A Fairytale

Ugly Duckling


.

.

.

.

flashback:

Pagi pagi sekali, Chouji sudah berada didapur mengacak acak lemari es. Ia tampak seperti bola besar yang menghalangi pintu lemari es dari belakang. Tangannya penuh dengan makanan, dan mulutnya belepotan.

Obesitas, kata orang.

Siluman babi!

Gumpalan lemak!

Jelek!

Menjijikan!

Chouji mengambil lebih banyak makanan dari dalam rak rak lemari es, dan memakan semuanya sekaligus. Tak peduli asin, manis, asam, atau pahit. Tak peduli kadaluarsa atau berjamur, tak peduli milik siapa. Chouji memakan semuanya. Pipinya merah bagai buah tomat yang besar.

Ia mengunyah, mengunyah, dan terus mengunyah. Wajahnya terlihat kesal, terkadang air mata terlihat menluncur dari ujung matanya.

Apa salahnya?

Mengapa ia harus terlahir dengan DNA seperti ini?

Mengapa ia tak pernah bisa menahan diri untuk tidak makan?

Mengapa ia jelek?

Mengapa orang orang mengejeknya?

Chouji terus mengunyah, hatinya perih.

Ia tahu seharusnya laki laki tidak boleh cengeng, tapi ia terlalu sakit untuk menahan air mata.

"Chouji! Cepat mandi, kau sudah terlambat!" teriak ibunya dari balik ruang makan.

Ia berdiri, menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu menutup pintu lemari es. Tubuh gempalnya bergetar pelan setiap ia melangkah. Tanpa kata, tanpa ekspresi. Ia mengawali hari ini sama seperti hari hari sebelumnya, membosankan dan menyakitkan.

.

.

.

.

Dikelas, Chouji meringkuk sendirian. Tak ada yang mau mengajaknya bicara karena mengira Chouji adalah otaku yang mesum. Chouji juga tidak menyalahkan mereka, ia tahu wajahnya memang terlihat seperti itu. Jika dia jadi orang lainpun, ia yakin tidak akan mau mendekati pria yang gempal dan jelek.

Tidak, tidak sampai seorang gadis bersurai indigo mendekat kearahnya, membawa kotak bekal kecil.

Chouji memperhatikan gadis itu. Pupil mata gadis itu berwarna lavender, sangat indah dan menarik perhatian. Semua orang tahu kalau mata pucat adalah ciri khas seorang Hyuuga, begitupun Chouji.

"Akimichi-san, apa kau sibuk?" Tanya sang gadis Hyuuga.

Rambutnya masih sedikit basah, dan seragam Tokyo High School-nya pun masih terlihat baru, sangat berbeda dengan milik Chouji yang sudah kotor sana sini karena sering terkena tetesan kecap dan remah makanan.

Sang gadis Hyuuga menarik sebuah kursi ke dekat meja Chouji, sambil tersenyum lalu berkata, "Aku tahu ini aneh, tapi aku malu jika harus makan sendirian di kelas sepagi ini.

"Kau tahu, anak perempuan lain lebih suka berlama lama di kamar mandi untuk bercermin. Mereka tidak pernah memikirkan perut mereka, aku tak pernah bisa seperti itu.." lanjut si gadis.

Ketika ia membuka kotak bekalnya, terlihatlah 4 potong roti isi daging yang masih panas. Wangi dagingnya membuat Chouji berteriak dalam hati.

"Hm. Kau mau?" tawar si gadis, sambil menyodorkan dua potong roti kepada Chouji.

Chouji menerimanya, dengan malu malu.

"Terima kasih.. umm, Hyuuga-san."

"Hinata,"

"Eh?"

"Kau bisa memanggilku Hinata, jika kau mau." Hinata tersenyum lagi.

Menurutnya, Chouji sangat lucu. Wajah pria itu benar benar tembam dan ia terlihat seperti bola besar, namun sangat lembut. Terlihat dari caranya melakukan sesuatu.

Hinata sering memperhatikan Chouji, dan Hinata merasa pasti akan sangat menyenangkan jika bisa berteman dengannya. Karena itulah Hinata tak malu mendekat dan mengobrol dengan pria gempal ini.

"Anoo.." Kata Chouji dengan mulut penuh roti isi, "Apa kau tidak takut padaku?" Tanyanya polos.

Takut? Tanya Hinata dalam hati. Apa yang perlu ditakutkan dari seorang pria pencinta camilan dan permen?

"Tidak." Jawab Hinata tegas, "Didunia ini, aku tak pernah percaya ada orang yang menganggap dirinya sendiri menakutkan.

"Yang ada hanyalah seseorang yang selalu mendengar apa kata orang, sehingga ia lupa akan jati dirinya sendiri. Bukankah begitu, Akimichi-san?" Hinata memandang Chouji, sambil tersenyum.

"Kau akan selalu jadi temanku sampai kapanpun! Tak peduli kau makin besar, makin tebal, ataupun menggelinding. Kau cukup jadi dirimu sendiri, dan aku akan selalu menerimamu!" kata Hinata dengan semangat.

Chouji tertawa. Tawa pertamanya sejak ia masuk ke SMA. Entah mengapa, ia nyaman saat Hinata bersamanya.

Ia tak berdebar, tak ketakutan, dan juga tak merasa tertekan. Seakan mereka sudah berteman sejak lama. Chouji, pada akhirnya, menyadari apa yang salah selama ini.

Bukan dirinya, bukan juga DNA-nya. Melainkan orang orang yang bahagia ketika melihatnya dihina.

Karena orang yang normal tidak akan mendekat hanya untuk menghancurkan kehidupan orang lain.

Mereka tertawa bersama, bercerita banyak hal, dan mulai berbagi makanan di hari hari lain. Hari hari yang baru, bagi Chouji yang baru.

end of flashback.

.

.

A Fairytale

.

.

Sejak kejadian mengejutkan pada pertemuan itu, Sasuke kehilangan selera makannya, dan bahkan tidak berniat pergi ke sekolah setelah mendengar kabar bahwa ada seorang gadis bermarga Hyuuga pindah ke sekolahnya.

Ia benar benar tidak menyangka, sama sekali tidak.

Bagaimana bisa Hyuuga, yang notabene dikenal sebagai keluarga dengan fisik dan sifat terdidik sempurna memiliki seorang heiress seperti gajah lapar.

"How can, how can." Gumam sasuke. Ia menghela nafas frustasi.

Ini adalah hari ketiganya merenungi mengapa seorang Hyuuga bisa berbentuk seperti bola, dan ia masih belum bisa menemukan titik terang dari semua teka teki ini.

Mansion Uchiha terlihat ramai karena hari ini akan diadakan makan malam keluarga. Makan malam keluarga itu biasanya sederhana, mewah, dan penuh peraturan. Sebenarnya Sasuke sedikit malas, tapi apa boleh buat, ia adalah pewaris.

Itachi, kakak Sasuke juga pewaris, pewaris saham luar negri.

Kita tidak akan menceritakan tentang bagaimana Itachi hanya mendapatkan 10 persen saham sedangkan Sasuke memiliki lebih dari 30 persen sekarang, mungkin lain kali.

"Tuan Muda, Nona Hyuuga datang berkunjung." Seorang pelayan masuk dengan memberi hormat.

Kaget, Sasuke segera melompat dari sofa tempatnya duduk. "Ka-katakan padanya, aku sedang tidak ingin menemui siapapun saat ini." Ia memberi perintah. Tadinya ia bermaksud untuk kabur dari ruangannya dan beralasan tentang sesuatu seperti kerja kelompok, rapat dadakan, atau alasan lain.

Yang penting, ia tidak bertemu lagi dengan si gajah lapar.

Baru saja ia hendak memakai jaket, bulu kuduknya berdiri.

"Siapa yang tidak mau menemui siapa, Sasuke?" sebuah suara membuat Sasuke menengok.

Disana, Mikoto berjalan berdampingan dengan seorang gadis bertubuh tinggi semapai yang masih memakai baju seragam, seragam berlambang sama dengan yang dimiliki Sasuke.

Wajah gadis itu sangat cantik, dengan rambut indigo panjang diikat tinggi memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus. Sepertinya Sasuke pernah bertemu dengannya, entah dimana. Namun ia tak tahu siapa gadis itu.

"Konichiwa, Sasuke-san!" Sapa gadis cantik itu ramah. Senyumnya sangat manis, hampir saja Sasuke jatuh cinta pada pandangan pertama.

"Aku khawatir karena kau tidak berselera makan dan juga tak mau pergi ke sekolah sejak beberapa hari belakangan ini, karena itu aku menjemput Hinata langsung dari sekolah dan membawanya kesini agar dapat memperhatikan kondisimu." Mikoto menatap Hinata, lalu tersenyum. "Ia sangat pandai memasak dan bermain musik. Kau pasti akan senang menghabiskan waktu bersamanya." Hinata yang sedari tadi diam ikut tersenyum.

"Hinata? Hyu-Hyuuga Hinata?" Sasuke tak percaya.

Tampaknya Mikoto suka sekali pada Hinata, melihat dari caranya memandang dan menggandeng gadis itu. Mikoto dari dulu memang sangat menginginkan seorang putri, hanya saja Fugaku tak pernah mengijinkan.

Otak ber IQ tinggi Sasuke bekerja keras mencerna semua kejadian beberapa hari belakangan ini. Perlahan, ia menghembuskan nafas lelah.

Gadis ini, adalah Heiress Hyuuga.

'Beauty Born' keluarga itu ternyata bukan isapan jempol belaka. Hyuuga Hinata bukanlah gajah lapar yang ia temui beberapa hari yang lalu.

Gadis ini, si Heiress Hyuuga ini, sudah mempermainkannya dengan sengaja.

.

.

A Fairytale

.

.

Fugaku sedang menandatangani sebuah file saat Mikoto masuk ke ruang kerjanya.

"Mereka terlihat sangat cocok, aku suka sekali pada gadis bernama Hinata itu. Caranya menyapa, caranya berjalan, caranya tersenyum, semuanya. Aku suka sekali." Mikoto berkoar.

"Begitukah?" Fugaku tersenyum melihat istrinya begitu bersemangat.

Langit terlihat sangat cerah, secerah wajah Mikoto.

"Hyuuga memang selalu mendidik anak anak mereka dengan baik, aku sangat terkesan." Kata Mikoto lagi.

"Ya.. Itulah alasanku memilihnya."

"Tetapi, Sayang.," Mikoto memeluk Fugaku dari belakang, "Sasuke tak terlihat bahagia.. Sepertinya ia tak menyukai Hinata."

"Perasaan bukanlah hal yang utama, Mikoto. Pastikan saja Sasuke memperlakukan Hinata dengan baik, pastikan juga dia menerima pertunangan ini." Kata Fugaku tegas, "Aku tidak mau menanggung malu lagi karena penolakan Sasuke."

Mikoto mengangguk, "Akan aku pastikan, sayang. Tenang saja." Ia memijit bahu suaminya.

Menurut Mikoto, Sasuke tidak punya alasan yang kuat untuk menolak seorang Hinata sebagai calon istrinya. Gadis itu cantik, dan sempurna. Sasuke tak bisa menghindar kal ini.

.

.

A Fairytale

.

.

"Jadi," Sasuke menatap gadis didepannya tajam setelah ibunya dan semua pelayan sudah pergi.

"Apa menyamar menjadi seorang pelayan sangat menyenangkan, Hyuuga?" Mata kelam Sasuke menyipit, menunjukan kekesalannya. Gadis itu, Hinata, hanya tersenyum sambil menyenderkan tubuhnya pada sofa empuk di ruangan Sasuke.

"Kau seharusnya memperlakukan Chouji-chan dengan lebih baik, Uchiha." Jawabnya ringan. "Sayang sekali, padahal Chouji-chan bilang dia menyukaimu."

Sasuke benar benar kesal. "Kau belum menjawab pertanyaanku, Hyuuga."

"Pertanyaan apa?"

"Apa? Aku tanya padamu mengapa kau harus menyamar jadi pelayan!"

"Itu.. itu karena aku tidak menyukaimu, Uchiha. Aku tidak ingin bertunangan dengan orang kejam sepertimu."

Hinata berdiri, mengalihkan pandangan pada deretan piala dan piagam Sasuke.

"Aku tidak bisa membatalkan pertunangan ini, tapi kau harus membujuk orangtuamu sebisa mungkin, Uchiha."Gadisitu terus bicara tanpa memandang Sasuke.

Sasuke adalah tipe pria yang egois, mana mau ia membebaskan gadis nakal seperti Hinata begitu saja setelah semua yang dilakukan gadis itu padanya?

Dia harus merasakan pembalasan dendam seorang Uchiha!

"Hime.." Bisik Sasuke dikuping Hinata, gadis itu kaget bukan kepalang. Sasuke sampai bisa merasakan lunjakan tubuh gadis itu. Ia menyeringai.

".."

Hinata menunduk, tak mau memperlihatkan wajah kagetnya pada Sasuke. "Apa yang kau inginkan?!"

"Kau bilang kau tak mau bertunangan karena aku adalah orang yang kejam, bukan?" Tangannya menyentuh ikatan rambut Hinata lembut, "Bagaimana jika kita bermain dulu, sebelum membatalkan pertunangan ini?"

Ini bencana bagi Hinata.

Alqsan sebenarnya, mengapa ia ingin membatalkan pertunangan dengan Sasuke adalah, karena pria itu sangat tidak disiplin. Ia datang terlambat 2 jam dari waktu yang telah ditentukan, dan dia arogan. Hinata tidak tahan berada dekat orang seperi itu lama lama.

"Kau harus membatalkannya Uchiha!" Tanpa sadar, Hinata berbalik,menarikkerah baju kaos Sasuke, dengan wajah yang masih memerah bekas digoda oleh Sasuke.

Lavender bertemu onyx, aura disekeliling mereka menggelap. Sasuke menatap Hinata seperti seekor serigala menatap kelinci buruannya.

"Kau itu orqng yang egois, menyebalkan, sombong, jahat, seenaknya sendiri, dan yang paling penting,

"Aku tidak menyukaimu." Hinata menatap onyx Sasuke tanpa rasa takut sedikitpun.

"Batalkan pertunangannya, Uchiha."

"Untuk apa?" Sasuke menaikan bahunya sambil tertawa meledek, "Apa untungnya bagiku?"

"Apa.. apa kau tidak mau menikah dengan gadis yang kau cintai?" Hinata memasang ekspresi puppy eyes, berharap Sasuke luluh dan mengerti.

Tapi puppy eyes Hinata malah berakibat lebih fatal lagi.

"Gadis yang kucintai, huh?" Sasuke mengunci Hinata diantara lemari piala, dan tubuhnya sendiri.

Gadis cantik adalah hal yang biasa ditemui Sasuke setiap harinya, namun gadis sekeras kepala ini cukup langka.

"Lalu kenapa kau tidak menolak saja ketika diajak kesini oleh Okaa-sama?"

"Perintah." Jawab Hinata, wajahnya memerah karena malu dan kesal. Wajah Sasuke terlalu dekat, ia bahkan dapat melihat pupil mata pria itu dengan sangat jelas. "Ka-karena aku diperintahkan untuk bertunangan denganmu. Aku tak bisa menolaknya, karena kami, para Hyuuga sangat menghargai perintah dan perjanjian."

"Perintah?"

"Ya, perintah. Bukan pilihan."

Sasuke terdiam beberapa saat, lalu kembali menyeringai.


.

.

.

T

B

C

.

.

.