Disclaimer Naruto belongs to Masashi
Kishimoto
Story by Faris Shika Nara
Rate T (maybe)
Warning : Au, ooc, tipo dll.
"Naruto-kun"
Sebelumnya...
"Hinata-chan?" Tanya Naruto dari dalam kamar
mandi.
"Y-ya.."
"Apa kau mau mandi bersamaku?" Tanya Naruto
yang kini sudah berada diluar kamar mandi. Naruto hanya menggunakan handuk yang melilit ditubuh-nya. Kedua tangan Naruto menggosok kepala kuningnya menggunakan sampo, membuat busa sampo meleleh menuruni leher kemudian jatuh di dada bidangnya.
'Ma-mandi bersama?' Tanya Hinata dalam hati. Hinata yang melihat Naruto seperti itu langsung saja pingsan ditempat.
"Kurasa-tidak!" Ucap Naruto kemudian kembali masuk kedalam kamar mandi.
Chapter 4
"Hinata-chan, ayo bangun!"
Naruto sedikit mengguncang tubuh gadis yang sedang terbaring tidur, membuat sepasang kaki yang menggantung disisi ranjang sedikit bergoyang karna ulahnya yang sedang mencoba membangunkannya.
"Ini sudah hampir malam Hinata-chan, ayo cepat bangun dan mandi!"
Naruto mengambil posisi duduk di sebelahnya seiring kata yang baru saja keluar dari bibirnya. Tangannya kembali menggosok rambut kuning jabriknya yang basah dengan handuk putih yang ada di tangannya.
Merasa usahanya tak berhasil, Naruto menolehkan tubuhnya kebelakang. Dirinya kemudian merangkak diatas ranjang memposisikan wajahnya tepat diatas wajah Hinata. Dikecupnya lembut bibir merah jambu yang beberapa saat lalu juga telah dieksploitasinya.
Bibirnya mengulum senyum ketika dirinya masih bisa melihat gerosan rona yang melekat pada pipi chuby milik gadis yang terlelap di hadapannya. Sebuah bekas gigitan pada bibir di hadapannya telah berhasil menarik atensi Manik Sapphire-nya.
Tangannya terangkat, kemudian segera menyapu bibir merah jambu yang sedikit kemerahan menggunakan ibu jarinya. Kembali bibirnya mengulum senyum ketika mengingat bahwa dirinyalah yang membuat bibir itu memerah.
"Bahkan saat tidur-pun, wajahmu masih terlihat manis!"
Dirinya bergumam pelan diiringi senyumnya yang semakin mengembang. Selang beberapa saat, kedua tangannya sudah terangkat, masing-masing jari jempol dan telunjuknya sudah memegang masing-masing pipi chuby milik Hinata. Sedetik kemudian, kedua tangannya segera menarik pipi gembil milik Hinata yang masih tertidur lelap. Menariknya keatas-kebawah, ke kiri dan kanan secara bergantian.
"Ayo bangun putri tidur...!"
"Ugh!"
Sang pemilik wajah-pun langsung mengerjapkan kedua matanya, kedua tangan mungilnya terangkat mencoba menyingkirkan sepasang tangan yang telah menarik-narik masing-masing pipinya.
"Putri tidur.. ayo bangun!"
"Nghh"
Sebuah suara yang tidak begitu familiar menyapa indra pendengarnya. Membuat tangannya segera mengucek kedua matanya.
"Na-naruto-kun!"
Sebuah cengiran lebar menyambut kedua manik Lavender-nya, dalam sekejap wajah putih porselen-nya telah dihinggapi rona-rona. Matanya sedikit membulat diiringi deru nafasnya yang terlihat semakin tercekat, detak jantungnya memburu diiringi suhu tubuhnya yang sedikit demi sedikit mulai naik, memanas.
"P-pakai bajumu Naruto-kun!"
Dengan secepat kilat, kedua telapak tangannya sudah menutup rapat mata Lavender-nya.
"Khu-khu-khu.."
Merasa pemuda yang ada di hadapannya hanya terkikik lalu nyengir, tangan kirinya terangkat kemudian mendorong dada bidang yang ada di hadapannya.
"Pa-pakai... ugh... bajumu Na-naruto-kun..!"
"Bajuku sedang aku rendam karna kotor. Bangunlah,,, cepatlah mandi! Badanmu bau!"
Bibirnya langsung bergerak maju mengerucut, setelah mendengar komentar Pemuda jadi-jadian yang ada dihadapannya. Kedua matanya masih ditutupi oleh tangan kanannya, guna menghindari tubuh seksi yang ada di hadapannya.
"Hei, bibirmu tidak usah mengerucut begitu... minta dicium ya?"
Hinata yang digoda seperti itu langsung saja menutup bibirnya dengan tangannya. Sementara Naruto malah cekikikan melihat tingkah lucu Hinata.
"Ayo,, cepat mandi!"
"Na-naruto-kun minggir dulu.."
"Iya-iya..!"
Setelah menjawabnya, Naruto segera membaringkan tubuhnya disamping bangkit dari ranjang, berjalan menuju sebuah lemari yang ada di kamarnya. Kedua tangannya segera mengambil sebuah handuk berwarna merah jambu dan sepasang baju ganti untuknya.
"Mau kutemani?"
Hinata menggeleng cepat kemudian menundukkan kepalanya sebagai respon.
"Aku bisa menggosokkan punggungmu.."
"..."
"Hihihi.."
.
.
.
"Apa saja yang sudah kau lakukan pada putriku, ha,, jawab aku?"
Hiashi melotot menatap pasangan NaruHina yang ada di depannya, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal diatas meja.
"Aku belum sehari berubah menjadi manusia paman. Memangnya apa yang paman harap, menidurinya?"
Hanabi terdiam, mulutnya sedikit terbuka, rona merah pun tak luput dari wajah terkejutnya. Gadget yang sedari tadi dimainkannya kini tergeletak tak terpakai disebelah-nya.
"Beraninya kau berkata seperti itu padaku?"
Hiashi langsung naik pitam, ingin rasanya ia menjahit mulut yang sedang berdebat dengannya itu.
"Ayah, ja-jangan terlalu keras pada Naruto-kun."
Raut wajah Hinata terlihat kawatir ketika melihat ayahnya yang sedang menatap Naruto -yang duduk disebelah-nya- dengan pelototan tajam, yang bisa membuat siapapun yang melihatnya, nyalinya akan menjadi ciut seketika.
"Ayo jawab pertanyaanku Naruto, apa saja yang sudah kau lakukan pada Putriku!?"
"A-ayah, jangan bentak Naruto-kun, Na-naruto-kun tidaklah sama seperti apa yang ayah pikirkan!"
"Memangnya kau tau, apa yang ayah pikirkan. Diamlah, biarkan dia sendiri yang menjawab!"
Nyali Hinata langsung ciut, wajahnya langsung menunduk tak berani menatap sepasang mata yang mempunyai manik sama seperti miliknya.
"Tenanglah paman, aku tidaklah sama seperti dirimu!"
"Apa maksudmu Naruto?"
Pandangan mereka kini bertemu, keduanya saling menatap tak ada yang mau mengalah. Hinata dan Hanabi kini hanya mampu menatap mereka, tak mampu untuk menahan anak adam yang sedang bersitegang tersebut.
"Jangan coba-coba mengeluarkan kekuatanmu terhadapku nak, atau kau akan menyesal?"
Hiashi berujar tegas, tanpa mengalihkan pandangan matanya pada manik Sapphire yang ada didepan-nya. Setelah mendengar perkataan Hiashi, Naruto segera menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa yang didudukinya. Sesaat, dirinya langsung menghela nafas. Pandangan matanya kini tertuju pada gadis yang ada disebelah-nya, Hinata.
"Kalau begitu, bisakah kau mulai menjelaskan semuanya pada Hinata, paman?" Tanya Naruto yang kini sudah mengalihkan pandangannya pada Hiashi.
"Menjelaskan? Menjelaskan apa?"
"Hinata-chan, apa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan pada ayahmu?"
Kini Naruto menoleh dan bartanya pada Hinata. Sementara Hinata yang mendengar pertanyaan dari Naruto langsung mengalihkan pandangannya pada sang ayah.
"A-ayah, saat aku kecil, ayah 'kan yang memberikan aku boneka Naruto-kun," Wajah Hinata menunduk sejenak, kedua tangannya meremas ujung rok se-pahanya kuat-kuat. "Se-sebenarnya, Naruto-kun itu apa ayah?"
Hening.
Semuanya terdiam, semua mata kini tertuju pada Hiashi. Menunggu sebuah kalimat penjelasan tentang apa dan siapa Naruto sebenarnya.
"Apa kau yakin ingin mengetahuinya?"
"A-aku yakin ayah!"
"Baiklah, jika itu kemauanmu. Ayah akan menjelaskan siapa Naruto-kun sebenarnya padamu," Hiashi berujar lirih.
"Dulu, ada 3 manusia yang sangat ditakuti, mereka adalah manusia yang paling kuat pada masa itu, ketiganya memiliki kekuatan yang sudah sangat jauh diluar nalar. Orang-orang pada masa itu menyebutnya sebagai 'Penyihir'.
Pertama, bernama Chiyo. Walaupun dirinya adalah seorang penyihir, dirinya adalah sosok wanita yang lemah lembut, mempunyai rasa belas kasihan yang tinggi. Itulah mengapa dirinya disebut sebagai 'Sang Penyembuh'. Dan dia merupakan nenek moyang kita.
Kedua, bernama Sasori. Sasori adalah seorang penyihir pemakan jiwa, dia merubah semua mangsanya menjadi sebuah boneka, dan kemudian menghisap jiwa mangsa yang telah diubahnya, agar membuatnya tetap terlihat muda.
Dan Terakhir, Bernama Hidan. Hidan adalah manusia penyembah iblis penghisap darah, dia banyak mumbunuh manusia untuk dipersembahkan pada Jassin, raja iblis. Dengan begitu, ia akan mendapat kekuatan kegelapan dari raja iblis.
Dan pada suatu saat, Raja Iblis memerintahkan Hidan untuk membunuh 5 Manusia untuk dipersembahkan untuknya, dan dia menjanjikan kekuatan kegelapan yang abadi kepada Hidan sebagai imbalannya. Salah satu dari lima manusia itu adalah pemuda disebelah-mu yang kau namai Naruto-kun itu. Hidan dengan senang hati mengiyakan permintaan itu. Membunuh 5 manusia pasti sangatlah mudah, mengetahui dirinya sudah membunuh ratusan manusia.
Saat Hidan mulai mencari 5 Manusia tersebut,dirinya kenyataanya, dirinya bukanlah satu-satunya penyihir yang mengincar mereka. Sasori telah berhasil menangkap 5 Manusia tersebut, dan mereka sudah menjadi sebuah boneka. Saat upacara penghisapan Jiwa, Hidan datang. Pertarungan pun tak bisa dihindari. Dan saat mereka sibuk bertarung, Chiyo datang dan mengambil kelima boneka tersebut.
Chiyo adalah sang penyembuh. Dan dia tau, hanya ada satu cara untuk mengembalikan mereka menjadi manusia kembali. Oleh karena itu, Chiyo memberitahukan kepada keturunannya. Setiap Generasi keluarga kita, harus mengambil satu dari boneka tersebut untuk anaknya. Apa kau mengerti Hinata?"
"Ta-tapi ayah, bukankah kejadian itu sudah lama berlalu, dan jumlah boneka tersebut kan cuma ada lima. Sedangkan setahuku, keluarga kita kan sudah lebih dari lima generasi?"
Hinata masih terlihat sedikit bingung dengan penjelasan ayahnya.
"Kau benar, tapi,,, kalau anak dari generasi keluarga kita adalah laki-laki, sedangkan boneka yang muncul diatas kuburan Leluhur kita Nenek Chiyo adalah laki-laki, maka kita tidak boleh mengambil boneka tersebut. Kita boleh mengambilnya, asalkan anak generasi kita berbeda gender dengan boneka yang muncul diatas kuburan tersebut."
"Be-begitu ya..!"
Hinata mengangguk tanda mengerti, sementara Hanabi yang mendengar penjelasan dari ayahnya, hanya cengo' dengan mulutnya yang terbuka.
"Apakah ayah mengarang semua cerita itu?"
Kini Hanabi yang masih tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. Menurutnya penjelasan dari ayahnya sangat konyol. 'Seperti cerita dalam game yang barusan aku mainkan!' ucapnya dalam hati.
"Diamlah, kau masih kecil. Kau tidak akan mengerti!"
"..."
"Tapi ayah, apakah kedua penyihir yang bertarung itu sudah mati?"
"Sasori ditemukan meninggal, sedangkan Hidan tidak ditemukan mayatnya. Ada yang bilang, mayatnya dibawa oleh raja iblis sebagai ganti kegagalannya. Tapi, menurutku Hidan memang sudah mati. Buktinya tak ada hal buruk yang menimpa Ibumu sewaktu hidup."
"I-ibu?"
"Ibu?"
"ya, kau benar. Ibumu adalah salah satu dari boneka tersebut!" Tambah Hiashi lagi.
"A-apaaaa? I-ibu-i-ibuku b-boneka~"
Tubuh Hinata menegang, dan tiba-tiba bibirnya terasa kaku, remasan jemarinya pada rok se-pahanya semakin erat. Sementara Hiashi hanya diam dengan sesekali menghela nafas, dan kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
"Tenang Hinata-chan!"
"I-ibu-i-ibuku~"
Naruto langsung saja menarik Hinata yang shok dalam pelukannya, mendekapnya dengan erat kedalam pelukannya, berusaha meredam Shok yang dialami gadis yang kini di pelukannya. Tangan kirinya sesekali menggosok garis punggung yang sedikit menegang, bibirnya memberi kecupan-kecupan singkat pada puncak rambut Hinata, sementara tangan kanannya menarik kepala bagian belakang Hinata untuk mempererat pelukannya, berharap gadis yang ada didalam pelukannya itu kembali tenang.
"Emhn... Na-naru~"
Hinata mengerang lirih atas perlakuan yang ia terima saat ini. Wajahnya kembali merona ketika wajahnya menempel erat pada dada bidang telanjang milik Naruto. Dapat ia hirup aroma wangi sabun yang menguar dari tubuh Naruto, memenuhi indra penciumannya. Tanpa sadar, kedua tangannya malah melingkari punggung besar milik pemuda yang sedang mendekapnya, memeluknya erat dengan sesekali mencengkeramnya.
"Tenanglah, itu bukanlah sesuatu yang buru~"
"Hentikan itu," ucap Hiashi, tubuhnya bangkit dari posisi duduknya kemudian dengan cepat memisahkan pasangan NaruHina yang sedang saling memeluk satu sama lain itu.
"PAKAI BAJUMU NARUTO!"
"Bicara soal baju.. bolehkah aku pinjam baju paman,,bajuku aku rendam. Lagipula, bajuku sudah tidak layak pakai, dan aku minta uang untuk membeli baju malam ini bersama Hinata-chan, bolehkah?"
Hiashi hanya bisa mengumpat dalam hati sembari menatap Naruto yang ada didepan-nya dengan pandangan kesal, urat-urat di sekitar matanya sampai terlihat ingin keluar ketika pelototan mata semakin ia tajamkan.
"Cih!"
Naruto langsung nyengir setelah menerima sebuah kartu kredit dari Hiashi. Sementara Hiashi hanya bisa menggerutu dalam hati ketika melihat cengiran yang menurutnya bisa membuat bayi manapun menangis ketika melihatnya itu. Ingin rasanya Hiashi menggampar wajah yang sedang nyengir ria dihadapan-nya itu. Seburuk itukah cengiran khas-mu dimata Hiashi, Naruto?
"Dan satu lagi paman, besok aku akan sekolah bersama Hinata-chan, bisakah paman mengurusnya untukku?"
.
.
.
Hiashi hanya bisa menghela nafas, kemudian kembali duduk di sofa. Setelah Naruto dan Hinata pergi, Hiashi hanya bisa termenung dalam duduknya, memikirkan semua yang baru saja dialaminya. Tangan kanannya kemudian mengambil secangkir kopi yang isinya sudah tidak lagi panas itu kemudian meminumnya.
Hanabi hanya bisa duduk terdiam, mengamati setiap gerak-gerik yang dilakukan ayahnya.
'Ya Tuhan, semoga semuanya akan baik-baik saja,' Ucap Hiashi dalam hati kemudian memejamkan kedua matanya.
.
.
.
Berbagai toko yang menjual beraneka ragam pakaian berjajar rapi di area pusat perbelanjaan yang Naruto dan Hinata datangi. Lampu-lampu yang bersinar terang menjadi pengganti matahari yang sedang menerangi bagian bumi yang satunya. Berbagai macam orang pun sedang asik berkeliaran memanjakan matanya dengan berbagai barang yang sengaja dijual di pusat perbelanjaan itu. Ada yang sedang memilih-milih baju, ada yang hanya melihat-lihat saja, ada yang hanya berjalan bersama kekasihnya sembari bergandengan tangan, bahkan ada pula yang hanya duduk di kursi sendirian mengamati suasana ramainya malam ini.
Naruto berjalan dengan santai, kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celananya, pandangan matanya menatap lurus kedepan sesekali melirik Hinata yang sedang berjalan disebelah-nya.
Hinata berjalan pelan disamping Naruto. Kedua tangan kecilnya memegang sebuah tas yang ia bawa, menentengnya didepan pahanya. Wajahnya menunduk melihat langkah kecilnya, sesekali ekor matanya melirik sedikit kedepan untuk melihat jalan yang akan ia lalui.
"Kalau jalan lihat kedepan, nanti kamu nabrak orang loh, Hinata-chan!"
"Baiklah..!"
"Sejak kapan kau jadi pendiam seperti ini Hinata-chan?"
"A-aku tidak tau!"
"Kau tau, aku dan boneka itu, sama. Yang beda hanyalah bentuknya saja! Kau tidak perlu jadi pendiam dan pemalu seperti ini."
Hinata hanya diam. Pandangan matanya lurus tak berani menatap mata Naruto yang sedang berjalan sembari melihatnya. Tidak tahukah kau Naruto, Hinata diam karna sedang mencoba menjaga irama detak jantungnya. Ini adalah pertama kalinya Hinata berjalan berdua bersama seorang pemuda. Tidakkah kau lihat wajahnya yang sedang menatap lurus kedepan itu sedikit merah?
"Hinata-chan, kemarikan tanganmu!"
"Ta-tanganku, u-untuk apa Na-naruto-kun?"
"E-eh!"
"Berjalan berdua sambil bergandengan tangan kelihatannya menyenangkan," Ucap Naruto santai tidak menyadari bahwa wajah Hinata sudah bertambah semakin merah. Naruto kemudian segera menarik Hinata untuk kembali berjalan.
'A-aku berjalan bergandengan tangan dengan Na-naruto-kun!' Hinata hanya bisa pasrah ketika jemarinya digenggam oleh jemari besar milik Naruto. Bagaimanapun juga,dirinya juga menikmatinya.
.
.
"Tuan, sudah terjadi!" Ucap Seorang laki-laki yang memakai jaket dengan penutup kepala pada sebuah telepon genggam yang ia pegang. Matanya menatap lurus pada pasangan NaruHina yang sedang berjalan tidak terlalu jauh dari dirinya.
"Apa kau yakin?" Ucap seseorang yang terdengar dari telepon genggam tersebut.
"Tentu saja tuan, aura tubuhnya sama seperti apa yang tuan jelaskan. Apakah harus kuhabisi sekarang tuan?"
"Tidak perlu, biarkan dulu dia menikmati waktu tersisanya, kau habisi mereka berdua besok malam!"
"Baik tuan!" Ucap laki-laki tersebut kemudian menutup telepon yang dipegangnya dan memasukannya kedalam sakunya.
.
.
"Na-naruto-kun, kita beli baju untukmu disitu saja, kelihatannya bagus-bagus!"
Hinata menarik Naruto memasuki sebuah toko, setelah beberapa saat memilih beberapa pakaian, Hinata menyuruhnya untuk mencobanya. Dan kini, mereka sedang didalam ruang ganti.
"Bagaimana menurutmu, apa bagus?"
"Na-naruto-kun, T-ta-tampan, ba-bajunya pas!"
Hinata langsung gelagapan ketika melihat penampilan Naruto yang ada dihadapan-nya. Wajahnya merona? Sudah pasti!
"Bicara soal Tampan.." Naruto berjalan mendekat kearah Hinata yang sedang berdiri mematung. "... apakah benar, kalau kamu mencintaiku, Hinata-chan?"
"Si-siapa?"
"Aku dengar ucapanmu sewaktu di sekolah, ketika kamu ngomong pada pemuda yang bernama Sasuke itu. Jadi...?"
Kini punggung Hinata sudah menempel pada sebuah dinding beton, tubuhnya sudah dikunci oleh kedua tangan Naruto. Membuat dirinya tidak bisa kemana-mana lagi, terjebak dalam kungkungan Naruto.
"I-itu-i-itu.."
Manik Lavendernya tak berani menatap sepasang Sapphire yang kini hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
"Maukah kau jadi kekasihku,.. " Ucap Naruto kemudian mendekatkan wajahnya untuk lebih dekat ke wajah Hinata. Sementara Hinata langsung menengokkan wajahnya kesamping. "..Karna aku juga mencintaimu?!" Bisik Naruto pelan, tepat disamping telinga Hinata.
"Jadi?" Tanya Naruto kemudian menengokkan kepala Hinata agar menatap dirinya. Dengan wajahnya yang sudah sangat merah, Hinata mengangguk malu tanda menyetujui.
"Tapi, ada syaratnya," Ucap Naruto yang membuat tubuh langsung membeku.
"S-syarat apa?"
"Kau harus mau aku cium ketika aku memintanya. Apa kau mau?"
Hinata berpikir sejenak sebelum menjawabnya. Wajahnya kembali memerah kemudian menundukan kepalanya kembali. "B-baiklah, i-itu-i-itu,, tidaklah buruk!" Ucap Hinata lirih. Bagaimanapun juga, dirinya juga menikmati ciuman Naruto. Dan yang pasti, dia menyukainya.
"Apa kau siap?"
"Siap apmmpft"
Naruto dengan cepat memagut bibir tipis nan manis itu, memotong perkataan yang hampir saja selesai itu dengan pagutan tiba-tibanya. Menyesap bibir atas dan bawah secara bergantian. Kedua tangan besarnya meraih pinggang ramping milik gadis yang bibirnya sedang dinikmatinya, menariknya kemudian memeluknya erat tanpa menghentikan pagutannya, kedua telapak tangan dan jemarinya kemudian segera menari-nari diarea garis punggung dan pinggang dengan sesekali meremasnya lembut.
"Mmpft!"
Hinata yang awalnya kaget, kini sudah menutup matanya samar. Menikmati setiap hisapan lembut pada bibir atas dan bawahnya. Tangannya terangkat, kemudian dikalungkannya pada leher Naruto. Kakinya sedikit demi sedikit mulai ia jinjitkan, guna memperdalam pagutan nikmat yang diterimanya. Sapuan lembut lidah Naruto yang menyapu ujung bibir atas dan bawahnya ia sambut dengan baik. Bibir tipisnya sedikit ia buka, guna menjamu daging tak bertulang yang ingin segera merasakan manisnya hidangan utama.
"Mmmh!"
Kedua jemari tangan Hinata kini mulai menjambak surai kuning milik Naruto ketika dirinya merasakan lidah Naruto sudah menyelinap masuk kemudian menyapu bibir bagian dalamnya.
"Mmmh!"
Serangan lidah Naruto menjadi semakin gencar ketika dirinya merasakan begitu manisnya hidangan yang sedang dinikmatinya kini. Lidahnya tak henti-hentinya menari dalam bibir berasa manis milik Hinata. Dililitnya lidah Hinata kemudian dihisapnya kuat-kuat, menghisap habis saliva berasa manis milik gadis yang kini sudah menjadi miliknya. Membuat sang pemilik lidah yang dihisap sedikit memekik. Naruto kemudian segera menghentikan pagutannya ketika merasakan kedua kaki Hinata sedikit bergetar karna pagutan yang diberikannya.
"Ah..haaah!"
"Aku tau kau menyukainya!"
Naruto kemudian segera menarik kepala Hinata dan membenamkannya diatas dada bidangnya. Memeluk erat gadis yang kini wajahnya sudah sangatlah merah itu.
.
.
.
TBC...
Holaa... Faris balik lagi! #nyengir# *ditabokin readers.
Cepet kan updetnya! #digebukin orang satu kampung.
Baru berapa bulan aja kok! Gak lama.. belum ada setahun! #Author dibuang ke laut.
Yah,, mau bagaimana lagi, Author sebenarnya sedang malas ketik-ketik! Capek dengan aktivitas sehari-hari,,, setelah pulang.. maunya langsung tidur. #kok malah curhat!
Setelah dipaksakan, jadilah chapter yang sedikit ngelantur ini, sedikit gak jelas dan you know what i mean!
Untuk para readers yang ngajak kenalan, salam kenal kembali.
Yui Kazu... Kritikan kamu saya tunggu loh...
Untuk pertanyaan Naruto jadi manusia lagi atau gak, Jawabannya pasti jadi manusia lagi karna sebelumnya Naruto juga manusia.
Untuk keterangan Kenapa Hinata membenci Sasuke, mungkin akan dijelaskan di chapter selanjutnya...
Untuk berapa jumlah chapter fict ini, Author gak tau, biarkan mengalir aja, bisa sedikit, bisa banyak.
Dan fict ini bukan Rate M tapi T++
ok! itu saja sepertinya yang perlu dijawab.
Tapi, bagaimanapun juga, Faris juga mengharapkan komentar anda tentang chapter ini!
Yah, Faris gak mau munafik, Review emang bisa menyemangati Author!
Maka dari itu Faris ucapkan terima kasih banyak untuk...
My lavender
Sara
Arewa
Hanon hoshou
Lightning Mc'queen
Misti Chan
Writer-kun
safira uzumaki
mizz k
Dark dhonih
Karizta-chan
goonjun
mangetsuNaru
MiMeNyan
orchideeumi
Mandha baka-chan
Manguni
lavender sapphires chan
hina chan
El Ghashinia
Hikaru-Ryuu Hitachiin
.bs
kensuchan
ypratama17
LavenderBlueSky
ShinRanXNaruHina
shirayuki-su
Yui Kazu
Ruqi No Hiken
kirei- neko
Mangekyooo JumawanBluez
Akira no Rinnegan
Zeri Nomi
uzumakimahendra4
alvaro d diarra
huddexxx69
Bunshin Anugrah ET
Black market
ujhethejamers
NaruGankster
Guest satu satu
WaOnePWG
Maaf kalau ada penulisan nama yang salah.
Maaf juga kalau chapter ini tidak bisa memuaskan para readers, dan tidak seperti apa yang kalian harapkan.
Maaf sebelumnya... tapi,, Faris minta reviewnya lagi boleh? Don't be a shilent readers!
Jangan lupa... Review! #yang ini betulan maksa.
Samarinda/05-11-2013.
Faris Shika Nara
