Mellifluos Chansonnette

{ Chorus }

Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.
Pairing: America/Belarus, slight!Canada/Ukraine. Genre: Hurt/Comfort/Romance, Rating: T. Other notes: historical references, political stuffs, post-cold war era.

(Pasca perang dingin, Alfred menambah aliansi. Mengetuk rumah kecil berteras penuh salju untuk memberikan sebuket bunga matahari, "Selamat datang di dunia internasional, Belarus—Natalya.".)


Adalah senja yang sudah menjelang malam ketika mobil Alfred melewati batas kota. Natalya menaikkan volume lagu di mobil tersebut agar dia tak terlalu mengantuk, dan Alfred berdendang mengikuti irama lagu itu. Kecepatan mobil tampaknya menurun.

"Aku sudah membersihkan rumah itu, tenang saja," Alfred memulai pembicaraan. "Dan kalau boleh bilang, rumahku di Maine ini adalah salah satu yang terbaik yang pernah aku punya. Modelnya klasik, Nat. Dan Maine sering membersihkannya. Dia state yang paling rajin."

"Apa kita punya acara lain malam ini?" Natalya mendelik, Alfred sudah membuka mulutnya, namun cepat-cepat dia potong, "Tidak kalau film."

Gelak tawa Alfred lepas, "Oke, oke, bukan film. Aku tidak punya ide. Tidur?"

Natalya memutar bola matanya.

"Jangan cerita horor, Nat."

Gadis itu menyeringai tipis.

"Tidur saja. Biar kita bisa bangun pagi-pagi besok untuk kejutanku."

"Ck. Kenapa tidak berikan kejutannya sekarang juga?" Natalya mengetukkan jarinya tak sabar di atas celana jeansnya. Tak sadar. "Apa kau belum menyiapkannya sepenuhnya?"

Alfred juga mengetuk-ngetuk kemudi dengan jemarinya. Berpikir untuk beberapa saat dan menggantung pertanyaan Natalya. "Sekarang? Yakin? Sebenarnya ... bisa," dia mengelus dagunya. "Tapi lebih menyenangkan jika pagi. Ah, tapi ... malam juga mengasyikkan, sepertinya. Baiklah, yakin mau menerimanya malam ini juga?"

"Bukan hal yang buruk."

Alfred pun tersenyum cerah—yang tak Natalya bisa tebak untuk apa. Laki-laki itu kemudian menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah boks telepon umum. "Kau tetap di sini saja. Aku harus menelepon seseorang."

Kening Natalya berkerut. Dia ingin melanggar perintah dan membuntuti keluar, namun mengingat bahwa dia barusan menuntut, akhirnya dia tak jadi berbuat macam-macam. Dia hanya memandangi saja tanpa bisa mendengar apapun dari pembicaraan Alfred, walau boks itu tak berpintu. Alfred tak berlama-lama di sana.

"Yak, beres," Alfred menghidupkan mesin mobil kembali. "Kita lanjutkan perjalanan ini!"

Natalya memutuskan untuk tak bertanya. Mungkin yang barusan bukanlah hal penting. Alfred pun tak lagi membahas soal kejutan lagi. Kali ini dia bercerita banyak tentang masa kecilnya di rumah Arthur. Natalya tak tahu mana yang omong kosong atau mana yang sebenarnya, dia hanya menjadi telinga yang baik.

Satu jam setelahnya, rumah yang mereka tuju pun telah ada di depan mata. Rumah itu tampak seperti cottage tua yang sering Natalya lihat di Skotlandia, atau Wales, dari foto-foto lama Alfred yang tak jarang dipamerkannya. Terasnya bersih. Sayangnya, tidak ada tanaman penghias apapun di halaman. Cuma ada satu pohon yang kecil tepat di balik pagar.

"Kita makan di luar, ya. Dan, Nat," Alfred memandangi Natalya dari ujung kaki hingga puncak kepala. "Ganti pakaianmu. Bawa yang sejenis gaun atau tidak? Kuminta kau membawa itu, 'kan?"

Natalya balas memandang Alfred dingin. "Asalkan kau juga berganti baju."

Tentu saja, mana Natalya mau jika hanya dia yang memakai pakaian berkelas sementara Alfred hanya memakai kaos garis-garis dan jaket kulit serta jeans selutut itu.

"Aku akan melakukannya lebih cepat dari kau," Alfred terkekeh, lalu langsung berlalu dengan kopernya, menuju kamar di dekat tangga.

Natalya memutuskan untuk naik. Ke ruangan yang kata Alfred disediakan khusus untuknya.


Alfred tak mengujarkan omong kosong. Begitu Natalya turun, dia sudah terlihat seperti orang yang bosan menunggu. Dan yang mengejutkan Natalya, dia memakai pakaian yang benar-benar resmi. Kemeja putih, lalu vest hitam yang serasi dengan celana. Bahkan sepatunya pun seperti yang sering ia gunakan untuk rapat atau ke Gedung Putih.

Pantas saja Alfred menyuruhnya membawa baju seperti yang tengah ia kenakan sekarang. Berutung sekali, warnanya serasi. Natalya memakai putih. Gaun itu tak berlengan, V-neck, taburan beberapa swarovski di bagian dada, dan bagian bawah yang sedikit mengembang dan mencapai setengah betis. Dan ia bersyukur karena tak lupa mengganti pitanya dengan yang warna putih dengan bahan satin, sesuatu yang jarang ia pakai.

"Sebenarnya apa yang akan kita lakukan dengan pakaian seperti ini?"

Alfred melihat sebentar ke arah jam tangannya. "Tidak ada waktu untuk menjelaskan," ia mengangkat bahu. "Sekarang ayo ikut aku. Jangan banyak bertanya, oke? Dan kita tidak akan menuju tempat jauh." Tangannya pun terulur ke arah Natalya.

Karena belum puas, Natalya menyambut uluran tangan itu dengan agak ragu. Alfred dengan lekas menuju mobil dan membukakan pintu untuk Natalya. Perjalanan membingungkan itu pun dimulai.

Memang, tak terlalu lama. Cuma lima menit.

Tempat itu seperti taman, namun ada kapel kecil, agak jauh di belakang sana. Alfred membawanya ke taman yang sepi? Natalya cuma menggelengkan kepala. Ini konyol. Laki-laki itu terus saja membawanya menyusuri jalan setapak yang dibingkai rerumputan. Namun, kali ini langkahnya lebih santai.

"Salah satu tempat favoritku."

Natalya tidak melihat ada satu pun tempat makan atau setidaknya kedai di sini. Omong-omong, dia memang lapar.

Walaupun sepi, banyak lampu yang berpijar dan membuat tempat itu tak terlalu mati. Ada beberapa bangku panjang berwarna putih di sisi kiri dan kanan. Satu ... dua ... cuma tiga. Total ada tujuh orang yang duduk di sana. Mungkin penduduk sekitar sini, Natalya heran mengapa mereka memilih untuk menghabiskan waktu di tempat sepi seperti ini. Gadis itu tak terlalu mengenali mereka. Mereka memakai topi dan duduk memunggunginya.

Alfred berhenti beberapa langkah sebelum memasuki pintu kapel.

"Baiklah, Nat," Alfred menarik napas. Senyumnya hilang. "Mungkin ini terdengar aneh, dan mengejutkan. Tapi itulah fungsinya kejutan, bukan?" dia pun berdeham.

"Bagi kita ... mungkin kebiasaan manusia yang ini terdengar bukan sebagai sebuah hal yang lumrah. Walaupun ada beberapa dari kita yang pernah melakukannya juga. Aku melakukan ini bukan sebagai United States of America, bukan sebagai perwakilan dari bosku. Bukan sebagai bagian dari urusan politik. Aku ingin melakukan ini sebagai Alfred. Sebagai manusia, dengan beberapa alasan. Pertama, aku tidak ingin dianggap sebagai kakakmu—tch. Kedua, kurasa hubungan negara kita sudah sangat baik dan stabil, sehingga ... kurasa ikatan antara kita harus dipererat lagi agar ... agar, yah, kita bisa jadi hero dunia bersama. Dan ketiga ... yang paling utama dan penting—"

"Langsung ke intinya, Alfred."

"—karena aku mencintaimu."

Lantas,

"Natalya Arlovskaya, Republik Belarusia, menikahlah denganku."

Wanita di hadapannya mematung dengan mulut setengah terbuka.

Alfred menggenggam tangan kanan Natalya, lalu mengangkatnya. "Izinkan aku mencium tanganku kalau kau menyetujuinya. Tarik jika tidak."

Natalya ingin berkata-kata, tapi suaranya tersendat. Kata-kata hilang entah ke mana. Dia tahu hidup penuh kejutan, tetapi berabad-abad dia menjalani semuanya dengan stagnan, tidak pernah ada kejutan yang melebih ekspektasi atau perhitungan, dan tidak pernah ada khayalan besar yang benar-benar menjadi nyata.

Alfred makin mendekatkan tangan Natalya ke bibirnya. Jantung Natalya sebentar lagi akan melompat dari sangkarnya. Napas gadis itu pun jadi tak karuan. Alfred memandang matanya dengan cahaya yang belum bisa ia kenali apa itu, dan dia masih menjadi patung.

Dia punya sekian detik untuk menarik tangan itu jika dia tak setuju. Namun Natalya diburu waktu. Hampir-hampir tak diberi kesempatan dan dia harus mencerna banyak hal dalam sekian detik. Soal rasa bahagianya ketika melihat Alfred pulang, soal rasa nyamannya berada di bawah perlindungan sayap America, soal latihan bersama, soal bantuan, soal kenegaraan, dan soal keinginannya untuk terus melanjutkan hari-hari mereka bersama—akhirnya semuanya mengantarnya pada keputusan tunggal:

dia membiarkan Alfred mengecup punggung tangannya.

Dan tiba-tiba saja, tepuk tangan dan ucapan selamat yang nyaring terdengar dari sisi kanan dan kiri. Natalya memandang semuanya tak percaya—sekaligus kaget.

Terlebih ketika seseorang dengan pakaian paling formal keluar dari kapel. "Kalian siap untuk sumpahnya?"

Natalya kembali pada Alfred, matanya membulat penuh, "Malam ini juga?!" bisiknya tajam.

Alfred nyengir. "Terlalu cepat, kah?"

"Sangat." Dingin sekali.

Alfred mendadak jadi panik, "A-a, jadi—Nat, aku terlanjur mengundangnya—"

Natalya jadi salah tingkah. Dia menggigit bibirnya sekaligus menutup matanya. "Aku ... aku ... ah, entahlah—lakukan sesukamu!" dia berbisik lagi.

"Tapi kalau kau tidak siap, kurang bagus juga—"

"Aku siap," sambar Natalya mendadak. Alfred terkesiap. Wanita itu menutup matanya lagi sesaat, lalu memandang Alfred dengan sorot mata tegas. "Kita bukan manusia. Jadi setidaknya, kehidupan kita tidak akan semerepotkan manusia ketika melakukan ini, bukan? Dan kita punya banyak hal untuk dibicarakan setelah ini, Jones."

"Tenang saja, Nat, tidak akan ada yang berubah kecuali, ehm, kebebasan-kebebasan kecil, ehm, dan ini tidak akan serumit yang kaubayangkan. Jadi—"

"Saya bersedia," Natalya langsung menjawab ke arah laki-laki tua yang telah menunggu di ambang pintu kapel itu.

Alfred menegakkan tubuhnya. Lalu mengangguk cepat dan tersenyum lebar. "Ya! Ayo, ke dalam!"

Sebelum masuk, Natalya menoleh untuk melihat siapa saja tujuh orang yang ada di sana.

Semuanya dia kenal. Mereka semua sering bertamu ke rumah Alfred, mana mungkin dia tidak tahu?

Maine, Pennsylvania, Texas, Washington, New York dan ... astaga, itu Canada—Matthew!

Dan Natalya sempat terhenti ketika melihat wanita yang berada di ujung dan melambaikan salah satu tangannya—sementara tangannya yang lain mengusap ujung matanya. "Сестра?" darahnya berdesir.

Alfred mendengarnya, rupanya, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Natalya, "Biarkan dia tahu. Dan maafkan dia juga—tolong jaga rahasia dia dari satu saudara kalian yang itu—dia sudah melakukan ini dengan Matt. Bahkan aku, satu-satunya saudara yang Matt punya, baru diberitahu setelah mereka melakukan banyak hal."

Natalya berpaling lagi, memandang Ukraine tak percaya, heran, sekaligus senang. Rupanya, selain dengan Alfred, dia harus membicarakan banyak hal dengan kakak perempuan tertuanya juga.

Malam itu berjalan seperti yang Alfred inginkan.


Paginya berjalan tidak seperti yang Natalya pernah prediksikan.

Atau khayalkan.

Dua tahun tinggal bersama Alfred, Alfred tidak pernah memasuki kamarnya satu kalipun. Tetapi malam ini, jauh di Maine, di sebuah cottage kecil tepian kota, Alfred bahkan lebih dari memasuki kamarnya saja.

Natalya menyeringai dalam pikirannya, sekaligus mendengus. Ini aneh tetapi—dan memang—nyata.

Aku menikahi Alfred?

Dia membalik posisi, menjadi menyamping. Memandang sampai kenyang. Alfred masih tidur, dengan selimut yang turun hingga setengah torsonya yang terbuka bebas tanpa pelindung.

Iya, benar.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan secara diplomatik, kalau begini ceritanya. Oke, kalau begitu ini bagus untuk negaranya. Negara baru yang butuh banyak bantuan dari si super power.


Memang tak terlalu banyak hal yang berubah, begitu pikir Natalya, sambil memandangi langit Washington dari ruang makan rumah Alfred. Alfred tetap bekerja sebagai representasi seperti biasa, dan dia juga masih sering harus bolak-balik D.C. – Minsk untuk urusan negaranya sendiri. Pertemuan antarnegara pun berlangsung tanpa banyak perbedaan. Mereka duduk berjauhan dan malah kadang tak saling bertegur sapa.

Natalya bahkan ragu bosnya dan bos Alfred mengetahui soal ini.

Ya, banyak hal terjadi seperti biasa.

Dia terlalu banyak merenung hingga tak sadar ada suara langkah kaki yang mendekat.

"Tehnya jadi terlalu hitam, Manis," sepasang tangan mengaitnya dari belakang. "Kebanyakan melamun, hm?"

Natalya tersentak, baru sadar apa yang ia lakukan. Dengan cepat dia buang kantong teh ke dalam bak sampah tak jauh dari kakinya. Alfred cuma tergelak di balik punggungnya. Lalu mencium bagian antara bahu dan lehernya. "Apa itu teh untukku? Kalau iya, aku tidak keberatan dengan teh yang terlalu hitam. Sudah biasa. Bukan cuma sekali aku terkontaminasi teh yang terlalu matang dari Arthur ketika aku kecil dulu, ha ha ha ha!"

"... Serius?"

"Ah, yah, serius," Alfred menaruh keningnya di bahu Natalya. Suara malasnya tersembunyi di balik pakaian Natalya. "Tambahkan saja gula lebih banyak dari biasanya."

Natalya diam saja, namun membatalkan niatnya untuk membuang teh barusan. Mubazir.

Dia melirik. Alfred sedang memandangnya. Laki-laki itu kemudian tertawa dan mencubit pipi Natalya.

"Sejak pulang dari Minsk tiga hari lalu, kurasa pipimu makin tebal saja. Apa di sana kau makan enak?"

"Tidak juga," Natalya menuangkan banyak gula. "Kurasa ini sudah terjadi sejak lama."

"Hooo," Alfred mencubitinya lagi, membuat Natalya mendengus geram, "Mungkin ini pertanda kau semakin bahagia hidup di sini," lantas dia tertawa puas.

Mungkin, tak sedikit juga hal yang tiba-tiba berubah.

Misalnya, sore ini. Ketika Alfred berkata bahwa dia harus pergi ke Geneva besok, untuk perjalanan selama sebelas hari. Jika dahulu mereka hanya sama-sama terpaku dalam keheningan dan paling-paling hanya saling berkata hati-hati, maka kali ini—

—tidak. Alfred mengecupnya, memeluknya, melupakan makan malam, dan berbisik, I will miss you a lot, let's have fun tonight, humour me on the bed.

Dan pintu kamar pun dikunci dari dalam.

Natalya merasa menjadi manusia. Yang punya pelindung luar biasa. Di dalam rengkuhan Alfred dia tak mengerti banyak hal—termasuk deretan hal dalam hidupnya belakangan ini yang dirasanya makin dekat pada kesempurnaan. Negara yang merdeka dan berdaulat, keadaan dunia yang baik-baik saja, tempat tinggal yang nyaman ... dan Alfred.

Dia tak tahu seberapa jatuh dia pada cinta Alfred. Dia hampir tak pernah mengakuinya. Bahkan, jatuh cinta itu apa, dia juga tak terlalu mengerti. Dia mengartikan semuanya sebagai suatu kenyamanan, suatu hal yang membuatnya aman, sesuatu yang takkan membiarkannya jatuh sendiri dan kesepian di tengah gurun salju.

Maka dia menerima Alfred.

Tetapi semua ini ... membuatnya sedikit takut.

Hal yang mendekati sempurna biasanya akan ... jatuh. Jatuh ke titik yang entah berada berapa mil di bawah sana, sehingga semuanya seimbang dan setimpal.


Natalya diajak Alfred ke kantornya hari itu. Ada bisnis ekspor-impor yang harus diselesaikan secara diplomatis.

"Yah ... memang sih, negara itu menguntungkan kita dengan bisnis diplomatis ini. Tapi ternyata ... pemimpinnya. Ha ha, masih jauh lebih baik punya kita."

Natalya berhenti. Pintu di sampingnya tak tertutup sepenuhnya, dan dia bisa melihat orang-orang di dalamnya. Oh, tidak dia kenal.

"Ck ck, Lukashenko memang bukan tipe kita. Kuprediksi ..." orang itu menyandarkan dirinya di lemari. "Dia tidak akan cocok dengan kita karena prinsip dia bukan kebebasan. Kurasa. Ini cuma firasat, Bung."

Mata Natalya menajam. Dia segera pergi dari sana dengan menghentakkan kakinya keras-keras. Entah mereka sadar atau tidak.

Di ujung selasar ada Alfred. "Oh, Nat! Mana dokumennya—"

Natalya hanya meletakkan kertas itu di atas tangan Alfred lalu berlalu, memasuki selasar yang lebih kecil. Toilet. Leher Alfred berputar mengikuti gerak wanita itu.

Tetapi dia tak mendapat jawaban apa-apa bahkan sampai Natalya pamit pulang duluan dengan dingin.

Alfred pulang terburu-buru malam itu, satu jam setelah Natalya. Begitu tiba di rumah, dia merasa beruntung Natalya belum tidur. Televisi ruang tengah menyala dan Natalya sedang menyantap semangkuk salad buah. Alfred langsung duduk di sampingnya, dan tangannya melingkar di pundak Natalya.

"Seseorang mengganggumu, Nat?"

Natalya hanya mendelik. Lalu lanjut makan.

"Cerita saja. Aku akan menendang orang itu untukmu," Alfred menarik Natalya lebih rapat ke arah dirinya.

"Ini hanya soal kata-kata. Aku adalah orang yang mudah tersinggung."

"Mmmm, kalau begitu beritahu siapa orangnya," Alfred menggosokkan keningnya di bahu Natalya. "Siapa, Cantik?"

Mata Natalya terpaku pada layar televisi. Dia tidak memandang apapun, alih-alih, dia memikirkan banyak hal tentang negaranya. Mungkin cara memerintah bosnya memang tidak disukai beberapa orang, dia tahu bagaimana perangai orang itu ... namun bagaimanapun, orang itu adalah pemimpinnya, bukan? Yang harus dia turuti, dan dia wakili di manapun dia berada. Dia harus membelanya. Dan orang-orang tidak tahu apa saja hal baik yang diperbuat pemimpinnya. Mereka hanya menilai semau mereka.

Benar, semau mereka. Natalya lantas berpikir, bahkan yang menilai dirinya buruk adalah bagian dari orang yang ia percayai juga. Bagian dari Alfred.

Sebelum dia berpikir lebih jauh lagi, tiba-tiba dia tersadar, mata Alfred terarah lembut padanya.

Bagaimana dia bisa lari kalau begini.

"Katakan saja, Nat."

Natalya menggeleng lemah, lalu mengangkat bahunya, dengan halus mencoba menyingkirkan tangan Alfred. Alfred tak menyerah. Dia mencium sudut bibir Natalya—yang tak disangka ternyata dibalas oleh wanita itu. Natalya hanya perlu pelampiasan emosi, Natalya butuh pengalih perhatian.

Ketika tangan Alfred sudah mulai bermain dengan lengan baju Natalya, tiba-tiba perempuan itu mundur dan menatap tajam pada televisi.

"USA menolak untuk mengakui kebijakan baru yang dibuat di Belarus oleh Dewan. Perubahan situasi politik internal di Belarus membuat Amerika bereaksi dan mengajukan kritik-kritik terkait situasi yang dianggap tidak sesuai dengan apa yang dipandang Amerika sebagai 'hal ideal' ..."

Mereka berpandangan. Alfred membuka mulutnya, namun menahan untuk bicara karena Natalya semakin menunjukkan ketidaksukaan.

"Apa itu, Alfred?"

"Mmnnn ... yah," Alfred mengangkat bahu. Tampaknya dia sudah tahu. "Hanya soal komentar. Kami tidak suka keputusan yang dibuat oleh presidenmu—"

"Itu urusan kami. Negara kami, kamilah yang memiliki dan mengatur. Kenapa kami harus mendengarkan komentarmu?"

"Karena—"

"Karena kami bergantung padamu, begitu? Soal bisnis, ekspor-impor, pelatihan, dan lain sebagainya?"

"Ini bukan cuma soal itu—"

"Soal apa lagi, lantas? Kalian tidak suka sistem internal kami hanya karena takut komoditi kalian yang kalian dapatkan dari kami tidak berjalan lancar? Lalu kalian tidak bisa menjadi lebih kaya lagi, begitu?"

"Natalya, dengarkan aku."

"Kenapa aku harus mendengarkan orang yang mencoba ikut campur pada keputusan yang presidenku buat untuk negerinya sendiri? Ini tidak ada sangkut-pautnya denganmu dan negaramu, tidak usah terlalu repot memikirkan negara kami."

"Natalya."

"Kau tidak bisa mengendalikanku dan seenaknya mengaturku serta mengomentariku," Natalya berdiri. Bantal sofa yang sedari awal ada di pangkuannya dia lempar ke lantai. "Kaumau bilang bahwa kita menikah, hm? Kukira itu tidak ada hubungannya dengan hubungan antarnegara—karena kau mengatakan bahwa itu adalah hubungan personal dan murni kehendak pribadimu tanpa melibatkan hal berupa kekuasaan wilayah?"

Alfred berdecak. Dia membuka mulutnya lagi namun itu sudah terlalu terlambat.

"Atau selama ini kau menipuku?"

Alfred berdiri sambil menggeram. Natalya dengan cepat lari sebelum Alfred dapat mencegahnya. Dia masuk ke kamar yang dahulu ditempatinya, lalu menguncinya dan mematikan lampu di dalamnya.

"Sial. Persetan dengan hubungan diplomatik."

Meja bundar kecil di samping sofa pun terbalik.


Natalya, sekali lagi, menyapu pipinya dengan punggung tangan. Andai saja dia adalah manusia, tidak akan ada polemik konyol yang bisa menghalangi perasaan. Lantas dia mempertanyakan, mengapa mereka, para nation, harus berwujud manusia? Bukankah itu artinya mereka tetap memiliki sifat-sifat alamiah makhluk mortal tersebut? Lantas, mengapa sepertinya mereka begitu dilarang untuk jatuh cinta dan hidup damai seperti sebuah keluarga?

Dia menatap kegelapan, jadi para nation memang tidak benar-benar bebas, sama halnya dengan tidak adanya sebuah negara pun yang benar-benar bebas.

Bahkan di Amerika pun, dia tak merasa bebas.

Dia telah sadar soal ketegangan kedua negara, karena setiap kali dia pulang ke Minsk, terlebih belakangan ini, orang-orang juga membicarakan keluhan soal Amerika. Ia yakin akan ada lebih banyak hal yang buruk yang akan ia temui ketika pulang nanti, setelah aksi yang dilakukan pemerintah Amerika pada negaranya.

Seandainya bisa, dia akan membuat pilihan sendiri. Dia akan menyelesaikannya sendirian, secara personal dengan Alfred lalu kemudian mereka berdua akan mengajukan setidaknya petisi untuk memperbaiki hubungan secara diplomatik.

Semua itu mungkin, andai saja dia punya kuasa dan andai dia bukan nation yang harus memperjuangkan, mewakili, dan selalu memihak nama berikut orang-orangnya sendiri.

Bagaimanapun, orang-orang itu dan nasionalisme mereka sendirilah yang membuat dirinya menjadi 'Belarus', bukan?

Natalya tidak perlu menutup mata untuk membayangkan kembali langit Minsk, rumah kecilnya tak jauh dari istana presiden, dan bangku taman di mana dia sering menghabiskan senja musim gugur dengan membaca di sana, lalu koleksi bukunya yang tak seberapa di sudut rumah.

Mungkin ini saatnya pulang dan benar-benar berjuang sendiri untuk negaranya.

Mungkin pula ... dengan kepulangannya, akan ada hal yang membaik antara kedua negara (mungkin beberapa negosiasi diam-diam dengan bosnya?). Bisa jadi terlalu sering bergantung membuat ketegangan ini makin parah. Apa kata mereka ketika kedua penguasa bersitegang sementara dia masih menikmati semua fasilitas dari Alfred?

Dia tiba-tiba begitu ingin pulang.

Namun bukan berarti dia berhenti mencintai Alfred—dia menarik napas.

Dan dia mencoba tidur. Tanpa Alfred. Mulai membiasakan diri.


Natalya mendapati rumah kosong keesokan harinya. Alfred berangkat begitu pagi, dan dia bangun terlalu lambat.

Mungkin ini saat yang tepat untuk mengisi koper dengan pakaian.

Dan Alfred baru pulang ketika dia sudah tidur kembali. Tanpa dia ketahui, Alfred membuka sedikit pintu kamar lantai bawah tempat Natalya sekarang tidur. Dia melihat beberapa koper terisi dan buku-buku yang biasanya ada di meja ruang tengah atau di ruang tamu dan teras belakang sudah tidak ada. Dia terpaku di bingkai pintu terlalu lama.

Lantas dia maju. Mendekat ke balik punggung Natalya lalu, masih, memandanginya nyaris tanpa berkedip.

Alfred mendesis. Tak terhitung sudah berapa kali dia membenci nasib sebagai seorang yang harus berdiri selama berabad-abad lalu mengikuti fluktuasi zaman dan kehendak penguasa, termasuk malam ini.

Dia mengecup pelipis Natalya, berharap dia bisa muncul di mimpi wanita itu.


Besok paginya, mereka bertemu di meja makan. Tanpa sengaja. Dan seperti dua orang asing yang baru melihat wajah satu sama lain, mereka terdiam dengan mata yang bertemu mata. Mulut Natalya terbuka sebentar seolah ingin membentuk kata aku, namun dia mengurungkan niatnya, lalu membuang muka. Menggigit bibirnya tanpa sadar.

Lantas dia menarik napas. Tidak boleh lebih buruk dari ini. Tidak boleh.

"Kaupunya sesuatu untuk dibicarakan?" tanpa diduganya, Alfred tersenyum.

Natalya mengatur dirinya. Berusaha tetap tenang dan menunjukkan pride. Dia punya harga diri. Ya, harga diri sebagai seorang negara, yang membuatnya harus lepas dari Alfred mulai dari hari ini. Dia harus mandiri. Harus bisa berdiri di atas kakinya sendiri.

"Aku akan pulang. Lusa."

Wajah Alfred menegas. "Aku tahu itu."

"Tidak akan kembali."

"Aku juga tahu."

Natalya mendesis. Lelaki itu tak punya satu usaha pun untuk mencegahnya?

—Tunggu. Apa ini? Tidak, tidak, dia bukan wanita yang minta diselamatkan dan minta didekap! Dia adalah seorang yang mandiri, tidak boleh ada pikiran seperti itu!

Akhirnya Natalya pun mencoba tersenyum, "Baik. Sampai jumpa ... lain kali."

Alfred cuma mengangguk. Mereka berpandangan lagi. Seperti dua orang bisu yang belum diberi tutorial bahasa isyarat. Mata memang bertukar rasa, tapi tidak dengan bahasa. Semuanya menjadi kabur dan tak jelas.

Natalya meninggalkan ruangan.

Mata Alfred membuntutinya hingga dia hilang.

Tak sempat dia mengatakan, bahwa dia harus menginap di Meksiko besok sampai tiga hari ke depan. Suatu urusan, lagi-lagi. Dan itu artinya tak akan ada ciuman perpisahan.


Belarus mulai membalikkan punggungnya dari Barat. Dan berpusat pada satu-satunya saudaranya yang paling peduli dan memberinya suplai. Kakaknya. Rusia.

Aku pulang, Kakak.

Ivan menyambutnya dengan senyuman hangat.


Alfred punya lebih banyak relasi internasional dan proyek-proyek berskala dunia yang sesuai dengan kebijakan politik luar negerinya daripada sebuah masalah kecil dengan (mantan) teman serumahnya. Dia bisa lebih sering melupakan dengan menyibukkan diri pada urusan negara, perdamaian dunia, dan intensifikasi kejayaannya sebagai negara adikuasa di muka bumi. Kadang dia berpikir untuk memperbaiki, namun, tidak, tidak, bukan sekarang. Entahlah, dia hanya ingin melihat langkah apa yang akan diambil Natalya. Lagipula, sekali lagi, dia semakin sibuk.

Walau kadang, status pribadi yang masih belum putus di antara keduanya kadangkala membuatnya kepikiran.

Seperti saat pertemuan dunia kali ini. Matanya membuntuti Natalya yang hanya berada di balik punggung kakaknya, dan duduk diapit oleh Ivan juga Toris di sepanjang rapat berlangsung.

Tetapi sayang, rapat itu hanya sebentar.

Dan mata mereka tidak bertemu sama sekali.


Memang, sudah seharusnya, tak perlu jauh-jauh mencari bantuan jika saudara sendiri pun merupakan seseorang yang benar-benar bisa diandalkan.

Natalya merasa tak bisa berbuat banyak hal jika tidak ada bantuan langsung secara diplomatik dari kakaknya sendiri, Ivan. Negaranya perlahan terus maju di arus global, dan walau agak sedikit berbeda dari negara Eropa Barat lain yang saling berlomba, negaranya merasa nyaman di zona mereka sendiri. Dengan presiden yang tetap sama dan pola pemerintahan yang serupa, setidaknya warganya tidak semenderita saat perang dahulu.

Natalya menutup buku yang baru saja selesai ditamatkannya. Dia kembalikan buku itu ke dalam rak yang ada di kamarnya.

Dan di atas rak rendah itu, dia menemukan sebuah kotak. Ia lupa mengapa benda itu ada di sana dan apa isinya. Dibukanya untuk memuaskan rasa penasaran.

Cincin.

Dia termangu. Bohong jika dia lupa cincin apa itu. Ukiran tipis di bagian dalamnya, yang terbaca sebagai S masih bisa diraba dan dilihat.

Ikatan itu belum putus. Natalya ingat, bahkan bertahun-tahun setelah pergi pun, Alfred tak pernah menyatakan perpisahan yang resmi. Secara personal, dia masih boleh menyebut dirinya istri dari Alfred. Dia memejamkan mata atas frase itu; istri dari Alfred.

Natalya menggelengkan kepala lalu mengembalikan cincin itu ke kotaknya.

Ada pertemuan dengan Ivan sore ini, dan dia harus bergegas.


Malam itu, di mimpinya, Natalya melihat sebuah pelangi. Itu hal biasa. Namun yang tidak biasa, adalah tempatnya berpijak: balkon rumah Alfred. Dan merasakan sebuah sentuhan di dalam mimpi adalah hal yang jarang dia rasakan. Baru ia temukan hal itu di malam ini, dia merasakan seseorang mendekap pinggangnya erat dari belakang.

Alfred. Dia tahu itu Alfred.

Dia langsung membuat kopi begitu terbangun. Mencegah dirinya untuk tidur lagi agar mimpi serupa tidak datang kembali.

Kadang-kadang, dia masih begitu marah pada Alfred. Amerika begitu hobi ikut campur dalam urusan dalam negerinya. Pertama, mengutuk negerinya. Menyebut Belarusia tak memberi kebebasan pers. Dan yang paling membuat tersinggung; Amerika terang-terangan membenci keputusan yang dibuat oleh orang-orang Belarus sendiri. Itu bukan hal yang menyenangkan untuk didengar. Mengingat bagaimana penilaian publik Amerika terhadap dirinya, dia sampai mengerutkan selimutnya karena kesal. Apa hak mereka jika hal itu nyaman bagi Belarus dan tidak membahayakan nyawa masyarakatnya?

Namun ... apakah adil, hanya karena perlakuan negara Amerika dan kata-kata beberapa orang di dalamnya—dia lantas membenci Alfred?

Natalya akan sangat merasa bersalah jika Alfred berkata bahwa dia tetap mencintai Natalya meski negara Belarus sendiri bukan partner yang memberi banyak keuntungan untuk negaranya.

Tetapi apa mungkin Alfred mengatakan itu saat ini? Natalya pesimis. Dari wajahnya saja, Alfred bisa memikat banyak wanita.

Tidak mungkin laki-laki itu masih sendiri sekarang. Apalagi dengan status adikuasanya dan banyaknya negara yang berhubungan dengan Amerika.

Natalya mendesis. Teringat kembali mimpinya tadi membuatnya benci. Dia punya kakak yang sangat bisa diandalkan sekarang, kenapa harus mengulangi memori masa lalu tentang seseorang yang sekarang tak punya sangkut-paut lagi dengannya?

Lantas dia menuju rak buku di ujung kamarnya. Mengambil kotak hitam di sudut rak.

Dan membuangnya ke tempat sampah.


Alfred membuka banyak situs berita, namun tak satupun yang membuatnya tertarik. Dia hampir menutup semuanya, kecuali satu tab, setelah dia menemukan link berjudul menarik yang ada di sudut kanan bawah laman tersebut.

Dia berhenti menopangkan dagu begitu membaca judulnya.

Dia membaca dengan antusias,

"... Lukashenko menyebut Vladimir Putin sebagai 'perdana menteri' aliansi Rusia-Belarus ..."

Dan di bagian bawahnya digambarkan asumsi dari para pewarta; bahwa mereka menyangka akan ada negara gabungan antara Belarus dan Rusia.

Alfred mengelus dagunya. Langsung menutup jendela peramban itu. Sambil tersenyum kecil dia membuka daftar kontak di ponselnya, memilah-milah.

Semoga nomor yang ini masih aktif.

Setelah dua kali bunyi tut ala operator, terdengarlah jawaban.

"Selamat sore, Belarus di sini."

Alfred tertawa. Bagi beberapa orang, nadanya sarkastis. "Tidak usah terlalu formal, Sayang. Hanya ada kita berdua di sambungan ini. Atau kau sudah menghapus nomorku, jadi seolah kau tidak tahu?"

Datar, "Katakan keperluanmu, America."

"Tidak 'Alfred' kali ini?"

"Tsk."

"Ha ha ha~ well, cuma mau mengucapkan selamat."

"Atas?"

"Kau akan 'menikah' dengan kakakmu, 'kan, sebentar lagi?"

"Siapa yang bilang?"

Tawa, lagi-lagi. "Berita. Aku tahu media memang tak selamanya klir. Tapi aku yakin, dengan tingkahmu selama ini dan ketergantunganmu pada kakakmu, cepat atau lambat hal ini pasti terjadi. Jadi ... kapan peresmiannya?"

"Tidak ada rencana seperti itu."

"Bohong. Kau pasti sangat mencintai kakakmu."

"Iya, aku mencintai Kakak. Tapi dia merasa aku tak begitu menguntungkan, jadi mustahil hal itu terjadi."

"Tapi kau benar-benar ingin menikah dengannya, 'kan? Ha ha ha, mengaku saja, Sayang."

"Ya, memang," suara Natalya lantang. "Supaya aku tidak perlu lagi terikat dengan masa laluku, seseorang yang orang-orangnya sudah merendahkan negaraku!"

Sambungan itu pun ditutup.


.

Alfred mendapat libur besok sampai tiga hari ke depan. Dia langsung memesan tiket ke Ottawa.

Natalya diundang Katyusha untuk ke rumahnya, sekadar jamuan makan malam bersama Ivan dan negara-negara Baltik. Natalya langsung menyetujuinya.

Di rumah Matthew, Alfred langsung mengajak Matthew melakukan apa saja yang membuat mereka sibuk. Mulai dari main hoki sampai dart, mulai dari memanggang daging sampai menonton film. Pelan-pelan Matthew bertanya, ketika mereka sudah sama-sama mengantuk, mengapa Alfred melakukan ini semua—beraktifitas tanpa henti dan seringkali tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.

"Aku sedang ingin melupakan sesuatu."

"Aku sedang ingin melupakan sesuatu."

Begitu jawaban Natalya ketika Katyusha bertanya mengapa Natalya begitu sering bercerita malam itu, baik tentang ponsel barunya sampai trip singkatnya ke negara Georgia baru-baru ini. Tidak biasanya Natalya mau membuka mulut saat di ruang tengah, apalagi saat di meja makan. Ini bukan Natalya yang biasa—Katyusha yang paling sadar.

Karena perasaan bukan setumpuk furnitur yang bisa dengan begitu mudah dipensiunkan dan dialihkan ke bak pembuangan. Selalu ada yang tertinggal. Dan bukan jaminan waktu adalah penyapu termudah.