TITLE : Lovely Vampire

CHAPTER: 3

AUTHOR : Hezel MintCherry

FANDOM : NARUTO

RATE : T

PAIRING : SASUSAKU

GENRE : Romance, Mystery

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

WARNING: Terinspirasi dari komik yang pernah saya baca, tapi saya usahakan ceritanya berbeda dikit hehehhe... Alur muter2 gajeness, AU, OOC, TYPO, gak sesuai EYD!?

.

Don't like don't read!

.

.

.

Hehe karna ini FF pertama aq jadi mohon maaf jika masih banyak kesalahan maklum newbie, mohon masukan dan sarannya melalui review Senpai semua arigatou ~_~

.

.

.

(^▽^)↗ Happy Reading ↖(^▽^)↗

.

.

.

Nyonya Haruno terlihat sangat panik saat mendapati putri bungsu kesayangannya pulang dengan beberapa bercak merah seperti darah di sekitar sudut bibirnya. "Astaga Saku, kenapa bibirmu berdarah hah!?" Pekiknya dan langsung berlari mendekati putrinya.

Sontak saja gadis bermata emerald itu menegang akan pertanyaan sang Ibu dan refleks menyentuh bibir mungilnya yang ternyata memang ada sedikit noda darah disitu.

"A-aku tadi minum jus cherry Kaa-san!" Jawab Sakura "dan memang warnanya merah pekat begini, hehe tak usah khawatir begitu ah." Ucapnya lagi setenang mungkin sambil mengusap noda tersebut dengan punggung tangannya.

Mendengar penjelasan Sakura, Mebuki pun menghela napas lega sambil mengangguk-angguk mengerti, memang anaknya itu sangat suka sekali minum jus cherry apalagi sampai belepotan begitu pikirnya. "Ya sudah kalau begitu cepat masuk, jangan bikin Kaa-san cemas lagi!" tegas sang Ibu seraya melenggang memasuki rumah menuju dapur. "Dan jangan lupa cuci tangan dan kakimu!" ucapnya lagi setengah berteriak saat sudah berada didapur.

"Hemm...iyaa Kaa-san." Sahut Sakura yang dalam hatinya bisa bernapas lega karena Ibunya sudah tenang dan tidak mencurigainya akan kejadian barusan, dengan menaruh beberapa belanjaan yang dibelinya tadi di meja dapur, Sakura pun segera melangkah ke kamar mandi untuk mencuci tangan kakinya sebelum mulai acara makan malamnya.

Sakura POV :

'Fiuuhh untung saja Kaa-san percaya kata-kataku tadi, kalau tidak, apa yang akan terjadi yahh...' saat inner Sakura sibuk memikirkan kejadian yang menimpanya beberapa menit yang lalu, tubuhnya justru sudah melenggang keluar dari kamar mandi menuju ruang makan yang letaknya agak jauh didekat dapur.

"Tadaaaaa...sudah siap, ayo Saku, cepat kesini kita mulai makan malam special untuk anak Kaa-san yang cantik ini~" ucap ibuku sambil menyusun beberapa lauk dan ada juga kue tart lengkap dengan lilin-lilin kecil diatas meja makan.

Kata-kata riang kaa-san membuyarkan lamunanku, cih bukan saatnya berpikiran begitu! nanti saja kupikirkan lagi. Aku harus terlihat bersemangat seperti biasanya. "Ha'i arigatou Kaa-san, aku sayang Kaa-san." Dengan senyuman tulus lalu ku peluk erat Ibuku tercinta, diapun memekik kaget akan kelakuanku ini seraya membelai lembut surai merah mudaku.

Sakura POV OFF

"Iya sayang, Kaa-san juga sangat menyayangimu," jawabnya lirih, "nah, sekarang kau buat permohonan lalu tiup lilinnya~" jelas wanita paruh baya yang telah dikaruniai dua anak itu sembari menyalakan lilin-lilin ulang tahun yang sudah tersusun rapi diatas cake ulang tahun Sakura.

"Hu'um." jawab Sakura yang sudah siap memanjatkan do'a dengan menangkupkan kedua tangannya memohon pada Kami-Sama, meminta yang terbaik untuk keluarganya.Selesai memanjatkan do'a, Sakura segera meniup lilin dengan senyum sumringahnya lalu memotong dan menyuapkannya kepada sang Ibu tercinta, kemudian ikut melahapnya bersama.

"Nyamm...ini enyak cwekalii Kaa-cwann~" kata Sakura saat kue tart yang dia makan memenuhi rongga mulut mungilnya.

"Hem? Telan dulu baru bicara Saku!" tegas sang Ibu sambil terkikik.

"Fuahhh~ cake buatan Kaa-san memang yang paling enaaakk." Ucapnya lagi setelah menelan kuenya sambil mengacungkan jempol kearah Kaa-sannya.

"Hihi, iya iyaa~" jawab Mebuki tersenyum-senyum mendengar pujian berlebihan dari putri bungsunya itu, "oh iya saku, besok mungkin seharian Kaa-san berada dibutik, karena akan ada beberapa pelanggan dari perusahaan besar ingin memesan dan mendesign langsung baju istimewanya, nanti kalau mau makan siang, bisa kau panaskan sup miso yang akan ibu buat untuk besok." Jelas wanita pemilik butik yang cukup terkenal di Distrik Konoha ini yang merupakan designer terbaik, telah banyak menghasilkan rancangan busana mewah nan elegant dan banyak diminati oleh para executive muda maupun para ibu-ibu sosialita sekitar. Dan Butik milik Clan Haruno yang diberi nama 'Haruno d'Boutique' ini sudah banyak menyebar dikota-kota besar juga bekerja sama dengan perusahaan fashion terkemuka, salah satunya perusahaan Yamanaka Fashion milik sahabat Sakura.

"Ha'i Kaa-san." Sahut Sakura disertai anggukan kepala tanda mengerti akan profesi ibunya sebagai designer terkenal. Dalam hati dia juga selalu bersyukur karena setelah sepeninggalan ayahnya, mereka masih bisa menikmati hidup berkecukupan, usaha butik sang Ibu mengalami kemajuan pesat walaupun harus mengorbankan perusahaan Haruno Corp yang dikelola sang ayah sewaktu masih hidup dulu, karena perusahaan Kizasih Haruno itu sekarang telah di ambil alih oleh pamannya, dan hanya anak sulung keluarga Haruno yang menjadi ahli warislah yang bisa merebutnya kembali jika sudah saatnya nanti.

Merekapun melewati makan malam bersama dengan nikmat walau hanya bersdua saja, setelah selesai, gadis manis keluarga Haruno itu langsung bergegas membantu sang Ibu membereskan peralatan makan yang dipakai barusan.

"Fiuuhhh~ akhirnya beres juga," ujarnya sambil mengusap keringat di kening lebarnya itu, "Kaa-san aku lelah, ingin istirahat dikamar ya..." kata Sakura sambil berjalan pelan kearah kamarnya untuk segera beristirahat setelah apa yang terjadi seharian ini membuatnya lelah.

"Iya sayang, oyasumi..." teriak Mebuki dari dapur yang sedang meracik bumbu untuk membuat sop miso besok.

Sakura POV:

Sesampainya dikamar, akupun langsung merebahkan tubuh dikasur Quensize milikku sambil memikirkan keadaan tubuhku yang tidak terasa aneh lagi setelah aku meminum cairan merah kental yang benama darah itu.

"Ah... Apa aku gila...? Huftt tidak tidak itu tidak mungkin!" tegasku dengan menggelangkan kepala mencoba menepis pemikiran aneh yang merasuki pikiranku. huufftt sudah kesekian kalinya hari ini aku menghela napas, "aku harus bagaimana? Dengan siapa aku bertanya dan berbagi cerita tentang keadaanku ini ya...? Apa mungkin dengan Ino dan Hinata? merekakan sahabatku! hemmm.. tapi aku takut mereka akan menjauhiku dan menganggapku aneh!" gumamku memikirkan keadaan diriku selanjutnya, sambil berjalan kearah meja riasku untuk menyisir rambut panjang kebanggaanku ini didepan cermin dan perhatianku langsung mengarah pada kalung cantik pemberian Sasuke membuatku jadi senyum-senyum dan blushing sendiri.

"Oh iya, kenapa tidak cerita ke Sasuke aja ya, dia bilang akan mendengarkan masalahku, tapi...dia pasti akan ilfeel dan tak mau bertemu denganku lagi...hufft~" sembari menghela napas panjang, kucoba kembali menaiki kasur empukku tuk memejamkan mata ini, "aha...mungkin aku akan menceritakannya pada Nii-chan aja nanti kalau dia udah pulang, kalau dia pasti akan membantuku~" ucapku saat tiba-tiba mengingat sosok kakak tercinta yang sudah hampir 6 bulan tak bertemu itu, mengingat dia seorang mahasiswa bisnis yang super sibuk dan hanya bisa pulang saat libur semester. Sebelum benar-benar tertidur, kali ini emeraldku tak sengaja menangkap cahaya lampu yang baru saja dinyalakan dari rumah diseberang jendela kamarku, yang menandakan penghuninya telah pulang, akupun lega melihatnya. "Oyasumi Sasuke-kun." gumamku yang mulai tertidur.

Sakura POV OFF

.

.

.

Keesokan harinya disebuah kompleks perumahan di Distrik Konoha, telah terjadi peristiwa menggemparkan maryarakat sekitar, karena telah ditemukan seonggok mayat lelaki tanpa identitas yang tewas mengenaskan dengan tubuh mengering dan wajah yang tak bisa dikenali lagi, dapat dilihat seperti diserang oleh makhluk yang belum diketahui, apakah itu binatang buas atau makhluk jejadian, rumor itulah yang turut meramaikan peristiwa tersebut. Hingga tak heran jika pemandangan kompleks perumahan yang biasanya sepi itu terlihat sangat ramai. Tak jarang sirine mobil polisi terdengar melintas, disekitar situ juga terdapat beberapa garis polisi yang membatasi TKP (Tempat Kejadian Perkara). Kejadian langka ini sukses membuat warga sekitar berkumpul untuk melihatnya karena penasaran, cemas, dan takut yang seketika itu merasuki pikiran mereka. Begitupun juga dengan pikiran Nyonya Haruno yang sedari tadi menyaksikan peristiwa disekitar kediamannya itu membuatnya cemas akan putri kesayangannya yang tiap hari harus pulang pergi melewati jalanan sepi ini sendirian.

Merasa cukup untuk sekedar melihat-lihat dan mencari informasi tentang kejadian itu pun membuat wanita paruh baya ini segera bergegas pulang untuk memperingatkan anak kesayangannya agar selalu berhati-hati.

CEKLEK

"Ah...Kaa-san, dari mana saja? aku sudah mau berangkat sekolah nih." Ucap putri bungsu keluarga Haruno kala melihat sang ibu membuka pintu rumah saat Sakura hendak memakai sepatu sekolahnya.

"Hem...Saku, Kaa-san baru saja dari kompleks depan melihat peristiwa mengerikan..." Jawab Mebuki dengan suara bergetar mencoba meredam rasa takut dan paniknya.

"Pe...peristiwa mengerikan apa Kaa-san?" tanyanya penasaran degan sedikit mengingat kejadian semalam.

Bukannya menjawab pertanyaan Sakura, sang Ibu justru mendekatinya dan langsung meremas pelan pundak mungil gadis pinky itu, serta menatap lekat sepasang emerald dihadapannya seraya berkata, "kau harus hati-hati Saku! Disekitar sini sudah tidak aman lagi! karena telah ditemukan mayat seorang pria dijalanan kompleks depan sana, dia mati mengenaskan seperti diterkam binatang atau makhluk misterius! karena polisi juga masih menyelidikinya!" terangnya berusaha memperingatkan anak gadisnya.

Mendengar penjelasan sang Ibu, degup jantung Sakura langsung berpacu lebih cepat. Merutuki perbuatannya semalam kenapa dia jadi liar seperti itu, seolah lain dirinya. Kejadian semalam adalah perbuatannya yang paling mengerikan karena telah membuat seluruh masyarakat jadi ketakutan, terlebih Ibunya tercinta. Tidak mungkin ia menceritakan semuanya pada Kaa-san, itu hanya akan membuatnya semakin ketakutan dan kemungkinan terburuk dia tak akan diakui sebagai anak lagi oleh sang ibu. Jadi Sakura harus bisa bersikap biasa jangan sampai terlihat mencurigakan, begitu pikirnya.

"Ha'i Kaa-san, aku akan selalu berhati-hati, jangan khawatir!" jawab Sakura , "Aku pergi dulu..." lanjutnya seraya mengecup pipi ibunya tercinta sebelum berangkat sekolah.

Sang Ibu yang mendengar pernyataan anaknya itu hanya bisa tersenyum tipis melihat Sakura yang selalu ceria seperti biasanya sambil berjalan kearah pintu untuk menutup dan menguncinya dari dalam agar mencegah hal yang tidak-tidak.

Sesampainya disekolah, Sakura cukup terkejut karena kabar tentang kejadian disekitar tempat tinggalnya sudah menyebar luas dan menjadi perbincangan hangat pagi ini, tak terkecuali dikelasnya sendiri. Terlihat suasana kelas yang sudah ramai, teman-temannya asik dengan aktivitasnya masing-masing sebelum bel masuk berbunyi, ada yang bergosip ria seperti yang dilakukan oleh sahabat pirangnya, dan Hinata sebagai pendengar yang baik. Ada juga teman-teman lainnya tidak tertarik dengan gosip sehingga hanya sibuk bersolek, berdandan depan cermin, menyisir rambut dan ada pula yang mengerjakan PR, ehh helloooooww PR kan Pekerjaan Rumah! kenapa dikerjakan disekolah! Pikir Sakura seraya berjalan melangkah kearah tempat duduknya yang berada diujung dekat jendela dan mulai menyapa sahabatnya seperti biasa.

"Ohayou pig, Hinata-chan..."

"Oh-ohayou Sakura-chan." Jawab gadis bermata lavender keperakan itu dengan senyum manisnya.

Sedangkan Ino bukannya menjawab sapaan Sakura, malah langsung menjatuhkan bokong dikursi sebelahnya untuk menceritakan gosip terbaru. "Hei jidat, kau pasti tau kan, kalau ada gosip yang mengatakan disekitar sini ada Drakula!" tanya Ino antusias.

Sakura yang mendengar pertanyaan konyol sahabat pirangnya hanya sweatdrop. "Hah...Drakula dari mana pig?" tanyanya sambil meletakkan tas sekolahnya didalam laci mejanya.

"Ah masa kau tak tau sih? Itu Drakula penghisap darah! Kan ada kejadiannya dikompleks sekitar rumahmu..." Jelas Ino.

"Memang kau tau darimana kalau itu Drakula?" Sakura memutar bola matanya bosan.

"Ya jelas lah jidatttt, kata orang-orang kelihatan kalau orang yang tewas itu dihisap Drakula! Katanya juga ada dua buah lubang dilehernya dan darahnya mengering." Ujar Ino sok tau, padahal polisi saja masih menyelidikinya.

DEG!

Mendengar penjelasan sahabatnya yang sok tau itu pun sontak membuat Sakura menegang sepersekian detik, tapi berusaha tetap tenang dan mengendalikan diri, 'apa mungkin akulah Drakula itu?' tanya Sakura pada dirinya sendiri dalam hati, 'ah- tidak tidak! Itu tidak mungkin! Setahuku Drakula itu laki-laki kalau lihat di film-film yang pernah ku tonton!' inner Sakura berteriak-teriak menyangkal hal aneh dan tak masuk akal itu.

"Emm, tapi polisi sekitar bilang bisa saja orang tersebut tewas diserang binatang buas pig!" bantah Sakura.

Terlihat Ino sedikit berpikir keras, "iya ya, bisa jadi begitu juga sih~" gumamnya manggut-manggut.

"Ah, Kurenai sensei sudah datang tuh, cepat kembali ke kursimu pig!" ucap Sakura sedikit lega, gurunya datang tepat waktu sehingga dirinya bisa menghindari pembicaraan yang membuatnya semakin sakit kepala untuk memikirkannya itu.

Selama pelajaran, dapat kita lihat bahwa gadis bersurai merah muda sedang tidak fokus mengikuti proses belajar hari ini. 'Sial, kejadian ini benar-benar membuatku gila! Semoga saja aku bisa segera tau penyebab penyakit anehku ini, terang aja penyakit aneh! kelainan apa yang kuderita ini hingga aku sangat menikmati liquid merah bernama darah itu? Kalau manusia normal pasti akan jijik untuk meminum bahkan menyentuhnya. Hah, tidak! Aku harus tetap tenang! Kami-Sama...bantu aku melewati ini semua dan semoga penyakit anehku ini tidak kumat lagi untuk memperburuk keadaan!' Batin Sakura.

.

.

Beberapa haripun berlalu seperti biasa, gosip tentang kejadian mengerikan waktu itu berangsur-angsur mereda. Sakura pun sudah mulai tenang mengingat beberapa hari ini dirinya melakukan aktivitas layaknya orang normal lainnya, tanpa harus tersiksa akan penyakit anehnya itu yang entah mengapa seperti lenyap dari tubuhnya, seolah telah hilang walaupun baru beberapa hari lalu dirinya menyandang predikat sebagai pembunuh berdarah dingin yang tentunya itu sebutan untuk dirinya sendiri. Hatinya juga sedikit merasa kosong selama beberapa hari ini tak bisa mengobrol santai dengan pujaan hatinya, jangankan mengobrol, bertemu saja tidak bisa, karena Sasuke sedang sibuk-sibuknya menbersiapkan diri untuk olimpiade Matematika yang diadakan sekolahnya mengingat Sasuke memang jenius dalam hal apapun.

BRUK!

"Hei jidat!" sentak gadis cantik berambut pirang like barbie dengan sengaja menjatuhkan buku pelajaran diatas meja sahabat pinkynya itu.

"Ah! kau ini pig, bikin kaget saja! hufftt..." dengus Sakura kesal sambil menggembungkan pipi yang membuatnya semakin menggemaskan.

"Haha, lagian kau melamun saja sih! Udah istirahat tuh...tak ingin kekantin hem?" tanya Ino dengan tampang innocent yang dibuat-buat.

"Huum aku tidak lapar! kau saja sana dengan Hinata-chan." Sahut Sakura karena dia sedikit tidak mood hari ini, entah mengapa perasaanya sedang gelisah.

"Yara-yare, jangan ngambek gitu donk jidat." Goda Ino sambil menowel dagu Sakura, membuat sang empunya dagu mendelik kesal. "Baiklah, ayo ke kantin Hinata!" Ajaknya lagi, yang hanya dibalas dengan anggukan oleh gadis bersurai indigo tersebut sambil beranjak dari kursinya.

"Yeiy siapa juga yang ngambek dasar Ino pig!" ejek Sakura dengan menjulurkan lidahnya kearah sahabat pirangnya yang berjalan keluar.

Melihat kedua sahabatnya sudah pergi dan kelas juga sepi hanya tersisa beberapa murid yang sibuk mencatat. Lagi-lagi gadis cantik berhelaian senada dengan bunga kebanggaan negerinya ini menghela napas panjang. "Huufftt, sudah beberapa hari sejak kejadian itu, perasaan ini datang lagi, panas, kering dan haus datang secara bersamaan. Ah-tidak, aku harus bisa mengendalikan diriku sendiri!" gumam Sakura lirih.

Beberapa menit kemudian.

"Hei...jidat...jidat, aku ada kabar gembira nih~." Suara cempreng Ino terdengar antusias setelah kembali dari kantin dan langsung menjatuhkan bokongnya dikursi sebelah Sakura yang sedang membaca buku pelajaran, mengingat dirinya juga termasuk salah satu murid terpandai di Konoha Gakuen membuatnya harus terus mempertahankan prestasinya.

"Apa sih pig!? Kau berisik sekali, mentang-mentang baru ngisi energi dikantin jadi tambah berisik saja!" omel Sakura sambil menutup buku bacaannya karena tak fokus lagi gara-gara gangguan dari sahabat pirangnya yang berisik ini.

"Dengar dulu jidat, jangan asal ngomel-ngomel terus kau itu nanti cepat keriput lohhh~" goda Ino terkikik geli melihat reaksi Sakura seperti sedang PMS saja.

"I-iya Sakura-chan dengar dulu..." kali ini gadis Hyuuga yang angkat bicara, "ta..tadi kami bertemu dengan murid yang mengaku teman sekelas Sasuke-san, katanya ia ingin bertemu denganmu ditaman belakang sekolah setelah jam pulang nanti." Jelas Hinata panjang lebar ke sahabat pinkynya itu.

"Ehhh...?" penjelasan Hinata sukses membuat Sakura terbelalak kaget sekaligus senang karena memang sudah beberapa hari ini dia tak bertemu pujaannya itu, baik dirumah maupun disekolah.

"Nah...itu dia yang ku maksud kabar gembira untukmu jidat! Kau malah ngomel-ngomel sebelum kujelaskan!" gerutu Ino, "jangan lupa nanti sepulang sekolah temui dia, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu padamu deh.. Mungkin pernyataan cinta, kyaaa~ makanya nuggu sekolah sepi..." pekiknya lagi.

"Tentu saja aku akan menemui dia! Tapi...kalian berdua juga temani aku ya? Plisss..." rengek Sakura dengan puppy eyes no jutsu andalannya kepada kedua sahabatnya itu.

"Tidak bisa!" seketika itu juga langsung dibantah oleh keduanya.

"Eh...nani?" tanya Sakura.

"Karena aku akan pulang dengan Sai-kun dan langsung berkencan setelahnya." Terang Ino bangga.

"A-aku juga pulang dengan Naruto-kun, Sakura-chan gomen~" cicit Hinata menjelaskan alasannya kepada Sakura.

"Cih! Kalian tega sekali huh! Lebih memilih kekasih daripada sahabat sendiri!" Protes Sakura kesal.

"Ehhh kau itu jidat, seharusnya kau berani donk menemuinya sendiri! Kalau ada kami, nanti dia malu bagaimana!? Ya kan Hinata?" Jelas gadis bermata aquamarine itu sambil berkacak pinggang kesal pada sahabat pinkynya yang tak ada kemajuan kalau urusan cinta.

"I..iyaa, benar apa kata Ino-chan!" Tambah Hinata yang tampak menyetujui alasan sahabat pirangnya itu.

"Huuffttt...ya yaa, kali ini ku maklumi alasan kalian!" ujar Sakura ketus mengakui bahwa dia kalah argumen dengan kedua sahabatnya ini.

"Nah...gitu donk~" balas Ino dengan cengiran kudanya, sedangkan Hinata hanya tersenyum melihat tingkah sahabat-sahabatnya ini.

Bunyi bel masukpun terdengar dan pelajaran terakhir akan segera dimulai, hal itu membuat semua murid segera bergegas kembali ke tempatnya masing-masing dan mempersiapkan peralatan belajar selanjutnya dengan serius.

.

.

Pelajaran Bahasa Inggris dikelas XI Sains 1 itu berlangsung selama 2 jam, semua murid mengikuti proses pembelajaran dengan tenang, hingga suara bel panjang yang menandakan berakhirnya aktivitas disekolah pun berbunyi, membuat sang guru berambut hitam pendek yang biasa disapa Miss Shizune itu segera mengakhiri kelasnya.

"Nah karena bel pulang telah berbunyi..." ucap sang guru dengan menggantungkan kata-katanya, "tugas kalian bisa dilanjutkan dirumah!" lanjutnya kemudian merapikan bahan-bahan ajarnya barusan.

"Ha'i Miss Shizune!" sahut seluruh murid dikelas bersamaan.

Setelah guru Bahasa Inggris mereka keluar kelas, satu persatu murid dikelas itu juga berhamburan keluar. Tak terkecuali dengan ketiga siswi cantik berbeda warna rambut ini yang juga tengah bersiap untuk pulang dijemput kekasihnya masing-masing kecuali gadis bersurai merah muda yang masih setia menjomblo.

"Hinata-channnn~" terdengar suara cempreng kekasih Hinata melambai-lambaikan tangan dari arah pintu kelas menginterupsi kegiatan ketiga gadis yang masih berada dikelas, pria kuning berambut duren itu terlihat bersama seorang pemuda yang selalu tersenyum disebelahnya.

"Ah- Na...Naruto-kun..." gumam Hinata melihat kekasih kuningnya datang menjemputnya. "Hemm ayo Ino-chan, kita sudah dijemput tuh, a-ada Sai-san juga." Ajak Hinata kepada sahabat pirangnya yang masih menggoda sahabat pinky disebelahnya.

"Eh iyaa Hinata, baiklah..." jawab Ino, "kau juga jidat ganbatte yaaa bertemu si pangeran es itu...hihi...jaaa~" Ledek Ino sebelum melangkah pergi keluar kelas bersama Hinata yang terlihat tersenyum dengan menggumamkan kata semangat untuk Sakura.

"Cih, iya iya...aku tak akan kalah dari kalian, lihat saja nantiiii!" balas Sakura setengah berteriak karena kedua sahabatnya sudah menjauh.

Karena teriakan Sakura yang cukup nyaring itu menggema dilorong sekolah jadi masih bisa didengar kedua sahabatnya. "I..Ino-chan, apa kau dengar suara teriakan Sakura-chan barusan?" tanya gadis bersurai indigo yang berjalan bersama kekasih dan sahabatnya sambil menoleh kebelakang saat mendengar pekikan sahabat pinkynya.

"Entahlah, mungkin sangking semangatnya karena dia akan bertemu si pangeran es itu." Jawab Ino asal mengamit lengan kekasihnya.

"He pangeran es? Maksudmu si teme?" kali ini Naruto buka suara saat mendengar pernyataan gadis pirang pewaris perusahaan Yamanaka Fashion itu.

"Iya, siapa lagi kalau bukan dia!" celetuk Ino menanggapi pria kuning yang dicintai sahabat indigonya.

"Humm bukannya si teme masih sibuk dengan urusan olimpiadenya yah, sepertinya dia tadi sedang ada pelatihan bersama Asuma sensei..." ucap Naruto sembari berpikir keras karena sahabat ravennya memang benar sibuk akhir-akhir ini, jadi tidak munggin jika dia sampai berjanji menemui Sakura, "iya kan Sai?" tanyanya lagi pada sahabat putcatnya untuk meyakinkan.

"Iya benar, tapi mungkin Sasuke akan menemuinya kalau urusannya sudah selasai." jawab Sai mengandai-andai tetap dengan tersenyum menanggapi pertanyaan pria kuning yang telah lama menjadi sahabatnya itu. Membuat Naruto manggut-manggut seolah sependapat dengan jawaban Sai.

"Ya sudah jangan buang waktu lagi, kita harus memberikan mereka waktu untuk berdua kan...!?" tegas Ino seraya mempercepat langkahnya mengikuti langkah besar sang kekasih.

"Hu-um, Ino-chan benar, ayo Naruto-kun." tanggap Hinata dengan menatap lembut kekasihnya yang sudah merangkul pinggang mungilnya dan ditanggapi anggukan oleh Naruto, membuat Hinata blushing sendiri karenanya.

Perlahan tapi pasti gedung megah tempat menuntut ilmu itu mulai terlihat sepi, seluruh penghuninya berhamburan keluar meninggalkan aktivitasnya pada hari ini, dan hanya menyisakan beberapa siswa yang sedang sibuk mengikuti ekskul maupun pelatihan pembelajaran dibeberapa ruangan terpisah yang terdapat disekitar gedung itu. Salah satunya seorang gadis berhelaian merah muda, terlihat seperti sedang menunggu seseorang ditaman belakang sekolah yang memang sudah sangat sepi itu.

1 jam sudah Sakura menunggu, hingga sekolah ini benar-benar sepi, tapi yang ia tunggu tak kunjung datang. "Diaa...lama! Apakah benar dia akan menemuiku disini?" gerutu gadis yang sedang duduk menunggu dibangku panjang dekat rumah kaca, tempat penangkaran berbagai macam bunga dan serangga pengumpul madu ditaman itu. Dalam hati ingin rasanya dia pulang, karena talah menunggu lama, tapi ia urungkan niatnya itu, mengingat kalau dirinya juga sangat ingin bertemu pemuda yang ia cintai.

Tap.

"Hemm surai merah muda ya...? sepertinya gadis itu yang dia maksud." fufuu "kelihatannya lumayan manis, pantas saja dia ingin aku mengerjainya. Cih demi apapun pasti akan aku lakukan untukmu sayangku!" gumam seseorang yang baru saja datang dari pintu pojok taman dengan seringai licik yang menampakkan beberapa gigi runcing miliknya.

Mendengar ada sebuah langkah mendekatinya, Saakura pun menoleh dengan harapan itu adalah pemuda yang sedari tadi ditunggu-tunggu olehnya.

"Ah...Sasu-!?

Deg!

Seulas senyum yang sudah dipersiapkannya seketika menghilang.

"Hallo nona pinky yang manis~" sapa pria tersebut dengan perlahan mendekati gadis merah muda yang terkejut akan kedatangannya.

"Si.. Siapa kau? Ma-mana Sasuke...? Tanya Sakura gemetar karena dia tau sekolah ini sudah sangat sepi, tapi kenapa orang ini yang datang, bukan Sasukenya? Hal itu sontak membuat Sakura takut kalau orang tak dikenalnya ini berbuat yang tidak-tidak padanya.

"Hoo...ternyata kau nona manis yang bodoh, eh! Tentu saja Sasuke tak ada disini, cih kau bodoh sekali bisa kutipu dengan mudah, hahaha!" Ujar lelaki yang terlihat mengerikan hanya dengan caranya tertawa itu sudah berada semakin dekat dengan Sakura.

"Mau apa kau!? Jangan coba mendekat lagi! Atau...atau aku akan teriak!" Ancam Sakura mulai gusar melihat lelaki asing yang sepertinya kakak kelasnya disini, entah dikelas mana karena dia melihat lelaki itu mengenakan seragam yang sama dengannya.

Lelaki yang dikenal dengan nama Suigetsu itupun tertawa mendengar ancaman gadis pinky dihadapannya, "haha, silahkan saja kau berteriak sepuasmu! Karena tidak akan ada yang mendengarkanmu disini hem~" katanya sambil mencengkram keras bahu gadis incarannya ini.

"Tidakk,,, jangannn!?" pekik Sakura terlihat menegang kaget dan mencoba melawan lelaki yang sudah seenaknya sendiri ini, tapi ia kalah kuat dan hanya bisa gemetar pasrah, berharap ada orang menolongnya, tapi itu mustahil! Walaupun masih ada beberapa orang beraktivitas disekolah ini tapi itu digedung yang berbeda bahkan mungkin orang-orang tersebut sudah selesai dengan kegiatannya dan telah pergi dari sini. Tak ada harapan lagi bagi Sakura.

"Baiklah, kita mulai saja! Aku sudah tak sabar utnuk menikmati tubuhmu ini nona manis~" bisik Suigetsu ditelinga Sakura.

"Tidakkk! Jangan sentuh aku!" teriakan Sakura semakin menjadi-jadi, tubuhnya meronta minta dilepaskan tapi usahanya nihil, justru tangan lelaki itu sudah mulai membuka paksa baju seragamnya hingga kancing bajunya terlepas begitu saja dan memperlihatkan bra hitam yang membungkus kedua belah dadanya kini terlihat jelas.

'DEG!'

Sakura yang sedari tadi sibuk meronta mendadak diam tak bersuara saat merasakan sesuatu dalam dirinya seperti ingin melonjak keluar, 'ah...perasaan ini lagi-lagi muncul... ' batin Sakura berbisik lirih saat merasakan perasaan mengerikan yang pernah meyerangnya beberapa hari lalu.

Seketika itu lelaki dihadapannya semakin bergairah dan terpesona melihat Sakura yang seolah-olah menurut dan tidak melawannya lagi, "Oh ayolah, aku tau kau sudah mulai menikmatinyakan?" dengan seringai liciknya, lelaki bergigi runcing itu bermaksud melepas semua helai benang yang masih menutupi tubuh mulus Sakura, dan dengan kasarnya dia juga mulai menciumi leher jenjang gadis dihadapannya. Tapi tiba-tiba aksinya terhenti saat melihat kedua sorotan tajam semerah darah yang menatapnya dengan aura membunuh.

'Hei! Sejak kapan warna matanya berubah merah begitu? Hem ini semakin menarik membuatku semakin bergairah bermain-main dengan gadis pinky ini, fufu~' ujar lelaki yang dibutakan napsu itu dalam hatinya.

"Lepaskan aku!" Nada yang dingin nan mengerikan meluncur dari bibir mungil Sakura.

Sontak saja tiba-tiba pergerakan Suigetsu terhenti. "Hah! A-apa yang kau lakukan pada tubuhku pinky!? Mengapa tiba-tiba aku tak bisa bergerak begini!?" sentaknya merasakan tubuhnya seolah mati rasa tak bisa digerakkan.

Sakura tak menjawab, dia masih menatap nyalang mata lelaki sialan yang bermaksud menodai tubuhnya ini, tapi hati kecilnya menjerit 'tu-tubuhku bergerak diluar kendaliku, apa ini? Penyakit ini menyerangku lagi! A...aku pasti sangat mengerikan sekarang..." jerit Sakura dalam hati saat merasakan tiba-tiba tubuhnya memiliki kekuatan yang sangat besar, bahkan dia langsung mencekik leher Suigetsu dengan sebelah tangannya, membuat lelaki tersebut tak bisa berkutik lagi.

HAP! Sluurpp

"AKHHH!" Pekikan tertahan Suigetsu menggema diseluruh taman geudng sekolah yang sepi ini.

'Tidakkk...jangann lagi...kumohon...!' teriak hati kecil Sakura yang tak menginginkan hal ini terjadi, dia tak ingin membunuh orang lagi seperti sebelumnya. Tapi apa mau dikata, tubuhnya telah bergerak sendiri tanpa bisa ia kendalikan, dan telah menghisap habis darah lelaki yang melecehkannya itu hingga dia mati kehabisan darah dengan kondisi tubuh mengering hingga sulit dikenali lagi kecuali seragam sekolah yang melekat ditubuh kurusnya.

"DORR"

Suara letupan tembakan yang tidak terlalu nyaring telah menghentikan kegiatan makan siang gadis musim semi ini, dan pelurunya menggores bahu mungil miliknya. Membuat dirinya terkejut, dan seketika itu langsung menoleh kearah datangnya peluru, dia tak menyangka bahwa ada orang lain yang melihat aksinya kali ini, walau peluru yang dilesatkan orang tersebut sempat menggores bahunya, tetap saja tak membuat dia kesakitan, dirinya hanya merasa seperti digigit serangga.

Tapi hati kecilnya mencelos seketika, setelah melihat siapa yang berani menembakkan timah panas padanya. Yaa...pemuda dengan tatapan mata hitam sekelam malam itu telah menatapnya tajam dari atas pagar beton yang menjulang tinggi membatasi gedung ini.

'DEG!'

"Sa...suke?"

~~~~~~~~~~~ T.B.C~~~~~~~~~~~

Yo..yoo.. Bertemu lagi dengan diriku Hehhhe, akhirnya chapter 3 selesai juga fiuuuhhh #Ngelap keringet! 💦💦

.

.

® About Review ® :

® tenang minna...fic ini InshaAllah pasti selalu aq lanjut kok, walau gak tau kapan pastinya, yang pasti sesuai mood dan kalau tak terlalu sibuk pasti cepet aq updte~ hehehe

® Ekh-hem, Banyak yang penasaran nih yee,,,, tentang siapa yang vampire, apakah Sakura sekeluarga atauuu... Hihi masalah itu kita liat aja lanjutannya ya...

(^▽^)↗

® Sekali lagi Hezel ucapkan Arigatou gozaimasu bagi readers yang masih setia menunggu kelanjutan fic ini, dan yang selalu mereview terimakasih. Membaca review kalian membuatku menjadi semakin semangat menulis lanjutan fic ini, jadi jangan sungkan-sungkan tuk review yaa, kritik dan saran kalian aq tunggu~^_^

Mind to review again please?