Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Story by Faris Shika Nara

Rate T (maybe)

Warning : Au, ooc, tipo dll.

"Naruto-kun"

Chapter 5

Sinar mentari menyelinap diantara dedaunan, membuat cahaya menyorot dari celah-celah daun dan ranting itu terlihat lebih berkilauan. Burung-burung hinggap diatas ranting kemudian bersenandung merdu. Kupu-kupu pun tak mau kalah untuk memperlihatkan pesona-nya, hinggap diatas bunga-bunga yang baru saja mekar di pagi yang indah ini.

Tak butuh waktu begitu lama, nyanyian burung itu tergantikan oleh susana riuh dari para murid yang sudah mulai berdatangan memasuki area sekolah, membuat nyanyian merdu dari burung-burung yang sedang bersenandung ria itu sedikit demi sedikit hilang dari pendengaran.

Dari kejauhan terlihat mobil berwarna putih mulai memasuki area sekolah, semua murid yang sudah mengenali pemilik dari mobil putih yang sedang menuju tempat parkir itupun langsung berhamburan lari untuk melihatnya lebih dekat.

Semua berlari menuju area parkir, untuk hanya sekedar melihat sang putri yang akan keluar dari mobilnya. Inilah momen yang paling indah dan harus disaksikan, Momen ketika sang putri turun dari mobilnya, ketika sinar mentari pagi yang menyinari wajahnya yang ayu, rambutnya yang berkibar kala diterpa angin, serta senyum manisnya yang selalu bertengger diwajah manisnya.

Setelah jarak mereka dengan mobil sang putri berasa cukup dekat, akhirnya mereka berhenti dan memfokuskan pandangannya pada pintu belakang mobil berwarna putih itu. Detik demi detik mereka menunggu dengan sabar, sementara mata mereka sudah terkunci pada mobil yang kini sudah berhenti itu, bahkan untuk hanya sekedar mengedipkan mata.. sebenarnya mereka enggan.

"Siapa dia?" Semua murid langsung bertanya-tanya ketika orang yang keluar dari mobil bukanlah orang yang mereka harapkan.

Sosok pemuda berambut kuning keluar dari mobil, membuat para murid yang melihatnya pun langsung bertanya-tanya. Setelah pemuda berambut kuning itu benar-benar keluar, barulah sang putri harapan mereka terlihat dari balik pemuda yang turun lebih awal itu.

"Ayo Naruto-kun!"

Semua murid terdiam tak mengeluarkan sepatah-katapun ketika melihat adegan menarik lengan itu. Tubuh mereka terlalu kaget untuk sekedar menanyakan siapa pemuda yang sedang berjalan disamping putri pujaannya.

Hinata yang melihat mata teman-temannya sedang terpaku melihat dirinya dan kekasihnya itupun hanya bisa tersenyum lalu menundukkan kepalanya. Ditariknya lengan kekar kekasihnya itu untuk mengikutinya, Sementara yang ditarik hanya tersenyum lima jari pada setiap murid yang berpapasan dengannya.

"E'eh," kagetnya. Langkahnya langsung terhenti ketika salah satu tangannya ditarik oleh seseorang dari belakang.

"Hinata.. Siapa dia?" Salah satu sahabatnya langsung menanyakan siapa pemuda yang sedang digandeng-nya itu. Raut wajahnya tampak begitu antusias untuk mengetahui identitas pemuda yang sedang digandeng sahabat sejak dari smp-nya.

"I-Ino.. Dia... Teman kak Neji.. Dia akan sekolah disini!"

"Oh... Siapa Namanya,, apa dia sudah punya pacar?"Kini giliran Sakura yang bertanya, Sedetik kemudian, Sakura sudah nyempil ditengah-tengah mereka kemudian menempel genit pada Naruto yang hanya tersenyum menanggapi.

Hinata yang melihat tingkah sahabatnya berubah 180 derajat itupun langsung mengerucutkan bibirnya.

"Namanya Naruto.. Dan aku adalah pacarnya!" Kini giliran Hinata yang nyempil antara Naruto dan Sakura. Salah satu tangannya lalu memisahkan tangan Sakura yang sudah mulai merambat kemana-mana.

"Begitu ya," Ucap sakura pelan. Raut wajahnya pun seketika berubah menjadi sendu.

"Jaa..." Tak memperdulikan kedua temannya yang sedang murung, Hinata langsung menarik Naruto menuju ruang Kepala Sekolah.

Cling!

Sebelum Naruto benar-benar mengikuti langkah Hinata, Naruto berbalik sebentar lalu mengedipkan salah satu matanya sembari melambaikan tangannya, yang akhirnya membuat kedua mata sahabat Hinata itu muncul love-love ala anime. Hinata yang melihat tingkah Naruto yang jadi ikut-ikutan genit pun langsung melepas pegangan tangannya dari lengan kekasihnya.

Hinata berjalan dengan kakinya yang menghentak disetiap langkahnya, kedua tangannya memeluk tas sekolahnya dengan erat sementara wajahnya cemberut layaknya anak kecil yang sedang marah karna tidak dituruti kemauannya.

"Hei.. Hinata-chan, tunggu aku," panggil Naruto ketika Hinata sudah jauh berada didepan.

"..."

"Kamu kenapa sih," panggilnya lagi sambil memegang bahu Hinata dari belakang.

"Kenapa Naruto-kun genit sekali sih?" Kini Hinata sudah berbalik menatap Naruto yang tengah bengong menatap dirinya.

"A-apa?"

"Kenapa pakai mengedipkan mata segala tadi?" Kini Hinata sudah berkacak pinggang dengan matanya yang melotot.

"Oh, ada yang cemburu ya?"

"Huh,"Dengusnya. Hinata lalu berbalik membelakangi kekasihnya yang kini sedang tertawa cekikikan mengejeknya.

"Sudahlah jangan marah, aku hanya mencoba menggodamu tadi, ayo!"

"Menggoda apanya?"

"Tenang saja..." Kini kedua tangan Naruto sudah melingkari tubuh Hinata dari belakang. Memeluknya dengan lembut kemudian menyandarkan kepalanya pada pundak kekasihnya. Wajahnya menoleh melihat bibir manyun bak bebek itu, lalu pipi putih yang sedikit demi sedikit mulai berubah menjadi kemerahan. "...Demi Tuhan, kalau saja tak ada orang yang melihat kita.. Mungkin aku sudah mencium bibirmu yang sudah seperti bebek itu!"

Tubuhnya tiba-tiba merinding ketika mendengar bisikan berat dari bibir kekasihnya, bersamaan dengan itu, dirinya juga harus meneguk ludahnya sendiri ketika salah satu tangan Naruto meraih dagunya untuk berpaling dari pandangannya.

"E'eh!" Tak seperti apa yang ia duga, dirinya mengira kekasih barunya itu akan melakukan kebiasaan buruk yang sering dilakukannya terhadap dirinya. Mencium bibirnya dengan lembut tanpa memperdulikan tempat dimana ia berada.

Hinata sedikit terkaget sembari menutup mulutnya, tak jauh dari tempatnya berdiri terdapat seorang siswa yang sedang jatuh terduduk dengan kedua matanya yang berkaca-kaca terfokus pada dirinya dan kekasihnya.

"Hi-Hinata-Sama!"

"Ayo kita pergi... Aku tidak ingin melihat semua orang mengalami hal semacam itu," Ucapnya sembari menunjuk siswa yang sedang bersimpuh di lantai bak pengemis dipinggir jalan. Kasihan.

"Ayoo!"

Keduanya pun tertawa dalam perjalanan mereka, dan kini, jemari mereka pun sudah terpaut satu sama lain.

Sementara tak jauh dari posisi mereka berjalan, seorang siswa yang bernama Sasuke sedari tadi mengamati mereka dari kejauhan. Raut kesal tampak terlihat dengan jelas dari wajah yang biasanya minim ekspresi itu.

'Kau tidak pantas berjalan disampingnya,' pikirnya dalam hati. Tak ada yang lebih pantas jalan berdampingan dengan Hyuuga Hinata kecuali dirinya, tak ada yang pantas terkecuali aku. Dan dia akan melakukan apapun untuk membuktikan persepsinya itu.

"Sial, aku bersumpah. Aku akan menghancurkanmu!" Ucapnya lalu menjauh dari keramaian.

.

.

.

"Ada makanan apa disini Hinata-chan?"

"Naruto-kun emangnya mau makan apa?"

"Ramen?"

"Baiklah, akan aku pesankan!"

Sekarang adalah jam istirahat, Naruto dan Hinata memutuskan pergi ke kantin sekolah untuk mengisi perutnya yang sudah teriak-teriak minta dikasih makan.

Tadi pagi, pasangan NaruHina itu memang tidak sempat untuk sarapan, Salahkan saja Naruto yang menahan Hinata untuk bangun pagi-pagi, Naruto malah menarik selimut lalu memeluk Hinata untuk mengajaknya tidur kembali. Untung saja, Hinata mempunyai adik setia yang selalu berbakti kepadanya. Kalau saja tidak ada Hanabi,mungkin mereka tidak akan berada ditempat mereka berada sekarang, sekolahan.

Mereka berdua memang tidur satu ranjang, tapi jangan khawatir, karna... Naruto sudah berjanji pada Hiashi bahwa dirinya tidak akan meng-apa-apakan Hinata. Yang mereka lakukan sebelum tidur hanyalah sekedar berciuman, tak lebih dan tak kurang.

"Hinata-chan?"

"Hmm?"

"Apa situasi seperti ini tidak mengganggu?"

"Maksud Naruto-kun?"

"Lihatlah mereka," ucapnya sembari melirik siswa siswi yang bergerombol dan kadang bisik-bisik sembari memperhatikannya. Ini memang hal baru bagi Naruto, wajar saja bila hal ini membuatnya merasa tidak nyaman.

"Mengganggu sih... tapi mau bagaimana lagi. Ayo buka mulut Naruto-kun.. Naruto-kun harus mencobanya," ucap Hinata yang ingin menyuapinya.

Suasana sekolah hari ini memang berbeda dari biasanya, itu dikarenakan ada anak baru yang ternyata adalah kekasih dari siswi paling cantik se sekolah yaitu Hinata. Apalagi anak baru itu memiliki senyum yang sangat mempesona. Jadi, tak heran kalau hal ini menjadi trending topik pembicaraan para murid sekarang.

Hening, itulah kata yang cocok untuk menggambarkan suasana didalam kantin sekarang. Para murid yang biasanya makan sambil mengoceh, kini mereka hanya diam memperhatikan NaruHina yang sedang asik menyuapi makanan satu sama lain.

"HINATA-SAMA!"

Tiba-tiba suara teriakan terdengar dari luar kantin, memecah begitu lama, datanglah seorang Siswa berteriak memanggil nama Hinata memasuki kantin dan berlari menuju tempat dimana Hinata berada.

"E-eh!" Hinata langsung saja dibuatnya bingung ketika Siswa yang berlari itu langsung memegang salah satu tangannya lalu berlutut di sampingnya.

"Kenapa? Kenapa Hinata-sama?" Siswa itu kini malah menangis tersedu-sedu sembari menatap Hinata yang tengah kebingungan.

Para murid yang tadinya sedang asik menyaksikan adegan ala drama itupun merasa terganggu atas kedatangan siswa tersebut. Mereka, yaitu para murid yang beberapa saat lalu telah mendeklarasikan bahwa Naruto dan Hinata akan mereka usung untuk melawan pasangan SaiIno dalam memperebutkan gelar 'The best couple ever', bersepakat untuk mengusir siswa tersebut dari hadapan mereka.

"Menyingkirlah dari Hinata-sama," Teriak para NHL's, mereka lalu menyeret paksa siswa tesebut dari hadapan Hinata dan kemudian diikatkan pada sebuah kursi yang terletak di sudut kantin.

Kini suasana menjadi hening kembali, para murid yang tadi menyeret seorang siswa kinipun sudah kembali ketempat duduknya untuk melihat NaruHina yang sudah kembali memakan makanannya.

Setelah menyaksikan adegan yang bisa dibilang brutal itu, kini tak ada satupun murid yang berani mengganggu kemesraan pasangan NaruHina itu.

.

.

.

"Sasuke-kun pesan apa?"

"Seperti biasanya!" Setelah mengatakan apa yang biasanya ia katakan pada si pelayan, Sasuke segera berbalik lalu mencari tempat duduk yang sudah disediakan di area kantin.

Sasuke melihat sekeliling kemudian mendapati para murid yang sedang mengerubungi sesuatu yang entah apa. Dirinya lalu tertawa sinis sembari mengumpat pelan menertawakan tingkah berlebihan para murid yang terlihat begitu mengganggu dimatanya.

"Hei, mana pesananku!" Setelah 10 menit lebih pesanan makanannya tidak datang, Sasuke akhirnya memutuskan untuk memanggil salah satu pelayan yang sedang berdiri diatas kursi sembari tersenyum gaje.

"Ambil sendiri sana," Jawab si pelayan acuh. Si pelayan tak menggubris, pelayan tersebut malah menyuruh Sasuke untuk mengambil pesanannya sendiri sembari mengibaskan salah satu tangannya.

Diperlakukan seperti itu, Sasuke pun langsung naik pitam. Dirinya mengambil nampan yang berada tak jauh dari dirinya, dibawanya nampan tersebut menuju ke kerumunan untuk mengetahui apa yang membuat para murid dan pelayan kantin itu mengacuhkan dirinya.

"Kurang ajar!" Dirinya langsung mengumpat ketika melihat pemandangan yang begitu menyakitkan dimatanya. Emosinya tambah meluap-luap ketika melihat siswa yang baru tadi pagi dilihatnya itu kini sedang menyuapi gadis pujaannya.

Sasuke berhenti tepat dibelakang Naruto, dengan raut wajahnya yang sudah sangat kesal, Sasuke langsung saja mengayunkan nampan yang ada di tangannya.

Brakk...

Nampan yang terbuat dari besi stainles itu berhasil mendarat dengan keras ditubuh Naruto, tapi tidak pada kepalanya, melainkan di lengan pemuda berambut jabrik kuning itu. Entah tahu dari mana, Naruto tiba-tiba menahan pukulan Sasuke yang sebenarnya ditujukan ke kepalanya.

Hinata terhenyak menampilkan ekspresi wajahnya yang kaget, kursi yang diduduki-nya pun sedikit tergeser kebelakang, sementara nasi yang tadinya berada pada sendok yang dipegang-nya kini sudah berhamburan di lantai.

Para fans langsung syok seketika, ada yang langsung berlari sembari berteriak, ada juga yang hanya terdiam dengan mulutnya yang terbuka sementara tangannya memegang dadanya.

Sementara semua murid masih syok atas apa yang dilihatnya, siswa yang tengah terikat di sudut kantin itu langsung saja clingak-clinguk menoleh kesana-kemari ketika indra pendengarnya menangkap suara teriakan dari sekumpulan murid yang ada dibelakangnya.

"Hei,, apa masalahmu?"

"Diam kau,, dasar bedebah!"

Setelah berucap kasar tadi, Sasuke kembali memukul Naruto dengan nampan yang tadi digunakannya.

Bam...

Bam...

Bam...

Pada hantaman terakhir, Naruto berhasil menahan nampan yang tadi menghujam tubuhnya itu. Adegan tarik menarik antara Naruto dan Sasuke pun tak terelakkan.

Brakk...

Nampan terjatuh di lantai.

"Rasakan ini brengsek!"

Tendangan maut dilayangkan oleh Sasuke. Naruto dengan sigap, langsung menghindar mundur kebelakang, hingga punggungnya sampai menabrak tembok.

"Sial!" Naruto mengumpat ketika dirinya sudah tidak mungkin lagi untuk menghindar. Dirinya pun kini harus terpaksa untuk bergerak maju.

Sasuke sudah bersiap dengan tendangan kaki kirinya. Kaki kanan Naruto maju untuk menjemput tendangan Sasuke yang menuju tubuh bagian dadanya.

Set..

Tendangan Sasuke meleset, kaki yang dibuatnya untuk menendang itupun kini sudah ditangkap Naruto menggunakan salah satu tangannya, kaki kanan Naruto yang bergerak maju, bertugas untuk menggaet satu kaki Sasuke yang masih menginjak pada tanah.

Brakk...

Sasuke terjatuh, tubuhnya membentur lantai dengan keras. Membuatnya meringis kesakitan.

"Hentikan!"

"Brengsek kau!"

Bukan Sasuke namanya kalau menyerah begitu saja, Sasuke bangkit melompat dengan gerakan Kib, kini kehebatan pukulan dari tangannya-lah yang akan ia perlihatkan. Dirinya melompat kearah Naruto dengan bogem terbaik yang pernah dimilikinya.

Wush..

Pukulannya melesat cepat, namun meleset. Kepala Naruto menghindar ke samping lalu salah satu tangan Naruto menangkap lengan Sasuke kemudian menahannya.

Wush..

Diluncurkan lagi, namun gagal lagi. Kini kedua tangan Sasuke sudah tidak bisa berkutik, Naruto berhasil mengunci pergerakan tangan Sasuke.

Set..

Merasa ada kesempatan bagus, Naruto segera bertindak untuk menginjak salah satu betis Sasuke dari belakang, yang kemudian membuat Sasuke harus berlutut dihadapan Naruto dengan salah satu kakinya.

Mereka memandang satu sama lain, Sapphire bertemu Onyk. Suasana di kantin tambah memanas ketika Naruto berhasil mengunci pergerakan Sasuke, membuat Sasuke harus bertekuk lutut dihadapan Naruto.

"Apa ada sesuatu diantara mereka," ucap salah satu murid yang baru saja datang dari sudut kantin.

Sekelumit pemikiran pun langsung terlintas dipikiran-nya ketika melihat Sasuke yang sedang setengah berlutut dihadapan Naruto sembari berpegangan tagan layaknya seseorang yang sedang melamar kekasihnya.

"Apa mereka berdua maho," ucapnya lagi sembari menggaruk menggaruk dagunya yang tidak gatal.

"KAUU!"

Para NHL's pun kembali dibuatnya murka. Berani-beraninya dia mengeluarkan kata keji dari mulutnya atas situasi yang bisa dibilang genting ini. Sedetik kemudian, siswa itu kembali menjadi bulan-bulanan para NHL's.

"Lepaskan aku brengsek!"

"Kau..!"

Para NHL's langsung saja dibuatnya merinding ketika mendengar geraman yang keluar dari mulut Naruto.

Cling..

'What the fu*k hell.'

Para siswa langsung cengo ketika melihat aksi yang begitu menjijikkan dimata mereka, tubuh mereka lemas secara bersamaan, sementara raut wajahnya datar layaknya dinding putih sekolahnya.

Sebuah kedipan dihadiahkan Naruto pada Sasuke, para siswi yang melihat adegan tersebut pun bagaikan melihat drama romansa ber-genre Yaoi kesukaan mereka. Tak ingin membiarkan momen yang indah ini berlalu begitu saja, para siswi lalu segera mengambil ponsel dari sakunya kemudian mengabadikan momen tersebut dalam bentuk sebuah video.

"Naruto-kun!" Sasuke berujar lirih, raut wajah yang tadinya terlihat begitu menakutkan kinipun sudah terganti dengan raut wajah yang begitu menggemaskan.

Sasuke tersenyum lembut memandang Naruto, mata Onyk -nya berubah warna menjadi pink sementara iris matanya berbentuk love-love. Cuih!

Brakk..

Sebuah nampan mendarat keras dikepala Sasuke, tubuh Sasuke pun langsung limbung kemudian langsung pingsan ditempat.

Semua orang terkaget, bahkan Naruto pun sampai terdiam sesaat ketika melihat siapa pelaku yang telah memukul kepala pemuda Uchiha tersebut.

Ia terengah-engah, dadanya naik turun menandakan bahwa adrenalin dalam dirinya sedang bergejolak. Setelah memukul pemuda Uchiha itu, tubuhnya langsung lemas, membuat nampan ditangan-nya merosot kemudian jatuh ke lantai.

"Hinata-chan!"

Naruto lalu datang menghampiri Hinata yang berdiri disebelah dirinya. Dipeluknya lembut tubuh kekasihnya yang kini sedang terguncang, berharap pelukan tubuhnya dapat meringankan rasa ketakutan yang melanda kekasih tercintanya.

.

.

.

tbc...

Hai... jumpa lagi dengan saya... masih ingat saya 'kan?

Saya minta maaf kalo updetnya lambat, sekali updet pendek pula. Saya benar-benar minta maaf. *ojigong*

Maaf lagi ya... kalau menurut anda ff chapter ini jelek, gitu-gitu aja, membosankan dan tidak sesuai dengan keinginan anda, dan kalau semua itu benar... saya minta review ya.. review yang membangun tentunya.

Tapi kalau gak jelek dan tidak membosankan... saya juga mau minta sesuatu dari anda. Gak aneh-aneh kok permintaan saya, saya cuma minta komentar anda tentang chapter diatas.. tentunya di kotak review. *ditabokin*

Satu lagi... dan ini permintaan saya yang paling penting.. Demi rasa kemanusian, saya memohon pada anda... Please.. Pray for Gaza.

Hmm...aku mau ngomong apa lagi yah... aa..*gak pandai ngomong* Udah deh gitu aja!

Salam damai...

Faris Shika Nara.

Samarinda...19/07/14.