"The universe is a continuous web.
Touch it at any point and the whole web quivers."
– Stanley Kunitz
.
.
.
flashback:
Shikamaru menguap bosan. Dalam hidupnya, tak ada kegiatan yang lebih membosankan daripada menemani ibunya berbelanja. Menurutnya, ibu ibu memang monster penghabis uang terbaik, dan mall adalah pencernaan mereka.
Wajah Shikamaru sudah membentuk lipatan lipatan hasil suntik serum kebosanan, sementara ibunya masih saja memilih milih baju di sebuah toko.
"Shika, tolong pegang dulu." Ibunya menyodorkan beberapa helain baju.
Sial, kini ia lebih terlihat seperti seorang pelayan toko dari pada pengunjung toko.
"Ibu.. Sudah berapa banyak baju yang kau beli seharian ini?" kening sang Nara muda itu berkerut kerut.
.
.
.
"Nara Shikamaru!" Anko, wali kelas X-1 Konoha International memanggil Shikamaru.
"Sampai kapan kau mau tidur seperti itu? Apa kau pikir sekolah adalah tempat tidurmu?!" dia memarahi Shikamaru dengan suara lantang.
Seluruh siswa disana ketakutan, termasuk anak anak yang lebih nakal seperti Naruto dan Kiba. Suasana kelas tiba tiba menjadi sunyi karena teriakan Anko tadi. Siswi siswi mulai berbisik, melirik Shikamaru dengan tatapan sinis.
Shikamaru merengangkan tubuhnya, lalu menguap. Ia tidak peduli pada anak anak lain, apa lagi para gadis penggosip.
"Nara!" Lagi lagi, Anko berteriak memanggil Shikamaru.
"Ya, Sensei." Jawab Shikamaru santai.
"Keruanganku setelah bel pulang sekolah!"
Shikamaru menghela nafas, mungkin sudah saatnya ia memakai stimulan agar tidak lagi mengantuk dan mudah bosan. Hm, sepertinya ia akan benar benar membeli stimulan setelah keruangan Anko nanti.
.
.
.
Jam istirahat sudah hampir habis, namun kelas X-1 masih kosong. Hanya ada Shikamaru disana, memikirkan tentang stimulan apa yang akan ia pakai dan efek sampingnya, tetap sambil tidur tentunya.
Ia sendiripun kadang bertanya tanya, mengapa otaknya tak pernah mau berhenti berpikir sementara matanya terus saja ingin menutup. Kelainan gen? atau mungkin karena perubahan DNA? DNA manusia mirip dengan babi bukan? Karena itukah manusia menjadi pemalas?
Shikamaru memikirkan begitu banyak hal walaupun matanya terpejam, wajahnya tetap terlihat sedang berpikir bahkan dalam keadaan tertidur pulas.
"Kau selalu tidur kemanapun kau pergi, apa kau tidak bosan?" Sebuah suara mengacaukan pikiran pikiran yang sudah berlalu lalang di otak Shikamaru dari tadi.
Matanya terbuka sedikit, melihat siapa yang berani mengganggu tidurnya.
"Bukan urusanmu Uchiha."
Shikamaru berdiri, bermaksud membolos kelas berikutnya dan melanjutkan tidur ditempat lain.
"Atau semua terlalu membosankan bagimu sehingga kau lebih memilih tenggelam dalam semua pemikiranmu sendiri?" Tanya Sasuke, Sang Uchiha angkuh.
Shikamaru tahu pria ini. Type pria yang selalu menarik perhatian gadis gadis kemanapun kakinya melagkah. Mesin penghabis uang, Shikamaru mengingat ibunya lagi.
"Untuk apa semua ini, Uchiha?" tanyanya balik.
"Mereka bilang kau pintar," Sasuke berjalan mendekat. "Lalu mengapa masih bertanya?" lanjut Sasuke.
"Karena aku bukan peramal." Jawab Shikamaru enteng.
"Kemungkinannya?"
"Kau menyukaiku, mungkin."
"Apa wajahku tampak seperti seorang gay?"
"Hm. Sedikit."
"Sialan kau Nara."
"Apa yang kau inginkan, Uchiha?"
Sasuke menyerahkan berkas berkas pada Shikamaru, membiarkan Shikamaru memeriksanya terlebih dahulu.
"Ayahmu adalah seseorang yang penting bagi kepolisian, aku tahu itu." Kata Sasuke setelah Shikamaru selesai memeriksa berkas.
"Darimana kau dapatkan ini?" Shikamaru menatap Sasuke tajam.
"Mata mata Uchiha. Sebenarnya berkas berkas ini hanya bagian tidak penting dalam pekerjaan mereka, namun karena aku ingat ada seorang Nara dikelasku, kurasa ini penting bagimu."
Mereka terdiam, Sasuke berpikir dan Shikamaru juga berpikir. Mereka berdua berpikir. Bedanya, kali ini pikiran Shikamaru lebih kacau daripada pikiran Sasuke.
Selembar foto jatuh dari map berkas yang dipegang Shikamaru, Sasuke melihatnya.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Entahlah, aku.." wajah Shikamaru yang biasanya stoic – mengantuk itu kini berubah khawatir, "Aku tak pernah memikirkan ini." Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Aku bisa membantumu jika kau mau." Tawar Sasuke.
Shikamaru menatap Sasuke serius. Bukan, bukan karena mereka menyimpang. Hanya saja, seumur hidupnya, Shikamaru tak pernah menerima bantuan orang lain. Dialah yang biasanya membantu.
Tapi kali ini berbeda, ia tahu.
Ayahnya, Nara Shikaku, seorang penyidik handal di kepolisian, kini akan menjadi target utama kelompok yakuza Jepang.
Apa yang bisa ia lakukan jika ia sendirian? Ayahnya bahkan tidak pernah mau menerima telfon dan juga jarang sekali pulang ke rumah.
Dengan penuh keputus asaan, Shikamaru akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran Sasuke.
"Terima kasih kau sudah mengingatku, kawan." Shikamaru meremas map ditangannya.
" Tolong bantu aku menyelamatkan si penyidik bernama Nara itu. Aku bergantung padamu."
Sasuke melemparkan kunci mobil pada Shikamaru, "Ayo kita lakukan bersama." Jawab Sasuke.
Setelah saling melemparkan senyum meremehkan, mereka berdua berlari keluar dari kelas secepat mungkin, tak ingin bel segera berbunyi.
Disana, di Konoha. Ada seorang Nara Shikamaru yang hidupnya tak akan pernah sama lagi sejak mengenal Uchiha Sasuke.
Karena sang Uchiha bungsu itu, telah menumbuhkan satu bibit di hati Shikamaru. Yaitu bibit keinginan untuk mempercayai orang lain, yang sebelumnya tak pernah ada didalam sana.
end of flashback.
.
.
.
.
A Fairytale
Reckless
.
.
.
Mobil ferarri hitam Shikamaru berhenti disebuah sisi jalan yang gelap. Didepan mobil, ada sebuah tiang listrik pribadi milik mansion. Sasuke keluar sebelum Shikamaru, memeriksa keadaan sekitar. Shikamaru mengutak atik kabel kabel di tiang listrik, mengeluarkan tang, siap memotong beberapa kabel.
"Dalam hitungan ketiga, kita hanya punya waktu 30 menit sebelum generator listrik otomatis menyala." Shikamaru mengingatkan, "Dan jika rencana ini tidak berhasil, jalankan rencana b." Ia memotong kabel terakhir, satu persatu lampu penerang jalan mati.
"Satu."
.
Lampu disisi kanan jalan sudah mati sepenuhnya.
.
"Dua."
.
Kini lampu disisi kiri jalan.
.
"Tiga."
.
Lampu seluruh mansion Orochimaru mati.
Mereka berdua berlari, memanjat pagar listrik tinggi yang kini tak berdaya.
Siapa yang akan mengira kalau pembunuhan berencana seperti ini ternyata bisa dilakukan oleh siswa sekolah tinggi?
.
.
A Fairytale
.
.
"Si-siapa disana?" Hinata sudah bersiaga dengan bat pemukul baseball di tangannya.
Jam dinding apartmentnya sudah menunjukan pukul 4 subuh, saat alarm keamanan berbunyi. Hinata hanya sendirian, dan ini bukan mansion Hyuuga yang penuh cctv dan full bodyguard. Ia ketakutan. Ia sangat ketakutan. Seharusnya malam ini ia tinggal saja di mansion Hyuuga, seharusnya ia tak perlu pulang ke apartmentnya.
"Siapa disana?" Seharusnya Hinata juga memilih apartment yang lebih mewah saja agar mendapat sistem keamanan terjamin.
"Kutanya siapa disana!" ia akhirnya berteriak.
Keheningan melanda setelah Hinata berteriak. Suasana mencekam membuat bulu kuduk Hinata berdiri. Alarm keamanan tak lagi berbunyi.
Masih merutuki semua kebodohannya, kewaspadaan Hinata justru meningkat. Ia mundur beberapa langkah kebelakang, dan mengencangkan genggamannya pada bat.
"Hi.. nata." Sebuah suara dari luar pintu hampir saja membuat Hinata mati terkejut.
"I.. ini a-ku." Hinata terbelalak, bat ditangannya jatuh begitu saja ketika ia mendengar suara dari luar itu.
"Sasuke!" Dengan segera, Ia membuka pintu apartmentnya. "Astaga! Sasuke!" darah menetes dari abdomen Sasuke, mengotori karpet apartment. Tubuh kekar pria itu langsung jatuh tepat dalam pelukan Hinata.
"SASUKE!"
Ia membopong Sasuke ke dalam, menutup pintu, lalu membaringkan tubuh besar itu di sofa.
"Sasuke, kau masih bisa mendengarku?" Hinata menepuk nepuk wajah Sasuke. Kini baju Hinata pun berlumuran darah Sasuke.
"Sasuke!"
Ia meraih telfonnya, menekan nomor darurat. Tangannya gemetar hebat. Nada sambung memenuhi pendengaran Hinata.
"Sasuke, bertahanlah!"
.
.
A Fairytale
.
.
Dokter bedah yang menangani Sasuke menjelaskan kondisi Sasuke dengan wajah cukup tenang.
Ada 3 peluru yang bersarang di lengan, perut dan punggung Sasuke, namun tak ada yang mencederai bagian bagian vital karena pria itu nampaknya memakai lapisan anti peluru dibalik bajunya.
Sasuke akan tersadar sebentar lagi, itulah yang dikatakan Shizune, dokter bedah yang menangani Sasuke.
Dan disinilah Hinata, 2 hari tanpa tidur untuk menemani Sasuke yang belum juga membuka matanya. Menyalahkan dokterpun tak lagi dapat menyelesaikan masalah.
Tak ada yang tahu mengapa Sasuke belum sadar juga hingga saat ini.
Hinata memperhatikan wajah Sasuke intens, berharap pria itu akan bangun tiba tiba dan mengagetkannya sambil menggoda seperti biasa, berharap ia bangun dan berkata 'Aku baik baik saja, Hime!' dengan wajah jengkel, seperti biasa.
"Uchiha Sasuke.. mengapa kau tidur lama sekali?" Hinata menyentil kepala Sasuke pelan, "Kau sudah berjanji akan membantu pekerjaanku tempo hari, kenapa sekarang malah berbaring disini?" ia menghela nafas, menengadah menatap langit langit kamar rumah sakit. Detak jantung, tekanan darah, struktur tulang, kondisi saraf otak, semuanya baik. Tapi Sasuke tak juga mau bangun.
"Kau tahu," Gadis itu masih menatap putih dinginnya langit langit rumah sakit.
"Aku tak terbiasa lagi sendirian sejak aku mengenalmu."
Suasana dikamar itu sungguh tenang, wajah Sasuke begitu damai seperti anak bayi yang tidur dipelukan ibunya. Nafas pria itu teratur, namun tak ada satupun tanda tanda gerakan fisik yang ia tunjukan. Ia benar benar membuat Hinata makin khawatir.
"KETUAA!" Suara berisik dari luar ruang rawat VIP mengagetkan Hinata.
"KETUAA! KAMI SANGAT MENGKHAWATIRKANMU! KETUA! IJINKAN KAMI MASUK!" Suara itu muncul lagi.
Seseorang mengetuk pintu dan dengan perlahan masuk, menemui Hinata.
"Nona, ada 2 orang pria dan seorang wanita yang sangat mengganggu diluar sana, mereka mengaku sebagai teman tuan Uchiha." Sang bodyguard berjas hitam bisa melihat nonanya terdiam tanpa suara seakan tak mendengar, lalu dia menunduk hormat, "Perintah anda, Nona."
Hinata berdiri, tersenyum dengan sisa sisa tenaganya. "Hm, Aku akan menemui mereka nanti. Terima kasih sudah memberitahuku." Jawab Hinata seraya berjalan keluar kamar.
Sang Bodyguard membungkukan tubuh kepada Hinata, setelah itu berbalik kembali dan menjaga Sasuke.
.
.
A Fairytale
.
.
"Orochimaru?" kening Hinata berkerut tak mengerti, "Apa? Mati?" kedua manusia seram didepannya berbicara bersamaan sehingga sulit sekali menangkap apa yang mereka katakan.
"Ah, maaf. Aku kurang paham.." Ia merasa membuang terlalu banyak waktu, ia ingin kembali menemani Sasuke.
"Tunggu dulu, nona! Biar aku yang menjelaskannya, nona Hyuuga." Seorang gadis bersurai merah dan berkacamata mengangkat tangannya seakan ini adalah sebuah kuis. Kedua pria disana terdiam, begitu juga Hinata.
"2 hari yang lalu, ketua kami, Sasuke-sama dan Nara Shikamaru, teman kami, mengadakan taruhan tentang siapa yang lebih hebat. Ketua kami menantang Nara untuk membunuh Orochimaru, seorang ketua yakuza terkenal di Jepang.
"Teman kami, Nara, sekarang ia juga mengalami luka serius seperti ketua. Malam itu kami tidak ikut masuk ke dalam mansion Orochimaru, kami mengawasi keadaan diluar sampai Nara keluar dari sana dalam keadaan lumayan parah dan tidak bisa berkata apa apa, karena itu kami tidak tahu apakah Orochimaru sudah mati atau belum. Kami juga tak menemukan tanda tanda keberadaan ketua lagi disana, kami pikir ketua sudah berhasil lolos.. Tapi ternyata.."
"Sudah, cukup.." Hinata menghentikan Karin. "Aku mengerti sekarang." Senyum Hinata membuat suasana hati ketiga orang disana menjadi sungkan.
Mereka tak pernah berpikir ketua mereka ternyata menyukai gadis semacam Hinata yang begitu sopan, sederhana, dan keibuan. Mereka merasa bersalah, karena tidak bisa menjaga ketua dengan baik.
"LALU SEKARANG, KALIAN BERANI DATANG KESINI DAN MENGGANGGU KETENANGAN SEORANG PASIEN YANG HAMPIR TERLAMBAT DISELAMATKAN KARENA KECEROBOHAN KALIAN HAHH?!" Hinata mengacungkan sebuah pisau roti.
Kurasa 2 hari tanpa tidur sudah membuat otak Hinata menjadi sedikit koslet.
Mereka semua terkejut. Semua. Bahkan orang orang disekitar kafetariapun terdiam mematung memandangi Hinata kaget.
"KALIAN BERTIGA!" Sang gadis Hyuuga itu menunjuk wajah Karin, Pein, dan Sugeitsu satu per satu menggunakan pisau roti. "IKUT DENGANKU!"
Bagaimana bisa seorang gadis manis seperti tunangan ketuanya ini dalam sekejap berubah menjadi begitu menyeramkan? Mereka bertanya tanya.
.
.
.
T
B
C
.
.
.
Thanks for reading, don't forget to leave a comment. Muah.
