A Fairytale

One Little Secret


.

.

.

.

Neji menyukai Hinata, sejak dulu.

Rasa itu tidak pernah hilang meskipun Hiashi memisahkannya dari Hinata.

Ia tahu perasaannya pada Hinata berbeda dari rasa sayangnya pada Hanabi, saat Ia berada di bangku SMP. Ia tahu seharusnya perasaan ini tidak boleh ada, karena itu tak pernah mengatakannya pada siapapun juga. Pada akhirnya, ia hanya bisa menyimpan semuanya sendiri.

Neji menyukai Hinata, sebagai seorang perempuan. Meskipun gadis itu membencinya.

"Ohime, mengapa kau menyetujui pertunangan semacam ini? Bukankah sudah pernah kujelaskan padamu kalau Uchiha itu.."

"Aku tahu, Nii-san." Hinata memotong ceramah Neji, "Tapi aku tidak dalam posisi yang bisa menolak."

Neji menghela nafas. "Lalu?" tanyanya, meminta penjelasan. "Pertunangan adalah perjanjian antara kedua pihak. Itu berarti kau juga punya hak untuk menolaknya bukan?"

Lavender Hinata menghindar tatapan Neji, "Entahlah.." jawabnya ragu.

"Aku hanya ingin tahu lebih banyak tentang mereka, Uchiha, maksudku." Hinata akhirnya menemukan alasan yang tepat, tentang mengapa ia masih saja bertahan dengan rencana pertunangan ini. "Mereka menarik.. Dan.. kurasa mereka orang orang yang baik." Mengingat makan malam kemarin, Hinata tersenyum.

Kedua Hyuuga itu saling menatap. Neji yang heran dan Hinata yang gugup, mereka seperti sedang berperang lewat tatapan.

"Kenapa.. kau terlihat begitu terganggu, Neji-nii?"

Dari dulu, Hinata tak pernah menyukai Neji. Pria itu, menurut Hinata, ingin membuatnya terlihat lemah karena ia perempuan. Mungkin siasat agar Hinata tak menjadi Heiress, dan Neji yang diangkat menjadi Heir. Neji adalah sosok pengekang, sama seperti Hiashi. Tak pernah mengijinkan Hinata jatuh cinta, tak pernah mengijinkan Hinata berteman, ataupun memiliki teman.

Masa kecil Hinata begitu kelam karena ada Neji disana. Makanya ia membenci Neji.

"Tak perlu khawatir, Nii-san. Kurasa Uchiha Sasuke.. cukup kuat untuk menggantikanmu menjagaku." Jari lentik gadis itu menyentuh poci teh, "Aku juga, tak punya alasan untuk membatalkan pertunangan, putra bungsu mereka cukup tampan dan menyenangkan." Senyum masih melekat di wajah cantik itu, namun sebenarnya ia sangat malu telah mengucapkan kata kata tadi.

Menyenangkan? Ia bertanya pada dirinya sendiri, apa diledek dan digoda setiap hari termasuk dalam kategori 'menyenangkan'?

"Akan kubicarakan dengan paman Hiashi. Kuharap pertunanganmu ini bisa ditunda atau dibatalkan saja, aku tak ingin.."

Hinata hanya bisa tertawa, bahkan kata kata Neji hanya terdengar seperti suara hembusan angin kencang dikupingnya. "Mengapa kau selalu ikut campur, Nii-san?" Matanya berkaca kaca.

Neji kaget, ia bahkan tak bisa berkata apa apa. Mengapa Hinata tiba tiba berubah menjadi begitu emosional?

Gadis itu berlari keluar dari ruangan sambil menutupi wajahnya, beberapa pelayan mengikuti. Sementara Neji masih membisu, Hanabi yang melihat Hinata berlari keluar masuk lalu melemparkan bantal alas duduk ke kepala Neji.

"Tou-san lah yang mengatur pertunangan Nee-san, Neji!" Teriaknya.

"Lihatlah apa yang kau lakukan pada kakakku! Ia bahkan masih memanggilmu Nii-san walaupun kau selalu mengekangnya! Apa lagi yang kau inginkan darinya?!" kemarahan Hanabi memuncak. "Kau telah membuatnya menangis!" Baginya, Neji tak pernah menjadi bagian dari keluarga. Neji adalah anak dari adik Hiashi yang licik dan serakah, Hanabi tahu itu.

"Aku.."

"Berhentilah menyukai kakakku, Baka."

Hanabi menatap Neji yang masih menunduk, "Ia sudah bukan lagi milik Hyuuga sekarang."

.

.

A Fairytale

.

.

"Berhentilah mengunjungi kelasku tanpa alasan yang jelas, Senpai." Hinata memasang wajah stoic ketika Sasuke masuk ke kelas XI-1, sekaligus memberi penekanan pada kata 'senpai'.

"Oh, ayolah. Aku masih ingat dengan sangat jelas, Hinata. Bagaimana kau memanggilku ditelfon waktu itu." Sasuke memasang seringai serigalanya, menggoda. "Lagipula bentomu kelihatannya enak."

Hinata, sebagai manapun ia menutupinya, rona merah dipipinya tetap saja terlihat.

Kelas Hinata memang selalu kosong setiap jam istirahat, karena itulah Sasuke jadi sering datang kesana. Pria itu tidak terlalu suka keramaian.

Nampaknya Sasuke benar benar serius dengan kata katanya tentang Hinata yang ia klaim sebagai miliknya.

"Hime, kau terlihat banyak pikiran.. Apa yang ada di otakmu ini?" Tangan Sasuke mengacak surai indigo Hinata. Mereka duduk berhadapan.

"Bu-bukan urusanmu.." Lagi lagi, Hinata menepis setiap sentuhan simpatik Sasuke. Membuat Sasuke justru makin ingin menjahili Hinata.

Helaian rambut Hinata yang biasanya lembut, hari ini terasa sedikit kasar. Wajahnyapun terlihat kelelahan dan tidak segar. Hinata membuat semua orang yang melihatnya takut.

"Tentu saja urusanku! Bagaimana jika nanti kau beruban dan jadi keriput karena banyak pikiran?"Tanya si Uchiha bungsu. "Aku tidak mau memiliki pasangan yang wajahnya keriput! Cepatlah, ceritakan padaku."

"Uhh.. iya, iya.." Hinata akhirnya berhenti menyuap nasi kedalam mulutnya sendiri.

"Sudah beberapa hari ini aku kurang tidur, dan pagi ini aku tak sempat memakai conditioner. Menjauhlah dariku jika aku memang sangat mengerikan bagimu.." Jawab Hinata lemas. Ia menyingkirkan kotak bentonya, lalu menutupi wajahnya dengan tangan, menumpukan sebelah pipi pada meja.

"Hei, hei. Jika kau tidak memakannya, biar aku sqja yang habiskan." Sasuke mulai menyuap cumi bakar kedalam mulutnya. "Apa kau perlu bantuan dalam tugas CEO-mu?"

Hinata mendelik, ujung matanya memperhatikan Sasuke. "Kau sungguh sungguh atau sedang meledek?"

"Tentu saja sungguhan! Hm, ini enak." Sasuke menyuap lagi, "Uchiha tak pernah main main dalam menawarkan sesuatu."

Merasa tak diperhatikan, Sasuke mendekatkan sepotong katsu pada bibir Hinata. Membuat gadis itu terkejut, dan merona, tentu saja.

"Makanlah. Kau butuh banyak tenaga untuk menjalani harimu."

"Umm.." untuk sesaat, Hinata bingung harus melakukan apa.

"Ari.. gatou, Sen.. um.. Sa-Sasuke."

Ia mengunyah katsu yang disodorkan Sasuke padanya, namun pikirannya melayang layang entah kemana.

Sasuke melihatnya, Sasuke melihat dengan jelas kalau pikiran Hinata sedang tidak fokus.

"Kau benar benar lelah ya, Hime?" Kali ini Sasuke menyuapi Hinata dengan tahu.

.

.

A Fairytale

.

.

Shikamaru, Karin, Pein dan Sugeitsu memandang ketua mereka jengkel. Sejak beberapa bulan yang lalu, semua perjanjian mereka dengan client untuk menjadi pembunuh bayaran ditolak oleh sang ketua. Dan alasan dari semua penolakan itu adalah..

Hyuuga Hinata.

"Ketua, bisakah kita membunuh sekarang? Aku benar benar sudah haus ingin melihat darah." Pein mengelap lagi pisaunya yang sudah sangat mengkilat.

"Ketua! Sudah berapa lama kita tidak membunuh?! Kau ini sebenarnya kenapa, ketua? Apa kau sedang hamil?" Sugeitsu kini merancau.

"Sasuke-sama, aku sudah mendengar tentang pertunanganmu itu." Karin membenarkan letak kacamatanya, kata katanya menarik perhatian Pein dan Sugeitsu.

"PERTUNANGAN?" teriak keduanya.

"Kalian berdua sungguh berisik, diamlah sebelum Sasuke memotong kepala kalian." Shikamaru bangun dari tidurnya.

Dari antara mereka berempat, Shikamaru adalah satu satunya yang bersekolah di sekolah yang sama dengan Sasuke. Ia juga bergabung dengan Sasuke bukan karena butuh uang atau haus membunuh, melainkan karena Sasuke teman bersiasatnya sejak dulu. Hanya Sasukelah yang bisa menandingi kepintaran Shikamaru, dan hanya Shikamarulah yang bisa menjelaskan keinginan Sasuke tanpa Sasuke harus berbicara panjang lebar.

"Shika, apa benar ketua sudah bertunangan?! Kupikir gadis bernama Hyuuga Hinata itu hanya dijadikan mainan oleh ketua, seperti biasa!" Sugeitsu berapi api. Dia dan Pein pernah mengadakan taruhan tentang 'tipe wanita'nya ketua, tapi Sasuke selalu saja main main terhadap wanita. Tak pernah ada satupun yang benar benar berhasil memikat hati sang ketua.

"Ya, nampaknya begitu." Shikamaru melirik Sasuke yang tampak tidak peduli. "Hanya saja sepertinya kali ini Sasuke bertepuk sebelah tangan."

"Hei, Nara!" Sasuke akhirnya bersuara, "Apa maksudmu bertepuk sebelah tangan?" tanyanya kesal.

Shikamaru menyeringai melihat kemarahan Sasuke. "Seorang Uchiha membutuhkan waktu lebih dari 4 bulan untuk mendapatkan hati seorang gadis seperti Hyuuga Hinata, apa lagi namanya jika bukan bertepuk sebelah tangan?"

"Aku bukan berjuang mendapatkan hatinya,akuhanyasuka ketika melihatekspresibodoh diwajahnya ketika aku menggodanya!" Bela Sasuke.

"Cih," ledek Shikamaru, "Aku ragu kata katamu itu benar, Ketua."

"Begitukah? Lalu bagaimana jika gadis itu memang sudah jatuh cinta padaku? Apa yang akan kau lakukan?"

"Aku? Apa yang akan aku lakukan? Gadis itu bahkan menolak pertunangannya denganmu bukan? Dia tak mungkin menyukaimu!"

"Tiba tiba saja aku ingin membunuh beberapa orang." Sasuke menatap Shikamaru dengan tatapan brutal. "Malam ini kita taruhan, Nara. Aku dan kau, siapa yang berhasil membunuh Orochimaru.."

"He.. Kau kira ular itu mudah? Itu namanya bertaruh nyawa, Sasuke."

"Jika aku menang, kau harus bersujud dihadapanku, memohon ampun."

"Dan jika aku yang menang, kau harus menyerahkan setengah perusahaanmu padaku. Dan menyatakan perasaan cintamu pada Hyuuga Hinata secara langsung. Bagaimana?"

Darah Sasuke sudah naik sampai ke ubun ubun, ia tak tahan lagi.

"Baiklah!" jawab Sasuke.

Dia harus menang. Harus.

Perasaannya pada Hinata, tak boleh ada seorangpun yang tahu.


.

.

.

T

B

C

.

.

.