TITLE : Lovely Vampire

CHAPTER: 6

AUTHOR : Hezel MintCherry

FANDOM : NARUTO

RATE : T

PAIRING : SASUSAKU

GENRE : Romance, Mystery

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

.

WARNING: Cerita awal terinspirasi dari komik yang pernah saya baca, tapi saya usahakan cerita selanjutnya berbeda dikit hehehhe... Alur muter2 gajeness, AU, OOC, TYPO, gak sesuai EYD!?

.

Don't like? Don't read!

.

.

.

Hehe karna ini FF pertama aq jadi mohon maaf jika masih banyak kesalahan maklum newbie, mohon masukan dan sarannya melalui review Senpai semua arigatou ~_~

.

.

.

(^▽^)↗ Happy Reading ↖(^▽^)↗

.

.

.

Distrik Konoha yang cukup sunyi dimalam hari membuat para warga penghuni perumahan sekitar tampak enggan keluar dari kediamannya, terlebih akan kasus pembunuhan mengerikan yang pernah terjadi disekitar situ membuat keadaan semakin mencekam dikala malam.

Tak terkecuali dikediaman Uchiha yang saat ini juga dalam kondisi menegangkan, tampak beberapa surai dan manik berbeda warna yang masih berkumpul membahas sesuatu.

"A-Apa!?" pekikan melengking seorang gadis berhelaian merah muda disana membuat keadaan semakin dramatis.

"Yahh...kau memang Angelic Queen," Sahut Sasori membuat emerald Sakura semakin membulat sempurna, "maksudku Angelic Queen memang benar berada didalammu Saku!" buru-buru ia lanjutkan perkataannya yang kali ini dengan ekspresi dan tatapan serius memancar dari manik hazel miliknya.

"..."

Sakura tak menyahut lagu, ia terlihat shock mengetahui yang sebenarnya dari sang kakak yang tak mungkin membohonginya. Dengan menundukkan kepala dalam-dalam, ia mencoba menahan bulir air mata yang mulai menggenang.

Seketika ruangan tersebut hening, tampak Sasuke akan membuka suara untuk menanyakan sesuatu, tapi Itachi yang lebih dahulu mengambil kesempatan itu.

"Kalau begitu Sasori..." Ujar Itachi dengan memberi jeda sejenak pada perkataannya, membuat semua manik berbeda warna disana serentak menatap manik kelam sulung Uchiha itu, "Kau bisa menjelaskan awal mula kejadian itu pada adik-adik kita yang manis ini~" Lanjutnya seolah memberi isyarat pada sahabat merahnya untuk menceritakan yang sebenarnya sekarang.

Itachi sendiri sudah pernah mendengar langsung dari mulut Sasori, sehingga ia tak terlalu kaget lagi, lain halnya sengan gadis pink dan pemuda raven dihadapan mereka yang seketika terdiam menegang, ingin tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya.

Dalam hati, Sasuke berterima kasih pada baka anikinya yang menanyakan hal penting sesuai apa yang ingin ia tanyakan tadi. Seolah ikatan batin kakak beradik Uchiha itu sangat kuat mengalahkan segalanya. Hoeeek! ia jijik sendiri mengingat ikatan batin dengan baka anikinya itu, hem oke ingatkan Sasuke untuk muntah setelah ini.

Sasori mengangguk setuju untuk menceritakannya, ia segera mengambil posisi senyaman mungkin di sofa empuk Uchiha itu seraya menerawang keatas, mencoba mengingat-ingat kejadian beberapa tahun silam.

FLASHBACK ON

.

"Nii-chan, aku sangat lelah~" keluh seorang gadis kecil berhelaian merah muda dengan mata emerald besarnya yang tampak memohon pada bocah lelaki berumur lebih tua 5 tahun darinya.

"Baiklah, kalau gitu kita istirahat dulu dikursi itu gimana?" tanya Sasori kecil pada imotou cantiknya sambil menunjuk kursi panjang yang berada diujung taman tempat mereka menghabiskan waktu untuk bermain tadi.

"Ha'i Nii-chan~" balas Sakura riang dan mulai berlari kearah kursi yang dimaksud sang kakak.

"Saku, jangan berlari begitu, nanti jatuh!" Tegur Sasori.

"Haha... Yeiii aku sampai duluan~ Nii-chan kalah..." Seru Sakura senang karena sampai terlebih dahulu daripada sang kakak.

"Hem, hari sudah mulai senja. Kita istirahatnya jangan lama-lama ya Saku! Nanti Kaa-san dan Tou-san mencari kita." Kata Sasori yang sudah duduk nyaman disebelah Sakura yang mengangguk-angguk mengerti menanggapi perkataannya, hingga membuat Saaori gemas akan tingkah adiknya, membuatnya mengacak lembut kepala pink Sakura.

Mereka berdua saat ini sedang duduk di kursi yang tersedia tak jauh dari taman. disitu terlihat beberapa orang lalu lalang yang selesai dengan aktivitasnya. Taman ini cukup besar, terdapat beberapa permainan anak seperti ayunan, jungkat-jungkit, perosotan, lorong labirin dan bak pasir yang cukup luas menampung sekitar sepuluh anak sekaligus, tentunya tak lupa tatanan taman yang cukup apik membuat warga betah mengunjunginya, walaupun jika hari mulai malam taman ini akan sangat mencekam. Seperti keadaan sekarang, taman yang sebelumnya ramai kini mulai sepi, hanya nampak beberapa penjual jajanan yang mulai bergegas menyimpuni barang dagangannya.

"Nii-chan, aku ingin ice cream disana~" suara bening Sakura menyadarkan Sasori dari lamunannya yang sedari tadi hanya memandang orang-orang melewati mereka untuk pulang kerumah masing-masing.

"Eh, ice cream?" Ulang Sasori menelisik tukang ice cream diujung sana yang juga akan pergi, "tapi penjualnya sudah mau pergi Saku..."

Sakura yang mendengar penjelasan kakaknya itu tampak tak mau tahu. Ia menggembungkan pipi dan mengerucutkan bibirnya tetap bersikukuh menginginkan ice cream tersebut.

"Pokoknya aku mau ice cream itu Nii-chan!"

Sasori tak kuasa melihat adiknya cemberut dan ngambek begitu, ia pun bangkit dari duduknya dan menepuk pelan kepala pink Sakura, "baiklah, Nii-chan belikan, tapi kau tunggu disini jangan kemana-mana ya!?" Tegas Sasori seraya melenggang cepat kearah tukang ice cream yang hampir pergi dari tampatnya itu.

"Ha'i Nii-chan~" Sahut Sakura sengan sambil cekikikan melihat kakak kesayangannya itu selalu menuruti apapun yang ia inginkan.

Sambil menunggu sang kakak diujung sana, Sakura nampak bersenandung kecil sambil menggoyang-goyangkan kakinya riang menikmati semilir angin sore yang menyapanya, memainkan helaian merah muda pendeknya. Hingga sebuah suara rintihan seseorang yang seperti menahan sakit mengalihkan perhatian gadis kecil beriris emerald tersebut. Sakura pun menajamkan pendengarannya, ia ingin memanggil sang kakak untuk bersama-sama memeriksa sumber suara itu, tapi ia melihat kakaknya masih membeli ice cream diujung sana.

Mau tak mau ia sendirilah yang harus memeriksanya, tentunya setelah emeraldnya berendar melihat kondisi taman tempatnya berada memang sudah sepi. Walaupun takut, tapi ia tepis rasa takutnya itu demi menolong seseorang yang terdengar kesakitan disana. Sakura mulai berjalan menyusuri sumber suara yang ternyata berasal dari hutan terlarang tak jauh dari taman tempatnya bermain tadi.

Hutan terlarang tersebut memang dikelilingi oleh pagar besi yang tinggi nan kokoh, sehingga tidak akan ada yang bisa masuk ke dalamnya dengan sembarangan tanpa ijin tertentu dari pusat. Sakura tau akan hal itu, jadi ia hanya berjalan di pinggir hutan sambil menyusuri pagar besi tersebut dan mengikuti suara yang ia dengar, seketika manik emeraldnya membulat sempurna saat ia melihat sosok wanita cantik berhelaian hitam panjang dengan iris mata bewarna merah darah sedang tergeletak lemah tak berdaya di sisi pinggir bagian dalam hutan itu, wanita itu berparas cantik yang memiliki aura tak biasa itu memperhatikan sosok mungil Sakura yang sedang mencoba untuk mendekatinya dari luar, walalu masih terhalang oleh pagar besi yang sedang memandangnya pilu.

"Ugh..~ ga-gadis manis, to-tolong bantu aku~" pinta sang wanita yang tak berdaya tersebut.

Mendengar wanita tersebut meminta bantuannya, Sakura nampak menegang kaget, dan mencoba untuk menggapai tangan wanita itu yang sedang terjulur ke arahnya dari dalam pagar.

"Onee-chan, kau baik-baik saja?" tanya Sakura cemas akan keadaan wanita tersebut yang terlihat sangat tersiksa dan mengenaskan dengan beberapa luka tambahan dan pakiannya yang tersobek-sobek.

"Ugh~ Ya.. Gadis manis, kemarilah, genggam tanganku..."

Sakura hanya mengangguk menuruti perkataannya sambil berjalan guna lebih dekat lagi ke arah wanita itu, ia nampak menggapai-gapai tangan wanita itu dengan tangan mungilnya. Setelah dapat, betapa terkejutnya Sakura, tangan wanita itu sangatlah dingin, sedingin es, padahal cuaca hari ini sangat panas pikirnya.

"Onee-chan, kau... Dingin sekali..." ujar Sakura dengan nada khawatirnya, ia terlihat memandang sekeliling untuk meminta bantuan seseorang tetapi hasilnya nihil tak ada seorangpun yang lewat di sekitar sini apalagi di sore hari seperti ini terlabih ini di dekat hutan terlarang yang sangat di hindari oleh warga sekitar.

GREP, GRAUK...

"AKH!" pekikkan tertahan Sakura sukses membuat Sasori yang sedari tadi mencarinya mendatangi suara Sakura.

"Saku...?" teriak Sasori yang berada jauh di ujung taman dengan menggenggam 2 buah ice cream yang tiba-tiba terjatuh tidak elitenya saat mendengar suara pekikkan imoutonya itu.

"Ke-kenapa nee-chan menggigitku? Hiks..hiks.." tanya Sakura yang masih merasakkan sakit dan perih di tangannya akibat gigitan wanita beriris semerah darah di hadapannya itu.

"Tenanglah gadis manis, aku hanya mencicipi sedikit darahmu dan ingin berlindung dalam tubuhmu hingga waktu yang tak dapat ku tentukan dan puncaknya ketika kau berusia 17 tahun nanti gadis manis..." ujar wanita itu seraya membelai surai merah muda milik Sakura guna menenangkan gadis itu, Sakura yang kurang mengerti apa yang dikatakan oleh wanita itu hanya bisa menangis sesenggukan dan terisak.

"Sakura? Kau disana?" teriakan Sasori terdengar di telinga Sakura dan wanita cantik di hadapan Sakura hanya berdecak sebal karena kedatangan bocah laki-laki berambut merah yang nampak berlari mendekat ke arah mereka.

"Cih, pengganggu datang! Hemm aku akan tertidur dalam waktu yang cukup lama di dalam tubuh mu gadis manis, sampai jumpa lagi~"

Wusshhh...

"Eh?" Sakura bingung karena wanita tadi tiba-tiba menghilang dihadapannya. Manik emerald hijau klorofilnya itu nampak memandang sekelilingnya mencari sosok wanita cantik yang tadi bersamanya, tapi ia tidak melihat apa-apa selain hamparan pohon dan ilalang yang menjulang tinggi di sekitarnya.

"Saku, kau sedang apa disini? hosh...hosh..!" ucap Sasori terengah-engah setibanya di tempat Sakura berada sekarang dan tiba-tiba ia terkejut setengah mati saat mendapati tangan mungil adiknya terdapat luka yang nampak seperti bekas gigitan itu dan banyaknya darah yang keluar dari bekas luka tersebut.

"Ya ampun Saku... Kau kenapa sampai bisa terluka dan berdarah seperti ini? Siapa yang telah membuat imoutoku ini terluka hah? Katakan pada Nii-chan Saku.." pekik Sasori yang terdengar frustasi, bayangkan saja ia baru meninggalkan adiknya beberapa menit untuk membeli ice cream tapi sudah begini kejadiannya. Sebenarnya apa yang ia lewatkan barusan? Pikirnya masih tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.

"Hiks, Nii-chan" Sakura segera menghambur kepelukan kakak lelakinya, tangisnya pun menjadi meledak-ledak, ia menceritakan apa yang barusan terjadi pada bocah bermata hazel tersebut sambil memeluknya dan mengajaknya pulang kerumah.

Sasori nampak serius mendengarkan penuturan adiknya, ia yakin itu benar, karena adiknya itu selalu jujur akan apa yang ia rasakan, "Ssshhh, sudah tenanglah saku, jangan menangis lagi, ujar Sasori menenangkan adiknya yang masih sesenggukan di gendongannya, yah mereka pulang dalam posisi Sasori yang menggendong Sakura di punggungnya. "Sekarang kita pulang dulu, agar luka ini segera di obati Kaa-san yah, dia pasti khawatir pada kita yang pulang agak larut dari biasanya kali ini" terang Sasori pada Sakura.

"Hu'um," sahut Sakura "Nii-chan percaya dengan apa yang Saku ceritakan tadi kan?" tanya Sakura lagi.

"Iya Saku, Nii-chan percaya, tapi kau jangan memberitahu siapa-siapa tentang kejadian ini yaa?" Balas Sasori sambil mengelus puncuk kepala Sakura yang bersandar di bahunya.

"Eh, kenapa?" tanya Sakura polos.

"Tentu saja agar tidak membuat orang lain khawatir, hem? Kau mengertikan Saku? Jadi ini cukup menjadi rahasia kita berdua". Jelas Sasori

"Hu'um, aku mengerti Nii-chan~" Sahut Sakura riang sambil menganggukan kepalanya.

"Bagus, anak pintar." Balas Sasori dengan mengacak surai merah muda imoutonya tercinta sekali lagi.

Tanpa mereka sadari, sesuatu yang aneh telah terjadi, nampak terbentuk sebuah pola rumit di tengkuk Sakura, pola yang semakin terlihat jelas seperti ukiran bunga yang timbul dan sekejap seperti bercahaya itu membuat perasaan Sakura seperti bergetar gelisah, hal itu mau tak mau membuat Sasori semakin curiga pada tubuh adiknya yang mendadak bergetar di gendongannya tersebut sambil terus berjalan melawan matahari terbenam di ufuk barat kota Konoha.

FLASHBACK OFF

.

"Begitulah ceritanya Saku." jelas Sasori panjang lebar, usai bercerita, ia terlihat menggapai ocha dinginnya untuk membasahi tenggorokkannya yang kering sehabis bercerita panjang lebar tentang kejadian tersebut. "Kau sendiri yang menceritakan hal tersebut padaku dulu, apa kau tidak ingat akan hal itu hem?" tanya Sasori lagi

Sakura nampak berpikir sejenak, sepertinya ia memang mengingat sedikit tentang kejadian beberapa tahun yang lalu itu, tapi entahlah, saat itu ia juga masih anak-anak, jadi wajar saja kan, kalau dia tidak mengingat hal tersebut. Tapi jauh di lubuk hatinya ia merasakan sebuah amarah, seperti rasa kesal yang membuncah tinggi merambat naik ke permukaan yang siap di ledakkan kapan saja tetapi ia masih mencoba menahannya selagi bisa.

"Nii-chan! Apakah Kaa-san mengetahui hal ini?" Sakura menatap tajam penuh tanya kepada sepasang hazel milik kakaknya itu.

Sasori yang ditatap begitu oleh adiknya, nampak meneguk saliva dengan susah payah, sepertinya ia mendapatkan firasat buruk setelah ini, "Ehm... Ti-tidak Kaa-san tak mengetahuinya hanya..." perkataan Sasori terdengar menggantung.

"Hanya apaa?!" Sahut Sakura cepat.

"Glek...Hanya..." Sasori tampak menggerling menatap sahabatnya Itachi, mencoba meminta bantuan, tapi Itachi tampak acuh tak acuh seolah sedang fokus menonton tv, sedangkan Sasuke juga bersikap tak kalah acuh dari Itachi sambil mencoba menyibukkan diri dengan membolak-balik halaman yang tertera pada majalah Time di pangkuannya. Mereka berpura-pura menyibukkan diri, padahal telinga mereka selalu mendengarkan dan merekam setiap perkataan kedua kakak beradik Haruno tersebut.

"Nii-chan!" desis Sakura kesal karena sang kakak tak kunjung meneruskan perkataannya yang menggantung tadi.

"Iya Saku, yang tau hanya aku, Itachi dan beberapa rekan Akatsuki di kampusku kok~" Seru Sasori sambil nyengir tanpa dosa.

"Apaa!? Jadi beberapa orang sudah tahu dan kau tak memberi tahuku sama sekali sebelumnya?!" geram Sakura, ia kesal setengah mati karena baru sekarang mengetahui apa yang sebenarnya tentang kejadian beberapa tahun silam, hal mengerikan tentang dirinya kenapa kakaknya baru memberitahukan sekarang? Pikirnya kesal.

"Bu-bukan begitu Saku! Saat itu-" Sasori mencoba menjelaskan tapi lagi-lagi perkataannya menggantung karena di potong oleh Sakura yang sudah bangkit dari sofa sambil menggebrak meja.

"Baka Nii-chan! Aku benciiii!" pekik Sakura seraya pergi dari kediaman Uchiha. Ia bahkan tak lagi memperdulikan rasa nyeri dan ngilu pada bahunya dan ia terus berlari menuju rumahnya yang hanya berjarak beberapa meter dari kediaman Uchiha tersebut.

"Saku!" erang Sasori frustasi melihat adiknya ngamuk seperti itu.

"Sudahlah Sasori, kejar Sakura-chan, kau jelaskan pelan-pelan dirumahmu saja nanti" Ucap Itachi menginterupsi dengan tegas.

Sasuke juga berpikiran sama, ia hanya menatap kepergian Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan, sebenarnya jauh dilubuk terdalam hatinya terbesit rasa ingin melindungi gadis musim semi tersebut, tapi entahlah ia sendiri juga masih bingung akan perasaannya terhadap gadis bungsu Haruno itu.

"Aaa iya Itachi, terima kasih ya atas semuanya." Balas Sasori sambil berpamitan pada Itachi dan segera bergegas mengejar sang adik, dalam hati ia merutuki perbuatan bodohnya yang telah menyembunyikan hal penting tersebut dari Sakura, ia sudah menduga akan begini hasilnya, akhirnya Sakura pun merajuk padanya, "Haahh" terdengar helaan napas panjang Sasori, ia bingung memikirkan apa yang akan ia lakukan untuk membujuk sang adik yang sedang merajuk saat ini, sepertinya ini akan menjadi malam yang panjang baginyai.

.

.

~~~~~T.B.C~~~~~

.

.

Fiuuhhhh...akhirnya selesai juga chap ini, walaupun tak sepanjang chap sebelumnya tapi bener-bener mentok sampe disini nih ide ku,,,huffttt...

Gomen lama... Adakah yg masih menunggu fict ini? hehe, kalau gak ada... pundung dipojokkan...#plak abaikan

Di chap selanjutnya sudah mulai aq bahas lagi tentang Sasusakunya.

Sekali lagi Hezel Ucapkan arigatou untuk readers yang masih setia membaca fict abal dariku ini, walaupun masih banyak kekurangan tapi aq selalu berusaha memperbaikinya, semoga kalian menikmatinya.

Mind to review?

(′▽‵)╭(′▽‵)╭