Mata kuning yang sedikit sayu, memandang ke hadapannya, tepat ke arah bunga-bunga indah dengan vas cantik.

Kano, karena duduk tepat dekat dengan jendela, hingga ia bisa merasakan cahaya matahari yang jatuh pada lapisan epidermisnya. Panas sih. Tapi begitu melihat bunga tersebut yang juga terkena sinarnya, ia merasa nyaman di tempatnya sekarang.

Ah, betapa indahnya bunga itu!

"—Shuuya Kano?"

Sentak yang dipanggil langsung membuyarkan lamunannya. "I-iya?" Matanya mengerjab beberapa kali.

"Apakah kau mengerti tentang pelajaran yang barusan disampaikan? Kenapa kau memperhatikan bunga itu terus?"

Seolah menimpali ucapan guru itu, beberapa murid-murid di sekitarnya memandang sendu, beberapa orang ada yang berbisik-bisik entah apa itu.

Senyuman lebar Kano berikan. "Bunga itu sangat indah, Pak!" ucapnya yang kemudian dilanjutkan, "Tapi, milik siapa? Kenapa ditaruh di atas meja milik orang di depan saya?"

Orang-orang di sana hanya terdiam.

Dan Kano hanya memasang cengirannya sebagai penutup rasa ingin tahu.


.

Warning(s): Crossdressing!Kano & Crossdressing!Konoha, Backsound, Typo, Dll.

Bold: penutup, dll.

Italic: Tulisan berbahasa asing, ucapan jarak jauh, ucapan dalam batin/pikiran, suara benda/backsound, dll.

.

A/N: Semoga chapter ini tak terlalu buruk-buruk sekali, saya sudah semaksimal mungkin membuatnya terlihat enak untuk dibaca.

Selamat membaca...


Chapter 2


Bel istirahat sudah berbunyi 5 menit yang lalu.

Rasa lelah dan pusing menerima pelajaran memenuhi benak murid di sana. Termasuk Kano yang sekarang bersandar pada kursinya, menghela nafas berat.

Apalah itu hitung-hitungan, satu buku isinya angka semua, sudah bukan bahasa manusia lagi, dari planet mana sih semua itu? Otaknya serasa panas dipaksa bekerja.

Ah, kepala ini rasanya sakit sekali. "Ugghh…" Meremat helai pirangnya pelan, Kano langsung berbalik, tepat ke arah temannya yang duduk di belakangnya—karena ia deretan bangku kedua dari yang terakhir di belakang, dan Konoha duduk di tempat yang paling belakang dekat dengan jendela.

"Sang Pangeran dan Putri pun hidup bahagia. Dan cerita berakhir!" suara riang seorang gadis pirang yang diikat rambut ke samping, dikenal sebagai Momo, diikuti suara debum kecil buku yang ditutup. "Kisah percintaan yang sangat manis, 'kan, Konoha-san~?" ucapnya sembari tersenyum lebar.

Sosok Konoha hanya tersenyum tipis, dan mengangguk. "…Ya…"

Manik sang gadis melirik ke arah pintu, melihat dua gadis berambut hijau dan putih berdiri di sana. "Kalau begitu aku pergi ke kantin dulu ya! Jika ingin mendengar cerita yang lain, walau Konoha-san bisa membacanya di perpustakaan, tapi aku ingin kau memintaku untuk membacakannya! Ehehehe~" Kemudian bangkit dari tempatnya. Cengiran lebar dua kali lipat bak titan membuat Kano bergidik, apakah membacakan dongeng itu sangat menyenangkan?

Konoha membalas mengangguk. Dan Momo pun melambaikan tangannya sembari berjalan keluar kelas.

Membuat sosok yang terabaikan sementara mendengus akan hal itu.

Sebenarnya, umur Konoha sudah 19 tahun, dan pemuda itu seharusnya sudah tidak sekolah lagi sekarang. Akan tetapi, entah masalah apa yang jelas ia harus bertanggung jawab penuh dengan pemuda satu ini untuk menyelesaikan sekolah menengah atas mereka. Sebenarnya ia selalu bertanya-tanya, kenapa tidak sekalian saja dijadikan murid kelas 3? Kenapa harus menjadi murid kelas 1 sepertinya?

Matanya menatap, menemukan manik merah yang hanya membalas tatap dengan datar.

"Aku lapar…"

Kano ingin menepuk dahinya sekarang.

Ah, karena tadi pagi ia hanya terfokus untuk membangunkan Konoha, tidak hanya lupa memasakkan sesuatu untuk sarapan pagi, bahkan bekal makanan yang sudah ia siapkan tadi malam di dalam kulkas lupa ia bawa. Padahal itu tinggal dipanaskan saja!

Kano bangkit dari tempatnya, membuka tasnya dan mengambil beberapa pakaian dari sana. "Kau tahan laparmu itu sebentar saja ya." Mendekap kain-kain itu, dan mungkin jika lebih teliti lagi dilihat, ada sesuatu seperti helai rambut pirang panjang menyembul dari lipatan pakaian tersebut. "Lebih baik kau ikut denganku sekarang, kau tidak lupa membawa barang-barang yang aku suruh, 'kan?"

Anggukan Konoha sudah membuat Kano puas.

Kemudian Konoha mengambil sesuatu di dalam tasnya—pakaian yang sama seperti yang dibawa Kano, dan juga sesuatu seperti surai-surai putih.

"…Sebenarnya ini untuk apa?" Konoha menunjuk ke arah pakaian yang ia bawa ini.

Menghembuskan nafas dengan cepat. Langsung saja sang pirang meraih tangan pemuda jangkung itu. "Sudahlah, kita harus cepat." Langkah kakinya dengan cepat keluar kelas. Selain waktu istirahat yang terbatas, Kano juga ingat, kalau tidak salah si Ketua Komite Kedisiplinan itu berjanji ingin datang ke kelasnya, lebih baik ia kabur saja sebelum tertangkap.

.

Suhu di sekitar sekolah entah kenapa terasa semakin dingin.

Tidak ada yang lebih bagus dipandang selain tulisan di mading sekolah, menurut Kano yang sudah terlarut dalam kumpulan kalimat-kalimat yang terpampang di sana. Matanya tak bisa berhenti bergerak ke kanan dan ke kiri terus-menerus. Sepertinya, lembaran kertas yang baru saja ditempel di sana sudah membuat garis bibirnya tertarik ke atas.

Menyisir helai-helai pirang—yang entah kenapa—panjangnya dengan jari-jari tangan. Senyuman manis menggantikan seringai licik.

"Uhm… Kano..." Teman di sampingnya merasa tak nyaman, terlihat jelas beberapa peluh yang jatuh dari pelipisnya. "Kenapa... kita harus berpakaian seperti ini?"

"Hm~?"

"…Maksudku, kenapa harus pakaian… perempuan?"

Konoha, terlihat sangat berbeda sekarang. Dengan menggunakan seragam anak siswi sekolah ini—kemeja, pita di leher, rok pendek. Tak lupa juga dengan rambutnya, menggunakan rambut palsu berwarna putih, sangat panjang yang mungkin menyampai kakinya. Untuk sekali lihat, pemuda satu ini terlihat benar-benar mirip seperti wanita cantik.

"Kufufufu~ kau cantik kok dengan berpenampilan seperti itu~!" Mengibas rok, kemudian cengiran lebar. "Walau aku rasa rambut palsu itu mempersulit gerakanmu ya…"

Tidak jauh berbeda dengan Konoha. Kano juga demikian. Pemuda itu memakai pakaian yang sama seperti temannya, hanya saja roknya terlihat jauh lebih pendek dari yang digunakan sang jangkung. Dan untuk melengkapinya, ia menggunakan wig yang senada dengan warna rambut aslinya.

Mungkin, beberapa orang yang melihat mereka, akan percaya begitu saja jika keduanya adalah siswi dari sekolah ini. Yang satu cantik dan manis, sedangkan yang satunya lagi imut menggemaskan—tidak akan ada yang tahu jika mereka adalah laki-laki yang sedang menyamar. Tapi pengecualian untuk orang-orang yang benar-benar mengenal mereka. Dan untungnya, yang mengenal mereka hanya sedikit dari teman sekelas saja.

Benar-benar penyamaran yang sempurna!

Oh, bahkan Kano sudah merasa orang lain di sampingnya selain Konoha sudah mulai berbisik sesuatu.

"Siapa dua gadis ini?"

"Aku tak pernah melihat mereka..."

"Mereka manis."

Yah, hati Kano sedikit panas sih. Image dia sebagai seorang laki-laki tulen serasa tergores berkat pernyataan itu. Tapi mau bagaimana lagi, ia juga sengaja kok berpakaian seperti ini, bahkan sudah ia rencanakan sebelumnya.

Berbeda dengan yang lebih pendek. Yang jangkung malah tak terlalu peduli.

Tatapan meminta jawaban Konoha layangkan.

Mau tak mau Kano harus menjawab yang sebenarnya. Berbisik, "Kau dan aku, ketahuan melompat dinding sekolah. Jika kita tertangkap, kita bisa mendapat hukuman berat. Lagipula, ujian matematika akan dimulai setelah jam istirahat, kepalaku masih sakit, lebih baik kita membolos saja. Lebih baik membolos dalam keadaan menjadi wanita daripada tertangkap dalam sosok yang sebenarnya~" —Licik dan cerdik, dua kata yang cocok untuk menggambarkan sosok Shuuya Kano ini setelah kata 'nakal'.

Konoha pun hanya mengangguk, walau sebenarnya ia tidak mengerti.

"Lagipula—" Jari menunjuk ke arah kertas-kertas yang menempel di mading. "Lihat! Ternyata berita mengenai pembunuhan di dalam koran itu memang benar, aku kira itu hanya permainan media yang ingin menjatuhkan nama sekolah kita saja! Ah, pasti kepala sekolah kita sedang pusing menghadapi masalah ini~"

Pada akhirnya sang albino juga ikut membaca berita tersebut.

"Hum~ kalau tidak salah aku mengenalnya wajahnya. Siapa dia ya?" Kano mengamati foto yang menempel di sana. Seorang wanita. Dan ingatannya terasa remang-remang tentang orang itu. "Dia, ada di kelas kita?"

Ingatan tidak pasti, ucapan beberapa orang yang tak sengaja tertangkap, Konoha menebak, "Hum… katanya… dia yang duduk di depanmu…"

Begitu mendengar jawabannya, Kano langsung menyatukan kedua telapak tangannya. "Oh!" —Tidak menunjukkan wajah sedih ataupun berduka. Ia malah memberikan senyuman lebarnya. "Pantas aku heran, perasaan kemarin tidak ada bunga di meja itu! Sebenarnya tidak masalah sih, aku senang melihat bunga itu~!"

"…Tapi… bunga itu 'kan untuk… orang yang sudah meninggal..."

"—Ya? Peduli apa, aku rasa bunga itu bagus! Aku ingin setiap meja diberikan bunga seperti itu! Termasuk mejaku dan mejamu." Matanya melirik dari balik bahu. Benar dugaannya, raut wajah Konoha langsung berubah.

Sebenarnya bukan hanya Konoha, beberapa siswi yang berada di sekitar mereka dan juga murid lainnya yang sekedar melintas menunjukkan raut yang tak jauh berbeda dengan sang jangkung. Beberapa ada yang meringis, memasang wajah kaget, takut, dan oh, ada juga rupanya yang langsung lari seolah tak tahu apa-apa. Kano hampir tertawa melihatnya.

"Tapi itu—"

"Ah, iya-iya~ lagipula aku hanya bercanda." Udara yang menyapa kaki-kaki telanjangnya membuat Kano merasa merinding sesaat. "Yah, walaupun ada rumor di sekolah ini sih, orang yang mengatakan hal seperti yang aku katakan barusan, katanya umurnya tidak akan lama lagi."

Konoha sentak menatap wajah Kano.

Dan ia tidak mengerti maksud dari seringai itu.

Melipat kedua tangan di belakang kepala. "Sudahlah~ ayo kita cari sesuatu untuk bisa dimakan~" Perut yang terus-terusan berbunyi meminta diisi memang tidak nyaman, seingat pucuk pirang ini, ia belum makan apapun sejak tadi pagi—secuil roti milik Konoha bukanlah disebut makan, dan juga ia sudah memuntahkan makan malamnya saat berangkat ke sini.

Mengingat-ingat arah di mana kantin berada. Kano asal mengambil jalan dan langsung berjalan menjauhi mading, dan Konoha di belakangnya harus mengejar menyeimbangi langkah kakinya.

"Di sekolah ini banyak sekali rumor." Bermaksud untuk tidak membuat perjalanan mereka terdengar sepi, lebih baik membicarakan sesuatu, dan Kano yang memulainya. "Sangat banyak, sampai-sampai mungkin banyak orang jika ditanya mengenai sekolah kita, maka yang muncul pertama di benak mereka adalah rumor dan berita seramnya!"

Konoha membalas dengan 'hum' panjang.

"Tangisan di ruang OSIS, anak-anak bodoh yang tiba-tiba berubah drastis dan menjadi anak pintar, gadis hantu di dalam kelas, nyanyian seseorang yang tiba-tiba terdengar jelas di ruang musik bekas sekolah, penampakan gadis yang jatuh dari atap sekolah, dan lainnya! Uhmm, terakhir kali dengar, katanya juga ada siswi di sekolah ini yang cukup berbahaya dikalangan anak-anak cowok sih, jangan mendekatinya kalau kau masih tetap ingin menjadi normal, aku tidak mengerti."

Menggosok-gosok dagu dengan jari, mungkin di antara murid-murid lainnya, hanya Kano 'lah yang sangat menyukai rumor di sekolah ini.

"Kau tahu?" Maju satu langkah, memutar arah, sehingga tepat berhadapan langsung dengan wajah lawan bicaranya. Sang Shuuya tidak peduli apa yang ada di belakangnya sekarang, berjalan mundur tidak membuatnya sulit. "Rumor yang paling aku sukai di sekolah ini, adalah rumor mengenai anak-anak murid yang bermasalah, dan berakhir dengan hilangnya mereka entah kemana. Tidak tahu apa penyebabnya dan apakah benar mereka menghilang, bahkan polisi tidak bisa memecahkan kasus ini dari satu bulan yang lalu! Sedangkan keluarga mereka, hanya diberitahu jika anggota keluarga mereka sudah tidak ada di sekolah ini lagi."

Tatapan bingung. "…Kau menyukai kasus… seperti itu?" tanya Konoha.

"Ya! Itu sangat seru. Bahkan aku sangat ingin tahu bagaimana mereka bisa menghilang! Aku ingin tahu siapa yang bertanggung jawab di balik semua ini!" Masih tetap berjalan mundur, jalan ke arah kantin hanya cukup lurus saja.

Tap.

Konoha berhenti berjalan. Matanya melirik, ke halaman sekolah.

"Lalu… karena kita selalu membuat masalah… apakah kau bermaksud untuk… bisa menghilang juga?" Manik merahnya masih terfokus pada objek yang ia amati, sama sekali tidak berniat menatap raut muka Kano yang mendadak bingung.

Ikut berhenti karena temannya berhenti. Kano menelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak, aku masih ingin eksistensiku tetap ada."

"…"

Terdiam.

Konoha masih tetap terfokus pada pandangannya.

Mengangkat dagunya, merasa heran dengan tatapan kawannya. Membuat Kano penasaran, dan ia pun mengikuti arah tatapan pemuda ini.

—Dan, hanya untuk menemukan dua orang yang sukses membuatnya hampir tersedak ludahnya sendiri.

"Kalau tidak salah… tadi pagi aku melihat dia... uhh... itu laki-laki yang menahanmu, 'kan, Kano?" Menunjuk ke arah pemuda berambut hitam berjepit kuning di samping pemuda berhelai arang. Tak usah perlu bertanya, Kano sudah mengetahui siapa sosok yang ditunjuk oleh Konoha.

Itu Seto. Dan laki-laki lain di sampingnya, yang sama-sama memiliki jabatan sebagai 'ketua' dalam organisasi masing-masing, Shintaro Kisaragi. Dan kedua makhluk itu kini sedang berjalan ke arah mereka. Mungkin ingin pergi ke kantin juga? Atau membaca mading? Atau ke ruangan masing-masing?

Biarlah. Kano tak peduli.

Daripada itu.

Oh, jadi Konoha melihatnya tertangkap Seto?

Terus.

Kenapa dia enggak menolongnya saat itu?!

Manik kuning tajam tertuju pada kelereng merah yang mendadak takut sendiri ditatap seperti itu.

Kano langsung membalikkan badannya cepat dan melipat kedua tangannya di dada. "Iya, dia yang menangkapku tadi pagi." Hembusan nafas lelah. Ia teringat akan ucapan Seto beberapa jam yang lalu, dan nyatanya, seseorang yang bergerak di bidang kedisiplinan pun bisa tak menepati janjinya. Antara harus bersyukur atau kesal tak terima dengan jabatan sang ketua komite.

"Lagipula—" Tersenyum riang. "Bukannya kita sedang mencari makan ya~? Lebih baik kita ke kantin sekarang—dan, aku belum selesai membicarakan masalah rumor kesukaanku itu!" Kano merenggut tangan Konoha, dan menariknya. Aktingnya sebagai seorang gadis kelas 1 SMA berjalan di luar kendalinya, refleks bergerak imut dan manis.

"Tapi—"

"—Hm?"

Berhenti sesaat.

Kano memasang wajah seolah berkata, 'oh-ayolah-ada-apa?'

Dan kemudian dijawab dengan tak kalah memakai bahasa isyarat juga. Konoha menunjuk dengan matanya yang bergerak ke arah samping, tepat ke arah kedua ketua organisasi yang barusan mereka amati, dan kini kedua orang itu sedang pergi ke arah yang sama seperti mereka—kantin.

Kano langsung berdecak.

"Ya ampun! Bahkan orang seperti mereka juga mau yah ke kantin sekolah?" Bukan itu maksud dari Konoha sebenarnya. "Tapi—benar juga. Kalau ada mereka, kita tak bisa ke kantin!" Nah, orang kedua yang menyadarinya adalah Kano.

Tapi tak lama kemudian, mata rubah yang menyipit itu mendadak terbuka lebar dan—ya, berbinar akan satu ide. "Oh!" Satu tangan dikepalkan kemudian dijatuhkan di tangan yang terbuka lebar. "Kita tidak usah ke kantin! Masalah makanan, aku bisa meminta kepada Kepala Sekolah itu!"

Beberapa murid yang melintas di dekat mereka dan tak sengaja mendengar ucapan itu mendadak memberikan raut bingung, sama seperti Konoha.

Meminta makanan kepada kepala sekolah?

Beberapa murid ada yang menjawab jika masuk ke ruangan kepala sekolah hanya untuk antara murid-murid spesial dengan murid-murid bermasalah. Dan terakhir kali mendengar berita rumor yang tersebar, bertemu dengan Kepala Sekolah itu adalah hal yang hanya bisa dilakukan oleh para pengurus sekolah ini saja, guru, ketua organisasi, orang penting dan lainnya.

—Eh.

Sepertinya itu terlalu berlebihan.

Kano merogoh sakunya, mengambil ponsel pintarnya.

Langsung saja ia mencari kontak seseorang. Mengetik dengan huruf 'j' sebagai awal, kemudian men-scroll lumayan jauh—yah, ia memiliki banyak sekali nomor telefon, dan jangan tanya siapa dan untuk apa. Sebagai sosok troublemaker, Kano merasa wajib memiliki semua nomor ini. "Yap!" Menyentuh tombol 'call' jika ia sudah menemukannya, kemudian merekatkan ponselnya tepat di daun telinga.

Suara tuut, tuut, tuut pun menggema di gendang telinga Kano.

"Hallo?" —Dan hanya butuh waktu kurang dari lima detik, panggilan sudah diangkat.

Kok tumben.

"Oh, ya, hallo, Jin-san!"

Suara meringis terdengar dari seberang sana. "Aku masih di dalam ruangan."

Berputar sembilan puluh derajat, Kano bersandar tepat di dinding. "Ayolah, jangan terlalu formal, Tuan Kepala Sekolah!" Manik kucingnya menatap wajah Konoha yang terbingung-bingung. "Bagaimana kabarmu~? Apakah sekarang kau sudah menemukan cara terbaru untuk menggoda Sekertarismu~?"

"Apa maumu." Tidak ada nada bertanya sama sekali, sekali dengar sudah meyakinkan jika obroloan yang diawali Kano sangat sensitif sepertinya.

Kano menutup ponselnya dengan telapak tangannya—mencegah suara lain masuk. "Kau mau apa, Konoha?" setengah berbisik ia bertanya, sembari mengangkat dagu.

"Negima," Konoha menjawab cepat, secepat wajah yang mendadak berseri-seri itu.

Mengangguk, lalu melanjutkan pembicaraan, "Negima, aku dan Konoha sangat kelaparan. Bisakah ka—"

"Jin-saaaaaaan—"

Satu alis pirang terangkat. Eh.

Ucapannya harus terpotong oleh orang lain di seberang sana.

Sebenarnya tidak masalah sih mengingat jabatan sosok yang ia ajak bicara ini, orang nomor satu dan orang terpenting di sekolah ini pasti memiliki banyak hal yang harus dibicarakan dengan orang lain.

"Jin-san!"

—Ya…

Tapi.

Suara itu—

Kano jelas tahu milik siapa suara itu—tapi, ia sudah biasa mendengarnya, seharusnya biasa saja. Tapi, untuk kali ini sukses membuatnya terdiam dengan wajah tercengang begitu mendengar nada yang—semoga pendengarannya tidak salah—sedikit manja itu.

Dan, bisa ia dengar, suasana di ruangan nun jauh di sana sangat sepi pertanda sepertinya Sang Kepala Sekolah tak memiliki tamu siang ini. Itu berarti, di dalam ruang kepala sekolah hanya ada dua orang saja sekarang. Dan ia tahu jelas siapa orang kedua di sana.

Oh, Si Merah itu kesambet apa?

"Ya?" ucapan yang sepertinya bukan untuk Kano, kemudian dilanjutkan, "Negi? Daun bawang? Buat apa daun bawang untukmu? Sebentar—"

Daun bawang?!

Sentak, punggung tak menyentuh lagi dinding. Kesalahan menangkap pembicaran sudah membuat Kano malah teringat akan seorang Diva twintail hijau. "Bukan daun! Itu, negima! Negima! Makanan!" Ya kali ia dan Konoha dikasih bahan baku dan bukan makanan yang layak.

"Makananoh, ya, itu bisa aku at—"

"Jin-san!"

"Ap—"

Lama-lama Kano kesal sendiri. Apa tak bisa dirinya dibiarkan berbicara dulu sebentar dengan kepala sekolah ini?!

"—Oi, makanannya!"

"Sebentar—"

"Gigiku sakit."

"Hakalau begitu buka mulutmu—"

"Emoh."

"Oi, bagaimana denganku, Tuan Kepala Sekolah?!"

"Ugh, sepertinya aku tak bisa membantumu dulu, Kano-san, maaf."

Dan—tuut.

Telefon dimatikan cepat—sangat cepat sampai-sampai ucapan itu belum sempat dibalas. Obrolan belum selesai, dan sudah putus, yang jelas bukan Kano yang menutup pembicaraan.

Geram. Kano memasukkan ponselnya asal-asalan.

"…Bagaimana?"

Manik kuning mengerling. "Tidak bisa. Si Kepala Sekolah mungkin sekarang sedang bermesraan dengan Sekertarisnya itu." Hah! Bahkan sampai dirinya tidak diacuhkan, sungguh luar biasa. Pasti rasa sayang sang Kepala Sekolah sudah kelewatan besar yah kepada Sekertaris Merah itu. "Oh, mereka pasti sedang bermain dokter-dokteran sekarang." Bibir dikatupkan rapat, dan nafas tertahan kemudian.

Biarkan Kano harus berimajinasi mesum karena kalimat asal yang ia ucapkan itu.

"…Lalu… sekarang?"

Berpikir sejenak. Kano mengkerutkan dahinya.

"Mau tidak mau kita pergi ke kantin—"

Menginterupsi, bel sekolah yang menggema keras.

Terkadang Kano membenci cepatnya waktu istirahat berlalu.

.

Merah, bulat, enak. Buah apel.

Memetik satu, mengambil pisau di saku, mengiris kulitnya hingga bersih dengan atas alasan tidak ada air untuk membersihkan kulitnya.

Kano mengayunkan kakinya, membelah buah apel menjadi dua, dan melempar setengahnya ke samping kirinya—tepat ke arah Konoha berada.

Menangkapnya. "Kano…" Suara monoton itu membuka pembicaraan. "Apa tidak apa-apa… kita ada di sini? Tidak mengikuti pelajaran?" Bayangan rasa takut dan ragu tercermin jelas di manik merah itu. Konoha langsung mengakhiri ucapannya dengan memakan apel yang diberikan.

Tetap tenang, dan malah bersiul gembira. Kano yang asyik menikmati makanannya, tidak ingin membalas ucapan Konoha sama sekali. Lebih menginginkan untuk menikmati udara segar, dan nyamannya duduk pada ketinggian seperti ini—dahan pohon, pohon apel yang sedang ia minta—curi—buahnya. "Hm~"

Dan beginilah akhirnya.

Sebuah sebutan 'Sang Troublemaker' yang selalu disandingkan di samping namanya, bukan hanya sekedar nama panjang saja. Kano yang sudah tidak kuat dengan jam pelajaran lebih memilih mengajak Konoha ke samping sekolah yang tumbuh banyak sekali pohon apel. Apalagi hari ini sedang musim berbuah, sebuah surga tersendiri untuknya.

Konoha di dahan sebelahnya—keduanya duduk pada dahan yang berbeda—hanya bisa terdiam. Mengamati sekelilingnya. Hanya ada pohon apel. Terlalu sepi seperti kebun di belakang sekolah, tapi jujur ia merasa nyaman di sini, walau terasa sangat dingin pada tungkai-tungkainya berkat kondisi. Mungkin ia tidak akan menuruti Kano untuk memakai pakaian perempuan lagi mulai besok.

"Krauk!" Suara gigitan terdengar sangat jelas. Kano terlalu menikmati.

Pada tangan kirinya, ia memegang sebuah pisau. Dan bak tak peduli dengan bahayanya benda tajam itu, Kano malah memain-mainkan pisau tersebut dengan memutar-mutarnya, seolah sudah sangat ahli dalam memakai pisau.

"Tidak akan ada yang bisa menyadari kita di sini, tenang saja, Konoha~" Oh, rupanya Kano menanggapi pertanyaan Konoha. "Nikmati saja cemilanmu itu, dan ingat, apel itu mengganjal sampai kita pulang sekolah. Habis ini tak ada makan-makan lagi."

Dengungan kecewa dari pihak yang kelaparan.

Setelah buah apel di tangannya habis, Kano memetik satu buah apel lagi, kemudian membersihkannya dengan menggosok ke bajunya. Sampai benar-benar bersih, baru ia menatapnya dengan seringai lebar.

"Nee, kau tahu Konoha~?" ucapnya sembari terus menatap buah merah di tangannya.

"…Hm?"

"Ada rumor mengatakan, jika dulunya sekolah ini adalah sebuah kebun angker tanpa pemilik, dan semuanya tumbuh begitu saja tanpa ada yang tahu siapa yang menanamnya." Seringainya semakin lebar begitu melihat wajah kebingungan Konoha. "Dan itulah alasan kenapa di samping sekolah kita memiliki banyak sekali pohon apel, dan juga di belakang sekolah kita memiliki perkebunan dan juga apotek hidup."

Manik kuningnya menatap wajah lawan bicaranya. "—Tapi itu semua bohong!"

"Eh… kenapa?"

Alis kuning terangkat ke atas. Oh, ada yang tertarik mendengar ceritanya.

Sepertinya nafsu makan Kano mulai hilang, ia hanya menatap makanannya saja. "Aku tahu dari sumber aslinya, kepala sekolah kita." Meregangkan tubuhnya, sama sekali tidak takut jika saja ia jatuh. "Kebun dan apotek hidup memang sengaja ditanam. Sedangkan pohon apel, itu hanya karena masalah pandangan saja—buah apel kadang mengingatkan Kepala Sekolah dengan Sekertarisnya. Alasan aneh, tapi bisa dimengerti bagiku. Kau percaya itu?"

Yang dipinta pendapat hanya mengangguk saja.

"Dan rumor yang baru-baru ini aku dengar. Hmm… apa ya…" Ujung pisau ditaruh di atas bibir, dengan gerakan mengetuk-ketuk, Kano mencoba mengingat. "Ah! Iya! Aku ingat!"

Konoha baru saja ingin menggigit buah apelnya lagi—

"Katanya, orang yang memakan buah apel di sini, ia akan tertidur sangat lama! Atau bahkan ada kemungkinan akan mati!"

—tapi langsung berhenti. "Eh?"

Kano sentak tertawa puas.

"Apel-apel ini terkutuk~!"

Air muka Konoha berubah drastis. Dan Kano semakin tertawa keras.

"Kukukukukuku~! Yang benar saja! Aku sudah menikmati buah-buah di sini mulai dari pertama kali masuk! Dan kau lihat? Aku sehat-sehat saja, 'kan? Itu hanya rumor yang dibuat-buat." Sebuah perkataan konyol terngiang di pendengaran Kano, ia merasa bodoh bisa mempercayai itu. "Intinya, tidak semua rumor di sekolah ini adalah benar…"

Menatap sejenak buah apel yang belum ia gigit. Kano langsung melempar apel utuh itu ke arah Konoha. "Ini." Dan balasan berupa refleks kaget dari sang kawan. "Makanlah, aku sudah kenyang."

Setelah diberitahu masalah rumor itu?

Konoha sebenarnya tidak peduli dengan semua rumor itu. Hanya saja, berkat sebuah cerita yang dibacakan oleh gadis pirang, Momo, di samping mejanya dengan judul Snow White, membuat nafsu makannya lama-lama terkikis. Tak ada hubungannya dengan rumor yang dikatakan Kano sih.

Maka, bersamaan dengan hembusan nafas lelah. Manik polos dan mata rubah yang tertutup. Buah apel langsung saja dilempar ke depannya, hewan yang beruntung bisa memakannya.

Dug!

"Ouch!"

Kedua manik indah yang hampir tertutup pun kini langsung terbuka lebar. Kuning dan warna merah, keduanya saling bertatap hanya untuk memastikan kedua orang dari mereka bukanlah yang mengeluarkan suara itu. Kemudian, bersamaan, keduanya mengarah ke sumber suara.

Krasak… krusuk…

Sepertinya, dimulai dari puluhan tahun ke belakang, sangat jarang sekali ada murid yang ingin datang ke sini, antara termakan rumor atau memang tempat ini tak memiliki bangku atau tempat bersih lainnya untuk sekedar beristirahat.

Oh, hei! Di samping kiri-kanan sekolah hanya ada jalan-jalan kecil yang dikelilingi penuh dengan pohon apel! Inilah alasan kenapa Kano selalu berisik menyampaikan pendapatnya kepada kepala sekolah yang terlalu mementingkan pemikirannya saja.

Dan, itu berarti, ada orang lain selain mereka di sini?

Awalnya keduanya hanya memasang wajah bingung. Sampai kemudian melihat dua pucuk warna berbeda di kejauhan sana.

"Sudahku bilang tempat ini angker!"

"Ssstt! Ini tempat yang paling aman!"

—Oh.

Hanya sepasang laki-laki dan gadis!

Oh!

Seringai muncul di wajah sang pirang. Kembali memainkan pisau di tangannya. "Hmm~" Sudah cukup untuk membuat Konoha memasang wajah ingin tahunya. "Pria dan wanita, bersamaan, berduaan, di tempat sepi, dengan niat terselubung, oh my dirty~!" bisik Kano asal mengambil kesimpulan. Manik rubahnya masih saja terus mengekor pada kedua insan yang kini beranjak menuju ke belakang sekolah.

Belakang sekolah? Tidak buruk, di sana juga sepi—bahkan lebih sepi dari tempat ini.

Pisau di tangannya kembali ia putar. Rona tipis tampak di paras Kano.

Konoha menatap. "…Aku tidak mengerti…"

"Oh, masa kau tidak tahu~?!" Manik itu masih setia mengintip dua orang lain di sana yang sibuk pada obrolan mereka. "Anak laki-laki dan perempuan yang masih dalam masa pubertas! Berduaan saja di tempat sepi seperti itu! Kau tidak tahu apa yang akan mereka lakukan?" Fantasi porno Kano sudah melewati batasnya, bahkan seringai itu seolah-olah mengisyaratkan diri ingin menguntit dan menyaksikan apa yang mereka lakukan dengan mata kepalanya sendiri.

Bersamaan dengan seekor kupu-kupu yang hinggap tepat di bahu Konoha. Helai palsu putih panjang itu saling bergesekan begitu empunya menelengkan kepala.

Hembusan nafas panjang. Sepertinya yang terlalu hiper menunjukkan tanggapannya hanya Kano seorang. Ah, membosankan.

"Sudahlah. Ini adalah obrolan anak laki-laki. Aku masih terlalu sayang pada kepolosanmu."

Kaki berayun-ayun. Kano menusukkan pisaunya tepat ke arah batang pohon, menancap begitu dalam, kemudian ia tarik ke bawah membuat gerakan seperti merobek. Senyuman masih terpatri, hanya saja wajahnya terlihat tak secerah yang awal. "Hanya saja… ini tidak adil…" ucapannya tak lebih dari sebuah bisikan.

"…Un?"

Srak! Konoha tersentak begitu Kano kembali menghujam pohon tak bersalah dengan pisaunya.

"Mereka tak memiliki masalah dengan sekolah ini, bahkan yang aku tahu mereka adalah murid-murid yang lumayan terpandang." Pisau ia tarik, kemudian ditancapkan dalam. "Tapi, sudah dari beberapa pekan lalu, aku melihat ada yang bermasalah dari mereka. Tetapi, organisasi yang berhobi menindak tegas murid-murid bermasalah di sekolah ini tak melakukan apapun. Bahkan yang lain pun tidak ada yang menyadarinya. Seakan-akan semuanya sudah tertidur lelap, sadar pun yang akan pertama kali dilihat hanya kotoran yang mereka kenal, itu-itu saja."

Terlalu panjang, Konoha semakin tidak mengerti.

"Selalu. Selalu. Selalu. Selalu seperti itu. Tidak hanya untuk ini."

Sepertinya ada yang salah dengan Kano.

"Memangnya selalu mendapat peringatan dan panggilan itu enak? Itu kalau beruntung tak mendapat hukuman lainnya…" Secercah cahaya jatuh tepat di wajah keduanya. "…dan juga tak mendapat tindakan tegas…"

Sentak, Kano dengan kedua tangannya meraih dahan yang ia duduki, mendorong bokongnya agar jatuh, sampai gravitasi menjawab permintaannya, kemudian menahan semua bobot tubuhnya pada tangan yang menggantung di dahan. Semua itu diakhiri dengan dirinya yang meloncat dan mendarat tepat di atas tanah.

"Ahh~ aku rindu dengan teman senasibku yang sudah lama sekali menghilang~" Kano melipat kedua tangannya di belakang kepala. Menengadah tepat ke arah Konoha yang membalas tatap dari atas sana.

Kedipan jahil di mata kiri. "Turunlah. Ada hal menyenangkan yang harus kita lakukan."

.

.

.

To be continued…


A/N: panjang tapi enggak ada hint SetoKano atau ShinKono yahahahahah /dibacok. Chap depan baru deh ada SetoKano/ShinKono-nya wwwww.

Selain emang karena bagian ini penting dibahas, karena biar enggak keluar jalur dari judul. Entah kenapa lebih asik nulis dua makhluk unyu ini berduaan—bukan maksudnya KanoKono, yah, tapi unyu aja gitu. ;;;;;;;;;; /Del.

Wwww, dari sini udah keliatan kan ya siapa pair ke-3-nya www. Chapter depan bakal saya tulis terang-terangan deh pair ke-3 ini, huehuehue 8'''^))) /tapitakuthiks.

Betewe—

Kano di sini berpenampilan seperti Kanoko, alias versi perempuan Kano.

Konoha di sini berpenampilan seperti desain pertamanya, alias Beta Konoha.

Ok deh.

Terima kasih untuk: Shiroi Karen, Kousawa Alice, chachabye, Miyumaleslog, Septaaa, RoyaMalesLogin. Terima kasih sudah review! /pelukketjub.

.

Miyumaleslog: MIYYYY—
IYA DONG, KOK TAU HUEHUEHUE 8')))) /VELOK.
OH PASTI DONG BEB /WINK.
MAKASIH UDAH RIPIW YAHAHAHAHA /SUNGKEM.

RoyaMalesLogin: INI KENAPA KALIAN BERDUA SAMA-SAMA MAYES LOGIN HAH 8''^DDD
DIRI INI PENGENNYA BAWA GULA ROY HSHSHSHS—
BEKOS MODUS!SETO ITU GANTENG /YA.
3 OTP INI BAHAN WAJIB UNTUK RAMUAN GULA, ROY /KEDIPKEDIP. IYAH, DIRI INI BINGUNG MAU NARO PERAN APA SIHAHAHAHA, I LOP YU TU ROY /KETJUBJARAKJAUH.
WOKEH. (Y)
MAKASIH UDAH RIPIW YA ROY WWWW /SUNGKEM.

.

Hshshshhshs, terima kasih untuk kalian yang sudah membaca fik saya, wahai reader, author, silent reader, dan semua yang ada di depan layar sana. /peluk.

Mind to review?

Sungkem,

Adeliaa