A Fairytale

First Love?


.

.

.

.

"Hinata-chan, apa Uchiha senpai memberikan kancing pertamanya padamu?" Tanya Sakura, teman Hinata. Sakura adalah siswi kelas XI-5, kelas dimana murid muridnya bukanlah murid yang terlalu kaya ataupun pintar. Berbeda dengan Hinata yang berasal dari keluarga kaya dan memiliki otak encer, Sakura masuk ke Konoha International hanya karena keamanan sekolah tersebut terjamin.

Sebagai seorang artis remaja populer, tentu saja hal tersebut sangat penting demi keselamatannya.

Ia berkenalan dengan Hinata pertama kali di kelas foreign language, dimana si gadis Hyugga itu membantunya melafalkan kalimat dalam bahasa asing yang sangat sulit. Sejak saat itu, ia berteman baik dengan Hinata.

"Tidak." Jawab Hinata.

"Kurasa Sasuke senpai tidak akan mau melakukan hal konyol seperti itu, Sakura-chan.."

Hinata tersenyum, wajah Sakura mengkerut. "Apanya yang konyol?! Itukan sebagai tanda kalau ia menginginkanmu bukan hanya dimasa sekolah, tapi sampai dewasa nanti!" ia mengebu gebu.

"Naruto baka saja memberikan kancingnya padaku." Tambahnya, sekalian membanggakan diri.

Sambil tertawa kecil Hinata membalik lagi halaman novel yang sedang ia baca. Sakura melihat novel tebal berbahasa inggris itu dan merasa mual. Sakura tidak suka belajar bahasa, ia lebih suka menari. Modeling juga lumayan menarik baginya. Entah mengapa ia bisa terkenal walaupun ia tidak pintar berbahasa asing.

"Namikaze senpai sangat lucu dan bersemangat ya,"

"Kau sangat beruntung Sakuran-chan." Hinata menatap Sakura sesaat, sebelum akhirnya memfokuskan diri pada novel lagi.

"Apanya! Dia selalu menggunakan awalan 'nee' 'nee' dan suaranya cempreng! Otak pria itu juga sangat mesum! Dia selalu saja bernafas dileherku dan membuat aku merona, menyebalkan!"

"Hahahaha, mungkin itu karena dia sangat menyukaimu.." Hinata tertawa. Tapi tak lama setelahnya, ia terdiam.

Sepintas, ia teringat kembali bagaimana Sasuke selalu menggodanya, bahkan ketika pria itu sedang serius belajar.

Hinata sebenarnya masih bertanya tanya tentang kejadian hari itu.

'Apa kau masih membenciku?" Pertanyaan itu terngiang kembali di kupingnya.

"Hinata-chan, ayo ke kantin! Aku lapar.." ajak Sakura.

.

.

A Fairytale

.

.

"Kau tidak menemaniku menunggu hasil ujian keluar, kau juga tidak ke apartmentku. Aku mencarimu kemana mana, kau tahu? Kau benar benar tak berperasaan." Sasuke, dengan wajah stoic dan tangan terlipat didada, mendatangi apartment Hinata. Ia berdiri tepat didepan pintu masuk.

Ditangannya, ia membawa secarik kertas hasil ujian.

Ekspresi Hinata yang terkejut sungguh manis bagi Sasuke, namun sayangnya ia tak bisa bertahan melihat wajah itu lama lama.

Ia tak mau berakhir dengan menyerang Hinata sebelum waktunya.

"Kenapa aku harus menemanimu? I-itukan kelulusanmu.." Jawab Hinata sekenanya.

"Gadis gadis disekolah mengerubungiku, meminta kancing pertamaku! Karena kau sudah pulang, aku tak punya alasan lagi untuk menghindar! Aku terpaksa bersembunyi dari serbuan mereka!" Sasuke berteriak. Ia nampak seperti anak tk yang sedang mengadu pada ibunya.

Ia lalu memperlihatkan luka gores di siku tangan kanannya, "Kau lihat ini?"

"Seorang gadis berkuku panjang menggoresku karena aku mencoba kabur! Kau harus mengobatiku!"

Hinata menunduk, memperhatikan luka itu. "Hanya luka gores kecil. Kau berlebihan, Sasuke. Pulanglah, obati sendiri."

Gemas, Sasuke lalu menyerbu masuk kedalam apartment Hinata dan dengan cepat menginvansi ruang tamu. Apartment Hinata tidak sebesar dan semewah apartmentnya, interiornyapun masih interior standar, bukan costum. Televisi diruang itu menampilkan serial drama percintaan yang tadi, sebelum Sasuke datang, masih ditonton Hinata.

"Hei, kau tidak boleh masuk sembarangan begitu!" Kata Hinata sembari mematikan televisi.

"Kenapa? Apa kau menyimpan pria lain didalam lemari? Atau ada pelayan tampan di dapurmu? Kau harus punya alasan yang jelas jika mau mengusir tunanganmu!"

Wajah Hinata memerah. Rasanya sangat canggung berduaan dengan Sasuke begini, apalagi tadi Sasuke mengingatkannya tentang pertunangan.

Tentu saja, kini mereka berdua sudah berdamai dan tak lagi menolak pertunangan yang diadakan oleh Uchiha - Hyuuga tersebut, namun kebiasaan bertengkar mereka tetap saja tak bisa dihilangkan.

"Kau sudah makan?" Tanya Hinata pada Sasuke yang kini sedang sibuk memilih milih dvd untuk ditonton.

"Hm? Belum." Jawab Sasuke singkat.

Hinata memeriksa kulkasnya, "Kau mau kubuatkan apa? Western atau Asian?"

"Apa saja. Aku suka apapun yang kau masak." Sasuke menyunggingkan senyum pada Hinata yang berada didapur.

"Sasuke.." panggil Hinata pelan. Ia berjalan mendekat pada Sasuke, lalu menyentuh punggung pria itu dari belakang. "Kalau kau akan memakan apa saja yang kumasakan untukmu, bagaimana jika aku masak mi instan saja?"

"Mi.. mi instan?" Sasuke meneguk ludah.

.

.

A Fairytale

.

.

"Sasuke.." panggil Hinata sambil mengaduk bumbu mi instan dimangkuknya.

"Hn?" Sasuke juga sedang mengaduk.

"Apa.. Apa kau punya seseorang, yang.. yang kau sukai?" tanya Hinata malu malu, "Ah, maksudku.."

"Sebelum perjodohan ini.."

Sasuke sudah memperhatikan Hinata, sejak wajah cantik Hinata memerah. Tapi Hinata terlalu sibuk dengan mi dan pikirannya sendiri. Dan jika tak salah hitung, sudah lebih dari 5 menit Sasuke memperhatikannya.

Kau tahu apa yang ada di otak Uchiha bungsu kita saat ini bukan?

"Kenapa kau bertanya tentang hal seperti itu, Hime?" tanyanya balik.

"Um.. itu.. aku hanya.." terbata bata, Hinata tak tahu harus menjawab apa. Akhirnya ia menghela nafas, "Tak bisakah kau jawab dengan cepat tanpa bertanya balik?"

Hinata menatap Sasuke dengan wajahnya yang masih merah, membuat Sasuke juga ikut memerah. Sedikit.

"Hm.. biar kuingat ingat dulu." Sasuke mengelus dagunya.

"Ada." Jawab Sasuke, "Dia adalah gadis kecil yang aku temui di malam festival tahun baru Tokyo."

"Ga-gadis.. kecil?" ulang Hinata.

"Hn, gadis kecil." Sasuke tersenyum, mencoba mengingat gadis kecil itu. Tapi sepertinya ia tak bisa terlalu ingat.

"Ka-kau.."

"Pedo-pedofil.."

"Kau pedofil, Sasuke!" teriak Hinata.

Dengan cepat, Sasuke menutup mulut Hinata. "Jangan berteriak, baka! Orang lain bisa mendengarmu!"

"Aku ini bukan pedofil, aku bertemu dengan gadis kecil itu saat aku masih kecil juga!" ia memberikan pembelaan.

Sasuke masih berada didepan Hinata, menutup mulut gadis itu menggunakan telapak tangannya, dan sebelah tangan lagi mengunci tangan Hinata.

Menyadari posisi mereka saat ini, Hinata mulai memerah lagi.

"Saf-fuf-kef, mmmm.." suara yang berhasil dikeluarkan Hinata terdengar aneh karena sekapan Sasuke.

Sasuke melepaskan tangannya dari mulut Hinata, "Dulu aku adalah anak cengeng yang sangat manja, lalu suatu hari, di malam tahun baru di Tokyo, aku tersesat diantara keramaian." Mereka berdua kembali pada mi mereka masing masing.

"Biar kutebak.." potong Hinata, "Pasti gadis kecil itu menyelamatkanmu, dan kau jatuh cinta padanya. Benar 'kan?"

"Salah, nona Hyuuga." Sasuke menjulurkan lidahnya, membuat Hinata mengerucutkan bibir.

"Yang menyelamatkanku adalah seorang kakek tua beryukata putih."

Kakek tua beryukata putih?

Tunggu dulu!

"Umm.. lalu gadis kecil itu?"

"Dia juga tersesat, sama seperti aku. Tapi dia tidak menangis seperti aku, dia sangat tenang. Kakek tua itu mengantar kami kembali ke lokasi utama festival, lalu menghilang begitu saja." Sasuke bercerita panjang lebar, dan tanpa ia sadari mi dimangkuknya pun sudah habis tak bersisa.

Hinata yang sejak tadi tidak merespon, menarik perhatian Sasuke.

Ia bangkit dari tempat duduknya, lalu mencoba memeluk Hinata dari belakang.

Sayangnya, Hinata juga berdiri beberapa saat setelah Sasuke tepat berada dibelakangnya. Akhirnya, ketika ia berbalik, hal pertama yang dirasakannya adalah dekapan sang Uchiha.

Tinggi Hinata tak berbeda jauh dari Sasuke, jadi jangan mengharapkan adegan aku-bisa-rasakan-degup-jatungmu disini. Sasuke juga tak perlu menundukan badan untuk memeluk tubuh Hinata, dan Hinata tak perlu berjinjit untuk menyamakan tingginya dengan Sasuke. Beda tinggi mereka hanya sekitar 10 senti.

Hinata tak membalas pelukan sepihak Sasuke, dan itu membuat Sasuke kesal. Masih sambil memeluk Hinata, Sasuke mengomel.

"Kau merusak suasana, Hime. Harusnya kau memelukku balik, lalu mengatakan kata kata romantis seperti, 'jangan tinggalkan aku', atau 'kau hanya boleh melihatku'. Kau masih harus belajar lebih banyak tentang percintaan.."

Tetap Sasuke tak mau melepas pelukannya walau kini suhu tubuh mereka naik dengan cepat.

Wangi lavender lalu menguar perlahan dari tengkuk Hinata, membuat Sasuke malah semakin betah berlama lama memeluknya.

"Sa-Sasu.."

"Kau merusak suasana lagi."

"Diamlah, jangan bicara. Atau aku tidak akan mengampunimu."

Hinata bisa merasakan panas tubuh Sasuke, dan wangi maskulin pria itu menguar. Suara nafasnya juga begitu tenang, sangat berbeda dari nafas Hinata yang memburu.

"Sa-sasuke.. Sebenarnya apa ysng membuatmu jauh jauh datang ke apartmentku?"

Mendengar pertanyaan Hinata, Sasuke tersadar. Ia juga sebenarnya tak tahu mengapa ia datang ke apartment gadis yang berada dalam pelukannya ini. Tentu saja luka gores itu hanya alasan bodoh. Siapa juga yang akan percaya? Setelah berpikir sesaat, Sasukepun menyimpulkan.

"Hn,"

"Aku merindukanmu. Kau membuatku kesal karena kau tidak menunggu sampai aku selesai ujian."

Kaki Hinata nampaknya mulai lelah, sehingga ia akhirnya bersandar pada Sasuke, sedikit demi sedikit. Tanpa disadarinya.

"K-kau tidak sedang menggodaku 'kan?"

"Menurutmu?"

"Ma-mana kutahu? Aku tak pernah.. menghadapi pria sepertimu, seumur hidupku."

Sasuke melonggarkan sedikit pelukannya, membuat Hinata bisa berhadapan dengannya.

"Kau mau kancing pertamaku, atau ciumanku?" goda Sasuke.

Hinata geli mendengarnya, "Pfffttt, Hahahahahahaha."

Ia terbahak, mentertawakan Sasuke hingga kakinya lemas dan tak kuat menopang tubuhnya sendiri.

"Hei, hei! Berdiri yang benar!" omel Sasuke melihat keseimbangan Hinata goyah.

Setelah menjatuhkan diri ke kursi meja makan, Hinata tertawa lagi. "Kau pikir aku peduli pada kancing?"

Sasuke mengernyit bingung. "Hn, kupikir.."

"Lebih baik kau belikan aku berlian, Uchiha Sasuke. Kau ini penerus perusahaan terbesar di Jepang.." ledek Hinata.

"Kau menyebalkan, Hyuuga."

Hinata tersenyum sinis.

"Kau mendapat peringkat pertama lagi?" tanyanya.

"Ya. Setiap tahun. Tidak ada yang istimewa dari peringkat kelasku." Jawab Sasuke.

"Kalau begitu biar kubuat istimewa." Tiba tiba Hinata bangkit dari kursi, menarik tangan Sasuke, lalu berjinjit kecil memberikan ciuman singkat dibibir sang Uchiha bungsu. Membuat wajah pria itu memerah lebih parah daripada wajahnya sendiri.

"Hadiah untuk prestasi gemilangmu." Ia memberikan alasan, sebelum kabur mencari plester luka.

Sasuke tersenyum.

.

.

Jatuh cinta..

Ia tak pernah tahu rasanya akan seperti ini.

Kupu kupu diperut? Mungkin bukan hanya seekor, mungkin ada sepuluh disana.

Menggelitik, membuat seorang Uchiha Sasuke bisa merasa begitu gugup sekaligus bahagia.

.

.

A Fairytale

.

.

Sudah satu jam lebih Hinata hanya diam memandangi cincin pertunangannya. Cincin itu terbuat dari emas putih, delapan berlian kecil, dan safir yang lebih besar dibagian tengahnya. Sungguh indah, sungguh menarik perhatian, sama seperti dirinya dan sang Uchiha bungsu disebelahnya.

"Pakailah, jangan dipandangi saja. Benda itu cocok untukmu." Kata Sasuke.

"Ini.. kurasa ini sangat berlebihan. Bisakah kau tukar dengan cincin polos saja?" pinta Hinata, entah keberapa kalinya.

Liburan sekolah sudah dimulai, dan itu artinya perjalanan bisnis kedua penerus perusahaan ini akan dimulai. Mereka telah menerima banyak undangan dari berbagai perusahaan di berbagai belahan dunia, mulai dari undangan makan malam, rapat, hingga pesta. Semuanya dengan tujuan yang hampir sama, yaitu memberi ucapan selamat atas bergabungnya Uchiha corp. dan Hyuuga inc.

Bayangkanlah berapa bahasa yang harus mereka kuasai, berapa waktu yang harus mereka habiskan, dan berapa uang yang akan mereka buang untuk perjalanan membosankan ini.

Berada dibangku pesawat milik Uchiha corp saja sudah cukup membuat Hinata merasa tersaingi, mungkin lain kali Sasuke juga harus merasakan kemegahan yact milik Hyuuga. Hm, atau jet saja ya?

"Pakai!"

"Tidak!"

"Pakai!"

"Tidaaak!"

Kesal karena Hinata begitu keras kepala, Sasuke lalu merampas cincin itu dari tangan Hinata.

"Biar kuberikan pada gadis lain saja jika kau memang tidak mau." Jawabnya dingin.

Disaat yang sama, seorang pramugari khusus datang kearah mereka membawa makan siang. Sasuke tersenyum jahil.

"Bagaimana jika pramugari itu?"

"He-hei! Kembalikan padaku! Kau sudah memberikannya padaku!" Hinata mencoba meraih tangan Sasuke yang memegangi cincin, namun Sasuke selalu saja berhasil menghindar. Malah ia masih sempat menjulurkan lidah mengejek Hinata.

"Berjanji dulu padaku kalau kau akan memakainya jika kukembalikan padamu!" Sasuke mengelakkan tangannya lagi. Cincin itu lalu masuk ke saku celana Sasuke.

Hinata berhenti, wajahnya mulai bersemu tipis. Apa ia harus merogoh sendiri kantong celana Sasuke untuk mendapatkan cincinnya? Tidak tidak. Pasti ada cara lain. Memakainya? Ayolah, Hinata paling tidak suka memakai perhiasan mewah, apalagi yang mencuri perhatian.

Karena tak ada jawaban, Sasuke pun pura pura tidur.

"He-heiii!"

"Berjanji dulu, baru kukembalikan!"

Wajah Hinata merah padam, tentu saja, karena malu dan kesal.

"Uuuuh, k-kau menyebalkan! Menyebalkaaan!" teriak Hinata.

"Uchiha Sasuke! Kau sungguh menyebalkaaaaan!"

Mendengar teriakan Hinata, Sasuke memakai kembali earphonenya.

Bertengkar, terkadang tak selalu mengisyaratkan permusuhan, atau kebencian. Bertengkar, kadang, merupakan salah satu cara untuk menjadi lebih dekat dengan seseorang. Semua cerita disusun atas mimpi dan cinta, yang akan membawa konflik, dan rasa kehilangan bersamanya.

Tanpa cinta, bagaimana cerita yang menarik bisa lahir?

Bagaimana bisa kita tersenyum ketika melihat akhir yang bahagia jika kita tak pernah merasakan penderitaan?

Semua cerita, tak harus berakhir dengan hidup bahagia selama lamanya. Ada beberapa cerita yang takkan pernah berakhir jika diceritakan, karena akan selalu ada hal yang menarik untuk diceritakan, ketika ada pertengkaran didalamnya.

Namun karena kita semua selalu menginginkan akhir yang bahagia dalam hati kita masing masing, mari kita sebut saja demikian.

Sasuke dan Hinata, mereka hidup bahagia selama lamanya.


.

.

.

F

I

N

.

.

.

Hei minna!

So, this is the end of this fiction.

No, please don't hate me.

Thanks for reading, all of you! And don't forget to leave a review here, below this fic!

I love you!