A Fairytale
Mine!
.
.
.
.
"It is better to have loved and lost,
than not to love at all."
– Alfred, Lord Tennyson
.
.
"Keluarga Uchiha mengundangmu makan malam?" Pria bersurai merah bata disamping Hinata mengulangi lagi kata katanya.
"Ya, Mikoto baa-san bilang hari ini putra sulung dan cucu pertamanya akan datang, dia ingin aku menemui mereka.." Hinata menggembungkan pipi, "Pertunangan ini sungguh merepotkan." Suaranya lemas.
"Kalau begitu batalkan saja, lalu menikah denganku." Sahut Sasori sambil tertawa. Tawa yang dibuat buat. "Jika itu aku, aku takkan merepotkanmu dengan makan malam formal, dan tatakrama, dan segala urusan perjanjian. Aku akan membuatmu bahagia dan bangga padaku."
Hinata tidak tertawa, ia hanya tersenyum kecil. Ia memandangi Sasori yang sedang menyetir sambil tertawa dengan tatapan bersalah, "Apa.. Kau masih marah karena waktu itu?"
Sasori melirik Hinata sesaat, lalu dengan cepat menggeleng, "Tidak." Jawabnya. "Tidak sama sekali."
Wajah manis pria itu berubah sendu. "Lagipula, aku tak sehebat Uchiha. Aku mana pantas untukmu."
Mobil Sasori melaju dengan kecepatan normal menuju salon langganan Hinata, menyisakan keheningan diantara dua orang didalam sana.
.
.
A Fairytale
.
.
flashback:
Hari ini Sasori terlihat sedih, wajahnya murung dan tak bersemangat. Sungguh bukan seperti Sasori yang biasa.
Jangan tanya mengapa, salahkan saja Hyuuga Hinata si adik kelas manis itu.
"Jangan murung begitu, Sasori-kun. Aku akan tetap menghubungimu walaupun berada di Konoha, aku janji." Kata Hinata sambil mengacungkan tangannya yang membentuk lambang 'ok'.
"Aku harus bagaimana lagi, Hime? Kau akan pergi ke Konoha, sedangkan aku setelah lulus akan pindah ke New York. Kita tidak akan bisa bertemu sesering ini lagi." Sasori menunjukan puppy eyes terbaiknya.
Hinata tertawa, padahal Sasori selalu terlihat keren di layar tv dan film, tapi selalu saja terlihat lucu jika sedang bersamanya.
"Hei, Hime." Panggil Sasori, "Ayo kita ke taman bermain besok!" ajaknya.
"Taman bermain?" ulang Hinata.
"Ya, Taman bermain. Aku ingin memberikan sesuatu padamu sebelum kita berpisah." Sasori memandang Hinata lembut.
Sasori menyukai Hinata, entah sejak kapan. Mungkin sejak kejadian smartphone, atau mungkin juga karena coklat buatan Hinata pada valentine tahun lalu. Sasori tak tahu pasti.
Hanya saja, jantungnya selalu berdegup cepat saat Hinata menyapanya. Ia pun selalu salah tingkah didepan Hinata. Semua ini sangat menyiksa, namun Sasori tak ingin semua ini berhenti.
Sasori ingin Hinata mengetahui perasaan Sasori yang sebenarnya, karena itulah ia akan menyatakan perasaan pada Hinata di taman bermain. Ia juga sudah menyiapkan hadiah untuk Hinata.
Hadiah yang sebentar lagi akan berubah tujuannya menjadi hadiah perpisahan.
.
.
.
Langit menggelap, awan awan hitam menutupi terangnya cahaya matahari.
Ini tak seperti harapan Sasori.
Hinata juga sudah terlambat 15 menit dari janji awal mereka, dan Sasori hanya sendirian di taman bermain. Ditemani oleh sebuah kotak hadiah berwarna hijau toska muda, Pria itu menunduk karena takut ada orang yang mengenalinya.
Jangan salahkan dia, di Tokyo ini semua orang pasti mengenal Sasori, tua maupun muda, mulai dari nenek nenek hingga anak SD. Bahkan terkadang Sasori sering kali mendengar sebutan 'Sasori's Style' untuk mencirikan pria dengan rambut merah bata. Apalagi akun SNS Sasori masih tetap aktif sampai sekarang, jadi pastilah orang akan lebih mudah menyimpan foto foto dirinya.
Jangan menyerah sekarang, jangan sekarang, jangan sekarang. Pikir Sasori.
Ia harus tetap bertahan, paling tidak hingga Hinata mengetahui perasaannya. Sebelum semua menjadi pudar, sebelum semua menjadi pahit. Ia ingin tenggelam dalam manis dan pekatnya rasa cinta ini.
Ia ingin menenggelamkan dirinya sendiri.
"Maaf, Sasori-kuuuuun!" nafas Hinata terengah engah akibat berlari dari parkiran mobil ke dalam taman bermain. "Maaf membuatmu menunggu begitu lama.."
"Bukan masalah, Hime." Sasori berdiri, menepuk nepuk kepala Hinata lembut. Wajahnya yang sedari tadi muram, terlihat begitu cerah didepan Hinata. "Ini untukmu. Semoga kau menyukainya."
Hinata menerima kotak hadiah pemberian Sasori seperti menerima sebuah harta karun. Ini pertama kalinya ia mendapatkan sebuah hadiah dari seorang teman. Yah, selain bento-nya Chouji.
"Te-terima kasih Sasori-kun!" ucap Hinata dengan wajah bersemu, "Aku sangat senang menerima hadiahmu!"
Sasori tertawa, lalu mengandeng Hinata ke arena bianglala.
Mereka tadinya mesih bercanda, sampai bianglala itu akhirnya mulai berputar. Kecanggungan tiba tiba mengambil alih suasana diantara mereka berdua.
Langit yang gelap membuat lampu lampu sudah dinyalakan sebelum matahari terbenam sepenuhnya, hitam, merah, lalu gemerlap. Itulah gradasi warna yang tampak dari jendela bianglala.
Hinata hanya terdiam menatap pemandangan didepannya, sementara Sasori menundukan kepala berusaha memikirkan bagaimana cara menyatakan perasaan dalam kondisi canggung begini.
"Hi-Hime.." Sasori bermaksud untuk mencairkan suasana.
"Sebelum kemari, ayahku memanggilku untuk membicarakan soal pertunangan." Kata Hinata, masih sambil memandang jendela.
"Aku belum tahu siapa, tapi aku punya firasat buruk tentang rencana ini.."
"Pertunangan?"
Hinata menengok, menatap Sasori lurus. "Ya, pertunangan perusahaan." Jawabnya, tersenyum.
"Kuharap tunanganku nanti akan memperlakukanku sebaik dan selembut kau, Sasori-kun. Walau semua ini mungkin akan berjalan tanpa adanya cinta."
"Omong kosong."
"Hm?"
"Tanpa cinta mana ada yang akan memperlakukanmu sebaik aku?!" bentak Sasori.
"Apa.. maksudmu, Sasori-kun?" suara Hinata bergetar, ia bingung.
"Hime, aku.."
"Aku jatuh cinta."
Lavender Hinata membulat. Pernyataan cinta seperti ini, ia baru pertama kali merasakannya. Degup jantung yang semakin cepat, keringat yang keluar karena tak bisa mengatakan apa apa, dan lupa bernafas.
Bukankah ini terlihat seperti adegan dari salah satu film romantis?
"Ta-tapi.."
"Aku tahu, kau sudah menjelaskan semuanya padaku."
Ada yang mengganjal di hati Hinata, saat mendengar kata kata Sasori. Seakan dunianya jatuh kedalam sebuah lubang hitam.
"Hime.." panggil Sasori.
"Bisakah, aku jadi pria beruntung itu?"
Hujan mulai turun, setetes demi setetes membasahi bumi. Menangisi sebuah cinta tak terwujud. Orang orang mulai membuka payung mereka, seperti bulatan bulatan berwarna warni jika dilihat dari atas.
Hinata dan Sasori hanya diam sepanjang putaran ke 3 bianglala, tak ada yang memulai, tak ada yang menjawab.
Sampai akhirnya bianglala tersebut berhenti, dan membuat mereka berdua terpaksa harus merasakan dinginnya tetesan tetesan air hujan menusuk kulit mereka. Walau berdampingan, walau Sasori melindungi Hinata dengan jaketnya, tetap saja mereka tak bisa terlihat seperti pasangan.
"Aku selalu berharap pria itu adalah kau, Senpai."
Sasori memandang Hinata, memandang wajah gadis itu lekat.
Ah, Hime-nya tumbuh begitu cepat, sampai sampai ia tak menyadari sama sekali. Rambut gadis itu kini sudah panjang, tubuhnya yang dulunya rata pun sudah berbentuk. Kini Hime-nya sudah belajar memakai makeup, tak terlalu terlihat memang, tapi Sasori bisa melihatnya dari jarak sedekat ini. Maskaranya, dan lipgloss gadis itu.
Hime-nya sudah dewasa sekarang, sudah dewasa.
"Aku selalu berharap pria itu, adalah kau.." tanpa Hinata sadari, air mata menetes dan bersatu dengan tetesan tetesan hujan.
Cinta pertama dalam hidupnya, cinta yang kata orang adalah cinta yang paling indah.
Kenapa harus berakhir seperti ini?
end of flashback.
.
.
A Fairytale
.
.
Sasuke terpana.
Sering ia melihat gadis cantik di pub atau di pesta, namun baru kali ini jantungnya berdebar lebih kencang karena melihat seorang gadis. Dengan cepat dan tanpa berpikir, ia berjalan kearah kursi yang akan ditempati gadis yang membuat jantungnya berdebar dari tadi, mempersilahkan gadis itu duduk.
Ia bahkan tak tahu dirinya bisa bertindak selembut ini pada lawan jenis.
"Terima kasih, Sasuke-san." Hyuuga Hinata, tamunya di acara makan malam hari itu menundukan kepalanya sedikit, lalu duduk.
Hiashi, ayah Hinata, melakukan pembicaraan singkat dengan Fugaku sebelum mereka duduk.
Hqri ini, Hinata tampil sangat cantik dengan gaun vintage selutut berbahan satin hitam yang mengembang di bagian roknya. Bagian bawah surai indigonya dibuat ikal longgar dan di tata ke samping, make up Hinata pun tak terlalu terbal tapi tetap terlihat formal. Gadis itu sungguh sempurna jika disandingkan dengan Sasuke seperti sekarang.
"Sasuke, tunanganmu cantik sekali!" Itachi masuk ke ruang VIP restoran milik Uchiha bersama dengan Sai kecil tak lama setelah Hinata.
"Aniki, kau terlambat." Sasuke memasang wajah kesal.
"Hiashi, Hinata, terima kasih karena sudah datang kesini. Sebagai kepala keluarga Uchiha, benar benar suatu kehormatan bagiku bisa mendapatkan kesediaanmu untuk bertunangan dengan putra bungsuku, Sasuke." Fugaku bersama dengan istrinya, Mikoto, sangat senang melihat Hinata yang cocok bersanding dengan Sasuke.
Dengan senyum tipis, Hiashi mengangguk, meng-iyakan. "Bukankah mereka berdua sangat cocok?" Ia menatap Hinata dan Sasuke yang kini duduk berdampingan.
Fugaku, Mikoto, dan Itachi pun melakukan hal yang sama. Kelihatannya, Hinata adalah "master piece" untuk makan malam kali ini.
"Kau sungguh pas disandingkan dengan Sasuke, sayang." Mikoto tersenyum pada Hinata.
Kata kata Hanabi terngiang dikepala Hinata.
Cocok.
Apa ia memang begitu cocok bersanding dengan berandalan seperti Sasuke?
"Auntie?" Tiba tiba, Sai yang sedari tadi diam mulai bersuara. "Auntie?" anak itu memanggil Hinata.
"Yes, Sweety?" Hinata menyahut. Ia suka sekali pada anak anak, terutama yang tingkahnya polos dan manis seperti Sai.
"Auntie is beautiful!" Sai berteriak semangat, mata anak itu berbinar binar memandang Hinata.
"Ah, Thank you Sweety. You're handsome too." Wajah cantik Hinata merona mendengar pujian polos dari mulut anak itu.
Sasuke memandangi Sai tak suka. Baginya, hanya dirinya yang boleh membuat Hinata merona. Hanya dia yang boleh membuat Hinata menunjukan wajah malu malu itu.
Hanya dirinya, Uchiha Sasuke.
"Yeah, kid. She is pretty." Sasuke menyela tawa diantara keluarga itu, lalu menggenggam tangan Hinata, dan menaikannya keudara sedikit agar anak itu melihatnya. "But she is mine, not yours."
Hinata yang tidak siap menerima perlakuan Sasuke yang seperti itu, langsung blushing. Ia memandangi Sasuke heran, tapi Sasuke malah memperlihatkan senyum kemenangan di wajah tampannya saat melihat Sai terdiam.
"Lihatlah anak ini!" Itachi tertawa geli melihat tingkah adiknya tersebut, "Kau cemburu pada anak kecil seperti Sai? Oh, ayolah Sasuke, berapa usiamu, hm?"
"Hn." Jawab Sasuke sekenanya.
.
.
A Fairytale
.
.
Malam semakin larut, Itachi masuk ke kamar adiknya perlahan. Ia sangat penasaran dengan gadis Hyuuga tunangan Sasuke, dan bermaksud menanyakannya pada Sasuke. Mata Itachi suka melihat gadis gadis cantik, jadi jangan salahkan dia. Salahkan Sasuke yang ternyata memiliki tunangan secantik Hinata.
"Sasuke?" panggilnya. Dilihatnya pria itu sedang berdiri memandang taman belakang mansion dari balkon, menopang kepala dengan satu tangan sementara tangan lainnya memegang segelas wine.
Adiknya pasti sedang sangat tertekan dengan semua protokol pewaris utama. Ah, andai saja Itachi dulu mengikuti keinginan Fugaku dan menikah dengan wanita pilihan ayahnya, pastilah adiknya tak akan mengalami semua kesulitan ini.
Tunggu dulu.
Ia rasa dijodohkan dengan Hyuuga Hinata bukanlah hal yang buruk. Lagipula, kelihatannya Sasuke menyukai gadis itu.
"Hn. Apa?" Sasuke menjawab tanpa melihat Itachi, matanya masih memperhatikan taman.
"Baru kali ini aku melihatmu begitu posesif terhadap wanita." Itachi menghampiri Sasuke, berdiri disebelahnya, dibalkon. "Apa kau begitu menyukainya?"
"Aniki." Si bungsu Uchiha tersenyum. "Apa kau tak lihat wajahnya ketika aku memegang tangannya tadi?" Wajah Sasuke sedikit merah, nampaknya ia mabuk.
"Dia bersikeras memaksaku membatalkan pertunangan ini, dan dia mengerjaiku berkali kali, membuatku sangat kesal."
Itachi tertawa.
Mengerjai Sasuke? Gadis itu mengerjai Sasuke?
Oh, lain kali jika ia bertemu dengan gadis itu lagi, ia harus memberinya hadiah.
"Jadi sebenarnya kau menyukainya, atau tidak?" Tanya Itachi.
"Akulah yang akan menentukan kapan aku akan jatuh cinta padanya, Aniki." Sasuke menyesap cairan dari gelas wine. "Kau takkan pernah tahu." Wajah tampan si bungsu menengadah menatap langit.
"Kau aneh, Sasuke. Hati tidak memilih, ia jatuh dengan sendirinya." Itachi memandang langit, teringat akan gadis yang dijodohkan padanya saat ia seumur Sasuke.
"Untuk apa aku jatuh cinta?" Tanya Sasuke pada dirinya sendiri, namun Itachi disana. Mendengarkan.
"Lagipula ia memang milikku, aku bisa menentukan sendiri kapan aku akan mencintainya."
Itachi menghela nafasnya pelan setelah melihat ekspresi adiknya, "Baka.." ia menggumam.
"Kau adalah manusia paling egois yang pernah kutemui didunia ini, Sasuke."
.
.
A Fairytale
.
.
Hinata hanya bisa menganga ketika ia mengangkat telfon dari Sasuke ditengah malam begini. Ia pikir ada hal yang sangat penting dan mendesak, tapi ternyata pria berambut pantat ayam itu hanya menelfonnya untuk membuat tidurnya tidak tenang.
"Jangan tutup telfonnya, kau dengar.." suara diujung sana kembali terdengar.
Alis Hinata bertaut.
Uchiha Sasuke, apa dia mengalami semacam 'mental disorder' atau sejenisnya? Menelfon larut malam begini tanpa alasan yang jelas, apa dia gila?
"Uchiha, aku.." Hinata menggaruk kepalanya bingung. Ia mau tidur, ia mengantuk.
Ia tak tahu apa yang harus ia katakan lagi.
"Uchiha? Kau dengar aku? Hallo?"
"Sasuke, Hime. Kau harus memanggilku Sasuke mulai sekarang."
Entah mengapa, jantung Hinata berdebar setiap Sasuke memanggilnya 'hime'. Ia memejamkan matanya, lalu membenamkan kepalanya kebantal.
Apakah ia melakukan hal yang benar?
Apakah ia boleh membiarkan Sasuke memasuki hatinya seperti ini?
"Sasu.." gumam Hinata, "Sasuke.."
Hinata berharap Sasuke tak mendengarnya, Hinata berharap Sasuke sudah tertidur disana.
Pipinya bersemu.
"Hinata."
Hinata menggigit bibir bagian bawahnya keras, wajahnya, jantungnya, tubuhnya.
Terasa begitu panas.
"Hime."
.
.
.
T
B
C
.
.
.
