Yifan mendesah lega. Ia nyaris berpikir bahwa Sehun masih duduk di bangku SMA. Ia pun mengambil buku menu di atas meja dan mulai melihat-lihat. "Apakah harus mengenakan seragam SMA? Lucu sekali," komentarnya.

"Tentu saja. Aku kan masih menjadi murid disana." Sehun tersenyum lebar.

"A-apa?" Tolong cubit lengan Yifan sekarang juga. Rasanya seperti petir yang menyambar-nyambar di siang bolong. Baru saja ia begitu lega mendengar bahwa Sehun hanya sedang mengurus sesuatu di SMA-nya. Lalu sekarang apa? Ternyata, Sehun benar-benar masih menjadi murid SMA? "Kau―benar-benar masih SMA?" Suara Yifan bergetar.

Sehun tediam sejenak sambil memandang Yifan dengan tatapan memangnya-apa-yang-salah. Oh, Sehun―tentu saja itu terasa sangat salah di mata Yifan. Sehun berdeham. "Ya, benar. Memangnya kenapa?" Kedua mata Sehun berkedip lucu.

Yifan menelan ludahnya dengan susah payah. Ia memalingkan wajahnya, sementara jemarinya mengetuk meja di depannya dengan pelan. "Oh, t-tidak apa-apa," balas Yifan bohong. Tentu saja, masalah ini bukannya hanya sekedar tidak-apa-apa, ini adalah masalah besar! Yifan menggeram jengkel tanpa suara. Ibunya benar-benar sudah kelewatan dengan mempermainkannya kali ini. Apa-apaan ini? Ia dijodohkan dengan bocah SMA? Orang yang akan menjadi Ibu bagi putranya itu masih SMA? Yang benar saja! Yifan bersumpah, saat ia tiba di rumah nanti, ia harus segera membuat perhitungan dengan Ibunya. Pria itu sudah menurut saja saat dijodohkan dengan seorang pria―sesuai keinginan Ibunya. Lalu apa yang dia dapatkan? Sehun bahkan masih belum pantas disebut pria! Dia itu hanyalah pemuda polos.

"Uhm, Yifan-ssi? Halo?" Sehun melambaikan tangannya tepat di depan wajah Yifan, saat mendapati pria dewasa itu justru melamun.

Yifan segera tersadar dari lamunannya. "O-oh, ya?"

"Kau melamun." Sehun tertawa pelan. Matanya yang sipit itu terlihat hanya seperti garis melengkung yang nampak indah―seperti bulan sabit.

Yifan membantin. 'Mata yang indah.' Kemudian saat ia tersadar bahwa ia sedang memuji mata seorang pria―ah, maksudnya seorang anak lelaki, rasanya ia ingin menampar pipinya sendiri dengan kuat.

rappicasso

presents

an alternate universe fanfiction

Wifey

.: chapter 3 :.

starring

Wu Yifan | Oh Sehun | Lee Taeyong | Kim Jongin

Yifan baru saja selesai memesan makanan untuk dirinya sendiri dan Sehun pada pelayan yang menghampiri meja mereka. Kini keheningan menjadi atmosfer yang menyelimuti meja Yifan dan Sehun. Yifan sama sekali tak memiliki gagasan untuk memulai lagi percakapan diantara mereka, sementara Sehun seolah ragu untuk angkat bicara atau tidak.

Anak lelaki berseragam SMA itu menggigit bibir bawahnya―bersusah payah menahan diri untuk bersuara, namun pada akhirnya, Sehun tetap membuka mulutnya. "Uhm―Paman?"

Yifan tersentak lagi dari lamunannya. Apa lagi sekarang? Ia menoleh ke arah Sehun. "Kau memanggilku?" Pria itu nampak kebingungan.

Sehun meringis sambil mengangguk pelan. "I-iya, Paman."

"Ha?" Yifan refleks agak berteriak saat Sehun menyebut 'Paman'. Apakah Yifan memang terlihat setua itu sehingga ia sampai dipanggil Paman?

"E-eh, Paman jangan salah sangka dulu!" Sehun memekik. "Dari apa yang kutahu dari Pamanku, kau adalah ayah dari Taeyong. Benar kan?" Sehun mendekatkan wajahnya ke arah Yifan.

Refleks, Yifan memundurkan badannya sedikit. Ia menelan ludahnya dengan susah payah saat hanya berjarak beberapa inchi dengan pemuda manis itu. "Ya, benar. Kau kenal Taeyong?" balasnya sambil mati-matian mengontrol detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak tak menentu. Sialan, apa yang terjadi pada dirinya?

Sehun kembali ke posisinya semula, kemudian mengangguk sambil tersenyum manis. "Ya, aku kakak kelasnya di sekolah," tuturnya.

Petir memang tidak pernah menyambar satu tempat yang sama sebanyak dua kali, tapi rasanya tempat duduk Yifan sudah tersambar petir untuk yang kesekian kalinya. Jadi yang dimaksudkan Ibunya bahwa Sehun mengenal Taeyong dengan baik itu adalah karena Sehun adalah kakak kelas Taeyong? Ibunya sungguh lucu. Mungkin Yifan bisa menyarankan Ibunya untuk menjadi pelawak saja setelah ini.

Saat itu, lagi-lagi Yifan hanya bisa menggeram pelan karena ulah Ibunya yang membuatnya pusing tujuh keliling.

"Paman? Kenapa Paman seperti sedang menanggung banyak beban?" tegur Sehun khawatir. Raut yang nampak pada wajah manis itu agak berubah.

Yifan memijat pelipisnya yang berdenyut pelan sambil melirik ke arah Sehun. Sepertinya, Sehun tidaklah seburuk yang ia kira. Pemuda itu sepertinya sudah cukup dewasa dan bisa diajak bicara. Tapi tetap saja, jika Yifan teringat status pemuda di hadapannya itu, Yifan hanya bisa bergidik ngeri dan mengenyahkan pikiran itu jauh-jauh. "Sehun, bisakah kau berhenti memanggilku Paman? Aku tidaklah setua itu," protes pria itu.

Sehun mengernyit―menunjukkan raut tak suka. "Kenapa? Paman adalah Ayah Taeyong. Masa aku harus memanggil Paman dengan sebutan Bibi?" tanyanya dengan nada polos.

Yifan menepuk jidatnya agak keras. "Astaga, bukan begitu maksudku, Oh Sehun," dengusnya pelan. "Maksudku, bisakah kau berhenti memanggilku Paman dan memanggilku dengan sebutan Hyung saja?" tanyanya memperjelas.

Sehun menyilangkan tangannya di depan dada sambil berpikir sebentar. "Tunggu, tapi kau adalah Ayah dari Taeyong. Jadi, kau bisa kuanggap sebagai Ayahku sendiri. Nah, berhubung kau bukan Ayahku, jadi aku tidak bisa memanggilmu Ayah. Sebagai gantinya, aku bisa memanggilmu Paman," jelasnya panjang lebar. Sehun tersenyum puas di akhir penjelasannya, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan presentasinya di hadapan dosen.

Yifan mendengus keras. Bahkan Sehun saja memiliki pikiran bahwa dirinya bisa dianggap sebagai Ayahnya sendiri. Lantas, bagaimana dengan apa yang ada di pikiran Ibunya? Konyol.

Tunggu―

Sehun bisa berbicara panjang lebar seperti itu dan beranggapan seolah-olah mereka tidak sedang dijodohkan. Apakah Sehun sebenarnya sudah mengetahui fakta tersebut atau belum? Jangan-jangan―

"Sehun―"

"Ya, Paman?" Sehun kembali memasang wajah manisnya.

Yifan menggertakkan giginya karena gemas, namun tak ingin kembali membantah. "Kau tahu, atas tujuan apa kau diminta untuk menemuiku disini?" tanya Yifan serius. Ia penasaran dengan jawaban yang akan meluncur dari bibir pemuda itu.

"Ah, iya, aku baru ingat!" Sehun berseru heboh, kemudian mengeluarkan sesuatu―sepertinya map―dari dalam tasnya.

Yifan mengikuti arah gerakan tangan Sehun dengan tatapan menyelidik. Memangnya pemuda itu akan melakukan apa?

Sehun meletakkan map yang diambilnya dari tas tadi ke atas meja. "Kontrak kerja."

"Ha?" Yifan melongo bingung.

"Iya, kontrak kerja," ulang Sehun dengan yakin. "Memangnya, Paman tidak tahu, ya?" tanya Sehun sambil memiringkan kepalanya―nampaknya ikut-ikutan bingung.

"T-tunggu― Kau― Ah― Eung― B-bukannya―" Yifan gelagapan sendiri―bingung harus merespons seperti apa. "Biarkan aku melihatnya." Yifan menunjuk map di hadapan Sehun dengan dagunya.

Dengan raut wajah yang masih terlihat bingung, akhirnya Sehun memberikan map tersebut pada Yifan. "Silakan, Paman."

Yifan membuka map itu dengan gusar. Isinya adalah dokumen-dokumen seperti yang biasa dibacanya di kantor. Itu benar-benar suatu kontrak kerja yang ditawarkan oleh perusahaan keluarga Oh pada perusahaannya. Hell, lelucon macam apa ini? Ibunya mempermainkannya lagi?

"Bagaimana, Paman?" Sehun melihat Yifan yang sedang serius membaca dokumen tersebut. "Pamanku bilang, aku harus menemuimu secara langsung untuk menyerahkan dokumen itu," tuturnya. "Jika kau menyetujui kontrak kerja dengan perusahaan kami―"

Yifan menutup map tersebut dan mendongak menatap Sehun.

"―itu akan sangat membantu. Semenjak kepergian Ayah, perusahaan kami agak kesulitan menjalin hubungan kerja dengan perusahaan lain, kecuali untuk perusahaan yang bekerja sama dengan kami. Mereka semua kurang bisa percaya pada perusahaan yang kini kupegang." Wajah Sehun berubah menjadi sendu.

Yifan tersentuh melihatnya. "Jadi, sekarang kau yang menggantikan posisi Ayahmu?"

Sehun tersenyum tipis, lalu mengangguk. "Kurang lebih seperti itu. Tapi aku masih banyak dibantu oleh Paman," jawabnya. "Kalau Paman bersedia menerima kontrak kerja ini, aku akan sangat berterima kasih. Perusahaan Paman adalah perusahaan yang sangat sukses dan besar. Aku akan berjanji untuk belajar banyak dari Paman dan mengembangkan perusahaanku sendiri. Agar suatu saat nanti, aku tidak merepotkan banyak orang lagi." Terdapat kesungguhan dari nada bicaranya kala itu.

Tanpa sadar, Yifan tersenyum mendengar keinginan Sehun. Biarkan untuk kali ini saja, ia mengabaikan asumsi bahwa Sehun adalah pemuda yang akan dijodohkan dengannya nanti. Yifan ingin sekali, untuk saat ini saja, bisa bersikap sebagai seorang teman bagi pemuda itu. Tangan kekarnya menjulur ke depan dan mengusap puncak kepala Sehun dengan lembut. "Kau benar-benar anak yang baik. Ayahmu pasti sangat bangga padamu."

Sehun tertunduk malu sambil menggumam, "Terima kasih, Paman."

Yifan mendesah pelan seraya menarik tangannya dari kepala Sehun. "Baiklah, biarkan aku membawa map ini ke kantor nanti dan mendiskusikannya dengan direksi yang lain. Walaupun aku sangat ingin membantu, aku tetap harus mengikuti serangkaian proses yang ada," jelasnya.

Sehun kembali mendongak dan mengangguk paham. Ia kagum pada sosok Yifan sebagai seorang pemimpin perusahaan yang tidak bersikap nepotisme dan menjalani segala sesuatu sesuai prosedur. Ia mencatat hal itu baik-baik. "Tentu, Paman," balasnya. "Sekali lagi, terima kasih!" Sehun tersenyum tulus―tanda berterima kasih.

Yifan membalasnya dengan anggukan dan senyuman, saat pelayan datang membawa pesanan mereka.

"Pesanan Anda, Tuan."

Yifan dan Sehun sudah menyelesaikan acara makan mereka. Sehun nampak begitu kenyang, sementara Yifan hanya bisa memandang geli ke arah Sehun yang mengusap-usap perutnya yang agak membesar dari sebelumnya.

Yifan melirik jam tangannya. "Sepertinya, sudah malam," gumamnya pelan. Tak baik untuk mengajak pergi anak SMA seperti Sehun hingga terlalu malam. Bisa-bisa, ia dianggap seperti om-om mesum. "Sehun, kau naik apa tadi?" tanya Yifan.

"Bus." Sehun menjawab singkat, karena ia sedang asyik menghabiskan susu pesanannya tadi. "Kenapa, Paman?"

Yifan takjub atas jawaban Sehun. Pemimpin perusahaan seperti dirinya naik bus? Hebat sekali. Putranya bahkan jarang sekali naik bus. Mungkin lain kali, ia bisa menyuruh Taeyong meniru Sehun. "Bagaimana kalau kau pulang denganku?" tawar Yifan.

Sehun menggigit bibirnya, memasang pose berpikir. "Boleh saja, tapi apa tidak merepotkan?" Pemuda itu balik bertanya.

Yifan tersenyum. "Tidak, asal kau juga tidak keberatan untuk kuantar pulang," balas Yifan. "Lagipula, ini sudah malam. Aku khawatir terjadi sesuatu padamu."

Sehun tertawa pelan. "Astaga, Paman. Aku ini laki-laki. Aku bisa menjaga diriku sendiri."

Yifan terdiam. Apa yang dikatakan Sehun memang benar adanya. Sehun adalah seorang laki-laki dan sudah seharusnya ia bisa menjaga dirinya sendiri. Lalu, apa yang salah dengannya? Kenapa ia harus mengkhawatirkannya? "A-ah, begini, aku hanya ingin mencoba sedikit bertanggung jawab," sangkalnya.

Akhirnya, Sehun mengangguk. "Baiklah, kalau begitu. Lagipula, naik mobil Paman pasti akan lebih nyaman." Pemuda menunjukkan cengirannya.

Yifan mendengus, kemudian tertawa. "Dasar," guraunya. "Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang." Yifan bangkit dari duduknya dan diikuti oleh Sehun. Keduanya pun melangkah keluar dari restoran.

"Mobil Paman dimana?" Sehun bertanya sambil menoleh kesana kemari saat kedua berhenti sejenak di bagian depan restoran.

Yifan baru saja hendak mengangkat tangannya. Bibirnya belum sempat mengucapkan jawaban atas pertanyaan Sehun. Tiba-tiba saja, hujan turun dengan sangat deras. "Oh, sial!"

Bahu Sehun merosot. "Yah, hujan," keluhnya.

"Sial, kenapa hujannya turun sekarang?" gerutu Yifan kesal. "Sekarang aku harus apa?" gumamnya.

Sehun menoleh ke arah Yifan, lalu menarik lengan pria itu. "Paman bawa payung, tidak?" tanyanya.

Yifan mengerang frustasi. "Paman bawa payung, hanya saja ada di mobil." Yifan menunjuk ke arah mobilnya yang terparkir dan sedang kehujanan sekarang. "Ah, bagaimana ini?" Yifan semakin bingung.

Bukan hanya dua orang itu yang nampak bingung, melainkan orang-orang yang juga hendak pulang.

Sehun berpikir beberapa saat, kemudian melepas jas sekolah yang dikenakannya.

Yifan menoleh ke arah Sehun dan menatapnya dengan penuh tanya. "Kenapa melepas jasmu? Kau bisa makin kedinginan, Oh Sehun," tegurnya.

Sehun mengabaikan teguran Yifan dan justru mengangkat jasnya tinggi-tinggi untuk melindungi kepalanya dan kepala Yifan. "Ayo, Paman."

"Kau mau apa?" Yifan menatap jas itu dan Sehun bergantian.

"Kita ke mobil Paman dengan jas ini," jawab Sehun penuh semangat.

"Tapi, kita akan tetap basah, Sehun. Lebih baik, kau pakai lagi jas itu sebelum kau kedinginan," protes Yifan.

Sehun berdecak kesal. "Paman tidak mau basah-basahan? Kalau begitu, kemarikan kunci mobil Paman," titah Sehun.

"Ha? Untuk apa?"

"Biar aku yang lari kesana dan mengambilkan payung untuk Paman!" seru Sehun geram.

"Astaga, Sehun―" Yifan menggeleng tak percaya. "Kalau kau tetap bersikeras begitu, ayo kesana sekarang juga." Yifan meraih jas Sehun, kemudian mengangkatnya ke atas kepalanya. "Tetap berada di sisi Paman, oke? Kita harus berlari dengan cepat."

Sehun tersenyum senang, lalu mengangguk semangat. "Ayo, Paman!"

"Dalam hitungan ketiga, ya?" Yifan memperingatkan. "Satu―dua―tiga!" Kedua lelaki berbeda usia itu menembus hujan dengan berlari sedang. Tubuh keduanya terkena percikan air hujan yang menggenang. Baju mereka agak basah, namun mereka tetap berlari menuju mobil Yifan.

Yifan langsung menuju pintu penumpang dan membukanya untuk Sehun. Sehun segera melompat masuk dan menutup pintunya kembali. Setelah memastikan Sehun aman, Yifan kembali menuju pintu pengemudi, membukanya dan masuk ke dalamnya. Ia mendudukkan tubuhnya di atas jok―mencari posisi yang pas.

"Basah kuyup," gumam Yifan. Matanya melirik ke luar jendela mobil. Hujan hari itu memang sangat deras.

"Tapi setidaknya, kepala Paman kan tidak basah. Jadi Paman tidak akan merasa pusing nanti," celetuk Sehun.

Yifan memandangi Sehun dalam diam. Sehun―meskipun masih sangat muda dan terlihat polos, namun sebenarnya dia adalah anak yang cukup dewasa dan baik. Setelah tersadar dari lamunan sesaatnya, Yifan membalik badannya dan mengambil sesuatu dari jok belakang. "Pakai ini." Yifan memberikan jaketnya yang memang senantiasa berada di jok belakang mobilnya.

Sehun menatap Yifan bingung. "Apakah tidak apa-apa?"

"Jasmu sudah basah begini. Masa kau ingin tetap memakainya?" Yifan meletakkan jas milik Sehun yang sudah basah itu ke jok belakang. "Sudahlah, pakai saja jaket Paman." Yifan mendorong jaketnya mendekat ke arah Sehun.

Sehun tertunduk dan mengangguk pelan. "Terima kasih, Paman," gumamnya.

Yifan membalasnya dengan gumaman pelan, kemudian ia menyalakan mesin mobilnya. Dilajukannya mobilnya itu secara perlahan, karena hujan sangat deras malam itu dan jalanan sudah pasti agak licin. "Daripada kau sakit, lebih baik kau lepas kemejamu itu, lalu pakailah jaketnya," tutur Yifan memberitahu tanpa menoleh ke arah Sehun.

Sehun mengangguk, kemudian melepas kancing kemejanya satu per satu. Saat dua kancing kemejanya sudah terbuka, Yifan tak bisa untuk tak melirik ke arah dada dan bahu putih Sehun yang agak terekspos.

Yifan membatin dalam hati. 'Astaga, kulitnya―'

Setelah semua kancingnya terlepas, Sehun membuka kemejanya. Entah ini memang kenyataan atau hanya perasaan Yifan, sepertinya Sehun membuka kemejanya dengan gerakan perlahan dan terkesan erotis. Diletakkannya seragam sekolahnya yang basah itu ke atas pangkuannya. Kini ia sedang memakai jaket pemberian Yifan.

Yifan meneguk ludah dengan susah payah saat melihat kulit tubuh Sehun. Benar-benar putih dan sepertinya sangat halus. Kemudian, saat ia tersedar, rasanya ia ingin menjedotkan kepalanya ke kaca depan mobilnya. 'Sialan. Kau masih normal, Wu Yifan. Kau bukan gay, apalagi pedophilia.'

"Astaga, Yifan. Kenapa kau bisa basah kuyup? Kau berlari sepanjang jalan ke rumah?" Vivian Wu memekik heboh saat putranya memasuki rumah dalam keadaan basah―khususnya pada bagian dadanya hingga ujung kakinya. Wanita itu segera menghampiri Yifan dengan raut wajah panik, sekaligus bertanya-tanya.

Yifan mendengus pelan. Sejenak, mencoba mengabaikan kekesalannya pada sang Ibu dan fokus pada tubuhnya sendiri yang kebasahan.

"Yifan? Kau tidak apa-apa kan?" Vivian menyentuh pundak Yifan yang basah.

Yifan hanya membalasnya dengan gumaman. Ia masih belum bisa menerima kegilaan macam apa yang sudah diciptakan oleh Ibunya. Sesungguhnya, ia tak ingin bersikap kurang ajar. Tapi ia bisa apa? Ia benar-benar tak habis pikir dengan sikap Ibunya.

"Yifan? Katakan sesuatu. Ibu mohon." Vivian nampak semakin khawatir pada kondisi Yifan, karena pria itu sama sekali tidak angkat bicara dan justru menutup mulutnya rapat.

Yifan menghela nafas pelan, lantas memandang Ibunya dengan jengah. "Ibu ingin aku bicara tentang apa? Tentang perjodohan gila yang Ibu ciptakan?" Yifan sadar bahwa ia sudah bicara agak kasar pada Ibunya. Namun jika saja ia tak ingat bahwa wanita di hadapannya ini adalah wanita yang sudah mengandung, melahirkan dan membesarkannya, mungkin Yifan bisa berbicara lebih kasar dibanding ini.

Vivian nampak kaget―terbukti dari mata sipitnya yang terbelalak. "Apa maksudmu, Wu Yifan?" Vivian membalasnya dengan nada serius dan tajam.

Mengabaikan rasa dingin dan basah yang menjalari tubuhnya, Yifan menjawab, "Apa maksud Ibu menjodohkanku dengan anak SMA? Dengan anak yang usianya hanya terpaut setahun dari putraku?" Yifan menggeram rendah―mati-matian menahan gejolak emosi yang meletup-letup.

"Yifan, kau―"

"Bu, aku memang menyetujui perjodohan ini, tapi bukan berarti Ibu bisa seenaknya menjodohkanku dengan anak sekolahan," potong Yifan atas ucapan Ibunya tanpa merasa sungkan. Rasa hormatnya itu sudah dibuang jauh-jauh sejak beberapa jam yang lalu. "Demi Tuhan Bu, aku ini masih normal untuk disebut sebagai pedophilia."

Vivian menarik nafas dalam-dalam seraya mengusap wajahnya yang sudah mulai menua, namun tetap terlihat cantik itu. "Yifan, dengarkan Ibu dulu, oke?"

Yifan mengerang pelan, terpaksa mengangguk mengiyakan permintaan Ibunya. Di saat yang sudah seperti ini, mana mungkin ia bisa benar-benar tenang? Jika yang dimaksud Ibunya dengan tenang adalah diam selama wanita itu menjelaskan, mungkin Yifan bisa mempertimbangkan.

Vivian menyiapkan dirinya sendiri sebelum memulai ceritanya―memejamkan mata, kemudian menarik nafas. "Kau―mungkin agak sedikit berlebihan, Yifan," ucapnya ragu.

"Berlebihan apanya?!" Yifan tidak bisa untuk mengontrol nada bicaranya pada wanita itu.

Yang berujung dengan hadiah tatapan menyeramkan dari sang Ibu yang sukses membungkamnya. "Dengar, Yifan tidaklah semuda yang kau pikirkan dan kau tidak akan dianggap tidak normal hanya karena berkencan dengannya," jelas Ibunya. "Sehun memang masih duduk di bangku SMA, tapi itu hanya untuk beberapa minggu ke depan, karena ia baru saja mengikuti ujian kelulusan dan sedang mempersiapkan diri untuk masuk ke universitas," lanjutnya.

Yifan mendesis lirih. "Tapi Bu, Sehun masih sangat muda. Ia hanya berjarak sekitar setahun―"

"Dua tahun, Yifan," potong Vivian tegas.

"Oke, dua tahun―tapi tetap saja, Bu. Aku bahkan tidak bisa memikirkan jika aku harus melepas Taeyong di usia semuda itu. Dia masih terlalu muda untuk dijadikan sosok Ibu bagi Taeyong―sekalipun menurut Ibu dan Taeyong, Sehun adalah sosok yang sempurna dan Taeyong begitu menyukainya." Yifan menyuarakan pendapatnya, kali ini dengan intonasi yang lebih tenang. "Memilih Sehun sebagai Ibu untuk Taeyong sama saja seperti saat kita menentukan siapakah pendamping hidup kita, Bu. Ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan. Bukan hanya pertimbangan bahwa Taeyong menyukai Sehun atau Ibu akan menerima keberadaannya, tapi kita juga harus memperhatikan apakah Sehun sanggup mengemban tugasnya? Apakah Sehun bisa berbahagia setelah menjalani kehidupan pernikahan denganku? Bu, aku tak ingin dianggap telah mencuri masa remaja Sehun dengan menikahinya di usia muda," imbuhnya.

"Tapi Yifan, Pamannya bilang, Sehun sudah―"

"Pamannya bilang?" potong Yifan sekali lagi. "Apakah Ibu melakukan hal ini atas dasar ucapan-ucapan Paman Sehun? Apakah Ibu tidak mengetahui bagaimana perasaan Sehun sendiri? Bagaimana jika Pamannya hanya memanipulasi demi kepentingannya semata?" Yifan mengungkapkan berbagai spekulasi buruk yang mungkin terjadi. Sebagai seorang pemimpin di perusahaan keluarganya, ia sudah dituntut untuk memiliki pikiran kritis seperti ini. Ia sudah terbiasa berpikir kritis dalam menghadapi berbagai hal, walaupun kadang terkesan agak berlebihan jika ia sedang diluar bidang bisnis. "Bahkan, Sehun belum tahu tujuan sesungguhnya ia dipertemukan denganku tadi sore. Ibu tahu hal itu?"

Vivian hanya bisa mengangguk lemah mendengar berbagai penuturan putra semata wayangnya.

"Bu, apakah Ibu pikir, aku tega menodai niat tulus dari bocah sepolos Sehun?" Nada suara Yifan terdengar lemah. "Dia datang ke restoran itu dengan membawa kontrak kerja yang ingin diserahkannya pada perusahaan kita. Ia bilang, ia ingin menyelamatkan perusahaan Ayahnya. Demi Tuhan, alasannya sungguh mulia dan Ibu justru telah menipunya!" Yifan geram. Ia tak habis pikir bagaimana Ibunya, Paman dan Bibi Sehun bisa bersekongkol untuk membohongi pemuda sepolos Sehun padahal hati anak itu begitu tulus dan mulia. Melihat sosok Sehun seperti membuatnya bercermin. Sehun adalah refleksi dirinya―begitu ingin menyelamatkan keluarganya.

Vivian mendongak menatap putranya dengan mata yang mulai basah. Ia menyentuh pundak Yifan dan meremasnya pelan. "Yifan, maafkan Ibu, jika apa yang sudah Ibu lakukan merupakan suatu kesalahan besar atau mungkin berpotensi menimbulkan kekacauan," ucapnya. "Tapi Yifan, jauh di dalam lubuk hati Ibu, Ibu merasa kasihan pada Sehun. Ia menanggung beban yang begitu besar di usianya yang muda. Kau pun begitu―menanggung perusahaan dan kewajiban untuk mengurus Taeyong. Pada dasarnya, kalian sama-sama membutuhkan. Kau bisa menggantikan Sehun dengan kapasitasmu sebagai pemimpin perusahaan dan Sehun bisa menggantikan peranmu dalam mengurus Taeyong," lanjutnya. "Dan kau sendiri sudah tahu kan, bagaimana Sehun? Dia memang anak yang polos dan tulus. Itulah alasan mengapa Ibu begitu yakin bahwa Sehun bisa menjadi Ibu bagi Taeyong―atau setidaknya sebagai teman saat kau tak ada di rumah."

Yifan tercenung mendengar kata-kata Ibunya.

"Dan jika pada akhirnya hanya Ibu yang bersedia menerima keberadaan Sehun di tengah keluarga ini atau hanya Taeyong yang menyukai Sehun, maka hal itulah yang akan mendorong Sehun untuk tetap bertahan disini―sebagai Ibu Taeyong dan pendamping hidupmu." Vivian menambahkan. "Ibu sengaja tidak memberitahu Sehun terlebih dahulu, agar setidaknya Sehun bisa fokus terlebih dahulu dengan ujian masuk universitasnya dan tidak terlalu terbebani, sementara kau bisa menimbang-nimbang terlebih dahulu."

Yifan menghela nafas.

"Jadi, Ibu harap, kau bersedia memikirkannya lagi, Yifan."

Karena perdebatan panjangnya dengan sang Ibu, Yifan terpaksa mandi agak malam. Air terasa sangat dingin malam itu, karena ia menolak mandi dengan air hangat―itu bukanlah hal yang biasa bagi Yifan. Alhasil, pria bertubuh jangkung itu menggigil pelan saat keluar dari kamar mandi dan hanya berbalut bathrobe.

CKLEK!

"Dad?" Pintu kamarnya tiba-tiba saja terbuka dan kepala anaknya terlihat dari celah pintu.

Yifan nyaris saja merasa jantungnya copot, jika saja tak segera menyadari bahwa itu adalah Taeyong. "Ah, Taeyong, Dad kira siapa," gumamnya.

Taeyong meringis. "Maaf sudah mengejutkanmu, Dad. Aku sudah mengetuk pintu dari tadi, tapi sepertinya Daddy tidak mendengarnya," jelasnya. "Bolehkah aku masuk, Dad?" tanyanya.

"Oh ya, tentu, Tae. Masuklah." Yifan berjalan mendekati ranjangnya dan duduk di tepiannya. Matanya mengikuti gerakan Taeyong yang menghampirinya. "Ada apa, Tae?"

Taeyong kembali meringis. "Begini Dad, maaf kalau aku sudah berbuat nakal tadi―"

Yifan mengernyit bingung.

"―aku sempat mendengar Dad dan Granny bertengkar." Suara Taeyong di akhir kalimat lebih pantas disebut seperti cicitan.

Yifan mendesah kecil―merasa bersalah karena pertengkarannya dengan sang Ibu menarik perhatian putranya. "Sebelumnya, Dad minta maaf, Tae. Dad dan Granny hanya mengalami sedikit kesalahpahaman tadi," ucapnya tak ingin terlalu gamblang menceritakan masalahnya pada putra kandungnya.

Dan Taeyong cukup dewasa untuk mengerti hal sepele macam itu, jadi ia hanya mengangguk sekilas, kemudian mengganti arah pembicaraan mereka. "Oh ya, bukankah Dad baru saja kembali dari acara makan dengan Sehun Hyung?"

Yifan terhenyak. Putranya nampak sangat antusias jika berkaitan dengan Sehun.

"Menurut Dad, Sehun Hyung itu bagaimana?" Kedua mata Taeyong berbinar penuh harap saat menatap sang Ayah―berharap Ayahnya akan mengatakan hal-hal yang baik tentang Sehun dan tentu saja Yifan bisa membaca pikiran putranya itu.

Yifan terdiam sejenak. Ia tahu, ia pasti mengatakan hal-hal yang baik tentang Sehun pada Taeyong. Bukan karena semata ingin menyenangkan Taeyong, tapi karena Sehun benar-benar anak yang baik. Ia hanya kehilangan kata-kata untuk menggambarkan Sehun. Sehun benar-benar menakjubkan dan begitu mirip dengan dirinya. Memangnya gambaran dirinya sendiri itu bagaimana?

"Dad?" Taeyong mulai mendesak saat mendapati Yifan hanya melamun. Namun seringaian aneh yang patut diwaspadai muncul di wajahnya. Oh, apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh Wu Muda ini?

"Uhm, well―Sehun orang yang baik?" Nada bicaranya seolah baru saja melontarkan pertanyaan, bukan pernyataan.

Taeyong mengernyit beberapa detik saat mendengar jawaban yang kurang memuaskan dari Ayahnya. "Jawaban macam apa itu?" gumamnya tanpa sadar sudah berbicara agak kasar pada Ayahnya.

Namun Yifan tidak marah mendengar respons putranya, namun justru meringis mendengarnya. Ia tahu, jawabannya terdengar sangat payah untuk ukuran pria dewasa berumur 35 tahun seperti dirinya. Seharusnya, ia memiliki kosa-kata yang lebih baik untuk mendeskripsikan sosok Oh Sehun. Masalahnya tidak ada kata yang paling tepat untuk mendeskripsikan sosok Sehun. Dia itu terlalu―sempurna? Oke, itu memang terdengar agak berlebihan, tapi mau bagaimana? "Maaf―Dad hanya agak bingung," balasnya dengan gumaman.

Taeyong berdecak. "Sehun Hyung itu bukan hanya sekedar baik. Dia itu ramah dan lucu. Dia sangat periang―menurutku," cerocos Taeyong.

'Dan polos.' Yifan melanjutkan dalam hati. "Ya, Dad sangat setuju denganmu, Tae," balas Yifan sambil mengacak pelan rambut Taeyong. Seharusnya, ia bisa menjabarkan sosok Sehun segamblang yang dilakukan Taeyong, tapi kenapa untuk kata-kata sederhana seperti itu saja, dia tak bisa melakukannya? Apa Yifan hanya tidak ingin mengakuinya?

"Ah, Daddy tidak seru. Tidak kreatif," ledek Taeyong sambil memasang wajah kesal, namun bibirnya melantunkan tawa pelan.

"Kau ada kegiatan apa besok, Tae?" tanya Yifan mencoba mengalihkan topik pembicaraan mereka―berharap Taeyong tidak kembali mengajaknya membahas Sehun.

"Sebenarnya, aku ingin bermain bola dengan teman-temanku―tapi entahlah." Taeyong mengangkat bahunya. "Jadi, apakah Dad menyukai Sehun Hyung?" Dan Taeyong memutar balikkan topik pembicaraan mereka secepat Yifan mengubahnya.

Yifan memutar bola matanya―berharap jawaban atas pertanyaan Taeyong bisa ditemukannya melayang di langit-langit kamarnya. Jujur saja, ia menyukai Sehun―tapi bukan untuk dijadikannya sebagai pendamping hidup. Jika ia menjawab 'ya', Yifan khawatir bahwa Taeyong akan mengambil keputusan cepat bahwa Yifan mencintai Sehun dan menginginkan pria itu. Tapi jika ia menjawab sebaliknya, jelas saja Yifan berbohong dan respons yang didapatnya dari Taeyong mungkin adalah ekspresi sedih dari putranya. Dan ia tak ingin membuat putranya sedih.

"Dad?" Taeyong menyentuh lengan Ayahnya.

Yifan menarik nafas dalam-dalam, sebelum memberikan jawaban.

"Ya, Dad menyukainya."

Yifan bangun pagi sekali hari itu, meski kalendar di kamarnya menunjukkan bahwa hari itu adalah hari Minggu dan ia benar-benar terlepas dari segala aktivitas di kantor. Suasana rumahnya masih sangat sepi. Hanya ada kepala pelayan yang sibuk menyiapkan berbagai keperluan rumah. Ibu dan anaknya pasti masih terlelap dan memutuskan untuk bermalas-malasan lebih lama dari biasanya. Namun pagi itu, Yifan sudah terbangun karena suatu alasan yang sudah dipikirkannya sejak semalam.

Mengunjungi Lee Yeonhee.

Yifan sudah mengemudikan mobilnya menjauh dari suasana perkotaan Seoul dan menuju ke daerah pinggiran kota―letak pemakaman Yeonhee. Ini memang permintaan Yeonhee untuk dimakamkan di tempat tersebut, karena wanita itu memang selalu lebih menyukai ketenangan.

Yifan sudah tiba di area pemakaman tersebut. Suasanya masih sepi dan langit agak mendung kala itu. Dengan membawa sebuket bunga mawar putih kesukaan istrinya itu, Yifan berjalan menuju makam Yeonhee. Sesampainya di depan makam itu, bibirnya menyunggingkan senyuman tipis. "Selamat pagi, Yeonhee." Yifan bersimpuh sambil meletakkan bunga yang dibawanya di atas nisan istrinya. Tangannya bergerak membersihkan kotoran-kotoran kecil di atas nisan. Setelah bersih, Yifan menghela nafas menatap nisan istrinya―membayangkan sosok istrinya sedang duduk berhadapan dengannya.

"Baru dua minggu ya, Yeonhee? Aku sengaja mempercepat kunjunganku. Itulah mengapa aku tidak mengajak Taeyong kesini." Yifan menghela nafas panjang. Kepalanya tertunduk. Ada banyak hal yang berkelebatan di pikirannya. Ia benar-benar tak bisa berpikir dengan jernih tentang apa yang akan dikatakannya pada istrinya untuk saat ini. "Ada hal yang kurisaukan," ungkapnya lirih. "Ibu―ingin aku menikah lagi―demi Taeyong."

Hening sejenak.

"Sejujurnya, aku menolaknya. Kupikir, aku tidak butuh pendamping hidup lagi. Karena aku masih begitu mencintaimu. Kau adalah satu-satunya cinta dan pendamping hidupku, Lee Yeonhee," jelas Yifan agak terbawa emosi. "Tapi, Ibu bilang, Taeyong pasti akan tetap membutuhkan sosok seorang Ibu. Aku juga tak bisa mendampingi Taeyong setiap saat karena kesibukanku," lanjutnya. "Jadi, kuputuskan untuk menerimanya."

Angin bertiupan.

"Aku bertemu dengannya. Dan kau tahu siapa yang dijodohkan denganku?" Raut wajahnya terlihat agak frustasi. "Seorang anak lelaki yang baru saja lulus SMA. Kau bisa membayangkan itu, Yeonhee?" desahnya pelan. "Aku―tidak pernah membayangkan bahwa aku akan menikahi seorang lelaki yang masih begitu muda. Aku bahkan tidak tahu apakah pernikahan ini akan legal di mata hukum." Yifan kembali mendesah. Pria itu terlihat mulai resah. "Tapi, jauh dari itu―Sehun adalah anak yang baik. Dia begitu polos, tapi memiliki tekad yang kuat. Dia sangat menyayangi keluarganya. Aku membayangkan, dia terlihat mirip denganku―mungkin juga denganmu?" Yifan membayangkan sosok Sehun sekilas. "Lagipula, Taeyong juga menyukainya," imbuhnya.

"Lee Yeonhee, aku ingin meminta persetujuanmu. Apakah seharusnya aku menerima perjodohan ini?" tanya Yifan terlihat begitu pasrah.

"Karena aku takut, Yeonhee."

"Aku takut―jika suatu saat nanti, aku jatuh cinta padanya."

to be continued

dee's note:

hello! saya mau jelasin sesuatu tentang penyakitnya Yeonhee yaa. maaf banget, kemarin saya khilaf dengan menulis hemofilia. thanks to bbb sudah mengingatkan saya tentang hal itu. saya baru ingat nggak ada wanita yang mengidap hemofilia, karena pasti mereka sudah meninggal sejak dalam kandungan (ketahuan nggak fokus setiap biologi -_-v). jadi yah, anggap saja bahwa kondisi Yeonhee itu terlalu lemah untuk mengandung Taeyong, tapi dia tetap memaksa melanjutkan kehamilannya sampai pas dia melahirkan, dia itu nggak bisa diselamatkan. fix ya? okesip hehe.

ini sudah termasuk update cepat dan panjang nggak? hehe. maaf kalau masih terlalu pendek karena hanya segini kapasitas saya untuk sementara waktu. maaf ._.

jangan lupa tinggalkan review (lagi) yap!