Langkah kaki semakin membesar, dari telinga yang menyentuh dinginnya aspal. Suara langkah itu terdengar seperti gendang. Detak jantung yang berubah menjadi laju kereta, kini mulai perlahan mengecil. Detakan semakin lemah. Itulah apa yang dirasakan Rize pada saat ini. Tubuhnya mengalami rasa sakit yang paling maksimal yang pernah ia rasakan. Mencoba bergerak, tapi pipa-pipa tajam ini menusuk seluruh bagian tubuhnya hingga tembus ke aspal.

Hanya karena 'makanan' itu, ia melupakan sekitarnya. Terlalu semangat untuk mencicipi rasa baru.

Dan ini yang terjadi. Rize selalu memikirkan dirinya sebagai tipe yang ingin mendominasi. Kenikmatan ketika melihat mangsamu memberikan tatapan malu karena perasaan yang mereka rasakan. Berusaha melakukan hal terbaik untuk menyenangkan hati seorang wanita dan sebagainya. Hal itu membuatnya jijik sekaligus bertambah nafsu. Menghancurkan mimpi dan angan mangsanya dengan seketika dalam beberapa menit ketika mengetahui dirinya sebenarnya apa.

Hal itu yang paling dinikmati oleh Rize. Bahkan menjadi hobi sehari-hari yang membuatnya dapat bahagia di dunia kotor ini.

Rasa takut, terror, dan bagaimana mangsanya berubah menjadi pengecut yang membasahi dirinya sendiri dengan urin ketika melihat Kagune miliknya. Jatuh semua roman wajah sok pemberani dan gentleman yang mereka miliki, digantikan dengan herbivora yang melihat predator yang akan memangsanya.

Dan disaat itu, Rize akan mengakhiri hidup mangsanya dengan perlahan, pertama memakan bagian non-vital yang tidak akan membahayakan mangsanya. Kemudian memberikan gigitan lama yang merobek kulit hingga sebagian daging. Dan semua itu ia lakukan dengan mangsanya melihat apa yang ia lakukan. Rasa darah yang biasanya bagaikan besi berkarat, berubah menjadi anggur dari penyulingan terbaik. Aroma tajam yang menggoda selera. Daging bercampur anggur dengan rasa kenyal disetiap gigitan. Dan rasa manis tulang sebagai penutup bagaikan lollipop.

Tapi semua itu berubah 360 derajat, ketika besi-besi tajam itu jatuh tepat di atas tubuhnya.

Rize mengetahui bahwa beberapa puluh meter, atau dekat dengan dirinya terdapat Ghoul, yang merupakan satu jenis dengan ia. Tapi, karena terlalu terbawa suasana yang selalu ia tunggu-tunggu membuatnya tidak memerdulikan itu. Dan lihat apa yang terjadi sekarang?

Ia mencoba menggerakkan tangannya, mencoba membawa tentakelnya bergerak ke arah mangsanya. Ia tidak suka melihat mangsanya mati. Tidak suka memakan mereka di saat cahaya telah meninggalkan mata mereka. Sebelum hal itu terjadi...

"Rize Rize... Rize-chan."

Bola mata wanita itu berputar dengan cepat, pupilnya mengecil ketika melihat rupa dari sosok yang mendatanginya.

"Hm, hobimu memang menarik sekali." Sosok itu berjongkok di depan tubuh Rize yang tidak bisa bergerak, membuka topengnya dengan perlahan dan menunjukkan senyuman alami yang menyisakan misteri.

"...K-Kau.." Sebuah harapan kecil muncul di dalam hati Rize menatap pemuda tersebut. "Tolong... bantu... aku."

"Ah... Rize, aku tidak percaya kau mengatakan kata-kata itu padaku. Oh, sebuah ironi yang menyedihkan untuk dilihat. Kau terkenal kuat, anggun, namun juga tidak peduli akan peraturan yang telah diatur disetiap bangsal yang ada di jepang. Memakan sesukamu tanpa peduli akan konsekuensi yang terjadi pada Ghoul yang lain. Setiap Ghoul yang memberikanmu nasehat kau indahkan begitu saja dengan kepribadianmu tersebut."

Sebuah jari telah menemukan tempat di kening wanita tersebut, mengelusnya dengan lembut hingga membuat Rize gemetar dan merasa dingin. Wajah itu semakin mendekat, ekspresi yang tadinya tersenyum berubah di saat mata itu terbuka menatapnya dengan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Mata merah dengan skelera hitam, yang membedakan hanyalah lingkaran biru pada pupil tersebut. "Aku bosan dengan permainan yang kita lakukan. Kau membuatku muak dengan apa yang kau lakukan. Sangat muak hingga aku berpikir untuk memakanmu."

Naruto memegang sisi kepalanya, menahan liur yang hendak keluar dari mulutnya. Pupil bergetar menatap dengan lapar terhadap Rize. Tapi itu tidak berlangsung lama ketika pemuda itu berhenti untuk beberapa waktu dan kemudian menarik nafasnya dengan dalam. "...Tapi, dari semua itu. Ada beberapa hal yang membuatku menahan diri untuk tidak melakukan hal itu padamu... sekarang kau telah melewati batas tertentu... dan aku tidak suka dengan itu."

Rize merasakan jari telunjuk dengan kuku tajam itu mulai memberikan tekanan terhadap keningnya, mencoba menusuk dengan perlahan.

Rasa sakit kecil yang perlahan memusat pada satu hal.

"Ah... bagaimana rasanya, menerima dan merasakan rasa takut itu sendiri? Ketika dirimu memberikan mangsamu rasa sakit akan nafsu tinggimu... itu mengasyikkan, bukan? sekarang semuanya terbalik. Aku memang mengetahui dirimu tipe perempuan yang ingin mendominasi lawan jenisnya. Bersembunyi di roman wajah gadis lembut dan lugu, dan ketika semua sudah mencapai satu bagian akhir, kau melepas segala rantai topeng tersebut, dan menunjukkan wajahmu." Mata pemuda itu melirik sesaat terhadap manusia yang tidak sadarkan diri yang pada saat ini tersandarkan di dinding yang berdarah. Darah segar yang mengalir dari perutnya masih terus keluar perlahan namun tanpa henti. Tatapan itu melembut sesaat sebelum kembali menjadi dingin.

"Rize-chan, aku sudah pernah mengatakan padamu... permainan ini sungguh berbahaya. Menggairahkan, namun tetap saja berbahaya." Dua buah jari yang mengelus lembut kening tersebut hingga tiba di kelopak mata perempuan tersebut. "...Dan sekarang kau menjadi apa yang dimangsa."

*JLEB*

Tangan kanan pemuda itu menutup mulut dari wanita itu.

Naruto meremas bola mata yang berada di tangannya, "Ssst... Semakin besar suara yang kau keluarkan... semakin banyak rasa sakit yang akan kuberikan padamu. Jadilah gadis yang baik, dan diam." Rize hanya bisa meringis menahan kesakitan dan berusaha melihat arah lain selain dari mata yang bersinar dari lubang topeng tersebut.

Pemuda itu terdiam untuk sesaat, matanya menatap ke arah kejauhan. "Orang-orang mulai datang karena keributan tadi." Naruto melompat ke atas, menghindari serangan yang mungkin akan membelahnya menjadi dua. "Dan Penyelidik datang terlebih dahulu." Ia kemudian menunduk, menghindari senjata yang tercipta khusus untuk membunuh jenisnya. "Lemah." Menaikkan badannya dan mundur beberapa detik dengan malasnya sebelum melompat jauh.

"Oh, Mado sang Investigator gila. Sepertinya umur telah mengejarmu... atau, ini semua karena kematian.."

"Diam! Mahkluk jahanam sepertimu tidak berhak untuk bicara dengan lancang. Pertama aku akan menangkapmu dan menyiksa sebelum memotong satu persatu tubuhmu." Sosok yang mengatakan itu memberikan seringai lebar yang sinis. "Dan dari tubuh rusak itu, aku akan menciptakan senjata baru untuk membunuh sisa dari kalian." Suara 'klik' dari koper yang terbuka membuat senyuman menyeringai dari pria itu melebar. "Bersiaplah!"

Pemuda bertopeng rubah itu hanya menggelengkan kepalanya. "Seberapa menariknya hal itu, tapi aku masih mempunyai urusan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Dan ke-dua mangsa yang berada di belakangku ini akan membusuk jika aku membiarkannya terlalu lama. Maaf, aku tidak suka dengan daging yang sudah dibiarkan di udara terbuka lebih dari 2 jam." Naruto mengangkat Rize dengan kasar ke pundak kanannya, dan Kaneki dengan pelan di pundak tangannya, dan berhati-hati agar tidak memegang luka baru tersebut.

"Sampai jumpa lagi~" Dengan ceria Naruto melompat ke langit.

"Tidak!" Kesal itulah apa yang dirasakan Mado pada saat ini. Mencoba menarik nafas dalam untuk menenangkan dirinya, pria itu kemudian menatap sosok yang berada di sampingnya. "Amon-kun, jika kau bertemu dengan makhluk itu, sebaiknya kau mundur. Dia bukan tandinganmu untuk saat ini."

Pria muda itu mengangguk dengan pelan mendengar hal itu dari seniornya, jika sendiri mungkin akan fatal, tapi jika diserang dalam jumlah banyak, tentu saja dia tidak sekuat itu bukan?

Lol. Ini hanya setengah dari chapter yang inging saya publish, tapi mengingat ini sudah terlalu lama, lebih baik saya publish. Tujuannya sih, agar kalian bisa lebih mengerti karakter di atas. Lagipula ini tidak termasuk update, karena saya sedang hiatus. Anggap saja ini cemilan kecil dari kristoper21 sebelum makan besarnya tiba pada bulan mei.