Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Story by Faris Shika Nara

Rate T (maybe)

Warning : Au, ooc, tipo dll.

"Naruto-kun"

Chapter 6

Teet...

"Akhirnya!"

Semua murid bersorak serempak ketika bel sekolah akhirnya menyapa gendang telinga mereka sore itu. Mereka bergegas memasukkan berbagai buku ke dalam tas, mencoba untuk sesegera mungkin pergi keluar dari tempat yang mungkin menurut mereka cukup sangat membosankan. Tidak seperti yang aku ingat, sekolah seingatku tak lebih dan tak kurang merupakan sebuah tempat yang mirip sekali dengan neraka.

"Ingat, besok ada ulangan, jadi gunakanlah malam ini untuk belajar!"

"Heeh!"

Tak hanya saat bersorak mereka menjadi begitu kompak, kini menghela napas pun mereka lakukan secara bersamaan. Seperti yang aku bilang, sekolah sama saja seperti neraka. Satu detik kau bahagia, seharian penuh kau akan dibuatnya sengsara.

.

.

.

"Hinata-chan," panggilnya. Ia lalu menoleh pada gadis yang sedang berjalan di sampingnya sembari berkutat memainkan ujung rambutnya itu.

"Hmm?"

"Bagaimana kalau kita pulangnya... jalan kaki saja!" Tepat setelah mengucapkan ajakannya tadi, ia langsung berhenti berjalan kemudian menghalangi langkah kecil milik gadis berparas ayu itu.

"Hah... Tapi jarak sekolah ke rumah kan jauh Naruto-kun," jelasnya. Sesaat setelah itu, wajahnya langsung saja cemberut menandakan bahwa dirinya enggan mengikuti kemauan pemuda bertubuh jangkung itu. Yang benar saja.

"Kamu gak lihat..." Naruto dengan lembut meraih kedua jemari putih yang menggantung itu, mengusapnya pelan menggunakan ibu jarinya. "...sore ini padahal indah sekali loh, kita bisa bersenang-senang nanti, bagaimana?"

"Tapi kaan..." Ia memohon dengan memperlihatkan ekspresi ter-melas-nya agar Naruto dapat mengurungkan niatnya.

"Kamu tau sendiri'kan, nanti kalau kita di rumah lebih cepat, pasti ayahmu akan selalu melarangku berdekatan denganmu. Jadi... kalau kita pulangnya jalan kaki... kita bisa berdekatan tanpa ada yang mengganggu," cerocosnya panjang.

"Em.. entahlah Naruto-kun, a-aku..."

"Ayolah...!"

"Ba-bagaimana ya..." Hinata menundukkan kepalanya dalam-dalam. Menimbang-nimbang apa yang harus ia putuskan sekarang. Di satu sisi, dirinya sudah sangat lelah dan letih akibat aktivitas yang bisa dibilang berat itu, sementara sisi yang lainnya merupakan sisi yang sangat menggiurkan, sangat disayangkan kalau ia menolaknya begitu saja. Benar bukan, kapan lagi ia bisa berduaan dengan kekasih pujaannya itu. Sementara kalau di rumah, Ayah dan adiknya selalu mengganggu ketika Naruto mulai ingin bermanja-manja dengannya.

"Um...ba-baiklah!" Dan akhirnya, rasa letih yang menderanya itu ia abaikan begitu saja.

"Kalau begitu, ayoo!" Ditariknya langsung pergelangan Hinata untuk segera mengikutinya,

"E-eh!"

.

.

.

Angin musim semi berembus, menggoda kelopak Sakura lalu membawa bunga yang identik dengan kaum hawa itu untuk terbang menari bersamanya. Inilah musim dimana sang angin bisa menjadi begitu sangat bersahabat, berbagi kebahagiaan dengan yang lainnya, membawa harumnya Sakura seiring ke mana kepergiannya. Mungkin sang angin sedang jatuh cinta, aku rasa.

"Disini sepi sekali ya Hinata-chan!" Senyum khas yang selalu mengembang pada paras rupawan miliknya mengiringi setiap perkataannya.

"Tentu saja!"

"Sayang sekali!" Sesaat, ekspresi heran hinggap di wajahnya. 'Mengapa tak ada yang menyadarinya,' tanyanya dalam hati.

"Maksud Naruto-kun?"

"Lihatlah tempat ini... udaranya bersih, banyak pohon, angin yang sejuk. Ini seperti dalam dongeng, mengapa tak ada satupun yang menyadarinya," ucapnya pelan. Biru matanya pun kian berbinar kala ia melihat keindahan di sekililingnya.

Hinata tertegun, dirinya memandang kagum lelaki yang kini tengah berjalan membelakangi dirinya itu.

"Entahlah, mungkin mereka masih sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Atau.. mungkin mereka lelah sepertiku," jawabnya pelan sembari membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan karena tertiup angin.

Senyum simpul langsung terlihat ketika indra pendengar milik pemuda bermata biru itu mendengar kata 'lelah' dari bibir mungil gadis yang kini ada di sampingnya.

"Eh, a-apa yang akan kau lakukan Naruto-kun," Tanyanya ketika melihat Naruto yang tiba-tiba jongkok menghalangi jalannya.

"Katanya capek," sahutnya sembari menoleh Gadisnya yang sedang bingung itu.

"Lalu?"

"Ya sini aku gendong!"

"Tapi..." Meskipun hanya dirinya-lah satu-satunya orang yang selalu bersama pemuda jadi-jadian itu, dirinya masih belum mengerti betul siapa seluk-beluk pemuda itu. 'Apa dia tidak punya rasa lelah,' pikirnya.

"Cepatlah!"

"Ba-baiklah!" Dengan ragu Hinata mendekat, wajah ayu berkulit putih itupun sedikit demi sedikit mulai dihiasi rona merah bersamaan ketika ia mulai mengalungkan kedua tangannya pada leher kekasih jadi-jadiannya itu.

"Ya ampun," ucap Naruto ketika ia sedang mencoba menggendong Hinata pada punggungnya.

"Ke-kenapa?" Takut-takut ia bertanya.

"Kau berat sekali... Berapa beratmu? 100 kg," Candanya mengiringi langkah pertamanya.

"Naruto-kun nyebelin," sergahnya. Seketika itu wajahnya langsung cemberut. Pipi yang dipenuhi rona itupun semakin memerah mengiringi rasa malunya.

"Huh!"

Ketika Naruto menoleh untuk sekedar melihat ekspresi Hinata terhadap candaan yang ia lontarkan tadi, Hinata buru-buru langsung menyembunyikan wajahnya dibalik bahu yang ada di depannya itu. Ia benamkan dalam-dalam menghindari pandangan Sapphire yang sudah pasti menyelidik ingin tahu itu.

Selang beberapa saat, sebuah ide gila tiba-tiba muncul menghampiri pikiran mesumnya. Dengan perlahan kedua tangannya bergerak secara hati-hati.

"Mungkin karena ini kau jadi begitu berat!" Candanya lagi sembari meremas kedua bokong yang menggantung bebas di belakangnya.

Nyoot

Seketika itu, wajah Hinata langsung berubah merah layaknya buah kesukaan si pantat ayam.

"..."

Tubuhnya kaku?

Itu sudah pasti!

"Naruto-kun MESUM!" Ia berteriak sekencang-kencangnya setelah sadar dari loading syok yang barusan menimpanya.

"Mesum.. mesum.. mesum!" Kedua kakinya mencak-mencak menendang angin, satu tangannya memiting leher Naruto guna mempererat pegangannya sementara tangan satunya memukuli dan sesekali menarik rambut sewarna matahari itu.

"Khh..akhuh ghak bisa napas," ucap Naruto panik.

"Dasar Naruto-kun mesum!"

"H-hei... te-tenanglah... Nanti kalau jatuh bi-bisa bahaya," ucap Naruto sambil mencoba menyeimbangkan tubuhnya yang sedikit terhuyung kesana-kemari karena ulah Hinata yang sedang meronta berteriak kisruh bak massa hilang kendali memukuli jambret yang tertangkap di pasar pagi.

"Me-mesum!"

"Yah... itu aku!"

"Ja-jahat!"

"Aku'kan hanya bercanda!"

.

.

.

Dalam sebuah ruangan yang bisa dibilang cukup besar dan minim cahaya itu, terdapat 2 orang yang sedang melihat berbagai senjata yang terletak pada sebuah rak, dari tongkat kayu hingga senjata api berspesifiikasi tinggi semuanya ada di situ

"Kukira... kita tak akan membunuhnya," ucap salah satu pria tersebut.

"Yah... kau benar!"

"Lalu kenapa kau membutuhkan itu," tanyanya ketika melihat rekannya mulai mengambil sebuah pistol kemudian memasukkannya di belakang punggungnya.

"Hanya berjaga-jaga!" Ia lalu kembali mengambil sebuah pistol, tapi yang diambilnya kini merupakan sebuah pistol kejut listrik.

"Kau ada masalah dengan senjata api?" Pria berkaca-mata itu bertanya pada rekannya yang hanya diam memandangi tak mengambil satu pun senjata yang tersaji di hadapannya.

"Tidak!"

"Lalu... kenapa kau tak mengambil salah satu dari mereka," ucapnya sembari melirik rekannya yang bisa dibilang cukup aneh itu.

"Cukup dengan ini saja!" Ia kemudian mengeluarkan selembar sapu tangan dari saku jasnya.

"Klise sekali!" Tersenyum sinis, dirinya lalu berjalan keluar dari ruangan pengap dan panas itu.

Setelah mengambil beberapa senjata dari tempat yang aku yakin sekali merupakan sebuah gudang, pria berkacamata itu lalu berjalan menuju sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan dengan diikuti rekannya dari belakang.

"Kemana kita mencarinya?"

"Jangan khawatir tentang itu, informanku bilang... Dia dan gadis Hyuuga itu, tidak ada dalam mobil mereka!"

"Lalu...!"

"Lalu Kita harus mencarinya...!"

"Kemana?"

"Di jalanan tentu saja!"

"Hah.. merepotkan sekali!

.

.

.

"Kenapa kita berhenti di sini Naruto-kun," Tanyanya bingung sembari melirik Naruto yang saat ini sedang menggendong dirinya, tiba-tiba menghentikan langkahnya.

"Sepertinya... itu tempat yang nyaman!"

"Nya-nyaman buat a-apa?" Ia pun segera melihat sekeliling untuk mencari tahu apa yang dimaksudkan Naruto dengan kata nyaman tersebut.

"Emm... buat istirahat," dustanya. Senyum licik yang jarang sekali mampir pada wajah bergaris itu kini kembali muncul bersamaan dengan kilatan mata yang terlihat begitu jarang.

"Kenapa kita malah pergi ke taman sih..." protesnya sembari memberenggut memperlihatkan mimik wajah malasnya. "... aku mau cepat pulang Naruto-kun!"

"Kamu kira aku gak capek... kamu kan berat!" Sergahnya acuh yang tentu saja hanya merupakan sebuah akting belaka.

"Ayo turun!" Kini Naruto sudah berada di bawah sebuah pohon yang entah pohon apa. Pada pohon tersebut, terdapat sebuah bangku yang tidak terlalu panjang yang terbuat dari kayu yang juga entah kayu apa. Who cares?

"Di situ kan kotor... aku gak mau," ucapnya. Dirinya pun otomatis kembali mencengkeram bahu dan pundak Naruto menegaskan bahwa dirinya enggan.

"Ayolah!" Pinta Naruto sembari menggoyang-goyangkan punggungnya berharap Hinata segara turun untuk menurutinya.

"Enggaaaak," ucapnya panjang sembari menggeleng berkali-kali.

"Huh...!" Merasa ucapannya tidak dituruti, Naruto kemudian mengambil langkah untuk menurunkan Hinata secara sepihak.

"Kyaaaaa!"

Brakk!

"Sa-sakit!"

"Akhirnya...!" Ucap Naruto lega kemudian langsung melakukan beberapa gerakan untuk meringankan punggungnya. Sementara itu, Hinata yang melihat tingkah Naruto di depannya itu menjadi sebal sendiri.

"Aku gak seberat itu tau," Sergahnya sembari melihat Naruto yang kini sedang memutar-mutar pinggang di hadapannya.

"Bagaimana kamu bisa tau... kan aku yang menggendongmu!" Balas Naruto sembari mendekatkan wajahnya ke arah Hinata yang kini sedang memajukan bibirnya.

"Huh!"

"Waktunya bersantai... Ini harus disingkirkan!" Naruto menggaet paksa tas yang berada pada pangkuan kekasihnya. Setelahnya, wajah rupawan miliknya-lah yang ada pada pangkuan tersebut. Meletakkan kepalanya dengan nyaman, sembari memandangi wajah kekasihnya yang masih cemberut sembari menoleh ke samping.

"Hei... gak usah cemberut begitu... Jelek tau!"

"Biarin," Jawabnya cepat memotong ucapan Naruto. Selang beberapa saat, kedua tangannya pun kini sudah bersidakap sehingga menghalangi penglihatan Naruto.

"Hei... aku kan hanya ingin bermanja-manja denganmu!" Ucap Naruto yang kini sedang berusaha menurunkan kedua tangan Hinata yang sedang bersidakap itu.

"..."

"Ayolah... Jangan marah!" Kini Naruto malah memainkan bibir manyun kekasihnya itu, menariknya pelan ke kanan dan kiri.

"..."

"Maaf!"

"..."

"Baiklah... Kalau begitu, aku tidur saja," ucapnya kemudian mengambil salah satu pergelangan tangan Hinata lalu mengecup sesaat jemari berkulit halus kekasihnya itu. Setelah melakukan hal tersebut, dirinya pun langsung terlelap dalam pangkuan Hinata sembari menggenggam salah satu tangan kekasihnya itu menuju alam tidurnya.

Hinata yang memang sedari tadi mencuri-curi pandang ke arah Naruto pun kini sudah mulai untuk berani memandang Naruto yang memang sudah lelap dalam tidurnya. Setelah dirinya yakin bahwa Naruto telah benar-benar tertidur, jemari tangan miliknya yang masih bebas itu ia gunakan untuk membelai rambut kuning itu. Bibirnya pun mengulum senyum ketika dirinya semakin menikmati apa yang tengah ia lakukan sekarang.

"Ehm...!"

"..." Wajahnya melotot.

"Aku haus!"

Suara baritone yang tiba-tiba keluar dari mulut Naruto berhasil membangunkan lamunan gadis berparas ayu itu. Jemari tangan yang tadinya sedang asik membelai rambut sewarna matahari itu diangkatnya secara tiba-tiba, wajahnya menoleh kesana-kemari dengan gugup mencoba menenangkan rasa malu yang menerpanya.

"Kamu nyari apa?"

"E.. ta-tas ku mana Naruto-kun?" Tanyanya gelagapan

"Ini!"

"I-iya he..!"

"Buat apa?"

"Ka-katanya ha-haus?"

Naruto hanya bisa menghela napas ketika melihat tingkah Hinata yang tiba-tiba berubah menjadi gugup seperti itu.

Brakk!

"A-aduuh..!"

Tak peduli dengan Naruto yang kini sedang meringis kesakitan meratapi wajahnya yang tiba tiba dihantam Tas seberat 3kilo milik Hina, kini Hinata malah asik mengorek-orek isi tas sekolah miliknya. mencari-cari botol minuman yang tadi siang ia beli dari kantin sekolahnya.

"Mi-minumanku hilang Naruto-kun," Ucap Hinata sembari memperlihatkan wajah herannya.

"Benarkah?" Naruto bertanya pelan sembari memicingkan salah satu matanya.

"Iya, tadi siang kan aku beli minuman di kantin... tapi sekarang kok gak ada," Ucapnya heran kebingungan.

"Huuh..!" Lagi lagi Naruto mendengus karena ingatan Hinata yang tiba-tiba menurun seharian ini. Padahal, botol minuman yang kini sedang dicari-cari oleh Hinata, jelas-jelas berada di tas miliknya. Itupun juga Hinata sendiri yang menyuruh Naruto untuk membawanya.

"Sini mendekatlah!" Naruto dengan santai menyuruh Hinata untuk mendekatkan telinganya ke arah mulutnya.

"A-apa?"

"Botol minumannya ada di dalam tasku... tadi'kan kamu sendiri yang menyuruhku untuk membawanya!"

"O.. iya... Pantas saja di dalam tasku gak ada!" Naruto yang mendengar ucapan Hinata pun dibuatnya melongo seketika. 'Kenapa sikapnya jadi berubah gini sih!' Pikirnya.

"Tas Naruto-kun mana"

"I-ini," Ucapnya sembari menepuk-nepuk sebuah tas yang berada di sebelah kaki Hinata.

Setelah mendengar ucapan dari kekasihnya itu, Hinata pun segera meraih tas berwarna hitam yang kini berada tak jauh dari kedua kakinya. Sementara itu, ketika Hinata mencoba meraih tas milik Naruto, ia diharuskan untuk menundukkan badannya, secara tak sengaja, wajah Naruto yang berada pada pangkuannya pun ia hadiahi dengan -youknowwhatimean- miliknya, yang kemudian membuat Naruto bagaikan terbang ke awan dengan wajahnya yang memerah, ditambah lagi dengan tekanan berulang-ulang dari tubuh Hinata yang sedang mencoba mengambil tas sekolah miliknya. 'Ini Surga' pikir Naruto disela kenikmatan yang kini tengah memenuhi indra penciuman dan perasa miliknya.

Dapat!

"Tunggu dulu..." Naruto buru-buru segera menahan wajah Hinata yang kini mencoba untuk mendongak kembali. Menangkup wajah polos milik gadis yang secara tak sengaja telah membangkitkan gejolak dalam dirinya. "... Kamu kira... kamu bisa lolos segampang itu setelah apa yang kamu lakukan terhadapku?"

"Maksud Naruto-kun A-apmmpph...!"

Degan cepat, Naruto segera memagut bibir ranum berwarna peach itu, mengecapnya secara perlahan, menikmati setiap momen yang kini sedang dialaminya.

"Emmh!"

Hinata yang awalnya memang sedikit terkaget, kini sudah mulai menikmati ciuman yang ia terima dari kekasihnya. Kedua tangannya pun kini bergerak menelusuri leher kekasihnya kemudian mengalungkan kedua tangannya guna memperdalam ciumannya. Sementara tas yang baru saja dipungutnya itu, kini sudah kembali berada di atas tanah.

"Emmh!"

Pagutannya semakin dalam ketika gadis yang sedang berbagi kenikmatan bersamanya itu memperlihatkan wajah sayu serta rona merah yang secara perlahan mulai menjalar keseluruh wajahnya.

"Mmhh!"

Wajah berbingkai kuning yang sedari tadi terbaring pada pangkuan kekasihnya itu sedikit demi sedikit mulai terangkat seiring waktu berlalu. Jari jemari tangannya menyelinap diantara kedua tangan milik sang gadis yang kini sudah menggantung pasrah pada leher miliknya, menelusuri garis punggung dengan tekanan lembut disetiap pergerakannya.

"Mmhh!"

Entah sudah berapa lama pagutan itu berlagsung, kini tubuh mungil milik kekasihnya itu sedang coba ia baringkan di atas bangku yang kini sedang didudukinya.

"Na-narutoh-kunh!"

Crrrrrtttt

Tiba-Tiba tubuh Naruto mengejang lalu ambruk seketika. Hinata yang melihat Naruto yang tiba-tiba ambruk dan pingsan dihadapannya itupun langsung syok, terlihat jelas dari mimik wajahnya.

Selang beberapa detik, kedua bola matanya langsung ia alihkan pada seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik pohon dengan sebuah senjata kejut listrik di tangannya.

"Si-siapa kammmh!" Belum sempat untuk menyelesaikan pertanyaannya, kini dirinya malah menyusul Naruto dengan pingsan mengikutinya.

"Inilah yang terjadi ketika kau bermesraan di tempat umum," Ucap seseorang yang telah membius Hinata dari belakang itu. Sapu tangan yang telah ia gunakan untuk membius Hinata itupun segara ia masukan lagi ke dalam saku jas hitam yang ia kenakan, setelahnya Ia lalu tersenyum puas atas hasil kerjanya.

Sementara pria yang satunya kini sedang menyeringai tersenyum puas, kini pria yang satunya lagi tengah mencoba untuk mengikat kaki dan tangan Naruto.

"Jangan hanya tertawa, ikat gadis itu juga," Ucap pria berkaca-mata itu disela pekerjaan yang sedang ia lakukan sekarang.

"Bukankah kita hanya membutuhkan boneka itu saja!"

"Tidak, kita butuh keduanya!"

"Kenapa?"

"Jangan banyak tanya, ikat saja gadis itu!"

"Merepotkan sekali!"

.

.

.

.

.

TBC...

Lama tak jumpa... #nyengir...

Udah saya lanjukan'kan!

Maaf ya kalau updetnya lama... soalnya beberapa bulan ini... moodnya lagi entah kemana. #bilangajamales.

Jadi, bagaimana menurut anda?

Yah meskipun gak terlalu bagus, tapi saya tetap bangga kok bisa buat fict yang sedemikian rupa rupanya. #nyengir

Review ya... aku kangen ama Review dari kalian semua.. #lebay.

Yah cukup sampai di sini saja, Sekali lagi jangan lupa... repiuw.. repiuw apa saja saya terima...

Jaa-ne'

Faris Shika Nara

Tenggarong/18/03/2015