Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Latar dan kondisi cerita yang terlalu detil, untuk yang tidak suka segeralah menyingkir. NO ROMANCE, chara OOC, typo.
.
.
.
Sekedar info untuk chapter 2 dan chapter-chapter selanjutnya
Rekan Shikamaru di divisi I:
Nara Shikamaru – 24 thn
Uchiha Sasuke –21 thn
Hatake Kakashi –28 thn
Shimura Sai –23 thn
Yuuhi Kurenai –32 thn
Saya tahu, dari judulnya saja sudah ketahuan kalau ini fic sangat absurd. Saya ngga berpengalaman di Myth meskipun fic punya saya lumayan banyak... yang jadi bangke di mic-word
DLDR!
Pukul 11:50
Syokudo Retaurant, Waseda
Tepat saat Shikamaru diserang rasa kantuk dan bosan, kenop pintu ruangan berukura meter itu diputar dari luar, dan begitu pintu tersebut terbuka, bisa Shikamaru lihat disana beberapa rekan-rekan kerjanya. Ya, beberapa, karena masih ada satu orang lagi yang absen di sana. Siapa lagi kalau bukan—
"Kakashi?"
"Kau lebih tahu dia daripada selingkuhannya sendiri." Jawab Sai acuh tak acuh.
"Jadi apa yang mau kau bicarakan?" Tanya si bungsu Uchiha tanpa basa-basi.
"Tentang kasus mayat tadi malam. Kalian sudah baca kan, pesan yang ditinggalkan oleh pelaku bersama korban?" Shikamaru memulai, sembari memberikan isyarat pada rekannya untuk duduk dengan telapak tangan.
"Ya, kami tahu itu sulit untukmu." Tanggap Kurenai.
"..."
"Kami rasa kau harus lebih berhati-hati. Tolong beri tahu kami tentang siapa dia yang dimaksud oleh si pelaku. Jadi, kami bisa menjagamu sekaligus menjaga dia yang diamaksud oleh pelaku itu. Yahh, tapi semua ini kembali lagi padamu Shika."
"Tentu saja aku akan lebih berhati-hati. Tapi, maaf. Sepertinya aku tidak bisa memberitahukan mengenai hal itu pada kalian. Aku tahu aku egois."
"Ya, kau memang egois Nara." Ejek Sasuke.
"Selain itu, ada hal lain yang ingin aku tanyakan. Ini tentang isi pesan tersebut. Jadi, menurut kalian, apa maksud dari pesan tersebut? Aku akan menjelaskan pendapatku setelah kalian." Tanya Shikamaru, mengabaikan Sasuke.
"Tanggal mati dan lahir korban."
Shikamaru menyeringai, "Aku rasa kita sependapat, Nara."
"Bagaimana menurut kalian, Chouji, Kimimaro?" tanya Shikamaru.
"Kami hanya tim forensik di sini. Kami kesini hanya untuk melaporkan beberapa hasil penelitian tim forensik dan bebeapa data lainnya." Ungkap Kimimaro.
"Dan aku sendiri datang untuk traktiran. Jadi jangan tanya kami. Kami hanya sekalian ingin menonton secara langsung saat kalian semua beradu argumen." Pria bertubuh subur itu menampakan sederetan giginya.
"Aku juga setuju." Entah sejak kapan Kakashi berdiri di pojok ruangan, membelakangi pintu masuk.
"Maaf ya aku telat. Tadi aku naik taksi kesini. Dan kebetulan sopir taksi itu lupa rutenya. Sepertinya aku sedang sial."
"Sudahlah, kau duduk saja." Jengah, Shikamaru berusaha memahami sifat bawaan rekannya ini. Sedangkan rekannya yang lain hanya menatap malas memutar mata melihat kelakuan pria bermasker itu.
"Tapi aku masih heran, ada dendam apa pelaku pada korban? Ah, tidak. Kurasa yang lebih mengherankan adalah ada dendam apa pelaku denganmu?" Tanya Sasuke sambil melayangkan tatapan khas Uchihanya yang tajam pada Shikamaru.
"Entahlah." Jawab Shikamaru, menggedikkan bahunya.
"Itu menyangkut nyawamu Shika." Tak tahan dengan ke-tidak pekaan sahabatnya itu, akhirnya Chouji menyuarakan protesnya.
"Lalu aku harus bagaimana? Meminta kalian atau beberapa polisi untuk menjadi bodyguard dadakan untuk mengikutiku kemanapun? Sedangkan aku sendiri masih bagian dari kepolisian. Sungguh konyol. Aku yakin siapapun pelakunya sudah tahu betul latar belakangku, dan itu tidak mentup kemungkinan jika pengetahuan pelaku meliputi kalian dan kepolisian. Terutama divisi ini."
'Benar juga' batin mereka. Mereka tahu bahwa hal tersebut akan terdengar sangat konyol dan kekanak-kanakkan. Menjadikan Shikamaru sebagai prioritas utama mereka juga tidak akan menolong banyak. Terlebih lagi, jika hal itu dilakukan akan memecah belah konsentrasi mereka antara pelaku, kasus, Shikamaru, juga orang kedua yang menjadi incaran pelaku. Sebetulnya, bisa saja mereka mengawal Shikamaru dan orang yang dimaksud pelaku, tapi bagaimana jika pelaku masih salah satu dari anggota kepolisian?.
Jika hal ini terjadi, dan Shikamaru menjadi korban selanjutnya, mungkin ini akan memperkecil jumlah tersangka, dari seluruh penduduk Jepang, menjadi beberapa anggota kepolisian. Tapi, hey! kehilangan seorang berdarah Nara dan otaknya yang langka? HELL NO!
Sedangkan, jika mereka memilih untuk berdiam diri dan bertingkah seolah Shikamaru ada dalam keadaan baik-baik saja tanpa adanya ancaman nyawa pun tak akan membuat keadaan lebih baik. Yang jelas, dilhat dari sisi manapun kasus ini memang pelik. Belum lagi memikirkan tindakan apa yang akan mereka lakukan untuk mencegah pelaku untuk beraksi kembali.
Tentu saja sangat sulit untuk memikirkan tindakan apa yang akan mereka lakukan untuk kedepannya, dan yang sulit itu disaat kau memikirkan sebuah solusi untuk sebuah kasus sulit, namun tanpa menimbulkan suatu resiko yang ekstrim. bingung? Itulah yang dirasakan Shikamaru dan rekan-rekannya saat ini.
"Ngomong-ngomong, aku jadi teringat perkataanmu saat di depan kamar mayat pagi tadi. Apa maksudmu Shika?" tanya Kimimaro, membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut sontak melirik ke arah Shikamaru.
"Ya, melihat dari kondisi mayat, aku yakin kalian akan menyimpulkan hal yang sama sepertiku." Ucap Shikamaru sambil melirik Chouji.
Yang dilirik pun mengerti, lantas mengeluarkan sebuah amplop dan meletakkannya di atas meja. "Bukalah."
Uchiha bungsu lah yang pertama kali menunjukkan reaksinya, lantas membuka amplop tersubut. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat kondisi mayat yang telah membusuk pada foto tersebut.
"Apa-apaan ini?" Serunya tak suka, dan melemparkan foto-foto dalam amplop tersebut ke permukaan satu-satunya meja bundar yang ada.
"Jadi, bagaimana menurut kalian?" tanya Shikamaru, setenang mungkin meminta pendapat pada rekannya yang lain.
"Pelakunya pasti sudah gila!" Maki Kurenai.
"Pembunuh berdarah dingin." Komentar Kakashi. Sedangkan Sai dan Sasuke tidak melontarkan apapun, hanya diam.
"Kalian pasti akan lebih terkejut lagi jika tahu keterangan mayat ini secara rinci." Itu suara Kimimaro.
"Kami menemukan semacam zat di dalam tubuh korban, entah itu apa yang membuat proses pembusukan berjalan lebih cepat dari seharusnya. Beberapa organ dalam hilang, kulit kepala yang dikuliti, dan kerusakan fisik lainnya. Dan sejauh ini, yang berhasil kami temukan dari hasil pemeriksaan itu hanya beberapa informasi kecil." Katanya, lalu mengambil notes kecil pada sakunya.
"Yakni, korban adalah perempuan, usia sembilan belas sampai dua puluh, iris mata perak ke unguan, golongan darah B. Namun perkiraan waktu kematian tidak dapat diprediksikan karena zat pembusuk yang ada di dalam tubuhnya. Mungkin 27 Desember, pukul 20:42. Dan seperti yang kalian bicarakan tadi, korban lahir tepat pada hari kematiannya."
"Pasti akan sangat sulit untuk menemukan identitas korban lebih rinci lagi dari ini."komentar Kimimaro.
"Ah, aku ingat, pada saat menunggu kalian di lantai satu caffe ini aku sudah memikirkannya. Bahwa hanya ada dua wanita yang pernah aku kenal. Kupikir karena kasus ini berhubungan denganku, jadi akulah kuncinya, kedua wanita itu Hinata Hyuuga dan Kohama Ayumi. Aku tahu Hyuuga karena dia adiknya Neji, sebenarnya hanya tahu, tidak lebih. Kakashi, kau tahu siapa Neji, kan?" Tanyanya yang dijawab dengan tatapan penuh arti dari Kakashi.
"Bagaimana dengan Kohama? Dia aktris yang belakangan ini sedang melejit. Kau yakin mengenalnya?" Tanya Kurenai ragu.
"Sangat yakin, aku mengenalnya saat aku sedang berlibur untuk satu minggu setelah ada tugas di Wakimachi. Setelah aku diundang oleh kepolisian Mima Shi untuk memecahkan sebuah kasus selama tiga hari disana. Setelah tiba di rumah, ada sebuah surat di kotak suratku, tertanda pengirimnya adalah Kohama. Yang berisi permohonan kasus. Lalu esoknya dia datang sendiri ke rumahku. Kami sempat melakukan kontak, meskipun hanya dua hari."
Ya, tentu saja dia ingat. Bagaimana mungkin dia bisa lupa malam sial itu, saat dia pulang ke rumahnya setelah memecahkan kasus di pedesaan itu? Diawali dengan mobilnya yang mendadak mogok di pinggir jalan sebuah hutan, dengan sedikit penerangan dari tiga buah lampu jalan di kawasan yang tengah diguyur hujan, dia akhirnya memutuskan untuk diam didalam mobilnya sambil menunggu kendaraan yang lewat. Sedangkan tim derek yang dia panggil tidak bisa segera tiba karena terjadi longsor tiga kilometer dari tempatnya berada saat itu.
Tiga jam setengah menunggu, ditemani teror telepon dari private number yang tak kunjung berhenti. Akhirnya ada sebuah mobil milik seorang kakek tua yang tampak. Bukannya dia percaya takhayul atau apa, dia sempat mengangkat telepon itu, tapi yang terdengar hanyalah suara gemuruh yang dihasilkan petir. Merinding? Tentu saja. Dan kesokan harinya, dia sangat yakin bahwa roh ibunya mentertawakan dirinya karena percaya hantu disaat wanita cantik-Kohama Ayumi- lah yang sudah meneleponnya. Itulah hari pertama dia melakukan kontak dengan aktris tersebut.
"Kalau begitu, aku yakin Hyuuga adalah korbannya." Kata Kurenai dengan nada suara yang tidak bisa dibilang tenang.
"Aku kenal baik gadis Hyuuga itu. Dia gadis yang baik, ah tidak. Malah sangat baik. Aku tahu dia sering mengunjungi kamar sebelah di apartemen lama Asuma. Dia rutin mengunjungi seorang Nenek yang hidup sendirian karena ditinggal mati anaknya. Awalnya kuanggap itu hal biasa karena mengira itu Neneknya, ternyata dia hanya kebetulan pernah bertemu dan menjadi akrab setelah mengangkat belanjaan Nenek itu. Setelah itu aku menjadi lebih sering bertemu dengannya. Kalian tahu kan? Rumahku dan Asuma yang sekarang tepat di seberang Apartemen Hyuuga." Terang Kurenai dengan tatapan iba.
"bukan itu yang ingin kami ketahui." Ucap Sasuke gusar tanpa melihat ekspresi Kurenai. "Bagaimana kau tahu Hyuuga adalah korbannya?"
"Aku melihat konser Kohama yang ditayangkan di TV satu setengah jam yang lalu. Dan itu tayangan ulang. Kalian masih bisa melihatnya sekarang untuk mengkonfirmasi, karena durasi konsernya dua jam setengah."
"baiklah, jadi yang harus kita lakukan sekarang, tentu saja, mencari data Hyuuga dan keluarganya. Juga orang terdekatnya. Shika, kami mengandalkanmu. Beritahu kami siapa saja diantara teman dan keluarga Hyuuga yang kau kenal?" tanya Sai.
"Hanya segelintir orang. Ada Ino Yamanaka, Kakashi, Kurenai, Chouji, Kiba Inuzuka, Haruno Sakura. Sedangkan keluarganya, aku hampir mengenal mereka semua. Tapi banyak dari mereka yang sudah meninggal. Yang aku tahu saat ini, dan masih hidup hanya Ayahnya, Hyuuga Hiashi, Adiknya, Hanabi, dan Neji."
"Aku rasa, jika si pembunuh ini tidak curang, dia bukanlah aku, Kiba, dan Ino. Kami dulu satu sekolah. Dan tadi malam mengadakan euni di Bar hingga larut."
"dan hanya Haruno-san yang tidak hadir, dia bilang dia harus menghadiri acara keluarga di Kyoto." Tambah Chouji.
"Sai, lacak empat orang sisanya. Kakashi, Kurenai. Dimana kalian tadi malam?" tanya Shikamaru.
"Aku? Aku baru saja melakukan one night stand dengan salah satu jalang love hotel yang ada di pinggir jalanan Tokyo. Kau boleh mengkonfirmasinya. Telepon saja pemilik bar nya dan jalang itu. Diasana juga banyak orang yang menyaksikan, jadi tidak mungkin aku menutup mulut mereka satu per satu." Papar Kakashi enteng. Seakan hal yang baru saja disampaikannya adalah hal paling umum di dunia.
"Aku tadi malam menghadiri pernikahan teman SMA bersama Asuma. Tentu saja, banyak orang yang menyaksikan, karena pernikahannya terbuka untuk umum. Ini nomor telepon orang-orang yang hadir tadi malam."
Shikamaru membuka buku nomor telepon yang selalu dibawanya, lalu menelepon nomor Love Hotel yang dimaksud Kakashi.
"Selamat sore."
"Selamat Sore, tuan. Dengan pemilik Love Hotel, Adakah yang bisa kami bantu? Kami menyediakan discount untuk dua orang pertama yang memesan kamar melalui jasa tele—"
"Langsung saja, saya dari kepolisian." Potong Shikamaru.
"Ah, ya, maaf, adakah yang bisa kami bantu? Karena kurasa bisnis kami legal tuan. Kami sudah memasang papan nama pada bagian depan banguna—"
"Apakah tadi malam ada pria bermasker dengan rambut keperakan datang ketempatmu?" sela Shikamaru untuk yang kedua kalinya.
"Ah, ya. Tentu saja ada. Dia langganan kami tiap satu minggu sekali. Aku akui aku tidak tahu dia tampan atau tidak tapi dia sangat mempe—"
"baiklah, terimakasih atas informasi anda, nona."
"Hey! Aku ini lela—"
Telepon pun ditutup, Chouji yang menyaksikannya menahan tawa mendengar celotehan pemilik Love Hotel tersebut yang tidak pernah tuntas.
"Selamat sore. Saya Nara Shikamaru. Dari kepolisian. Apa benar ini dengan Mitarashi Anko?"
"Selamat sore, seorang anggota kepolisian menghbungiku? Ada apa ini?" tanya sebuah suara Feminim di seberang sana.
"Saya ingin mengkonfirmasi bahwa Yuuhi Kurenai tadi malam mendatangi pesta pernikahan anda. Apakah itu benar?"
"Ya, semalam dia datang bersama Asuma-san dan beberapa teman kami semasa SMA dulu."
"Terimakasih atas informasi anda."
"Seperti yang aku duga, kalian aman." Ucap Shikamaru sambil menghela nafas lega.
"Sai, bagaimana hasilnya?"
"Haruno Sakura tidak bisa dipastikan dimana dia berada tadi malam."
"lacak IP adress ini. Haruno gadis yang penuh antisipasi. Dia selalu menghidupkan GPSnya jika pergi keluar rumah. Buka data GPSnya untuk 24 jam kebelakang."
Berulang kali dicobanya untuk melakukan seperti yang diperintahkan temannya itu. Dan berulang kali juga dia gagal.
"Sistem GPSnya dimatikan dalam jangka waktu yang tak menentu. Urutannya dimulai pada saat pukul lima tadi pagi. GPS mulai mati. Anehnya, disini disebutkan bahwa GPS menyala dari pukul enam sore kemarin. Tapi begitu aku mencoba membuka datanya, datanya tiba-tiba hilang satu setengah detik setelah terbuka. Dan tertulis 'finished', apa maksudnya?"
"Ada seseorang yang menghapus data keberadaan Haruno. Pelakunya belum jelas. Tapi tesangkanya sudah jelas. Hanya ada dua orang. Antara Haruno sendiri, dan pelaku yang sebenarnya." Jawab Sasuke.
"Dan jika yang menghapus datanya Haruno, kemungkinannya menjadi bercabang lagi. Antara Haruno lah pelaku dibalik pembunuhan ini, atau dia tidak ada kaitannya sama sekali, seperti yang dikatakan Shikamaru, dia gadis yang penuh antisipasi." Sela Kakashi.
"Namun jika yang melakukannya adalah pelaku pembunuhan itu, maka aku yakin Haruno sudah tewas." Imbuh Kurenai.
"Kita akan bagi tugas untuk besok, setelah kita mengetahui latar belakang keluarga Hyuuga." Ujar Shikamaru mengingatkan. "Sai."
"Ini dia… Adiknya Hyuuga Hanabi. Ayahnya Hiashi Hyuuga, dalam data keluarga Hyuuga ini disebutkan jika ibunya telah meninggal. Dia mahasiswi di Waseda. Ada dua alamat yang tertera di data ini. Yang pertama alamat keluarganya di Ibaraki, Kashima. Cukup jauh, sekitar satu kilometer dari Hirai JHS. Sedangkan alamatnya yang kedua di Tokyo, Waseda Barat, di Abite Waseda no Mori(1)."
"Kondominium mewah di ujung jalan sana ternyata."
"Bagaimana dengan adiknya?" Tanya Sasuke.
"Hyuuga Hanabi. Masih tinggal dengan Ayahnya di Kashima. Sekolah di Kashima Gakuen(2), masih kelas dua SMA rupanya."
"Kashima Gakuen? Kudengar disana tempat para atlet. Coba kau cari info tentang Hyuuga ini."Usul Kurenai.
"Sering memenangkan beberapa kompetisi bela diri tingkat Provinsi, bahkan dia runner up di tingkat Nasional. Menguasai Kendo, Aikido, Judo, Kempo dan Ju-Jitsu. Ditambah lagi dia ahli dalam memainkan Katana. Kombinasi yang mengerikan sekalipun ilmu beladiri yang digunakan tidak setenar Karate."
"Tapi dia tidak mungkin membunuh kakaknya sendiri kan?" Tanya Kurenai.
"Selalu ada kemungkinan, jika pelakunya psikopat." Jawab Sasuke.
"Jika tidak salah, Neji juga punya kemampuan yang sama, bahkan melampaui adiknya. Bagaimana dengan ayahnya? Aku mulai curiga jika keluarga Hyuuga memang ulung dalam beladiri." Tanya Kakashi.
"Hiashi-san pendiri dojo beladiri terbesar di Kashima. Jenis aliran yang diajarkan di dojo tersebut lagi-lagi sama seperti bakat anak-anaknya. Tapi dia sudah terlalu tua untuk bepergian. Jadi mustahil dia ke Tokyo untuk membunuh putrinya. Tapi, entahlah. Entah itu benar atau mungkin bual belaka. Aku tahu ini karena dulu aku pernah berguru disana. aku tidak tahu Hanabi. Dulu aku menjadi murid disana saat masih SMP, sempat akrab dengan Neji. Aku juga tahu Hinata, tapi tidak terlalu dekat karena dia memiliki jantung yang lemah, sehingga dia tidak ikut berlatih di dojo. Dan selama yang kuingat, dulu Neji pernah mengatakan bahwa Ayahnya akan menikah tahun depan dengan wanita yang berasal dari klan yang sama dengannya, tapi tiga bulan setelah itu aku pindah ke Tokyo."
"Lalu secara kebetulan aku dan Neji kembali bertemu saat kuliah. Dia bilang ibu tirinya meninggal dan dia sudah punya dua adik saat itu. Dia bilang namanya Hanabi, sangat mirip dengan Hiashi, tapi pada kenyataannya mereka tidak sedarah. Juga Hinata yang menurut kabar jantungnya sudah normal kembali meskipun letaknya harus diubah menjadi di kanan. Dia cerita cukup banyak tentang Hinata dan terlihat mengesampingkan Hanabi. Yang patut dicurigai itu Neji. Dia seperti tidak menyadari jika adiknya hilang. Padahal dia sendiri menempuh ilmu ditempat yang sama dengan Hinata."
"Besok kita selidiki langsung para tersangkanya. Kurenai, besok kau coba datangi Kashima Gakuen dan cobalah untuk bekerja sama dengan pihak sekolah agar kau dapat izin menjadi guru disana untuk sementara. Dan kau, Kakashi, besok kau pergi dengan Kurenai ke Kashima. Berperanlah sesukamu. Tapi ingat, lokasimu harus tetap berdekatan dengan Kurenai. Terserah kau akan berperan seolah kenal atau tidak dengan Kurenai. Yang terpenting jangan mengundang kecurigaan."
"Mengapa tidak kau saja Shika?"
"Tidak mungkin, mereka tahu bahwa aku dan ayahku sudah menjual rumah kami dan membeli rumah baru di Tokyo. Aku dan Ayahku hidup terpisah dengan anggota keluarga kami yang lain. Tidak ada satupun yang tinggal di Kashima."
"Apartemen?"
"tidak. Tentu saja tidak. Tidak ada Apartemen, penginapan atau semacamnya di sana. Yang ada hanya Asrama dan beberapa tanah dan rumah yang dijual. Tidak mungkin aku menginap di Asrama, mereka sudah tahu aku menjadi polisi di Tokyo, tidak mungkin menjadi anak SMA lagi. Bila aku terus terang bahwa aku sedang dalam kasus, akan ada kecurigaan jika pelakunya ada di antara mereka. Juga, mereka akan curiga jika aku membeli rumah disana. kecuali jka aku sudah mempunyai keluarga dan pensiun tentunya. Jadi aku akan ke mansion keluarga Haruno besok. Sai, kau pergi ke Kyoto."
"Baiklah." Ucap Kakashi pasrah.
"Sasuke, karena kau dan Neji belum saling kenal cobalah untuk mengorek informasi darinya, kesempatan bagus karena kau masih bocah, kau bisa kuliah lagi di Waseda. Kau disana mulai besok. Aku akan atur jadwalmu untuk beberapa hari. Kurasa memiliki jadwal sama dengan Neji dua-tiga hari tidaklah masalah. Jangan bertingkah bagai seorang jenius disana. Aku yakin Neji sama pintarnya dengan Aburame. Aku yakin kau tahu dia."
"Aku akan memantaunya dengan Gaara. Kurasa akan cukup menyenangkan punya partner sepertinya."
"Baiklah, kalian boleh menjelma jadi duo stoic disana." Jawab Shikamaru acuh tak acuh. Yah, walaupun dia berkata tidak boleh membawa orang dari divisi lain, Sasuke tidak akan pernah mendengarkannya.
"Sai, jika aku menemukan bahwa mansion Haruno kosong, aku akan segra menyusulmu ke sana. Satu hal lagi, jangan sampai kontak terputus. Simpan minimal tiga alat komunikasi yang akan kita gunakan. Kakashi, Kurenai, Sai, bawalah Hotspot kalian masing-masing. Dari yang aku tahu, di Kyoto dan Kashima jarang ada Hotspot yang bisa kau ajak beramah-tamah."
"Untuk tim forensik, teruslah teliti zat apa yang digunakan sipelaku dan perkembangan lainnya. Jika jatuh kembali korban, hubungi kami. Kriteria incaran pelaku masih dipertanyakan disini. Petunjukpun sangat minim. Aku tahu ini sangatlah terdengar tidak bijak. Dan ya, untuk hari ini kurasa sudah cukup." Shikamaru pun berdiri dan membungkuk di hadapan rekannya.
Sontak saja membuat semuanya terkejut. Shikamaru yang mereka kenal selama ini rasanya hampir tidak mungkin untuk menurunkan harga dirinya untuk hal seperti ini.
"Mohon bantuannya, kasus ini tidak akan pernah selesai sampai kapanpun tanpa kalian."
"Kita ini satu tim, bodoh." Ucap Kakashi, tersenyum sambil mengacak-acak rambut nanas Shikamaru.
.
.
.
Keterangan :
Abite Waseda no Mori: Kondominium yg lumayan elit dekat Univ Waseda. Setahu saya, dari sana ke Univ Waseda dgn kendaraan hanya 10 menit, tergantung kecepatan dan kepadatan jalan juga sih. Entah jika jalan kaki.
Kashima Gakuen: Banyak atlet yg sekolah disini, karena dekat dgn stadion Kashima. Saya pakai Kashima SHS sbg sekolah Hanabi untuk kelangsungan cerita. (ditambah lagi, tahun kemarin sempat punya rencana untuk melanjutkan ke sini tapi urung)
Semua tempat di fiksi ini real. Karna saya nggak hapal yg di Naruto. Yg saya tau hanya sedikit. Mohon dimaklumi :))
A/N : saya bingung mau bilang apa di chap ini. Chapter ini terinspirasi dari film berjudul 'Kisaragi' karena hanya menggunakan satu latar tempat. Namun menghasilkan beberapa penyelesaian. Tentu saja, fiksi saya ini tidak ada apa-apa nya dibanding Kisaragi. Mengenai mobil Shikamaru yang mogok itu, itu pengalaman pribadi.. meskipun itu sudah beberapa tahun yang lalu. Bedanya, dulu saya ditemani ayah, dan masalahnya bukan mogok, tapi bannya kempes. Jadi benar-benar ditinggal sendirian ditengah hutan karena ayah saya harus mencari bantuan. Sudahlah..
Maaf untuk update yg sangat lama ini. Saya akhir-akhir ini jadi punya banyak jadwal mengingat ini tahun terakhir saya di sekolah. Ditambah lagi dengan UN yang menghantui diawal bulan Mei nanti. Mohon doanya. Mungkin saya akan menulis OneShoot comedy-tragedy sebagai pelampiasan hasil try out yang peringkatnya antara naik dan turun ini. Untuk chap tiga saya usahakan publish sebelum US. Paling lambat akhir minggu ini. Karena saya ngga mau punya hutang pas lulus nanti.
Terakhir, terimakasih –jika ada- untuk yg memberi dukungan, kritik, saran, flame, fav, serta follow. Maaf untuk typo dan AN di yg sangat panjang. untuk yang log in, silahkan cek PM.
See u next chap :))
