Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Story by Faris Shika Nara
Rated T (maybe)
Warning : AU, OOC, TYPO DLL.
Naruto-kun
Sebelumnya...
"Siapa kau?'
"Aku Naruto-kun, aku Naruto-kun boneka milikmu!"
"Na-naruto-kun?" Pemuda itu mengangguk dan tersenyum lembut kepadanya.
Chapter 3
"Apa kau bercanda? Naruto-kun itu boneka, bukan manusia!" Hinata menepis pengakuan dari pemuda yang ada didepan-nya. Walaupun sesungguhnya pemuda itu berkata benar, tapi, Hinata merasa dirinya masih normal. Bagaimana bisa boneka jadi manusia. Jadi ia hanya berfikir kalau pemuda didepan-nya hanya berbohong.
"Tapi, aku memang Naruto-kun. Lihat, rambutku berwarna kuning dan juga tanda lahir ini, sama kan, seperti boneka milik-mu?" Pemuda itu masih ngotot meyakinkan, Sembari memegang rambut kuning miliknya dan juga menunjuk-nunjuk 3 goresan halus yang melekat di pipinya. Bagaimanapun juga dia adalah boneka itu.
"Oke, rambut-mu memang mirip, dan juga, tanda lahir di pipi-mu! Kalaupun kau memang boneka Naruto-kun milik~"
"Aku memang boneka Naruto-kun milik~"
"Diam kau, pemuda tampan! Jangan seenaknya kau memotong perkataan-ku!" Urat-urat di dahi Hinata mulai terlihat, matanya melotot dengan tangannya yang menunjuk-nunjuk pemuda yang ada didepan-nya itu. Ia balik memotong perkataan pemuda yang ada didepan-nya. Tiba-tiba saja hatinya mencelos, berani-beraninya pemuda itu mengaku-ngaku sebagai Naruto-kun boneka kesayangan miliknya. Ditambah kelakuan pemuda itu yang suka memotong perkataannya, itu membuat Hinata tidak tahan untuk sesegera membungkam mulut pemuda itu.
"Tampan? Jadi aku ini tampa~"
"Sst!" Ucap Hinata sembari meletakkan tangan kanannya didepan mulut, tangan-nya ia gerakkan ke samping, memberi isyarat bagi pemuda itu untuk menutup mulutnya.
"Stop! Diam! Tutup mulut-mu!" Ucap Hinata sebal bercampur malu. Dengan tidak sadar, ia mengakui pemuda didepan-nya itu sangatlah tampan. Kini wajahnya mungkin sudah sangat merah. Bukan, bukan mungkin. Tapi pasti memerah.
Pemuda itu kemudian langsung terdiam dengan mulut yang sedikit terbuka. Baru kali ini dia melihat Hinata -pemiliknya begitu ngotot.
"Dengar baik-baik tuan." Ucap Hinata dengan menekankan kata 'Tuan'. "Kalau kau memang boneka milik-ku, bagaimana bisa kau berada disini? Boneka-ku ada dirumah, jadi tidak usah mengada-ada!" Ucap Hinata kesal, ia tak peduli lagi walaupun pemuda itu tampan, ia paling tidak suka kalau orang lain membicarakan boneka kesayangannya.
"Tadi aku berada dalam tas sekolah milik-mu! Itulah kenapa aku disini!" Kata Naruto menjelaskan.
"Oh, jadi kau ada didalam tasku, lalu kau tiba-tiba berubah menjadi manusia seperti di tv-tv, begitu?" Jelas dan tanya Hinata dengan nada yang sedikit mengejek, berharap pemuda itu akan menghentikan omong kosongnya.
"Ya,, itu benar!" jawab Pemuda itu singkat.
"Itu tidak mungkin! Semua itu hanya terjadi dalam dongeng!" Hinata masih ngotot, apalagi semua penjelasan dari pemuda itu sangatlah tidak mungkin, mustahil.
"Apa yang harus kulakukan agar kau percaya Hinata-chan?" Pemuda itu sudah lelah berdebat dengan Hinata. Semua yang ia katakan tidak ada yang bisa meyakinkannya.
"Tidak ada!" jawab Hinata cepat.
"Dengarkan aku dulu Hina~"
"Tidak, aku tidak akan mendengarkan omong koso~"
"Diam, dan dengarkan aku! Atau bibir-mu itu akan aku cium supaya kau diam!" Pemuda itu berkata tegas, kemudian menyeringai menggoda. Pemuda itu kemudian tersenyum dalam hati, ia teringat seseorang, seseorang yang selalu bisa membuat wanita manapun langsung terdiam membatu, saat mendengar kata-kata tersebut.
'Cium' Hanya dengan memikirkannya saja, itu sudah berhasil membuat jantungnya berpacu memompa darahnya dengan cepat. Apalagi kalau membayangkan dirinya dicium pemuda tampan yang sedang berdiri didepan-nya itu. 'Oh Tuhan! Kenapa wajahku tiba-tiba memanas seperti ini.' Pikirnya dalam Hati. Hinata tidak menyangka, kalau dirinya akan berfikir sejauh itu saat mendengar kata 'Cium' yang keluar dari mulut pemuda itu.
"Ba-baiklah!" Kini Hinata malah pasrah, menjawab perkataan pemuda itu dengan nada tergagap, tak lupa dengan wajahnya yang mulai memerah, se-merah lipstik kepala sekolah.
"Bagus, sekarang dengarkan aku!"
"Semua yang telah aku katakan padamu, tak satupun kau mempercayainya!" Ucap pemuda itu dengan menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Wajahnya tampak berfikir, memikirkan sesuatu.
"Ah,, ada satu cara agar kau percaya!" Ucap pemuda itu setelah beberapa saat berfikir. Ia kemudian tersenyum bahagia pada Hinata.
"A-apa?" Tanya Hinata. Wajahnya kian memerah saat melihat senyuman lebar itu. Dalam hatinya, ia sudah berteriak 'Kawaii' sekencang-kencangnya ketika melihat senyum yang sangatlah menawan menurutnya.
"Aku belum berubah sempurna menjadi manusia, yang bisa melihatku sekarang hanyalah kamu saja. Jadi, kalau kau berbicara denganku ditempat umum, maka kau akan disangka orang gila." Jelas Naruto panjang lebar. Naruto kemudian segera berjalan menuju tempat duduk disebelah bangku Hinata. Kini ia hanya duduk manis menopang dagunya dengan tangan kiri sembari menatap Hinata intens.
Sementara Hinata hanya berdiri mematung sambil menatap pemuda itu. 'Bagaimana mungkin hanya aku yang bisa melihat-mu!' Ucap Hinata dalam hati. Mata perak miliknya kemudian mulai menatap intens pemuda itu dari atas ke bawah.
'Bagaimana mungkin hanya aku yang bisa melihat-mu, apalagi kau mempunyai wajah yang sangat tampan seperti itu, dan juga rambut kuning-mu yang sangat mencolok. Semua orang pasti bisa melihat-mu!' Pikirannya masih tetap tidak percaya, Hinata masih yakin kalau boneka Naruto-kun miliknya berada dirumah, dan pemuda yang sedang duduk dengan matanya yang tak lepas darinya itu hanyalah seorang pembohong.
"Benarkah?" Tanya Hinata dengan nada terkejut yang ia buat-buat.
"Kita lihat saja nanti!" Ucap pemuda itu kemudian tersenyum lembut pada Hinata.
'Ukh,,Senyum itu!' Kembali, Hinata dengan mudahnya terpesona pada pemuda itu, terpesona hanya karna sebuah senyuman.
.
.
.
.
"Ceklek"
"Hinata, kenapa kau begitu lama sekali! Kau tau, kita sampai jamuran, menunggu-mu di Kantin?!" Ucap gadis pirang yang ternyata adalah Yamanaka Ino.
"Ya, kenapa kau lama sekali,, dan kenapa wajahmu memerah?" Kini gadis rambut pink -Sakura Haruno ikut menimpali.
"Tanyakan saja pada pemuda itu!" Ucap Hinata pada 2 sahabatnya sembari menunjuk Naruto yang duduk manis dengan senyumnya yang menawan.
"Pemuda siapa? Dimana?" Tanya kedua sahabatnya bersamaan. Matanya melihat setiap sudut area kelas, mencoba mencari pemuda yang Hinata bicarakan.
Matanya tidak menangkap apapun, yang dihadapan mereka hanyalah ruangan kosong, dengan meja dan kursi yang tersusun rapi didalamnya, yang hanya didiami 3 gadis yang tak lain adalah mereka sendiri. Kedua mata sahabat Hinata itu kemudian ia arahkan kearah jari Hinata yang menunjuk. Disana tidak ada apa-apa, dan hanya ada tembok yang membatasi jarak pandang mereka.
"Hinata, apa yang kau tunjuk?" Tanya Haruno Sakura dengan nada yang sedikit heran, heran dengan kelakuan sahabatnya itu.
"Pemuda yang membuatku tak menemui kalian di Kantin!" Ucap Hinata masih menunjuk.
"Disana hanya ada tembok, tidak ada apa-apa!" Kini gadis berambut kuning yang berkata, si rambut pink kemudian mengangguk ikut membenarkan.
"Itu, dia sedang duduk disebelah kursi milik-ku!"
"Tidak ada siapapun disana. Apa kau mencoba mengalihkan pembicaraan Hinata? Kau tidak perlu takut, aku tidak akan menjauhi-mu. Kau hanya perlu meminta maaf padaku, karna sudah membuatku menunggu!" Ucap Ino sembari menatap Hinata Heran.
"Sangat lucu teman-teman. Sangat lucu!" Ucap Hinata sembari tertawa paksa, ia tak menyangka, kalau sahabatnya juga ikut andil dalam acara berbohong ini.
"Apa?" Ucap sahabatnya bersamaan dengan kedua tangan yang diangkat sejajar dengan dada.
Hinata, hanya menggeleng pelan. Mata peraknya menatap kedua sahabatnya kemudian ia alihkan menatap pemuda yang sedang duduk itu secara bergantian. Matanya memelas, menyiratkan kalau ia sedang memohon pada kedua sahabatnya untuk menghentikan omong kosong ini.
"Mungkin kau sedang senang karna kalung baru dariku, sehingga kau menghayal yang tidak-tidak!" Ucap Ino kemudian mendekat satu langkah ke arah Hinata.
"Ayo kita duduk, sebentar lagi bel berbunyi!" Ucap Ino kemudian segera menggiring Hinata menuju kursinya. Kepalanya ia tengok-kan menatap sahabatya yang sedang berdiri menatapnya. Memohon pembelaan dari sahabat pink-nya.
"Benar, ayo kita duduk!" Teman pink-nya ikut menggiring Hinata menuju kursinya. Sementara Hinata hanya menggembung-kan pipinya sebal, tak satupun sahabatnya percaya padanya.
Sementara kedua gadis itu menggiring Hinata, Pemuda -Naruto itu hanya terkikik pelan melihat Hinata yang digiring temannya itu dengan pipinya yang menggembung dan bibirnya yang mengerucut. Wajahnya terlihat lucu dan menggemaskan.
Suara deringan sebuah bel pun kemudian berbunyi, terdengar diseluruh sudut area sekolah itu.
Hinata kini terduduk di bangku miliknya. Matanya ia alihkan ke samping, menatap Naruto yang juga sedang menatapnya sekarang dengan senyum yang melekat di wajahnya. Naruto tersenyum lembut ke arahnya, sembari berkata.. ''Lihat, apa kau sekarang percaya?''
Hinata hanya mengalihkan pandangannya kedepan, tak menggubris perkataan pemuda yang duduk tepat disampingnya itu. Matanya menatap lurus kedepan dan mendapati murid murid yang mulai memasuki ruangan kelas, tak lupa juga ia mendapati Uchiha Sasuke yang berjalan dengan gontainya, dengan keningnya yang berbalut perban akibat ulahnya sendiri.
Selang beberapa saat, seisi kelas sudah terpenuhi oleh para siswa siswi. Suasana riuh-pun terdengar di kelas itu, tapi itu hanya beberapa saat, karna guru killer nan horor itu mulai memasuki kelas. Guru itu bernama Yamato, dia adalah guru biologi yang menakutkan. Memberikan rasa takut pada semua siswa dengan sebuah tatapan. Tatapan kosong yang berkesan horor bagi siapapun yang melihatnya.
"Buka buku Biologi kalian pada halaman 34 dan bacalah hingga halaman 40, kalau ada yang kalian tidak mengerti silahkan bertanya!" Pelajaran pun dimulai, para siswa-siswi mulai mengerjakan apa yang diperintah oleh Guru yang sekarang berkutat dengan kertas dan bolpen yang duduk di depan itu.
Suasana menjadi hening, semua murid kini sedang berkutat dengan buku pelajarannya. Pun sama halnya dengan Hinata, ia mulai membuka buku tebal yang kira-kira 3 centimeter itu.
Setelah beberapa saat membaca, ia menggeser manik perak matanya ke samping. Untuk mengintip sesuatu yang ada disampingnya, sesuatu yang menurutnya hanyalah halusinasi, sesuatu yang diciptakan oleh otaknya.
Ia mendapati Naruto yang sedang menopang kepalanya menghadap dirinya. Naruto tersenyum, hanya tersenyum dengan matanya yang tak lepas dari wajahnya.
Itu membuat jantung Hinata berdebar, walaupun menurutnya dia hanyalah sebuah halusinasi. Siapa yang tidak gugup kalau kau diperhatikan oleh orang yang sangat tampan dan keren seperti Naruto.
Hinata langsung menghadap kedepan dengan jantungnya yang berdegup dengan cepat, ia gugup, ia merasa malu kalau diperhatikan seperti itu. Wajahnya memerah, genggaman pada bolpen pada tangan kirinya semakin kuat, berharap bisa meredam rasa malu dan gugup yang menyerangnya. Ia kemudian hanya menunduk, menyembunyikan wajah cantiknya yang sudah se-merah tomat, menyembunyikannya dibalik rambut Indigo panjangnya. Ia tidak ingin semua orang mengira dirinya aneh, yang tiba-tiba wajahnya memerah tanpa alasan, itu akan merusak nama baik Hyuga Hinata.
Sekarang hanya kata Fokus yang ada di pikiran Hinata, ia hanya ingin fokus membaca buku biologi itu dengan benar. 'Konsentrasi' Ucapnya dalam hati kemudian menghela nafas, berharap detak jantungnya kembali normal.
'Ukh, apalagi ini?' Tanyanya dalam hati. Ia merasakan ada sesuatu yang sedang bermain-main dengan rambutnya. Ia mencoba tetap berkonsentrasi, ia tidak ingin tau dan tidak mau tau apa atau siapa yang sedang memainkan ujung rambutnya. Bahkan untuk sekedar melirik saja ia tidak mau.
Tapi keinginan itu jauh lebih besar, rasa keingin-tahuan-nya jauh lebih besar. Ia dengan takut-takut menggeser bola matanya ke samping, mencoba mencari tau siapa itu. Dalam hatinya, ia berharap yang melakukan itu adalah Sakura, Ino atau siapapun itu, yang penting jangan pemuda berambut kuning yang berasal dari pikirannya itu.
Melirik ke samping saja tidak cukup, Hinata masih tidak bisa melihat siapa itu. Jadi, dengan terpaksa ia harus sedikit menoleh ke samping. Dengan gerakan pelan, ia mulai menoleh ke samping dengan mata yang ia tutup. Setelah merasa sudah cukup menoleh, ia kemudian menyemangati dirinya sendiri untuk berani membuka mata.
Dan dibuka lah mata itu. Hal yang pertama dilihatnya adalah wajah tampan yang hanya beberapa centi wajahnya. Wajah tampan yang dihiasi dengan sepasang mata blue sapphire yang indah. Hinata hanya diam terpaku menatap wajah tenang dan menawan itu.
Pemuda itu mengangkat tangannya kemudian mulai menyingkirkan surai-surai nakal yang menutupi sebagian wajahnya. Ia selipkan surai itu diantara telinga Hinata. Memperlihatkan wajah cantik yang sedikit demi sedikit mulai merona.
Pemuda itu sedikit demi sedikit mulai mendekatkan wajahnya, Hinata tau apa yang akan dilakukan pemuda itu.
'Ini sudah keterlaluan' pikir Hinata dalam hati. Ia tak mau pemuda itu mengambil ciuman pertamanya.
"CUKUP!" Hinata berteriak sembari berdiri dari kursinya. Itu membuat semua mata yang tadinya fokus membaca buku, kini berbalik menatapnya.
"KAU SUDAH KETERLALUAN!" Kembali, Hinata berteriak sekencang-kencangnya. Sementara semua murid yang melihatnya langsung saling berbisik satu sama lain, Minus Ino dan Sakura.
"Hyuga, apa yang kau lakukan?" Tanya sang guru kemudian melepas kacamata minusnya dan memasukkannya kedalam saku.
"Sensei, aku akan membawa Hinata ke UKS, aku rasa dia sedikit terkena demam." Ucap sakura memohon pada gurunya. Ia pikir, ini akan berbahaya dan akan merusak nama Hyuga Hinata.
"Kau lihat, bahkan sahabatku mengira aku sakit!" Kini Hinata mengucapkannya dengan suara serak dan bergetar.
"Oke, Sakura. Mungkin kau harus membawa Hinata ke ruang UKS!" Ucap Yamato sang Guru.
Setelah mendapatkan ijin dari sang guru, Sakura kemudian langsung mendekati Hinata dan membawa Hinata keluar kelas menuju UKS.
"Hinata-chan?" Panggil Uchiha Sasuke sebelum Hinata benar-benar keluar dari kelas. Karna panggilannya merasa tak digubris sama sekali, Sasuke mencoba bangkit berdiri untuk mengejar Hinata. Tapi ia tak berhasil karna sebelum ia bangkit berdiri dengan sempurna, ia sudah dibentak oleh sang guru untuk segera duduk.
.
.
.
Ruang UKS
"Hinata, kau kenapa? Kalau ada masalah cerita-lah padaku atau Ino! Kau jangan menyimpannya sendiri." Tanya Sakura kawatir terhadap sahabatnya. Sorot matanya terlihat sangat kawatir menatap Hinata yang sudah berbaring diatas ranjang.
"Tidak ada apa-apa, Sakura. Mungkin, aku hanya butuh istirahat sebentar." Jawab Hinata pelan.
"Baiklah kalau begitu, istirahatlah. Aku kembali ke kelas dulu." Ucap Sakura kemudian pergi keluar ruangan itu.
Kesal, marah, sedih, semua Hinata rasakan saat ini. Kini ia hanya berbaring diatas ranjang sembari memainkan sebuah tisu di tangannya. Ia hanya diam di ruang yang minim cahaya itu sendirian.
"Ceklek!" Hinata langsung mengalihkan pandangannya kearah pintu. Samar-samar ia melihat seseorang yang mulai mendekat ke arahnya. Ia segera duduk bersandar, setelah mengetahui siapa sosok itu.
"Mau apa kau ke sini? Apa kau belum puas mempermalukan-ku?" Tanya Hinata dengan mata yang sudah mulai pecah.
"Aku tidak bermaksud begitu!" Jawab seseorang yang ternyata adalah Naruto.
"Apa maksudmu?" Tanya Hinata dengan air mata yang sudah mengalir di pipi gembilnya.
Naruto kemudian duduk disisi ranjang yang Hinata tempati. Ia kemudian mengusap air mata yang mengalir itu dengan jari jempol miliknya.
"Aku minta maaf telah membuat-mu menangis." Ucap Naruto setelah mengusap air mata yang sedikit demi sedikit mulai berhenti itu.
"Berapa banyak kau membayar teman-temanku dan guru-ku?" Tanya Hinata.
"Lihat, kau masih tak percaya padaku! Aku ini Naruto-kun, boneka milik-mu!" Ucap Naruto kemudian menggenggam kedua tangan Hinata dengan tangan kekar-nya.
"Kalau kau memang jujur, kenapa hanya aku yang bisa melihat-mu?" Tanya Hinata penasaran, dengan wajah yang memerah karna pemuda didepan-nya menggenggam kedua tangan mungilnya. Membuatnya merasa hangat.
"Itu karna kamu belum memberikan hadiah selamat datang padaku!" Ucap Naruto sembari menatap mata perak milik Hinata.
"Apa hadiah yang harus kuberikan padamu?" Tanya Hinata semakin penasaran.
"Kamu, harus mencium-ku disini. Setelah itu, kau harus berkata 'Selamat datang Naruto-kun.' Seperti itu!" Ucap Naruto sambil menunjuk bibirnya. Ia lalu tersenyum lembut kearah Hinata.
"Tapi, itu ciuman pertama-ku. Aku tidak mau memberikannya pada orang yang tidak aku cintai!" Ucap Hinata memberi tau.
"Itu bukan ciuman pertama-mu, ciuman pertama-mu sudah kau berikan padaku saat kau berusia 10 tahun. Dan kau mencium-ku secara sembunyi-sembunyi dibawah ranjang saat aku masih menjadi boneka!". Jelas Naruto panjang lebar. Sementara Hinata hanya terdiam membatu mendengar perkataan Naruto. Semua yang dikatakan Pemuda itu benar, bahkan selama ini hanya dialah yang mengetahuinya.
Sementara Hinata masih syok terkejut karna pemuda didepan-nya mengetahui rahasia masa kecilnya, Naruto tiba-tiba memegang tengkuk Hinata dan mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir mungil berwarna pink milik Hinata.
Naruto mulai memperdalam ciuman-nya ketika tangan Hinata mulai meremas kepalanya dan kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher miliknya.
Ciuman yang bisa dibilang Hot itu akhirnya berhenti dengan nafas Hinata yang tersengal-sengal. Wajahnya sudah se-merah tomat sekarang ini, kini ia hanya menunduk, malu dengan perbuatannya tadi. Tapi itu hanya beberapa saat, karna kini Naruto sudah mendongak-kan wajah ayu yang sering memerah mulai sajam yang lalu itu.
"Selamat datang Naruto-kun!" ucap Hinata dengan suara sedikit bergetar. Sementara Naruto hanya tersenyum menanggapi.
"Jangan menangis lagi! Wajahmu terlihat jelek saat kau menangis!" Ucap Naruto dengan tangannya yang sedang membelai pipi yang penuh dengan rona itu.
Hinata yang mendengarnya hanya bisa menggembung-kan pipinya, dan itu berhasil membuat Naruto terkikik geli.
"Jadi, apa Naruto-kun akan jadi manusia selamanya mulai sekarang?" Tanya Hinata sembari menatap manik biru pemuda yang ada didepan-nya.
"Aku akan mati seperti manusia, tapi aku juga bisa berubah menjadi boneka seperti sekarang!" Dan pada detik itu juga, cahaya kuning mulai keluar dari tubuh Naruto. Sinar itu semakin terang, dengan Naruto yang tersenyum lembut didalamnya.
Kini Pemuda itu sudah berubah menjadi boneka kusam jelek milik Hinata, Boneka itu tergeletak begitu saja dengan senyumnya yang menawan. Hinata hanya memandangi saja boneka itu untuk sesaat, sebelum akhirnya boneka itu berada dalam pelukan-nya.
.
.
.
TBC...
Hai, bagaimana menurut anda dengan Chapter ini, apa terlalu bertele-tele?
Apa semakin tambah tidak jelas?
Aku hanya berharap kalian bisa terhibur dengan cerita ini! Menulis Chapter ini sungguh membuat otak yang saya banggakan bekerja keras! #curcol
Apakah cerita ini masih menarik bagi kalian?
Kalau memang masih menarik, berilah review untuk Chapter ini.
Ok, just review!
Mungkin kalau kalian mereview Chapter ini, update nya bisa lebih cepat. :-D
Terimakasih untuk...
Kirei -neko
WaOnePWG : tentu saja Naruto punya kekuatan.
diane ungu : Kita liat saja lanjutannya ok. :-D
The NaruHina Story : mungkin!
.bs : masih dipikirkan tentang Naruto sekolah atau tidak.
Yui Kazu : Mungkin saya akan mempertimbangkan saran anda. Karna anda meminta dengan sedikit memaksa.
Mangekyooo JumawanBluez : Fantasi hanya untuk Naruto saja.
orchideeumi : Tidak sampai 10 Chapter kok. Dan terimakasih atas ucapan anda.
Lavender , Manguni, , : Ini dah lanjut.
Guest, setiawanandy02 : ini dah update, untuk kenapa Sasuke dinistakan seperti itu, author tidak tau kenapa. #Ditendang.
safira uzumaki : ini dah lanjut, Grup NHL yang mana kalau saya boleh tau?
Kaoru-Kagami Yoshida : akan saya pertimbangkan saran anda.
Yukimura Hana - Iwahashi Hani, Rae Rim : poor Sasuke.
Bubble bee : mungkin semi M.
viii-chan : ni dah lanjut.
Z-kun : semua yang rate M mungkin akan dilanjut setelah bulan puasa.
lavender sapphires chan : hal yang biasa dilakukan pada Naruto.. Apa di Chapter ini sudah ada jawabannya ? kalau belum, kita liat aja Chapter berikutnya.
amexki chan : Terimakasih, walaupun gak login.
Hikaru-Ryuu Hitachiin : Nekt
Dilaedogawa12 : Anda tidak menyesal? saya sangat bahagia!
Terimakasih untuk kalian yang telah memberi review, untuk yang belum, ayo berikan review! :-D
Faris Shika Nara /samarinda/28-07-13/22:40
Sampai jumpa lagi..
