"Kau berhutang penjelasan pada Daddy, Wu Taeyong." Yifan menyalakan mesin mobil yang ditumpanginya dengan gerakan yang agak kasar. Sepertinya, ia sudah tidak sabar dengan penjelasan tentang 'Sehun Hyung' yang disebut oleh putra semata wayangnya.
Yifan berharap ia salah dengar―atau setidaknya, ia berharap bahwa Taeyong-lah yang sudah salah berbicara, Sepertinya Sehun Hyung tidak cukup buruk untuk menjadi Mommy-ku. Kalimat itu senantiasa terngiang di kepalanya dan berdenging pelan di telinganya seperti suara bisikan roh halus. Dari apa yang didengarnya, bisa dipastikan bahwa Taeyong sudah tahu tentang sosok calon istri dan calon ibu untuk mereka, Ini bukan suatu kejutan bagi Yifan. Toh Ibunya sudah meneleponnya dan mengatakan bahwa ia sudah menemukan calon pendamping hidup Yifan. Tapi, apa ia tidak salah dengar? Taeyong menyebut kata 'Hyung', jadi apakah itu artinya―
Yifan menggelengkan kepalanya pelan. Mana mungkin ia menikah dengan seorang pria? Tidak mungkin kan?
"Urm, Daddy―" Taeyong menundukkan kepalanya, meski matanya sesekali melirik ke arah sang Ayah. Giginya terkatup rapat karena takut.
Suara cicitan Taeyong berhasil membuyarkan lamunan sesaat Yifan. Pria dewasa itu menoleh ke arah putranya sambil menginjak pedal gas perlahan. "Sudah siap dengan penjelasanmu, Nak?" Suaranya kali ini terdengar lebih dalam, berat dan serius―membuat Taeyong bergidik ngeri. Yifan jarang sekali terdengar seserius ini meski perangainya terlihat kaku.
Taeyong mendesah pasrah―bahunya melorot karena lesu. Ia berharap semoga Ayahnya, Neneknya, dan Tuhan masih menyayanginya setelah ini. "Sebelumnya, aku minta maaf karena seharusnya ini menjadi rahasia antara aku dan Granny," buka Taeyong.
Pandangan Yifan sudah terfokus pada jalanan. Ia mengemudikan mobilnya keluar dari lapangan parkir. Yifan menggumam pelan, sebelum berkata, "Lalu?"
Taeyong semakin ngeri pada Ayahnya. Selain aura di sekitarnya yang nampak suram, nada bicara dan kata-kata pendek yang keluar dari mulut Yifan menambah ketegangan tersendiri di dalam mobil mewah itu. "Aku tak yakin apakah aku harus mengatakannya atau tidak." Anak lelaki itu meringis tertahan.
Yifan sama sekali mengalihkan pandangannya dari jalanan yang agak lengang sore itu. "Dengar, Taeyong. Cepat atau lambat, Daddy pasti akan mengetahuinya. Jadi lebih baik, kau memberitahu kenyataannya sekarang, sebelum timbul masalah yang besar."
Taeyong mendongakkan kepalanya. Masalah apa? batinnya bertanya-tanya. "Bagaimana kalau Granny―"
"Tenang saja, Daddy yang akan menangani Granny." Yifan memotong ucapan Taeyong dengan cepat. Pria berumur 35 tahun itu menggeram rendah karena meraa tak cukup sabar untuk mendengar penjelasan putranya.
Taeyong mendesah kecil. "Baiklah, aku akan menjelaskannya pada Daddy," cicitnya pelan―terbersit nada tak rela dalam suaranya. Ia merasa gagal menjaga rahasia dari Neneknya. "Jadi, sebenarnya, Granny sudah menemukan calon Mommy untukku, Dad." Taeyong membuka penjelasannya.
Yifan meremat kemudinya agak keras. Ya, ia sudah menebak hal ini. "Lalu?"
"Granny sudah memberitahukan siapa calon Mommy itu dan aku mengenalnya dengan baik." Dengan kepala yang tertunduk, Taeyong mencoba mencuri pandang pada Ayahnya dalam diam.
"Kau? Mengenalnya?" Suara Yifan nyaris terdengar seperti gumaman. Keningnya berkerut bingung. "Bagaimana bisa? Granny sudah mempertemukan kalian?" tanya Yifan penasaran.
"B-bukan begitu," sergah Taeyong cepat. "Sebelumnya, aku memang sudah mengenal pria itu."
Yifan tersedak―seperti ada sesuatu yang ingin melompat keluar dari dalam rongga mulutnya. Kakinya refleks menginjak rem―membuat mobilnya berhenti secara mendadak.
"Ouch!" Taeyong terkejut karena mobilnya dihentikan begitu saja oleh sang Ayah. "Ada apa, Dad?"
Yifan menolehkan kepalanya perlahan ke arah Taeyong dan melemparkan tatapan horror pada putranya itu. "Kau bilang apa, Taeyong?" Yifan mengambil jeda sejenak. Suaranya nyaris tak keluar―seolah-olah ia sedang melihat sesosok hantu. "Pria?"
Taeyong mengerjapkan matanya. "Ya, pria. Calon Mommy-ku adalah seorang pria dan namanya adalah Sehun Hyung."
Seseorang. Tolong. Tembak. Kepala. Yifan. Sekarang. Juga.
―
rappicasso
presents
an alternate universe fanfiction
Wifey
.: chapter 2 :.
starring
Wu Yifan | Lee Taeyong | Oh Sehun
―
"Masuk ke kamar sekarang juga, Wu Taeyong."
Taeyong tak berani melayangkan protes dalam bentuk apapun, karena ia berani bersumpah bahwa Ayahnya petang itu terlihat begitu mengerikan―sungguh! Anak remaja berusia 15 tahun itu segera mematuhi perintah Ayahnya dengan melesat ke kamarnya yang berada di lantai atas. Ia mengabaikan rasa penasaran yang membuat Ayahnya menjadi berubah seperti itu. Taeyong bahkan mengabaikan raut kebingungan yang tercetak jelas di wajah sang Nenek.
"Yifan, ada a―"
"Aku harus berbicara dengan Ibu." Yifan dengan tidak sopannya memotong ucapan Ibunya. Persetan jika ia dikutuk menjadi batu. Ia lebih baik dikutuk menjadi batu daripada harus mengikuti rencana gila yang ada di otak Ibunya.
"Tapi Taeyong―"
"Berdua saja, Bu. Hanya kita berdua."
Vivian bisa merasakan aura gelap yang memancar dari dalam tubuh Yifan―dan itu hanya berarti satu hal. Yifan pasti sedang marah besar. "Baiklah, baiklah." Vivian mendesah pelan. "Mari kita bicarakan apapun yang ingin kau bicarakan itu dengan baik-baik." Wanita paruh baya itu tak ingat kapan terakhir kali Yifan terlihat begitu marah, namun ia tahu betul bahwa efeknya tidak begitu baik baginya.
Yifan mendudukkan tubuhnya di atas sofa ruang keluarga, kemudian menyilangkan kakinya dan melipat tangannya di depan dada. "Taeyong sudah menjelaskannya padaku, Bu."
Vivian yang hendak duduk di atas sofa, secara refleks menghentikan gerakannya. "Menjelaskan―apa?" Keningnya berkerut. Akhirnya, wanita itu tetap duduk di atas sofa―berhadapan langsung dengan Yifan.
"Calon istriku." Yifan menjawab pendek-pendek. "Aku ingin mengklarifikasinya―apakah yang dikatakan Taeyong memang benar adanya," tuturnya dengan nada dingin.
Vivian mendesah kecil. Ia tahu bahwa Yifan pasti akan mengalami shock jika ia tahu tentang idenya untuk masalah yang satu ini. Maka dari itu, ia sudah menyiapkan berbagai penjelasan untuk Yifan nanti. Wanita itu benar-benar tak menyangka bahwa Taeyong sudah mengungkap idenya itu di hadapan Ayahnya. "Ibu tahu Taeyong bukan anak yang suka berbohong, jadi Ibu yakin bahwa apa yang dikatakan Taeyong memang benar adanya."
Rahang Yifan serasa terlepas dan meluncur ke bawah begitu saja. Pendengarannya tidak salah kan? Ia kembali mengatupkan rahangnya dan menggeram rendah. "Haruskah, Bu?" desisnya.
"Yifan, dengarkan―"
"Demi Tuhan, Bu! Aku masih normal!" Yifan tak bisa menguasai dirinya sendiri untuk tidak memekik di hadapan Ibunya.
Vivian menghela nafas. "Yifan, Ibu mohon jangan histeris seperti ini. Mengerti?" Sang ibu mencoba menenangkan sang anak..
Yifan mengontrol nafasnya sendiri. Ia melonggarkan dasi yang melingkari lehernya. "Baiklah, maafkan aku, Bu."
Vivian tersenyum kecil ke arah putranya. "Dengarkan penjelasan Ibu terlebih dahulu, Fan," ucapnya. "Kemarin kau bilang, kau bersedia menikahi siapapun yang akan Ibu kenalkan padamu, bukan?" tanyanya memastikan.
Yifan menyandarkan punggungnya pada sofa. Matanya terpejam. Dalam hati, ia menyesali ucapannya kemarin. "Hm."
"Siapapun asal dia bersedia menikah denganmu?"
Yifan mengangguk pelan.
"Siapapun asal dia bisa mendampingimu untuk membesarkan Taeyong?"
Yifan membuka matanya perlahan, kemudian kembali mengangguk.
"Maka dialah orangnya, Yifan," putus Vivian.
Yifan mengernyit. "Maksud Ibu―Sehun?" tanya Yifan memastikan. Lidahnya terasa kelu saat mengucapkan nama pria yang akan menjadi calon istrinya. Hell, calon istrinya seorang pria? Yang benar saja.
Vivian mengangguk mantap. "Dia adalah orang yang baik. Taeyong sudah mengenalnya sejak lama dan dia bilang, dia sangat menyukai pria itu. Mereka cukup dekat dan Ibu pikir, Sehun adalah orang yang tepat," ungkapnya.
Kepala Yifan serasa berdenyut pelan. Jemarinya memijat pelipisnya dengan lembut. "Apakah Sehun bersedia dinikahkan denganku? Kami bahkan belum saling mengenal."
Vivian meremas pelan jemarinya. "Begini, Yifan―ceritanya agak panjang."
"Ceritakan saja, Bu."
Vivian menarik nafas dalam-dalam sebelum memulai ceritanya. "Jadi, sebenarnya Ibu sudah lama mengenal keluarga Sehun. Dulu sekali, keluarga kita ingin sekali menikahkan salah satu anaknya dengan anak keluarga Sehun. Namun selalu saja gagal, karena dalam satu generasi, yang terlahir selalu saja dengan gender yang sama."
"Lalu, sekarang aku yang menjadi korbannya eh?" gumam Yifan kesal.
Vivian langsung melemparkan tatapan mematikannya ke arah Yifan yang membuat putra semata wayangnya itu meringis tertahan. "Beberapa bulan yang lalu, orang tua Sehun meninggal dalam sebuah kecelakaan. Ia diurus oleh Paman dan Bibinya sekarang. Sehun terlihat begitu murung akhir-akhir ini. Ia merasa begitu kesepian dan Ibu pikir, mungkin kau bisa membantunya untuk tidak terlalu larut dalam kesedihannya."
Yifan mengernyit. "Kenapa harus aku?"
"Oh, ayolah, Yifan. Ini adalah cita-cita yang sejak lama diidamkan kedua keluarga ini. Lagipula, pikirkan berapa besarnya keuntungan yang akan diterima perusahaanmu jika keluarga Sehun ikut bergabung dengan kita," oceh Vivian―masih tak jenuh membujuk Yifan.
Yifan memicingkan matanya. "Tumben sekali, Ibu sangat tertarik mengurusi perusahaan," cibirnya.
"Ibu memikirkan tentang dirimu, Taeyong dan Sehun. Ini demi kebaikan kalian juga." Vivian tetap teguh pada pendiriannya.
Yifan menghela nafas panjang, kemudian bangkit dari duduknya. "Baiklah, kalau begitu. Aku percaya Ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk putra dan cucu Ibu. Rencanakan saja pertemuanku dengan Sehun. Aku akan naik ke atas dulu."
Vivian tersenyum puas. "Baiklah, Yifannie." Wanita itu pun ikut bangkit dari duduknya. "Istirahatlah yang baik, Nak."
Yifan mengangguk sekilas, kemudian kembali membuka suara. "Aku benar-benar memegang kalimat Ibu."
―
Yifan sedang berbaring di atas kasur king-size miliknya. Kedua lengan kekarnya diletakkan dibalik kepalanya dan saling bersilangan. Matanya menatap langit-langit kamarnya yang kosong―seperti hati dan pikirannya. Awalnya, ia memang tak percaya bahwa ia akan segera bertemu calon istrinya dan itu artinya ia akan segera menikah kembali. Sesungguhnya, satu-satunya alasan dirinya untuk menikah kembali hanyalah untuk Taeyong. Dirinya sendiri belum terlalu siap untuk menikah kembali. Bukannya ia trauma untuk kehilangan istrinya lagi, hanya saja ia masih belum berhasil menghapuskan bayang-bayang istrinya yang telah tiada. Jauh di dalam lubuk hatinya, Yifan masih begitu mencintai istrinya.
Namanya adalah Lee Yeonhee. Seorang gadis yang dikenalnya saat ia menempuh pendidikannya di salah satu Universitas terkemuka di Korea Selatan. Keduanya berteman dengan sangat baik sejak awal karena memiliki banyak kegemaran yang sama. Keduanya semakin dekat dan akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Namun suatu ketika, terjadi suatu kecelakaan yang membuat Yeonhee harus mengandung anak Yifan di luar nikah. Masa depan Yeonhee terancam. Gadis yang mendapat beasiswa untuk biaya pendidikannya itu terancam kehilangan beasiswanya dan didepak dari kampusnya. Sebagai pria yang bertanggung jawab, akhirnya Yifan pun membawa Yeonhee bertemu dengan Ibunya dan keduanya mendapat restu untuk menikah. Yifan dan Yeonhee menikah di usia yang sangat muda―19 tahun. Yifan masih bisa melanjutkan kuliahnya sambil bekerja di perusahaan keluarganya, sementara Yeonhee hanya tinggal di rumah. Belakangan, diketahui bahwa Yeonhee menderita hemofilia, sehingga sangat berbahaya bagi dirinya untuk mengandung. Kondisinya sangat lemah, namun gadis yang sudah hidup sebatang kara sejak remaja itu memutuskan untuk mempertahankan kandungannya―bahkan jika nyawanyalah yang menjadi taruhannya. Ia merasa, walaupun suatu saat nanti ia harus pergi meninggalkan Yifan, ia telah memberikan seorang malaikat kecil untuk menjaga pria yang dikasihinya itu. Sesungguhnya, Yifan menentang keputusan Yeonhee, namun istrinya itu tak bisa ditentang. Yifan mengalah dan mencoba menguatkan hatinya untuk menerima segala resiko yang harus ditanggungnya. Hingga saat tiba kelahiran putra pertama mereka, Yeonhee kehilangan banyak darah. Kondisinya begitu lemah. Yeonhee sempat bertahan selama seminggu, hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.
Yifan masih ingat betul bagaimana pesan Yeonhee sebelum meninggal. "Yifannie, kau adalah hadiah terindah yang pernah hadir dalam hidupku. Dan aku sudah mencoba memberikanmu hadiahku―Taeyong. Kuharap kau menjaganya dengan baik―demi aku. Aku mencintai kalian."
Tanpa terasa, Yifan meneteskan air matanya. Ia tidak menyesali keputusan Yeonhee untuk mempertahankan Taeyeong. Ia bahkan tidak menyesali kepergian Yeonhee. Menurutnya, ini memang sudah ditakdirkan untuk keluarganya. Toh cepat atau lambat, Yeonhee pasti akan meninggalkannya. Tapi setidaknya, saat ini Yifan masih memiliki Taeyong di sisinya. Ia akan baik-baik saja, walau hanya berdua saja dengan Taeyong untuk menjalani hidup. Itulah mengapa ia tak berniat untuk mencari pendamping hidup lagi sebagai pengganti Yeonhee.
Yifan memejamkan matanya. "Yeonhee-ya, apa yang harus kulakukan sekarang?" gumamnya sambil membayangkan sosok istrinya.
Yifan bisa saja menikah dengan wanita manapun yang bersedia menjadi Ibu Taeyong dan merawat putranya. Ia tidak membutuhkan cinta atau kepuasan seksual. Ia hanya ingin melihat Taeyong tumbuh seperti anak lainnya dan berbahagia. Namun apa yang terjadi saat ini benar-benar di luar dugaannya. Ada seseorang yang mungkin bersedia menjadi Ibu Taeyong, tapi orang itu adalah―seorang pria? Meskipun Yifan mengklaim bahwa dirinya tidak butuh cinta atau kepuasan di atas ranjang, namun ia masih tak habis pikir ada dua pria memimpin suatu rumah tangga. Pria memiliki sifat alami untuk mendominasi dan tak ingin didominasi. Lantas, bagaimana bisa, nantinya Yifan hidup dengan seorang pria yang mungkin tidak ingin didominasi olehnya? Mungkinkah pria bernama Sehun itu pasrah saja jika didominasi olehnya? Itu sungguh mustahil.
TOK! TOK! TOK!
Di tengah lamunannya, suara ketukan di pintu kamarnya terdengar. "Daddy? Ini Taeyong."
Lamunan Yifan buyar seketika. Ia segera memperbaiki posisinya dengan duduk di atas ranjang sambil bersandar pada headboard. "Ah, masuklah, Tae."
CKLEK!
Taeyong membuka pintu kamar Ayahnya dan melangkah masuk ke dalam. Ia meringis sambil menyapa, "Hai, Dad."
"Tumben sekali kau datang kemari. Ada pelajaran yang sulit?" tanya Yifan sambil menepuk sisi kasur yang kosong―menginstruksikan Taeyong untuk duduk di sampingnya.
Taeyong mendengus. "Besok hari Sabtu, Dad," gerutunya pelan. Ia melangkah naik ke atas ranjang―tepat di samping Ayahnya.
Yifan tertawa pelan. "Oh ya? Astaga, Dad lupa," ucapnya. "Jadi, ada apa, Tae?" tanyanya lagi.
Taeyong mengulum senyum sebelum kembali membuka suara. "Tentang calon Ibuku―bagaimana pendapat Daddy?" tanya Taeyong lirih.
Yifan terdiam sejenak, kemudian memberikan sebuah senyuman tipis pada putranya. "Tak ada salahnya mencoba kan?" jawabnya mantap―meskipun tersisa keraguan di dalam hatinya.
Mata Taeyong berkilah penuh semangat. "Lalu kenapa Daddy terlihat marah tadi? Daddy tidak bertengkar dengan Granny kan?" tanya bocah itu was-was.
Yifan mengusap puncak kepala Taeyong. "Tidak, Sayang. Daddy hanya terkejut tadi," jawabnya lembut. "Ini terlalu mengejutkan bagi Daddy."
Taeyong memiringkan kepalanya―bingung. "Mengejutkan bagaimana?" tanyanya.
Yifan tersenyum. "Kau akan memahaminya suatu saat nanti, Nak," putusnya.
Taeyong memberengut kesal. "Kenapa orang dewasa sangat sulit untuk dipahami?"
Yifan tergelak pelan. "Kau tidak mengantuk, Tae?"
"Agak mengantuk." Taeyong menguap pelan. "Kalau begitu, Taeyong kembali ke kamar dulu, Dad. Bye Dad!" Taeyong melompat turun dari atas kasur Ayahnya dan berjalan keluar.
Terdengar suara pintu yang ditutup, diikuti desahan pelan dari Yifan. Kini yang tersisa hanyalah Yifan dengan pikirannya yang melayang-layang.
Tak ada salahnya mencoba ya?
―
"Kalian akan kemana hari ini?" Vivian membuka pembicaraan di meja makan. Saat itu, ia sedang menikmati sarapan bersama putra dan cucu lelakinya. Ini adalah suatu agenda wajib yang dilakukan mereka setiap akhir pekan tiba.
"Aku akan pergi ke rumah Jaehyun untuk mengerjakan beberapa tugas," jawab Taeyong dengan semangat.
Yifan memotong dagingnya sambil menggumam, "Anak pintar."
"Jam berapa kau berangkat, Sayang?" Vivian bertanya kepada Taeyong sambil mengelus puncak kepala cucunya itu.
"Jam 9, mungkin?" Taeyong mengambi air putih miliknya dan meminumnya sedikit.
"Nanti Taeyong berangkat dengan Granny saja, okay?" tawar Vivian yang dbalasi dengan anggukan oleh Taeyong karena anak itu masih mengunyah makanannya.
"Memangnya, Ibu mau pergi kemana?" tanya Yifan pada Ibunya setengah berbisik.
"Ibu akan pergi arisan nanti," jawab Vivian sambil mengulum senyum.
Yifan mendengus. "Pantas saja." Ternyata kebiasaan Ibunya untuk pergi arisan dengan teman-temannya tidak pernah berubah. Ia berpikir, Ibunya itu memang tulus untuk mengantar Taeyong.
"Bagaimana denganmu, Yifan?" Kali ini, Yifan yang ditanyai Ibunya.
Yifan menggumam pelan sambil mengelap bibirnya dengan tisu. "Hm, sepertinya aku akan pergi ke Busan untuk mengecek proyek disana," jawabnya.
"Kau bisa pulang sebelum sore hari?" Vivian menghentikan kegiatannya sejenak dan menatap lekat ke arah putranya.
Yifan menatap bingung ke arah Ibunya. "Mungkin bisa," jawabnya agak ragu. "Memangnya ada apa, Bu?"
Vivian mengulum senyuman. "Ibu sudah merancang pertemuanmu dengan Sehun nanti sore. Bagaimana menurutmu? Kebetulan sekali hari ini adalah hari Sabtu."
Yifan nyaris memuntahkan kembali makanannya. Secepat inikah?
―
Yifan memarkirkan mobilnya di lapangan parkir yang disediakan di Golden Restaurant. Ia melihat ke atas langit melalui kaca depan mobilnya―sangat gelap. Ia pun melirik ke jam tangannya untuk memastikan bahwa ia tak datang terlambat dalam pertemuan pertamanya dengan calon istrinya―Oh Sehun. Sekarang masih pukul 4 sore, namun langit sudah sangat gelap. Sepertinya, cuaca Seoul begitu berbanding terbalik dengan cuaca di Busan yang lebih cerah.
Setelah mematikan mesin mobilnya dan mencabut kunci mobilnya, Yifan segera melompat turun dan memastikan bahwa mobilnya sudah terkunci dengan benar. Ia segera melangkah masuk ke dalam Golden Restaurant. Ia terhenti sejenak di ambang pintu. Hari ini adalah hari Sabtu―hampir kebanyakan orang menghabiskan waktunya di luar rumah dan salah satunya adalah dengan menikmati makan malam di salah satu restoran bintang lima di pusat kota Seoul itu. Yifan harus memicingkan matanya untuk mencari kursi yang kosong. Ia menemukan tempat yang kosong tepat di tengah ruangan. Sesungguhnya, ia lebih suka duduk di pojok ruangan atau di samping jendela besar. Namun berhubung tempat-tempat itu sudah penuh, jadi ia terpaksa menerima untuk duduk di tengah ruangan.
Yifan melangkah cepat dengan kedua kaki jenjangnya menuju tempat yang diinginkannya sebelum didahului oleh orang lain. Ia mendudukkan tubuhnya, kemudian mengeluarkan ponselnya. Ia harus memberi kabar pada Sehun.
- To: Oh Sehun -
Apakah kau sudah tiba?
Yifan
Setelah mengirimkan pesannya untuk Sehun, Yifan pun meletakkan ponselnya di atas meja. Ibunya sudah memberikannya nomor ponsel Sehun agar keduanya lebih mudah untuk berkomunikasi nanti. Kini Yifan sedang berusaha mengatur nafas dan detak jantungnya sendiri yang kian tak beraturan setiap kali ia teringat suatu fakta bahwa ia akan bertemu dengan pria yang akan menjadi calon pendamping hidupnya. Tolong garis bawahi dengan tinta merah―pria.
Yifan berharap ia akan mampu menerima bagaimanapun Sehun nantinya. Lagipula, Ibunya bilang bahwa Sehun itu lumayan manis dan kulitnya putih pucat. Sepertinya, Ibunya itu paham sekali dengan tipe idealnya. Namun ia tetap saja penasaran dengan rupa asli Sehun. Ia sama sekali belum mengetahui bagaimana wajahnya―apalagi kepribadiannya. Tapi Yifan harap, Sehun adalah orang yang tepat, meskipun sebagai kecil dalam hatinya masih menolak untuk dijodohkan dengan seorang pria.
Ponsel Yifan berdering singkat.
- From: Mama -
Kau sudah tiba?
Yifan mendesah kecil sambil menggerakkan jemarinya untuk mengetikkan pesan balasan untuk Ibunya.
- To: Mama -
Sudah. Aku sedang menunggu Sehun.
Sebelum Yifan menggeletakkan ponselnya kembali ke atas meja, ponselnya kembal berbunyi. Satu pesan masuk lagi.
- From: Oh Sehun -
Maaf. Kupikir, aku akan agak terlambat. Jalanan macet sekali hari ini.
Yifan mengangguk-anggukkan kepalanya, namun tidak berniat untuk menuliskan pesan balasan untuk Sehun. Yang penting, pria itu akan segera datang kan? Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi lagi. Kali ini sebuah pesan dari Ibunya.
- From: Mama -
Bagaimana dengan Sehun?
Yifan mendengus, kemudian memutuskan untuk menghubungi Ibunya daripada membuang-buang uang untuk membalas pesan Ibunya yang seperti pertanyaan yang tak kunjung habis itu. "Halo, Ibu?"
"Yifan! Apakah kau sudah bertemu Sehun?"
"Belum, Bu. Sehun bilang, dia sedang terjebak macet. Mungkin sebentar lagi, dia akan datang."
"Oh, baiklah. Ingat, Yifan. Kau harus memperlakukan Sehun dengan baik. Sehun itu anak yang manis."
Yifan menghela nafas pendek. "Tentu, Bu."
"Baiklah kalau begitu. Ibu tutup dulu. Selamat bersenang-senang."
Panggilan itu diputuskan langsung oleh Ibunya―membuat Yifan lagi-lagi hanya bisa menghela nafas. "Dasar ibu-ibu," gerutunya pelan sambil menggelengkan kepalanya. Saat Yifan hendak menyimpan ponselnya lagi ke dalam saku celananya, ponsel itu kembali berbunyi.
Dari Sehun.
Oh tidak.
Yifan menekan tombol 'Answer' dengan ragu. Ditempelkannya ponsel ke telinganya dengan perasaan tak menentu.
"Halo, Yifan-ssi?" Suara Sehun menyapa indra pendengarannya. Suaranya tidak selembut suara wanita. Suaranya seperti suara―seorang pria. Ya, suara pria. Tentu saja, Sehun kan seorang pria.
"H-halo?"
"Aku sudah datang. Kau ada dimana? Atau kau pakai baju apa?"
Yifan mendadak merasa keringat membasahi sekujur tubuhnya, padahal hawa saat itu sedang sangat dingin. "A-aku duduk di meja bagian tengah dan aku memakai polo shirt berwarna biru tua," jelas Yifan dengan nada agak gugup.
"Oh, baiklah."
PIP!
Yifan mendongakkan kepalanya dengan ragu, khawatir jika ia akan langsung bertemu pandang dengan Sehun. Meski masih agak tertunduk, Yifan bisa menangkap sosok pria yang berdiri di ambang pintu. Namun ia tak bisa melihat sosoknya dengan jelas. Ah, mungkin memang lebih baik seperti itu.
Oh, tidak. Pria itu melangkah mendekat ke arah mejanya. Apakah pria itu sudah melihatnya? Okay, Wu Yifan, tenangkanlah dirimu sendiri. Tarik nafas dalam-dalam, buang perlahan. Tarik nafas dalam-dalam, buang per―
"Permisi." Suara yang sama seperti yang didengar Yifan di telepon kembali menyapa pendengarannya.
Yifan mendongakkan kepalanya. Matanya menangkap sosok pria yang nampak lebih muda darinya dengan kulit putih pucat dan wajah yang manis sedang berdiri di hadapannya.
"Kau benar―Wu Yifan?" tanya pria itu agak takut.
Yifan mengangguk pelan. Batinnya bertanya-tanya. Benarkah ini Sehun? Ia sama sekali tidak terlihat seperti seorang pria. Lihatlah kulitnya yang putih dan wajahnya yang manis itu!
Pria manis itu mendesah lega. "Perkenalkan, aku Oh Sehun." Pria itu seperti menyunggingkan senyuman dengan agak terpaksa.
Yifan mengangguk tanpa sadar. Oh, jadi pria ini benar-benar Oh Sehun. Tapi tunggu―kenapa seperti ada yang janggal pada penglihatannya ya? Minusnya tidak bertambah kan?
"Bolehkah aku duduk disini?" tanya Sehun sopan.
"Tentu. Silakan." Yifan mengangguk. Ia kembali menatap Sehun lekat-lekat dari ujung kepala sampai―tunggu. Pakaian yang dikenakan Sehun sepertinya sangat familiar di ingatannya.
Sehun yang dipandangi seperti itu oleh Yifan merasa agak risih. "Maaf, apakah ada yang salah denganku?"
"Tunggu―kau memakai―seragam SMA?" Yifan akhirnya ingat bahwa seragam itu sama dengan seragam yang dimilik putranya.
Sehun menunduk dan melihat pakaian yang dikenakannya saat itu. "Oh, ini?" Ia terkekeh pelan. "Ya, aku memakai seragam SMA. Kebetulan ada sesuatu yang harus kuurus disana."
Yifan mendesah lega. Ia nyaris berpikir bahwa Sehun masih duduk di bangku SMA. Ia pun mengambil buku menu di atas meja dan mulai melihat-lihat. "Apakah harus mengenakan seragam SMA? Lucu sekali," komentarnya.
"Tentu saja. Aku kan masih menjadi murid disana." Sehun tersenyum lebar.
"A-apa?"
―
to be continued
―
dee's note:
hampir sebulan ya, saya sama sekali nggak update atau post fic apapun *grin*
modem saya rusak, jadi saya cuma bisa online pas dapet wi-fi. wi-fi sekolah dimatikan karena anak kelas 3 mau ujian. jadi saya cuma bisa numpang wi-fi di tempat kursus *sobs*
maafkan cuap-cuap saya yang nggak penting yaa. btw saya sengaja update ini duluan, sebelum fanfic ini makin melapuk. lagipula ada seseorang yang nge-PM saya dan minta buat ngelanjutin yang ini. jadi ya, saya dahulukan saja *grin*
bagaimana pendapat kalian? soal chapter yang satu ini. jangan lupa tinggalkan review yap!
