A Fairytale

.

.

flasback:

Sasori melakukan SNS, lagi.

Sebagai seorang model dan aktor muda berbakat, ia memang digandrungi oleh banyak anak sekolah menengah keatas. Usianya yang baru menginjak angka 15 pun seakan menjadi alasan mutlak atas segala kelabilan yang ia lakukan.

Contohnya adalah, SNS.

Sasori sangat menyukai pujian dan sanjungan para netizen, menurutnya ajaib bagaimana begitu banyak orang mengidolakan sosoknya sebagai 'Prince of Heart'.

Sudah berkali kali managernya mengingatkan bahwa SNS bukanlah hal yang baik, namun sang aktor muda tak pernah mendengarkan. Setiap saat, setiap detik, Sasori selalu melakukan SNS secara illegal. Membiarkan foto telanjang dadanya menyebar, membiarkan suara oh-so-wow nya didengar dan didownload tanpa harus membayar, dan berbagai hal illegal lainnya yang sangat merugikan agensi. Sasori benar benar aktor muda menjengkelkan.

"Sasori! Sasori, kau dengar aku tidak?" Tanya sang manager dengan kejengkelan maksimum

"Ya, ya. Katakan saja dengan singkat." Jawab Sasori tanpa memandang sang manager.

"Jadi kesimpulannya.." Jelas sang manager, "Tak ada lagi fasilitas internet untukmu!" Ia merebut smartphone Sasori, menggantinya dengan sebuah ponsel kuno yang tebal dan usang. Wajah sang manager dipenuhi aura kemenangan.

"HEI! APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Sasori spontan.

"No more SNS, no more in-touch with your fans, no more online streaming fans service! Understand?" Sang manager mengulagi kata katanya dalam bahasa inggris.

Mulut Sasori menganga tak terkendali, "What?! You must be kidding me!" Sasori tak menyangka agensinya akan bersikap seperti ini.

Kini, Sasori sang bintang SNS, harus bertahan hidup tanpa meng-update satupun foto atau status. Perasaannya bercampur aduk tak karuan, antara kesal, butuh, ingin menangis, dan malu. Ia takkan sanggup barang sehari saja, takkan sanggup!

Entah cobaan macam apa yang sedang ia hadapi ini.

.

.

.

"Maaf Senpai, aku tidak sengaja." Seorang adik kelas membungkukan badan meminta maaf. Sasori melihat ponsel adik kelasnya yang jatuh akibat menabraknya tadi. Ponsel itu hancur berantakan, bukan hanya retak.

Ia sedang dalam perjalanan ke kantin saat seorang gadis menabraknya dengan keras hingga terpental sendiri.

Sasori lalu memperhatikan adik kelas yang menabraknya masih membungkuk dengan wajah merah karena malu dan tubuh gemetaran. Rambutnya indigo lurus, kulit putih bersih dengan tubuh tak lebih tinggi dari Sasori.

"Ah, kurasa aku yang seharusnya meminta maaf padamu karena kecerobohanku. Kau tidak perlu ketakutan." Jawab Sasori lembut. Ia kasihan juga pada gadis itu, terutama ponselnya.

Ponselnya.

Tiba tiba, sebuah ide brilliant muncul di otak Sasori.

"Bagaimana jika sepulang sekolah nanti aku membelikanmu ponsel baru? Sebagai permintaan maaf karena sudah merusak milikmu.." Sang bintang remaja menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia takut rencananya gagal sebelum dimulai.

"Eh..?" Lavender si gadis membulat, "Uh.. Tapi senpai,"

"Tidak ada tapi tapian! Aku akan tetap menyeretmu ke toko ponsel nanti." Sasori tidak mau rencananya gagal. Setelah mengatakan kata kata itu pada si gadis, ia melanjutkan langkahnya ke kantin.

"Oh ya," Sasori melupakan satu hal. "Siapa namamu?" Tanyanya.

.

.

.

"Hinata-chan!" Sasori melambaikan tangan saat melihat adik kelas yang tadi siang menabraknya. Sebentar lagi, sebentar lagi rencananya akan berjalan sempurna.

"Sasori senpai, maaf aku.."

"Sudah kubilangkan, aku tidak terima penolakan!" Ia meraih tangan Hinata, menggandengnya masuk ke mobil.

"Jadi begini.." Wajah Sasori berubah serius setelah mereka hanya berdua beserta seorang supir didalam mobil. Hinata hanya bisa ketakutan.

"Ponselku, yang persis sama dengan milikmu, disita oleh managerku." Sasori menjelaskan pelan pelan agar Hinata tak memintanya mengulang.

"Dan karena aku sudah merusak ponselmu, bagaimana jika kita membuat sebuah kesepakatan?" Lanjutnya.

"Ke-kesepakatan.. Apa senpai?"

Hinata sejak awal ingin menolak ajakan Sasori, karena ia tahu Sasori adalah seorang aktor yang sedang naik daun. Hinata juga tak mau terlalu terlibat dengan senpainya ini karena takut menjadi sorotan media.

Bukan tanpa alasan ia mengkhawatirkan kemungkinan ini, tapi karena nama belakang Hinata adalah Hyuuga. Dan tak ada orang yang tak kenal mata seorang Hyuuga. Terlebih, Hinata sebenarnya punya banyak cadangan ponsel, hadiah dari Hiashi setiap tahunnya.

"Bolehkah.. Aku meminjamnya nanti?"

Bingo! Sasori mengatakannya.

"A-pa senpai?" Ah, Sasori tak suka ini. Ia harus mengulang permintaannya.

"Bisakah kau meminjamkan ponsel barumu nanti padaku saat jam istirahat sekolah?" Sasori mencoba bersabar, mengulang kata katanya agar lebih jelas.

Hinata sudah mengerti, tapi ia masih memasang wajah kebingungan dan membuat Sasori jadi bingung juga.

"Sudahlah, langsung prakteknya saja.." Sasori menutupi kepala dengan telapak tangannya, menyamankan posisinya sebelum ikut terseret dalam dunia tulalit si gadis bernama Hinata.

.

.

Mereka berdua sampai di toko ponsel 15 menit kemudian. Toko itu besar dan keren dengan layar layar led yang menampilkan iklan ponsel memenuhi dinding luarnya. Hinata tak pernah membeli ponsel sendiri sebelumnya, jadi ia tak tahu ada tempat seperti ini. Neji selalu melarangnya pergi bersama teman apalagi sendirian.

Sasori dengan cepat memilih sebuah ponsel tanpa menawar dan membayar tanpa bertanya pada Hinata. Itu membuat Hinata tambah kebingungan.

"Nah," Sasori mengaktifkan ponsel itu setelah mereka berada di dalam mobil. "Mulai sekarang, aku akan melakukan SNS lewat ponselmu." Jelas Sasori. Ia tak sabar lagi untuk menyapa para netizen setelah beberapa minggu tanpa internet.

"Ayo, masukan emailmu." Ia menyodorkan ponsel itu pada Hinata.

"Eh? Tapi, senpai.. Itu kan privasi!" Hinata kaget senpainya ini ingin menggunakaan emailnya juga.

"Ohh, ayolah. Aku hanya akan melihat lihat saja, percayalah padaku." Wajah Sasori memelas.

"Tapi senpai.."

Wajah Sasori sudah menuju puppy eyes sekarang.

Hinata tak tega, ia menghela nafas. Ia mengerti kalau menjadi seorang idola pastilah sangat berat dan sulit.

"Baiklah senpai." Hinata akhirnya mengambil ponsel berlambang apel tergigit itu dari tangan Sasori, mengetikan emailnya disana. "Tapi hanya untuk melihat saja ya.."

Jemari lentik Hinata mengembalikan ponsel ke tangan Sasori.

"Ahhhh..! I'm back, netizen!" Teriak Sasori bersemangat. Wajah innocent pria bersurai merah bata itu cerah kembali. "Terima kasih, Hinata-chan!"

Hinata tersenyum, pria itu sangat lucu menurutnya.

Mulai hari ini hingga entah berapa lama, Hinata ingin terus bersama Sasori, dan melihat dunia yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

end of flashback.

.

.

A Fairytale

Hell's Angel


.

.

.

.

Sudah hampir 2 bulan gadis Hyuuga itu selalu datang ke mansion Uchiha setiap pulang sekolah. Membuat Sasuke mau tak mau harus pulang kesana, menyenangkan hati Mikoto. Entah apa yang membuat Mikoto begitu menyukai Hinata. Mungkin karena gadis itu selalu terlihat sopan dan tersenyum. Mungkin karena Mikoto suka masakannya. Mungkin juga karena dia gadis yang cukup pintar dan elegan bagi Mikoto. Apapun alasan Mikoto, Sasuke tetap saja tidak suka gadis bermuka dua seperti Hinata.

"Selamat pagi, Senpai." Hinata tersenyum. Pagi itu, ia memang sengaja menunggu Sasuke di dekat pintu kelasnya, dan sukses membuat semua orang penasaran tentang hubungan diantara keduanya.

Sasuke, sang senpai, hanya membalas dengan wajah senyum seram-nya. "Apa Hime?" Ia menggoda Hinata. Baginya, senyum manis Hinata tak ada bedanya dengan sakarin, pemanis buatan.

Buatan.

Mata ganti mata, tangan ganti tangan, palsu ganti palsu. Itulah prinsip yang diterapkan Sasuke untuk menghadapi Hinata.

"Ah, begini Senpai, sebenarnya hari ini aku ada janji dengan seseorang dan tidak bisa datang ke mansion Uchiha.

"Jadi tolong sampaikan permintaan maafku pada Mikoto baa-san ya, Senpai." Ia masih tersenyum.

Naruto, teman sekelas Sasuke, kebetulan baru saja datang dan melihat sahabatnya sedang mengobrol dengan seorang gadis manis bersurai indigo. Dan kedua insan itu saling tersenyum satu sama lain! Sungguh kejadian luar biasa baginya. Sasuke bukan tipe orang yang akan mendengarkan orang lain bicara jika orang itu tidak penting. Naruto bermaksud untuk menyapa, namun Hinata sudah pergi sebelum ia mengucapkan apa apa. Sasuke bicara pada gadis itu?Berarti gadis itu adalah orang penting. Sasuke tersenyum padanya? Pasti ada sesuatu diantara Sasuke dan gadis itu!

"Nee, Teme. Dia itu 'malaikat dari surga' yang sedang populer disekolah ya?" Naruto mengimbangi langkah kaki Sasuke agar mereka berjalan berdampingan. "Dia cantik sekali, Teme!"

Sasuke memperhatikan tingkah sahabat konyolnya itu. "Kalau kau mau, ambil saja. Aku bisa mendapatkan seribu yang seperti dia. Lagi pula dia bukan malaikat dari surga, tapi dari neraka." Jawab Sasuke asal.

.

.

A Fairytale

.

.

"Arrrgh!" Hinata berteriak setelah mobil sport putih Sasuke melaju. "Kenapa kau tidak langsung menolak saja?!" Wajah cantiknya memerah saking kesalnya.

"Aku sudah menolak, tapi ayahku mengancam menghapus namaku dari keluarga Uchiha jika aku membatalkan pertunangan ini." Selesai memberi alasan, lalu ia menghela nafas. Hinatapun melakukan hal yang sama sesaat kemudian. Sesungguhnya Sasuke tidak pernah mengatakan apa apa pada Fugaku, ia hanya mengarang cerita saja. Hinata terus menerus memaksanya membatalkan pertunangan, dan sebagai seorang Uchiha, ia malah merasa makin tertantang. Dia bersumpah akan membuat gadis keras kepala ini jatuh cinta setengah mati padanya.

"Sudahlah, lupakan saja masalah membatalkan pertunangan. Sebenarnya kau mau menemui siapa hari ini?" Menghadapi Hinata yang keras kepala selama 2 bulan terus menerus ternyata memberi efek baik pada respon sosial Sasuke. Pengedalian diri pria itu meningkat tajam.

"Aku akan menemui teman lamaku, Sasori-nii." Jawab Hinata setengah hati.

"Ah!" Ia menepuk dahinya, "Bagaimana ini.. Mana bisa aku bertemu Sasori dengan membawa manusia setengah ayam sepertimu?" Gumam Hinata.

"Aku bisa mendengarmu, Pucat."

"Apa katamu?! Pucat?"

"Kau duluan yang memanggilku ayam!"

Keduanya saling membuang muka. Harus diakui, wajah cantik dan penampilan fisik Hinata memang bisa membuat Sasuke meredam emosinya terhadap tingkah gadis itu, tapi kadang perpaduan antara wajah cantik dengan tingkah menyebalkan Hinata membuatnya gemas sendiri.

Mereka saling membenci, tapi saling membutuhkan. Jadi apa yang bisa mereka lakukan selain bertemu dan bertengkar?

"Baiklah, kau boleh saja memanggilku ayam," Sasuke menyeringai.

Hinata hanya menatap Sasuke sinis. Seumur hidupnya, ia belum pernah sekalipun menghadapi pria semenyebalkan Sasuke.

"Lagipula pria yang kau panggil ayam ini, mengendarai Lamborghini keluaran terbaru. Kau seharusnya bangga, nona Hyuuga. Mercedes benz yang ada di garasimu itu bahkan tak laku lagi jika dijual." Ledek Sasuke.

Sasuke pernah mengira gadis disebelahnya adalah malaikat, dan Hinata pun pernah berdebar karena pria dingin yang sedang menyetir itu. Pernah. Pernah, saat mereka belum saling mengenal. Saat orang orang belum mengenal mereka. Pernah, namun tidak ada satupun diantara mereka yang ingat, tidak ada.

.

.

Flashback:

Lavender Hinata membulat. Ia kebingungan. Dalam riuh ramai perayaan tahun baru tahun ini, ia dan Hanabi bermaksud menonton pesta kembang api. Umur Hinata genap 10 tahun bulan kemarin, dan ia merasa sudah bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Sayangnya, Hinata terpisah dengan Hanabi tepat satu jam sebelum pesta kembang apinya dimulai. Begitulah caranya ia sampai kuil kecil ini, setelah berjalan dalam gelap sekitar 20 menit.

.

.

.

"Permisi.. Tuan." Hinata menepuk punggung seorang pria tua beryukata putih, "Apa kau tahu jalan yang benar untuk menuju ke tempat pesta kembang api?"

Pria itu menatap Hinata yang tingginya bahkan tak sampai bahunya, lalu tersenyum. "Ah, kau tersesat jauh sekali nak.." Jawabnya.

Dengan bantuan cahaya lampion lampion kuil, Hinata dapat melihat wajah pria tua itu tersenyum padanya. Pria itu duduk di sebuah batu besar disamping kuil sendirian, seperti sedang menunggu seseorang. Hinata bertanya tanya apakah pria itu menunggu istrinya atau anaknya, namun Hinata tak berani mengatakannya.

"Iya.. Aku tak tahu kenapa bisa sampai kesini.." Ingin rasanya Hinata menangis saat ini juga.

Menyesal sekali ia menolak membawa beberapa penjaga bersamanya saat keluar dari mansion.

"Hoho.. Maaf aku belum bisa membantumu sekarang nak, masih ada satu anak lagi yang tersesat." Si pria tua tertawa penuh penyesalan.

Satu anak lagi?

Aneh, bagaimana bisa dia mengetahui kalau ada satu anak lagi yang tersesat dalam kegelapan seperti ini?

"Di-dimana kek?" Hinata bertanya, ragu ragu.

"Dia sedang menangis karena takut gelap." Pria itu berbisik, " Sebentar lagi juga dia sampai."

Ketakutan, Hinata bermaksud pergi diam diam. Dalam pikirannya, pria tua itu mungkin gila, atau bermaksud jahat padanya. Baru saja Hinata membalikan tubuh, tiba tiba seorang anak laki laki berlari ke arahnya sambil menangis.

"Hueee.. Aku takut! Mereka mengejarkuu!' Teriaknya disela-sela tangis. "Tolong aku! Aku ingin kembali ke pesta kembang api.."

Pria tua beryukata putih itu akhirnya berdiri, menggandeng tangan Hinata dan si anak laki laki. "Nah, karena kalian berdua sudah disini.. Aku akan mengatar kalian kembali ke pesta kembang api." Katanya sambil tersenyum.

Anak laki laki di samping pria tua masih terisak. Hinata memperhatikan dalam diam, entah kenapa ia ingin sekali memarahi anak laki laki itu karena cengeng.

Lalu Hinata tiba tiba teringat bahwa dia juga sebenarnya hanya gadis kecil yang lemah dan sering menyusahkan orang lain. Ia tak ada bedanya dengan anak laki laki yang cengeng itu.

"Tapi sebelumnya, kalian berdua berdoalah dulu disini, ucapkan terima kasih pada kamisama karena sudah menyelamatkan kalian." Kata si kakek.

Hinata mengangguk, ia melepaskan pegangan tangan si pria tua, menutup mata, lalu menyatukan tangan berdoa. Anak laki laki yang masih terisak juga melakukan hal yang sama.

Temaram lampion lampion mulai berubah jadi lebih terang, makin terang, dan terus makin terang. Si pria tua tak terlihat lagi karena silau cahaya lampion. Disana, di kuil kecil itu, Hinata berdoa agar ia dapat menemukan Hanabi dan masih sempat menonton kembang api. Ia berdoa begitu serius sampai keningnya berkerut.

.

.

.

"Ajaib!" Suara anak laki laki disebelahnya terdengar, memecah keheningan.

Hinata membuka matanya, ia melihat anak laki laki disebelahnya tak lagi menangis. Sekeliling mereka dipenuhi orang orang yang berlalu lalang memakai kimono warna warni.

"I-ini.." Anak laki laki itu bersuara. Hinata dapat melihatnya dengan jelas sekarang, anak itu bersurai raven dengan mata hitam berkilat. Lebih tinggi beberapa senti dari Hinata dan memakai yukata sutra. "Ini ajaib!" Kata anak itu lagi.

"Kakek tadi kemana?" Hinata menengok kesana kemari, tak terlihat pria tua beryukata putih.

"Tidak tahu." Anak itu juga mencari. "Tadi aku dikejar oleh beberapa orang penjahat!" Lanjutnya tanpa diminta.

"Tadi aku tersesat karena tidak tahu jalan.." Hinata juga tak mau kalah. Mereka berdua mentertawakan kebodohan mereka masing masing.

"Siapa namamu?" Tanya si anak laki laki. Mereka saling menatap, berpegangan tangan agar tak terpisah.

"Aku Hinata.." Jawab Hinata, wajah manisnya merona.

"Ah, Hinata ya.. Namamu bagus!" Anak itu tersenyum.

"Namaku Sasuke!" Ia menepuk dadanya bangga. "Suatu hari nanti, aku tidak akan lari lagi jika ada penjahat yang mengejarku!" Katanya bersemangat, jantungnya berdegup cepat entah mengapa.

Tak lama, seorang wanita berpakaian butler dan Hanabi berlari ke arah mereka dengan cemas. Hanabi memarahi Hinata dan butler itu menepuk nepuk yukata Sasuke yang kotor sambil menanyakan beberapa pertanyaan dengan khawatir.

end of flashback.

.

.

.

Sasuke menatap Hinata yang sedang memperhatikan jalan dengan wajah kesal karena habis diledek.

"Hei, hei, sudahlah, aku hanya bercanda." Kata kata Sasuke malah membuat Hinata makin masam.

"Tapi.. Siapa itu Sasori?" Tanya Sasuke penasaran.


.

.

.

T

B

C

.

.

.