A Fairytale

Space For Two


.

.

.

.

Ruang rawat Sasuke kini diisi oleh beberapa wajah baru. Pein, Sugeitsu, dan Karin, mereka akhirnya dapat menjenguk ketua mereka setelah dimarahi Hinata habis habisan. Sugeitsu memperhatikan si gadis tunangan ketuanya tanpa berkedip. Ia masih tak menyangka ketuanya ternyata berhasil ditaklukan oleh gadis semacam Hinata.

"Hyuuga-san, mengapa hanya kau yang menjaga Sasuke-sama? Kemana yang lainnya?" Karin bertanya sambil menuangkan teh kedalam cangkir Hinata.

"Mikoto baa-san hanya bisa menjenguk Sasuke di pagi hari, sedangkan paman Fugaku hanya bisa menjenguk di malam hari. Mereka sungguh sibuk." Hinata menjelaskan dengan senyum dibibirnya, namun senyum itu tak terlihat dimatanya.

"Hei! Kembalikan itu padaku!" teriak Pein.

"Aku minta satu saja, minggir dulu!" Sugeitsu berlari lari kecil menghindari Pein. Mereka berebut tissue basah.

"itu satu satunya yang tersisa! Baka!" Pein masih mengejar Sugeitsu dan mencoba meraih tissue tersebut.

"Kau bisa pakai bekasku!" mereka terus berlari mengelilingi ruangan, berebut tissue basah.

"Punyaku!"

"Punyaku!"

"Punyaku!"

"Ini punya.. HOAH!"

Sugeitsu jatuh tersandung kursi roda, dan tissue basahnya melayang dengan cepat kearah.. Sasuke.

Plop!

Mendarat tepat diwajah tampan sang Uchiha bungsu yang masih tak sadarkan diri.

"SUGEITSU!" Karin dan Hinata berteriak bersamaan. Sugeitsu mematung, lalu tersenyum.

"Hehehe, maaf. Aku tersandung.." ia menunjukan gigi giginya yang runcing.

Segera, Hinata menyingkirkan tissue itu dari wajah Sasuke. "Hari sudah mulai gelap, kurasa sebentar lagi paman Fugaku akan datang. Apa kalian mau membeli makan atau minum dulu? Tak perlu sungkan." Tawar Hinata, mengusir secara halus.

Mereka langsung mengerti apa maksud Hinata. Mereka terdiam, merasa diri tak berguna. Terutama Sugeitsu.

"Maafkan kami, Hyuuga-san." Ucap mereka bersamaan. "Kami akan pulang sekarang, maaf karena sudah membuatmu repot."

Baru saja mereka akan keluar dari ruang rawat, Sebuah suara pria terdengar dari belakang Hinata.

"Tunggu dulu, Sugeitsu!"

Refleks, semua yang ada disana menoleh ke sumber suara. Termasuk para bodyguard didepan pintu kamar tersebut.

"Kau harus mati karena sudah membuat wajahku basah, dasar idiot!"

.

.

A Fairytale

.

.

"Kau bangun hanya karena merasa wajahmu basah. Sementara aku harus menemanimu selama 2 hari tanpa tidur seperti orang bodoh. Apa kau begitu membenciku, Sasuke?" Wajah lelah Hinata bercampur dengan aura gelap disekelilingnya, membuat Sasuke bergidik ngeri.

Hinata duduk dikursi disamping tempat tidur Sasuke, mereka saling menghindari kontak mata. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan oleh Hinata, tapi ia tak berani.

Apa yang terjadi hingga kau bisa tertembak?

Dari mana kau tahu alamat apartmentku?

Apa lukamu masih sakit?

Apa kau tahu, kalau aku begitu khawatir?

"Aku tidak pernah membencimu, Hinata." Sasuke menghela nafas pelan, "Justru akulah yang seharusnya bertanya.."

Ia sedikit menunduk, dan menutupi wajahnya dengan tangan. Menutupi rona merah di wajah tampannya.

"Apa kau.. masih membenciku?"

Hinata mengedipkan matanya, sekali, dua kali. Lalu, setelah menyadari maksud dari kata kata Sasuke, wajahnya pun ikut memerah juga. "I-itu.."

"Aku.."

Panas dipipi Hinata tak lagi dapat ditoleransi. Ia pun akhirnya menyerah, dan menempelkan pipinya pada pinggir kasur. Berharap bisa menurunkan suhu permukaan kulit wajahnya dengan cepat.

"Apa kau masih ingin membatalkan pertunangan ini?" Tanya Sasuke dingin. Matanya menyiratkan bahwa ia terluka. Ia terluka mengingat betapa Hinata menolaknya mati matian.

Tapi melihat Hinata yang kini berpura pura tidak mendengar, disamping tangannya, ia sendiri tak dapat menahan keinginannya untuk membelai surai indigo itu.

Perlahan, ringan, dan lembut.

"Sa.."

"Aku tak ingin mendengar jawabanmu." Potong Sasuke, "Biarkan saja begini."

"Lagipula.."

Onyx Sasuke mendelik kearah sofa tamu yang berada tepat di sebrang tempat tidurnya. "Aku ingin menghukum para pengacau ini dulu."

Sugeitsu, Pein, dan Karin menegang. Tangan mereka gemetar.

.

.

A Fairytale

.

.

Mansion Uchiha malam ini dijaga oleh berlusin lusin bodyguard, dan polisi.

Lampu lampu mobil polisi berputar dan membuat keadaan di sekitar mansion semakin tak nyaman.

Hinata turun dari mobil sedan bersamaan dengan Sasuke. Bagi Hinata, melihat semua kekacauan ini sama saja seperti mendapat hadiah didalam hadiah yang ternyata berhadiah sebuah hadiah. Sungguh mengejutkan, sungguh diluar perkiraan, sungguh membingungkan.

Ia lalu memandang Sasuke, berharap pria itu mengerti pertanyaan dalam otaknya walau ia tak mengatakan apa apa.

Sasuke disana, hanya menatap pintu masuk mansion cukup lama sebelum akhirnya melangkahkan kaki kedalam. Wajahnya tak terlihat takut, ia juga tidak gemetar. Langkahnya terkesan santai dan tegas.

Apa Sasuke akan ditangkap dan dipenjarakan karena pembunuhan berencana? Jantung Hinata seakan ingin berhenti saja ketika pertanyaan ini muncul dibenaknya.

Tidak, seseorang seperti Uchiha Sasuke tidak mungkin ditahan oleh kepolisian. Tidak akan.

"Tuan Uchiha?" panggil seorang pria berjas abu, Sasuke menghentikan langkahnya, namun tak menoleh sama sekali. "Aku adalah penyidik kepolisian, Nara Shikaku. Bolehkah aku menanyakan beberapa pertanyaan padamu didalam?" pria bernama Shikaku itu mempersilahkan Sasuke berjalan didepannya.

Hinata mengenal nama itu, Nara.

Bukankah teman Sasuke yang juga terlibat dalam pembunuhan itu bernama Nara?

Nara Shikamaru, Hinata ingat betul.

Shikaku melihat Hinata lewat ujung matanya. Calon menantu Uchiha memang selalu yang terbaik, pikir pria itu. Bahkan disaat seperti ini ia tak mundur dan tetap mendampingi sang Uchiha bungsu, tidakkah gadis ini mengerti apa yang akan dihadapinya?

Ruang tamu mansion terlihat tegang. Disana, Fugaku dan Mikoto sudah menunggu entah berapa lama.

Jantung Hinata berdegup kencang, entah mengapa.

Sasuke duduk bersama Hinata disampingnya, sementara Fugaku disofa yang lebih kecil, dan Mikoto disebelah Shikaku.

"Jadi, Uchiha Sasuke," tanpa basa basi, Shikaku memulai pertanyaannya. "Bagaimana kau menjelaskan keterlibatanmu dalam pembunuhan berencana ini?"

Mata Shikaku menatap Sasuke, sama seperti cara Shikamaru menatap.

"Aku yang membunuhnya." Jawab Sasuke datar.

Shikaku mendengus, sekarang ia tahu mengapa putranya senang berteman dengan Uchiha bungsu didepannya. Putranya dan Uchiha ini, keduanya sama sama tak punya rasa takut.

"Kalau begitu kau dalam masalah yang besar, nak."

"Hn."

"Apa benar yang melatar belakangi pembunuhan ini hanyalah sebuah taruhan?"

"Tidak," Jawab Sasuke penuh oercaya diri, "Kalian para polisi tak berani menyentuhnya, walaupun kalian sangat ingin. Karena itu aku membantu kalian."

.

.

A Fairytale

.

.

"Kau seharusnya tinggal di mansion Uchiha dulu untuk sementara, Sasuke." Hinata meletakkan dua cangkir teh hangat dimeja.

Tidak seperti sebelumnya, Sasuke kini tidak banyak bicara dan ekspresinya menyebalkan. Hinata sangat heran, namun memilih untuk tetap diam. Ia juga sudah cukup lelah dengan semuanya.

Ia sudah cukup bahagia melihat Sasuke bisa kembali sadar.

"Aku akan mandi duluan, setelah itu membantumu membersihkan diri. Ja-jangan tidur dulu sebelum aku kembali, kau mengerti?" dengan membawa handuk dan baju ganti, Hinata berjalan kearah kamar mandi. Malam ini ia akan menginap di apartment Sasuke, untuk merawatmerawat dan memastikan pria itu bisa melakukan aktivitas dengan normal atau tidak setelah keluar dari rumah sakit.

Hinata berjalan gontai mengingat ingat sudah berapa malam ia tidak tidur dengan baik, sampai ia tak menyadari kalau Sasuke mengikuti tepat dibelakangnya.

"Hinata.."

Bulu kuduk Hinata berdiri, ia kaget melihat Sasuke berada dibelakangnya.

"A-ada apa?"

Belum sempat ia membuat jarak, Sasuke sudah menariknya kedalam sebuah pelukan. Wajah Hinata memerah, jantungnya berdegup terlalu kencang sehingga ia lupa bernafas. Tubuh Sasuke begitu hangat, seakan memaksanya terlelap disana.

"Sa-Sasuke.. apa yang kau.." Hinata tergagap, degup jantungnya yang yang membuatnya jadi begini. Sasuke, Uchiha Sasuke, selalu berhasil membuat Hinata merona dan berdebar. Selalu.

Ah, betapa Hinata merindukan pria ini.

Tunggu dulu.

"Sa-Sasuke, kau sudah dua hari tidak mandi dan sekarang berani beraninya kau memelukku dengan tubuh kotormu itu.." kata Hinata sambil mendorong bahu Sasuke dengan wajah menyeramkan hasil dari kurang tidur.

"Kau menyeramkan, Hinata." Sasuke terkekeh, "Kau sendiri, wajahmu lusuh dan lelah. Siapa lagi yang mau memelukmu selain aku, hm?"

Itu tawa pertama Sasuke sejak pertama ia bangun!

"Le-lepaskan! Sasuke.." Sasuke malah mengeratkan pelukannya, membuat Hinata kesulitan bernafas.

"Tapi aku senang kau mau menemaniku melewati masa masa sulit."

Wajah Hinata makin memerah, Sasuke yang sedang tersenyum dan tertawa adalah salah satu keajaiban dunia menurutnya.

Sasuke akhirnya melepaskan Hinata, lalu berbalik, kembali ke ruang tamu masih sambil terkekeh kekeh. Hinata mematung memperhatikan pundak Sasuke dengan tatapan tak percaya.

"Oh iya, saat di rumah sakit.." Pria itu mengingat ingat, menengok kembali pada Hinata yang masih terdiam dissna.

"Aku melihatnya samar, tapi.. kupikir aku bertemu denganmu dalam mimpi."

"Ha! Kau bahkan bisa bermimpi walau kau sedang menyusahkan orang lain!" Protes Hinata.

Sasuke tersenyum melihat ekspresi Hinata, "Aku juga, Hinata."

"Huh?"

"Aku tak terbiasa lagi sendirian sejak aku mengenalmu."

Dimana Hinata pernah mendengar kata kata itu ya? Sepertinya familiar.

"Karena itu, jangan pergi." Sasuke seakan menciptakan atmosfer romantisme musim semi disekeliling mereka berdua. "Jangan membenciku." Kata Sasuke, "Jangan lagi memaksaku membatalkan pertunangan."

Mungkinkah?

Perasaan ini, perasaan yang meletup letup dihati Hinata ini,

Cinta?

"Tetaplah bersamaku, Hinata."


.

.

.

T

B

C

.

.

.

Thanks for reading, and give me review ;)