TITLE : Lovely Vampire

CHAPTER: 5

AUTHOR : Hezel MintCherry

FANDOM : NARUTO

RATE : T

PAIRING : SASUSAKU

GENRE : Romance, Mystery

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

.

WARNING: Cerita awal terinspirasi dari komik yang pernah saya baca, tapi saya usahakan cerita selanjutnya berbeda dikit hehehhe... Alur muter2 gajeness, AU, OOC, TYPO, gak sesuai EYD!?

.

Don't like? Don't read!

.

.

.

Hehe karna ini FF pertama aq jadi mohon maaf jika masih banyak kesalahan maklum newbie, mohon masukan dan sarannya melalui review Senpai semua arigatou ~_~

.

.

.

(^▽^)↗ Happy Reading ↖(^▽^)↗

.

.

.

Tidak butuh waktu lama menempuh perjalanan pulang dari Konoha Gakuen sekolah elit seantero Konoha menuju rumahnya. Pria berhelaian merah darah dengan manik hazelnya yang tersiratkan kecemasan mendalam itupun sudah memasuki kompleks perumahan Distrik Konoha tempat tinggalnya. Melihat rumahnya yang minimalis dengan sentuhan modern pada dipilar-pilar penyangga serta pagar rumah yang dihiasi tumbuhan menjalar tampak indah dan terawat sudah ada diujung jalan, membuat Sasori menghentikan laju mobilnya, dan memarkirkannya disebelah kediaman Uchiha tak jauh dari rumahnya yang terdapat beberapa pohon maple besar disekitarnya, tempat yang cocok untuk menyamarkan benda besar kesayangannya ini. Hal itu ia lakukan agar kaa-san tidak melihat mobil ini pikirnya.

Baru saja Sasori mengangkat tubuh mungil Sakura dalam gendongannya keluar dari mobil, ia melihat Sasuke datang dengan motor sport hitamnya, dan berhenti tepat dihalaman rumahnya sendiri, ia nampak melepaskan helm, memperlihatkan rambut-rambut mencuatnya yang acak-acakan tapi justru terlihat makin errr sexy, tentunya dimata para wanita! Tidak dimata hazel Sasori yang memandang bosan gerakan membuka helm Sasuke, entah mengapa terasa bagai slow motion yang disengaja. Oke dirinya masih normal dan tidak mungkin terpesona oleh ketampanan Uchiha dihadapannya, karena ia sendiri juga tak kalah tampan batinnya.

Sasuke segera turun dari motornya dan membuka pintu rumah dengan kunci yang ia simpan disaku jaketnya. Setelah terbuka, ia segera melangkah masuk, seolah tak memperdulikan makhluk merah dengan makhluk pink dalam gendongannya yang sedang menatapnya nyalang, hidung Sasori kembang kempis menahan amarah.

"Cih apa-apaan dia, tak mempersilahkan aku masuk!" decihnya pelan tapi cukup terdengar oleh Sasuke yang baru membuka sepatu sekolahnya didepan pintu dan memandangnya seolah sengaja melupakan keberadaannya. Manik onyx itu menatapnya lalu menggerling cepat kearah pintu masuk, seolah berbicara dengan tatapan mata untuk menyuruh sulung Haruno itu masuk.

Hal itu tak dipedulikan Sasori, hatinya sudah terlanjur kesal, ia mengerti arti tatapan Sasuke dan ia langsung saja nyelonong masuk, Sasori melangkahkan kakinya kedalam kediaman Uchiha yang dirasa tidak pernah berubah sejak terakhir kali main kemari. Rumah ini masih terlihat sama, tetap rapi dan bersih dengan barang-barang yang tidak terlalu banyak memakan tempat dirumah ini. Sasori menidurkan Sakura disofa panjang nan empuk diruang keluarga Uchiha tersebut.

Sejenak ia tampak membelai lembut surai merah muda panjang sang adik, lalu dengan cekatan ia membuka baju adiknya, terlihatlah sebagian bra hitam yang dikenakan Sakura tampak sangat kontras dengan kulit mulusnya, dan disana terpampang jelas sebuah peluru perak bersarang tanpa terlihat sedikitpun noda darah dikulitnya. Sasori sempat tercengang melihatnya, bayangkan saja sebuah peluru bersarang dibahumu tapi tanpa melukaimu, itu mustahil jika kau hanyalah seorang manusia biasa. Peluru yamg bersarang itu menciptakan sebuah bekas seperti lubang tanpa darah yang cukup dalam saat Sasori telah menganggkat peluru itu dengan menggunakan pinset yang telah disediakan Sasuke, selesai dengan itu, Sasori segera membersihkan bekas luka tersebut dengan cairan pensteril, walaupun tak berdarah tapi tetap saja harus disterilkan dari kuman dan bakteri. Setelah itu ia membalut luka Sakura dengan perban, membungkus bahu mungil adiknya dengan hati-hati, tak ingin semakin menyakiti imotou kesayangannya itu.

Sasuke yang memperhatikan Sasori sedang merawat dan mengobati luka Sakura dengan penuh kasih sayang itu hanya bisa terdiam. Dibenaknya sempat terlintas perasaan bersalah karena ingin membunuh gadis manis berhelaian serupa dengan bunga kebesaran Jepang itu, bagaimanapun juga Sakura tak bersalah karena dirinya sedang dikendalikan. Ia bersyukur karena telah dihentikan oleh anikinya. Jika tidak, maka ia takkan pernah lagi melihat senyum manis serta keceriaan gadis pemilik mata emerald menyejukkan itu yang entah sejak kapan namanya sedikit demi sedikit mulai terselip dihatinya. Pandangannya sulit diartikan saat menatap Sakura yang terbaring lemah disofa rumahnya itu, hingga ia melihat Sasori membalikkan badannya dan memicing tajam kearahnya, membuatnya mengernyitkan dahi bingung, "Apa?" tanya Sasuke.

"Lihat-lihat apa kau heh?!" geram Sasori karena menangkap basah onyx kelam Sasuke seperti sedang meperhatikan adiknya dengan tatapan mesum.

"Hn, tidak lihat apa-apa."

"Huh jangan bohong!" Balas Sasori cepat, "pasti dari tadi kau berpikiran mesum saat melihat tubuh adikku yang terekspose ini kan!?" lanjutnya sinis sambil menutupi tubuh Sakura dengan selimut agar tubuh sang adik tidak terekspose lagi.

"Ck, mana mungkin!" decak Sasuke kesal dan memilih pergi dari situ menuju dapur untuk membuat ocha serta memasak makan malam untuk beberapa orang dirumahnya ini. Mengingat kehidupan Sasuke yang terbiasa mandiri tanpa orang tua, membuatnya mau tak mau harus terbiasa memasak sendiri, berterimakasihlah pada Itachi yang selalu memaksanya untuk menemaninya memasak tiap kali ada waktu luang, hingga ia dengan mudah mempelajari pekerjaan ibu rumah tangga tersebut.

"Huh! Jangan harap bocah tengil sepertimu bisa mendapatkan adik manisku!" seru Sasori saat melihat Uchiha bungsu itu justru pergi menghindarinya.

Akhirnya Sasori memilih bersantai sejenak sambil menunggu Sakura sadar dengan duduk selonjoran dikarpet tebal yang terhampar ditengah-tengah ruangan ini. Dia meraih remote tv yang berada diatas meja tak jauh dari jangkauannya dan menyalakannya, ia tampak memencet-mencet tombol remote tersebut, dengan seksama manik hazelnya mencari tayangan yang menarik perhatiannya dan ia menemukan tayangan yang sedang menayangkan acara lawak, membuat anak sulung keluarga Haruno ini tertawa terpingkal-pingkal.

Tak berapa lama terdengar sebuah suara besar seorang pria yang baru saja tiba dirumah ini, hal tersebut menghentikan tawanya sedari tadi.

"Tadaima." Dengan langkah berat karena lelah Itachi tampak berjalan memasuki rumah.

"Wah, Itachi kau cepat sekali pulang! Gimana caranya kau keluar dari sana? Kan gerbang sudah ditutup dengan si penjaga?" tanya Sasori saat melihat sahabatnya pulang lebih awal.

Itachi merotasi bola matanya bosan mendengar pertanyaan beruntut dari sahabat merahnya itu yang entah mengapa sangat cerewet seperti wanita, "Kau seperti tak tau kehebatan anak buahku saja! Kami bisa keluar dengan sabit kesayangan Hidan yang selalu ia bawa-bawa itu, sabit itu kan multifungsi, bisa berubah jadi senjata apapun termasuk tangga darurat." Jawabnya sambil mengalihkan atensinya kearah tv yang sudah menyala sejak tadi.

"Haha iya juga, hem kalau urusan mayat tadi?" tanyanya lagi.

"Hn, urusan 'itu' aku serahkan pada mereka bertiga." Sahutnya seraya menghempaskan bokongnya disofa empuk yang bersebelahan dengan sofa tempat Sakura terbaring untuk melepas lelah.

"Hah, tumben mereka bertiga mau membantu tanpa kau ikut menemani?"

"Ck, urusan itu juga beres! Hidan dan Kakuzu sudah kuberi uang muka untuk upah dan penguburan mayat diSuna supaya tidak ada yang curiga, sisanya akan ku transfer kerekening mereka besok." Jelas Itachi panjang lebar membuat Sasori mengangguk-angguk tanda mengerti.

"Eh, tapi gimana dengan Deidara? Dia kan tak begitu tertarik dengan uang?" tanyanya lagi.

"Dei akan kukirimi paket tanah liat kualitas terbaik dari negeri Jihran! Agar ia puas bermain tanah liat, hahaha~" Itachi tertawa geli mengingat tampang berbinar Deidara saat dirinya mengiming-ngimingi pria pecinta tanah liat dan benda antik itu dengan produk tanah liat import.

Sasori pun ikut tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Itachi. Hingga aroma sedap menggugah selera mampir di hidung mancungnya dan menghentikan tawa keduannya membuat mereka menoleh bersamaan kearah sumber aroma berasal yaitu dapur.

Terlihat pemuda raven berambut mencuat kebelakang tengah sibuk menyiapkan hidangan makan malam sederhana, yahh walaupun hanya nasi goreng special dengan telur dadar, khusus untuk dirinya ia beri tambahan ekstra tomat kesukaannya itu sukses membuat dua pria tampan yang sedang kelaparan itu berlari membabi buta menuju meja makan untuk segera mengambil posisi. Tapi Sasori tampak berbelok untuk mencuci tangan sejenak dan segera duduk diposisinya dengan mengambil peralatan makan tanpa disuruh seperti dirumah sendiri.

Sedangkan Itachi bermaksud mencomot telur dadar yang tersaji diatas meja tapi langsung ditepis oleh Sasuke, "Cuci tangan dulu baka aniki!" Sentak Sasuke seperti ibu-ibu yang marah kalau anaknya mencomot makanan dengan tangan kotor.

Itachi yang menerima perlakuan dari outotounya hanya berdecih kesal sebelum melenggang menuju wastafel untuk membersihkan tangannya. Sasori tekikik geli melihat tingkah duo Uchiha bersaudara itu, dan mereka pun makan malam bersama dalam kegaduhan, karena obrolan konyol sahabat berbeda warna rambut tersebut dan yang hanya ditanggapi dengan senyum tipis oleh Sasuke yang menyaksikkan keakraban kakaknya dengan kakak lelaki Sakura itu.

Setelah mengisi perut, Sasori dan Sasuke memilih kembali bersantai menonton acara tv, tak lama Itachi pun menyusul keduanya.

"Bagaimana keadaan Sakura-chan?" tanya Itachi yang baru saja selesai membereskan peralatan makan.

"Hem, kurasa dia baik-baik saja, hanya butuh istirahat untuk memulihkan lukanya," jelas pemuda bermata hazel itu sambil menyeruput ocha hangat buatan Sasuke ragu-ragu, dalam hati ia enggan meminumnya, kalau-kalau si Uchiha tengil itu menabur racun sakit perut atau apalah didalam sini, karena sakit hati padanya akibat pukulan telak darinya tadi siang pikirnya, tapi ia tepis jauh-jauh perasaan itu. Ia yakin adik sahabatnya itu takkan mungkin sampai berbuat bodoh begitu, kali ini keadaan adiknya lebih penting, "aku rasa walau tak mengeluarkan darah, pasti bekas lukanya akan terasa nyeri." Imbuhnya lagi.

Mendengar penjelasan sahabat merahnya itu, Itachi menghela napas lega seraya mendekati Sakura, ia duduk disebelah gadis merah jambu tersebut dan membelai lembut wajah cantik Sakura. "Tidurnya damai, kalau begini dia jadi semakin manis." Ujar Itachi dengan senyuman yang tak lepas menghiasi wajah tampannya.

"Tentu saja adikku manis, kakaknya saja manis hahaha~!" Sahut Sasori bangga.

Itachi terkikik geli mendengar perkataan narsis pemuda merah yang mengidap sister complex itu, sementara Sasuke mendengus bosan akan obrolan konyol kedua makhluk ini yang tak ada habisnya dari tadi.

"Siapa ya yang akan mendapatkan hati gadis semanis dan sebaik Sakura-chan?" pertanyaan atau lebih tepatnya gumaman keras Itachi kali ini dibalas dengan dengusan Sasori.

"Huh! Sudah pasti lelaki yang baik dan selalu melindungi serta menyayangi adikkulah yang akan mendapatkannya!" Tegas Sasori, "bukan lelaki yang justru berusaha membunuhnya!" Tegasnya lagi dengan nada sinis disertai penekanan di tiap kata-katanya dan tatapan tajam kearah Sasuke yang sedari tadi fokus menonton tv.

Sasuke yang merasa disindir oleh pemuda bertampang bayi tak jauh darinya itupun membalas tatapannya dengan deathglare terbaiknya, hingga suara tegas Itachi yang terdengar sangat serius sukses mengalihkan perhatian mereka.

"Sasuke, ada yang ingin aku bicarakan! Dan aku harap ini terakhir kalinya aku melihatmu berusaha membunuh Sakura seperti tadi siang!" tegas Itachi memandang lurus onyx Sasuke yang serupa dengan onyx miliknya.

"Hn, langsung ke inti saja baka aniki." Sahut Sasuke datar, ia mengerti apa yang akan dibicarakan anikinya itu dan ia tak suka berbasa-basi lagi. Sasori diam tak bergeming menatap keseriusan sahabatnya.

"Tentang cara aman menangani vampire dalam diri Sakura!" Itachi tampak memberitahukan bagaimana cara mengatasi Sakura saat tak terkendali tanpa harus membunuhnya, Sasuke memperhatikan dengan seksama, tak ada sepatah kata yang mampu terlepas dari pendengarannya, dan beberapa detik berikutnya tampak onyx Sasuke membulat sempurna dan memicing tajam menatap Itachi serta Sasori bergantian, ia tampak kurang setuju akan cara tersebut.

"Cih, cara macam apa itu? Konyol!" tanggap Sasuke sambil berdecih menyepelekan, sebenarnya dalam hati ia tak suka dengan cara yang dimaksud kakaknya itu, tapi itu cara terbaik selain membunuh gadis musim semi yang telah lama menyita perhatiannya tersebut.

"Sudah, jangan banyak mengeluh! Lakukan saja apa yang aku bicarakan tadi!" Tegas Itachi sekali lagi, Sasuke langsung terdiam, biar bagaimanapun ia selalu patuh akan perkataan kakak satu-satunya ini.

Kali ini Sasori tampak membuka suara untuk menimpali perkataan sahabatnya, "Pokoknya Sasuke, kau harus berhasil dalam misi ini!" Ujarnya dengan tatapan serius seraya memegang kedua bahu Sasuke.

"Hn, aku tak janji." balas Sasuke berusaha menyingkirkan tangan pemuda merah yang mencengkram bahunya.

"Sialan kau bocah tengil!" sungut Sasori geram.

"Sasuke! Kali ini kau harus serius! Demi kebaikan Sakura dan kita semua, agar tak ada korban lagi nantinya!" Jelas Itachi, " Kau juga bisa minta bantuan kedua sahabatmu si pucat dan si rambut duren berisik itu untuk melancarkan misi ini, asalkan mereka bisa menjaga rahasia!" Lanjutnya kemudian.

"Ck, kenapa tidak kalian saja yang menjalankan misi ini?" decaknya sebal, terus mereka hanya ongkang-ongkang kaki saja begitu? Pikir Sasuke.

"Baka! Kami tak bisa berada disini terlalu lama! Waktu kami hanya 2 minggu menikmati libur semester! Setelah itu kami harus balik ke Suna!" terang Itachi, "hanya kau yang bisa menuntaskan misi ini Sasuke! Karena kau kan selalu bersama Sakura!" Tegasnya lagi tak ingin dibantah oleh adik semata wayangnya itu.

"Hn." Hanya gumaman ambigu yang meluncur dari bibir sexy Uchiha bungsu ini.

Tapi Itachi tersenyum mendengarnya, karena ia paham arti gumaman tersebut seolah meng'iya'kan perkataanya barusan. Hingga suara lenguhan Sakura menginterupsi mereka.

"Enghh~..."

Suara lenguhan pelan nan bergetar keluar dari bibir mungil Sakura, terlihat pula emerald indah yang sedari tadi menutup mulai terbuka, mengerjap-ngerjap mencoba mengumpulkan seluruh kesadarannya dan memandang sekelilingnya.

Menyadari adik kesayangannya telah sadar, Sasori segera mendekatinya. "Saku, kau sudah sadar?" ucap Sasori dengan ekspresi lega yang nampak disekitar wajah imutnya.

"Hem? Sasori-Nii~...!" pekik Sakura senang karena melihat kakak kesayangannya berada didepan mata. Ia pun segera mencoba bangkit untuk memeluk Sasori yang ia rindukan tapi tak bisa, rasa sakit dibahu membuatnya tak bisa banyak bergerak, "uhh~" rintihnya.

"Pelan-pelan Saku, bahumu sedang terluka!" jelas Sasori cemas, dan dengan perlahan membantu menyandarkan tubuh adikknya pada sofa tersebut.

"Iya Sakura-chan, jangan banyak bergerak dulu." Timpal Itachi membuat Sakura mengernyitkan dahi.

"Ehhh...I-Itachi-Nii?" Tanya Sakura bingung karena melihat sosok Itachi yang lama tak pernah dilihatnya itu tiba-tiba menyembul dari balik punggung kakaknya. Itachi hanya tersenyum menanggapi pertanyaan adik sahabatnya.

"Kita berada dirumahnya Saku, makanya dia ada disini." Terang Sasori.

"Nani?" Tanya Sakura lagi.

"Ceritanya panjang, nanti saja kujelaskan!" Sahut Sasori, "Sekarang kau harus makan dulu ya? Biar aku ambilkan makanannya didapur." Ujarnya lagi sambil beranjak melangkahkan kaki jenjangnya kearah dapur.

Sakura hanya ber'oh'ria saja menanggapi perkataan kakaknya, dan tiba-tiba gadis manis Haruno itu berteriak histeris saat emeraldnya bertemu pandang dengan manik kelam yang menatapnya tajam. "TIDAAKKKK! JA-JANGAN BUNUH AKUUU!" Jerit Sakura "NII-CHAN! JANGAN TINGGALKAN AKU SENDIRIAN! AKU TAKUUUUUT!" Jeritnya lagi.

Itachi yang berada tak jauh dari Sakura tersentak kaget dan mencoba menenangkan gadis merah jambu tersebut tapi ia tetap histeris, sedangkan Sasuke tak bergeming, ia merasa tertohok oleh perkataan Sakura. Hingga Sasori juga keget dan berbalik mendekatinya.

"Sssttt...tak usah takut Saku! Ada Nii-chan disini!" ucap Sasori menenangkan adiknya dengan membelai-belai helaian merah muda sang adik yang tampak berantakan.

Tapi Sakura masih tampak ketakutan, sekujur tubuhnya bergetar hebat membuat Itachi dan Sasuke menatapnya miris. "A-aku takut Nii-chan~! Ta-tadi Sasuke ingin membunuhku!" rintih gadis bermata emerald tersebut seraya memeluk erat lengan kekar sang kakak agar tak pergi kemana-mana lagi, dan ia melirik kearah Sasuke yang juga sedang memperhatikannya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Cih, tak akan kubiarkan dia membunuhmu! Jadi kau tenang saja Saku, tak perlu takut lagi pada bocah tengil seperti dia!" Decih Sasori dan lagi-lagi sambil melayangkan deathglare kepada bungsu Uchiha itu.

Sasuke mendengus bosan melihat adegan opera sabun kakak dan adik Haruno yang berlebihan menurutnya itu, dan ia kembali menatap tv dihadapannya. Sedangkan Itachi sudah menghilang kedapur mengambil makan malam yang memang disisihkan sebagian untuk Sakura kalau telah sadar.

"Sekarang lebih baik kau makan dulu Sakura-chan! Aku yakin kau pasti kelaparan...hem...ini." Suara Itachi menginterupsi keadaan seraya meletakkan sepiring nasi goreng serta ocha hangat yang baru dibuatnya tadi untuk merilekskan tubuh dan pikiran gadis musim semi tersebut, "apa perlu kusuapi hem?" tanyanya lagi lengkap dengan kedipan mata dan seringaian sexy khas Uchiha yang dapat memporak-porandakan hati setiap gadis yang melihatnya. Sakura jadi merunduk malu akan godaan kakak dari pemuda yang ia cintai tersebut.

Sedangkan Sasuke menatap horror kelakuan genit anikinya yang diluar karakter ke'Uchiha'an itu dan telah berani menggoda gadisnya. Gadisnya? Tunggu dulu! sejak kapan Sakura jadi gadismu, eh, Sasuke? Buru-buru ia ralat pikiran konyol yang barusan nangkring diotaknya itu.

"Huh, jangan ambil kesempatan dalam kesempitan Itachi!" Tukas Sasori kesal melihat sahabat keriputnya itu mulai melancarkan rayuan dan gombalannya pada adik manisnya.

"Emm...arigatou, tapi...aku bisa makan sendiri kok Itachi-Nii." Akhirnya satu-satunya gadis ditempat ini yang sedari tadi merunduk malu itupun buka suara, ia tampak sedikit mendongak sehingga terlihat jelas semburat merah yang menjalar dipipi chubbynya, membuat siapa saja yang melihatnya jadi menahan napas karena gemas. Sakura mencoba menggapai makan malamnya yang diletakkan Itachi dimeja tak jauh dari tempatnya bersandar, lagi-lagi ia tak bisa melakukannya, gadis merah jambu itu meringis menahan nyeri yang menjalar seketika saat tiba-tiba ia menggerakkan tangannya, mengingat bahu sebelah kanannya terluka membuat pergerakannya terbatas.

Melihat itupun Sasori lah yang akhirnya turun tangan untuk menyuapi imotounya.

~oOOOo~

Sementara itu ditempat lain, sebuah mobil Jeep tua nan antik, melaju dengan kecepatan sedang, merayap dijalanan bebas hambatan untuk menembus perbatasan Konoha-Suna.

"Cih, kalau saja bukan karena iming-iming yang dijanjikan si keriput itu, aku tak akan sudi membantunya un!" decih lelaki berhelaian pirang panjang dikuncir ekor kuda yang sedang mengemudikan mobil kesayangannya ini. Tampak atensinya sibuk menatap kearah jalanan tapi mulutnya tak henti-henti menggerutu dari tadi.

"Sabarlah Dei, kau tenang saja! Sesampainya di Suna, aku dan Kakuzu yang akan mengurusnya." Ucap pria pemuja Dewa Jasin yang duduk disebelahnya, mencoba menenangkan rekan pirangnya yang sedang mengemudi dengan wajah ditekuk sebal itu.

"Tapi ini sungguh mengganggu!" Sanggahnya cepat, "aroma busuk ini membuat napasku sesak un!" lanjut Deidara dengan menaikkan volume suaranya, ia kesal, hidungnya nampak kembang kempis meraup sisa-sisa udara segar yang bahkan sudah tak dapat dirasakan lagi didalam mobilnya sendiri tersebut, itu semua karena aroma busuk yang menguar dari seonggok mayat dikursi paling belakang mobil miliknya.

"Haha, justru itulah...kau hanya perlu mengorbankan mobil tuamu ini untuk mengangkutnya! Selebihnya kau bisa bersantai dirumahmu nantinya~" jelas Hidan yang tertwa geli tak menghiraukan aroma busuk yang hilir mudik di indra penciumannya.

Sedangkan Kakuzu nampak tertidur pulas tak merasa terganggu dengan aroma tak sedap yang menjadi pokok permasalahan sahabat pirang pemilik mobil tua ini.

Deidara tak menyahut lagi, ia hanya mengumpat dan menggerutu kesal memanggapi penuturan Hidan diseblahnya sembari menambah kecepatan mobil antik kesayangannya ini agar segera sampai ditempat tujuan yang cukup jauh tersebut, karena memakan waktu 5 jam perjalanan dengan kecepatan tinggi.

~oOOOo~

"Hallo Kaa-san, iya Saku bersamaku! Kami sedang dirumah sahabatnya, ada pesta kecil-kecilan." Jelas Sasori menanggapi seseorang yang ia panggil Kaa-san sedang menelponnya, "Ha'i, sebentar lagi kami akan pulang tapi mungkin agak telat, Karena aku harus kerumah Itachi dulu sebentar mengurus sesuatu." Jelasnya lagi. "Iya-iya Kaa-san, tenang saja, Saku aman bersamaku! kalau begitu sudah dulu Kaa-san, sampai nanti Jaa..." Kata Sasori mengakhiri obrolan singkatnya ditelepon.

"Hn, hebat juga kau bersandiwara." Sindir Sasuke kala mendengar rangkaian cerita Sasori saat berusaha menyakinkan Nyonya Haruno.

"Cih, berisik kau bocah tengil!"

"Hei, bagaimana reaksi Mebuki Baa-san kalau melihat luka Sakura-chan nanti ya?" Kali ini pertanyaan sulung Uchiha membuat Sasori memandangnya dan sedetik kemudian segera berpikir keras.

"Eng...aha...aku akan bilang kalau Sakura terpeleset dikamar mandi, hingga cidera ringan saat dirumah sahabatnya tadi." Jawab Sasori dengan menjentikkan jari karena ide itulah yang terlintas dipikirannya.

Sakura tampak kurang setuju akan usul dari kakanya tersebut, "eh, terpeleset dikamar mandi? Alasan macam apa itu?" cibirnya sesaat setelah mengalihkan perhatiannya dari tayangan tv yang ia tonton barusan.

"Lalu mau alasan apa lagi?!" sepertinya hanya alasan itu yang cocok untukmu, mengingat kau kan gadis ceroboh!" Sasuke menanggapi pertanyaan gadis pinky disebelahnya itu. Matanya memicing saat atensinya tak sengaja mengarah pada sebuah liontin dileher jenjang Sakura yang tampak terkena cipratan darah, sekali lagi hatinya jadi berdesir saat mengingat kejadian tadi siang.

"Emm...iya juga sih...hehehe~" balas Sakura sambil menyengir kuda menampakkan deretan gigi-gigi putihnya.

Sementara itu Itachi dan Sasori tengah asik menonton tv, mereka telah melupakan pembahasan konyol yang baru saja mereka perbincangkan barusan. "Hahahaha" Gelak tawa kedua sahabat berbeda warna itu menggema diruang keluarga Uchiha ini saat menonton acara lawak yang bagi mereka sangan lucu dan konyol.

Sasuke dan Sakura sweatdrop melihat tingkah anikinya yang terlihat kompak itu, bahkan dalam hal seperti selera humor dan tertawa pun mereka tampak mirip.

"Eng... Nii-chan?" Sakura yang masih terbaring setengah duduk disofa panjang ini mencoba memanggil kakaknya, tampak Sakura seperti ingin menanyakan sesuatu yang penting.

"HUAA..HAHAHA~" bukannya menjawab, Sasori semakin tertawa lebar bersama Itachi saat menonton beberapa adegan lucu mengocok perut dilayar televisi.

Merasa panggilannya tak digubris, gadis merah jambu ini semakin kesal. Ia mencoba memanggilnya lagi, kali ini dengan menaikkan volume suaranya meneriakkan nama sang kakak, "SASORI NII-CHAAAANN!"

Hegh!

Seketika gelak tawa kedua sahabat itupun terhenti mendengar pekikan Sakura tersebut. Suasana yang semula ramai dan berisik mendadak hening seperti kuburan.

"Ek-hem," Sasori sedikit berdehem, "apa kau memanggilku Saku?" tanya Sasori dengan memasang wajah se'innocent mungkin.

"Iya, aku memanggilmu, DARI TADI!" Sahut Sakura sinis dengan penuh penekanan diakhir perkataannya.

"Ehe...em..ada apa?"

"Ada yang ingin aku tanyakan Nii-chan!" Tegas Sakura.

"Yaa...tanya saja..." Sahut Sasori santai sambil menyeruput segelas ocha miliknya yang tampak dingin.

"Eng...etto~, a-apakah benar, kalau aku ini Vampire Nii-chan?" tanya Sakura dengan pandangan yang sulit diartikan.

BRUSHH!

Mendengar pertanyaan adiknya, tiba-tiba ocha dingin yang diminum Sasori sukses menyembur wajah tampan Itachi disebelahnya. Rambut panjang sulumg Uchiha itu terlihat basah dan lepek terkena semburan maut sahabat merahnya.

"Sialan kau Sasori!" Geram Itachi sambil mengambil tisu dan mengelap wajahnya.

"He, Sorry Itachi. Habis wajahmu pas disebelahku sih~" Sasori berusaha membela diri sambil mendengus menahan tawa.

Sakura yang melihat hal itupun ingin tertawa terbahak-bahak, hanya saja ia tahan, karena ia ingin membicarakan hal yang serius. Tak akan serius lagi kalau ia ikut tertawa, batinnya.

Sedangkan Sasuke juga terlihat mendengus menahan tawa saat wajah tampan dan keriput anikinya basah kuyup disembur sahabatnya sendiri.

"Ek-hem," Sasori berdehem lagi untuk menanggapi pertanyaan imotounya. "Kenapa kau tanya begitu Saku?"

"Soalnya...Sa-Sasuke yang bilang kalau aku ini Vampire jahat yang bernama Angelic Queen. A-apa itu benar Nii-chan?" Sakura mulai resah menanyakannya, tampak emerald indahnya sedikit berkaca-kaca.

Sasori terkejut karenanya, sekilas ia mendelik tajam kearah pemuda bernama Sasuke itu. Sementara Sasuke dan Itachi hanya diam mencoba mendengarkan pembicaraan serius ini.

"Ja-jawab Nii-chan!" pekik Sakura yang tak sabar melihat anikinya itu tak kunjung menjawab pertanyaannya.

"Itu benar Saku!" Jawab sulung Haruno iti singkat dan jelas, membuat Sakura membulatkan emeraldnya terkejut tak percaya.

"A-apaa?"

.

.

~T.B.C~

.

.

Yoo...chap 5 update juga nih... Kali ini maaf gk sepanjang sebelumnya, hehee #nyengir kuda

Gomen ceritanya belum berkembang masih disekitar sini-sini aja, hadeuhh tapi mo gimana lagi? Ini demi kebutuhan biologis! ehh maksudnya kebutuhan cerita biar logis #plak eheee

Oh ya mau bahas sedikit tentang kesamaan alur pertama cerita fict ini, kan udh aq jelaskan kalau terinspirasi dari komik yg pernah aq baca, tu di paling atas ada warning nya hehehe liat kan...

Dan aq jamin alur cerita selanjutnya murni dari imajinasiku sendiri, hanya carita awal aja yang nyerempet2 gitu, gegara demen banget ma tu komik sampe tebawa mimpi pengen buat fict Sasusaku tercinta #ahaha abaikan!

Special thanks for readers maupun author yang menyempatkan untuk mereview fict gaje dan abal ini:

caesarpuspita,,GaemSJ,,suket alang alang,,hanazono yuri,,hani yuya.

Arigatou juga bagi para silent readers yang telah membaca, fav maupun follow this fict!

Mind to review again?

(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯ GO!