Before Story Of I Swear
Chankai's Story
(Chanyeol X Jongin as Kai)
Author : Jihyunk16
Warning!
Boys Love! Crack pair!
...
Don't Like Don't Read, thankyou!
...
.
.
Chanyeol menatap buku yang tebalnya sekitar enam sentimeter tersebut dengan serius, wajahnya yang kaku membuatnya terlihat seperti anak-anak culun yang menjadi sasaran empuk untuk di bully. Tapi tidak, tak ada yang berani mengganggu Chanyeol pada dasarnya ia adalah orang yang dingin mendekati sombong. Matanya menyerap beberapa kata dari buku itu. Hari ini tak ada yang spesial baginya, seperti biasa membosan kan dan terlalu biasa. Tapi itu tadi sebelum ia beralih sejenak dari buku tugasnya, seingatnya ia tak mudah teralihkan hanya karena orang duduk di depannya dan tiba-tiba saja matanya teralih begitu saja hanya karena seseorang duduk disampingnya, ngomong-ngomong ia sedang di perpustakaan. Matanya terus memperhatikan orang yang di depannya dengan seksama melupakan buku yang tadi ia baca dengan tekun dan melihat orang itu ingin tidur Chanyeol bermaksud mencegahnya. Well, pemandang mengganggu.
"Kau tak bisa tidur di perpustakaan,"gumamnya bermaksud untuk mengingatkan.
"..."
"Kau bisa mencari tempat lain, wajahmu... engg, mengganggu?"
Chanyeol berpikir bahwa suaranya tak cukup kuat untuk menyadarkan orang yang sudah mengantuk berat terlihat sekali dari orang yang di depannya seperti tak menganggapnya ada karena ia langsung melipat tangannya dan tidur dengan damai. Celah-celah matahari di antara awan yang putih juga angin yang masuk melewati celah matahari membuat Chanyeol terpaku, orang di depannya terlihat mengagumkan di sinari matahari yang masuk di celah jendela. Ia bisa melihat bias cahaya menyinari dengan begitu indahnya ditambah dengan angin yang membuat rambutnya sedikit menari-nari.
Setelah dipikir-pikir ini adalah rekor terbarunya dalam sejarah hidupnya, sejujurnya ia tak pernah menatap orang lebih dari sepeluh detik. Sungguh menakjubkan, ia menatap orang di depannya bahkan lebih dari dua puluh menit! Oh, ada apa dengan orang yang hatinya sedingin es ini? Apa ia jatuh cinta? Tidak! Batinnya berteriak.
'Ini terlalu cepat jika disebut cinta' batinnya bergumam.
Ia menggelengkan kepalanya saat kata cinta terlintas di benaknya, ia mendengus karena itu. Jangankan jatuh cinta tertarik pun pada orang ia tak pernah merasakannya. Ia tak pernah percaya dengan cinta. Baginya itu menakutkan apalagi melihat teman-temannya yang begitu percaya akan yang namanya cinta sejati. Mengingat itu membuat perutnya bergejolak aneh alias mual. Menjijikkan.
Ponselnya bergetar kuat membuatnya terlonjak dari kursinya. Ah,hanya pengingat yang sering digunakannya saat sibuk dengan buku di perpustakaan, terkadang ia lupa waktu jika sudah di depan buku. Chanyeol menggerutu pelan melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 11 ia ada kelas sepuluh menit lagi. Matanya menatap orang yang masih terlihat nyaman dalam tidurnya dengan damai, ia tahu kenapa tapi yang pasti hatinya menghangat melihat wajah itu, dengan berat hati ia pergi meninggalkannya untuk memasuki kelasnya. Semoga aku bertemu dengannya lagi, gumamnya pelan
.
.
.
.
Chanyeol menatap laptopnya dengan serius sesekali menyuapkan makanannya dengan tenang terkadang jika teman yang ia kenal menyapanya maka ia membalas sapaan kaku, walau Chanyeol lebih sering tidak mengetahui nama beberapa teman yang sering menyapanya itu tapi ia tahu sopan santun, tidak baik untuk mengacuhkan orang.
Tangannya berhenti sejenak, samar-samar Chanyeol teringat orang yang berada di perpustakaan kemarin. Wajahnya manis dan begitu imut tanpa sadar ia tertawa kecil mengingat hal itu, Chanyeol pikir ia akan gila hanya karena memikirkannya tanpa sadar ia mengingat bentuk wajah orang yang menarik perhatiannya dan meringis ketika mengingat betapa payahnya ia mengenal wajah teman-temannya. Namun itu tak bertahan lama, tiba-tiba saja hantaman yang sangat kuat di punggungnya membuatnya ingin memuntahkan isi perutnya yang baru masuk,eww.
"Astaga, Ya Tuhan! Aku benar-benar minta maaf! Aduh kupikir Yifan, bagaimana iniiii~~" ringisan panik itu tak membuat emosi Chanyeol turun, yang ada di pikirannya saat ini adalah bahwa ia ingin sekali memaki orang yang tak tahu sopan santun itu dengan keras. Bagaimana pun, ia begitu malu melihat beberapa kunyahannya keluar yang mulutnya bertebaran di atas mejanya bahkan mengenai laptopnya, kontan saja mengundang tawa dan bisik dari orang-orang yang sedang berada di kawasan kantin kantin. Dengan kesal ia membersihkan mejanya juga laptopnya sambil sesekali menggumam kata-kata yang tak jelas.
Ia membalikkan badannya hendak memarahi pelaku tersebut, namun ketika tahu siapa orang itu mukanya melunak, emosinya yang tadinya ingin meledak menguar begitu saja terganti dengan senyum tipisnya. Orang yang ada di depannya adalah orang yang kemarin ia temui di perpustakaan, mungkin ia tak mengingatnya lagi. Tak masalah, itu membuatnya leluasa untuk menatap wajah yang dilanda panik itu.
"Tidak apa, santai saja" ujarnya menenangkan. Tapi sepertinya lelaki itu tak kenal yang namanya kata 'tenang' melihat wajahnya yang berkaca-kaca siap menumpahkan semuanya. Dan benar saja ia menangis.
Chanyeol melebarkan matanya melihat Lelaki menangis keras seperti seorang wanita yang tengah di ganggu, ini benar-benar gawat! Ia tak tahu caranya mengatasi orang yang tengah menangis. Chanyeol tumbuh tanpa mempunyai adik atau pun kakak, ia bahkan mengingat saat kecil ia sering menangis pembantunya atau terkadang Ibunya lah yang menenangkannya. Well pengecualian untuk drama yang sering di tonton Ibunya jika sedang di rumah yang sesekali Ibunya akan datang dengan wajah tersedu-sedu menceritakan betapa sedihnya drama itu, tapi itu pun ia tak menenangkannya! Karena Ibunya langsung diam saat ia sudah ingin.
"Aduh, jangan menangis" ujar Chanyeol dengan panik sesekali memukul pelan punggung itu berharap tenang.
"Aku sungguh minta maaf, huweee!"
Ia mengedarkan pandangannya untuk melihat orang-orang yang sibuk terkekeh melihat kelakuan orang yang tengah menangis dramatis seakan itu terjadi berulang dan menjadi hal biasa bagi mereka. "Iya, iya aku sudah memaafkan mu. Jangan menangis,okay?" ujarnya pelan.
Chanyeol mulai bernapas tenang ketika tangis itu mulai mereda, membiarkan lelaki itu duduk di depannya dan menatapanya dengan wajah lucunya. Chanyeol mengalihkan pandangannya dari lelaki yang tengah sesenggukan itu yang menatapnya dengan wajah lucunya, sungguh saat ini ia tengah gugup di tatapi seintens itu padahal biasanya ia begitu cuek dan tak terlalu peduli.
"Kau anak baru?" bahunya sedikit bergetar mendengar suara itu. Ia menetralkan suaranya agar tak terlihat bahwa ia tengah gugup. "Tidak" ucapnya singkat.
Dari ekor matanya ia dapat melihat lawan bicaranya memainkan bibirnya, astaga begitu imut. Duh, jika ia bawa Lelaki ini ke rumah Ibunya pasti langsung menyukainya, well ia terlalu berpikir jauh saat ini. "Tapi aku tak pernah melihatmu," ucapnya penasaran.
"Karena aku sibuk, kau banyak bicara sekali ya?" sebenarnya Chanyeol tak bermaksud menyindir atau berkata kasar. Hanya saja ia mengalami panik yang berlebihan saat mata lelaki tan lagi – lagi tak berkedip menatapnya, maklum ia belum pernah jatuh cinta.
Oh jangan lagi! Ia mengerang panik melihat lelaki tan itu yang menangis kencang kembali. Duh mau taruh dimana wajahnya sekarang? Hatinya yang awalnya sedikit berbunga mendadak kacau. Kenapa ia bisa menyukai orang yang cengeng seperti ini sih!?
.
.
.
.
Pertemuan ketiga mereka adalah saat Chanyeol melihat lelaki itu yang sepertinya bersiap ingin tidur lagi di perpustakaan tepatnya di bangku yang biasa ia duduki, Chanyeol sih sebenarnya hanya ingin menegur lelaki itu agar tidak tidur di meja favorit nya dan kalau bisa berkenalan dengan orang yang sudah menarik perhatiannya . Ia berjalan tenang ke arah lelaki tersebut sesekali tersenyum tipis, tapi sebelum mengeluarkan kata-katanya lelaki itu keburu melihatnya dengan tatapan polosnya walau tak berlangsung lama karena setelah itu langsung menghadap ke depan, meski hanya sebentar tapi ia dapat melihat pipi yang lelaki itu memerah entah karena apa. Apakah ia sakit? Pikirnya. Lelaki berkulit tan itu langsung keluar dari perpustakaan dengan tangan yang mengipas-ngipas pipinya.
"Ku harap ia ke unit kesehatan, wajahnya memerah sekali pasti ia demam tinggi" ia berucap pelan seraya menatap lelaki tan yang pergi dengan begitu tergesa, sesekali ia mengibaskan tangannya pada wajahnya.
Ia melanjutkan berjalan ke tempat yang biasa ia duduki sesekali menatap kursi yang tak jadi lelaki itu. Tak pernah terpikirkan olehnya jika lelaki itu sebenarnya malu, wajar saja Chanyeol bukan orang yang berpengalaman akan hal-hal sepele semacam itu. Separuh hidupnya seperti diisi oleh buku dan makan ah jangan lupakan tidur. Jangan mengharapkan ia akan bertindak perhatian dan menjadi romantis jiika buku yang di bacanya saja hanya buku sejarah kuno dan terkadang sastra yang pasti tak ada novel atau buku romance, ia tak sempat memikirkan itu karena ia sibuk belajar extra agar bisa cepat menyelesaikan kuliahnya dan kerja.
Entah kebetulan atau tidak dalam seminggu ini Chanyeol terus melihat lelaki tan bersama teman-temannya kadang lelaki itu sendiri seperti orang gila menatap kesana kemari seperti sedang mencari seseorang, mungkin mencari temannya yang sering bersamanya. Padahal sebelumnya ia tak pernah sekalipun melihat lelaki itu berada di gedung jurusannya. Tanpa Chanyeol sadari, kakinya berjalan cepat ke arah orang yang tengah menatap taman yang di depannya dengan wajah bosan bahkan lelaki itu menguap lebar.
"Aku sering sekali melihatmu di sini dalam seminggu ini, kau bukan dari jurusan ini kan?" pertanyaan Chanyeol membuat orang yang di hadapannya terlonjak kaget. Matanya bergerak gelisah seolah meminta pertolongan membuat Chanyeol mengerutkan keningnya. Apa ia begitu mengerikan untuk sekedar mengajak orang berbicara? Ia kembali mengingat saat lelaki tan itu tiba – tiba kabur dari hadapannya saat di perpustakaan beberapa waktu yang lalu.
"A-ah itu, gedung jurusan ini terlihat lebih baik untukdi duduki di bandingkan gedung jurusan ku dan..dann—"
"Memangnya kau dari jurusan mana?"
"Jurusan seni tepatnya dance"
Chanyeol mengangguk dan menatap wajah lelaki itu yang memerah kembali, apakah ia sakit lagi? Pikirnya panik. Bahkan Chanyeol sempat berpikir jika lelaki itu sakit karena melihatnya, batinnya merengut kesal, apa ia membawa penyakit? Eww.
"Kau—"
"Oh, aku Kim Jongin dan kau?"
Chanyeol mematung sejenak mendengar orang yang di taksirnya memperkenalkan dirinya, astaga. Seolah melupakan hal yang ingin di tanyakan ia menjabatan tangan itu dengan senyum tipis. "Aku Chanyeol. Park Chanyeol."
Jongin mengangguk dan tersenyum lebar membuatnya tesentak , bagaimana bisa seorang lelaki begitu indah? Minusnya pasti sudah naik, ia harus memeriksa dengan segera untuk kesehatan matanya. Senyum anak itu bersinar seperti matahari, kepalanya menggeleng ketika memikirkan pikiran konyolnya.
"Senang bertemu dengan mu, Chanyeol Hyung?"
"Aku juga, Kim"
Jongin mengangguk dan kembali menatap lurus ke depan, suasana yang canggung membuat Chanyeol merasa sedikit risih. Ia menyukai ketenangan tapi saat ini ia tak butuh ketenangan karena ia ingin mendengar suara manis itu lagi dan lagi. tapi apa yang harus ia katakan pada Jongin untuk memulai percakapan?
Ia menolehkan wajahnya saat melihat Jongin dengan ragu-ragu ingin berkata sesuatu padanya, ia dapat menangkap bahwa Jongin juga tengah gugup dengannya. Oh, akward moment yang benar-benar membuatnya merengut sekilas . "Oh, benar-benar minta maaf soal kejadian waktu itu," ujar Jongin menyesal.
Chanyeol hanya mengangguk dengan senyum yang tak pernah lepas. "Tidak apa, ngomong-ngomong kau ada waktu minggu ini?" oh shit, terkutuklah mulutnya yang mendadak gila ini.
Semula Jongin menatapnya bingung entah karena apa, ia tahu ini benar-benar terlalu cepat untuk seseorang yang baru saja mengenal. Namun binaran matanya dan anggukan dari Jongin membuat hatinya kembali menghangat. Walau tadi ia mengutuk mulutnya sepertinya ia bersyukur karena setelah itu Jongin menyetujuinya.
.
.
.
.
Segalanya begitu sempurna untuknya dan selalu sempurna ketika ia bisa menatap mata itu dengan begitu lama. Rasa canggungnya menghentikan tindakan konyol itu, ia mengerang dalam hati melihat bibir tebal yang tengah mengunyah makanannya dengan tenang. Tak ada yang bisa menghentikan imajinasi gilanya , orang hanya mengetahui ia seorang kutu buku yang jenius bukan orang yang penuh dengan fantasi liar. Walaupun fantasi nya hanya bersama Jongin, tidak dengan yang lain atau siapapun tapi tetap saja ini membuatnya risih.
"Kau tak makan,Chanyeol Hyung?" suara Jongin memecahkan fantasinya kemana-mana, tawa gugupnya terasa hambar apalagi Jongin menatapnya dengan mengerutkan keningnya mendengar tawa hambarnya, ia mati keki di depan Kim Jongin.
"Ah, ya. Ngomong-ngomong apa di gedung mu tak memiliki perpustakaan sendiri sehingga kau kabur ke gedung jurusan ku hanya untuk tidur?" tanyanya menahan geli mengingat kejadian saat pertemuan awal dan ketiganya bersama Jongin, Jongin yang sadar jika Chanyeol tengah menggodanya terlihat mencoba untuk tidak bersikap tersinggung.
"Aku memang selalu tidur di situ saat musim panas. Pendingin di gedung jurusan ku tak ada gunanya karena penjaga perpustakaan sepertinya tak begitu menyukai dingin," ungkapnya dengan bibir cemberut.
Batinnya meloncat kegirangan melihat wajah menggemaskan Jongin lagi, astaga ia bisa saja terkena serangan jantung karena terus berdebar saat Jongin mengeluarkan wajah sadar tak mungkin menunjukkan itu terang – terangan dan membuat dirinya terlihat seperti orang kikuk dan bodoh. Ia menatap makanannya yang belum tersentuh sama sekali, melihat makanan saja ia sudah merasa kenyang. Well, sejak kecil ia tak begitu hobi makan hanya sesekali diiringi dengan susu murni.
Kesadarannya terkumpul saat merasakan sepotong daging menempel di bibir, uh oh Jongin! Chanyeol mengerutkan kening tak mengerti, ini mengingatkannya pada Ibunya yang marah melihatnya malas makan hanya terus ingin minum susu saja dan beberapa potong cokelat almond. "Makan Hyung, kau tak menyentuh makananmu sama sekali membuat ku merasa tak enak. Mendekatlah aku akan menyuapi mu sampai kau kenyang."
Chanyeol hanya menurut dan mulai menggeser kursinya untuk mendekat. Ia menatap beberapa orang yang berada di sekitarnya tampak tak perduli. Tak ada yang perlu di permalukan oleh seorang remaja menjelang dewasa di suapi layaknya anak umur lima tahun.
"Kau harus banyak makan, Hyung. Kau seperti Yifan Hyung, bedanya ia begitu menggemari makanan sampai aku berpikir ia memiliki perut seperti tong sampah," keluhnya, mau tak mau Chanyeol tertawa dalam kunyahannya pada suapan Jongin.
Suasana begitu hening, Jongin masih terus menyuapkannya dari piringnya seperti seorang Ibu mengurus anaknya. Begitu telaten walau ia terkadang harus menghadapi omelan Jongin. Sejujurnya ia sudah kenyang sekali walau ia hanya memakan enam suapan. Ia kembali mengingat apa yang ia makan sebelum makan malam dengan Jongin.
"Ah Jongin jangan terus menyuapi ku. Bahkan makanan mu belum habis semua," Ujar Chanyeol menegur Jongin lebih tepatnya menyelamatkan perutnya dari ledakan besar. Ia baru ingat Tao memberikannya salad ayam pedas juga daging asap yang ia panggang sendiri sampai gosong.
"Aku sudah kenyang,Hyung. Kau mau aku suapin lagi?" tanya Jongin sambil mengacungkan sumpitnya bersiap untuk mengambil beberapa makanan.
Ia menggeleng lemah di tengah inginnya aku mengeluarkan sendawa hebat. Namun batinnya berteriak, hentikan tindakan konyolmu!. "Tidak, kau ingin berjalan-jalan?"
"Tentu saja! Ayo kita jalan-jalan"
Chanyeol pergi bermaksud untuk membayar makanan mereka, Jongin menunggu dengan sabar sesekali melirik pasangan di sampingnya yang secara kebetulan melirik ke arahnya. "Nikmati kencan pertamamu,sayang" ujarnya dengan seringai yang terlihat bodoh. Jongin memutarkan matanya secara sepontan, itu adalah sahabatnya Kyungsoo bersama kekasihnya jihyun—ia tak terlalu mengenal gadis itu. Saat ingin membalas perkataan sahabatnya, Jongin melihat Chanyeol yang sudah siap membayar makanan mereka. Dengan cepat ia mengubah arah duduknya mengundang seringai yang semakin lebar dari Kyungsoo membuat Jongin menggerutu tak jelas.
Chanyeol menangkap Jongin yang tengah menggerutu seakan ada yang mengganggu pikirannya."Kau oke, Jongin?"
"A-ah, tentu saja. Jadi jalan-jalannya?"
"Tentu saja, ayo."
.
.
.
.
Sudah lebih dari sebulan Jongin dan Chanyeol bersama atau bisa dikatakan sebagai teman. Chanyeol yang masih kaku dan terkadang begitu gugup akan banyak hal dan juga Jongin yang mulai bersikap dewasa menghilangkan kadar kekanakannya walau terkadang sifat-sifat lama Jongin sering kambuh. Apalagi jika Chanyeol membatalkan janjinya untuk kegiatan kampusnya
"Jongin sudah menunggu lama?"
Chanyeol dapat melihat tatapan geli dari mata Jongin ketika melihatnya. Apa ada sesuatu yang aneh? Tiba-tiba batinnya tak suka dengan hal yang di pikirkannya. Ia tak mau terlihat aneh walau kadang itu mempermalukan dirinya sendiri.
"Tidak kok, ayo kita pergi. Oh, aku suka rambut mu sekarang ini, kau kelihatan seksi."
Matanya menatap kaget Jongin walau ia langsung mengalihkan matanya dari tatapan menggoda Jongin. Shit, ia dapat merasakan pipinya bersemu mendengar ucapan Jongin, lelaki tan seakan ingin mendominasi dirinya. Kemarin ia memutuskan untuk mewarnai rambutnya menjadi cokelat almond, ia mendadak mencintai rambutnya mendengar pujian dari Jongin tentang rambutnya.
"Hyung, kau pernah menyukai seseorang?"
"Pernah"
"Pria atau Wanita"
"Keduanya"
Chanyeol mendapati guratan bingung dari wajah Jongin tapi ia terlalu gugup untuk menjelaskannya, takutnya ia keceplosan. "Kau menyukai Pria dan Wanita dalam waktu bersamaan, Hyung?" ucapan Jongin membuatnya kaget dan tanpa sadar ia tertawa keras mendengar kata-kata yang begitu polos itu.
Beberapa detik setelah menghabiskan tawanya ia kembali menatap wajah kebingungan Jongin. "Kau tak tahu atau pura-pura tak tahu?"
"Aku sedikit bingung dengan pertanyaan mu"
"Aku juga, kalau begitu lupakan saja. Ayo kita nikmati hari ini."
"Tapi aku penasaran!" protesan Jongin membuat senyum tipisnya makin melebar, mari kita bermain tebakan.
"Gadis bertingkah seperti apa jika kekasihnya melakukan kesalahan kecil padanya?"
Chanyeol terkekeh melihat Jongin yang terlihat berpikir sangat keras, ia harus menahan ledakan tawanya. "Mmm.. Marah, merengut, menggembungkan pipi, merajuk. Atau mungkin bersikap kekanakan?" ucapnya tak yakin.
Ia menganggukkan tanda menyetujui kata-kata Jongin walau pemuda tan itu tampak tak yakin dengan jawabannya sendiri. "Menurut pengalaman mu atau melihat teman-temanmu biasanya apa yang mereka lakukan jika kekasih mereka melakukan kesalahan kecil?"
"Kupikir sama saja, menangis mungkin tambahannya. Kyungsoo kadang begitu sensitive dan kadang menangis pada Jihyun yang memutuskannya secara tiba-tiba."
"Nah semua itu ada pada dirimu, kau menyukai melakukan hal itu."
Chanyeol berjalan duluan meninggalkan Jongin yang masih berdiam masih berpikir keras dengan kata-kata Chanyeol. Hah, lupakan hal ini! Jongin pasti masih tak mengerti, batinnya kesal.
.
.
.
.
Ini sudah bulan ke ketiga terhitung saat mereka bertemu secara tak sengaja di perpustakaan yang tak pernah Jongin sadari. Ia juga tak berniat memberi tahu Jongin memilih untuk menyimpannya sendiri. Saat ini ia merasakan gugup berlebihan yang tak pernah ia rasakan bahkan ketika persentasi di depan dosennya yang galak. Ia merasa tak sanggup lagi untuk menyimpan perasaannya pada Jongin lebih lama. Beberapa hari yang lalu ia membaca buku yang di temukannya ketika membeli beberapa buku tambahan untuk tugas yang diberikan dosen padanya dan memutuskan untuk membelinya juga.
Buku itu metode menyatakan cinta secara romantis. Itu memalukan sebenarnya bahkan ketika di kasir ia tak mau melihat wajah penjaga kasir yang menatapnya dengan tatapan anehnya. Jongin benar-benar mengubah dirinya!
"Aku harus memberikannya bunga atau cokelat? Atau dua-duanya. Aish, dia bukan wanita!"
Chanyeol mengacak rambutnya frustasi, ia belum berpengalaman tentang hal-hal seperti ini. Chanyeol juga tidak punya teman dekat untuk berbagi atau sekedar memberinya saran, jika hanya teman sekedar kenal saja ia punya sih.
Tanpa Chanyeol sadari seseorang duduk di sampingnya dengan wajah yang begitu polos. "Kau kenapa,Hyung?"
"Aku sedang bingung,Jongin" antara sadar atau tidak ia mengatakan itu. Ia bahkan tak menoleh untuk melihat orang itu, walau itu memang benar Jongin.
"Bingung kenapa?"
"Aku ingin menyatakan cinta ku pada seseorang tapi aku bingung untuk bersikap seperti apa"
"Kau harus percaya diri,Hyung. Memangnya siapa orang yang beruntung itu? Aku sedikit iri"
"Kau."
"Kenapa tak katakan langsung, aku akan langsung menerima mu kok Hyung"
"Masalahnya—oh Ya Tuhan!" seakan baru sadar Chanyeol menatap Jongin dengan mata yang kian membesar.
"Ada apa,Hyung? Kau tak percaya padaku?" tanya Jongin polos dengan kepala yang ia miringkan ke sebelah kanan.
"Kau juga menyukai ku?"
Jongin mengangguk antusias dan matanya berbinar cerah. "Tentu saja!"
Dengan cepat ia langsung memeluk Jongin, mengundang tawa keras dari Jongin mengingat betapa bodohnya Chanyeol tadi. "Aku mencintaimu,Jongin"
Jongin membalas pelukan Chanyeol, berhubung Jongin datang ke gedung jurusan Chanyeol dengan keadaan mengantuk ditambah dengan pelukan yang nyaman tanpa sadar ia langsung tertidur. Chanyeol menyadari itu saat seluruh beban Jongin padanya.
"Padahal aku berpikir untuk menciummu," gumam Chanyeol pelan.
Ia mengelus Jongin yang masih berada di pelukannya dengan sayang, ia tak pernah tahu perasaan jatuh cinta begini menyenangkan. Apalagi ditambah kekasihnya yang begitu menawan, ia bersumpah tak akan meninggalkan Jongin. Berharap cinta pertamanya akan menjadi cinta terakhirnya.
.
.
.
END
.
.
Sebenernya dari awal mulai di FFN gue selalu buat janji sama diri sendiri kalau seandainya menembus review 20 gue bakal kasih sequel yang memang ngegantung dan baru kesampaian rekornya dan ini hadiahnya hehe. Wkwk, gak jelas banget ya? Gue tau kok, timpuk aja gue rela :" /lap keringet/ sebenarnya sih gue pengen buat after story nya, tapi gue greget pengen buat before story dengan sudut pandang Chanyeol walau ada beberapa dari sudut pandang Jongin sih :v btw ini mengecewakan ya? Gue cuma bisa bilang sorry, wks. O iya sorry juga buat typo wkwk.
At last, saran dan kritik atau perasaan kalian saat baca ini di kotak review
