Chapter 2.
Dis : Masashi Kishimoto
I dont make any money from this fiction
Meninggalkan Sasuke yang masih terpaku dan kebingungan, Itachi menutup gordyn dan merubah papan tulisan dipintu menjadi "Sedang Konseling" lalu menutupnya kembali dan menguncinya. Ia membuka jasnya, menggantungnya di kursi dan menaruh kacamatanya diatas kartu kuning di meja tamunya. Lalu kembali menghampiri Sasuke. Berdiri di hadapan Sasuke yang duduk diatas meja.
"Pertama, Uchiha-kun.. Aku memang kakakmu, seisi sekolah tahu pasti tentang hal itu, tapi disekolah, khususnya hari ini, aku adalah gurumu, dan tentu saja kau muridku.."
Raih dagu Sasuke dengan dua jarinya dan mendekatkan wajahnya ke wajah manis Sasuke, Itachi sejenak menikmati aroma hembusan nafas sang adik yang semanis permen. Perlahan meraba bibir bawah Sasuke dengan ibu jarinya dan mengecupnya ringan dengan sedikit jilatan usil sebagai akhir dari ciuman kilat itu.
"Mulutmu ini nakal. Uchiha-kun.. untuk pelajaran pertama sekaligus hukumanmu dalam mengabaikan 'kesopanan', aku ingin kau terbiasa memanggil gurumu dengan sebutan 'Sensei'. Panggil aku 'Sensei' – SEKARANG!" Bentakan halus dan tertahan namun tetap mengunci sebuah ketegasan, meluncur dari mulut Itachi untuk memerintahkan 'murid' nya yang satu ini.
Muka Sasuke merah padam, jadi ini maksud dari semua rencana kakaknya, jadi inilah permainan yang diinginkan kakaknya, Itachi ingin memanfaatkan otoritasnya sebagai seorang guru dan sengaja melakukannya di sekolah agar ia bisa berbuat apapun yang ia inginkan pada Sasuke. Singkatnya, Itachi ingin menguasai Sasuke.
"ukh—me-mengapa aku harus- "
Belum sempat Sasuke membantah perintah kakaknya, sebuah tamparan halus mendarat di bagian pahanya. Sasuke sedikit meringis karena kaget bukan sakit, toh Itachi melakukan itu bukan untuk menyakiti makhluk manis dihadapannya, hanya ingin memperingati dan mengajarinya sedikit lebih disiplin. Sasuke menepis tangan Itachi di pahanya.
"Hentikan, Itachi.."
Itachi menarik nafas panjang dan menggeleng pelan sambil terus menatap diam tak ingin memaksa—secara verbal kepada adik bungsunya ini. Kali ini tangan Itachi mulai memijat gemas bagian paha yang barusan ditamparnya.
Sasuke memejamkan matanya merasakan sentuhan kakaknya yang menunjukkan keerotisan jelas. Ia tak ingin kalah dari kakaknya saat ini, bagaimanapun ini disekolah dan diluar sana masih banyak guru-guru yang berlalu lalang, Konoha High School akan benar-benar mati sekitar jam enam sore, jadi walaupun sekarang adalah jam pulang sekolah, guru-guru dan petugas akademik lainnya masih berada disekolah, Sasuke tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi jika-sudahlah.
Sedikit melegakan Sasuke karena Itachi menghentikan serangan awalnya, ia punmenatap tajam kakaknya berusaha membuat kakaknya mengerti bahwa disini bukanlah tempat yang tepat untuk melakukan hal seperti ini. Terlalu berbahaya. Namun sebelum bahasa tubuh Sasuke sampai pada penglihatan dan logika Itachi, tiba-tiba dirasakannya tangan kekar Itachi menjambak rambut belakangnya dan menariknya hingga spontan Sasuke menengadahkan kepalanya. Sasuke hanya bisa mengedipkan matanya karena terkejut.
"Begitu sulitnyakah tugasku untuk mendisiplinkan satu orang murid saja?" Bisik Itachi lembut di telinga Sasuke dan menggigit pelan daun telinganya.
Seketika tubuh Sasuke terasa panas. kakaknya tahu persis titik kelemahannya. Jantungnya berdebar hebat dan nafasnya mulai tertahan. Seperti dugaannya, detik berikutnya ia merasakan sesuatu yang lembut dan kenyal sedang memagut leher sampingnya.
"I—tachi.."
Ternyata ini pun merupakan ujian kesabaran untuk Itachi dalam mengajar, adiknya benar-benar keras kepala, ia berusaha menahan hasratnya yang sudah membumbung ingin menghukum adiknya dengan 'keras'. Itachi tak boleh melakukan itu,ia tak boleh melukai adiknya atau dia akan mati dengan tidak tenang. Lagipula metode hukumannya bukan kekerasan fisik dan konseling yang akan diberikan pada adiknya ini bertema tata krama dan kode etik. Jadi Itachi harus membuang jauh-jauh pikiran seperti itu. Walaupun ia menginginkannya.
Mungkin lain kali saja.
Tangan kanan Itachi menangkup dagu Sasuke dan menolehkan wajah Sasuke ke arahnya. Lihatlah betapa manis wajah adiknya yang berada dalam dilemma. Itachi mulai bisa merasakan bahwa Sasuke bimbang, ia tahu Sasuke sudah mengerti permainannya, tapi Sasuke masih terlalu takut dalam hal 'tempat' mereka berada. Sasuke adalah murid yang baik.
"Kau takut, Uchiha-kun?"
Setelah bertanya seperti itu, Itachi langsung melahap bibir mungil Sasuke. Mengulumnya ganas hingga Sasuke memukul kecil dadanya meminta ruang untuk bernafas. Namun, Itachi tak memberikannya, malah menaruh tangannya di tengkuk Sasuke dan menariknya agar ciuman semakin dalam.
Suara erangan pelan yang merdu mulai terdengar ditelinga Itachi. Sasuke mulai terengah dan mau tak mau ia harus 'melawan' peperangan yang dilakukan Itachi, lidah lihai Itachi yang mengeksplor rongga mulutnya memaksa Sasuke untuk 'bertahan' atau ia akan tersedak. Namun tentu saja perlawanan dan pertahanan Sasuke hanya membuat Itachi semakin senang seolah undangannya itu diterima dengan baik
Selang beberapa menit kemudian Itachi memisahkan peraduan mereka, terlihat benang saliva yang tersambung akibat ciuman dalam tadi mulai terputus dan meninggalkan jejak licin dipinggir bibir Sasuke, Itachi menyekanya dengan lembut sambil menikmati wajah adiknya yang sedikit 'kelelahan'. Bibirnya terlihat bergetar dan Itachi membelainya lembut dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Panggil aku 'sensei', Uchiha-kun.. dan patuhi aku.." Bisik Itachi panas.
Sasuke menelan ludahnya dan mengangguk pelan.
"Se—sensei.."
Tangan Itachi turun ke dada Sasuke dan jari telunjuknya mencari butiran kecil disana, walaupun masih tertutup baju. Tapi Itachi dapat dengan mudah menemukannya. Tanpa membuang waktu, ia langsung mencubit gemas mutiara kecil di dada Sasuke.
"Sekali lagi!" Perintah Itachi.
Sasuke tersentak dan langsung menegakkan badannya merasakan sensasi sakit yang erotis dibagian tengah tubuhnya itu. Dengan susah payah, Sasuke menahan suaranya agar tak keluar terlalu keras. Ruang guru tidak kedap suara seperti studio, kan? Dan untuk volume suara tertentu pasti akan terdengar hingga keluar.
"Itachi—senseiii.."
Itachi tersenyum, ia senang karena berhasil mendidik muridnya. Sebagai hadiah, Itachi meremas ringan celana Sasuke tepat dibagian pribadinya, lalu melepasnya. Hadiah yang kejam, sentuhan yang paling diinginkan setiap laki-laki pada kekasihnya, baik perempuan atau laki-laki, hanya dilakukan sekilas saja oleh Itachi pada Sasuke. Membuat gairah Sasuke semakin terbakar.
"Anak pintar, untuk hukuman kesalahan pertama, kau lulus, begitupun kau tak lulus sepenuhnya karena untuk membuat warna kartu 'Sopan' mu menjadi hijau butuh waktu hingga pelajaran ini selesai.."
Itachi merengkuh pinggang Sasuke dan memposisikan dirinya diatara kedua kaki Sasuke yang masih duduk dengan 'tidak tenang' di meja konseling. Sedikit memajukan badan Sasuke agar menempel padanya, Itachi mulai membuka dasi Sasuke sambil menjilat dagu dan tulang rahang sang adik. Ia tahu adiknya mulai tersiksa namun justru ini lah rencananya, ingin mendidik kesabaran Sasuke. Adiknya sangat tidak sabaran, baik dirumah maupun disekolah, dan Itachi memanfaatkan momen disekolah ini untuk melatih Sasuke, walaupun terkadang Itachi senang dengan ketidaksabaran Sasuke.
Khususnya saat bercinta.
"Sensei..nghh.."
Sasuke memejamkan matanya rapat-rapat dan tanpa sadar mencondongkan badannya ke arah Itachi, menginginkan kontak fisik yang lebih intim, singkatnya ia ingin disentuh kakaknya lebih dari ini, kedua kakinya menjepit pinggul Itachi. Sasuke benar-benar tidak tenang.
"Sensei, ini pelecehan.."
Oh, Sasuke sudah berani bermain kata-kata dan itu membuat Itachi gemas, ia senang adiknya menyambut permainan ini, ia bersyukur Kakashi memintanya mewakili ketidak hadirannya di sekolah hingga ia mendapatkan kesempatan yang manis seperti ini. Bisa melucuti seragam sekolah Sasuke adalah momen langka. Mendengar desahan Sasuke yang tertahan adalah kenikmatan tersendiri. Melihat Sasuke sedikit tersiksa karena rasa frustrasi yang hebat dari birahi yang membumbung adalah tontonan paling menarik.
Luar biasa. Itachi tak ingin hari ini berakhir.
"Karena kau begitu nakal. Aku tak melecehkanmu, Uchiha-kun, aku sedang mendidikmu.." Jawab Itachi.
Sasuke meremas bahu Itachi dan menyembunyikan mukanya di perpotongan leher sang sensei. Menghirup aroma maskulin dari parfum Itachi, Sasuke tenggelam dalam kehangatan aura kakaknya. Ia mencintai Itachi, ia ingin terus tersesat didalam cinta kakaknya. Dunia tanpa Itachi baginya adalah kematian.
"Sensei.. Ah!"
Setelah susah payah membuka matanya, Sasuke akhirnya menyadari bahwa kemejanya sudah setengah terbuka dan ciuman kakaknya sudah sampai didadanya. Tubuhnya melemas, ia ingin membaringkan tubuhnya dimeja tempatnya duduk, namun tangan kiri Itachi yang masih meengkuh pinggangnya seolah tak mengizinkannya berbuat itu.
Celananya mengetat, ia merasa kejantanannya mulai menuntut ingin dibebaskan, setidaknya disentuh. Namun, lagi-lagi karena tubuh Itachi yang terlalu menempel membuatnya tak bisa menyentuh apalagi membebaskan kehidupan kecil dibalik celananya itu keluar dari sangkarnya.
"Sabar, Uchiha-kun… kau ingat kan kartu kuningmu? Atau kau ingin menjadikan kartu itu berubah menjadi kartu merah, hm?"
Bahu Sasuke yang sudah sedikit terekspos di gigitnya gemas. Kulit adiknya memang lembut dan empuk, Itachi ingin memakannya. Seperti marshmallow, feromon Sasuke yang menguar disekitar situ membuat Itachi mabuk dan tak bisa menahan air liurnya menetes. Sambil memijat tengkuk Sasuke, Itachi mulai menghisap daging lezat itu, hingga meninggalkan bekas merah, tak puas dibahu Sasuke, Itachi mengulang kegiatannya di perpotongan leher sang adik dan diakhiri dengan pagutan ditelinganya.
Itachi menjeda serangannya dan memandang Sasuke, matanya terpejam dengan keringat yang mulai berkumpul di keningnya, mulutnya terbuka dan nafasnya terengah. Manis sekali, Itachi mengecup kening Sasuke dengan sayang. Lanjut ke kedua mata dan hidungnya.
"Aku mencintaimu, Otouto.."
Kata-kata itu. Kata-kata yang selalu membuat Sasuke bahagia, yang selalu dilantunkan kakaknya setiap saat. Ya, Itachi selalu membisikkan kata-kata itu disetiap ada kesempatan, ia tak pernah lupa menyisipkan namanya, atau panggilan sayangnya untuk Sasuke. Kakak yang paling disayanginya. Paling dicintainya. Kakaknya yang lembut dan hangat. Pribadinya anggun dan dewasa, Sasuke selalu bersandar pada Itachi.
Sasuke merangkul Itachi seolah memohon agar dimanjakan, baiklah, Sasuke sudah mengabaikan keadaan sekitar, ia tak peduli walaupun berada disekolah. Ia ingin dipeluk oleh kakaknya. Ia melihat wajah kakaknya yang begitu tenang memandangnya, penuh misteri. Sasuke selalu ingin masuk kedalam mata itu, ingin bisa melihat apa yang dilihat kakaknya.
Bermaksud ingin mencium Itachi, niat Sasuke tergagalkan karena tiba-tiba Itachi menutup mulut Sasuke dengan tangan kirinya lalu menggeleng pelan sambil tetap tersenyum. Tak menyerah sampai disitu, Sasuke tak kehabisan akal, tangannya meluncur ke ikat pinggang kakaknya dan bermaksud membukanya. Namun lagi-lagi digagalkannya dengan sentilan lembut dikening Sasuke.
"Uchiha-kun, kau tak lupa kan bahwa aku ini gurumu? Kau harus mematuhiku, dan kau dilarang berbuat sesukamu disini.."
Sasuke terdiam dan hanya menggigit bibir bawahnya sambil menatap memelas sang kakak. "Pelajaran kedua, Uchiha-kun. 'Sabar' – aku akan mengajarimu untuk bersabar.." Lanjut Itachi.
Belum selesai Sasuke bernegosiasi dengan hasratnya yang memojokannya, Itachi mendorong dadanya dengan sedikit kasar hingga Sasuke terhempas diatas meja tersebut. Ketika membuka mata, Itachi sudah tepat berada diatasnya. Kali ini perut Itachi menekan bagian pribadinya dan Sasuke tersentak dengan sentuhan mendadak itu. Secara insting, Sasuke melebarkan kakinya untuk memperluas area ekplorasi untuk Itachi.
"Sensei.. nhh.."
Sasuke memalingkan mukanya saat Itachi mengunci kedua tangannya diatas kepalanya, sementara tangan satunya sibuk membuka sabuk celana Sasuke dengan sedikit terburu, lidahnya asyik menggelitik leher hingga ke dada Sasuke dan berhenti di tonjolan mungil sang adik yang sudah mengeras. Terlihat oleh Itachi, Sasuke yang merinding dan dadanya yang naik turun berusaha mengatur nafasnya.
"Ah-hnghh.."
Rasa geli menyeruak hebat di dada Sasuke, Itachi terlalu hebat, lidahnya begitu lihai dan cekatan. Dengan lapar, Itachi menghisap puting susu Sasuke yang mulai memerah akibat pagutan-pagutan ringan yang dilakukannya sebelumnya. Disela hisapan laparnya, Itachi menjedanya dengan jilatan ringan dan gigitan gemas diujung puting susu Sasuke. Sementara tangannya yang sudah berhasil menunaikan tugasnya membuka celana Sasuke –sebagian- kembali naik keatas perut kenyal adiknya. Mencubit gemas disitu sambil terus meraba hingga ke pinggangnya.
Sasuke sedikit menggelinjang dan berusaha menggesekkan organ kelaki-lakiannya ke perut Itachi yang sedang menempel padanya. Ia merintih dan mengerang dengan nada yang manja dan penuh arti dari 'permohonan' , begitupun Itachi tak menurutinya, ia pun harus menahan diri karena ia sudah bertekad akan mendidik adiknya. Didikan terlarang yang amat manis.
"Nakal sekali.."
Setelah dirasa cukup untuk membuat banyak tanda kepemilikan didada Sasuke dan melihat tonjolan kecil disana menegang hebat, Itachi menyudahinya dan menggantin cengkeraman tangannya di tangan Sasuke dengan mengikat tangan adiknya dengan dasi seragam sekolahnya. Itachi benar-benar harus mengendalikan kucing kecil yang nakal dan liat didepannya ini. Ia harus mendidiknya menjadi anak yang penurut tanpa harus menyakitinya, ia harus membuat makhluk manis ini 'Membutuhkan' tata krama dibandingkan 'Diharuskan' bertata krama.
"Ja—ngan… Sense..iii… AH!"
Belum sempat Sasuke protes lebih banyak, tiba-tiba ia merasakan tangan Itachi kembali meremas kejantanannya dengan sedikit kasar. Sasuke tersentak dan spontan memundurkan tubuhnya. Beberapa saat kemudian, gesekan lembut dengan tempo yang pelan dan menyiksa mulai terasa di sana. Ia ingin segera membebaskan organ surgawinya tersebut dari sangkarnya. Sasuke menggerakkan pinggulnya mengikuti gerakan tangan Itachi. Ia ingin lebih. Ia butuh.
Itachi menyeringai senang dengan reaksi Sasuke, ia semakin ingin menjahili adiknya dengan 'hukuman' manisnya. Sasuke begitu lugu menunjukkan apa yang diinginkannya. Bahasa tubuhnya memang sangat jujur, walaupun verbalnya sangat minus. Karena itulah, ia memberikan kartu berwarna hijau pada Sasuke. Itachi sudah merencanakan ini dengan sempurna sejak awal. Dan ia yakin bahwa ia akan berhasil.
Mendengar rintihan Sasuke yang semakin intens walau dengan suara tertahan dan nafasnya yang semakin terengah, Itachi menghentikan serangannya. Mengangkat tangannya dari celana Sasuke dan kembali memasukkannya ke dalam kantung. Yang dilihatnya adalah ekspresi Sasuke yang kaget dan kebingungan, sekaligus hampir menangis karena ia kehilangan kenikmatan surgawi yang barusan membuainya.
"Jangan tergesa, Uchiha-kun… sepertinya kau sudah mulai terbiasa dan belajar untuk lebih sopan dalam memanggil sensei-mu. Berarti pelajaran kedua dari kartu kuningmu benar-benar harus dimulai.."
Itachi mengecup kilat bibir Sasuke, lalu kembali ke tubuh bagian bawah adiknya, menjilat dan menggoda pusar Sasuke sambil menurunkan celana panjang seragamnya perlahan. Udara dingin menerpa paha Sasuke saat celananya sudah turun ke betisnya dan menyangkut di sepatunya. Sasuke meringis dan merinding merasakan sensasi tersebut. Ujung jari Itachi meraba paha Sasuke menciptakan rasa geli yang menggoda disana.
"Hentikan, sensei … aku .. malu.. ukh.."
Mulut Itachi masih sibuk menggoda pinggang Sasuke, memagutnya, menghisapnya dan menggigitnya. Bisa dibayangkan seperti apa rasa geli yang menyiksa yang harus dihadapi Sasuke. Kaki Itachi membuka sepatu Sasuke dan mendorong turun celana seragam adiknya yang masih tersangkut di ujung kakinya.
"Uchiha-kun – lihatlah dirimu sekarang.. seorang ketua kelas, murid teladan dan idola tampan para gadis di sekolah, kini sedang menjual dirinya pada seorang guru pengganti. Setengah telanjang, tangan terikat, wajah memelas dan tubuh yang gemetar.." Goda Itachi.
Sasuke memalingkan mukanya. Dan disambut oleh cengkeraman kasar tangan Itachi di dagunya, kembali menolehkan wajah Sasuke ke wajahnya lalu menyeringai senang. Adiknya ini manis sekali. Itachi tak pernah bosan. Itachi sangat mencintai sosok rapuh dibawahnya ini. Ingin selalu menjaga dan melindunginya. Tak mengizinkan seekor semutpun merasakan manis dari tubuh Sasuke. Tak membiarkan tubuh adik kesayangannya ini ternoda oleh apapun. Hanya dia yang boleh menodai Sasuke, menodai dengan dosa yang semanis madu.
Itachi menyelipkan pahanya ke selangkangan Sasuke dan kembali menggesekkan erotis dikejantanannya yang masih terhalang celana dalam. Sasuke kembali merintih dan mengerang namun tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa memandang kakaknya dengan begitu memohon, meminta Itachi mengasihaninya.
"Bagaimana kira-kira jadinya bila diruangan ini ada kamera pengintai dan mereka yang ada di sekolah ini melihat perbuatanmu, anak nakal? Kau akan dikeluarkan dari sekolah. Ironis sekali kan?"
Itachi mati-matian menahan birahi yang sudah sejak tadi membakarnya. Ia tersiksa dengan hasrat yang membelenggunya, adiknya ini benar-benar seperti bom waktu baginya. Ia ingin segera memasukkan miliknya yang sudah berkedut nikmat dan membengkak didalam celananya ini ke lubang sempit milik Sasuke.
Tapi, tak boleh. Belum.
"Ja-jangan.. aku tak mau.. ah.. dikeluarkan.. ngh.. dari sekolah.. ugh.. " Desah Sasuke karena tak sanggup menahan kenikmatan setiap kali Itachi menekan pahanya dengan sedikit kasar di kejantanannya.
Tersenyum puas, Itachi hanya mengangkat bahu dan berjongkok di depan milik Sasuke yang menegang hebat. Menggenggam kedua kaki Sasuke yang tergantung dipinggir meja, Itachi mulai mengecup lutut Sasuke dan naik ke paha Sasuke, meniupnya lembut dan menghembuskan nafas panasnya disana. Sesekali menjilatnya. Merasakan gula kapas di depan bibirnya, putih, lembut, mulus, dan manis, persis kapas. Hanya sedikit lebih kenyal seperti marshmallow.
"Sensei.. hhaahh.. ..aangh…"
Ciuman di paha dalam Sasuke kian naik, Itachi pun menaikkan satu kaki Sasuke dengan tangan kanannya, menggigitnya gemas bergantian, kiri dan kanan. Sasuke mulai kehilangan kendalinya, ia menggelengkan kepalanya menahan rasa frustrasi yang hebat. Terlalu nikmat, tapi kurang. Ia ingin lebih. Ada bagian lain yang ingin lebih disentuh oleh kakaknya. Mulut kakaknya. Sasuke menggelinjang dan mengepalkan tangannya yang terikat kuat-kuat.
"Hentikan.. ahnn.. uhnghh… aahh.."
Sasuke tak tahan, ia menggoyangkan pinggulnya memutar berusaha mengarahkan bagian yang paling ingin disentuh kakaknya ini ke mulut sang pendominasi. Ia ingin kakaknya segera memakannya. Terlebih saat bibir Itachi sampai di belahan selangkangannya dan menjilatnya disana, Sasuke benar-benar sekarat karena kebutuhan yang tak tersalurkan. Belum puas sampai disitu, Itachi membelai bagian simfisis dan menarik halus beberapa helai rambut hitam yang menyembul dari balik celana dalam Sasuke.
"Sensei.. aah.. uhhh… Sensei.. hentikan.. aahh.. Jangan.."
Mata Sasuke terbuka lebar saat didengarnya pintu diketuk dengan sedikit keras dan terburu, Itachi menghentikan permainannya dan tersenyum kea rah Sasuke. Meninggalkan Sasuke dalam keadaan terikat dan hampir telanjang bulat.
"Sabar, Sasuke.."
Itachi berjalan ke meja kerjanya dan mengambil jasnya lalu memakai kacamatanya kembali, merapikan kerahnya dan menarik nafas panjang menenangkan diri. Kembali membalikkan badannya Itachi pun berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Sasuke luar biasa panik dan bingung. Kakaknya sudah gila, yang benar saja Itachi meninggalkannya dalam keadaan 'terhina' dan 'tersiksa' seperti ini? Bagaimana jika orang lain melihatnya? Bagaimana jika si pengetuk pintu itu tiba-tiba menyerobot masuk dan memergoki mereka sedang melakukan hal yang terlarang seperti ini.
Thanks for reading.
TBC lagi deh takut pusing bacanya kalo kepanjangan. (^o^)
R&R
