja—Jadi Lisanna-san yang—" belum Michelle menyelesaikan kalimatnya, Erza sudah mengangguk.
"Benar, dia yang mendorong Lucy hingga bisa jatuh dari tangga itu" ungkap Erza
Erza akhirnya menceritakan semuanya pada Levy dan Michelle, bahwa Natsu sudah mengetahui siapa pelaku yang membuat Lucy masuk kerumah sakit dan tak sadarkan diri.
"Kejamnya.." ucap Levy.
Michelle menoleh kearah Lucy yang masih tertidur diranjangnya. "Nee-chan—padahal Lucy-neechan adalah gadis yang baik" ucap Michelle.
Levy tersenyum sedih, "Iya, walaupun ia terkadang begitu dingin" timpal Levy
"Benar" sahut Erza
Tiba-tiba pintu ruangan pun terbuka dan menampakkan Sting. Wajahnya terlihat sangat marah. Erza, Michelle dan Levy pun terlonjak kaget. "Sting?!"
Sting masuk kedalam ruangan dan menutup pintunya. "Apa benar itu? Yang Erza katakan?"
Para gadis terdiam, tak ada yang menjawab pertanyaan Sting.
"Hey, jawablah!" desak Sting
"Benar"
Para gadis menoleh kearah pintu, begitu pula dengan Sting. Ia menemukan Natsu, dibelakang Natsu ada Gray, Gajeel, dan Jellal.
Sting yang mendengar jawaban itu pun mengepalkan tangannya. "Kurang ajar!"
Natsu menyentuh bahu Sting, "Sudahlah. Aku sudah menemui Lisanna, dan tidak ada gunanya. Percuma" ucap Natsu.
Sting menatap Natsu, "Kenapa?! Kalau begitu, kita bisa melaporkan dia ke polisi bukan? Itu sudah tindak kriminal, Natsu-san!" ucap Sting
"Sting. Apa kau tak kasihan dengan Lisanna-san? Dia pasti melakukan itu memiliki alasan bukan?" ucap Michelle.
Sting menoleh kearah Michelle, "Benar! Tetapi..perbuatannya..perbuatannya itu tak ma—"
"Manusiawi, benarkan?" potong Jellal yang sekarang sudah berdiri disamping Erza.
Semua terdiam.
"Kita tunggu Lucy bangun. Kita akan bertanya padanya, bagaimana keputusannya tentang ini? Hmm?" usul Erza.
"Hmm aku setuju. Aku rasa, Lu-chan sebentar lagi akan membuka matanya. Tak lama lagi..aku yakin!" jawab Levy.
Sting dan yang lainnya pun mengangguk.
XXX
Malam hari pun menjelang—lebih tepatnya tengah malam. Michelle sudah terlelap di sofa rumah sakit, sedangkan Natsu terlelap dengan kepala di ranjang Lucy dan tangannya menggenggam tangan Lucy. Ya, mereka berdua menjaga Lucy dan bermalam di rumah sakit.
Natsu pun terlonjak kaget saat merasakan pergerakan. Tangan Lucy yang digenggamnya, bergerak.
"Lucy!" panggilnya.
Tak ada pergerakan lagi, tak ada yang menjawab. Lucy pun tak membuka matanya.
Natsu menghela nafas panjangnya. "Apa perasaanku saja ya?" gumamnya.
Natsu melepas genggaman tangannya dan bangkit berdiri, ia membenarkan selimut yang dipakai Lucy dan mengecup kening Lucy.
"Luce..ayo bangun.." bisik Natsu.
Natsu membelai rambut Lucy dengan lembut, "Ini sudah minggu terakhir bulan Juni. Kau tak mau menikmati liburan musim panas denganku dan yang lain?" ucap Natsu.
Tak ada jawaban. Hanya deru nafas yang terdengar dari Lucy.
Natsu tersenyum. "Kau begini juga karena diriku, Luce..gomen.." lirih Natsu.
Natsu kembali menggenggam tangan Lucy, "Aku tak bisa melindungimu..gomen" lanjutnya.
Grep.
Natsu membulatkan matanya saat tangan Lucy merespon genggaman tangan Natsu, "Lucy?! Lucy?"
Michelle yang mendengar Natsu memanggil nama kakaknya pun membuka matanya. "Natsu-san, ada apa?" tanyanya sambil bangkit duduk dan sesekali mengucek matanya yang masih mengantuk.
"Michelle lihat! Lucy menggenggam tanganku. Dia meresponku! Tolong panggilkan dokter!" seru Natsu.
Michelle segera bangkit dan mengangguk, "Ha'i!"
Natsu menggenggam tangan Lucy, "Lucy?"
Perlahan tapi pasti, mata Lucy terlihat bergerak dan perlahan gadis itu membuka manik karamelnya yang selama ini dirindukan oleh orang-orang yang menyayangi dirinya.
Natsu tersenyum, "Lucy..kau bisa mendengarku? Melihatku?" Tanya Natsu.
Lucy mengedipkan matanya perlahan. Samar, itulah kesan pertama kali Lucy membuka matanya. Ia kembali mengedipkan matanya hingga pandangannya menjadi jelas. Telinganya bisa mendengar suara yang selama ini ia rindukan. Suara Natsu yang memanggilnya.
"Lucy…yokatta..Luce.." ucap Natsu sambil mengeratkan genggamannya.
Lucy menoleh dan mendapati kekasihnya—Natsu Dragneel tersenyum padanya. Lucy tak bisa jika ia tak tersenyum pada pemuda disampingnya itu. "Nat..su.." panggilnya dengan terbata-bata.
"Hmm..akhirnya kau sadar.." jawab Natsu.
Lucy tersenyum, "Go..men..membu..atmu menunggu..la..ma" ucapnya dengan masih terbata-bata.
Natsu tak tahan, akhirnya ia memeluk Lucy dengan hati-hati. "Tidak, baka. Tidak..seharusnya aku yang meminta maaf..gomen..gomenne.."
Lucy memejamkan matanya dan mengangkat sebelah tangannya untuk membalas pelukan Natsu.
Pintu ruangan pun terbuka menampakkan beberapa orang suster dan juga seorang Dokter. Natsu melepaskan pelukannya agar Michelle bisa melihat kalau Lucy sudah sepenuhnya sadar.
"Lu—Lucy-nechan!" panggil Michelle. Mata gadis itu sudah berkaca-kaca melihat kakaknya yang tersenyum padanya. Michelle pun menghampiri ranjang kakaknya dan menggenggam tangannya.
"Yokatta..Yokatta..nee..Lucy-neechan..hiks.." ucap Michelle sambil menangis.
Lucy menggenggam tangan Michelle, "Ja..ngan..mena..ngis.." ucapnya
Michelle menghapus airmatanya dan mengangguk, "Hnn..aku hanya bahagia..bahagia sekali.."
Dokter pun berdeham, "Mohon maaf, saya harus memeriksa keadaan Lucy-san lebih dahulu" ucapnya.
Michelle pun bergeser, mempersilahkan Dokter untuk memeriksa keadaan kakaknya. Dibantu dengan suster-suster yang ada, Dokter pun mulai memeriksa Lucy.
Setelah beberapa menit, Dokter mulai menjelaskan keadaan Lucy.
"Keadaan Lucy-san sudah stabil. Tetapi saraf-sarafnya masih kaku, sehingga seperti sekarang, ia belum bisa berbicara dengan lancar." jelas Dokter itu.
Suster yang ada sedang sibuk melepaskan selang oksigen dari hidung Lucy. Setelah selesai, Lucy tersenyum, "Ari..ga..tou" ucapnya.
Suster tersebut tersenyum, "Doitashimaste, Lucy-san. Cepat sembuh ya"
Lucy mengangguk pelan. Suster itu pun berjalan meninggalkan ruangan.
"Tetapi tak ada yang salah dengannya kan, Dok?" Tanya Natsu.
"Besok kami akan melakukan pemeriksaan keseluruhannya dari melakukan CT-scan atau MRI-scan. Dan kami akan terus memantau kondisi Lucy-san" jawab Dokter.
Natsu dan Michelle mengangguk.
"Kalau begitu, saya permisi. Dan untuk Lucy-san. Cepat sembuh, nee?" ucap Dokter sambil tersenyum pada Lucy.
Lucy membalas senyumannya dan mengangguk. "A..ari..ga..tou"
Dokter itu pun keluar dari ruangan meninggalkan Lucy, Michelle dan juga Natsu. Natsu dan Michelle mendekat pada Lucy.
"Hey, kau lapar?" Tanya Natsu
"Apakah Nee-chan haus?" Tanya Michelle.
Lucy tersenyum dan menggeleng, "Ka—ka..lian..tidur..lah..masih ma..lam" ucap Lucy.
Natsu dan Michelle menggeleng, "Tidak, kami berdua akan menjagamu!" ucap Natsu
Lucy tertawa pelan dan meraih tangan Natsu yang menggantung. "Besok..ka..lian..ha..rus seko..lah..bukan?"
Michelle dan Natsu saling berpandangan dan kembali menatap Lucy. "Nee-chan, ini sudah libur musim panas" ucap Michelle.
"E—Eh? Be..nar..kah?" Tanya Lucy.
Natsu dan Michelle mengangguk. "Kau sudah sebulan terbaring disini, Luce..huh"
Lucy menoleh keluar jendela, "Oh..musim..pa..naskah?"
Natsu membenarkan selimut Lucy dan membelai kepala Lucy, "Tidurlah lagi, besok kau akan melakukan pemeriksaan menyeluruh, hmm?"
Lucy mengangguk, "Baik..lah..ka..lian..juga..ti..dur ya"
Michelle dan Natsu tersenyum, "Hnn, kami akan tidur kalau kau sudah tidur lagi" jawab Natsu.
Lucy mengangguk dan menutup matanya kembali mencoba terlelap.
Michelle dan Natsu berpandangan dan tersenyum. "Yokatta ne?" Tanya Michelle. Natsu mengangguk.
XXX
Pagi hari menjelang, Sting yang masih bergelut dengan tempat tidurnya dan selimut miliknya pun akhirnya membuka matanya setelah mendengar ponselnya berbunyi.
Dengan malas ia meraih ponselnya yang berada di bawah bantalnya dan mengangkat teleponnya.
"Hallo? Bisa tidak kalau menelepon jangan pagi-pagi?" ucap Sting sambil menguap
"Baka! Ini aku, Natsu! Haaaa?! Kau bilang ini pagi-pagi?! Ini sudah jam sepuluh, bocah pirang!" terdengar Natsu yang mengomel diseberang telepon.
"Hah?" Sting pun melirik kearah jam dindingnya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat sepuluh.
"Ah iya, sudah pukul sepuluh lewat, jadi? Ada apa kau meneleponku?" Sting sudah bangun dari tidurnya dan duduk bersandar.
"Aku ingin memberitahumu, Lucy sudah sadar. Dia sekarang sedang melakukan pemeriksaan menyeluruh" jawab Natsu
"Be—Benarkah?!" seru Sting.
"Iya!" jawab Natsu yang tak kalah seru.
Sting bangkit berdiri, "Baiklah, aku akan kesana!" Sting menutup telepon dan melempakan ponselnya ke tempat tidurnya.
"Yeeaayyyy! Lucy sudah sadar! akhirnya!" serunya.
"Sting! Jangan lompat-lompat. Berisik! Kau kan bukan anak kecil lagi!" terdengar teriakan Ayahnya dari luar kamarnya.
Sting berhenti melompat kegirangan dan menyambar handuknya. "Sorry, dad!" sahutnya.
XXX
"Luuu-chaaaan!" panggil Levy dari luar ruangan yang segera memeluk Lucy.
Teman-teman yang berada dibelakangnya pun mengikuti Levy masuk kedalam ruangan rawat Lucy. "Konnichiwa!" sapa mereka.
"Konnichiwa, minna-san" sahut Michelle.
Lucy membalasa pelukan Levy, Levy menangis bahagia melihat sahabatnya yang sudah kembali pulih.
"Aku senang sekali kau sudah sadar! aku rindu sekali, Lu-chaaannnn~~" rengek Levy
"Udang, kau seperti anak kecil, berhenti merengek" sambar Gajeel.
Levy melepaskan pelukannya dan merengut kesal, "Bodo!"
Lucy tertawa pelan, "Le..vy-chan..minna..ari..gatou.." ucap Lucy
Semuanya tercengang mendengar cara Lucy berbicara. "Lu-chan..kenapa kau terbata-bata seperti itu?" Tanya Levy. Lucy hanya tersenyum.
"Dokter bilang saraf-sarafnya belum pulih benar—masih kaku. Tetapi untuk keseluruhan dia sudah tak apa" jelas Natsu.
"Hmm souka. Jaaa..Lu-chan..Lu-chan..kau tahu tidak? Selama kau sebulan tertidur, Erza dan Jellal sudah menjadi sepasang kekasih looohh!" ungkap Levy.
Lucy melemparkan pandangannya pada Erza dan Jellal yang berdiri berdampingan, detik kmudian dia tersenyum, "Yo..katta..ne..Erza..Jellal.."
Jellal dan Erza mengangguk. Pipi mereka pun merona merah.
Srek!
Pintu terbuka dan menampakkan Sting yang terlihat berdiri terengah-engah. "Lu..cy.." panggilnya
Semua orang yang berada didalam ruangan menoleh padanya. "Sting, akhirnya kau datang" ucap Gray. Sting menutup pintu dan berlari langsung menghampiri Lucy yang duduk diranjangnya. Levy yang berdiri pun dipaksa menyingkir oleh Sting.
Sting memeluk Lucy dengan erat, "Lucy! Kau membuatku cemas! Baka..baka.." ucapnya
Natsu mengepalkan tangannya, "Oy! Jangan memeluk pacar orang sembarangan!" omelnya.
Sting tidak mempedulikan omelan Natsu yang ada dibelakangnya itu. Terlihat semburat merah dipipi Lucy dan Sting. "A—ari..ga..tou..Sting"
Sting memejamkan matanya dan tersenyum. "Hnn"
"Sudaaahhh! Lepaskan pelukanmu itu pada Lucy!" omel Natsu yang tak henti-henti.
Sting pun yang masih memeluk Lucy menoleh kearah Natsu dan menjulurkan lidahnya untuk meledek Natsu, "Tidak akan aku lepaskan, wleeee" ucapnya
Natsu pun menghampirinya dan mengomel tak karuan, dan tak lupa ia bersiap untuk memukul Sting dengan bogemannya. Lucy pun memukul dada Sting dengan pelan, karena memang ia masih belum bisa bergerak dengan lancar. "S—Sting haha.." ucap Lucy sambil tertawa.
Sting pun melepaskan pelukan Lucy dan berlari kabur menghindari pukulan Natsu. Dan semua orang yang ada diruangan itu pun tertawa.
Diluar ruangan Lucy, sosok Lisanna berdiri diam disana, tangannya terulur ingin membuka pintu ruangan itu tetapi ia mengurungkan niatnya dan melangkah pergi.
'Mungkin bukan saatnya..' batin Lisanna.
XXX
Hari-hari pun berlalu, Lucy pun keadaannya sudah mulai membaik. Cara berbicaranya sudah lancar, ia dapat menggerakkan sebuah fungsi tubuhnya dengan lancar. Setelah sadar beberapa hari lalu, ia mengalami sakit kepala yang begitu hebat hingga ia mual dan muntah. Tetapi karena Dokter memberinya obat untuk menghilangkan rasa sakit kepalanya itu, Lucy pun kini telah pulih.
"Natsu.."
Natsu yang sedang membaca majalah pun melirik kekasihnya dan menutup majalah tersebut, "Ada apa?"
"Yappari..tidak apa-apa" jawab Lucy sambil tersenyum.
Natsu memiringkan kepalanya dan memandang heran kekasihnya yang sekarang sedang melihat keluar jendela.
"Gomen, membuatmu menjagaku selama libur musim panas ini. Seharusnya kau menikmati liburan ini bukan?" ucap Lucy.
Natsu terkekeh, "Percuma kalau aku menghabiskan liburan musim panas ini tanpa dirimu, Luce" jawab Natsu.
Lucy tersenyum. "Maaf juga aku selalu merepotkanmu.." tambah Lucy.
"Baka. Kau tak perlu berbicara seperti itu" jawab Natsu sambil membuka majalahnya lagi, dan mulai membacanya.
"Hnn" Lucy lagi-lagi tersenyum.
Natsu mengerutkan keningnya dan menutup majalahnya. "Lucy"
Lucy menoleh dan menatap Natsu yang menatapnya serius, "Hmm? Ada apa?"
"Mengenai kecelakaan yang dialami oleh dirimu..kau—kau tahu siapa—"
"Ah itu.." Lucy memberi jeda saat ingin memberikan jawaban pada Natsu. Natsu memandang wajah Lucy dengan serius.
"Aku tergelincir saat meneleponmu, Natsu. Tidak ada siapapun saat itu. Percayalah" lanjut Lucy sambil tersenyum. Natsu menatap dalam ke manik cokelat meneduhkan milik kekasihnya itu. "Jangan bohong, Luce"
"Eh? Ak—aku tidak berbohong" elak Lucy.
"Kau tahu, kalau sekolah kita memiliki beberapa CCTV? Di koridor dan juga di tangga?" Tanya Natsu. Lucy membulatkan matanya dan memalingkan wajahnya. "Aku..aku.."
"Aku sudah tahu bagaimana kejadian itu sebenarnya. Kau didorong oleh Lisanna kan?" Tanya Natsu.
Lucy mengepalkan kedua tangannya dan menoleh kearah Natsu, "Ti—maksudku Lisanna tak sengaja. Dia..dia juga tergelincir dan tak sengaja ia mendorongku..dan..dan.."
Grep.
Natsu memeluk Lucy dan membuat Lucy terdiam. "Lucy..kau—kau kenapa menyembunyikan perbuatan Lisanna? Dia..dia telah berbuat jahat padamu, Luce.."
Lucy membalas pelukan Natsu. "Aku yakin, dia tidak sengaja melakukan itu, lagipul aku juga sudah tidak apa-apa, jangan kau permasalahkan lagi, nee?"
Natsu melepaskan pelukannya dan meraih wajah Lucy. "Kau seperti seorang malaikat, Luce..baik sekali.." pujinya.
Lucy tertawa pelan, "Jika aku seorang malaikat, aku tak akan mau berpacaran denganmu, baka" jawabnya.
Natsu duduk diranjang bersama Lucy dan merengut kesal, "Jadi kau sebenarnya tak mau bersama denganku? Hmm?"
Lucy menggenggam tangan Natsu, "Makanya jangan bilang kalau aku malaikat"
"Kau aneh, Luce.." ucap Natsu tiba-tiba.
Lucy menoleh, "Eh? Kenapa kau tiba-tiba bilang kalau aku aneh? Kau mau mati ya?!" omel Lucy.
Natsu terkekeh, "Habis, semua gadis pasti akan senang jika dipuji dirinya seperti malaikat, kenapa kau tidak~"
"Haha berarti aku adalah gadis yang langka bukan? Kau seharusnya beruntung memiliki gadis langka sepertiku" jawab Lucy sambil tertawa.
Natsu menoleh dan memandang wajah Lucy yang tersenyum padanya. Natsu meraih wajah Lucy dengan tangannya yang bebas dan mendekatkannya pada wajahnya. Nafas mereka beradu. Lucy tersenyum.
"Aku mencintaimu, Natsu.." ucap Lucy
"Aku juga, Luce" jawab Natsu
Kini jarak yang memisahkan mereka berdua tinggal beberapa sentimeter saja, dan entah kenapa bukan untuk kali ini, Lucy dan Natsu merasa jantungnya berdebar semakin cepat. Lucy memejamkan matanya saat bibirnya menyentuh bibir Natsu. Mereka pun akhirnya tenggelam dalam ciuman yang lembut. Mengalirkan rasa kasih sayang mereka masing-masing.
Diluar ruangan, Sting yang sudah membuka pintu ruang sedikit pun memejamkan matanya dan kembali menutupnya. Ia melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu. Ia merasa hatinya begitu perih, terasa seperti tertusuk berkali-kali lipat dengan pisau yang sama. Tetapi ia selalu sadar kalau yang dibutuhkan Lucy bukanlah dirinya. Yang dibutuhkan seorang Lucy, yang dicintai oleh gadis itu adalah Natsu Dragneel, bukan Sting Eucliffe.
XXX
Malam ini adalah dimana malam berakhirnya bulan Juni, dan akan berganti menjadi bulan Juli. Ya, bulan Juli. Apakah ada sesuatu yang spesia dibulan ke tujuh itu? Ada.
Natsu sedang mengendarai mobilnya melewati pertokoan. "Aku harus membeli sebuah kue..kue.." ucapnya
Ponselnya tiba-tiba berbunyi, tanpa melihat siapa yang menelepon, ia langsung menjawabnya, "Hallo?"
"Hoy! Natsu-san! Kenapa kau tak bilang kalau Lucy besok berulang tahun?!" terdengar suara Sting yang mengomel disana.
"Oh, kau sudah tahu ya? Ya sudah" jawab Natsu.
"Cih. Kau sengaja kan menyembunyikannya dariku? Huuu"
"Sudah ah, kalo mau ngomel-ngomel mending sama tembok kamarmu saja. aku sedang sibuk. Sampai nanti!" Natsu segera menutup teleponnya. Natsu tertawa pelan, "Bagaimana mungkin aku memberitahu hal penting pada rivalku" gumamnya.
XXX
Lucy sudah terlelap dalam tidurnya, begitu juga dengan Michelle. Jam dinding diruangan Lucy pun sudah menunjukkan pukul dua belas lewat dua menit. Berarti sudah pergantian tanggal.
1 Juli. Selamat ulang tahun Lucy.
Natsu diam-diam berdiri didepan ruangan Lucy sambil salah satu tangannya membawa kotak didalamnya berisi kue ulang tahun. Sedangkan tangannya yang bebas, menekan tombol ponselnya untuk menghubungi Lucy.
Didalam ruangan Lucy, Lucy membuka matanya saat mendengar ponselnya berbunyi. "Siapa malam-malam begini meneleponku.." gumam Lucy
Lucy meraih ponselnya dan mengangkat telepon itu. "Moshi-moshi?"
"Bisakah kau membuka pintu ruang rawatmu, Luce?" terdengar suara yang familiar bagi Lucy. Suara itu adalah suara Natsu.
"Eh? Ada apa, Natsu?"
"Cepat!" ucap Natsu
Lucy pun bangun dengan perlahan. Ya, dia sudah tak memakai selang infus. Ia sudah sepenuhnya berada didalam level baik, bahkan sangat baik. Ia berjalan dengan pelan untuk mencapai pintu ruangannya. Dan betapa kagetnya saat ia telah membuka pintu ruangannya itu.
"Natsu?"
Terlihat Natsu yang berdiri disana dengan cengiran khasnya yang begitu manis dengan headset yang berada ditelinganya untuk membantunya menelepon Lucy. Pemuda itu berdiri dengan membawa sebuah cake dengan lilin-lilin yang sudah menyala.
Lucy menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Otanjoubi..omedetou..Luce.." ucap Natsu
Lucy tak menjawab apa-apa. Ia shock sekaligus bahagia, manik karamelnya berkaca-kaca.
"Luce? Kau sungguh tak sopan! Aku kan sudah mengucapkan ulang tahun padamu, masa kau tidak menjawabnya!" protes Natsu.
Para suster yang berjaga malam pun tersenyum melihat adegan itu. Ada pula yang berbisik-bisik. Lucy dan Natsu tak peduli akan hal itu. Lucy pun tersadar, "Ah ya..arigatou, Natsu.." ucapnya. Pipinya telah merona merah dan terlihat sangat manis dimata Natsu.
"Nee-chan, ayo tiup lilinnya~"
Lucy menoleh kebelakang dan mendapati Michelle yang sudah terbangun dan tersenyum padanya. Lucy mengangguk dan menoleh lagi kearah Natsu.
"Sebelum itu, make a wish dulu" ucap Natsu
Lucy mengangguk dan memejamkan matanya. 'Tuhan aku berharap, semoga kebahagiaan ini tidak kau ambil kembali. Semoga aku dan pemuda bodoh ini bisa selalu bersama-sama setiap tahunnya. Menikmati silih bergantinya musim dan melewati suka duka bersama. Dan juga.. jaga semua orang yang aku sayang..aku mohon padamu..'batin Lucy.
Fyuh.
Lilin-lilin itu pun padam setelah ditiup oleh Lucy. Michelle dan beberapa suster yang menontonnya pun bertepuk tangan.
"Happy birthday, Lucy-san"
"Otanjobi omedetou, Lucy-san"
"Happy birthday nee-chan" ucap Michelle sambil memeluk kakaknya. Lucy membalas pelukan Michelle, "Arigatou, Michelle"
Banyak para suster yang memberikan ucapan dan do'anya untuk Lucy. Dan Lucy pun menyuruh Michelle membagikan kuenya pada para suster yang ada pada malam ini. Michelle pun mengangguk dan membawa kue itu ke pantry rumah sakit, meninggalkan Natsu dan Lucy berdua didalam ruangan.
Natsu berdeham dan memandang Lucy yang kini duduk dihadapannya, "Luce.."
"Ada apa?" jawab Lucy.
"Aku ingin memberikanmu sesuatu" Natsu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak dan menyodorkannya pada Lucy. "Terimalah.."
Lucy menerimanya, "Kau seharusnya tak perlu repot begini, Natsu.."
"Sudahlah..ayo buka" ucap Natsu.
Lucy membuka kotak tersebut dan membulatkan matanya. Sebuah cincin, cincin yang begitu sederhana. Lucy menoleh dan memandang Natsu. "Ini.."
Natsu bangkit berdiri, berjalan menghampiri Lucy dan berjongkok menyamai tingginya. Natsu mengambil cincin yang berada dikotak itu, "Aku tak akan memakaikannya dijari manismu itu" ucap Natsu.
"Eh?"
"Tapi.." Natsu mengeluarkan sebuah kalung tanpa liontin. Ia memasukkan cincin itu kedalam kalung itu, dan cincin itu sendiri yang menjadi liontinnya.
Natsu bangkit berdiri dan berdiri dibelakang Lucy. "Sebelum aku menjadi dewasa, sebelum aku bisa menjadi seseorang yang mapan dan sukses, pakailah cincin ini yang menjadi kalung ini dilehermu. Jika aku sudah dewasa—"
Natsu melingkarkan kalung itu dileher Lucy. "Jika aku sudah dewasa, aku akan melamarmu dan memakaikan cincin ini dijari manismu. Kita dapat hidup bersama" lanjut Natsu.
Natsu pun selesai memakaikan kalung itu. Lucy membenarkan rambutnya dan menoleh kebelakang. "Natsu..Arigatou"
Natsu mengangguk dan membuka syal yang ia pakai. Lucy membulatkan matanya saat melihat cincin dengan motif yang sama ada disana—dileher Natsu.
"Disini ada namamu, Luce. Dan cincin yang kau pakai itu, ada namaku." Natsu menunjuk kearah cincin yang menjadi kalung disana.
Lucy tersenyum tipis dan mengangguk. "Hnn"
"Ah.." Natsu memegang cincin yang ia pakai dilehernya, dan Lucy pun menoleh dan bangkit berdiri.
"Ada apa?" tanya Lucy.
Natsu tersenyum tipis dan tidak lama kemudian Natsu pun mengecup bibir Lucy. Lucy pun membulatkan matanya karena terkejut. Natsu pun melepas ciumannya dan tersenyum. "Gotcha!"
Lucy tersenyum dan menarik syal Natsu agar mendekat padanya dan akhirnya ia mencium Natsu. Pada awalnya Natsu terkejut, pada akhirnya Natsu memejamkan matanya, menikmati ciuman lembut itu.
Natsu pun melepaskan ciuman itu dan mendekatkan keningnya ke kening Lucy. Mereka pun tersenyum.
"Aku mencintaimu, Luce.." Ucap Natsu
"Aku juga, Natsu" jawab Lucy
Keinginan mereka pada saat ini sama, mereka ingin melewati suka duka bersama—selamanya.
.
.
.
.
.
To be continued
Next!
