A Fairytale

I Wonder Why


.

.

'The heart breaks and breaks

and lives by breaking.

It is necessary to go through dark and deeper dark

and not to turn.'

– from "The Testing-Tree," by Stanley Kunitz

.

.

Hinata membanting tasnya dengan wajah semerah kepiting rebus, dan rambut kusut, membuat Hanabi, adik Hinata melongo.

"Nee-san kenapa?" Tanya Hanabi.

"Ha-Hanabi!" Lavender Hinata membulat menyadari adiknya ada di apartementnya. "Kenapa kau ada disini Hanabi?" Ia balik bertanya.

"Aku disuruh Tou-san kesini karena kau tidak menjawab telfon darinya, Nee-san." Hanabi yang tadinya sedang makan jeruk di dekat televisi, berdiri lalu menyerahkan sebuah map pada Hinata. "Selama Tou-san berada di Amerika untuk mengurus pajak perusahaan kita, ia ingin kau yang memeriksa dan menandatangani dokumen dokumen ini." Gadis dengan wajah mirip Hinata itu menjelaskan.

"Bukankah biasanya Tou-san menyerahkan pekerjaannya pada Neji-nii, memang Neji-nii kemana?" Hinata mengecek isi dokumen dokumen didalam map tersebut sepintas.

"Entahlah." Jawab Hanabi, "Nampaknya Neji-nii tidak terlalu senang ketika mendengar berita tentang pertunanganmu."

"Dia bahkan tak senang melihat aku memiliki teman.." Jawab Hinata pelan. Ia selalu sedih setiap mengingat Neji-nii.

.

.

.

flashback:

.

"Hinata! Hinata!" Neji berlari lari kecil memanggil Hinata. Satu tangannya menggenggam sekantong air bening.

"Hinata! Lihatlah apa yang kubawa untukmu!" Ia mengacungkan kantong air ditangannya.

Hinata ada disana, duduk ditengah tengah taman bunga, dengan rambut indigo sebahu dan yukata kecilnya. Gadis itu hanya diam disana menatap langit saat Neji datang. Angin sepoi sepoi menyapa Neji begitu ia menginjakan kaki dirumput taman yang lembut.

"Hinata-chan, aku berhasil menemukan ikan dengan warna yang kau inginkan!" Nafas Neji terengah engah, peluh menetes dari dagunya.

Hinata merona. Hinata memang selalu merona. Neji sangat suka melihat wajah Hinata merona, tampak sangat manis dan lucu.

Dari dulu, Hiashi sudah mempercayakan Hinata padanya. Tugas Neji adalah melindungi Hinata dan memastikan gadis itu selalu merasa nyaman. Ia ingin tugas itu menjadi tugas seumur hidupnya, agar seumur hidup ia bisa berada disamping Hinata.

"I-ikannya sangat cantik, Nii-san. Arigatou.." Hinata tersenyum, ditangannya kini ada sekantong air dengan ikan hias kecil berwarna merah dan biru didalamnya. Ikan ikan itu berenang lincah kesana kemari, begitu gemulai seakan menari.

Neji duduk disamping Hinata, ditengah taman bunga dengan angin sepoi sepoi. Mereka terlihat begitu akur, seakan mereka memang saudara sekandung.

.

.

.

.

Neji merindukan masa masa itu, ia rindu wajah merona Hinata yang manis. Ia rindu Hinata. Sekarang ia tidak lagi tinggal di mansion Hyuuga, ia tinggal di salah satu rumah milik Hyuuga bersama ayahnya, Hizashi. Neji hanya bisa mengunjungi Hinata disekolah, itupun saat istirahat dan pulang sekolah saja.

Neji ingin melihat lagi Hinata yang dulu, Hinata yang selalu merona. Ia tak pernah setuju pada Hiashi yang selalu memarahi Hinata karena gadis itu lemah. Bagi Neji, Hinata sempurna dengan apa adanya dia. Sama seperti seorang tuan putri, akan tetap menjadi tuan putri walau tak pernah mengurus masalah negara. Begitu juga ia melihat Hinata.

Setelah membasuh wajah, Neji keluar dari kamar dan langsung menaiki sepeda, menuju ke mansion Hyuuga. Neji harus memastikan Hinatanya baik baik saja tinggal bersama Hanabi yang kasar dan keras kepala.

"Hinata?" Panggil Neji setelah ia sampai di kediaman Hinata. Ia mencari kesana kemari namun tak ada tanda tanda keberadaan Hinata.

"Apa kau melihat Hinata?" tanyanya tergesa gesa pada pelayan khusus kediaman Hinata.

"Tidak tuan, Nona Hinata bilang ia akan pulang lebih sore hari ini karena temannya mengajak bermain bersama." Pelayan itu menjawab Neji dengan sedikit menghormat.

Neji tahu hari ini akan terjadi, hari dimana ia bukan lagi satu satunya teman yang Hinata miliki, hari dimana secara perlahan tapi pasti, Hinata akan pergi dari sisinya. Neji mengepalkan tangan hingga buku buku jarinya memutih. Ia harus membuat Hinata selalu bersamanya dan bergantung padanya.

Segera, Neji kembali mengayuh sepedanya mencari Hinata. Angin sepoi berubah menjadi angin dingin pertanda akan turunnya hujan. Langit yang cerah perlahan lahan menjadi gelap tertutup awan mendung.

Ada sebuah perasaan takut didasar hati Neji, rasa takut kehilangan yang mulai berubah menjadi rasa ingin memiliki. Dan perasaan itu telah menancapkan akarnya terlalu dalam disana.

Ia tak peduli Hinata akan menolaknya atau membencinya setelah ini, ia tak peduli lagi.

Ia hanya ingin gadis itu kembali padanya, kembali menjadi Hinata yang ceria seperti dahulu.

.

.

.

"Lepaskan aku Nii-san! Lepaskan aku!" Hinata mencoba melepaskan pegangan tangan Neji kasar.

"Tidak Hinata! Kau harus pulang! Semua ini tidak aman untukmu, kau harus pulang!" Neji menaikan volume suaranya.

Hinata hanya ingin memiliki teman, dan berkenalan dengan banyak orang. Hinata tak mau lagi tinggal dibalik tembok mansion Hyuuga terus menerus seperti tahanan. Ia ingin bermain bersama anak seusianya dengan bahagia.

"Nii-san, ku-kumohon.." pinta Hinata.

Neji memegang pergelangan tangan Hinata kuat kuat, seakan ingin meremukannya.

"Kenapa seperti ini, Nii-san? Aku bukan lagi anak kecil yang harus selalu berlindung dibalik punggungmu, aku bukan tuan putri yang harus selalu berada dialam istana seumur hidupku!" emosi Hinata bergejolak seperti ombak besar dilautan, air matanya meluap.

"Kau akan tetap menjadi seorang tuan putri dimataku, Hinata. Selamanya. Meskipun kau tidak menyukainya, seumur hidup aku akan tetap memandangmu sebagai seorang tuan putri!"

Hinata terdiam, terisak isak tak beraturan.

"Karena itu sekarang, kau harus pulang bersamaku. Ohime." Perintah Neji hari itu, lebih tajam daripada sebuah silet bagi Hinata.

Silet yang melukai hati seorang gadis kecil berumur 10 tahun, dan terus menancap disana membuat luka besar.

end of flashback.

.

.

.

"Hinata-nee, Kapan ya, aku bisa tinggal sendiri sepertimu? Aku bosan tinggal di mansion Hyuuga yang penuh peraturan."

Hanabi menatap langit langit ruang tamu apartment Hinata lama. Hinata menghela nafas, "Aku ini bukan contoh yang baik, Hanabi. Jsngan mengikuti jejakku."

Walaupun Hanabi mirip dengan Hinata, tapi sebenarnya mereka sifat mereka saling bertentangan. Hinata adalah sosok gadis lemah yang terkadang pesimis dan mudah menangis, sedangkan Hanabi adalah gadis kuat yang selalu optimis dan keras kepala.

Dulu Hiashi sempat meragukan Hinata karena ia lemah, dan bermaksud menjadikan Hanabi sebagai heiress Hyuuga. Hanabi mengetahui keinginan ayahnya tersebut lalu memarahi Hinata yang menurutnya lembek seperti tahu rebus, memotivasi Hinata untuk jadi lebih kuat dan berani seperti para Hyuuga lainnya, lalu diterima oleh Hiashi. Keras kepala Hanabi cukup merepotkan walaupun umurnya lebih muda 4 tahun dari Hinata. Sejak itu mereka menjadi lebih akrab dan saling menerima satu sama lain.

"Tadi Nee-san kenapa membanting tas begitu sampai?" Hanabi bertanya lagi.

Hinata menatap Hanabi, memelas. "Aku sedang kesal, Hanabi."

"Kesal?" raut wajah Hanabi berubah penasaran, "Pada siapa, Nee-san?"

Hinata terdiam.

Apa yang membuat ia bersikeras ingin membatalkan pertunangannya dengan Sasuke ya? Mengapa ia tiba tiba saja lupa?

".. Uchiha Sasuke." jawab Hinata ragu.

2 Bulan yang lalu, mungkin ia akan langsung melapor pada Hiashi tentang perlakuan Sasuke padanya tanpa pikir panjang, karena ia tak suka pada pria seperti Sasuke.

Namun tadi? Mengapa ia masih bisa meminum air dari botol yang sama dengan pria itu setelah pria itu mencuri ciumannya?

"Kalian berdua cocok kok." Hanabi tersenyum.

"Aku tak tahu apa tujuan ayah mengadakan pertunangan dengan Uchiha, kuharap alasannya cukup kuat." Lavender Hinata menutup, ia membuat dirinya nyaman disofa.

"Kalian berdua cocok." Hanabi berkata lagi, kali ini lebih semangat.

Hinata menoleh, kebingungan. Ada apa dengan Hanabi? Kenapa ia memihak Uchiha sekarang?

"Apa maksudmu Hanabi?"

"Kata Tou-san, kalian berdua cocok." Senyum Hanabi terus saja mengembang.

"Lebih baik kau pulang jika hanya ingin meledekku, Hanabi." Hinata menunjukan wajah lelahnya yang seram.

.

.

A Fairytale

.

.

Mikoto senang sekali hari ini.

Tadi pagi Itachi, putra sulungnya yang tinggal di Melbourne menelfonnya. Itachi akan datang berkunjung sabtu ini, bersama putra angkat Itachi, Sai. Sai baru berumur 4 tahun bulan ini dan meminta Itachi membawanya berlibur ke jepang sebagai hadiah ulang tahun.

"Aku tak suka anak nakal itu." Sasuke menanggapi cerita ibunya.

"Memangnya kau pernah menyukai anak kecil?" Mikoto yang masih sibuk dengan ikebana-nya, tak mau kalah. Ujung mata Sasuke melirik Mikoto.

"Aku hanya akan menyukai anakku sendiri." Jawab Sasuke seenaknya.

Mikoto memandangi anak bungsunya itu dengan wajah terkejut. Sejak kapan anak bungsunya memikirkan tentang memiliki anak sendiri?

"Sasuke, apa.. apa kau salah makan sesuatu?" Tanya Mikoto khawatir.

Sasuke menaikan bahunya, "Tidak."

Makanan apa yang dimasakkan Hinata untuk Sasuke hingga putra bungsunya ini bisa memikirkan keluarga? Ia harus meminta resepnya pada Hinata.

"Tunggu dulu, Sasuke.."

.

.

A Fairytale

.

.

Di sekolah, Hinata dikejutkan dengan sesosok manusia setengah ayam didepan kelasnya. Dari kejauhanpun ia sudah tahu siapa pria itu.

Uchiha Sasuke.

Mau apa seekor ayam biru siang siang begini mencarinya?

"Selamat siang, Senpai." Hinata memberi salam. "Kenapa mencariku?" senyum manisnya sengaja ia pamerkan, walaupun dalam hatinya ia masih kesal karena terbayang akan ciuman paksaan kemarin.

"Hari ini Okaa-sama mengadakan acara makan malam keluarga, ia mengundangmu Hime." Sasuke tersenyum angkuh. Belum sempat Hinata menjawab, Sasuke sudah mendekatkan wajahnya ke kuping Hinata. "Aku tak menerima penolakan." Bisiknya.

Sikap Sasuke yang terlihat begitu dekat dengan Hinata menarik perhatian banyak siswa, membuat Hinata jengkel. Ingin rasanya menampar wajah Sasuke, tapi Hinata tak boleh melakukannya sekarang. Jika ia melakukannya sekarang, maka sama saja seperti membiarkan Sasuke menang sebelum bertanding.

"As your wish, Senpai." Jari lentik Hinata membentuk lambang 'ok'. Sambil tersenyum ia memberi salam dan masuk kembali kedalam kelasnya.

Tak berapa lama, smartphone Sasuke berbunyi. Sebuah pesan dari Hinata.

'Kau ingin kumasak jadi ayam balado atau kugoreng dalam minyak panas, Uchiha?'

Sasuke berlalu sambil menahan tawa.

Menggoda Hinata memang sangat menyenangkan.


..

.

.

T

B

C

.

.

.

Saya sadar, fic ini banyak banget review bashing nya, karena itu saya berusaha memperbaikinya. Untuk kalian yang merasa pernah membaca fic ini, tenang saja, kalian bukan de ja vu.

Fic ini memang sudah cukup lama, dan saya hanya mem-publish nya ulang setelah perbaikan sana sini.

Thanks for reading.

RnR please :)