A Fairytale

Omake:

Say It


.

.

.

.

"Hinata, ambilkan jam tanganku disana." Kata Sasuke sembari memakai sabuk.

"Ini." Hinata menyerahkan sebuah jam tangan kulit kepada Sasuke, lalu merapikan dasinya.

"Kau terlihat seperti seorang wanita berusia 30 tahun sekarang." Ledek Sasuke.

"Diamlah ayam, nantinya aku akan melakukan ini seumur hidupku."

"Itu masih beberapa tahun lagi, Hime."

"Sudah selesai. Ayo berangkat."

"Aku akan melanjutkan pendidikanku di Inggris."

Hinata yang tadinya sudah berjalan mendahului Sasuke, menoleh.

"Kuharap kau bisa ikut bersamaku.."

"Tapi.. A-aku sudah menerima undangan beasiswa dari Swiss.."

Sasuke melongo, "Kau bahkan belum lulus."

"Ya, mereka sudah melihat perkembangan belajarku sejak masih di Tokyo. Mereka menjanjikan padaku bahwa asrama, makan, dan keperluan belajar akan gratis untukku. Tentu saja segera aku terima." Jawab Hinata.

"Mengapa mereka tidak menawariku juga?"

"Kau bilang mau ke Inggris.."

"Ahh, kau pengkhianat, Hime!"

Mereka berdua berargumen sepanjang jalan, tekadang Hinata memperlihatkan wajah kesal, dan kadang juga bingung. Sangat berbeda dengan Sasuke yang hampir terlihat stoic setiap waktu, dan hanya sesekali mengerutkan kening atau meninggikan nada suaranya.

.

.

A Fairytale

.

.

Swiss, semester kedua Hinata.

.

.

"Please don't come here, Sasuke. I want to spent my holiday alone." Hinata berbicara pada seseorang ditelfon.

Ia sedang berada dikamar asramanya, hanya mengenakan piyama tipis dan rambut dikepang longgar. Wajahnya masih tetap cantik, namun kini tampak lebih dewasa. Lavendernya membuka sebentar lalu menutup lagi setelah suara orang ditelfon selesai.

"Oh, my.. why are you so stubborn?" jawabnya lagi.

Ia bangun dari tempat tidurnya malas, tanpa alas kaki ia berjalan pelan menuju pintu. Rambutnya sudah sangat panjang sekarang, jadi ia selalu mengepangnya jika ingin tidur, dan membuatnya ikal sebelum pergi kuliah supaya tidak mengganggu.

Sasuke berdiri tepat didepan pintu kamar asrama Hinata, membawa sebuah koper kecil dan dua kotak pizza. Ditangan sebelahnya, sebuah smartphone masih dalam panggilan aktif.

Wajah mengantuk Hinata mau tak mau berubah serius. Smartphone yang tadinya masih ia tempelkan pada telinganya juga perlahan diturunkannya.

"Do you still speak Japanese, Hime?" tanya Sasuke, memperlihatkan senyum jahilnya.

"Menurutmu?"

"Ya, masih lumayan bagus."

"Carilah hotel disekitar sini, kau tidak bisa tinggal dikamarku."

Hinata mengambil dua kotak pizza dari tangan Sasuke, kemudian berniat menutup lagi pintu kamarnya. Sayang, gerakan kaki Sauke lebih cepat.

Sasuke menahan pintu itu dengan kakinya, membuat Hinata menatapnya penuh dendam. Ia tahu, Hinatanya takkan sanggup mengusirnya dimalam dingin musim salju begini. Gadis itu sebenarnya sangat lembut dan baik hati.

"Minggir."

"Diluar sini sangat dingin, Hime. Aku tak sanggup lagi mencari hotel.."

"Baka, kau tinggal menelfon orang dari High One Hotel and Suite, mereka akan segera menjemputmu. Tak perlu berpura pura tidak tahu."

"Apa itu High One?"

"Hotel yang kau berikan sebagai hadiah kelulusanku dua tahun lalu, tuan Uchiha." Hinata berkacak pinggang.

Sasuke berpura pura memasang tampang berpikir, "Begitukah?"

"Hm."

"Aku tidak ingat. Jadi ijinkan aku tinggal disini."

"Aku saja yang menelfon mereka." Hinata mencari nama salah satu staff High One hotel di daftar kontaknya.

Dengan segera, Sasuke merampas ponsel ditangan Hinata.

"Ijinkan aku tinggal, atau aku akan menciummu sekarang juga." Ancam Sasuke.

Panik mendengar ancaman Sasuke, Hinata membanting pintu didepan hidung sang Uchiha, dan berteriak, "Nooooooo!"

Ia berlari menjauhi pintu.

"Hei! Hinata! Aku bisa mati membeku diluar sini! Hinata!"

"Hinataaa!" Teriak Sasuke.

.

.

A Fairytale

.

.

Apakah pangeran berdarah dingin kita akan mati karena kedinginan? Malam makin larut, saljupun turun sebutir demi sebutir, menumpuk makin tebal dari menit ke menit. Sasuke hanya duduk terdiam di karpet depan pintu memandangi butiran butiran salju yang menempel di sepatunya.

Ia melihat lagi jam tangannya, untuk yang ke 10 kalinya. Ini sudah dua jam sejak Hinata benar benar mengusirnya. Sampai kapan Sasuke harus terusir begini?

Jauh jauh dia datang dari Inggris, namun malah diterlantarkan.

Kamar Hinata berada dilantai paling bawah, menghadap ke taman asrama berair mancur 5. Air mancurnya mati, tapi lampu lampu disana menyala dan menciptakan sensasi seakan cahaya cahaya itu adalah air.

Apa ia memang harus menelfon orang hotel untuk menjemputnya?

Sasuke memainkan smartphone Hinata, melihat lihat foto, melihat chat list gadis itu, daftar panggilan, dan yang lainnya. Lalu ia tersenyum ketika menekan angka 1 pada dial up.

Hinata memasang nomornya sebagai quick call.

"Sasuke?" Perlahan, pintu kamar terbuka. Memperlihatkan kepala Hinata menoleh kesana kemari.

"Ha! Astaga! Sudah kubilang telfon staff hotel! Kau memang tak pernah mendengarkanku!" teriak Hinata setelah melihat tubuh Sasuke yang duduk membulat gemetaran.

Ia membuka pintu kamarnya tersebut, "Masuklah. Kau bisa mati sungguhan disitu." Hinata sedikit merona ketika mengatakannya.

Sasuke berdiri, mengembalikan ponsel putih Hinata.

"Tak pernah menelfon duluan, tapi menaruh namaku di quick call." Sindir Sasuke.

Hinata merona semakin parah, "I-itu hanya un-untuk jaga jaga saja.. aku, aku.."

"Sudahlah,"

"Eh?"

"Aku akan tinggal dihotel, tak perlu takut."

"Tapi.. kau bilang tadi.."

Sasuke menarik tangan Hinata, membiarkan gadis itu mendarat tepat dipelukannya. Bayangkanlah adegan ini dengan slowmotion, karena Hinatapun merasakannya demikian.

Ia sendiri sudah lupa kapan terakhir kalinya Sasuke memeluknya, ia sudah lupa.

Dinginnya udara tak bisa menembus pelukan mereka, walau Hinata hanya memakai piyama, ia tak kedinginan. Perlahan tapi pasti, Hinata membalas pelukan Sasuke. Kehangatan merambat memenuhi hatinya.

"Aku merindukanmu."

"Um.. Kau, kau selalu kesini setiap summer dan winter Sasuke.."

"Kau pikir itu cukup?" Sasuke bersikeras, "Kau cukup bilang 'aku juga merindukanmu', apa susahnya?"

Hinata terkekeh.

"Baiklah, baiklah."

"Ayo ulangi."

"Hmm."

"Aku merindukanmu, Hime."

Mereka saling memandang, "Aku juga.."

"Me-merindukanmu." Jawab Hinata, gugup.


.

.

"If you want to, and even if you don't,

things are bound to happen.

Earthlings call it as fate."

- The Man From The Stars, korean drama.

.

.