A Fairytale
Kiss
.
.
.
"Temeeee.." Naruto, si pria kuning itu memegangi perutnya. "Ayo kita ke kantin, Temeee.. Perutku sangat lapaaar."
Uchiha Sasuke, yang dipanggil Teme, tidak menyahut. Ia masih mencoba menghindari gadis Hyuuga yang sudah mengerjainya entah berapa puluh kali. Beberapa hari yang lalu, setelah mengantar Hinata ke bandara untuk menjemput pria bernama Sasori, ia ditinggal sendirian di bandara.
Tentu saja Sasuke marah besar. Susah payah ia menahan emosinya yang biasanya meledak ledak agar Hinata bisa jatuh cinta padanya, tapi gadis itu malah memperlakukan Sasuke seperti sampah. Karena itulah, sampai saat ini ia dan Hinata masih mengeluarkan aura ingin membunuh satu sama lain.
Lebih dari itu, Sasuke sebenarnya hanya ingin Hinata meminta maaf padanya. Hanya itu.
"Kau sedang bertengkar dengan malaikat itu ya, Teme?" tanya Naruto polos.
"Kami memang tak pernah akur, Dobe. Kami hanya berpura pura saja." Sahut Sasuke lemas.
"Teme, kupikir kau harus minta maaf padanya duluan. Gadis seperti dia pasti hatinya rapuh." Wajah Naruto berubah serius.
Rapuh? Rapuh pantatmu, Dobe. Pikir Sasuke.
"Kenapa aku harus minta maaf padanya?! Dia yang salah! Dia yang harus minta maaf padaku!" Bentak Sasuke. Para gadis penggemar Sasuke mengintip dari jendela kelas, mengkhawatirkan pangeran mereka yang sedang susah payah menahan rasa lapar dan amarah.
.
.
A Fairytale
.
.
Lain Sasuke, lain pula Hinata. Hinata asyik mengobrol dan berkenalan dengan siswa siswa lain di kantin. Ia juga menerima banyak makanan dari teman teman barunya. Gadis itu tak memikirkan apapun, apalagi Sasuke. Ia senang bersekolah disini, di Konoha International.
Paling tidak, sampai ia secara tak sengaja mendengar beberapa gadis bergosip dibelakang deretan deretan loker. Ketika itu, ia sedang mengambil sepatu ketsnya yang ia simpan diloker.
"Kau tahu, beberapa hari belakangan ini Uchiha senpai tidak pergi ke kantin, juga tidak membawa bekal. Benar benar mengkhawatirkan." Kata seseorang.
Hinata hendak segera pergi dari sana, namun ia memilih tinggal saat mendengar nama Sasuke disebutkan, sebenarnya ia sedikit penasaran.
Tidak makan siang? Ia tidak tahu tentang hal itu. Ia pikir Sasuke membawa bekal, atau memesan makan melalui delivery.
"Iya! Kudengar itu karena si anak baru bermarga Hyuuga membuat Uchiha senpai patah hati!" sahut seorang yang lain.
"Benarkah? Gadis itu memang tidak tahu diri! Dia sombong karena cantik dan berasal dari keluarga yang kaya. Tingkahnya itu membuatku muak!" seseorang disana mengatakannya dengan berapi api. "Kurasa kita harus memberinya pelajaran, sesekali."
Jantung Hinata seakan berhenti berdetak. Memangnya apa yang dia lakukan hingga gadis gadis itu begitu membencinya?
Ia meremas bagian bawah sweater sekolahnya hingga buku buku jarinya memutih. Ia berusaha keras menahan tangisannya sambil berlari menyusuri lorong penuh loker. Seluruh bagian tubuh Hinata nyeri, ia melepaskan semua penyamarannya sebagai gadis manis yang selalu dism dan ramah setelah sampai dibelakang gedung sekolah.
Hatinya sakit setiap kata kata itu terngiang. Ia tak pernah mau dibenci oleh siapapun, dan Uchiha Sasuke telah membuat posisinya menjadi sulit.
.
.
A Fairytale
.
.
"Kau mau apa lagi, nona Hyuuga?" Sasuke menyandarkan bahu di kusen pintu apartment-nya. "Kurang puas membuatku kesal?"
Walaupun Sasuke hanya mengenal gadis cantik ini selama kurang lebih 2 bulan, dimatanya, Hinata adalah gadis yang keras kepala, menyebalkan, dan senang berpura pura. Ia bahkan tak mau memandang wajah cantik gadis ini. Ia takut jatuh dalam permainannya sendiri jika ia terlalu banyak memperhatikan gadis ini.
Keduanya terdiam.
"A-aku.." suara gadis itu lemah dan serak. Matanya masih sembab habis menangis.
Sasuke tertarik dengan suara lemah Hinata. Dia yang tadinya tidak mau memperhatikan gerak gerik Hinata, kini mulai memperhatikan dalam diam.
"Kumohon, Sa-Sasuke." Gadis itu menunduk. "Pe-pergilah ke kantin jika memang kau lapar. Ja-jangan menghindariku lagi."
Wajah Hinata memerah, menahan tangisannya. Baru kali ini Sasuke melihat sisi lemah Hinata, gadis yang biasanya pemaksa dan keras kepala berubah menjadi seekor kelinci kecil yang rapuh. Kata kata Naruto dobe tentang gadis rapuh mengiang di kepalanya.
"Jika.. jika kau muak melihat wajahku, maka aku yang akan membatasi diriku sendiri. Aku akan membawa bekal dan tidak akan terlihat lagi di manapun, aku janji." Mendengarnya, Sasuke tersenyum. Senyum geli bercampur tawa tertahan.
"Kau ini bicara apa sih, Hinata?" Gadis yang namanya dipanggil itu menegakan kepalanya, memandangi Sasuke dengan tatapan heran. Sasuke bahkan lupa mengatur ekspresinya sendiri. "Wajahmu itu.. hahaha, kau benar benar lucu!"
Alhasil, Hinata hanya bisa terdiam dengan wajah merah dan mata berair sambil pasrah ditertawakan. "Dengar ya, Pucat." Sasuke mencondongkan wajahnya pada Hinata. "Aku ini seorang Uchiha! Mana mungkin aku menahan lapar hanya karena menghindari gadis sepertimu!" Masih sambil tertawa dengan geli, Sasuke membuka pintu apartmentnya lebih lebar.
"Masuklah dulu, dan ceritakan padaku apa yang terjadi sebenarnya." Suara Sasuke melembut dan pandangan matanya menghangat. Mungkin karena ia tadi habis tertawa.
Tampan, pikir Hinata. Dia seperti pangeran.
Hinata lalu bertanya dalam hatinya, jika pangeran dunia dongeng memang ada, bolehkah ia mendapatkan seorang? Seorang pangeran yang mencintainya setulus hati, memperlakukannya selembut tuan putri, dan menerimanya apa adanya. Bolehkah ia mendapatkan seorang pangeran dengan sifat seperti itu?
"Tunggu dulu," Sasuke menghentikan langkah kaki Hinata, "Kau harus minta maaf dulu padaku, karena sudah meninggalkanku sendirian di bandara waktu itu!"
"Maaf.." Hinata menyeka air matanya, "Maaf aku meninggalkanmu waktu itu.." lalu Sasuke tertawa lagi, dan kali ini, Hinata juga ikut tertawa kecil.
"Baiklah, kali ini kau kumaafkan."
Hinata mengikuti Sasuke masuk kedalam apartment.
Disana, di apartment milik Sasuke, untuk pertama kalinya, Hinata berharap Sasuke mendengarkan seluruh kisahnya.
.
.
A Fairytale
.
.
"Benarkah? Gadis gadis itu bicara begitu?" Sasuke merespon cerita Hinata dengan nada meledek, "Hmm, cukup bagus."
"Apanya yang bagus, ayam?!" Hinata jengkel. Memang, Sasuke mendengarkan ceritanya dan semua keluhannya dengan baik. Namun setelah selesai bercerita, Sasuke malah meledek lagi. Benar benar menyebalkan. "Mengapa.. kau suka sekali meledekku?" Gumam Hinata.
"Karena kau selalu mengerjaiku sejak awal, jadi aku suka meledekmu." Jawab Sasuke ringan.
"Untung saja mereka tidak melakukan sesuatu seperti memotong rambutmu atau mencelupkan wajahmu ke toilet." Sasuke mengambil cangkir tehnya, lalu minum dengan tenang.
"Me-mereka pernah melakukannya?" Lavender Hinata membulat. Kepolosannya yang jarang ia tunjukkan muncul begitu saja didepan Sasuke.
"Yep." Jawab Sasuke, tak peduli. "Mereka itu sangat menyeramkan. Sungguh."
Hinata tercengang.
"Sudahlah, mereka tidak akan berani menyentuhmu." Senyum Sasuke berubah menjadi seringai, sifat jahil yang sudah lama dikuburnya juga muncul kembali, sama seperti yang terjadi pada sikap polos Hinata. "Umumkan saja pada mereka kalau kau adalah kekasihku, mereka tidak akan berani."
Hinata langsung bersemu mendengar kata kata Sasuke. Seringai pria itu makin lebar. Ia tak pernah menyangka kalau semua taktiknya untuk membuat Hinata jatuh cinta padanya bisa berjalan begitu mulus.
"Dalam khayalanmu ayam!" Hinata melempar bantal ke wajah Sasuke.
Sasuke dengan mudah menangkap lemparan Hinata yang lemah. Ia berdiri, lalu pindah ke sebelah Hinata dan menarik gadis itu kedalam pelukannya.
Play time Sasu, it's play time!
"Hinata." Bisik Sasuke tepat ditelinga Hinata.
"A-apa maumu?" Hinata meronta.
"Tak masalah bagiku jika kau membenciku." Onyx menatap lavender. Mereka begitu dekat, bahkan Sasuke dapat mencium wangi tubuh Hinata dan melihat bulu mata lentiknya.
"Aku akan menaklukanmu, Hime."
Sasuke menempelkan bibirnya pada milik Hinata, menghisap bibir bawah Hinata dalam dalam, dan menggigitnya lembut agar lidahnya mendapat akses masuk ke mulut gadis itu. Lama kelamaan, ia menikmati pagutan mereka. Rontaan Hinata tak berarti bagi kejahilannya yang sedang menjadi jadi. Makin Hinata meronta, makin ganas pula ciuman Sasuke. Tangan Sasuke juga tak tinggal diam, mulai dari menyelipkan rambut Hinata yang menurutnya mengganggu, hingga menaikkan tubuh Hinata dalam pangkuannya.
Ketika posisi Hinata dalam pangkuannya, ia berhenti sejenak untuk melihat wajah cantik gadis itu yang sudah seperti kepiting rebus. Kasihan juga, pikirnya. Ia melepaskan pelukannya.
Tapi tiba tiba ia berubah pikiran.
Sekali lagi, ia menarik tubuh Hinata kedalam pelukannya dan memagut bibir mungil itu.
Sampai akhirnya kebutuhan untuk bernafas membuatnya mau tak mau harus berhenti dan memberi kesempatan bagi Hinata untuk langsung meronta keluar dari pelukannya.
"Hhh.." nafas Hinata terengah, wajahnya mungkin sudah matang sekarang. "Apa.. a-apa yang.. apa yang kau lakukan, Uchihaa!" Ia memukuli Sasuke dengan bantal sofa.
Hei Hinata, mengapa kau tak berhenti sejenak dan melihat ekspresi diwajah Sasuke terlebih dahulu?
Tahukah kau, betapa pria itu menyukai bibirmu?
.
.
A Fairytale
.
.
Hinata tak mengerti kenapa Sasuke tiba tiba melakukan hal seperti ini padanya, ia juga tak mengerti apa yang ada dipikiran Sasuke.
"Khu, kau takut padaku?" Ternyata Uchiha bungsu itu masuk dalam mode mafia sekarang. Hinata kalang kabut dibuatnya, antara kesal, takut, dan waspada. "Ti-tidak!" jawab Hinata sedikit gemetar. "Begitukah?" Sasuke berjalan kearah dapur, mengambil sebuah botol kaca berisi air dingin dari dalam kulkas.
"Aku bisa membunuh gadis gadis yang berniat mengganggumu itu jika kau mau." Ia meminum air dingin itu dengan rakus, hingga hanya tersisa setengah botol. "Tapi gadis Hyuuga baik baik sepertimu pasti tidak akan setuju." Sasuke berjalan mendekati Hinata, menyodorkan botol air dingin itu padanya. "Aku yakin kau tidak akan tega pada mereka. Bukankah begitu?"
Hinata terdiam, memandangi Sasuke, lalu mengambil botol yang ditawarkan Sasuke.
"Aku, aku bisa mengurus mereka sendiri.." Jawabnya, "Aku bukan gadis lemah yang mengiba memohon perlindungan pria."
"Kalau begitu untuk apa kau jauh jauh datang kesini?" Sasuke mengerutkan kening tak mengerti.
Hinata meneguk habis air dingin yang tersisa dalam botol kaca, "Kau tidak pulang ke mansion Uchiha sejak aku meninggalkanmu dibandara, karena itu aku menanyakan apartmentmu pada Baa-san."
"Hm, kau mulai perhatian padaku rupanya, eh?" Sasuke menyeringai, "Mau kuberi hadiah?"
Sasuke menarik wajah Hinata mendekat padanya agar mata mereka saling menatap.
Kurasa, Hinata akan membutuhkan sebotol air dingin lagi nanti.
.
.
.
T
B
C
.
.
.
