Maaf lama update.
Enjoy.
Tak lama, terdengar suara Itachi menyapa tamunya, memang kakaknya tak beranjak dari depan pintu seolah melarang tamu tersebut untuk masuk. Namun, suara Itachi masih terdengar tenang, bahkan senyum ramah dan sopan masih menghiasi wajahnya. Sasuke benci senyum itu. Apalagi jika ditujukan kepada orang lain selain dirinya.
"Uchiha-sensei, maaf mengganggu, tapi barusan Kakashi-sensei mampir ke sekolah untuk menitipkan ini pada anda.."
Itachi tersenyum dan menerima bungkusan kecil dari tangan guru wanita yang ada didepannya.
"Terima kasih, lalu dimana Kakashi-sensei sekarang?" Tanya Itachi.
Guru tersebut mengangkat bahunya dan menggeleng.
"Entahlah, ia langsung pergi lagi katanya ia harus berkunjung ke sekolah di desa sebelah. Perintah dari persatuan guru mungkin.."
Setelah mengangguk mengerti, Itachi pun mulai mengobrol ringan dengan guru tersebut.
Di sisi lain, kita lihat keadaan malaikat kecil yang tersesat dan kehilangan sayapnya ini meringkuk di atas meja di sudut ruangan yang hanya terhalang oleh lemari buku yang tingginya hanya satu setengah meter. Ia terlihat begitu tersiksa, tangannya terikat, tak bisa berbuat apapun. Begitupun ia tak bisa merengek atau memanggil sang penyelamatnya yang sedang sibuk melayani tamu menyebalkannya itu. Ia ingin menyentuh dirinya sendiri, ia tak tahan, setidaknya biarkan ia melepas celana dalamnya yang hampir robek itu karena kejantanannya sudah membengkak. Ia ingin disentuh, ia ingin menyentuh.
Sasuke menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan rintihan atau erangan yang mungkin saja keluar. Ini adalah saat yang sangat tidak tepat jika suaranya keluar, celana dalamnya mulai membentuk bercak basah, pertanda miliknya sudah mengeluarkan pelumas karena ia sudah siap—tidak tahan untuk 'menerima' serangan yang lebih.
"Memalukan, hentikan.. jangan keluar lagi.." Sasuke membathin sambil melihat gundukan yang berkedut di celananya.
Makhluk manis itu mulai kesal karena kakaknya tak kunjung kembali, ia ingin diperhatikan, ia ingin kakaknya 'mengasuh' nya. Sepertinya Sasuke lupa bahwa kakaknya tak mungkin mengasuhnya karena justru ia sedang di hukum dan di didik. Akhirnya, Sasuke menaruh kedua tangannya yang terikat ke bagian bawah tubuhnya, ia semakin meringkukkan badannya dan menjepit tangannya diantara kedua pahanya, ia butuh. Ia ingin disentuh, dan karena ia tak mendapatkannya maka ia akan menyentuh dirinya sendiri.
"emhh.. hnnnn.. kkhh.." erangnya dengan suara yang tertahan saat ia mulai menggerakkan pinggulnya.
Miliknya yang masih terbungkus celana dalam digesekkannya dengan kedua tangannya yang terikat diantara selangkangannya dalam keadaan meringkuk. Si Uchiha manja itu sedikit merasa sedikit lega dan mulai menikmati kegiatannya. Ia menggerakkan pinggulnya maju mundur. Cairan pre-cum nya semakin banyak meleleh keluar.
Hingga..
"Aku tak ingat pernah mengizinkanmu untuk menyentuh dirimu sendiri, Sasuke.. "
Sasuke terkejut dan spontan membalikkan badannya, dan ia melihat kakaknya sedang bersandar di lemari buku, menyaksikan kegiatannya barusan sambil mengulum senyum tipis dan sinis di bibirnya. Sasuke menghentikan kegiatannya—terpaksa. Dan tubuhnya kembali terkulai lemas, kakinya menjuntai ke bawah dan tangannya kembali diletakannya diatas kepalanya.
"Minta maaf, Uchiha-kun. Katakan 'Maaf sensei, aku lancang' dengan manis padaku.." perintah Itachi sambil mendekati Sasuke lagi.
Kali ini Itachi mengambil kursi tunggal yang terbuat dari kayu dan meletakannya didepan meja—didepan kaki Sasuke yang terkulai lemas. Duduk disana dengan tenang dan mengangkat kaki Sasuke hingga ke perutnya. Sasuke kembali merasa takut dan malu, posisi ini memalukan sekali, terlalu vulgar. Sang pendominasi hanya tersenyum puas melihat penerima-nya tak berdaya dan berjuang melawan rasa malunya setengah mati. Sengaja Itachi memandang lekat paha Sasuke yang tak ternoda itu. Menatap lapar pemandangan Sasuke yang sedang mengangkang lebar karena tangannya terus menahan kaki Sasuke agar tetap terangkat.
"Cukup, Senseeii.. ini keterlaluan.." Rintihnya tertahan. Sasuke hampir menangis dibuatnya.
Itachi menggelengkan kepalanya dan mencium bongkahan pantat Sasuke yang masih tertutup celana dalam dengan lembut, bergantian kanan dan kiri, terlihat oleh Itachi bagian atas celana dalam Sasuke yang sudah terdapat bercak basah. Oh, Itachi ingin segera menurunkan celana dalam Sasuke dan membersihkan 'sesuatu' yang kotor disana. Itachi sendiri sudah merasa sesak dibagian bawahnya, ia juga tersiksa.
"Salah, Uchiha-kun. Aku memerintahkanmu untuk minta maaf.." Jawab Itachi sambil menampar halus kulit putih milik adiknya itu.
Sasuke kaget dengan tamparan kakaknya di pantat kenyalnya dan spontan meminta maaf.
"Maaf, Sensei – aku tak kan mengulanginya lagi.."
Merasa senang dan puas, Itachi kembali mencium bongkahan pantat Sasuke dan menjilatnya dengan lapar, mengecupnya dengan ganas sengaja menciptakan suara-suara kecupan erotis disana. Sasuke merasa malu luar biasa begitupun ia menginginkannya. Sangat.
"Aku punya hadiah untukmu karena kau lulus dalam 'kesopanan'.." Bisik Itachi.
Akhirnya, Sasuke bisa sedikit melepas dahaga birahinya kala ia merasakan celana dalamnya mulai melesak ke arah paha, lutut, hingga ujung kakinya. Udara dingin kembali menerpa bagian terlarangnya. Begitulah, Itachi sedikit mengampuni murid nakal didepannya ini. Bagaimanapun, sebuah 'reward' memang dibutuhkan dan penting dalam psikologi pendidikan dan belajar.
"Hnnhh.. Sensei.. ii.. uhmnn.."
Tanpa menunggu perintah Itachi selanjutnya, Sasuke sudah berinisiatif melebarkan pahanya, memperlihatkan semua yang ia miliki pada sang kakak. Memang sering, tapi di tempat yang berbahaya seperti disekolah sekarang ini adalah hal yang baru dan sedikit sensasional. Lebih merangsang. Sasuke sudah memutuskan untuk memperkosa harga dirinya. Ia tak peduli. Ia butuh kakaknya. Sekarang.
"Hoo, sekarang kau ingin menggoda sensei mu, hm?"
Itachi kembali memposisikan dirinya di antara kedua kaki Sasuke dan membungkukkan badannya, menyodorkan didepan mata Sasuke sebuah kotak kecil berpita merah.
"Ini hadiahmu, Uchiha-kun. Silakan kau buka dengan mulutmu.."
Tak berani melawan, Sasuke langsung menggigit ujung pita tersebut dan menariknya hingga terlepas, selanjutnya ia membuka tutup kotak dengan giginya pula. Namun, wajah Sasuke seketika pucat melihat apa yang ada di dalam kotak tersebut. Pita yang tadi digigitnya lepas dan terkulai di pinggir pipinya.
"Dari Kakashi-sensei, guru wanita tadi yang mengantarkannya.." Tutup Itachi dengan seringai di wajahnya sambil menatap Sasuke dengan nanar.
Sebotol pelumas dan sebuah vibrator berukuran sebesar ibu jari lengkap dengan remote tingkat getarannya, dan belum sempat Sasuke mengumpulkan kesadarannya, Itachi sudah melumuri vibrator tersebut dengan pelumas dan langsung memasukkannya ke lubang surga Sasuke.
"Sabar, Sasuke – kau harus ingat pelajaranmu selanjutnya.."
Kontan Sasuke terkejut dan langsung memundurkan pantatnya, kakinya menghentak ke atas meja dan nyaris mengangkat bokongnya, namun ditahan oleh Itachi.
"Ahhh.. Sensei.. Ohhh.."
Kaki dan pahanya terlihat gemetar, dan Itachi mulai menyalakan vibrator tersebut dengan getaran kecil, lalu mengulum mulut Sasuke dengan ganas. Ia ingin mempersiapkan Sasuke dengan cara yang tidak biasa. Jika selama ini jari Itachi yang memegang tugas tersebut, kali ini biarlah benda yang sedikit asing yang mengerjakannya. Toh hasilnya lebih baik.
Setelah puas dan dirasa Sasuke sedikit lebih tenang dari serangan mengejutkan barusan, jari Itachi mulai ikut memijat bagian luar lubang Sasuke, mendorong masuk vibrator kecil tersebut perlahan sambil menciumi perut Sasuke. Ia tahu kejantanan Sasuke yang sejak tadi terabaikan, sudah merengek ingin dimanjakan oleh mulutnya, tapi Itachi masih ingin melihat adiknya berada dalam frustrasi yang hebat.
Lidahnya mulai menari di bagian perineum Sasuke, sengaja mengabaikan bola kembar yang menggantung disitu, sementara tangannya mengusap dan memijat paha Sasuke,bahkan ketika jilatannya naik ke belahan selangkangan Sasuke, ia pun mengabaikan batang kelaki-lakian Sasuke yang sudah berdiri tegak disertai cairan bening yang mengalir dari lubang kecil diujungnya. Tangan satunya sibuk memijat bongkahan pantat Sasuke agar semakin rileks. Sesekali melebarkannya, dan tentu saja, jarinya mampir untuk mendorong vibrator itu masuk semakin dalam.
"Ma—masukkan.. Senseeii.. oohhh…" Pinta Sasuke dengan suara yang merintih lemah.
Itachi tetap pada kegiatannya.
"Apanya, Uchiha-kun, katakan dengan jelas.."
Masih mendorong vibrator tersebut ke dalam lubang Sasuke dan berusaha mengarahkan benda mungil tersebut ke titik yang paling disukai adiknya. Itachi sudah hafal sekali tentang hal itu. Tentu saja Itachi tahu lokasinya dimana. Dan..
"AARGHH..hmnnppp…"
Sasuke menjerit spontan saat benda kecil yang bergetar tersebut mencolek titik kenikmatan didalam lubangnya. Tubuhnya mengejang sesaat dan Itachi buru-buru menutup mulut Sasuke, ia sendiri kaget dan tak menyangka bahwa adiknya akan bereaksi sehebat itu. Sudah begitu membumbungnya kah birahi Sasuke hingga teriakan manis itu harus meluncur dari mulutnya?
Untuk kejutan selanjutnya bagi Itachi, sebuah tembakan hangat mendarat di tangan Itachi yang sedang membekap mulut adiknya, ternyata Sasuke mengalami ejakulasi spontan dan prematur akibat kelenjar prostatnya di sentuh tanpa persiapan sebelumnya. Itachi semakin senang, ia belum melakukan apapun, baru tahap awal namun adiknya sudah memberinya hadiah yang sangat manis.
"Kau sangat nakal, Otouto.."
Kali ini airmata Sasuke benar-benar mengalir dari sudut matanya. Terlalu nikmat dan terlalu menyiksa. Ia ingin lebih namun ia tak mendapatkannya, ia merengek dan memohon tapi tak ada sambutan. Begitu pahitnya kah pohon kesabaran itu?
"uuhmmnnn.. mmmnnhh…hmmpphh…" Sasuke mengerang dengan mulut yang tertutup.
Itachi menarik nafas panjang, ia merasa harus sedikit memajukan langkahnya, ia tak tega harus membuat Sasuke tersiksa lebih dari ini. Akhirnya ia melepaskan tangannya dari mulut Sasuke dan menaruh sebentar telunjuknya di bibir adik cengengnya ini sebagai isyarat untuk mengendalikan suaranya.
"Baiklah, Sasuke.. Kakak akan menuruti keinginanmu.. Hanya jika kau mengatakan keinginanmu dengan jelas. Satu kali ini saja.."
Tak ingin merasakan siksaan yang lebih dari ini, tanpa pikir panjang lagi, Sasuke pun memohon dengan 'lancar'.
"Sensei.. kumohon.. masukkan milikku ini kedalam mulutmu.."
Puas. Itachi senang hingga ingin rasanya ia membenturkan kepalanya ke tembok untuk memastikan semua ini bukan mimpi. Tanpa sepengetahuan Sasuke, Itachi diam-diam mengambil pita bekas dari bungkusan kado barusan, dan mengikatkannya pada pangkal penis Sasuke. Sasuke kaget dan menyesal sudah mematuhi kakaknya dan percaya pada kebohongan manisnya itu.
"Sensei—jangan itu.. uukkhh…"
Itachi tertawa kecil dan menampar kembali paha dalam Sasuke.
"Setidaknya aku menuruti keinginanmu, anak nakal.." Jawab Itachi enteng.
Setelah sedikit menjilat sisa sperma Sasuke yang baru saja melompat keluar, Itachi mulai mengecup ujung kepala penis Sasuke, adiknya masih tegang sempurna walaupun sudah mengalami orgasme prematur. Itu mengejutkan Itachi, selama bercinta ia tak pernah mengalami kasus adiknya seperti ini. Mungkin berkat vibrator. Itachi hanya bisa tertawa geli dalam hati.
Mendengar hembusan nafas Sasuke yang penuh rasa lega, Itachi mulai memagut batang penis Sasuke sebelum akhirnya memasukkan selurunya ke dalam mulutnya, dirasakannya daging yang penuh dengan darah itu berkedut nikmat meminta lebih, membuat Itachi semakin semangat untuk menggodanya. Gerakan kepalanya mulai naik turun sesekali memijat batang penis yang manis tersebut dengan lidahnya dan otot-otot rongga mulutnya.
Sasuke menjepit kepala Itachi seolah tak ingin melepaskannya, ia tak mau kehilangan kenikmatan dan kehangatan surgawi yang di berikan kakak tersayangnya. Ia pun mulai menggerakkan pinggulnya menyesuaikan gerakan kepala Itachi. Walaupun ia kesal karena sudah dipastikan ia ta kan mengalami klimaks karena senjatanya sedang bernasib sama dengan tangannya.
"Ahh.. mmmhhh.. Sensei.. aahh.. "
Tangan Itachi bergerak menuju skrotum Sasuke dan meremasnya gemas, sesekali jarinya menekan dan memijat perineum Sasuke. Ada sedikit getaran disana akibat vibrator yang ada didalam lubang Sasuke. Itachi menambahkan tingkat getaran di vibrator tersebut menjadi 'full'. Tentu saja, Sasuke kian tersentak-sentak dan menggelinjang. Berkali-kali Sasuke menghentakkan kakinya ke atas meja akibat reaksi spontan dari vibrator tersebut yang menyiksa titik surgawinya.
"Sensei, a-aku.. aahh.. kumohon.. jika…memang kartu hijauku adalah.. ohhh…"
Itachi menjeda sebentar kegiatannya, ia mulai menangkap apa yang akan dikatakan muridnya yang manis ini.
"Ya, Sasuke?"
Kembali mengulum dan melumat penis Sasuke kali ini lebih cepat dan menambahkannya dengan hisapan kuat di ujung penis Sasuke. Secara tak langsung memancing Sasuke agar menyelesaikan kata-katanya. Inilah yang ditunggu-tunggu Itachi dalam konseling 'Kesabaran' yang diberikan untuk Sasuke.
"Jika kartu hijauku adalah 'Pilihan', maka aku bisa menggunakannya kan?"
Sasuke sudah tak tahan, ia akan segera klimaks namun pita yang mengikat pangkal penisnya benar-benar menghalanginya untuk mencapai puncak kenikmatannya. Cukup, ini sudah keterlaluan. Sasuke sekarat.
"Tak masalah kartu ku berubah menjadi kuning atau merah, aku akan menggunakan kartu ku untuk meminta dispensasi darimu..atau silakan kau langsung mendidikku berdasarkan kartu yang akan kuajukan.."
Itachi tetap menyimak kata-kata Sasuke sambil tetap pada kegiatannya, ia ingin tahu sepandai apa adiknya ini menggunakan 'Pilihan' nya. Sengaja itachi menarik agak kasar rambut pubic Sasuke untuk menambah rasa geli dan frustrasi di bagian tersebut.
"Kartu mana yang akan kau gunakan, Sasuke?" Tanya Itachi dengan tenang.
Sasuke menarik nafas panjang, bagian bawahnya sudah terasa sakit sekali, ia ingin segera meraih kepuasannya, ia ingin bersatu dengan kakaknya, ia ingin orang yang paling dicintainya didunia ini segera memenuhinya, bahkan jika ia bisa mengandung, ia rela mengandung anak dari kakaknya.
" 'Santun' aku akan menggunakan kartu itu .."
Setelah tak ada lagi kata-kata yang diucapkan oleh Sasuke, Itachi pun menghentikan semua serangannya. Ini benar-benar sesuai rencana dan dugaannya. Dan ia sangat puas. Adiknya memang yang terbaik. Itachi tergila-gila pada Sasuke.
Itachi mengangguk sambil tersenyum lalu membuka ikatan tangan Sasuke dan mambimbingnya untuk duduk. Sasuke sedikit meringis karena vibrator didalam lubangnya semakin tertekan karena posisi duduknya sekarang, kakinya gemetar, keringat mengalir dengan deras dan airliurnya tak berhenti mengalir dari pinggir bibirnya. Ia memandang Itachi dengan penuh harapan. Sambil mengambil kartu hijau bertuliskan 'Santun' dari kantongnya, lalu menyerahkan pada Itachi. Selanjutnya ia melepas kemeja yang sudah sejak tadi terbuka kancingnya namun belum tertanggal dari tubuhnya. Mengganggu sekali.
"Kau tentu harus bersikap santun padaku jika menggunakan kartu ini, Sasuke.." Jawab Itachi sambil menerima kartu yang diserahkan Sasuke padanya.
Sasuke memalingkan mukanya karena malu, ia kesal dan malu, tapi posisinya terjepit, ia butuh kakaknya, kapasitas kesabarannya hanya sampai disini. Ia memutuskan akan melecehkan harga dirinya sendiri ditempat ini daripada ia harus berjalan pulang menuju rumah dengan penampilan lusuh, vibrator di dalam lubangnya, penisnya yang menegang hebat, wajah yang memelas, airmata yang mengalir dan saliva yang terus meleleh. Orang lain tentu akan menilainya baru saja diperkosa.
Ia pun mengangguk pelan.
"akan kulakukan apapun, Sensei.."
Itachi nyaris terlonjak senang mendengar kata-kata Sasuke barusan. Namun, ia masih berusaha bersikap tenang dan menyusun intonasi suaranya dengan tetap tegas.
"Kalau begitu, pertama kau harus membukakan sepatuku dan tentu saja pakaianku, tak perlu melepasnya karena aku tak ingin telanjang bulat sepertimu, cukup membukanya untuk memberikanku akses yang cukup.." Perintah Itachi.
Sasuke kembali mengangguk patuh. Kebutuhan akan hasrat yang tak terpuaskan membuat Sasuke kehilangan akal sehatnya dan menyerah pada pelecehan manis yang diberikan kakaknya.
Perlahan ia turun dari meja, sangat hati-hati karena tubuhnya terasa begitu lemas dan gemetar, belum lagi vibrator yang masih bersarang didalam tubuhnya ini sangat menyiksanya. Setelah itu, ia bersimpuh dengan tunduk bagaikan seorang istri yang berlabel Yamato Nadeshiko didepan kaki Itachi lalu membuka sepatu dan kaos kakinya, bahkan Sasuke mencium kilat kaki telanjang Itachi sebagai bukti bahwa ia 'berbakti' pada sang dominan ini.
Sedikit menegakkan badannya, Sasuke membuka sabuk celana Itachi dengan tangan yang gemetar dan menurunkan celananya, namun tak membuka celana dalamnya. Lanjut dengan ia berdiri kembali untuk membuka dasi Itachi dengan giginya sementara jari mungilnya membuka kancing baju Itachi, lagi-lagi tak lupa Sasuke mengakhirnya dengan kecupan manis di dada Itachi yang bidang dan gagah.
"Anak pintar.." Bisik Itachi sambil meraih dagu Sasuke dan mengulum mulut Sasuke.
Dengan sayang, Itachi memeluk adiknya seerat mungkin. Betapa ia mencintai makhluk yang terlahir setelah dirinya ini. Masih tetap melahap mulut Sasuke, Itachi meremas bongkahan pantat Sasuke sambil menggesekkan penisnya yang masih tertutup celana dalam ke penis Sasuke. Itachi juga sudah tak tahan. Rasa cinta pada adiknya ini semakin menyulut birahi yang sudah terbakar menjadi semakin dahsyat seolah akan meledak.
Sasuke menyambut ciuman kakaknya dan tangannya kembali terulur ke celana dalam Itachi, sebelum membukanya, Sasuke meremas gundukan besar yang ada disitu, memijatnya dan menggesekkannya dengan lima jarinya. Ia menikmati sensasi menyentuh kegagahan milik kakaknya. Benda ini miliknya, Sasuke bangga, karena kakaknya yang dapat membuat wanita manapun masturbasi ditempat jika melihatnya, kenyataannya Itachi adalah miliknya dan ia adalah budak cinta dari kakaknya. Kakaknya hanya melihatnya dan hanya mencintainya. Sasuke merasa terlahir menjadi orang yang paling beruntung.
"Sensei… hhhaahh.. apa lagi.. uhmnnhh.. yang harus kulakukan?" Tanya Sasuke disela ciuman mereka.
Setelah mencium kedua pipi Sasuke, Itachi melirikkan matanya ke bawah, memberikan isyarat pada Sasuke agar 'menyantuni' kegagahannya. Sasuke mengerti dan kembali berlutut di hadapan Itachi. Dengan kedua tangannya, Sasuke menurunkan celana dalam Itachi dan senjata Itachi yang besar dan panjang langsung menampar hidung dan mulutnya.
Dengan senang hati, Sasuke menyambut sapaan itu dengan kecupan kilat diujungnya. Digesekkan bibirnya di sepanjang batang daging yang keras bagai batu namun berkedut nikmat. Dihisapnya pangkal penis sang kakak dengan kuat dan memijat bola kembar yang penuh dengan benih cinta tersebut dengan lidahnya lalu kembali ke ujung kepala penis sang terkasih.
"Ohh – Sa—suke.. hhhaaa… Pintar, teruskan adikku.."
Mematuhi permintaan kakak yang dihormatinya, ia mulai memaju-mundurkan kepalanya dengan teratur, tangan kanannya tetap meremas buah cinta yang menggantung dibawah batang kemaluan kakaknya sementara tangan kirinya memijat paha Itachi yang kekar dan gagah. Dirasakan Sasuke cairan hangat mulai membasahi lidahnya, asin dan sedikit pahit namun sama sekali tak buruk. Toh, itu menandakan betapa sehatnya Itachi, begitulah, Itachi selalu menjaga pola hidupnya dengan sempurna. Tak mengherankan jika benihnya pun bisa dirasakan sehatnya.
Itachi meremas rambut Sasuke dan sedikit menekan kepala adiknya namun tetap menjaga agar adiknya tak tersedak. Bagaimanapun, Itachi sangat menyayangi Sasuke dan tak kan menyakitinya. Mulut mungil dan panas milik adiknya ini benar-benar sempurna memanjakan penisnya. Ketika dirasakan olehnya bahwa ia akan mendekati klimaks, Itachi pun menarik nafas panjang dan berusaha mengalihkan pikirannya untuk rileks lalu menahan kepala Sasuke.
"Cukup, Otouto.. sekarang menghadaplah ke meja dan menungginglah.."
Lagi-lagi Sasuke tunduk oleh perintah sang pendominasi tercintanya, setelah melepas benda tumpul yang besar tersebut dari mulutnya dan mendapat ciuman manis dari kakaknya di bibirnya, Sasuke pun membalikkan badannya ke arah meja dan merundukkan tubuhnya. Dan ketika Itachi menyodorkan dua jarinya ke mulutnya, Sasuke tanpa disuruh lagi langsung mengulumnya dan melumasinya dengan air liurnya.
"Kumohon, Sensei.. aku tak tahan lagi.."
Itachi membuka salah satu bongkahan pantat Sasuke dan terlihat disana lubang mungil yang berkerut berwarna merah muda, berkedut mengundang dan meminta. Perlahan Itachi menarik kabel kecil yang menghubungkan ke vibrator didalam lubang Sasuke.
"Mmmnghhh… Senseii.. uuffhhh.."
Sasuke mendesah nikmat saat dirasakan benda asing tersebut melesak keluar dan kemudian dirasakannya dua jari Itachi mengganti posisi vibrator tersebut. Itachi kembali mempersiapkannya, melonggarkan lubang adiknya dengan hati-hati, membuat gaya gunting di dalam lubang Sasuke untuk merilekskan otot-otot bagian dalamnya.
"Cukup, kumohon Sensei, aku.. ohhh… aku ingin dirimu.. mmhhh… aaahh…"
Itachi pun sudah tak tahan lagi, setelah mencium bahu Sasuke, ia mengeluarkan jarinya dari lubang surga adiknya tersebut dan mengarahkan senjatanya yang besar dan panjang ke anus Sasuke. Itachi mendesis pelan saat lubang berkerut dan berkedut itu menyambut ujung penisnya dengan kecupan erotis, ingin rasanya Itachi mendorong senjatanya sekaligus ke dalam tubuh adiknya, namun itu tak mungkin, Itachi tak memiliki nyali untuk menyakiti adiknya.
"Sasuke, rileks.."
Terlalu sempit. Berkali-kali Itachi sudah menginvasi lubang Sasuke, namun lubang itu tetap sempit seperti tak terjamah. Tetap dengan ekstra hati-hati, Itachi mulai mendrorong masuk penisnya ke anus Sasuke, tangannya sibuk memijat pantat Sasuke membantu Sasuke agar lebih rileks.
Sasuke menarik nafas panjang berusaha rileks. Sakit. Walaupun tahap-tahap persiapan yang dilakukan Itachi sudah dilewatinya. Sasuke hanya mengepalkan tangannya dan menggigit punggung tangannya menahan rasa sakit namun juga merangsang di bagian belakangnya.
"Sudah masuk, Sasuke.." Bisik Itachi seraya merundukkan badannya ke arah Sasuke dan berbisik panas ditelinganya.
Sang adik tersayang hanya mengangguk pelan dan menolehkan wajahnya ke belakang sementara tangannya meraih kepala belakang Itachi meminta ciuman darinya. Tentu saja dengan senang hati Itachi menyambutnya, adiknya ini memang hanya sanggup bermanja pada dirinnya, ia tak kan menunujukkan sisinya yang seperti ini pada orang lain, hanya pada Itachi.
"Nii-san.. aku cinta.."
Kali ini Itachi tak melarang Sasuke memanggilnya kakak, Itachi merasa pelajaran sudah selesai, dan ia harus memberikan reward pada Sasuke yang sudah mematuhinya. Ia pun hanya mengangguk dan mencium Sasuke dengan ganas di mulutnya. Setelah dirasa Sasuke siap dan jepitan di penisnya sedikit melonggar, Itachi pun mulai menggerakkannya perlahan, maju mundur dengan teratur.
"Nii-san.. ah.. suki.. ahhh.. Nii-san.. mmhhnn.. ukhh…" Lenguh Sasuke.
Tubuh Sasuke mulai terhentak-hentak karena dorongan pinggul Itachi di pantatnya, suara decakan basah di anus Sasuke dan tamparan antara kulit bertemu kulit paha Itachi dengan bongkahan pantat Sasuke semakin membuat atmosfir disekitar mereka semakin panas.
"Kakak.. aahh. Su-suaranya… ohh.. memalukan.."
Itachi tersenyum dan tertawa kecil. Malah semakin mempercepat gerakannya dan menciptakan suara erotis itu semakin nyaring.
"Kau dengar itu? Nakal sekali bukan?" Goda Itachi.
"Ahhh… Nii-san…. Hentikan… jangan bicara mesum.. aahh.. seperti… uhnghh.. itu.."
Tangan Itachi mulai merayap ke penis Sasuke dan melepas pita yang membelenggu penis Sasuke yang sudah membengkak. Sasuke mengerang nikmat dan merasa lega kakaknya akhirnya mengakhiri semua siksaannya. Itachi member isyarat pada Sasuke untuk membalikkan badannya, dan Sasuke mengerti.
Sesaat Itachi melepas dahulu kejantanannya dari lubang kenikmatan adiknya memberi ruang untuk Sasuke membalikkan badannya. Dan, kejutan terakhir untuk Sasuke, sebelum Itachi kembali memasukkan penisnya ke anus Sasuke, terlebih dahulu Itachi memasangkan kembai vibrator namun kali ini, ia memasangkannya di ujung kepala penis Sasuke. Tentu saja, adik mungilnya ini tersentak kaget dan matanya terbelalak lebar, tubuhnya pun terangka spontan seperti terkena serangan listrik.
"Nii-saaannn… Oh Kami-sama.. aagghhh…"
Rasa geli langsung menyeruak di penis Sasuke, ia pun menggelinjang tak karuan, ditambah dengan Itachi yang kemhali meneroboskan senjatanya ke lubangnya, Sasuke nyaris kehilangan kesadarannya, ia mencapai titik delirium - mungkin. Sasuke menggenggam erat pinggir meja menahan tubuhnya yang terguncang-guncang karena serangan Itachi.
"Sasuke, lubangmu nikmat, Otouto.. ohhh…didalam sini hangat sekali, kau menjepitku dengan kuat.. Aahh.. Nikmat, Sasuke.. Kakak cinta padamu, adikku.." Ceracau Itachi.
Serangan Itachi semakin cepat dan dalam, pemandangan didepannya ini benar-benar membuatnya gila, wajah manis adiknya membangkitkan setan dalam dirinya, memandang nanar Sasuke, Itachi menyodokkan kejantanannya dengan tanpa ampun, bahkan tak peduli lenguhan Sasuke yang semakin intens dan nyaring.
Persetan.
"Nii-san.. aku.. aahh.. aku.. kelu.. hngnghhh.."
Tangan Sasuke pindah ke bahu kakaknya dan mencengkeramnya dengan kuat, orgasme menghadangnya, vibrator yang menempel diujung penisnya mengangkat dirinya menuju puncak kenikmatan dengan cepat. Ia memandang Itachi dengan memelas, bibirnya gemetar, airmatanya kian deras mengalir saking tak tahan ia tersiksa dalam orgasme yang tertunda sejak tadi. Sasuke tak tahan lagi, ia reflek mengkontraksikan otot rectumnya, masih menunggu jawaban – izin dari Itachi.
"Keluarkan, Otouto .. ssshh.. lubangmu memerasku dan menghisapku.. ahhh.." Lenguh Itachi berusaha menjawab bahasa tubuh Sasuke.
Sasuke pun memejamkan matanya kuat-kuat, dan..
"AAARGHH .. NII-SAN…" Jeritnya tak tertahankan.
Spontan Sasuke mengangkat pinggulnya, sementara lututnya menjepit pinggang kakaknya dan kakinya melingkar di pantat Itachi. Sperma melompat keluar berlomba mencapai jarak terjauh. Sasuke merangkul kakaknya, menarik Itachi agar mendekapnya. Dirasakan oleh Itachi tubuh adiknya mengejang hebat dan penisnya di perah dengan membabi buta oleh lubang sang adik. Ia pun menekan tombol 'off' pada vibrator bermaksud mematikan alat itu agar adiknya bisa relaksasi.
"Sasuke—aku akan memenuhimu, aku akan menghamilimu, adikku.. Ahhh… kau akan melahirkan anakku.. SASUKE!"
Setelah ceracauan terakhir tersebut, Itachi pun menembakkan cairan yang berisi penuh dengan benih cinta ke dalam tubuh Sasuke. Ia mendekap Sasuke dengan erat dan penuh sayang. Ia ingin perasaan cintanya tersampaikan dan meyakinkan Sasuke bahwa ia tak kan meninggalkannya.
Nafas mereka memburu dan berusaha melewati masa relaksasi dengan sesegera mungkin, Itachi memandang Sasuke dan menciumnya dengan sayang, menyeka keringatnya dan membelai pipinya. Saat Sasuke membuka matanya, Itachi tersenyum lembut dan meraba bibir Sasuke lalu menciumnya sambil mengeluarkan kejantanannya dari lubang Sasuke dan di jawab oleh ringisan pelan Sasuke.
Dengan gemetar, Sasuke berusaha mengambil kartu terakhirnya dan menyerahkannya pada Itachi.
"A-aku – cinta padamu, Nii-san .. Te-terima kasih untuk hari ini.. " Sasuke berusaha menyusun kata-kata sambil bersusah payah mengulas senyum tipis di bibirnya untuk Itachi.
Itachi hanya tertawa kecil di sela nafasnya yang masih terengah dan menarik nafas panjang, lalu mengangguk pelan sambil mengecup kening Sasuke.
"Tentu adikku, kakak bangga kau bisa mempelajari dasar dari tata krama tersebut dengan cepat tanggap.." Goda Itachi.
Sasuke kembali cemberut dan mendorong Itachi karena malu.
"A-aku mau membersihkan tubuhku dulu.."
"Kau yakin bisa jalan, Otouto?" Tanya Itachi sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Tentu saja.." Jawab Sasuke kesal.
Itachi menahan tawanya dan menunggu apa yang terjadi pada adiknya selanjutnya. Dan tentu saja, yang dilihatnya adalah Sasuke yang jatuh terduduk karena kakinya begitu lemas dan bagian belakangnya terasa sakit.
"Makanya, kubilang kau tak perlu keras kepala seperti itu, Uchiha-kun.." Ledek Itachi sambil mencolek kening Sasuke dengan dua jarinya.
"Sekarang, katakan apa yang kau butuhkan.."
Sasuke memukul pelan dada kakaknya dan memeluknya, meremas kemejanya yang masih terbuka dan menyembunyikan mukanya di dada Itachi.
"To-tolong aku.. bersihkan aku dan gendong aku pulang.." Jawab Sasuke sedikit berbisik di dada Itachi.
Itachi mengusap kepala belakang Sasuke dan mengecup puncak kepala adiknya yang manis ini dengan sayang.
"Baiklah.."
Yak, selesai juga akhirnya. *nyalain petasan*
Thanks for reading.
Please leave your review, thank you.
