Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Story by Faris Shika Nara

Rate T (maybe)

Warning : Au, ooc, tipo dll.

"Naruto-kun"

Chapter 3

Paras cantik Hyuga Hinata telah berhasil membuat pemuda Uchiha yang kini sedang duduk itu tak mampu untuk mengalihkan pandangannya walau sedetik pun. Selama 30 menit terakhir, pandangan mata Onyk itu lurus dan terfokus pada wajah cantik dari gadis yang telah berhasil mengambil hatinya. Memandangnya dalam diam, menikmati setiap detik wajah cantik bak bidadari milik gadis pujaannya yang kini masih terlelap dalam tidur.

Licik memang. Tapi, situasi yang kini dialaminya ini sungguh sangatlah jarang. Jadi ia akan memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Memandang wajahnya, membelainya dan menciumnya secara diam-diam.

Setelah beberapa saat berlalu, Pemuda Uchiha itu kemudian teringat akan tujuan utamanya, rasa kawatir kembali muncul dalam benak pemuda ber-marga Uchiha itu. Tangannya yang menggenggam tangan ber-jari lentik itu semakin ia eratkan, mengusap dengan perlahan punggung tangan itu kemudian menciumnya.

"Emmmh,,, Naruto-kun!" Hinata menggeliat diiringi gumaman pelan yang keluar dari bibir tipisnya. Mengubah posisi tidurnya dari terlentang menjadi menyamping secara tak sengaja.

Sasuke tersenyum dalam hati, ketika melihat Hinata menggeliat sembari memeluk boneka kuning itu dengan erat.

Kelopak yang tadinya menyembunyikan sepasang mata bermanik perak milik Hinata itu akhirnya terangkat, memperlihatkan mata keperakan-nya yang sedikit memerah. Matanya mengerjap sebelum akhirnya Hinata terbangun dari tidurnya ketika merasakan ada sebuah tangan menggenggam jemari tangan kanannya.

Dengan sekejap, bibir Hinata mengulum senyum ketika mengingat pemuda yang beberapa saat lalu berciuman dengannya. 'Itu pasti tangan Naruto-kun!" Pikirnya dalam hati ketika merasakan sebuah tangan kekar menggenggam jemarinya. Suasana hatinya tiba-tiba menjadi bahagia dalam sesaat. Dengan wajahnya yang kini sudah bersemu merah, Hinata sedikit demi sedikit membalik badannya ke sisi samping yang satunya.

"Naru~sa-SASUKE!" Hinata langsung terlonjak kaget, mulutnya reflek berteriak dengan matanya yang melotot menatap pemuda Uchiha yang tak lain adalah Sasuke Uchiha. Dengan sekejap, ia sudah berganti posisi dari tidur menjadi duduk bersandar diatas ranjang. Pandangan matanya yang tadinya tertuju pada Sasuke itu ia alihkan pada sebuah boneka yang kini dipeluk-nya dengan erat menggunakan tangan kiri. Sementara tangan kanannya ia tarik secepat kilat ketika mengetahui siapa pemilik tangan yang menggenggam jemarinya.

"A-apa yang kau lakukan disini Sasuke?" Tanya Hinata dengan kesal, Semu merah yang tadi sempat mampir di Pipi putihnya itu langsung hilang dalam sekejap, tak tersisa walau hanya secuilpun.

"Aku membawakan Tas milik-mu! Apa kau baik-baik saja Hinata? Aku kawatir padamu!" Jawab Sasuke menjelaskan. Ia bangkit berdiri dari kursi kemudian segera duduk diatas ranjang memperpendek jarak antara dirinya dan Hinata.

Hinata buru-buru langsung bergeser ke samping. Bagaimanapun juga, Hinata juga merasa takut kalau hanya berduaan dengan pemuda dalam satu ruangan. Apa lagi pemuda itu Sasuke.

"Aku baik-baik saja, Terima kasih!" Jawab Hinata kemudian turun dari ranjang, tak ingin berlama-lama dengan pemuda keturunan Uchiha itu. Ia lalu memakai sepatu sekolahnya. Setelah selesai, ia langsung menyambar tas yang sudah ada diatas meja kemudian memakainya. Lalu berjalan membawa sebuah boneka dipelukan-nya, Meninggalkan seonggok manusia yang sedang menahan sakit didada-nya.

Blam

Sasuke hanya diam ketika punggung Hinata sudah tak terlihat oleh kedua mata bermanik Onyk miliknya. Dadanya selalu merasa sesak dan sakit ketika Hinata selalu mengabaikan perasaannya.

'Aku tidak akan menyerah!' Ucap Sasuke dalam hati. Tangannya mengepal kemudian meninju kasur ranjang. Ia bangkit lalu berjalan kearah pintu, diputar-nya gagang yang menempel pada pintu, setelah terbuka ia kemudian berlari berniat mengejar Hinata.

.

.

Hinata berjalan dengan santai menyusuri koridor sekolah menuju tempat parkir. Tangan kanannya sesekali terangkat untuk merapikan rambutnya yang terlihat lusuh karna kegiatan tertidur-nya di ruang UKS tadi. Keadaan sekolah sudah sangat sepi hari ini, hanya segelintir siswa saja yang masih terlihat. Masih bisa dihitung menggunakan jari. Pandangannya lurus kedepan, dengan sesekali menunduk untuk sekedar melihat boneka yang kini berada dalam pelukan-nya.

"Hinata!"

Mimik wajahnya berubah cemberut ketika indra pendengarnya menangkap sebuah suara teriakan memanggil namanya. Kakinya sedikit berlari ketika suara langkah kaki dan teriakan yang memanggil namanya secara bersamaan itu semakin mendekat.

"Hinata!" Terlambat sudah. Usaha Hinata sia-sia.

"Hinata!" Sasuke menggenggam pergelangan tangan Hinata dengan paksa. Membuat langkah kaki Hinata terhenti seketika.

Hinata menatap tajam manik onyk Sasuke, Tangannya ia kibaskan ke samping untuk menyingkirkan tangan yang kini tengah menggenggam pergelangan tangan kanannya.

Ia hirau-kan begitu saja tatapan tajam Hinata, tanpa ragu, Sasuke merenggangkan kedua tangannya kemudian menangkap tubuh Hinata dalam pelukan-nya. Membuat sang pemilik tubuh yang sedang dipeluk terlonjak kaget dengan sorot matanya yang sedikit melebar.

"Ugh..!" Setelah sadar dari rasa kagetnya, Hinata langsung berusaha sekuat tenaga untuk meloloskan diri dari pelukan Sasuke. Tubuhnya ia gerakan ke samping kanan dan kiri, sementara kedua tangannya tak bisa bergerak.

"Le-lepas!" Hinata semakin berontak ketika Sasuke mulai berani membenamkan wajahnya di area leher miliknya kemudian menghirup-nya dalam-dalam.

"Hinata, dengarkan aku!" Bisik Sasuke tepat di telinga Hinata. Dapat Hinata rasakan deru nafas Sasuke yang sungguh terdengar begitu berat di gendang telinganya. Membuat dirinya bergidik takut untuk yang kesekian kalinya.

"Lepaskan aku!" Hinata berteriak diiringi dengan dorongan kuat pada dada bidang Sasuke. Ia terlepas, Sasuke sedikit terhenyak kebelakang akibat dorongan Hinata.

"Apa yang salah, denganmu?" Tanya Hinata setelah berhasil lepas dari pelukan Sasuke. Hinata menghela nafas berat untuk mengatur nafasnya yang sedikit terengah-engah. Mata perak miliknya menatap tajam pada Uchiha yang ada didepan-nya.

"Aku mencintaimu!" Ucapan itu meluncur dengan jelas dari mulut Sasuke, tanpa rasa ragu sedikitpun. Tangannya kembali meraih jemari Hinata kemudian menggenggam-nya.

Hinata kembali menghela nafas setelah mendengar perkataan dari Sasuke.

"Tapi aku tidak mencintaimu, jadi jangan ganggu aku lagi!" Jawab Hinata kemudian menepis dengan kasar tangan Sasuke dari jemarinya. Hinata hendak berbalik melangkah pergi tapi kemudian ia urung-kan ketika mendengar sebuah pertanyaan.

"Kenapa?"

"Karna aku sudah mencintai orang lain!" Jawab Hinata dengan nada suaranya yang sedikit pelan.

Tubuh Sasuke Bagai disambar petir yang tak kasat mata, membuatnya tak bisa bergerak sama sekali. Hatinya hancur dalam sekejap ketika mendengar kalimat yang keluar dari bibir tipis Hinata, meremuk-kan seluruh isi rongga dadanya. Wajah dingin yang biasanya minim ekspresi itu sudah tidak bisa digambarkan lagi dengan kata-kata.

"Siapa dia? Setidaknya, beri tau aku Namanya?" Tanya Sasuke memastikan. Sepengetahuannya, Hinata tak pernah dekat dengan laki-laki manapun. Dengan getir Sasuke menunggu jawaban dari bibir Hinata. Dalam hatinya, ia berharap perkataan yang ia dengar dari mulut Hinata itu hanyalah usaha untuk menjauhi dirinya saja.

Hinata Menggigit bibir bawahnya kuat-kuat setelah mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Sasuke. Matanya kemudian memandang boneka yang masih dipegangnya menggunakan tangan kiri.

"Namanya Na-naruto-kun!" Ucap Hinata diiringi senyum kecilnya. Ia dengan senang hati mengakui, bahwa hatinya memang sudah dicuri oleh pemuda yang sekarang sedang menjelma menjadi boneka kesayangannya.

"Khe,,.ahahahahah..." Sasuke sedikit terkekeh kemudian tertawa lepas ketika mendengar jawaban dari mulut Hinata. Menurutnya, jawaban yang ia dengar dari mulut Hinata merupakan lelucon terbaik yang pernah didengarnya selama ini.

Tubuh yang tadinya bagai disambar petir tak kasat mata itu dalam sekejap langsung berubah seperti sedia kala, Hati yang tadinya sudah hancur berkeping keping itu kini telah kembali utuh seperti semula, sekarang malah lebih bagus dari sebelumnya.

Harapannya untuk mendapatkan cinta gadis pujaannya ternyata masih ada, ia yakin, sebentar lagi cintanya tidak akan bertepuk sebelah tangan.

"..apakah yang kau maksud Naruto-kun itu adalah boneka jelek yang ada dita~"

Plak

Belum sempat menyelesaikan ucapannya, satu tamparan keras berhasil mendarat tepat di pipi sebelah kirinya. Langsung membuatnya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Bahkan untuk hanya sekedar meringis kesakitan pun tak bisa ia ucapkan.

Rasa sakit yang begitu terasa dipipi-nya tak berarti apa apa bila dibandingkan dengan rasa sakit dihati-nya. Tubuhnya kembali menegang tak bisa bergerak. Hatinya kembali hancur, menjadi serpihan-serpihan kecil yang dengan mudah dapat terbawa angin.

Hinata langsung berbalik melangkah pergi dengan suara langkah kakinya yang terdengar sedikit menghentak. Wajah kesal masih terpampang dengan jelas di wajah cantiknya. Tangannya yang ia buat menampar tadi sekarang malah mengepal dengan sempurna, seperti masih belum puas dengan tamparan-nya tadi.

Memandang lagi punggung Hinata yang selalu menjauh darinya untuk yang kesekian kali. Tubuhnya me-lemas secara tiba-tiba, jatuh terperosok diatas lantai bertumpu dengan kedua lututnya. Telapak tangannya ikut memegang lantai dingin dibawahnya guna menopang tubuh bagian atasnya.

"TIDAAAAAK!" Ia berteriak sekencang-kencangnya diiringi dengan cairan bening yang merembes keluar dari setiap ujung matanya.

TAK ADA AMPUN bagi siapapun yang berani menghina boneka kesayangannya.

.

.

.

Hinata memasuki area rumah masih dengan wajah cemberut-nya, membuat beberapa pelayan yang bekerja dirumah-nya sedikit merasa bingung. Suara langkah kaki yang menghentak dari Hinata membuat semua pelayan mengetahui bahwa majikannya sedang merasa kesal. Semua pelayan yang biasanya menyapa-nya, kini mereka hanya diam saja sembari menunduk.

"Hai Kak Hinata!" Sapa Hanabi ketika melihat kakaknya yang baru saja pulang dari sekolahnya. Hinata yang baru saja memasuki ruang keluarga itu langsung menoleh kearah suara yang menyapa-nya.

"Oh, hai Ayah, Hanabi!" Jawab Hinata malas lalu mulai melangkah lagi. Kedua kakinya kemudian mulai melangkah menuju tangga kemudian menaiki satu-persatu anak tangga agar bisa sampai dikamar-nya.

"Kakak-mu kenapa?" Tanya Hiashi -sang Ayah pada Hanabi. Raut bingung terpampang jelas di wajahnya ketika melihat wajah salah satu putrinya yang sangat tidak bersemangat itu. Sementara Hanabi yang ditanya hanya menggeleng tanpa menoleh sedikitpun kearah ayahnya. Ternyata kedua mata Hanabi sudah kembali fokus pada Gadgets yang ada ditangan-nya.

"Yaah, aku kalah!" Teriak Hanabi tiba-tiba sembari menghela nafas, Kedua tangannya memegang kepalanya kemudian mengacak-nya karna frustasi. Sementara Hiashi hanya geleng-geleng kepala karna tingkah kedua putrinya.

.

.

Hinata berjalan dengan gontai memasuki kamar tidurnya. Meletakkan boneka kesayangannya diatas meja, sementara tas yang ia pakai ia gantung-kan seperti biasa. Tubuhnya langsung saja ia jatuhkan diatas ranjang, berbaring tengkurap kemudian menyembunyikan wajahnya dibawah bantal.

Dalam sekejap, boneka Naruto-kun sudah berubah lagi menjadi sosok pemuda yang sangat tampan. Kalau waktu itu Naruto berubah masih menggunakan efek cahaya-cahaya, kini, Naruto berubah menjadi pemuda tampan tanpa menimbulkan cahaya sedikitpun dan suara apapun. Perubahannya mulus. Bahkan, Hinata yang berada diruangan itu, tidak menyadarinya sama sekali.

"Ehem!" Naruto berdehem keras yang kemudian berhasil membuat Hinata terlonjak kaget.

"E-eh! Na-naruto-kun!" Ucap Hinata tergagap ketika sudah bangkit dari posisi tidurnya.

Blush

Wajahnya langsung saja bersemu merah ketika mendapati Naruto yang tengah nyengir lebar memperlihatkan gigi-gigi putihnya. Duduk diatas meja dengan santai memandang dirinya.

Menunduk malu untuk menyembunyikan rona merah yang menjalar diseluruh wajahnya. Ekor matanya sesekali melirik Naruto untuk mengetahui apa yang tengah dilakukan pemuda jadi-jadian itu.

"Khi-hi..!" Naruto hanya terkikik geli ketika Hinata semakin menundukkan kepalanya ketika pandangan mereka bertemu.

Naruto bangkit berdiri kemudian berjalan mondar-mandir di kamar Hinata. Diwajah-nya muncul sebuah seringai yang entah berarti apa. Dengan seringai yang masih terlihat diwajah-nya, Naruto secara perlahan menurunkan retsleting jaket orange hitam yang ia pakai. Hinata masih diam menunduk menatap ujung kaki Naruto yang sedari tadi mondar-mandir lalu berhenti didepan-nya.

Puk

Hinata sedikit terlonjak kaget ketika Naruto membuang jaket yang tadi dipakainya tepat disamping dirinya duduk. Dilihatnya dengan teliti sesuatu yang tergeletak disamping-nya, Hinata langsung meneguk ludah-nya sendiri ketika sesuatu itu adalah jaket yang tadi Naruto pakai. Dengan perlahan Hinata mulai mendongak-kan kepalanya keatas, untuk mengetahui dugaannya benar atau salah.

"W-wow!" Hinata sedikit bergeser ke samping ketika mendapati Naruto yang sudah setengah telanjang. Kedua bola matanya tertuju pada dada bidang Naruto yang terlihat begitu err..seksi menurutnya. Pandangannya turun kebawah menuju perut yang sungguh begitu... 'wuuh, kenapa udara disini tiba-tiba berubah begitu panas!' ucap Hinata dalam hati sembari mengibaskan kedua tangannya didepan dada. Wajahnya yang sudah memerah itu menengok kesana kemari mencoba mencari udara seger untuk dihirup.

Naruto tak menghiraukan keadaan tubuh Hinata yang serasa seperti digodok dalam panci panas itu. Naruto malah duduk disamping Hinata dengan matanya yang tak henti memandang wajah yang sudah semerah tomat.

"Hinata-chan!" Panggil Naruto dengan suaranya yang terdengar begitu menggoda di telinga Hinata. Tubuhnya semakin ia rapatkan untuk memperpendek jarak diantara mereka.

Hinata menengok ke samping untuk menghindari kontak mata langsung dengan pemuda yang mempunyai tubuh seksi itu. Kedua tangannya ia tempatkan didepan dada guna menghalangi tubuh yang kian merapat kearah-nya.

"Na-naruto-kun, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Hinata ketika melirik wajah Naruto kian mendekat kearah-nya. Tangannya yang ia tempatkan didepan dada kini juga sudah bersentuhan dengan dada bidang Naruto. 'Dadanya begitu berotot dan hangat!' Ucapnya dalam hati ketika kedua tangannya secara tak sengaja meraba dada bidang Naruto.

"Aku hanya ingin mencium-mu!" Jawab Naruto. Tangan kanan Naruto kemudian segera meraih Pipi Hinata yang sudah sangat merah itu, ditengok-kan wajah Hinata agar berpandangan dengannya.

"Mmph..." Dilumatnya langsung bibir yang sudah sangat lembab itu. Membuat Hinata mengeram dalam ciuman-nya. Tangan Naruto turun membelai Pipi kemudian segera menarik tengkuk Hinata untuk memperdalam ciuman-nya.

"..Mmph!" Mata Hinata terpejam ketika lidah Naruto mulai masuk kedalam rongga mulutnya untuk mengeksploitasi semua yang ada didalam-nya. Menikmati setiap sapuan lidah Naruto di rongga mulutnya. Tangannya bergerak kesana kemari untuk merasakan setiap lekuk dada bidang yang sungguh begitu hangat kala kedua tangannya menyentuhnya.

Tangan kanan Naruto kini sudah turun untuk membelai paha putih yang sungguh menggairahkan itu. Salahkan saja Hinata yang masih memakai rok seragam sekolah.

"...haah... akh!" Hinata hanya bisa mengambil nafas sesaat saja. Karna di detik berikutnya Hinata langsung memekik nikmat saat Naruto sudah mengeksploitasi area leher jenjang-nya.

"Akh... Na-naruto-kun!" Kedua tangan Hinata mencengkeram masing-masing bahu Naruto ketika dirinya merasakan sebuah hisapan di leher jenjang-nya.

"Na-naruto-kun!" Hinata sedikit merasa gelisah ketika ciuman dan belaian Naruto sudah mulai tak terkendali.

"Na-naruto-kun!" Hinata berujar lagi dan kini berhasil membuat Naruto menghentikan seluruh gerakan tubuhnya.

Naruto melihat Hinata dengan matanya yang terlihat sayu, rona merah diseluruh wajahnya sungguh sangat terlihat jelas. Mereka hanya terdiam saling memandang untuk beberapa saat.

Cup

"Aku mau mandi!" Ucap Naruto setelah memberi kecupan singkat di Pipi kiri Hinata. Naruto segera bangkit berdiri kemudian berjalan mengambil handuk berwarna putih yang sebenarnya juga handuk Hinata.

"Mandi?"

"Yap, benar sekali. Aku bosan kalau orang memanggil-ku dengan sebutan 'boneka kuning usang jelek'. Itu menyakitkan!" Jawab Naruto kemudian masuk kedalam kamar mandi. Sementara Hinata hanya diam ditempat, otaknya masih me-loading apa saja yang baru dialaminya.

"Hinata-chan?" Tanya Naruto dari dalam kamar mandi.

"Y-ya.."

"Apa kau mau mandi bersamaku?" Tanya Naruto yang kini sudah berada diluar kamar mandi. Naruto hanya menggunakan handuk yang melilit ditubuh-nya. Kedua tangan Naruto menggosok kepala kuningnya menggunakan sampo, membuat busa sampo meleleh menuruni leher kemudian jatuh di dada bidangnya.

'Ma-mandi bersama?' Tanya Hinata dalam hati. Hinata yang melihat Naruto seperti itu langsung saja pingsan ditempat.

"Kurasa-tidak!" Ucap Naruto kemudian kembali masuk kedalam kamar mandi.

.

.

.

.

TBC

Adegan diatas gak termasuk rate M kan? #tengok kanan kiri.

Mohon maaf ya kalau alur ceritanya sangat lambat, mohon maaf juga kalau alur ceritanya gak sesuai keinginan kalian. Maaf kalau mengecewakan.

Mari kita bahas tentang kekuatan Naruto di fict ini. Naruto itu gak punya kekuatan fisik seperti bertarung atau apalah itu. Kekuatan Naruto di fict ini lebih seperti kekuatan hipnotis, perasaan orang tiba-tiba bisa langsung berubah kalau berhadapan dengannya. Tau maksudku kan? #reader geleng-geleng.

Untuk orang ketiga, aku tak tahu, masih belum pasti... Jujur saja ya... Aku tu paling benci sama yang namanya orang ketiga. #gak nanya woii..

NHL-forever afterrr...Ada juga ya, orang samarinda yang baca fict! Aku kira cuma aku aja... #ditendang.

Aku emang dari samarinda, tapi bukan penduduk asli. #gak nanya woii..

Safira uzumaki.. Maaf review anda berubah jadi angka-angka gak jelas. Jadi... maaf ya..

Yui Kazu... Terima kasih lo,,, udah dikasih tau tentang isi dari buku tatang sutarmo! #digeplak. Makasih banyak ya... dah mau berbagi ilmu! :-D

Ini gak rate M loh...tapi semi M

Terima kasih untuk...

kirei- neko, .bs, MiMeNyan, SyHinataLavender, WaOnePWG, Akira no Rinnegan, , , soputan, Manguni, adn96, mangekyooo jumawanBluez, orchideeumi, setiawanandy02, Naru Gangster, IndoSedSarSupmie ichiraku, Kaoru-Kagami Yoshida, Hikaru-Ryuu Hitachiin, Rae Rim, Yui Kazu, naruLOVEhina, Yo man, Lightning Mc'queen, Karizta-chan, kadek chan, NHL-forever afterrr, safira uzumaki, HN, goonjun, Bubble bee, missing nin, marina dan firman.

Bagaimana menurut kalian tentang chapter ini? apa tambah ngelantur?

Review lagi ya... #nyengir. Yang belum review, ayo review! siapa tau kalau kalian review chapter depan bisa lebih cepat update..! #ditendang.

Faris Shika Nara /Samarinda/25-08-2013/23:40 wita.

jaa... sampai jumpa!