Disclaimer : Hetalia dan karakternya bukan punya saya ^^
Ringkasan
Sidang pertama dimulai! Ternyata mengambil suara itu tidak terlalu mudah, perdebatan terjadi di sana-sini. Ada yang sibuk membela kawan, tapi juga ada yang sibuk tidur… tetapi sidang ini ternyata bukan main-main.
Selamat Membaca!
-Sudut pandang Francis-
Suara laki-laki berambut hitam itu membahana dalam ruangan, "Mari kita mulai sidang pertama."
Feliciano Vargas membagikan selembar kertas kosong kepada setiap orang di deretku, mulai dari Gilbert. Di seberang, Lovino memberikan pena mulai dari Antonio sambil menggumamkan sesuatu. Mungkin kami akan memerlukannya untuk pengambilan suara…. Ketika giliranku tiba, tahulah aku bahwa ia hanya mengingatkan agar terus membawa pena ini di saku kami –jangan menghilangkannya lagi.
"Sementara kedua asistenku membagikan kertas dan pena, aku ingin memberikan kabar gembira kepada protago," kata Kiku santai, "selamat, magus kalian mendatangi seorang pandai besi semalam. Kontrago belum beraksi, dan saranku… pada malam berikutnya, bekerjalah lebih baik. Sidang pertama dimulai."
Sidang pertama, batinku sendiri. Mendengar kalimat itu, sebagian orang di ruangan ini terlihat cemas. Gadis manis di seberang kiriku –papan namanya bertuliskan 'Erika Vogel'– terlihat takut sekali, sangat terlihat bahwa ia tak berniat menuliskan nama siapapun di kertas kecilnya. Di samping gadis itu duduk seorang pemuda pirang bertopi hitam kecil, jarinya memainkan pena… tetapi pandangannya menyapu semua ekspresi dalam ruangan. Ah, ada juga orang-orang yang memasang wajah kalem, seperti pemuda berkafiya di samping Laura –dan aku sendiri.
Jujur, sebenarnya jantungku berdegup keras membayangkan apa yang akan terjadi pada kami dalam sidang ini. Tidak ada teman di sini, bahkan aliansiku menolak membongkar profesi masing-masing. Ya, aku takut tewas di sini –sudah kukatakan, untuk melindungi diriku sendiri saja aku tidak bisa.
"Tunggu dulu," tiba-tiba seorang remaja laki-laki berbaret putih mengacungkan tangan, "aku masih butuh penjelasan –"
"Bodoh sekali sih," kini yang berbicara adalah salah satu dari bersaudara Vargas itu, "kau buta huruf atau malas membaca buku? Sidang ini segampang kamu melubangi jidat orang kok!"
"Gila, anak muda itu bicaranya kasar sekali," gumamku pelan.
"Tapi dia benar, kalau cuma memungut suara untuk bunuh orang sih tidak sulit bagiku," ujar laki-laki beralis tebal yang ternyata duduk tepat di sisi kananku, "namamu masih 'Francis Bonnefoy' 'kan?"
Aku terperanjat saat melihat tangan kanannya siap menulis dengan pena di kertas suaranya, "Kau mau menuliskan namaku agar aku digantung, Arthur?! Tega sekali kau!"
"Lah memangnya kenapa –LEPASKAN AKU KODOK TUA– jangan, jangan tahan aku seperti itu –"
Gadis bernama Erika seketika menjerit, "Tuan Francis –Tuan Arthur!"
Bukan hanya dia. Wang Yao, Antonio berikut Elizaveta yang baru kukenal juga ikut menjerit agar kami berhenti saling bunuh. Alfred bangkit dari kursinya untuk melerai kami, tetapi dihalangi oleh Lovino yang mengacungkan palu hakim milik Kiku.
"Dalam sidang dilarang angkat pantat dari kursi, bego."
"Aku tidak bisa melihat kawan-kawanku dipaksa saling bunuh begini," ujar Alfred berani, ia mengatakan semua kalimatnya dengan keras dan jelas sekali, "pahlawan macam apa aku ini?! Aku tidak bisa membiarkanmu melakukan hal sekejam ini kepada teman-temanku! Akan tetapi jika melanggarmu akan membuatku dibunuh juga… semuanya, bisakah kalian dengarkan aku sebentar? Aku punya ide bagus. Bukankah jika kita memberikan suara untuk kita masing-masing, maka tidak akan ada yang dieksekusi?"
Arthur berhenti menarik jubahku dan menoleh kepada Alfred, "Kamu bicara apa, sih?"
"Peraturannya adalah," Ludwig angkat bicara, "yang mendapat suara terbanyak akan digantung."
"Ah iya –bila hasil voting ini seri untuk semua orang, seharusnya tak ada yang dihukum mati."
Seisi ruangan sempat hening sambil memandang sosok pirang yang (sepertinya) mengatakan hal tersebut di atas, sebelum akhirnya bertanya bersama. Tunggu dulu –bahkan di chapter sebelumnya sang author menyebutkan bahwa Eliza duduk di kursi keempat dari tujuh kursi deret tengah… bahkan bersaudara Vargas dan sang hakim ikut menanyakan hal yang sama.
"Kamu siapa, ya?"
"…saya Matthew Williams."
"Baik," pemuda berambut hitam itu mendehem, "silakan selesaikan pengambilan suaranya. Aku akan lebih senang jika Arthur-san dan Francis-san bekerja sama –"
Meski Arthur mencekikku, aku berusaha tersenyum, "Dengar? Kita harus bekerja sama."
Dengan wajah getir ia melepasku sambil mengumpat. Kuawasi tangannya agar ia tak kembali menuliskan namaku di kertasnya. Melihat kami gencatan senjata, varonis-varonis yang sempat panik tadi akhirnya menarik napas lega.
"Jadi," pemuda bersyal yang duduk di sisi kanan Arthur membuka diskusi kami kembali, "kita harus vote diri sendiri, da?"
"Benar sekali, Ivan!" Jawab Alfred tegas, "Bagaimanapun caranya, kita harus membuat semua orang mendapat jumlah suara yang sama. Maka semua orang bisa diselamatkan. Hahaha! Hebat bukan, ideku ini?!"
Gilbert akhirnya mengutarakan pendapatnya, "Tidak salah, sih… tapi jika kita hanya butuh kedudukan seri, bukankah cukup dengan memberikan jumlah suara yang sama kepada dua orang yang berbeda? Rencanamu kurang awesome, aku tidak setuju."
"Kok kau bisa bilang begitu sih?!"
"Gilbert benar," kini semua mata memandang Wang Yao, "bagaimana jika ada yang tidak jujur aru? Bagaimana jika ada yang memberikan suara kepada orang yang berbeda aru? Bukankah diceritakan pada sidang-sidang sebelum ini –"
"Eh?!" Terdengar pekikan Elizaveta, "Maksudmu, ini bukan sidang pertama?! Sudah ada yang dieksekusi sebelum kita?!"
"STOP VEEE!" Feliciano mendatangi pemuda sipit itu sambil mengibarkan bendera putih bertanda silang merah, "Kamu dilarang membicarakan hal-hal di luar pengambilan suara hari iniii! Lagipula kita tidak sedang membahas sidang sebelum ini ve…"
"Lebih baik cepat putuskan kalian mau vote siapa," ujar Lovino tidak sabar sambil menunjuk jam pasir yang ada di meja Kiku, "jika tidak ada keputusan sampai waktu habis, kami akan menunjuk asal seseorang untuk dibunuh langsung di sini, Bodoh!"
"Sejak kapan jam pasir itu ada di sana, hei?! Kalian sangat tidak awesome, tahu nggak sih!"
Walau suara serak Gilbert membahana, di antara kami semua yang berteriak paling keras adalah para wanita –Erika, Laura, dan Elizaveta. Meski Natalia tidak menjerit, dari ekspresinya saja dapat diterka bahwa ia terkejut mendengarnya. Bocah bernama Peter yang duduk di sisi Antonio sampai mendekap lengan si spaniard tampan. Kusempatkan diri untuk melihat ekspresi Arthur yang ternyata agak jauh dari takut –lebih tepatnya, sama seperti Roderich, Mathias, dan Ludwig– mereka kelihatan kesal sekaligus heran.
"Kau ini bicara apa sih, heh?!" Kata pemuda beralis tebal itu, "Kalau kalian ingin kami cepat selesai, biarkanlah kami berpikir!"
"Tunjuk saja salah satu dari kami," sorot mata Roderich terlihat menghina, "ancaman itu tidak berguna bagiku. Kalian pasti punya maksud di balik semua ini –dan aku yakin, kalian tidak benar-benar akan membunuh karena kalian butuh kami, benar?"
"Sombong sekali kalian, ya," Mathias mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke dahi, "tahu tidak, Feliciano? Aku bisa mengalahkan kamu hanya dengan sekali sentil, dan kembaranmu yang songong itu dengan –"
Sebelum Mathias selesai dengan kalimatnya, sesuatu menancap di topi hitam kecilnya. Baik Erika maupun Wang Yao yang duduk mengapitnya terkesiap. Syukurlah, tidak ada darah mengalir dari dahinya… pemuda itu segera melepas topinya untuk melihat benda apa yang mengenainya.
Suara penuh semangat Wang Yao terdengar bergetar, "I –itu shuriken, aru… dia serius."
Kembali kudengar Honda Kiku mendehem, "Maaf, aku sudah menahan diri agar itu tak terjadi… dan omong-omong, ide Lovino bagus juga. Kebetulan sekali, Alfred, tidak ada kata seri dalam kamusku… jadi, buatlah keputusan sebelum waktu kalian benar-benar habis."
"Ah, be –be –begitu, ya!" Sahut Mathias buru-buru sambil menutupi rasa paniknya, "Hmm –jadi, kalau jumlah suara yang didapat tak boleh seri… bagaimana kalau kita vote orang paling mencurigakan di sini? Ludwig, kau setuju denganku, 'kan?"
"Tidak salah juga, mungkin…" ah, walaupun pemuda itu menjawabnya seperti itu, tetap saja aku mampu menangkap keraguan di balik rahang sempurnamu, Ludwig.
Bocah bernama Peter mengacungkan tangannya, "Aku setuju, aku setuju! Misalnya orang seperti Arthur boleh, 'kan? Pasti dia menyembunyikan rencana besar di bawah alis tebalnya!"
"Anak tolol, ngapain kau di sini?" Ujar Arthur kesal, "Pulang saja sana kau, ini bukan tempat untuk bocah ingusan."
"Jahat sekali Arthur, aku ini varonis juga lho!"
"Oi, oi, pertengkaran keluarganya jangan di depan kami lah, "Gilbert menghela napas sambil mengedikkan kepalanya ke pemuda yang duduk di sisinya, "kalian bisa membangunkan orang ini."
"Hei, jangan bercanda," ujarku segera saat melihat ke arah Gilbert, "masa sih dia bisa tidur di saat seperti ini?"
"Hmm," itu adalah untuk pertama kalinya pemuda bernama Gupta itu bicara dalam forum ini.
"Gilbert, Roderich, bangunkan orang itu!" Vash dan Ludwig berseru bersamaan.
Ruang sidang mulai dipenuhi decak kesal dan obrolan penuh kecemasan. Mathias bicara serius dengan Yao. Sementara Vash melipat tangannya di dada dan diam, Alfred, Peter, dan Antonio mulai membicarakan siapa yang harus di-vote jika kedudukan tak boleh seri. Pandangan Elizaveta tak habis-habisnya tertuju kepada jam pasir Kiku.
"Gilbert," kata pemuda bernama Heracles itu dengan malas, "aku ngantuk banget nih… jangan bangunkan aku lagi. Tuliskan saja… nama 'Natalia Arlovskaya'… di kertasku."
Lalu pemuda itu ambruk lagi. Seketika ruangan menjadi hening. Walau sepintas tetapi aku bisa melihat lirikan-lirikan tajam kepada Heracles dan Natalia.
"Heracles," pemuda berambut keperakan itu mengguncang tubuhnya, "kenapa kau vote dia? Apa kau tidak merasa terganggu walau asal vote seperti itu? Kau sangat tidak awesome!"
Suara Heracles terdengar agak kesal, "Sudah jelas, …Gilbert. Karena… kata Mathias… vote yang paling… mencurigakan."
"Hei hei hei hei," aku buru-buru bicara sebelum orang-orang terpengaruh olehnya, "kau jangan menuduh seorang gadis seperti itu, aku tahu dia kok… dia tidak jahat."
"Tidak jahat, Francis?" Tiba-tiba Arthur menjawabku, "Kau bilang dia menolak bekerja sama denganmu."
"Memang begitu, tapi –"
"Dia bahkan tidak mau bicara denganku," gerutu Elizaveta pelan –tetapi masih ada yang bisa mendengarnya.
"Eliza –"
"Ya, dia lebih mencurigakan darimu, Arthur," ujar Peter, "aku lihat dia bawa pisau ke mana-mana!"
Semua orang terkejut mendengar kata-kata Peter. Dari mana ia tahu soal itu? Natalia memang selalu siap dengan pisau di balik apron putihnya, tetapi itu hanya sekedar perlindungan saja. Siapa yang mulai mencurigainya tadi? Aku jelas tahu kalau gadis itu tidak bersalah…
"Nona," kudengar Ludwig mencoba bicara baik-baik dengannya, "apakah kau serius membawa senjata tajam itu?"
"Ludwig –"
"Itu –itu hanya untuk– pertahanan diri…" suara Natalia terdengar bergetar, "…aku –aku tidak bermaksud apa-apa, serius."
"Astaga, kupikir anak kecil itu berbohong," kata Mathias sambil menggelengkan kepalanya, "aku awalnya berpikir bahwa kau sangat mencurigakan dengan logat anehmu itu, Gilbert, tapi sekarang aku setuju denganmu."
"Bukan maksudku menyerang wanita sepertimu, Eliza," seru Alfred dari kursinya, "tapi kenapa kau selalu memojokkan Ivan? Kalian bukannya bersaudara, eh?"
Aku mulai panik ketika obrolan-obrolan mereka mulai memojokkan gadis itu, "Tunggu, Kawan –"
"Jadi kau gadis yang sering dibicarakan Ivan… karena aku tahu siapa pemuda itu, kau jadi semakin terlihat berbahaya aru."
"Kau memang mencurigakan, da ze!"
"DIAM SEMUANYA!" Natalia menjerit, tangannya memukul meja dengan keras, "Siapa saja… tolong hentikan omong kosong ini! Kalian tidak mengerti, jangan asal bicara seperti itu –terutama kau, Mathias!"
"Kami hanya bicara soal fakta, Natalia, kenapa kau menekankan hal demikian hanya kepadaku?" Jawab Mathias, "Aku hanya mengatakan bahwa sebaiknya kita memberikan suara kepada orang yang mencurigakan. Kawan-kawan kitalah yang mengusulkan namamu, dan aku memang tidak menujukan perkataanku tadi kepadamu."
"AHA!" Gadis itu memekik lagi, "Bukankah malah kau yang lebih mencurigakan lagi? Kita ingin agar semua orang di sini selamat, kenapa kau menuntun kami untuk membunuh satu orang di antara kita?"
"Aku hanya mengusulkan ide terbaikku untuk menanggapi Alfred. Teman-teman di sini hanya mengutarakan opini mereka tentangmu dan –boom– kau ketakutan sendiri. Kalau kau benar-benar orang baik di sini, kau tidak harus sampai sengeri itu, 'kan?"
"Mathias, k –kau…"
"Tenang semuanya, dengarkan aku," mau tidak mau aku berdiri dari kursiku, "Hakim Agung Kiku, aku ingin membela Natalia."
Pemuda itu mengangguk, "Cepat, waktu kalian sedikit."
"Baik…" kini semua orang memandang ke arah kami bergantian, "teman-teman, aku kenal baik Natalia dan kuharap kalian mengerti. Aku hanya membela fraksiku –dan fraksi beberapa orang di antara kita, oke? Aku tahu, aku juga sama mencurigakannya dengan dua orang yang berjibaku tadi. Jadi, agar kalian mau percaya denganku…"
Perlahan aku menghela napas. Di hadapan orang-orang yang sebenarnya tak semua kupercaya, kutanggalkan jubahku berikut semua rahasia yang tertutup olehnya. Semua orang terheran-heran melihat seragamku –atau mungkin lebih tepatnya, satu-satunya penanda identitasku. Ya, semuanya… mulai dari aliansiku sendiri hingga pemuda bernama Matthew tadi.
"Francis," sahabatku Gilbert adalah orang yang pertama kali berkomentar, "kau itu… pendeta?"
"Biarawan, lebih tepatnya," koreksi Ludwig.
"Kostum yang keren, Dude," pandangan Alfred terarah pada kalung salib yang tergantung di dadaku.
"Dan kau menggoda gadis-gadis sepanjang siang kemarin," ujar Laura sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak percaya, Kodok."
"Aku juga tidak percaya, Arthur," sebelum omongan-omongan mereka lebih ngawur lagi, buru-buru aku menambahkan, "jadi, ada tiga biarawan –sebenarnya dua biarawan dan satu biarawati– yang ada di sini. Kalian sudah tahu dua orang… aku tahu, di antara kita ada fraksi putih, hitam, bahkan kelabu. Maka tolong pertimbangkan pilihan kalian baik-baik."
Tiba-tiba terdengar suara palu Kiku dihantamkan, "Waktu sidang kalian habis, ve! Tuliskan nama orang yang kalian ingin gantung sore ini, nanti aku dan Lovino akan berkeliling mengambilnya darimu…"
"Masalah siapa yang memenangkan vote hari ini," pemuda bernama Lovino itu menyeringai lebar, "saksikan saja mayat siapa yang akan digantung sore nanti."
Akhir dari Hitam Putih Kelabu, Sidang Pertama.
