TITLE : Lovely Vampire

CHAPTER: 8

AUTHOR : Hezlin Cherry

RATE : T

PAIRING : SASUSAKU

GENRE : Romance, Mystery

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

.

WARNING: Cerita awal terinspirasi dari komik yang pernah saya baca, tapi saya usahakan cerita selanjutnya berbeda dikit hehehhe... Alur muter2 gajeness, AU, OOC, TYPO, gak sesuai EYD!?

.

Don't like? Don't read!

.

.

.

Hehe karna ini FF pertama aq jadi mohon maaf jika masih banyak kesalahan maklum newbie, mohon masukan dan sarannya melalui review Senpai semua arigatou ~_~

.

.

.

(^▽^)↗ Happy Reading ↖(^▽^)↗

.

.

.

Ino, Hinata, Naruto, dan Sai. Benar-benar terkejut dan memekik bersamaan setelah mendengar hal tak logis tersebut. Keempat suara berbeda jenis itu sukses memekakan telinga siapa saja yang mendengarnya, termasuk Sakura dan Sasuke.

Sakura kembali melotot tak percaya menatap Sasuke yang datar-datar saja setelah mengatakan hal paling penting ini.

"Sa-Sasuke... Ke-kenapa kau-!" tiba-tiba perkataan Sakura terpotong oleh Sasuke yang menyahut cepat.

"Karena baka anikiku yang mengatakan boleh menceritakan pada sahabat-sahabat kita, asal mereka bisa menjaga rahasia." Sahut Sasuke cepat sambil menggerling menatap tajam satu persatu manik berbeda warna disana seolah menegaskan untuk tidak buka mulut akan rahasia penting ini.

Yang ditatap hanya bisa meneguk saliva bersamaan, 'sepertinya ini buruk!' batin mereka.

Mendengarnya membuat Sakura kembali mengehela napas panjang dan akhirnya ia pun berusaha menjelaskan yang sebenarnya kepada sahabat dan para kekasih sahabatnya itu. Sebenarnya ia cukup lelah harus menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi dari awal. Yahh...mau bagaimana lagi, identitasnya memang tak bisa ia tutupi terlalu lama dari kejelian sahabatnya itu. Walau seluruh isi kamar ini nampak menegang, tapi Sakura berhasil menjelaskan semuanya minus Sasuke yang kembali melanjutkan acara bermain playstation kegemarannya.

"Ja-jadi kaulah d-drakula penghisap darah yang menghebohkan tempo hari itu jidat?" Ino gagap, di hati terdalamnya terbesit rasa takut sekaligus khawatir akan sahabat pinkynya yang tak ia sangka adalah vampire yang telah membunuh beberapa warga akhir-akhir ini.

"Bukan drakula, tapi vampire Ino-chan.." timpal Sai masih dengan senyumannya yang dimata Ino bisa membuat hatinya yang saat ini gelisah menjadi tenang seketika, 'beruntung aku memiliki kekasih murah senyum sepertimu' batin Ino.

"Emm...gomen~ a-aku benar-benar tak bisa mengendalikan diriku saat itu..." lirih Sakura, sebenarnya ia merasa menjadi orang paling kejam saat itu.

"Hiiii...To-tolong jangan gigit aku Sakura-chaaann... Hi-Hinata-chan tolong lindungi aku~!" Naruto histeris sambil bersembunyi dibalik tubuh sintal kekasih indigonya. Ia memang paling takut akan hal-hal berbau mistis begini. Dan kelakuan Naruto sontak membuat Hinata semakin blushing seketika saat didekap dari belakang begitu oleh sang kekasih secara tiba-tiba.

"Baka dobe! Sakura mana mungkin mau menggigit pria aneh sepertimu!" Celetuk Sasuke masih tetap fokus bermain, tapi telinganya juga ikut mendengarkan obrolan sahabat-sahabatnya.

Seluruhnya tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan spontan pemuda raven disana,minus Naruto yang nampak kesal, ia melotot mendengar ejekan Sasuke, "sialan kau temeee! Gini-gini darahku juga lezat tau!" Seru Naruto sambil menyembulkan kepala dari balik tubuh kekasihnya.

Ino mulai menghentikan tawanya, seketika ia berdehem untuk menanyakan sesuatu, "hemm, jidat... Tapi..." Ino menggantungkan perkataannya. Membuat manik berbeda warna yang sedari tadi tertawa disana memalingkan atensinya dan menatap aquamarine milik gadis Yamanaka ini bingung. "A-apakah kalau vampire itu menguasaimu... nanti kau juga akan menggigit kami...?" tanya Ino was-was.

Pertanyaan Ino sukses membuat suasana kembali tegang dan hening, terlebih pria kuning dibalik tubuh gadis bersurai indigo itu tampak gemetaran menahan takut.

Terutama Sakura, detak jantungnya tiba-tiba berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Inilah yang ia takutkan jika sahabatnya tahu, kemungkinan besar mereka akan takut padanya.

"A-aku juga tak tau pig! Selama ini naluriku bergerak sendiri, tapi ada kalanya kesadaranku masih bisa ku kuasai walau hanya sedikit..." cicit Sakura menanggapi perkataan Ino.

"I-iya benar apa yang ditanyakan Ino-chan..." Hinata ikut menimpali perkataan Ino.

"..."

Sakura terdiam mendengar pertanyaan yang ditujukan padanya, manik emeraldnya berubah makin sendu seolah tak ada lagi cahaya berbinar seperti biasanya terpancar dari kedua matanya. Benar sudah ketakutannya selama ini, ia tak ingin sahabatnya merasa takut dan tak nyaman jika berada didekatnya

"Apa...tak ada cara untuk menghindari hal tersebut?" Suara baritone khas pemuda pucat kekasih Ino terdengar memecah keheningan yang tercipta untuk kesekian kalinya ini.

Sakura semakin tertunduk, ia menggeleng pelan menanggapinya. Ia benar-benar tak tahu bagaimana cara lepas dari masalah ini, bahkan ia tak mampu menghindar lagi. Selama ini jika tubuhnya sudah tak terkendali, ia bisa menyerang dan membunuh siapa saja yang berada didekatnya. Bahkan ia juga nyaris membunuh maupun dibunuh oleh pemuda cinta pertamanya. Ironis? Memang, itulah dia sekarang dengan makhluk mengerikan didalam tubuhnya.

Sasuke yang melihat keadaan makin terasa tak enak dan melihat tetangga pinkynya benar-benar terpojok itu hanya bisa menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Dan akhirnya ia turut buka suara.

"Ada...sebuah cara untuk mehindarinya." Ujar Sasuke setenang mungkin sambil meletakkan stick playstation yang setia ia mainkan dari tadi.

Seketika semua didalam ruangan kamar Sakura itu terkejut mendengar perkataan Sasuke yang sepertinya serius. Mereka hanya menatap Sasuke dalam keheningan bermaksud membuat lelaki tampan pujaan setiap gadis itu agar melanjutkan kata-katanya.

Bungsu Uchiha itu tampak mengambil napas panjang, ia berniat menjelaskannya dalam satu tarikan napas saja, karena ia tak mau repot-repot menjelaskannya berulang-ulang.

"Hal ini diberitahukan oleh anikiku, selama ini ia melakukan percobaan. Walau aku sendiri tak yakin berhasil dengan ide konyolnya itu. Dia-!"

"Langsung ke inti saja teme! Jangan bertele-tele!" Seru Naruto yang tampak geram akan sahabat raven yang biasanya tak suka bertele-tele tapi sekarang malah berbicara panjang lebar.

Sasuke berdecak kesal perkataannya dipotong begitu oleh Naruto, "ck, Sakura hanya boleh menghisap darah orang yang ia cintai." Lanjutnya sambil mengerling menatap emerald indah yang akhir-akhir ini selalu memenuhi pikirannya.

Gadis berhelaian merah muda itu yang paling pertama terkejut, pasalnya ia tak yakin akan perkataan Sasuke. Jika Sakura menghisap darah orang yang ia cintai, ia pasti akan membunuh orang tersebut dan ia tak menginginkan itu.

"He, ide apa-apaan itu? benar-benar konyol!" Sahut Naruto kembali menanggapinya dan mengundang anggukan setuju dari yang lainnya.

"Benar, itu tak masuk akal! Jika Sakura harus meminum darah lelaki yang ia cintai, lelaki itu pasti akan mati!" Tegas Ino sambil menatap sahabat pinkynya dengan tatapan tak percaya, ia tahu benar siapa lelaki yang dicintai Sakura. Pastilah Sakura juga tak ingin melakukan hal itu untuk mengorbankan pria yang dicintainya.

"I-itu benar, Sa-Sakura-chan pasti semakin sedih kalau lelaki yang ia cintai nanti juga akan mati ditangannya sendiri!" Hinata ikut menimpali, ia dan Ino memang mengerti benar siapakan lelaki yang dicintai sahabatnya itu.

"Sakura, jadi...kau sudah memiliki orang yang kau cintai?" Entah setan apa yang merasuki Sasuke hingga pertanyaan seperti itulah yang keluar dari bibir tipisnya.

Pertanyaan Sasuke sukses membuat wajah Sakura memanas dan mengeluarkan semburat merah merona. Sasuke kembali berdecih dalam hati kala melihat reaksi Sakura yang memerah begitu, seketika terselip perasaan tak suka. Entah kenapa, ia sendiri tak tahu. Belum sempat Sakura membuka suara, tiba-tiba suara lembut Hinata yang terdengar meninggi itu menginterupsi.

"I-itu sudah tentu Sakura-chan pasti memilikinya!" Seru Hinata, Naruto yang melihatnya hanya mencoba menenangkan kekasihnya dengan menepuk-nepuk pundak sang kekasih agar kembali tenang.

"Hem, benar! Justru itu dia tak ingin jika orang yang ia cintai sampai terluka apalagi terbunuh ditangannya! Apa...tak ada cara lain?" ujar Ino menimpali perkataan Hinata.

"Menghisap darah orang yang ia cintai ya... Hem... Sepertinya bukan ide yang buruk, patut kita coba." Gumam Sai masih dengan senyuman palsunya, Ia yang sedari tadi terdiam dan hanya mendengarkan itupun buka suara, membuat mereka semua terheran-heran menatapnya. 'Apakah ia gila?' batin semuanya minus Sasuke dan Ino, Ino tak mungkin menganggap kekasihnya sendiri gila, bukan?

"Sai-kun, a-apa maksudmu?" Tanya Ino tak mengerti.

"Hem..." Sai tampak berpikir sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya, "dengan menghisap darah orang yang ia cintai, Sakura pasti tak akan sampai hati untuk membunuh orang tersebut, dan ia pasti akan berhenti sebelum terlalu banyak menghisap darah orang itu karena takut akan semakin menyakitinya..." Jelas Sai sambil tersenyum, kali ini dengan senyuman tulus. Ia senang jika pemikirannya bisa membantu.

"Wuah... Perkataanmu ada benarnya juga, tumben otakmu encer Sai~" Seru Naruto sambil mendekap kepala klimis sahabatnya yang masih saja tersenyum walau dalam dekapannya.

"Aku kan tak sebodoh kau Naruto." Ucap Sai santai, bahkan sangat santai sambil tersenyum membuat Naruto kesal menggumamkan kata "sialannnn kau Saiiiii!" dan semakin membekap kapalanya mambuat Sakura, Ino dan Hinata yang menyaksikannya sweatdrop. Sasuke? Tentu saja ia hanya merotasi kedua bola matanya bosan.

"Tapi... A-apakah dengan menghisap orang yang dicintainya itu akan membuat vampire itu hilang dari tu-tubuh Sakura-chan?" Tanya Hinata masih berpikir keras tentang sebab akibat yang akan terjadi jika rencana itu benar-benar dilaksanakan.

Sasuke mengalihkan atensinya menuju kekasih sahabat kuningnya itu, lagi-lagi ia menghela napas sebelum menanggapinya, "Kata anikiku, hal itu tak akan membuat sang vampire pergi dari tubuh Sakura. Hanya saja... dengan cara itu, vampire akan terbiasa dengan darah satu manusia saja dan tingkat keagresifannya akan menurun. Mungkin suatu saat pun ia juga akan menghilang jika kebiasaan dengan mengonsumsi darah orang yang dicintainya berlangsung terus menerus." Jelas Sasuke panjang lebar. "So, aku butuh kerjasama dari kalian untuk mengetahui, siapa orang yang Sakura cintai!" Lanjutnya lagi penuh penegasan walau hatinya seperti tercabik saat mengatakan kalimat tersebut.

Seketika Sakura kembali menegang, ia menatap kedua sahabatnya seolah mengatakan kalau ia belum siap jika orang yang ia cintai, diketahui oleh yang lainnya.

Ino yang melihat tatapan Sakura seolah memohon padanya untuk tetap bungkam itu akhirnya berpikir keras, dalam hati ia ingin sahabatnya kembali normal seperti dulu lagi. Hei! Jadi maksudmu sekarang Sakura tak normal, begitu? Tapi hatinya yang lain juga tak ingin jika Sakura sampai menyakiti orang yang dicintainya. 'Arrgghhh!' pekik innernya frustasi, sejenak ia menggulirkan tatapannya pada Hinata yang juga sedang menatapnya sambil menggeleng pelan, pertanda tak tahu juga dengan apa yang harus dilakukan.

"Hinata-chan, apakah kau tau siapa lelaki beruntung yang dicintai Sakura-chan?" tanya Naruto yang sudah tak sabar karena tak kunjung ada yang menjawab pertanyaan sahabat Uchihanya.

"Ah...a-aku juga ku-kurang tau Naruto-kun..." cicit Hinata gugup. Terlihat matanya bergerak-gerak gelisah menatap Sakura dan kembali menatap kekasihnya, "so-soalnya-!"

"Ah, sepertinya aku harus pulang! Karena ayahku baru saja tiba dari Oto, dan aku harus menyambutnya~" Seru Ino tiba-tiba memotong perkataan Hinata yang tanpa sadar menghela napas lega. Ino segera bangkit dari duduknya seraya membersihkan rok seragamnya yang terdapat beberapa remahan snack yang ia makan selama ngobrol tadi. "Ayo Sai-kun!" ajaknya.

Sai yang juga merasa seperti ada sesuatu yang ditutupi disini cukup mengerti dan kembali tersenyum untuk berpamitan.

"A-aku juga, ha-harus pulang... Aku harus berlatih piano dengan Neji-nii sore ini." Hinata juga tampak buru-buru bersiap untuk pulang. Ia melihat kode dari sahabat pirangnya untuk mengelak dulu saat ini hingga Sakura siap.

"Eh, kalian sudah mau pulang?" tanya Sakura basa-basi. Ia cukup tau kalau kedua sahabatnya benar-benar mengerti keadaannya hingga beralasan ingin pulang karena harus menghindari pembicaraan ini.

"Tu-tunggu aku Hinata-chan!" Pekik Naruto saat melihat kekasihnya sudah berdiri dan bersiap mengambil tas untuk pulang, walau ia tau tak akan ditinggal begitu saja oleh Hinata, tapi ia takut berlama-lama dikamar seorang vampire, hiiii! Seketika bulu romanya kembali bergidik membayangkannya.

"Ck, mereka sengaja menghindar rupanya." decak Sasuke pelan tapi masih terdengar oleh Sakura yang juga sedang membukakan pintu kamar untuk mengantar sahabat-sahabatnya pulang, dan berjalan beriringan hingga pintu depan.

SAKURA POV ON

"Arigatou semuanya~ kalian telah menjengukku!" Pekikku riang seraya melambaikan sebelah tangan kiriku, yah karena tangan kananku masih sukar untuk digerakkan.

"Jaa ne~ Sakura-chan, semoga segera bisa masuk sekolah lagi..." Sahut Naruto dengan cengirannya dan Hinata dengan senyumannya.

"Jaa jidatttt, semoga lekas sembuh ya.. ." Ino ikut menimpali dan Sai masih tetap tersenyum, haahh aku heran dengan senpai pucat satu itu. Bagaimana biasa dalam kondisi gawat dan menegangkan pun ia tetap bisa tersenyum?

Setelah kurasa mereka telah masuk kedalam mobil masing-masing dan beranjak pulang, akupun segera masuk kerumah untuk membereskan kamar yang berantakan akibat ulah mereka.

Tap...tap

Kulangkahkan kaki jenjangku menuju kamarku dilantai dua, perlahan tapi pasti aku telah sampai didepan pintu kamarku. Ku buka pintu kamarku perlahan dan...

Oh Kami-Samaaaaa...apa lagi ini? Emeraldku membulat sempurna, betapa kagetnya aku saat membuka pintu kamarku ternyata masih ada seorang makhluk tampan yang masih tertinggal disini.

"Sa...suke?" gumamku yang benar-benar terkejut melihat ia masih duduk bersila diatas karpet bulu tebal dalam kamarku. Manik hitam kelamnya menatapku datar, aku tak tau apa yang ada dipikirannya sekarang. Kenapa ia masih disini?

"Hn, kenapa kau melihatku seperti melihat hantu begitu Sakura?" ucapnya dengan tatapan tajamnya itu, "kau tak senang jika aku masih disini, eh?" lanjutnya lagi kali ini dengan seringaian khas Uchiha yang memabukkan. Ia perlahan bangkit dan berdiri dengan bersedekap dada menatapku, tak lupa seringaian yang masih setia terpatri diwajah tampannya.

Sial! Dia benar-benar membuatku gila, ingin rasanya kuterjang pemilik wajah tampan itu... tapi tidak! Sabar Sakura... Sabar... Tarik napas...hembuskan! Tarik napas...hembuskan! Haah.

"Etto...a-aku kira kau ju-juga ikut mereka pu-pulang tadi~" Bodoohhhh! Kenapa aku gugup begini sih?

"Hn, kenapa kau tiba-tiba tergagap seperti kekasih dobe begitu?"

Jelas saja aku gugup dan gagap karena kita! Ingat KITA! Dan kita hanya berdua didalam kamarku, tanpa seorang lainnya lagi dirumah ini. Berdua saja dengan makhluk tampan pujaanku, ohhh Goddd! Betapa gugupnya diriku ini jika kau tahu, eh, Sasuke?

"Hehe...ti-tidak..." Aku hanya nyengir kuda menanggapinya, sedikit berdehem untuk menetralkan detak jantung sialanku yang berpacu sangat cepat sedari tadi seperti orang habis berlari marathon.

"Jadi...kau kenapa tak ikut pulang Sasuke?" bagus! Aku mulai bisa menata volume suaraku agar kembali tenang.

"Hn, aku ingin disini membantumu membereskan ini semua." Jawabnya santai sambil memunguti beberapa bungkus cemilan yang tadi dibawa oleh Naruto dan Ino.

"Huum, arigatou~" Aku tersenyum manis mendengar alasannya. Jadi ia sengaja tinggal hanya untuk membantuku. Hehe dia benar-benar manis. Aku yakin jika dia ingin membantuku karena khawatir akan keadaanku.

Sejenak kulihat ia seperti mengerjap kaget saat melihatku tersenyum. Oh...apakah kau baru sadar kalau senyumanku ini sungguh manis, hem? Saat ku balas tatapannya masih dengan tersenyum, sontak saja dengan cepat ia langsung memalingkan wajahnya dan mulai menata beberapa bantalan yang tadi sempat berhamburan karena digunakan sembarangan oleh yang lainnya. Sepertinya kau salah tingkah, eh Sasuke?

Kini Sasuke dengan gerakan cekatan membersihkan kamarku. Yah, aku sangat yakin, dibalik tampang stoic dan dinginnya itu, ia memang lelaki baik yang pandai bersih-bersih dan pandai memasak karena sudah terbiasa tinggal sendiri. Ia memunguti beberapa sampah bekas bungkus cemilan yang dimakan oleh Naruto. Yosh! Aku juga harus membantu, walau pergerakanku masih terbatas tapi setidaknya aku ingin berguna dan membantu lelaki yang kucintai itu.

Sebaiknya aku mulai dari mana yaaa... Hemm, semakin kuamati sekeliling kamarku ternyata benar-benar kembali seperti kapal pecah. Untung Sasuke mau membantuku, jika tidak? Oh, aku tak akan sanggup membersihkannya sendirian. Baiklah aku mulai membersihkannya dari sudut sini dulu, dengan perlahan aku mengambil sapu yang selalu kuletakkan dipojokan balik pintu dan mulai menyapu.

Srek...srek..

Aku menyapu sambil bersenandung ria, tak peduli apa yang akan dipikirkan oleh Sasuke. Tapi sumpah, aku tak bisa jika melewati keadaan ini dalam keheningan. Jadi kuputuskan untuk bergumam atau lebih tepatnya bersenandung menyanyikan lagu-lagu yang kusukai secara acak. Sepintas kulirik Sasuke tak jauh dariku yang sepertinya fine-fine saja mendengarku bernyanyi, kalau ia tak suka, pasti dengan cepat ia akan protes. Hihi...dia kan lelaki dingin dan berlidah tajam, aku terkikik dalam hati memikirkannya.

Tetap kuteruskan aktivitasku menyapu kamar dengan bersenandung riang, entah kenapa hari ini aku sangat senang, menerima kunjungan dari sahabat-sahabatku dan...orang yang kucintai. Aku menyapu perlahan, hingga tanpa kusadari sepertinya aku menginjak beberapa benda yang berbentuk bulat dan keras ?

Belum sempat aku menoleh kebawah melihat benda itu tapi tiba-tiba kakiku tergelincir kebelakang membuat tubuhku melayang dan terjatuh kedepan.

"Eh...Hyaaaa-!?" pekikku terkejut sebelum mendarat dilantai kamarku yang pastinya keras itu. Bagaimana ini? Pasti sakit sekali, terlebih tanganku masih cidera...

"SAKURA!"

BRUKK

Eh...samar aku mendengar suara Sasuke berteriak sebelum aku terjatuh, apa...dia segitu mengkhawatirkanku? Tapi...ini tak terlalu sakit seperti yang kubayangkan.

"Ugh~!" Rintihku refleks saat mencoba bangkit tapi masih dengan mata tertutup.

"Kau tak apa-apa? Apa ada yang sakit?"

terdengar sangat dekat, dan hembusan napas hangatnya menerpa wajahku. Eh, tunggu dulu? Ja-jangan-jangan...? Lebih baik kucoba membuka mataku sekarang.

Oh...Kami-Sama...ternyata benar dugaanku, Sasuke sekarang berada dibawahku. Oh...sejak kapan aku menindihnya? Aku menatap dalam onyx hitam kelam dihadapanku yang menyiratkan tatapan ke khawatiran.

Deg! Deg! Deg! Deg!

Siallll! Detak jantungku semakin berdebar, aku harap ia tak mendengarnya. Dan kurasa wajahku juga sudah memerah seperti kepiting rebus dihadapannya. Mata itu... Benar-benar membuatku terjerat akan pesonanya. Kugulirkan manik emeraldku mencari benda bulat biang keladi yang membuatku terjatuh. Cihh! Ternyata bola-bola permen yang dibawa oleh Narutolah penyebabnya. Aku heran kepada sahabat kuning Sasuke itu yang gemar membawa makanan aneh seperti itu.

"Sakura, kau tak apa?" sekali lagi kudengar Sasuke bertanya. Oh, okay aku harus tenang.

"Emm..a-aku tak apa-apa kok Sasuke..." Jawabku pelan dan mencoba bangkit dari posisi berbahaya ini. Refleks aku mengangkat tubuhku dengan menopangnya menggunakan tangan kananku yang masih cidera. Sial! Aku benar-benar melupakan tangan mana yang sedang cidera gara-gara sibuk meredam detak jantung sialan ini.

"Aww~!"

BRUK!

Sepertinya aku tergelincir lagi, karena tiba-tiba rasa nyeri ditempat cideraku kembali menyerang saat kupaksa untuk bergerak menopang tubuhku. Baiklah kali ini aku harus bangkit dengan menggunakan tangan kiriku yang tak sakit. Okay!

"Hn?"

Eh? Kenapa Sasuke bergumam dibibrku? Dan...benda kenyal apa ini? Rasanya basah dan menyenangkan, perlahan kubuka emeraldku dan binggo! Tepat dihadapanku adalah manik onyx Sasuke yang menatapku tajam sunggu dekat.

"Engh~" Tunggu! Kenapa aku mendesah?

Oh...Kami-Sama, apalagi sekarang? Ternyata aku terjatuh dan kembali menimpa tubuh Sasuke, tapi tidak, ini...bi-bibirku tepat berada diatas bibir sexynya. Tidaakkkk Kami-Sama...a-aku benar-benar malu... bagaimana ini?

SAKURA POV OFF

Posisi ini benar-benar berbahaya, batin Sasuke juga terkejut akan keadaan keduanya yang saling menindih ini. Onyxnya semakin membulat sempurna saat merasakan sebuah benda kenyal mendarat dibibirnya, ia tahu benar, benda tersebut adalah bibir ranum gadis pink tetangganya yang saat ini sedang menindih tubuhnya. Aroma cherry menenangkan menguar dari tubuh gadis diatasnya membuat Sasuke merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan selama ini. Ingin sekali ia mengecap bagaimana rasa bibir pink Sakura. Sepertinya lezat batinnya.

Sakura juga tampak menegang kaget tak kalah terkejutnya. Wajah putihnya sudah merona hebat, samar-samar ia juga mendengar detak jantung pemuda dibawahnya yang berpacu cepat sepertinya, ia jadi bingung akan posisi mereka saat ini. Dipikirannya sekarang hanya satu yaitu, ia harus segera bangkit sebelum membuat lelaki yang ia cintai marah dan tak suka akan tindakannya yang walau tak disengaja tapi telah lancang ini. Namun ia urungkan karena merasakan pergerakan dari seseorang dibawahnya.

Tanpa sadar Sasuke telah bergerak untuk mengecap bibir Sakura, ia meresapi rasa manis dan basah yang membuat candu untuknya, hingga ia mengecapnya berkali-kali. Well, yah...bisa dibilang melumat juga sih, tapi masih dengan tahapan lembut untuk mengecap rasa yang baru ini ia rasakan. Karena selama ini ia hanya fokus untuk membalas dendam akan kematian orang tuanya hingga ia mengabaikan hal senikmat ini untuk ukuran remaja sepertinya.

"Hmph- Sa...Suke..?" gumam Sakura saat merasakan pergerakan bibir Sasuke yang melumat lembut bibirnya.

Emerald Sakura semakin membulat sempurna kala sadar bahwa dirinya telah berciuman dengan Sasuke. Sebenarnya ia sangat senang tapi entah kenapa hati kecilnya ingin mengelak, 'ini salah! Dan...belum saatnya Sakuraaaa!' pekik innernya menyadarkan dan mencoba bangkit tapi tak bisa karena tertahan oleh tangan Sasuke yang memegang tengkuknya. Hal itu membuat Sakura pasrah. Tak peduli akan jeritan innernya yang bergejolak merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi setelah ini, tapi ia sudah benar-benar tak peduli lagi akan apa yang terjadi setelah ini. Ia hanya bisa menerima dan menikmati perlakuan lembut lelaki yang telah lama mencuri hatinya.

Mereka berdua benar-benar terhanyut akan kenikmatan yang baru saja mereka rasakan dalam sebuah ciuman yang cukup canggung karena merupakan pengalaman pertama bagi kedua anak manusia berbeda jenis tersebut. Hingga seseorang yang tiba-tiba menjeblak pintu kamar Sakura menghentikan kegiatan keduanya.

"Saku~ Nii-chan membawakanmu takoya-! HEYY! APA YANG KALIAN LAKUKAN HAH?!"

Sasori yang baru saja pulang entah dari mana dan langsung menuju kamar Sakura untuk memberikan makanan kesukaan imotounya itu justru terbelalak kaget, manik hazelnya melotot horror melihat adegan vulgar dihadapannya. Hidungnya kembang kempis menahan amarah. Apa-apaan mereka, baru ditinggal sebentar saja sudah begini? Tapi pasti itu karena bocah lelaki tengil itu yang menghasut Sakura untuk melakukan hal tak senonoh begini, pikirnya.

GLEK!

Sakura dan Sasuke yang masih dalam posisi bertindihan itupun menelan saliva bersamaan, 'ternyata ini firasat burukku dari tadi..' gumam Sakura dalam hati.

"HEYY BOCAH TENGIL! KAU APAKAN IMOTOUKU HAH?!" Geram Sasori sekali lagi yang melihat keduanya tak juga bergeming dari posisi haram itu. "CEPAT MENYINGKIR DARINYA!" Serunya lagi.

Sasuke yang terkejut untuk sepersekian detik berhasil mengembalikan wajah datarnya semula. "Hn, bagaimana aku mau menyingkir kalau dia masih ada diatasku." Ucap Sasuke datar sambil menggerlingkan onyxnya menatap Sakura yang masih mematung tak percaya akan kedatangan sang kakak yang memergoki kegiatan tak terduganya ini.

Sasori semakin geram, ia segera melepaskan seluruh barang belanjaannya yang ia beli selama keluar rumah dan meletakkannya didepan pintu.

"Cih, Saku! Kau juga! Segera turun dari sana! Kau itu malah keenakan!" Serunya lagi yang sudah melangkah menuju sang adik untuk memisahkan mereka secara paksa tapi ia dikagetkan oleh suara langkah kaki seseorang yang semakin mendekatinya dan kedatangan seorang itu yang tiba-tiba menyeruduk masuk.

Tap! Tap! Tap!

BRAK!

"Ada ribut-ribut apa ini?!" tanya seseorang dengan suara baritone khasnya yang familiar.

Ternyata seseorang itu adalah Itachi, dirinya yang mendengar ribut-ribut dirumah sebelah yang tak lain dan tak bukan adalah rumah sahabatnya sendiri itu segera berlari kemari tanpa mempedulikan apapun lagi. Ia pikir ada sesuatu yang genting, dan sesampainya disini, dirinya malah disuguhi pemandangan mencengangkan dan menarik baginya. Ia pun menyeringai.

"Ohh...ternyata kau agresif juga, eh, baka outotou~" Goda Itachi seraya menggerling genit pada posisi erotis adiknya membuat keduanya yang ditatap begitu semakin blushing.

Sementara Sasori yang mendengar perkataan sahabat Uchihanya yang tak mengerti situasi itu segera menghadiahinya dengan deathglare mematikan tapi bagi Itachi, deathglare sahabatnya itu malah tampak imut. Membuat sulung Uchiha ini semakin mendengus geli.

"Ck, berisik kau baka aniki." Sahut Sasuke sambil menahan tubuh Sakura yang mulai bergerak dan ingin bangkit, iapun mencoba membantunya

"Ano~ gomen i-ini tak seperti bayangan kalian..." cicit Sakura mencoba menjelaskan kepada kedua pria lebih tua darinya yang terlihat geram dan satunya terlihat menyeringai. "Tadi Sasuke mencoba menangkapku saat aku akan terjatuh Nii-chan." Lanjutnya lagi.

Sakura lalu kembali mencoba bangkit dengan bantuan Sasuke dan ia meringis menahan sakit, "Ugh~" rintihnya.

"Saku, pelan-pelan!" Sasori dengan cepat sudah berada disebelah adiknya. Namun seketika ia benar-benar terkejut saat mendengar pekikan adiknya yang tiba-tiba dan memekakkan telinga.

"KYAAA~!" Pekik Sakura saat emeraldnya menatap pandangan tak lazim di pintu masuk kamarnya seraya menunjuk kearah pintu dengan menundukkan kepalanya menahan semburat merah yang makin menguasai wajah cantiknya.

Sasori dan Sasuke segera mengalihkan atensinya menatap Itachi yang masih berdiri tegak didepan pintu kamar Sakura. Betapa kagetnya mereka, manik keduanya tampak melotot horror.

Itachi yang ditatap begitu hanya menaikkan alisnya bingung, seolah mengatakan 'ada apa?' dengan tatapannya itu.

"HEI ITACHI! CEPAT PAKAI HANDUKMU!" Seru Sasori geram sambil menutupi kedua mata Sakura tak ingin adiknya kembali melihat pemandangan tak senonoh akibat ulah sahabat keriputnya itu.

"Upss!" Ucap Itachi refleks saat melihat apa yang terjadi pada dirinya sehingga membuat Sakura, satu-satunya gadis disini memekik kaget. Ia hanya bisa nyengir kuda untuk menetralisir keadaan, bahkan wajahnya sudah dipenuhi semburat merah karena malu akan apa yang terjadi. Dengan gerakan cepat Itachi segera memungut handuknya dan memakainya kembali. Kali ini Itachi melilitkan handuknya dengan lebih erat, ia tak ingin kejadian memalukan ini terulang lagi.

Bayangkan saja, handuk yang menutupi setengah tubuhnya itu terlepas sempurna. Entah sejak kapan terlepasnya ia juga tak tau, mungkin saja karena ia berlari-lari kemari dan menyebabkan kaitan pada handuk kesayangannya itu mengendur dan terlepas begitu saja. Yah, karena saat ia mendengar kegaduhan dari sini, saat itu Itachi baru akan mandi. Karena takut terjadi sesuatu yang buruk akan tetangga sekaligus sahabatnya. Ia pun tak mempedulikan apapun lagi dan hanya menarik handuk yang tergantung dipintu kamar mandinya saat itu. Namun naas baginya, justru ia harus mengalami hal seperti ini akibat kepanikannya sendiri.

Sasuke tak kalah geram, akibat ulah baka anikinya yang semakin membuat heboh keadaan dengan mempertontonkan masa depannya secara gratis, terlebih dihadapan gadis pink yang baru saja membuatnya terlena itu, ia memijat pelipisnya sambil berdecih,"Cih, dasar BAKA!" Dengusnya kesal.

Sasori mendengus keras, dengan cekatan ia mengangkat tubuh Sakura untuk ia letakkan di ranjang agar sang adik bisa beristirahat kembali, "Jangan buka matamu Saku! Keadaan masih berbahaya!" Desisnya sembari memicing tajam kearah sahabat keriputnya yang membuat darahnya seolah mendidih. Tunggu sampai ia mengusir duo Uchiha mesum yang hanya akan meracuni pikiran imotounya itu. Sakura hanya mengangguk mendengar interuksi kakaknya.

"DASAR KAKAK BERADIK PERVERT! PERGI KALIAN DARI RUMAHKUUUU!"

Pekikan Sasori sukses membuat Itachi dan Sasuke segera angkat kaki dari sana. Mereka berdua tak ingin berurusan dengan pria berwajah bayi itu. Karena jika marah Sasori benar-benar mengerikan.

'Fuuhh...benar-benar hari yang melelahkan.' Batin keduanya seraya berjalan cepat meninggalkan rumah tetangganya.

.

.

~T.B.C~

.

.

Yeahh selesai juga chap ini, #Ketok pala, kayaknya makin ngelantur nih -_-b

Arigatou untuk kalian semua yang udh mereview, fav, maupun follow fict gaje ini. Balasan review cek PM yeaaa, hehee gomen kalo ada yg trlewatkan blm q bales.

(╯3╰)╭

Bagi kalian readers atau author yang bersedia memberi kritik dan sarannya, aq sangat2 berterima kasih.

Mind to review again?

(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯