TITLE : Lovely Vampire

CHAPTER: 4

AUTHOR : Hezel MintCherry

FANDOM : NARUTO

RATE : T

PAIRING : SASUSAKU

GENRE : Romance, Mystery

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

WARNING: Terinspirasi dari komik yang pernah saya baca, tapi saya usahakan ceritanya berbeda dikit hehehhe... Alur muter2 gajeness, AU, OOC, TYPO, gak sesuai EYD!?

.

Don't like don't read!

.

.

.

Hehe karna ini FF pertama aq jadi mohon maaf jika masih banyak kesalahan maklum newbie, mohon masukan dan sarannya melalui review Senpai semua arigatou ~_~

.

.

.

(^▽^)↗ Happy Reading ↖(^▽^)↗

.

.

.

"Sa...suke...?"

"Hn, Sakura." Balas pemuda pemilik suara baritone itu dengan seringai diwajah tampannya, terlihat ia juga langsung melompat dari tempatnya berpijak, untuk mendekati gadis berhelaian merah muda yang masih terpaku menatap kedatangannya. Pemuda yang dipanggil Sasuke itu tampak memicingkan onyx hitamnya menelisik penampilan gadis merah jambu dihadapannya, gadis tersebut terlihat sangat berantakan dengan seragam yang setengah terbuka dan terdapat beberapa noda darah yang menghiasi seragam sang gadis, tapi hal itu tak memudarkan kecantikan alami dalam dirinya. "Kau terlihat berantakan, eh?" lanjutnya kemudian seraya menatap intens sepasang manik emerald yang saat ini berwarna merah darah milik tetangga pinkynya itu.

"..." Sakura tak menjawab, ia masih shock akan kemunculan pemuda yang ia cintai ini.

"Tak ku sangka, kau bisa menahan peluruku, darahpun tak keluar dari lukamu, hebat juga kau." Ucap sang pemuda santai sambil meniup asap tipis diujung pistol yang baru saja meletupkan timah panas itu.

"A-apa maksudmu Sasuke? Kenapa kau menembakku?" protes Sakura yang masih cukup tersadar, walau kadang tindakannya tak dapat ia kendalikan, tapi karena ia baru saja memanjakan tenggorokannya yang haus akan darah itu, dirinya jadi tak terlalu agresif lagi.

"Aku tak hanya menembakmu, tapi aku juga akan membunuhmu!" Jawab pemuda yang sudah beberapa tahun ini menjadi tetangga dekat Sakura itu dingin.

Mendengar itu, setengah tersentak Sakura mencoba menenangkan hatinya, "ta-tapi kau kan sudah berjanji akan selalu berada disampingku Sasuke? Dan kenapa kau justru ingin aku mati?" cicitnya dengan suara bergetar sambil menggenggam erat liontin yang merupakan benda berharga pemberian lelaki yang mengaku ingin membunuhnya itu.

"Benar, aku akan selalu disampingmu Sakura, memastikan kematianmu." Sasuke menyeringai menanggapi gadis pinky dihadapannya.

"Kenapa? Kenapa kau ingin membunuhku? Kau belum menjawabnya?" pekik Sakura dengan suara parau menahan amarah dan kekecewaan yang bergemuruh dalam dadanya.

"Hn, kau memang menyebalkan." Balas pemuda onyx itu enteng.

"Jawab aku Tuan Uchiha!?" bentak Sakura lagi yang sudah kehabisan stok kesabaran menunggu pemuda dihadapannya ini untuk menjelaskan yang sebenarnya, walaupun dalam hati ia sungguh tau kalau hal itu tak mungkin, mengingat pemuda Uchiha itu sangat irit bicara.

Mendengar pekikan tak sabar dari Sakura membuat Sasuke menatap gadis tersebut semakin tajam. "Hn, baiklah akan kujawab, kasian juga kalau kau mati tanpa tahu apa-apa Angelic Queen!"

"Hah, Angelic Queen?" tanya Sakura yang tidak mengerti dengan arah pembicaraan si Uchiha bungsu.

"Angelic Queen adalah Ratu Vampire, ia makhluk penghisap darah mengerikan yang bersemayam dalam tubuhmu dan sekarang ia mulai bangkit untuk mengendalikan dirimu. Ia akan menguasaimu, melakukan hal-hal keji seperti waktu itu, dan aku tak akan membiarkannya!" Terang Sasuke panjang lebar, "Kali ini aku pasti akan membunuhnya yaitu dengan membunuh dirimu terlebih dahulu." Lanjutnya kemudian seraya menatap Sakura dengan pandangan yang sulit diartikan.

Sakura tersentak antara kaget dan shock mendengar penjelasan pemuda raven tersebut tentang dirinya, ia masih belum terlalu mengerti apa yang sebenarnya terjadi, "waktu itu? Apa maksudmu?" tanyanya lagi.

"Hn, waktu itu disuatu desa terpencil, Angelic Queen pernah menyerang manusia didesa tersebut, membunuh dengan keji serta menghisap darah setiap manusia yang ditemuinya hingga tak tersisa, dan salah satu korbannya adalah kedua orang tuaku yang saat itu sedang berada disana." Ucap Sasuke sambil menerawang kosong kearah Sakura.

"..." Sakura terdiam, ia terlihat serius memperhatikan setiap penjelasan pemuda tampan dihadapannya, ia hendak membuka suara namun ia urungkan saat mengetahui bahwa Sasuke masih akan melanjutkan perkataannya.

"Dan setelah puas membunuh seluruh populasi manusia didesa itu, Angelic Queen seolah menghilang. Mengetahui hal tersebut tentu saja aku dan kakakku yang saat itu juga masih kecil sangat terpukul, hingga kami tumbuh mendendam, ingin membalas perbuatan makhluk sialan itu!" Nada suara Sasuke terdengar lebih tinggi dari yang biasanya datar saat menjelaskan hal ini, "Saat itu aniki ku lah yang paling sibuk mencari keberadaannya, hingga kami mengetahui bahwa Angelic Queen bersemayam dalam tubuhmu, kami hanya bisa menunggu saat kebangkitannya untuk memastikan sendiri, huh ternyata benar, setelah mengamatimu beberapa tahun ini seperti apa yang kulihat, kau baru saja menghisap darah manusia hingga ia mati. Kau tak bisa mengelak dan bersembunyi lagi Sakura, ah tidak- tapi Angelic Queen!" Tegas sasuke panjang lebar dengan memberikan penekanan di kata-kata terakhir sambil menyeringai licik.

"Ti-tidak! Itu tidak mungkin! Kau pasti bohong kan Sasuke? Itu tidak benar kan?" elak Sakura dengan mata berkaca-kaca menahan agar air matanya tak meluncur jatuh kebawah dan tubuhnya gemetar ketakutan, ia berharap pemuda dihadapannya ini hanya bercanda mengarang cerita seperti itu, tapi itu tak mungkin, karena Sasuke tipe pria yang selalu serius akan perkataannya.

"Cih jangan memelas! Aku tak akan mengasihanimu Angelic Queen!" decih Sasuke sinis sambil menodongkan pistol kearah kepala Sakura yang tak terlalu jauh dari hadapannya itu.

"A-aku bukan Angelic Queen! Aku masih Sakura!" teriak Sakura frustasi dengan suara parau dan isakan tangis yang membuat pemuda onyx dihadapannya itu mau tak mau jadi memandangnya kasihan. "Da-dari mana kau tahu kalau makhluk itu bersemayam didalam diriku ini...hiks?" tanyanya lagi.

"Itu mudah saja, selain Itachi yang selalu mencari informasi, Angelic Queen juga selalu memilih tubuh seorang gadis untuk tempatnya bersemayam sebelum kebangkitannya, dan ia juga selalu memberikan segel berupa tanda khusus pada gadis tersebut, seperti tanda yang ada ditengkukmu itu." jelasnya sambil menunjuk tengkuk gadis pinky dihadapannya dari jauh, "Sebuah tanda berpola rumit membentuk ukiran bunga yang tak sengaja kulihat saat kau menguncir rambutmu, ternyata dunia ini sempit, eh!?" cibir Sasuke dengan tatapan tajam penuh dendam.

Sakura yang mendengarnya sontak menyentuh tengkuknya, ia merasakan memang ada pola rumit membentuk bunga yang terasa timbul saat diraba. Gadis bermata hijau klorofil itu juga baru tahu, karena selama ini ia tak terlalu memperhatikan tanda tersebut, dan selama ini ia kira tanda itu hanya bekas luka atau tanda lahir tak berarti. Mendadak kakinya terasa lemas untuk berpijakpun tak sanggup, iapun merosot terduduk di tanah, dalam keadaan seperti itu, Sakura hanya bisa menangisi takdirnya yang seolah tak adil baginya itu.

"Hiks...hiks..." Hanya isakan memilukan yang keluar dari bibir mungilnya, "Hiks...a-apakah aku semengerikan itu...hiks..." gumamnya sambil mengusap air matanya yang telah menganak sungai dipipi mulusnya itu, dan terlihat mata gadis bermahkotakan merah muda itu sudah kembali normal, menampakkan emeraldnya yang redup, tidak bercahaya lagi seperti biasanya.

"Hn, sudah cukup penjelasannya, sebelum semakin banyak korban berjatuhan, aku harus membunuhmu sekarang juga Angelic Queen!" Terang Sasuke dengan sigap menodongkan pistol dalam genggamannya ke arah kepala gadis merah muda yang tersungkur tak jauh dari hadapannya, terlihat jemari panjangya menarik pelatuk pistolnya tanpa ragu.

DOR!

Terdengar suara letupan timah panas yang melesak dari pistol perak sang bungsu Uchiha, satu tembakan yang seharusnya tepat sasaran mengenai kepala pink gadis musim semi itu meleset, dan hanya mengenai bahu sang gadis, hingga membuat Sakura menjerit tertahan sebelum akhirnya kehilangan kesadaran dan pingsan ditempat.

Tap.

"Hentikan Sasuke!" Ucap seorang pria berhelaian raven panjang diikat satu sewarna dengan Sasuke itu baru saja tiba dan menghentikan aksinya.

Tahu ada yang berusaha mencegahnya membunuh sang Vampire, Sasuke mendelik tak suka, terlebih orang yang mencegah itu adalah sulung Uchiha. "Cih, kenapa kau menghentikanku baka aniki!?" decihnya saat tiba-tiba tangannya ditahan oleh kakaknya sendiri hingga tembakannya tadi meleset.

"KAUUUU!" Geraman pria berhelaian merah yang muncul dari belakang Itachi itu mengalihkan perhatian Sasuke, pria bermata hazel tersebut memicing tajam, memandang sosok Uchiha bungsu dengan aura membunuh, saat itu juga rahangnya mengeras, tangannya mengepal ketika melihat keadaan adik kesayangannya yang tersungkur tak berdaya, dengan cepat ia berlari mendekat kearah Sasuke, membuat Sasuke menegang kaget dan tak sempat menghindar saat sebuah pukulan keras dari tangan pemuda merah itu mendarat di wajah tampannya.

BUAGHH!

"BRENGSEKK! Kau apakan adikku hah!?" Sentak Sasori sambil menarik kasar kerah baju adik dari sahabatnya yang saat ini hanya diam saja melihat dirinya meluapkan segala amarah dan tampak memandang datar kearahnya.

Sebenarnya dalam hati, Itachi tercengang melihat kebrutalan sahabat merahnya itu, bayangkan saja pria babyface tersebut selalu tampak tenang dan kalem saat menghadapi masalah apapun, tapi tidak jika menyangkut imotounya tercinta, selama ini ia tak pernah melihat Sasori sangat marah seperti itu, dan kali ini Itachi tak bisa berbuat apa-apa selain hanya memandang miris perseteruan kedua orang kesayangannya, ia seolah mengerti perasaan sahabat merahnya.

Sasuke yang mendapat perlakuan mengejutkan yang tiba-tiba dari sulung Haruno itu berdecih dengan menyunggingkan seringai yang terlihat meremehkan, hingga membuat Sasori semakin geram. "Cih, sudah jelas aku akan membunuhnya." Sahutnya enteng sambil mengelap sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah akibat pukulan telak pria babyface dihadapannya.

"Apa kau bilaaannnggg!? Membunuhnya, eh? Cih, Jangan harap kau bisa membunuh adikku tanpa melangkahi mayatku terlebih dahulu!" Sasori murka dan terlihat akan melayangkan tinjunya lagi kepada pemuda raven pantat ayam tersebut, namun Sasuke bisa membaca gerakannya kali ini, dan ia berhasil menangkis tinju keras dari kakak lelaki gadis pink tetangganya itu.

"Hn, hanya itu kemampuanmu heh wajah bayi?" ejek Sasuke yang tampak membalas perlakuan Sasori, kali ini Sasuke lah yang melayangkan tinjunya ke wajah babyface pria merah didepannya yang juga tak dapat menghindari pukulannya, membuat Sasori menggeram menahan sakit, akhirnya mereka benar-benar terlibat perkelahian hebat, baku hantam diantara keduanya tak terhindarkan lagi.

Hal itu membuat Itachi yang sedari tadi hanya menonton pun turun tangan, menghentikan kelakuan adik dan sahabatnya yang sudah diluar batas itu, 'sebelum terlampau jauh lebih baik segera ku hentikan perkelahian bodoh mereka,' batinnya seraya bergerak cepat menengahi keduanya, menahan kedua tangan yang saling mengepal untuk meninju satu sama lainnya. "Hentikan kalian berdua!" Tegas Itachi, "masih ada hal yang lebih penting untuk segera diurus." Lanjutnya kemudian sambil menggerlingkan onyx hitam kelamnya menatap gadis berhelaian merah muda yang tak sadarkan diri dekat situ dan seonggok mayat lelaki yang terlihat mengering.

Sasuke dan Sasori mendadak terdiam saat dihentikan begitu oleh Itachi, mereka menyadari bahwa tindakan perkelahian mereka itu hanyalah tindakan bodoh yang tak akan menyelesaikan masalah yang ada.

"Cih, kita lanjutkan ini nanti bocah tengil! Aku tak akan segan-segan lagi padamu jika kau melukai Sakura lagi!" Ancam Sasori sebelum pergi melenggang kearah gadis musim semi yang tak lain dan tak bukan adalah adik semata wayangnya, ia sangat cemas dan khawatir akan keadaan Sakura.

Sasuke tak mengindahkan ancaman Sasori, ia segera bangkit dan merapikan bajunya yang berantakan akibat berkelahi barusan, ia juga berjalan mendekati Sakura dan Sasori bersama dengan Itachi disebelahnya, "Kenapa kau menghentikanku untuk membunuh Angelic Queen baka aniki?" tanya Sasuke kepada Itachi.

Itachi tampak melirik adiknya dengan ekor matanya, ia berpikir sejenak sebelum membuka suara. "Tak harus membunuhnya, karena aku dan Sasori telah menemukan cara aman untuk mengatasi masalah vampire itu." Jawab Itachi santai dan mulai berjongkok memeriksa keadaan Sakura yang sepertinya baik-baik saja hanya tak sadarkan diri karena kaget akan apa yang terjadi.

Sementara Sasori dengan sigap segera menggendong tubuh mungil adiknya, dan sesekali tangan kirinya membelai lembut pipi chubby imotounya tercinta itu dengan penuh rasa bersalah, karena selama ini ia tak selalu ada disampingnya tuk menjaga dan melindunginya.

"Bagaimana caranya?" tanya Sasuke lagi, ia tampak tak puas dengan jawaban anikinya yang menurutnya setengah-setengah itu.

"Kita bahas dirumah, sekarang kita urus dulu mayat orang itu!" Sahut Itachi sambil menunjuk mayat yang terlihat mengerikan itu dengan mengernyitkan dahi jijik.

"Iya, kita harus menguburkan mayat tersebut ditempat yang aman!" timpal Sasori, "Itachi kau yang urus mayat itu!" cerocosnya lagi menanggapi perkataan sahabatnya.

Itachi melotot kaget mendapat perintah dari lelaki bertampang imut yang seenaknya saja dihadapannya tersebut, "Apa? Aku? Cih yang benar saja!" bantah Itachi, ia malas mengurusi mayat menjijikan yang bahkan rupanya saja sudah tak terbentuk lagi itu.

"Mau bagaimana lagi? Aku dan Sasuke akan membawa Sakura kerumahmu untuk diobati!" balas pemuda yang terkenal dengan wajah babyface diumurnya yang ke-23 tahun ini.

Itachi terdiam, ia tak dapat membalas perkataan telak Sasori, tapi Kali ini Sasuke lah yang terlihat memicingkan mata tak suka saat mendengar perkataan pemuda merah yang benar-benar seenaknya sendiri itu, "Apa? Kenapa harus rumah kami!? Kenapa tidak kau bawa pulang kerumahmu saja!" Elak Sasuke cepat.

"Apa kau bodoh Sasuke! Kalau kerumahku nanti kaa-san akan curiga dan khawatir dengan keadaan Sakura, aku tak mau ia sampai mengetahui apa yang terjadi!" Bentak Sasori dengan suara lebih tinggi dari sebelumnya, rasanya habis sudah kesabarannya meladeni duo Uchiha yang tak mengerti keadaan genting ini batinnya.

"..." Sasuke tak bisa mengelak lagi, ia juga ikut bungkam akan perkataan pemuda merah tetangganya itu walau sesaat terdengar ia seperti mengumpat kesal.

"Cukup! Jangan buang-buang waktu lagi!" Suara tegas Itachi menginterupsi dan mengalihkan perhatian keduanya.

Hening

Sulung Uchiha itu tampak merogohkan tangan kedalam saku celananya dan mangeluarkan Smartphone dari sakunya tersebut, jemarinya dengan lihai meyentuh dan menekan-nekan ponsel pintar miliknya seolah mencari-cari nama seseorang didalam kontaknya, hingga ia mendapatkan nomor tujuan dan langsung saja ia menghubungi seseorang diseberang sana. "Hallo Dei, hem aku butuh bantuan kalian! Segera kemari." ujar Itachi pada seseorang yang ia panggil Dei itu, "Hn, posisi di Konoha Gakuen, taman belakang!" jelasnya lagi. "Ok fix!" kata Itachi mengakhirinya sambil manggut-manggut.

Sasuke dan Sasori yang melihat tingkah laku Itachi yang dadakan tersebut langsung sweatdrop.

"Loh, kalian berdua belum pergi juga?" tanya pria berkuncir satu itu saat melihat adik dan sahabatnya masih bengong memperhatikan dirinya.

"Eh iya, ini juga mau pergi," jawab Sasori mantap sambil menggendong adik tercintanya a la bridal style.

"Ck, siapa yang kau telpon baka aniki?" Sasuke bertanya pada anikinya sebelum melangkah pergi.

"Telpon anak buahku, biar mereka yang urus mayat itu, aku tak sanggup!" sahut Itachi tampak menggerling jijik pada seonggok mayat tak berbentuk dihadapannya itu.

Sasori yang mendengar penuturan Itachi langsung mendengus geli, "hmphh, anak buah, eh?"

"Diam kau Sasori! Sudah sana pergi!"

"Haha, iya-iya...ini juga mau pergi!" balas Sasori yang masih terkikik menahan tawa, "ayo Sasuke!" ujarnya lagi dan mulai menjauh meninggalkan tempat tersebut.

"Hn." jawab Sasuke hanya dengan gumaman andalannya, sembari menyusul kakak lelaki Sakura yang mulai menjauh, dan meninggalkan Sulung Uchiha sendirian mengunggu bala bantuan dari anak buah katanya.

~oOOOo~

Tap...tap...tap

Langkah kedua pemuda tampan berbeda umur dan warna rambut itu terdengar jelas dikoridor sekolah yang sepi, tak ada yang memulai pembicaraan diantara mereka, karena memang mereka berdua tidak terlalu akur sejak insiden barusan terjadi, jika tak penting maka buat apa memulai pembicaraan dengan orang menyebalkan, batin keduanya yang tampak saling melempar deathglare andalan masing-masing dalam kebisuan yang menguasai keduanya, walau tak berucap tapi tatapan merekalah yang seolah berbicara.

"Hei bocah tengil! Awas saja ya kalau sampai terjadi hal yang buruk pada imotouku gara-gara peluru perakmu tertanam dibahunya!" Ancam Sasori memecah keheningan diantara mereka, "aku tak akan memaafkanmu kalau sampai itu terjadi!" desisnya lagi tak lupa dengan deathglare yang setia menghiasi manik hazelnya baru-baru ini.

"Cih, tenang saja! Itu tak akan terjadi, kan ada vampire didalamnya!" sahut Sasuke dengan berdecih dan hanya melirik pemuda merah disebelahnya dengan ekor matanya sembari terus berjalan menuju pintu keluar yang letaknya masih cukup jauh, mengingat bangunan sekolahnya ini sangat luas, jadi membutuhkan cukup waktu untuk berjalan dari taman belakang sekolah menuju kedepan pintu keluar.

"Apaa kau bilangg!?" Sasori kembali meledak-ledak mendengar jawaban acuh tak acuh dari bocah tengil disampingnya.

Bayangkan saja jika Sasori si wajah bayi itu marah justru semakin imut dan membuat Sasuke mendengus geli ingin tertawa, tapi mau ditaruh dimana marga Uchihanya, seluruh leluhur bahkan kakeknya yang bernama Uchiha Madara, pasti akan mengutuk perbuatannya yang diluar karakter Uchiha yang sudah sejak dini diajarkan langsung oleh kakeknya tersebut. Untuk menahan tawanya, ia tampak berdehem pelan. Sebelum pemuda bertampang bayi itu semakin meledak-ledak, Sasuke pun segera melanjutkan perkataannya, "Aku yakin dia baik-baik saja," ujarnya "dan... Sebenarnya aku juga tak ingin membunuhnya." Lanjutnya kemudian dengan pandangan yang sulit diartikan memandang gadis berhelaian merah muda di gendongan Sasori itu.

Mendengar penjelasan adik sahabatnya itupun perlahan membuat amarah Sasori mereda, " Huh, kali ini kuterima alasanmu!" balasnya.

"Hn." Gumaman Sasuke mengakhiri pembicaraan atau lebih tepatnya perdebatan mereka berdua yang tak terasa sudah berada diujung koridor depan, hingga tiba-tiba Sasori menghentikan langkahnya membuat Sasuke kembali menoleh padanya, menatapnya bingung, "ada apa?"

"Umm itu..." ujar Sasori sambil menunjuk ke arah halaman depan, "ternyata penjaga sekolah masih disitu, bagaimana kita lewat agar tidak membuatnya curiga?" lanjutnya lagi setengah bertanya pada pemuda onyx yang memang murid lingkungan sini.

"Oh, dia si penjaga genit, ia memang pulang paling akhir karena ia bertugas hingga sore disini." Terang Sasuke, "seharusnya kau tadi juga bertemu dengannya saat kesini kan?"

"Tadi saat aku dan Itachi kemari, dia sedang tertidur pulas sambil mencium sebuah majalah wanita berpakaian sexy," jawab Sasori, Sasuke merotasi bola matanya bosan, pasalnya iya memang selalu tahu kebiasaan penjaga genit yang selalu tertidur disiang hari setelah membaca majalah mesum miliknya. "Dan sekarang dia sudah bangun rupanya, cih!" decih Sasori melanjutkan perkataannya, "jadi? Kita harus gimana?" tanyanya lagi.

"Hn, aku yang urus. Kau duluan saja!" Tegasnya lagi sambil berjalan menuju sang penjaga sekolah yang berada tak jauh darinya.

"Hei, kau mau apa padanya?" sentak Sasori setengah berbisik menahan volume suaranya agar tak terdengar oleh penjaga tersebut.

"Aku akan mengalihkan perhatiannya! Setelah itu kau bisa langsung pergi menuju mobilmu." Jelas pemuda berambut unik a la pantat ayam itu seraya melenggang santai dengan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya. Ia tampak mendekati penjaga sekolah yang memiliki rambut putih panjang yang sudah dipenuhi uban itu dan mengajaknya berbincang-bincang sebentar.

~oOOOo~

Sementara itu disebuah rumah minimalis modern, tampak seorang gadis bersurai merah panjang sedang tersenyum, ah lebih tepatnya menyeringai licik setelah membaca pesan masuk dari ponselnya beberapa jam lalu yang baru sempat ia lihat.

"Hemm, kau memang selalu bisa aku andalkan Suigetsu-kun. Kau harus membuat gadis pinky itu kehilangan harga diri dan keperawanannya hari ini juga khukhukhu..." Tawa licik terdengar dari bibir merah nan sexy miliknya. "Itu juga kalau ia masih perawan, hahahaha!" lanjutnya lagi dengan tertawa semakin lantang. Beruntung ia tak harus memperdulikan orang lain dirumahnya saat tertawa bengis begitu, karena ia telah lama tinggal sendiri dirumah tersebut, entah kemana seluruh keluarganya saat ini, hanya Tuhan, dirinya, dan author lah yang tahu.

"Kali ini Sasuke-kun pasti semakin jijik melihat si pinky itu hahahaha...!" tawanya lagi sembari duduk dikursi riasnya mematut pantulan dirinya dicermin, sambil merapikan surai merahnya yang terlihat berantakan seusai fitness di ruang olahraga yang tersedia disalah satu ruangan dalam rumahnya. Gadis merah itu memang selalu rutin berolahraga menjaga bentuk tubuhnya agar selalu tampak sexy. Sesekali terdengar gumaman narsis dari bibir merahnya,"aku memang sexy dan menawan huh."

Aktivitasnya terusik kala dering ponsel miliknya yang terletak diatas ranjang besarnya bergetar dan berbunyi memanggil-manggil, pertanda ada panggilan masuk, ia pun bergegas mengambil ponsel tersebut untuk mengangkatnya, senyuman tipis tersungging dibibirnya saat melihat nickname pemanggil bernama Tayuya, salah satu sahabat dekatnya, "Hallo Tayuya... Ah yaa tentu saja rencana kita berjalan lancar, tadi Sui-kun mengirimiku pesan. Ahahahaa yaa tentu saja ini berkat ide gilamu. Huum kita tunggu saja besok, pasti akan tersebar kabar menggemparkan tentang si pinky itu disekolah. Tak sabar menanti hari esok hahahah." gadis cantik berkacamata itu tampak asik berbincang dengan seseorang yang ia panggil Tayuya diseberang sana, tawa licik mengiringi pembicaraan mereka, entah apa yang mereka bicarakan.

~oOOOo~

Melihat ada kesempatan, Sasori yang membawa Sakura dalam dekapannya pun langsung mengendap-endap pergi menuju mobil sport yang senada dengan warna rambutnya diparkiran, ia segera menidurkan sang adik dikursi penumpang, selesai dengan itu ia bergegas masuk kedalam dan menyalakan mobilnya untuk keluar dari area parkir yang ada disekolah ini. Ia harus bersikap wajar agar tak terlihat mencurigakan saat melewati penjaga sekolah yang masih sibuk meladeni obrolan garing pemuda raven pantat ayam disana.

Tampak mobil merah Sasori sudah mulai mendekati gerbang utama, diapun menurunkan kaca mobilnya untuk sekedar memberi salam pada penjaga sekolah tersebut. Senyum terbaik yang biasa ia gunakan untuk merayu wanita, baik dari kalangan remaja, tua, muda, bahkan janda sekali pun ia keluarkan untuk membuat penjaga genit itu tak curiga. Sasuke yang melihat senyum innocent pemuda merah kakak lelaki Sakura itu hanya memasang wajah datar, walau hatinya sedang mendengus menahan tawa melihat senyum Sasori seolah sedang menggoda Jiraiya si penjaga genit sekolahnya ini.

Pria paruh baya yang mengenakan seragam security itupun membalas salam Sasori yang terlampau imut itu dengan ramah, namun tatapan senja sang penjaga tampak sedang memicing tajam memperhatikan pemuda merah yang lewat perlahan dihadapannya, "Tunggu anak muda!" tegasnya menghentikan Sasori.

Deg!

Sasori yang dihentikan begitu langsung menegang, pikirannya berkecamuk, 'apa mungkin penjaga itu mencurigainya?' ia menginjak pedal rem untuk menghentikan mobilnya tak jauh dari penjaga tersebut berdiri dengan Sasuke jauh beda dengan Sasuke yang selalu memasang wajah datar tersebut seketika terkejut.

"Ya ada apa?" jawab Sasori masih dengan memaksakan senyuman imutnya.

Penjaga genit tampak mendekat kearahnya, membuat degup jantung Sasori semakin tak beraturan, ingin rasanya ia langsung tancap gas kabur dari sini, tapi tidak! hal itu justru semakin mencurigakan! Oke kecuali memang keadaan benar-benar memaksanya untuk melakukan hal tersebut.

Tap!

Langkah Jiraiya tepat berhenti disebelah mobil Sasori, beruntung ia hanya membuka setengah kaca sebelahnya sekedar menampakkan wajah tampannya saja, dan kaca mobil kesanyangannya juga berwarna hitam gelap jika dari luar tidak akan bisa melihat kedalam begitu saja, jadi keadaan adiknya yang tak sadarkan diri dengan kondisi berantakan tersebut tak kan mudah terlihat dari luar.

"Ini, ada daun disini." Ujar sang penjaga seraya mengambil sebuah daun kering yang nyangkut disurai merahnya. Sasori sedikit menegang kaget saat tangan besar Jiraiya menyentuh kepalanya. "Hahahaha tak usah tegang begitu, silahkan lanjutkan perjalanan pulangmu nak~." Lanjutnya kemudian dengan tertawa lepas melihat ekspresi kaget pemuda pemilik manik hazel dihadapannya.

"Ah, ya arigatou, kalau begitu saya permisi." Sasori menjawabnya seraya mengangguk dan segera melenggang mengemudikan mobilnya pergi dari tempat tersebut, dalam hati ia sangat lega karena penjaga tersebut tak mencurigainya, setelah lolos, Sasori segera tancap gas karena kondisi kritis adiknya yang harus segera diobati itu

Sementara itu Sasuke tampak lelah, ia sudah mengeluarkan seluruh stok gosip yang dia punya untuk mengalihkan perhatian pria penjaga dihadapannya sedari tadi ini. Oh...ayolah, salahkan sahabat kuningnya itu yang selalu menjejalinya dengan gosip-gosip seputar wanita cantik nan seksi di sekitar tempat tinggalnya setiap kali mereka bertemu. Setelah dirasa mobil Sasori melaju cukup jauh dari tempatnya berpijak, ia pun langsung mengakhiri obrolan yang dianggapnya tak penting tersebut dan segera pamit pulang. "Hn, kalau begitu saya juga pamit dulu." Ucapnya dengan berojigi ria sebelum pergi dari situ menuju parkiran motor.

Hal tersebut membuat pria penjaga sekolah yang biasa dipanggil penjaga genit itu tersenyum sumringah, melihat kesopanan pemuda Uchiha yang baru saja menemaninya ngobrol beberapa waktu yang lalu. "Iya hati-hati dijalan anak muda!" tanggap Jiraiya, "Haha tidak biasanya dia ramah begitu~" gelak tawanya memecah keheningan sore disekolah yang tampak sepi tersebut sembari menutup gerbang saat melihat Sasuke telah keluar mengendarai motornya pergi dari sini.

.

.

~~~~~~~~T.B.C~~~~~~~~

.

.

Yo..yoo.. Akhirnya chap 4 ini aq update juga, gomen kalau tulisanku bukannya semakin baik tapi malah semakin burukk huwaaa #pingsanditempat #abaikan

.

.

® About Review ® :

® hihi iya nih kasian Sakuranya mau dibunuh sama org yg ia cintai, huufftt gk tega juga nulisnya tapi mo gimana lagi, #singkirinperasaanpribadi!

® Ekh-hem, Banyak yang penasaran nih yee,,,, tetap tongkrongin lanjutannya ya...

(^▽^)↗

® Sekali lagi Hezel ucapkan Arigatou gozaimasu bagi readers yang masih setia menunggu kelanjutan fic ini, dan yang selalu mereview terimakasih. Membaca review kalian membuatku menjadi semakin semangat menulis lanjutan fic ini, jadi jangan sungkan-sungkan tuk review yaa, kritik dan saran kalian aq tunggu~^_^

.

.

Special Thanks untuk readers maupun author yang telah mereview ff abal ini

Hani Yuya, Hanazono yuri, Guest, , Caesarpuspita, Magnetyca, Jeremy Liaz Toner, Sami haruchi 2, Blue Chery, Tamura, Azizaanr, Saki.

Arigatou untuk kalian yang telah review kritik dan saran juga selalu menyemangatiku untuk terus melanjutkan tulisanku ini. Hehhe aq sungguh senang dan semakin bersemangat ~_~

Mind to review again please?