A Fairytale

Word


.

.

.

.

"There is nothing sweeter in this sad world

than the sound of someone you love calling your name."

- The Tale Of Despereaux, by Kate DiCamillo

.

.

"Sasukee!" Hinata mengguncang guncang tubuh Sasuke brutal, "Ayaaam, cepat bangun! Perbanmu harus diganti! Cepat bangun dan buka kaosmu.." Ternyata sulit sekali membangunkan Sasuke. Hinata sudah mencoba segala cara, mulai dari cara yang sopan, cara halus ala seorang ibu, sampai terpaksa menaruh jam weker dikuping pria itu. Semuanya tidak berhasil.

"Sasuke, jika kau bangun.. ma-maka aku akan.." tangan Hinata sudah bersiap untuk menjewer kuping Sasuke.

Seketika itu juga, tangan Sasuke menepis pelan tangan Hinata, memberi tanda bahwa dirinya sudah tersadar.

"Hn, Aku sudah bangun." Jawab Sasuke.

Hinata tersenyum lega. Ia lalu membantu Sasuke bangkit. Siapa juga yang mau menerima amarah seorang Uchiha Sasuke pagi pagi begini.

Sambil meringis kecil, Sasuke berhasil duduk dipinggir tempat tidurnya.

"Sasuke? Kau baik baik saja? Bagaimana lukamu?" Dengan khawatir, Hinata mendekatkan wajahnya pada Sasuke. Memastikan keadaan pria tersebut.

Sebuah seringai kecil tercipta diwajah tampan itu. "Khawatir padaku, hm?" Sasuke menarik tubuh Hinata dalam pelukannya.

"Hei! Hei! Ja-jangan terlalu dekat! Kau membuatku susah bernafas!" Oceh Hinata.

Makin keras rontaan Hinata, makin kencang dekapan Sasuke. Tidak berhenti sampai disana saja, Sasuke juga meniup kuping Hinata hingga Hinata merinding. "Selamat pagi, hime." Bisiknya, dengan nada menggoda.

Sekuat tenaga, Hinata mendorong tubuh Sasuke. "Su-sudahlah, makin lama kau makin aneh. Ku-kurasa aku harus menelfon dokter untuk melakukan scanning otak." Hinata berjalan meninggalkan Sasuke sendirian. Tentu saja, karena ia tak mau Sasuke melihat wajahnya yang sudah semerah tomat.

AC ruang keluarga apartment tersebut berbunyi 'bip', menandakan perubahan suhu otomatis.

"Apa salahku?" Tanya Sasuke pada dirinya sendiri, sebelum beranjak ke kamar mandi.

Sasuke membasuh wajahnya dengan cepat, memperhatikan pantulan wajah pada cermin didepannya cukup lama. Diperhatikannya juga perban yang menempel pada beberapa bagian tubuh atletisnya. Ia tahu apa yang terjadi pada tubuhnya, namun nyeri yang ia rasakan ini sungguh sangat mengganggu. Sepertinya bekas jahitan.

"Sedang mengagumi dirimu sendiri?" Hinata berdiri disana, menyandar pada daun pintu kamar mandi yang terbuka. Ditangannya ada perban baru, antiseptik, dan kapas.

"Hn. Aku sudah beberapa hari tidak melihat wajahku sendiri, aku merindukannya."

"Na-narsis sekali! Ayo selesaikan ini dengan cepat agar aku bisa keluar membeli bahan makanan."

Mereka berdua berdiri berhadapan, Hinata dengan wajah sedikit merona, dan Sasuke yang setengah telanjang. Lihatlah betapa sempurnanya otot otot itu, Hinata!

Setelah meletakkan semua barang yang ia bawa di meja penyangga wastafel, tangan Hinata mulai menarik perban dibagian dada bidang Sasuke perlahan tapi pasti. Menahan semua rasa malu dan gugupnya, ia berusaha tetap tenang.

"Kau.. seharusnya memakai 2 lapis rompi anti peluru ji-jika tahu pelurunya begitu berbahaya, kenapa hanya pakai satu?" Tanya Hinata tanpa melihat wajah Sasuke.

"2 lapis?" Sasuke mengulang kata kata Hinata. "Kau pikir memakai rompi anti peluru itu nyaman?"

Perban didaerah dada Sasuke telah selesai diganti, dan kini giliran perban dibagian lengan.

"Aku tidak pernah mencobanya, jadi aku tidak tahu.." jawab Hinata sebal. Ia hanya mencoba membuat bahan pembicaraan dengan Sasuke, tapi pria itu selalu saja membuatnya terpojok.

"Rompi itu berat dan tebal, jika kau tidak terbiasa, gerakanmu akan menjadi kaku." Jelas Sasuke.

"Tapi pelurunya tetap saja tembus." Hinata mengerucutkan bibirnya, "Dan pada akhirnya kau menyusahkanku."

Amarah Sasuke tiba tiba memuncak, ia meraih tubuh Hinata yang berdiri tak terlalu jauh darinya. Memeluk Hinata posesif, lalu mendudukannya pada meja penyangga wastafel. Hinata meronta, namun rontaan tak ada artinya bagi tubuh kekar Sasuke.

Sasuke mendekatkan wajah Hinata pada wajahnya, membuat gadis itu merona karena kaget dan malu yang bercampur. "Apa, apa yang kau inginkan?!"

"Kau keberatan?" bisik Sasuke, "Apa kau merasa keberatan karena harus merawat calon suamimu ini, Hinata?"

Hinata gemetar, "Aku.. a-aku.."

Ia bisa merasakan sentuhan Sasuke sekarang sangat berbeda dengan yang biasanya, seperti orang lain. Walau ini memang Sasuke.

"Aku tidak.. bilang begitu.." Air mata Hinata menggenang di pelupuk matanya, ia ketakutan, dan sedih, dan malu..Walau terus menerus meronta, tenaga Sasuke tetaplah lebih kuat. Jadi ia tak lagi melakukannya. "Sasuke.. K-kau.. Hmpphh!"

Lidah Sasuke menjilat bibir Hinata tanpa aba aba, kemudian Sasuke menempelkan bibirnya pada bibir Hinata yang kini basah. Melumat, menghisap dan terus meminta lebih. Lidah Sasuke mengabsen deretan gigi Hinata, seakan ingin Hinata membalas ciuman tersebut.

Tangan Sasuke yang bebas juga menjelajahi bagian sensitive Hinata tanpa perasaan, membuat Hinata hanya bisa mendesah tertahan. Entah sejak kapan Sasuke telah berhasil membuka bra dan celana dalam Hinata.

"Ahh..hnnn.. Sa-Sasuu.."

Sasuke bergerilya didaerah sensitive Hinata tanpa henti.

"Katakan padaku, Hinata.." lagi lagi, Sasuke berbisik ditelinga Hinata. "Kau keberatan?" lidah Sasuke menjilat leher jenjang Hinata, membuat gadis itu menegang.

"Bagaimana jika kita melanjutkan pembicaraan ini di kamar saja? Hmm?"

"Hnnn..mmhh, tidak! Ahn! Ja-jangan!"

Sasuke menggendong Hinata menuju ke kamar.

Akal sehat Hinata tak lagi bekerja. Ia seharusnya tidak mengeluh, ia harusnya tidak mengatakan kata kata yang menyinggung Sasuke. Ia harusnya..

Ia harusnya jujur pada dirinya sendiri.

"He-Hentikan!" Teriak Hinata, tangannya mendorong Sasuke sekuat tenaga. Tubuh Hinata jatuh sangat keras pada permukaan lantai yang basah dan dingin, mengagetkan Sasuke.

"Hinata! Kau baik baik saja?!"

Dengan nafas yang terengah engah, Hinata segera mencari sesuatu yang bisa menutupi tubuh polosnya. Rambut dan wajahnya berantakan. Sayangnya, ia tak menemukan apapun, dan hanya bisa menutupi dirinya dengan tangannya sendiri.

Gemetar, malu, dan takut.

Sasuke terdiam, ia tak tahu Hinata bisa begitu ketakutan.

Sasuke menghela nafas, onyxnya memandang Hinata menyesal. "Hinata.."

"Aku..A-aku tak pernah membencimu, Sasuke..Aku.. hanya tak tahu.. apa ysng harus aku lakukan ji-jika..kau su-sudah mulai.."

Hinata bergidik melihat ekspresi Sasuke, lebih baik Sasuke diam dari pada tersenyum seperti sekarang.

Sasuke melangkah mendekati Hinata, tanpa aba aba, ia menggendong Hinata lagi. "Sa-Sasuke!"

"Diamlah, baka." Jawab Sasuke.

"Atau aku akan menyerangmu lagi." Rona merah dipipi Sasuke muncul begitu saja.

"Menyerang?" Hinata mengulangi kata kata Sasuke.

"Hinata.." panggil Sasuke, lembut. Ia menurunkan Hinata dipinggir tempat tidur, lalu mengalungkan sebuah kaos pada leher itu, ia berlutut memandangi Hinata yang sudah seperti tomat itu.

Mereka berdua hanya saling memandang dalam diam. Dalam pikiran mereka masing masing.

Ini Sasukenya.

Hinata tahu, walau tak adayangmemberitahukannya secara langsung, bahwa ia,

Sasuke, adalah miliknya. Dan ia milik Sasuke.

Kau tahu, tak ada hal yang terdengar lebih manis di dunia ini daripada suara seseorang yang kau cintai memanggil namamu.

Ia telah jatuh cinta pada Sasuke, Uchiha Sasuke.

Bukan karena ia disana ketika tak ada pilihan lain, namun karena setiap hari, setelah semua pertengkaran dan masalah yang mereka lewati, Sasuke akan selalu kembali pada dirinya.

Begitupula dirinya, akan selalu kembali pada Sasuke. Sejauh apapun ia menghindar.

Ia memilih Sasuke, lagi, dan lagi.

Dan Sasuke memilihnya.

Sasuke, Sasuke-nya.

"Hinata, mengapa kau menangis?" Tanya Sasuke khawatir.

Ah, benar juga. Sejak kapan air matanya mengalir?

.

.

A Fairytale

.

.

"It is strange how a word, a phrase, a sentence, can feel like a blow to the head."

- Allegiant, Veronica Roth

.

.

Sudah beberapa bulan sejak Hinata tinggal di apartment Sasuke.

Kelas XII-1 sudah mulai padat. Hari ini adalah hari terakhir ujian, dan juga hari penentuan kelulusan. Seluruh murid kelas XII akan berada di sekolah sampai sore untuk memastikan nilai kelulusan mereka. Website Konoha International juga sudah mulai ramai dengan status status para adik kelas yang menyemangati kakak kelas mereka.

Konoha International menjadi perbincangan sejak seminggu yang lalu karena kebanyakan murid disana adalah anak pejabat, pengusaha sukses, atau bahkan ada yang sudah menjadi artis terkenal diusia belia.

Hinata berlari-lari di lorong menuju kelas Sasuke, suara lagkah kakinya bergema. Salah satu tangannya masih memegang lempengan gadget, dan tangan yang lain memegang kotak pensil. Beberapa murid dilorong memperhatikan sang Hyuuga dengan tatapan bingung.

Bel tanda masuk akan berbunyi 5 menit lagi.

"Sasuke senpai!" teriak Hinata tepat saat ia tiba di depan kelas Sasuke, membuat murid murid kelas itu mengalihkan perhatian mereka padanya. Yang merasa dipanggilpun lalu berdiri perlahan dan berjalan mendekat, tidak menghiraukan semua bisikan bisikan gosip tentangnya dan Hinata. Ia mengambil kotak pensil dari tangan Hinata tanpa memandang gadis itu, apalagi mengucapkan terima kasih.

"Ka-kau sangat pintar, senpai.." Hinata mulai bicara, "Dan itu membuatku bingung harus menyemangatimu dengan cara seperti apa.." Ucap Hinata, "Hanya saja.."

Sasuke mendengarkan setiap kata kata Hinata walaupun ia terlihat acuh tak acuh. Seluruh kelas pun menontonnya.

"Jangan.. Jangan lupa menuliskan nama di lembar jawabanmu, senpai!"

Setelah mengatakannya, Hinata langsung berlari pergi dengan wajah merona.

Beberapa orang tertawa, dan yang lainnya mulai saling berbisik membicarakan cara aneh Hinata memberi semangat kepada Sasuke.

"Hn." Jawab sang Uchiha, walaupun ia tahu Hinata sudah pergi.

Sejak melihat tubuh Hinata yang hampir telanjang, Sasuke tidak pernah bisa menatap mata Hinata lebih dari 5 menit. Terserah apa kata orang, tapi itulah kenyataan yang terjadi.

Lebih dari 5 menit, maka bayangan tubuh Hinata akan langsung muncul lagi. Sasuke tak mengerti apa yang terjadi, padahal ia ingin sekali mengajak Hinata berkencan setelah ujian akhirnya selesai. Namun malah jadi canggung begini.

Hingga gadis itu pergi tadi, ia juga tak bisa mengatakan apa apa.

Kenapa hanya Hinata? Kenapa Sasuke tak pernah merasa seperti ini terhadap gadis gadis lain?

Kenapa Hinata bisa membuat hatinya berdegup kencang hanya dengan tersenyum? Kenapa..

"Yo, Teme. Kemana perginya insting pemburumu hahhh?" tanya Naruto.

"Haa, lihatlah wajahnya Naruto. Pria hebat kita ini bukan lagi serigala pemburu, dia sudah ditaklukan Hinata!" Shikamaru meledek Sasuke.

Shikamaru sudah pulih total dari luka tembak dan beberapa tulangnya yang patahpun kini telah kembali normal. Tak secepat Sasuke memang, namun paling tidak ia masih hidup.

"Urusai!" Gumam Sasuke penuh kemarahan. Tidak, sebenarnya dia bukan marah, ia malu.

Lihatlah rona merah dipipinya!


.

.

.

T

B

C

.

.

.

Thanks for reading, and give me a review. Smooch!