TITLE : Lovely Vampire
CHAPTER: 7
AUTHOR : Hezlin Cherry
FANDOM : NARUTO
RATE : T
PAIRING : SASUSAKU
GENRE : Romance, Mystery
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
.
WARNING: Cerita awal terinspirasi dari komik yang pernah saya baca, tapi saya usahakan cerita selanjutnya berbeda dikit hehehhe... Alur muter2 gajeness, AU, OOC, TYPO, gak sesuai EYD!?
.
Don't like? Don't read!
.
.
.
Hehe karna ini FF pertama aq jadi mohon maaf jika masih banyak kesalahan maklum newbie, mohon masukan dan sarannya melalui review Senpai semua arigatou ~_~
.
.
.
↖(^▽^)↗ Happy Reading ↖(^▽^)↗
.
.
.
Hiruk pikuk aktivitas di pusat kota Konoha memang merupakan pemandangan biasa di hari efektif seperti sekarang ini. Tak terkecuali di salah satu bangunan megah bernama Konoha Gakuen yang menjadi tempat menuntut ilmu ini sangat terasa padat. Apalagi sekarang bel tanda masuk baru saja berkumandang, membuat beberapa murid tampak sibuk berlarian menuju kelasnya masing-masing.
Seperti di kelas XI Sains 1 yang seluruh muridnya sudah duduk rapi menanti kedatangan guru mereka yang memang terkenal tak pernah tepat waktu karena selalu tersesat dijalan bernama kehidupan. Seluruh murid memang tau benar kebiasaan sensei mereka yang identik dengan masker buluknya itu. So, mereka hanya duduk sambil bergosip menunggu kedatangannya.
Sama halnya dengan gadis pirang like barbie yang juga sedang asik bergosip dengan teman sebangkunya, hingga tatapan aquamarinenya tak sengaja menatap bangku kosong tempat sahabat merah mudanya biasa duduk. Terbesit rasa penasaran dibenaknya, karena sudah 3 hari ini sahabat pinkynya itu tak masuk sekolah dengan keterangan sakit. Tapi ponselnya tak juga aktif jika dihubungi.
"Ada apa Ino-chan?" tanya gadis bersurai indigo panjang yang nampak bingung dengan sahabat blondenya yang sedari tadi semangat bergosip itu tiba-tiba terlihat melamun menatap tempat duduk Sakura.
Suara lembut dari sahabat yang juga teman sebangkunya itu mengalihkan atensi Ino, "emm, aku jadi khawatir dengan Sakura, sudah 3 hari ini ia tak ada kabarnya..." Lirih Ino.
"A-aku juga khawatir... Se-sebenarnya Sakura-chan sakit apa ya? Apa kita coba langsung kerumahnya saja?" Ajak Hinata.
Ino tampak menghela napas panjang mendengar ajakan Hinata, "Waktu itu aku pernah mau kerumahnya, tapi tampak sepi seperti tak ada orang didalamnya." Jawab Ino, tersirat nada kekecewaan disana, walaupun sahabat, tapi tempat tinggal mereka berjauhan.
"Ah, ba-bagaimana kalau kita tanya Sasuke-san saja, rumahnya kan bersebelahan dengan Sakura-chan, mungkin saja dia tau sesuatu~" Seru Hinata seolah baru menemukan ide briliant.
Ino yang sedang memilin-milin kecil rambut panjangnya sontak berhenti saat mendengar ide briliant Hinata yang tak terlintas di otaknya, "Wahhh...kau pintar sekali Hinata-chan, sepertinya bukan ide buruk untuk tanya lelaki yang dicintai Sakura sekaligus tetangganya itu~" Cengir Ino menanggapi perkataan sahabat Hyuga nya itu yang hanya dibalas anggukan lembut oleh Hinata.
Hingga suara baritone besar yang terdengar seperti dibekap itu menyapa gendang telinga mereka, membuat seluruh murid sontak berdiri dan memberi salam kepada sensei dengan gaya rambut melawan gravitasinya itu.
"Ohayou anak-anak~" Sapa Hatake Kakashi, sang wali kelas yang baru saja datang.
"Ohayou senseeeiii~" Seru seluruh murid dikelas sambil berdiri dan berojigi malas menanggapi salam guru tukang telatnya itu. Tapi apa boleh buat, demi menghormati orang yang sedikit banyaknya telah membimbing dan mentransfer ilmunya, walau kadang ada kalanya ilmu mesum juga menyelip disela-sela penjelasannya.
"Emmm, gomen terlambat, tadi sensei habis ter-!"
"SUDAHH TAUUU!" Pekik seluruh murid memotong alasan guru nyentrik yang setia dengan status singlenya itu, sontak ia hanya bisa meringis sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Khukhu mereka benar-benar tau kebiasaanku... " gumamnya dengan menyeringai tipis dibalik masker buluknya itu, "Baiklah sekarang buka halaman 152!" Ujarnya lagi sambil berdehem keras guna menetralisir keadaan kelas. Murid-murid pun langsung menuruti perintahnya.
~oOOOo~
"Uuuhhhh... Aku bosaannnn~" Keluh seorang gadis berhelaian soft pink yang sedang berbaring diranjang Queensizenya.
Nampak kondisinya sedikit berantakan, ia mengenakan babydoll motif strawberry pink, yang tidak terkancing dibagian atasnya hingga memperlihatkan sedikit belahan dada ranum miliknya dan perban yang masih setia membalut bekas luka tembakan yang ditorehkan oleh lelaki cinta pertamanya, miris memang. Dan sudah tiga hari ini ia disuruh istirahat total oleh sang ibu dan kakaknya, bahkan mengaktifkan ponsel pun ia dilarang oleh kakaknya yang sister complex itu, dengan dalih agar tak ada yang curiga dengan keadaannya.
"Che justru kalau tiba-tiba menghilang begini malah akan membuat orang lain curiga! Huuh dasar baka Nii-chan!" Gerutu Sakura kesal mengingat ke over protektivan kakak lelaki semata wayangnya yang sekarang entah sedang pergi kemana dia, meminggalkan bungsu Haruno ini sendirian dirumah.
Yahh saat ini rumah besarnya memang tampak sepi, karena sang Nyonya Haruno sendiri tengah berada diluar negeri untuk menghadiri Kontes Designer America Award yang berlangsung selama sebulan.
Sret
"Uhh~" Rintih Sakura saat mencoba bangkit dari ranjangnya, rasa nyeri akibat luka beberapa hari yang lalu masih terasa, seolah terjadi pembengkakan di sekitar bahunya hingga sekarang pergerakan Sakura masih terbatas. "Sial, luka ini memang tak berdarah, tapi rasa nyeri yang ditinggalkannya tak kunjung sembuh, kalau begini kapan aku bisa sekolahh..." Pekiknya frustasi. Ia tak mau mati kebosanan dikamarnya sendiri.
"Huuffttt..." lagi-lagi terdengar helaan napas dari bibir mungil gadis berambut gulali ini, "Aku benar-benar merindukan sahabatku dan juga...Sasuke..." Gumamnya lagi kali ini sambil memandang liontin pemberian lelaki yang ia cintai dengan pandangan yang sulit diartikan.
Bicara tentang pemuda raven tetangga sebelahnya membuat Sakura terkikik geli, terang saja ia mengingat kejadian kemarin pagi saat Sasuke datang kemari dan menyodorkan sepanci besar sup tomat. Sepanci? Bayangkan saja, apakah Sakura harus menghabiskannya semua? Karena dirumah ini tak ada orang lain lagi selain dirinya dan sang kakak. Lagipula Sasori-nii sangat anti tomat pikirnya lagi.
Hal tersebut membuatnya terbengong saat melihat Sasuke bersusah payah membuat dan memberikan untuknya, walau Sasuke berdalih bahwa itu adalah perintah dari baka anikinya. Tapi Sakura yakin itu pasti buatan Sasuke sendiri, karena setahu Sakura, Itachi-nii dan Sasori-nii sedang sibuk, dari pagi mereka sudah pergi entah kemana. Kali ini ia semakin menyeringai lebar saat otaknya kembali mengingat kejadian super langka. Yahh ia melihat semburat tipis kemerahan menghiasi wajah tampan bungsu Uchiha saat itu. Benar-benar kawaiiiii, pekik innernya sekali lagi. Mungkinkah hubungannya akan selangkah lebih dekat dengan Sasuke? Semoga saja benar, walau setelah kejadian itu Sasuke tampak bersikap biasa, tapi ada kalanya ia sangat perhatian pada gadis beiris emerald indah ini.
"Hehe...Sasuke-kun kau benar-benar tsundere yah..." Sakura kembali terkikik mengingat itu semua, "Yatta... aku harus segera mengutarakan perasaanku padanya... Tapi sebelum itu aku harus sembuh dulu, mungkin dengan banyak bergerak akan membuatku terbiasa menggerakkan tangan kananku lagi, hemm..." Ujarnya lagi, kali ini sambil mengamati seluruh isi kamar dan emeraldnya tiba-tiba saja melotot kaget.
Kamarnya benar-benar berantakan dengan banyak remahan snack yang ia makan selama ini, beberapa sedang dikrumuni semut, dan beberapa novel percintaan yang selesai ia baca pun berserakan tak elite. Ia kembali mendengus keras menyadari kondisi kamarnya yang seperti kapal pecah ini, bagaimana bisa selama 3 hari ini kamarnya luput dari perhatiannya, padahal sang kakak selalu rutin membersihkannya. Seketika dengusan kerasnya berubah jadi kikikan geli, saat melihat baju-baju tak terpakai berserakan, bahkan bra yang ia pakai kemarin entah sejak kapan telah ada diatas pigura dirinya dan Sasori saat baru lulus SMP yang berada diatas meja belajarnya, posisi bra pinky motif polkadot itu sukses menutupi foto Sasori yang sedang nyengir kuda.
"Ah... Pantas saja Sasori-nii selalu ngomel-ngomel kalau masuk ke kamarku hihi..." kikiknya sambil perlahan membereskan benda-benda yang bertebaran di kamar kesayangannya ini.
~oOOOo~
BRAAK!
Sret!
"HEI! APA MAUMU HAH!" Sentak Ino yang sedang mengoles lip balm dibibir mendadak tercoreng mengenai pipinya, karena digebrak kasar oleh gadis berhelaian merah darah dengan manik ruby yang menatapnya nyalang.
Ketiga gadis berbeda warna rambut dan merupakan seniornya di sini itu tiba-tiba menyerobot masuk kedalam toilet wanita, yang didalamnya saat ini hanya ada dirinya dan Hinata yang entah sejak kapan sudah berlindung dibalik lengan mungil gadis Yamanaka ini. Sontak saja hal itu membuatnya geram. Selama ini ia tak pernah berurusan dengan genk yang menamai dirinya PPS (Pemuja Pangeran Sasuke).
"Cih, tak usah berpura-pura bodoh!" Decih gadis berhelaian pink tua bernama Tayuya yang juga menatap sinis kearah Ino dan Hinata sambil bersedekap dada.
Sedangkan komplotannya yang seorang lagi sedang asik mencoba lip balm milik Ino dan mengecap rasanya. "Ck, aku tak suka rasa jeruk murahan begini!" Decak gadis pirang bernama Shion itu setelah mencoba lip balm tersebut lalu melemparnya kasar ke lantai.
Hal itu membuat Ino semakin melotot geram, 'apa-apaan mereka, mau cari masalah denganku ya?' batinnya kesal.
"HAHAA, BODOH!" Tawa keras ketua genk yang akrab dipanggil Karin itu membuat seluruh manik berbeda wana didalam toilet tersebut kembali terfokus padanya. "Apa yang kau dan teman pinkymu itu lakukan pada Sui-kun HAH?!" bentaknya dengan suara semakin meninggi, membuat Ino dan hinata terkejut dan mengernyitkan dahi bingung atas pertanyaan senpai menornya ini.
"Hah? Sui? Apa maksudmu? Siapa itu Sui, bahkan aku tak tau siapa itu SuiSui!" Balas Ino tak kalah cepat.
"Be-benar, ka-kami tak mengenal Su-Sui senpai..." cicit Hinata menumpali perkataan Ino, walau takut tapi ia juga ingin membela diri.
"Cih, tak usah bohong! Sudah tiga hari ini Sui-kun menghilang tanpa kabar! Aku yakin pasti kalian lah pelakunya!" Sungut Karin semakin lantang membuat kedua komplotannya mengangguk-angguk setuju. "Terutama teman pinky mu yang kegatelan dengan Sasuke-kun itu!" Lanjutnya lagi.
Kali ini Ino dan Hinata benar-benar tak habis pikir, apa maksud gadis merah dihadapannya itu, tadi membahas Sui-kun, sekarang Sasuke-kun? Benar-benar konyol!. Tapi hati mereka berdua berdesir cepat saat sahabat merah mudanya ikut disangkut pautkan, terlebih di katai 'kegatelan' cih! Justru genk maniak Sasuke inilah yg menurut Ino dan Hinata yang paling kegatelan dan tak tahu malu dalam mengejar bungsu Uchiha tersebut.
"Huh! Jangan asal tuduh ya kau! Kami tak mungkin melakukan hal tersebut, terlebih Sakura, ia sedang sakit tiga hari ini, jadi tuduhanmu itu tak terbukti!" Balas Ino tak mau kalah.
"Su-sudahlah Ino-chan, le-lebih baik kita pergi saja dari sini..." ajak Hinata yang mulai merasa bahaya jika terlalu lama meladeni ketiga senpainya itu.
Tapi Ino tak mengindahkan perkataan Hinata, ia benar-benar penasaran kenapa mereka menuduh dirinya dan Sakura, sebenarnya apa yang terjadi, ia mulai berpikir keras agar komplotan tiga serangkai ini menjelaskan yang sebenarnya, tentu saja ia harus memancingnya terlebih dahulu.
"Cepat katakan dimana Sui-kun? Dasar Bitch!" Geram karin yang sudah mengayunkan tangannya untuk menampar Ino yang terlihat menatap remeh dirinya, tapi diluar perkiraan tenyata Ino lebih cepat membaca pergerakannya, hingga tamparan Karin berhasil ditepis, dan tangan Karin justru dipelintir kebelakang oleh Ino, membuatnya meringis kesakitan.
"AKH!"
Pekikan Karin membuat kedua temannya segera mengepung Ino dan Hinata. Walau begitu mereka tak bisa melakukan apa-apa terhadap ketuanya yang sedang dikunci pergerakannya oleh Ino, karena gadis Yamanaka itu cukup terkenal disekolah ini sebagai gadis cantik pemegang ban hitam karate.
"Apa kau gila, wahai senpai? Sakura sedang sakit dan tak mungkin ia menyembunyikan Sui mu itu~" bisik Ino. "Dan kapan mereka bertemu hemm.. Itu benar-benar tidak mungkin!" bisiknya lagi dengan penuh penekanan.
"HUH! Aku yakin itu! Karena Sui-kun lah yang menemui si pinky empat hari yang lalu, setelah itu ia menghilang tak ada kabar! Siapa lagi kalau bukan dia pelakunya HAH!" Sahut Karin mencoba melepaskan kuncian Ino dengan sekuat tenaga dan ia berhasil karena Ino nampak menegang untuk sepersekian detik mendengar perkataannya, hal itu dimanfaatkan Karin untuk berontak melepaskan diri.
"Oohhh... Ternyata kau dan si Sui itu yang menjebak Sakura dengan alasan bahwa Sasukelah yang ingin menemuinya~" Ujar Ino sinis dengan seringai penuh kemenangan karena berhasil memancing gadis merah ini bicara.
Hinata juga tak kalah terkejut, jadi saat itu sahabat pinkynya dijebak, pantas saja seperti ada yang janggal pikirnya, dan setelah itu juga Sakura tak masuk lagi kesekolah, sepertinya memang telah terjadi sesuatu.
Karin terkejut dan merutuki perkataannya dalam hati, ia sudah terpancing dan membuka semuanya. "Cih! Ayo kita pergi! Tak ada gunanya kita disini, tujuan kita adalah si pinky!" decihan sexy keluar dari bibir gadis arogan itu mengajak komplotannya untuk pergi, ketahuan sudah rencana liciknya beberapa hari yang lalu, untuk menghindari hal yang semakin memojokkannya, lebih baik mereka pergi sekarang, mengingat sebentar lagi bel masuk juga akan berbunyi.
"Baik!" jawab kedua temannya sambil melenggang keluar toilet.
"Hei, awas saja kalian mengganggu Sakura! Kalian akan berurusan denganku juga!" Ancam Ino.
Mereka tak menyahut lagi, hanya Tayuya yang tampak menendang bak sampah ditoilet itu sebelum keluar, menyebabkan isinya berhamburan tumpah keluar.
"Sial! Mereka benar-benar licik!" Ujar Ino kesal. "Kita harus berhati-hati terhadap mereka!" Ujarnya lagi dengan mengambil lip balmnya yang tergeletak dilantai dan membuangnya ke tempat sampah, ia jijik sendiri melihat lip balm kesayangannya telah terkontaminasi bekas bibir komplotan aneh itu.
"I-iya benar Ino-chan, lebih baik kita sekarang ke kelas dan nanti kita beritahukan Sakura-chan saat kerumahnya." Tanggap Hinata setuju dan berjalan menuju kelasnya untuk mengikuti pelajaran terakhir pada hari ini.
~oOOOo~
.
.
TING TONG!...TING TONG!
Mendengar ada yang membunyikan bel rumahnya, gadis manis berhelaian soft pink ini perlahan-lahan turun dari kamarnya dilantai dua untuk membuka pintu. Mungkin saja kakaknya, karena ia selalu dipesani sang kakak untuk selalu mengunci pintu saat sendirian dirumah, tapi kakaknya kan punya kunci duplikat, pikirnya. Ah mungkin saja tamu untuk ibunya.
"Iya sebentar!" Pekiknya saat kembali mendengar bel rumah yang dibunyikan tak sabar.
Tap... Tap..
Ceklekk!
"Wuaahh!" Sakura terkejut saat membuka pintu ia mendapati wajah tampan lelaki pujaannya yang juga sedang ingin menekan bel kembali.
Sontak saja hal itu membuat mereka berdua tiba-tiba tertunduk kikuk, karena posisi yang terlalu dekat dan wajah Sakura yang membuka pintu tiba-tiba melongo keluar, sehingga jidat lebarnya hampir menyentuk bibir tipis Sasuke didepannya, yah karena tinggi Sakura hanya sebatas dagu Sasuke.
"A-ada apa Sasuke?" gagap Sakura mati-matian menahan semburat merah diwajahnya.
Sasuke yang juga tampak teraliri rona merah tipis di wajahnya, ia sedikit berdehem sebelum menjawab pertanyaan Sakura,
"Hn, aku ingin menjengukmu." Ujarnya mencoba sedatar mungkin.
"Ehh?" Sakura mendongak tak percaya, ia melihat Sasuke kemari sendirian ingin menjenguknya? 'Oh Kami-Sama... Ini benar-benar hari keberuntunganku!' jerit inner Sakura senang.
Mereka berdua terdiam untuk beberapa detik, saling sibuk akan pemikiran masing-masing, hingga tanpa sadar suara cempreng seseorang terdengar menginterupsi keadaan canggung ini, membuat Sakura dan Sasuke kembali tersadar akan lamunannya.
"Yare Yare... Sepertinya kau baik-baik saja Sakura-chan?" Ujar Naruto yang sedari tadi bersembunyi di sisi samping kanan pintu rumah Sakura. Disusul oleh Ino yang keluar dari persembunyiannya sambil menyodok rusuk Naruto membuatnya memekik tertahan. Lalu Sai dan Hinata juga menampakkan batang hidungnya, mereka memang ingin memberi kejutan dengan bersembunyi begitu.
Sakura terbelalak kaget melihat semuanya terkumpul, sahabat dan kekasih sahabatnya datang kemari, ia pikir hanya Sasuke saja, tiba-tiba innernya merasa sedikit kecewa.
"Yeaahh jidat, kau kenapa? Tiba-tiba lesu begitu kau tak suka kami kemari, eh?" Celetuk Ino yang menyadari perubahan ekspresi sahabat pinkynya itu.
"Ah, emm a-aku senang kok ada kalian, a-ayo masuk!" Elak Sakura. Ia tertohok akan perkataan Ino yang tepat sekali itu, kadang ia heran sebenarnya Ino itu keturunan cenayang atau paranormal sih. Habis ia selalu tau apa yang dirinya rasakan.
"Hem.. Aku tahu~ pasti Sakura-chan kecewa karena tidak jadi berduan saja dengan si teme ini ttebayooo.." goda Naruto yang sudah merangkul sahabat ravennya membuat Sasuke mendelik tajam tak suka tiba-tiba dirangkul begitu, walaupun Sasuke sama sekali tak mempermasalahkan perkataan Naruto, ia justru senang malah.
Blushh
Sakura semakin blushing mendengar perkataan Naruto yang lagi-lagi tepat sasaran itu, segitu mudah ditebak kah pikirannya saat ini, ia benar-benar malu, ingin rasanya ia terbang ke langit ketujuh dan tak kembali lagi! Tapi tidak! Ia tak ingin jika tak bisa bertemu lelaki yang ia cintai ini.
"Su-sudah Na-Naruto-kun! Sakura-chan malu tuh..." Ujar Hinata menghentikan aksi kekasihnya yang semakin menggoda sahabat pinkynya ini.
"Hn, baiklah ayo masuk."
Suara baritone Sasuke menginterupsi semuanya untuk segera masuk dan menghentikan kegiatan konyol untuk menggodanya dan Sakura, jujur ia sendiri juga sudah tak kuat menahan malu karena digoda begitu, walau dalam hati terbesit rasa senang jika itu menyangkut gadis pink tetangganya ini.
Kelima remaja SMA itupun memasuki rumah Sakura. Mereka mengikuti langkah sang tuan rumah yang berjalan menuju kamarnya di lantai dua rumah ini. Naruto dan Sai yang baru pertama kali kemari pun dibuat tercengang oleh tata letak perabotan minimalis dan berbagai bunga menyegarkan mata yang berjejer rapi sepanjang anak tangga rumah ini.
"Rumahmu indah sekali, tampak asri Sakura-san." Kali ini pemuda pucat kekasih Ino yang membuka suara setelah lama mengamati keadaan rumah keluarga Haruno ini. Dari luar saja sudah terlihat jelas bahwa pemiliknya memang menyukai tumbuhan dan bunga, mengingat pagar rumah Sakura yang penuh akan bunga-bunga indah menjalar, pikirnya.
"Iya benar, rumah Sakura-chan memang selalu dapat menyegarkan pikiran, hehe~" Ujar Hinata menimpali perkataan kekasih sahabatnya itu.
Sasuke tampak diam dan ikut memperhatikan, dalam hatinya memang membenarkan perkataan kedua sahabatnya, didalam sini benar-benar menenangkan.
Sakura hanya tersenyum ramah menanggapi perkataan Sai, ia tahu bahwa ini kali pertama bagi pemuda yang selalu tersenyum itu kemari.
"Eh, jidat... Rumahmu sepi sekali," tanya Ino sambil mengedarkan manik aquamarinenya mengamati seluruh penjuru rumah Sakura. "Ibumu dan Sasori-nii kemana? Dari tadi aku tak melihat mereka." Ya dari tadi ia tak melihat sosok paruh baya yang telah melahirkan Sakura dan sosok pemuda merah kakak semata wayangnya dirumah ini.
"Ah, Kaa-san sedang diluar negeri selama sebulan ini ada urusan pekerjaan, sedangkan Nii-chan-!"
"Dia dan anikiku sudah pergi dari tadi pagi." Sahut Sasuke memotong penjelasan Sakura, membuat gadis pink ini kembali tersenyum. Ino manggut-manggut mendengar penjelasan Sakura dan Sasuke sambil bergumam "Oh...pantesan sepi".
Sakura menghentikan langkahnya saat telah sampai didepan pintu kamarnya dan mempersilahkan yang lainnya masuk kedalam kamar yang cukup luas ini. Di sana ada meja rendah yang beralaskan karpet bulu tebal untuk bersantai diatasnya, dan ada tv serta playstation yang membuat mata shapire Naruto berbinar cerah untuk segera menyerbu masuk dan memainkannya.
"Wuahh Sakura-chan aku main ini yah?" tanya Naruto semangat, dan dibalas anggukan dari Sakura yang masih berdiri didepan pintu.
"Naruto! Kau ini! Tak bisa kah santai dulu sejenak!" dengus Ino. Naruto hanya nyengir kuda diperingatkan begitu, tapi tetap bergerak cepat untuk menyalakan benda elektronik yang mengundang siapa saja untuk memainkannya itu.
'Fiuhh, untung saja aku sudah merapikan kamarku ini.' Batin Sakura lega karena memang berniat memberskan kamar sedari tadi, untung timingnya pas.
"Baiklah, kalian tunggu disini aku akan menyiapkan minuman dibawah." Sakura mulai melenggang keluar namun Ino dan Hinata membuntutinya.
"Kami akan membantumu jidat / Sakura-chan!" seru keduanya bersamaan meninggalkan para lelaki yang tengah asik menggeluti playstation milik kakaknya. Well, sebenarnya itu memang punya Sasori, selama sang kakak kuliah diluar kota, maka barang elektronik miliknya menjadi milik Sakura.
.
.
"Jadi, sebenarnya kau sakit apa Sakura-chan?" Terdengar suara cempreng Naruto disela-sela kegiatannya menunggu giliran bermain selanjutnya, karena sekarang Sasuke dan Sai lah yang sedang bermain
Deg!
Pertanyaan Naruto sukses mengejutkan Sakura yang sedang asik bergosip bersama kedua sahabatnya.
Sasuke juga terkejut, minus Sai yang masih fokus bermain. Sasuke mendadak tak fokus dalam bermain melawan Sai, stick dalam genggamannyapun seolah terlepas dari tangannya, tapi segera ia cengkram erat sebelum benar-benar terjatuh, 'apa sudah waktunya memberi tahu mereka?' batin Sasuke.
Ino dan Hinata juga sontak terdiam, dalam hati ia berterima kasih pada Naruto yang telah mengingatkan maksud mereka datang kemari, karena sedari tadi Ino dan Hinata justru terbawa suasana hingga melupakan tujuan awal.
Seluruh manik berbeda warna dikamar itu sekarang tengah menatap emerald Sakura penasaran, membuat Sakura kembali meneguk salivanya dan memutar otak untuk memberikan alasan yang logis atas kejadian yang menimpanya. Ia pun menggerling menatap onyx kelam Sasuke diujung sana untuk meminta saran, tapi Sasuke nampak mengherdikkan bahu tak tahu.
Sakura kembali menghela napas panjang sebelum menjawabnya. "Emm..a-aku mengalami cidera, jadi butuh istirahat total.. Ya cidera hehe~" Jelasnya mencoba setenang mungkin, walau dalam hati ia tak yakin harus berbohong didepan sahabatnya.
"Eh, cidera kenapa jidat?" Sahut Ino penuh selidik melihat tubuh Sakura yang sepertinya tak terlihat ada luka berarti.
"Ci-cidera dibagian tu-tubuh yang mana Sakura-chan?" Hinata ikut menimpali.
"Humm hummm, cidera dimana?" Naruto juga tak kalah penasaran, ia memandangi tubuh sintal Sakura yang terbalut babydoll motif strawberry lengan pendeknya, sepertinya mulus-mulus saja disana pikirnya.
Sakura mengerti akan tatapan mereka yang benar-benar tampak penasaran, akhirnya ia pun membuka perlahan kancing bajunya membuat Naruto memekik kaget akan tindakannya.
"Uwaaah!? ke-kenapa kau membuka kancing bajumu begitu Sakura-chan?" Pekik Naruto yang sudah blushing.
Sasuke melotot horror melihat tindakan gadis pink itu, onyxnya memicing tak suka, seolah berkata 'kancing kembali bajumu!'. Entah kenapa ia benar-benar tak suka melihat Sakura melakukan itu, rasanya ia tak rela jika tubuh mulus gadis musim semi itu terekspose didepan sahabatnya. Sebenarnya ia mengerti maksud Sakura yang ingin menunjukkan letak cideranya. Yaahh walau begitu tetap saja ia merasa keberatan, karena disini juga ada lelaki lain selain dirinya.
Ino, Hinata dan Sai yang baru menghentikan kegiatannya hanya diam mematung, mereka terlalu kaget dan penasaran akan tindakan gadis gulali itu.
Sakura tak mengindahkan pekikan kaget Naruto, ia tetap membuka kancing babydollnya sebanyak 2 kancing dari atas, hingga membuat separuh bra dan kulit mulus dadanya terekspose, juga balutan perban yang menutupi lukanya pun terpampang jelas.
Mereka semua terkejut melihat hal tersebut, minus Sasuke yang sudah mengetahuinya lebih dulu, Naruto malah terlihat ikut meringis seolah merasakan ngilu saat melihat perban luka Sakura. Sedangkan Ino tampak semakin mendekat dan merapat tubuh Sakura, ia menelisik balutan perban yang cukup rapi membungkus bahu mungil sahabat pinkynya ini. Jemari mungil Ino terlihat menyentuh luka tersebut, membuat Sakura meringis menahan sakit.
"Apakah ini masih sakit?" tanya Ino yang sudah menjauhkan tangannya.
Sakura mengangguk perlahan menanhgapi perkataan Ino, "Yeah, seperti yang kau lihat... Aku masih belum terlalu bisa menggerakkan lengan kananku secara bebas.".ujar Sakura sambil memandang luka tersebut, berharap agar ia bisa segera sembuh kembali.
Ucapan Sakura benar-benar membuat darah Sasuke kembali berdesir, karena dirinyalah yang menorehkan luka tersebut.
"Sebenarnya kau cidera karena apa? Jujur Sakura!" Tegas Ino serius, ia menangkap adanya keanehan disini, manik aquamarinenya memang tak semudah itu bisa dikelabui kalau ini hanya cidera biasa.
"I-iya Sakura-chan, jujur saja pada kami, kita kan sahabat..." Lanjut Hinata sambil tersenyun menenangkan Sakura agar mau berkata jujur.
"Hem, jujur saja! Kan hanya ada kita disini, ya kan Sai?" Seru Naruto meyakinkan sambil menatap Sai yang tampak setuju dengan menganggukkan kepalanya masih dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya.
Entah kenapa kamarnya yang full ac ini terasa sangat panas, bulir keringat nampak bercucuran dikenin Sakura, mau jujur saja susahnya setengah mati. Ia benar-benar takut kalau berkata jujur yanh terjadi dan siapa dirinya, maka sahabatnya akan menjauh darinya.
"Emm...a-aku..." Manik emerald Sakura bergerak-gerak gelisah, tampak ia mencari kata-kata yang pas untuk manjelaskannya, tapi dari mana? Ia bingung sendiri, "Aku..."
"Ck, Sakura seorang vampire." Decak Sasuke tak sabar melihat Sakura tak kunjung menceritakannya, akhirnya dialah yang mengatakannya, dengan ekspresi sedatar mungkin ia benar-benar menyampaikan inti masalah ini secara gamblang, karena ia tak suka berbelit-belit.
Hening
1
2
3
"HEEEEEEEE!?"
"UAPAAAAAAA!?"
"HAH!?"
"A-a-a-paaa...!?"
.
.
~T.B.C~
.
.
Yeahh selesai juga chap ini, gomen minna kalau semakin lama ceritanya semakin aneh hehe,,
Arigatou untuk kalian semua yang udh mereview, fav, maupun follow fict gaje ini.
Dan buat readers yg inginkan lemon di fict ini, gomen yeaa Hezlin tak bisa memgabulkannya, karna sengaja aq buat fict ini dgn rate T, kalau pun harus ada adegan yg nyerempet2 lemon, mungkin hnya implisit lime saja heheehe #nyengir kuda ╮(╯▽╰)╭
Bagi kalian readers atau author yang bersedia memberi kritik dan sarannya, aq sangat2 berterima kasih.
Mind to review again?
╭(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯
